A Quiet Place, YES! Popcorn, NO!

Mengetahui tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni adalah membuat review film keluarga, https://mamahgajahngeblog.com/tema-tantangan-mgn-juni-film-keluarga/ , saya langsung gercep brainstorming untuk menentukan film apa yang akan saya tulis. Saya termasuk Film Enthusiast, yang setiap hari saya luangkan waktu 1 jam untuk menonton, terlebih karena saya berlangganan Netflix dan VIU, jadi makin mudah memfasilitasi diri saya untuk resmi memiliki nama tengah, FILM.

FILM IS MY MIDDLE NAME, yooo ….

Sebelum memulai, saya ingin memberitahukan bahwa ‘pertemuan’ saya dengan Instagram Mamah Gajah Ngeblog memotivasi saya untuk blogging lagi setelah lebih dari satu dekade yang lalu. Cerita lengkapnya sudah saya tulis lho sebagai post pertama, https://fsrinurillacom.wordpress.com/2021/04/18/the-prelude/ . Ehehehe.

—————————————————————————————————-

DEFINISI FILM KELUARGA

Ada beberapa yang saya pikirkan:

  1. Film yang bisa ditonton bersama dengan semua anggota keluarga. Contoh: film-film Disney yang bertemakan: kebaikan vs kejahatan (The Lion King); kisah kerajaan (Frozen, Aladdin, Mulan); persahabatan (Toy Story); fantasi (Shrek, Ariel); dan masiy banyak lagi.
  2. Film yang khusus mengangkat tema drama keluarga. Contoh: Cheaper By The Dozen; The Family; Step Mom; Big Daddy; Parenthood;…etc.
  3. Film yang genre-nya TIDAK khusus tentang keluarga, namun dalam beberapa adegannya mempertontonkan hubungan antara anggota keluarga. Seperti, antara ibu dan anak (Bates Motel, The Butterfly Effect); ayah dan anak (The Pursuit of Happyness); paman dan keponakan (Gifted); eyang dan cucu (Little Miss Sunshine); dan seterusnya yang berkontribusi pada pengembangan karakter sang tokoh utama.

FILM KELUARGA TERBAIK VERSI SAYA

Sudah tentu daftarnya sangat panjang. Forest Gump, Gifted, Yes Day, Home Alone, Family Reunion series, Hidden Figure, My Girl, Freaky Friday, Coco, Something New, dan…bla bla bla bla bla…

Saya akan ‘melegalkan’ suatu karya film adalah sebuah masterpiece, ketika:

1. saya merasa memiliki ikatan chemistry yang kuat di menit-menit pertamanya (jatuh cinta pada pandangan pertama, sangat berlaku di sini). Jika di awal durasi sudah tidak klik, biasanya secara keseluruhan isi filmnya tidak sesuai ekspektasi

2. temanya menarik dan unik,

3. alur ceritanya jelas dan tidak bertele-tele,

4. aktor-aktornya mampu berakting sempurna dalam membawakan karakter yang diperankan,

5. (bersifat optional) soundtrack-nya mengena di telinga dan hati.

———————————————————————————————-

Maka:

Mengingat daftar film keluarga favorit saya yang sangat banyak.

Menimbang hanya diperlukan menulis satu review.

Memutuskan memilih film keluarga favorit yang terakhir saya tonton yaitu A Quiet Place.

————————————————————————————————-

A Quiet Place

Judul: A Quiet Place (2018) dan A Quiet Place Part 2 (2020)

Disutradarai oleh: John Krasinski

Ditulis oleh: Bryan Woods, John Krasinski, Scott Beck

Durasi: 1 jam 30 menit

Distributor: Paramount Pictures

Skor IMDB: A Quiet Place 7.5; A Quiet Place Part 2 7.8

Skor fsrinurillacom: 8.7

Saya harus mengingatkan agar siapapun-yang-mau-menonton film ini, menahan napas dan tidak mengunyah popcorn! Brace yourself to experience a silence!

A Quiet Place dibintangi oleh dua aktor favorit saya, John Kransinski (mas-mas kantoran yang ganteng dan baik di serial The Office) dan Emily Blunt (sosoknya sebagai Emily di film The Devil Wears Prada menginspirasi saya untuk menjadi orang yang total dalam bekerja). Mereka berdua berperan sebagai suami istri, Bapak dan Ibu Abbot. Ohya, fun fact, di kehidupan nyata, beliau berdua juga pasangan suami istri lho, dan mengetahui fakta ini, saya kok ikut senang ya. Ehehehe.

Genre film ini adalah horror, thriller, sci-fi, yang banyak mempertontonkan hal-hal yang menakutkan, tidak lazim, dan tidak ada di kehidupan nyata. *knock on wood semoga tidak akan ada di kehidupan nyata.

Saya menontonnya bersama suami dan anak saya yang duduk di kelas 5 SD. Saya dan suami sudah berdiskusi dengan matang saat memutuskan untuk mengajak anak kami ikut. Pertama, karena anak kami pecinta film ber-genre SciFi dan bertema post apocalyptic yang banyak memberi wawasan dan pengetahuan mengenai survival. Kedua, kami literally ada di sampingnya, jadi jika ada adegan yang bizarre atau kurang appropriate untuk usianya, kami bisa langsung menjelaskan.

Untuk informasi, kami menontonnya di Cinema XXI di The Breeze yang sudah buka kembali. Sepengamatan saya, Insha Allah, XXI strict dengan protokol kesehatan. Kapasitas maksimal studio adalah 50%; masing-masing kursi diberi jarak; pengunjung dan pegawai WAJIB memakai masker; pengecekan suhu sebelum masuk; dan DILARANG makan minum di dalam studio. Serta, pintunya selalu dibuka.

Review A Quiet Place

Sesuai judulnya, A Quiet Place, bumi sudah menjadi tempat yang sepi. Sudah tidak ada lagi suara berisik kemacetan di jalan, hingar bingar konser musik, tawar menawar antara penjual dan pembeli di pasar, keceriaan anak-anak di sekolah …. karena hampir semua manusia dan hewan sudah mati dibunuh oleh alien aneh yang berukuran besar, kulitnya sekeras armor, dan gerakannya sangat cepat. Makhluk buas ini buta namun memiliki kemampuan pendengaran yang sangat sensitif, jadi jika ada yang menginjak dedaunan kering sekalipun, ujug-ujug dia sudah berada di dekat sambil berlari sangat cepat menuju ke sumber suara dan mencabik-cabiknya sampai mati. Bumi sudah rusak, tidak terawat dan tidak ada lagi aktivitas normal.

Terbayang sulitnya memusnahkan alien gila ini, ditembak tidak tembus, ditusuk tidak bisa, …yang bisa dilakukan adalah SEMBUNYI.

Gambar 1: Beberapa screenshot adegan film A Quiet Place

Keluarga Abbot yang terdiri atas: sang ayah (Lee Abbot); ibu (Evelyn Abbot); anak pertama (Marcus Abbot, laki-laki); anak kedua (Regan Abbot, perempuan dan bisu tuli); dan anak ketiga ( Beau Abbot, laki-laki), merupakan salah satu survivor yang hingga hari itu bisa beradaptasi menghadapi kehidupan yang penuh hambatan.

Menjalani peran sebagai orangtua bagi ketiga anaknya di situasi seperti ini, membuat Lee dan Evelyn untuk lebih tangguh. Who are we, if we can’t protect them?”. Mereka berdua berjanji untuk melindungi dan menjaga anak-anak mereka whatever it takes dan at all cost.

Lee yang handy dan kreatif berhasil membuat rumah mereka menjadi rumah yang no sound dengan menggunakan alat-alat dan bahan yang terbatas. Lantainya ditutupi pasir, agar langkah kaki menjadi tidak bersuara; pintu rumah dibuka lebar dan ditahan dengan sumpelan kain, serta tidak ada proses membuka menutup, agar tidak terdengar suara saat kena angin atau ketika anak-anak tidak sengaja menutupnya karena lupa atau keasikan bermain. Lee juga menyediakan banyak bantal agar mereka bisa batuk dan kentut tanpa bersuara. Secara rutin, dia mengajak anaknya untuk ke sungai mencari ikan sekalian puas-puasin ngobrol dan berteriak karena suara aliran deras sungai membungkam suara mereka.

Bisa bersuara merupakan ‘barang luxury‘ di kondisi ini.

Sedangkan Evelyn tentu saja tetap antusias berperan ibu bagi ketiga anaknya, memasak, membimbing, mendidik dan mengajar. Pengetahuannya sebagai dokter juga dia bagikan agar anak-anak mampu menjaga dirinya dan sigap dalam pemberian pertolongan pertama saat terluka. Dari waktu ke waktu, dia tidak lelah untuk mengajak anak-anak belajar mengenai keadaan alam, bercocok tanam dan cara-cara bertahan hidup. Kondisi mepet seperti ini membuat otaknya mengoptimalisasi kreativitas. Dia bisa memasak di lantai dengan menggunakan kotak kayu dan panas dari batu.

Lee dan Evelyn saling bersinergi untuk membagi tugas dan memberikan anak-anak mereka semangat, bimbingan (material dan spiritual) dan pengetahuan. Bahkan di sela-sela era kengerian ini, mereka menyempatkan diri untuk memberi pelajaran Matematika dan bermain board games.

Flashback ke hari pertama bencana ini terjadi. Alien tersebut datang saat Marcus sedang bertanding baseball. Di tengah permainan, terlihat ada suara dan ledakan aneh di langit. Orang-orang segera menghentikan permainan dan berlarian untuk menyelamatkan diri. Dalam hitungan sekejap, keributan dan kepanikan terjadi di mana-mana, dan tiba-tiba ada ‘binatang besar’ yang lari kencang ‘menyapu’ penduduk. Teriakan; suara mobil; bunyi berisik warga saat sedang mencari tempat persembunyian, membuat makhluk aneh itu datang secepat kilat. Bahkan suara lirih salah satu penduduk yang sedang berbisik dan berdoa juga ‘mengundang’ mereka. Benar-benar pemandangan horror.

Dengan sigap, Evelyn dan Lee mengajak anak-anak mereka ke mobil dan menyetir secepatnya untuk segera sampai ke rumah. Sayangnya, Regan sedang asik ‘cuci mata’ di sebuah toko dan kondisinya yang tuli membuatnya tidak menyadari kekacauan yang sedang terjadi. Syukur keadaan cepat berbalik, Lee berhasil menemukan Regan. Setelah melaui kengerian dan berjuang mati-matian; menyetir ngebut dengan menghindari beragam guncangan di jalanan; melewati chaos yang tak terbayangkan, akhirnya mereka semua sampai dengan selamat di rumah mereka.

Gambar 2: Beberapa screenshot adegan yang menunjukkan wajah alien di A Quiet Place

Dari hari ke hari keluarga Abbot makin mampu beradaptasi untuk menjalani kesehariannya tanpa suara sedikitpun. Keberadaan salah satu anggota keluarga yang bisu tuli, memudahkan mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat, karena mereka semua sudah terbiasa menggunakannya.

Selain berperan sebagai kepala keluarga, Lee tidak lupa selalu menyempatkan diri untuk connect dengan anak-anaknya, mengingat mereka sedang masa pertumbuhan. Mengajarkan mereka untuk tenang; kuat dan observant; serta menggunakan dan mengoptimalkan bahan yang ada di sekitar mereka untuk bisa bertahan hidup. Selain itu, dia sibuk membuat alat bantu dengar untuk Regan serta terus berkutat untuk mengenali makhluk aneh tersebut dan mencari kelemahannya.

Pada hari itu, -sekitar 3 bulan setelah datangnya alien- mereka berlima sedang dalam perjalanan menuju kota untuk mencari supply makanan dan obat-obatan. Terbayang bagaimana isi-isi toko masiy banyak tersedia, mengingat sebagian besar warga sekitar sudah mati, jadi practically, seluruh isi toko adalah milik mereka. Cukup untuk membuat mereka bertahan beberapa waktu.

Kedukaan melanda keluarga Abbot di perjalanan pulang karena sang putra bungsu, Beau, ‘disambar’ oleh para alien yang secepat kilat datang setelah mendengar bunyi mainan pesawat. Terlihat sulitnya Lee, Evelyn, Marcus dan Regan untuk menahan tangisan sambil terus berjalan pulang. Mereka kehilangan satu orang yang mereka cintai. Regan merasa sangat bersalah karena tidak mengetahui saat Beau mengambil baterai agar mainannya bisa berbunyi. Lee dan Evelyn ‘merangkul’ Regan dan menanamkan agar menghilangkan rasa bersalah tersebut karena kejadian tersebut bukanlah salah siapa-siapa. Mereka juga menunjukkan kasih sayang yang luar biasa kepada Regan agar pulih dari self loathe-nya, dan tetap terus menjalani hidup dengan semangat dan pantang menyerah.

Waktu terus berlalu, beragam hambatan sudah mereka lalui, berbagai pengalaman yang ‘nyaris mengundang alien’ telah mereka lewati. Practice makes perfect -lah, ehehehe.

Sepertinya ‘semesta ingin membuat mereka lebih pintar lagi’, karena ketika mereka sudah settle, mereka dihadapkan dengan kondisi baru yang tidak terduga. Evelyn hamil!

Tentu saja event ini membuat mereka harus berpikir lebih keras. Bagaimana menjaga kondisi kesehatan jasmani rohani sang Ibu; bagaimana nanti proses melahirkannya; bagaimana mencegah alien tersebut ‘melalap’ sang bayi yang tangisannya inevitable; dan masiy banyak lagi ‘bagaimana’ lainnya.

Somehow, mereka bisa me-manage-nya. Lee berencana akan menyamarkan suara rintihan kesakitan Evelyn di saat melahirkan dan tangisan sang bayi dengan menyalakan kembang api di tempat yang jauh dari rumah, sehingga para alien akan ‘sibuk’ mendatangi sumber ledakan.

Sedihnya, kedukaan kembali melanda keluarga Abbot tepat di hari kelahiran sang bayi. Rencana yang mereka persiapkan dengan matang tidak berjalan lancar karena sambil menahan kontraksinya yang menyakitkan, telapak kaki Evelyn tertancap paku saat dia sedang berjalan di tangga, sehingga refleks teriak sangat kencang. Padahal Lee belum menyalakan kembang apinya. Selang beberapa saat, suara gemuruh para alien terdengar. Tanpa berpikir panjang, Lee berteriak sambil berlari ke luar rumah agar sekumpulan alien terdistraksi dari suara sang istri. Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Lee mengorbankan dirinya dan pergi untuk selamanya demi keselamatan sang istri dan anak-anaknya.

Di hari yang sama pula, mereka menemukan kelemahan alien, yakni suara feedback dari alat bantu dengar Regan. Suara dengan frekuensi tinggi yang bunyinya ngiingiingg eeckkkk euuckkkkk (bahkan saya tidak tahu cara menulisnya bagaimana :D) membuat alien pontang-panting kesakitan, bahkan bisa membuatnya pingsan. Dan di saat sakit inilah, alien akan membuka mulutnya (atau kepalanya ya, saya kurang paham anatominya) yang lembek, yang dengan sangat mudah ditaklukkan dengan senjata. Dan, BERHASIL membuatnya MATI.

Life must go on…

Dengan masiy diselimuti duka dan dalam kondisi yang tertatih, Evelyn mengajak anak-anaknya untuk bangkit lagi dan semangat mencari tempat tinggal yang baru. Perjalanan mereka membawa mereka ke sebuah pabrik kosong yang terlihat aman, yang ternyata merupakan ‘rumah’ Emmet, seorang kawan lama.

Namun jangan dikira pertemuan dengan Emmet membuat mereka lega.

Emmet adalah orang yang sangat paranoid dan defensif. Apocalypse mengubahnya menjadi orang yang self centered dan tidak mau menolong orang lain.

Keesokan harinya, Emmet berubah pikiran setelah semalaman berbincang dengan Regan. Regan, yang dengan tempaan sang ayah, memiliki keberanian dan empati yang luar biasa, bertekad untuk menolong dirinya sendiri, keluarganya dan orang lain, membuat Emmet ingin berjajar bersama mereka.

Dengan determinasinya untuk menjalankan visi misinya, Regan pergi tanpa sepengetahuan mamahnya dan Emmet, dengan membawa ‘senjata’ andalannya dalam melawan alien, yaitu alat bantu dengarnya dan radio, yang bisa menciptakan feedback dan frekuensi tinggi, serta senjata sungguhan, shotgun.

Di akhir film, hal yang dilakukan Regan, memberi semangat para survivors untuk mengambil alih bumi.

Untuk informasi, ada gejala akan ada sekuel lanjutan niy.

—————————————————————————————-

Menurut saya, A Quiet Place merupakan ‘paket lengkap’ yang luar biasa. Takut; tegang; takjub; sedih; lega; terharu, …… semua perasaan menjadi satu setelah menontonnya.

Worth it untuk mengeluarkan uang tiket bioskop sebesar IDR 40.000 per orang; untuk meluangkan waktu beberapa jam; dan untuk keluar dari rumah di era pandemi.

Saya memperoleh hiburan; kepuasan; pelajaran berharga mengenai ilmu parenting; dan yang sangat penting, makin membuat saya mensyukuri hal-hal sekecil apapun.

Suami saya juga menunjukkan happy face saat keluar dari studio, karena beliau mendapatkan tambahan tips untuk persiapan survival. Ya, suami saya bahkan kepingin bikin bunker bawah tanah agar aman jika suatu saat ada serangan alien ganas. πŸ˜€

Sedangkan anak saya yang suka menulis bilang bahwa dia mendapat banyak inspirasi mengenai keberadaan alien yang memiliki kemampuan baru, dan menambah banyak insight mengenai tipe-tipe para survivors.

Durasi 2 jam tidak terasa lama dan membosankan. Kami bahkan sama sekali tidak ingin bersuara karena terbawa suasana sunyinya, apalagi kepikiran untuk makan popcorn. (Ehh namun juga karena di bioskop tidak membolehkan pengunjung makan juga siy ehehe.)

————————————————————————————————-

PESAN MORAL/ HIKMAH/ PELAJARAN FILM A QUIET PLACE (VERSI ‘KACAMATA’ SAYA)

  1. Rasa syukur atas rahmatNya. Terharu dan menahan air mata memikirkan kondisi di mana hal-hal yang kita lakukan sehari-hari tidak bisa kita lakukan. Berbincang-bincang; berlari-lari; makan bersama; menggunakan kamar mandi dengan bebas byarr byurr; buang gas dengan bebas; berpakaian rapih; berdandan; tidur nyenyak; dan tidak terhitung lagi lainnya, yang kadang kita take those activities for granted. Dengan melihat film ini, saya menyadari bahwa semua hal sekecil apapun yang bisa kita lakukan adalah karuniaNya yang HARUS kita syukuri dan kita nikmati setiap detiknya. Alhamdulillah.
  2. Suatu kekurangan bisa menjadi kelebihan. Regan yang dilahirkan bisu tuli, tidak menyangka bahwa suatu saat kekurangannya itu bisa menjadi kelebihan yang sangat bermanfaat. Tetap semangat dengan pemberianNya dan untuk kita yang lengkap, TIDAK BOLEH seenaknya mengejek. Subhanallah.
  3. Survival tips: hal pertama yang harus dilakukan saat ada kejadian luar biasa yang tidak terduga. Stay at home sampai memahami situasi dan merencanakan itinerary selanjutnya dengan jelas dan terarah.
  4. Survival tips: keahlian apa saja yang HARUS dikuasai. Barang-barang apa saja yang HARUS tersedia di rumah.
  5. Hikmah KEUANGAN: Saya jadi ingin lebih sering memasak sendiri dan membatasi pesan makanan lewat GoFood, karena melihat Evelyn yang bisa memasak dalam kondisi minim saja bisa, apalagi dalam kondisi kita yang nyaman. Ehehe. Bisa HEMAT banyak uang niy πŸ™‚
  6. Parenting lesson. Ini banyaaak sekali karena isi filmnya berkutat dengan kegiatan Abbot sekeluarga. Sang ayah dan ibu kompak berikhtiar untuk melindungi, mengayomi, membimbing, mendidik dan mengajari anak-anaknya. Juga menanamkan pentingnya ikatan antara saudara, harus rukun, damai, saling menyayangi, saling menolong, dan teguh bersatu di kondisi apapun. BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH. Yess!

——————————————————————————————————

Selamat menonton! Ingat, jangan sambil ngunyah popcorn ya! πŸ™‚

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

12 thoughts on “A Quiet Place, YES! Popcorn, NO!

  1. Keren banget teteh pilihan filmnya. Saya pikir A Quite Place ini film horror hantu hantuan loh πŸ˜… Ternyata sci fi yaaa. Nuhun teteh sudah menambah ide tontonan.

    Like

    1. Wah Shanty, saya anggap sebagai compliment karena saya barusan membaca beberapa review film yang Shanty tulis di blog Shanty, tentang: Ali dan Queens, Keluarga Cemara, biografi bapak Ahok, Dilan, waduhh interest Shanty mengenai film keluarga, cakupannya luas dan mendalam. Not to mention, tulisan Shanty kok bisa rapih dan bagus begitu ya, enak dibacanya.

      Like

  2. One of my fave! Baca reviewnya jadi pengen nonton ulang. Inget banget waktu nonton part 1 sebelum pandemi, hebohnya seruangan tiap ada Aliennya πŸ˜…

    Like

    1. Ehehe betul mba Patricia, salah satu keseruan menonton rame-rame di bioskop adalah bisa berbarengan bereaksi, ehehe. Yang part 1 sudah ada di Netflix, teh πŸ™‚

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: