How’s Your Instagram Content Look Like

Saya terinspirasi menulis tentang salah satu social media platform terbesar di dunia setelah membaca artikel di blog mamah Andina. Namun saya tidak akan membahas mengenai cara meramaikan akun (seperti yang teman saya tersebut deskripsikan) melainkan menceritakan bagaimana hubungan saya dengan Instagram. Di samping karena Instagram adalah satu-satunya social media yang saya miliki saat ini, juga perannya yang memberi saya hiburan dan manfaat.

Terima kasih ya wahai para founder Instagram.


What’s to Like About Instagram

Saya suka sekali dengan cara penyajiannya. Setiap saya membuka app, saya akan disuguhkan aktivitas terbaru teman-teman saya dan semua akun yang saya follow. Ada yang mengunggah foto saat sedang olahraga; sedang berkumpul dengan teman-temannya; sedang beraktivitas bersama anak dan suaminya; dan foto diri dengan ekspresi wajah dan outfit yang menarik. Juga kegiatan beberapa orang populer yang saya look up karena penampilan dan karyanya.

Lhaaa kan memang begitu toh fungsi dasar sebuah social media, bukan hanya Instagram saja kalee yang begitu.

Iye, iye, ane tahu, tapi menurut saya Instagram menyajikannya dengan cara yang fun. Malah ada fitur story yang bisa membuat kita mengetahui aktivitas teman-teman kita di waktu real time. Saya pun tidak menyangka bisa lucu-lucu dan kreatif, ada yang memakai musik buat latar belakangnya; ada yang wajahnya bisa diganti-ganti dengan tambahan pernak-pernik yang sudah tersedia di app. Pokoknya, saya terhibur ketika mengetahui keberadaan teman-teman yang diolah dengan menarik. Serta, saya juga jadi tahu mengenai kondisi teman-teman, apakah sehat walafiat atau sedang sakit dan semacamnya.

Ihhhh kumaha sih Jeng, Facebook juga ada fitur story kalee, yang sama-sama bertahan 24 jam dan bisa dikemas unik dan menggemaskan.

Oohh begitu ya, uuumm ya pokoknya saya sudah paling klik dengan Instagram, ga mau coba yang lain plus memang karena ga ada waktu dan ogah nambah akun baru lagi. Sudah, stop! Jangan komplain lagi ahh!


Type Pengguna Instagram

Penting untuk diketahui bahwa saya adalah anggota ‘tim login dan logout‘, yang setiap selesai online, saya akan logout segera. Pun saya juga bukan pengguna yang rajin, saya baru login di saat saya sudah selesai melakukan agenda utama sehari-hari; bisa sehari sekali, bisa beberapa hari baru online lagi.

Gak ada yang nanya kalee.

Ampuun, hushh husshh sana, ganggu aja sih!

Menurut pengamatan saya, ada 2 macam pengguna Instagram, yakni:

  1. Pengguna SAVVY, mereka adalah yang aktif, rutin ‘nongol‘, rajin membuat story mengenai apapun yang sedang dilakukannya, dan sering upload foto.
  2. Pengguna SANTUYY, ini adalah yang ‘sealiran’ sama saya, yang tidak aktif, tidak rutin online, dan yang hanya sesekali membuat story maupun posting foto.

What Do You Do When You’re Online

Yang SELALU saya lakukan setiap saya online adalah klik LIKE di semua post terbaru yang muncul di HOME. Serta melihat semua story yang ada.

Klik LIKE merupakan bentuk apresiasi saya terhadap foto yang orang pasang, karena menurut saya pastilah membutuhkan effort untuk membuat foto layak tampil di post.

Saya juga suka sekali dengan bagian EXPLORE, karena di situ saya merasa seolah saya dilayani se-spesial mungkin atas hal yang sangat saya sukai.

Saya excited sekali ketika scrolling fashion ala wanita Jepang, bajunya, kosmetiknya, aksesorisnya, hingga cara mereka senam. Saya sengaja tidak mem-follow akun mereka satupun. Dulu saya pernah mem-follow satu akun orang Jepang yang pandai memadupadankan baju, dan memiliki tinggi badan dan berat badan yang sama dengan saya. Tapi lama-lama akunnya tidak rutin posting, akhirnya saya unfollow. Karena memang saya tidak mengikuti ‘orangnya’ melainkan ‘karyanya’.

Menurut saya, malah lebih nyaman langsung ‘cuci mata’ di explore-nya. Banyak karya dari beragam akun, semua all in one. Saya sangat terbantu dalam mencari inspirasi gaya berdandan ala orang Jepang.

Nah kalau sudah scroll-scroll begini, bisa membuat saya lupa waktu, bisa hampir 1 jam. Akhirnya sejak beberapa bulan yang lalu, saya belajar mengontrol diri saya untuk tidak setiap saat terdisctract, salah satunya dengan cara menjadi anggota ‘tim login dan logout‘. Setiap selesai melihat post dan story teman-teman; klik LIKE di semua postingan yang ada di HOME, cek message, dan scroll explore, yang saya batasi antara 15 menit hingga setengah jam; saya segera logout sesudahnya. Begitu saja setiap hari. Malah saya juga sudah bisa menahan untuk tidak login selama beberapa hari, terutama ketika saya mempunyai banyak agenda, bisa betul-betul lupa kalau punya Instagram.


Apa Kontenmu di Instagram?

Konten di Instagram tentulah completely personal preference. Kita bebas mau mengisi apa saja yang sesuai dengan interest, minat, dan niche kita. Keberagaman content inilah yang membuat menarik dan tidak membosankan untuk terus scrolling. Ada yang fokus dengan isu feminisme, humor, pengetahuan psikologi, agama, keuangan, kesehatan, olahraga, kecantikan, dan… wuahhh list-nya endless.

Sedangkan saya? Sebagian besar post saya adalah foto diri secara fisik. Jarang sekali, bahkan tidak ada malah: foto saya sekeluarga, foto anak, foto suami, foto bersama, none! None at all! Bahkan saya dan suami tidak saling mem-follow. Tentu semua ada alasannya.


Rules on What to Post

Pak Suami adalah orang yang sangat strict dan bisa dikategorikan paranoid dalam mengayomi keluarga kecilnya. Beliau memberi saya the DOs dan the DONTs di segala hal, termasuk dalam berinteraksi di dunia online. Saya, sebagai istri, pastinya berusaha untuk mematuhi protokol Pak Suami, apalagi tidak melanggar prinsip hidup saya, pastilah dengan senang hati saya menjalaninya.

Dalam ber-socmed, berikut aturan yang dikemukakan oleh Pak Suami untuk saya:

  1. DO. Beliau membebaskan apapun interest saya, unlimited. Mau memasang foto buku, pemandangan, mempromosikan tulisan terbaru di blog, selfie, foto sedang berpose di tempat wisata, dan sebagainya.
  2. Untuk DON’T, nah inilah yang banyak sekali. Dilarang memposting data pribadi seperti tanggal lahir dan alamat.
  3. Dilarang memposting foto yang menampakkan rumah dengan sisi yang luas.
  4. Dilarang memposting foto anak
  5. Dilarang memposting nama anak dan sekolah anak
  6. Dilarang memposting foto suami
  7. Dilarang memposting nama lengkap dan profesi serta kantor suami
  8. Dilarang memposting tanggal lahir anak dan suami
  9. Dilarang memposting kegiatan yang sedang dilakukan bersama anak dan suami

Definisi ‘memposting’ di sini adalah upload di feed atau sekedar membuat story.

Tidak hanya aturan dari Pak Suami, saya pun membuat batasan untuk saya pribadi, sebagai berikut:

  1. Saya TIDAK PERNAH dan TIDAK AKAN posting foto maupun tulisan yang berbau SARA atau apapun yang sangat privasi bagi masing-masing orang. Menghargai dan menghormati pilihan orang lain is a MUST.
  2. Saya TIDAK menunjukkan detail seperti apa keseharian saya, agama saya, perasaan saya (sedang sedih atau senang), apalagi curhat masalah pribadi ehehe. NONE.

What’s Fun About Life if You Never Make Mistakes


Ada kalanya manusia khilaf dan tidak menjalankan aturan dengan proper, termasuk saya dalam ber-socmed ria.

Beberapa hal yang pernah saya langgar:

  1. Saya pernah memposting foto saya berdua dengan suami, yang sampai sekarang belum saya hapus. Ehehe. Tapi saya sudah bilang ke beliau agar satuuuu ini saja diloloskan. Argumen saya adalah mosok sih tidak ada satupun foto saya dengan suami. Syukurlah yang ini diizinkan, dengan catatan, TIDAK boleh lagi.
  2. Saya dulu pernah memposting video anak saya sedang story telling, namun sudah saya hapus, karena menurut suami saya, wajahnya terlihat sangat jelas. Beliau tidak ingin wajah anak kami terpampang dengan jelas.
  3. Saya pernah memposting foto berdua dengan anak saya. Yang satu dalam rangka mengikuti event yang menunjukkan bahwa saya seorang Ibu, jadi mau tidak mau, sang anak harus tampil. Fotonya pun dalam jarak jauh, jadi anak tidak terlihat jelas di foto. Yang ini, diloloskan oleh Pak Suami.
  4. Satu foto terbaru juga ada yang saya sedang berdua dengan anak saya, namun anak saya sedang memakai masker dan topi, jadi diloloskan oleh Pak Suami.
  5. Bagaimana dengan story? Karena story hanya bertahan 24 jam, suami sedikiiiit memberi kelonggaran tapi tetap tidak boleh ada informasi pribadi secara lengkap.

Who to Follow and Unfollow

Siapa saja yang saya FOLLOW adalah orang-orang yang saya kenal di dunia nyata: ibu-ibu di sekolahan anak; teman-teman kuliah; teman-teman sekolah. Ada juga orang-orang yang belum saya kenal secara IRL, tapi berada dalam satu komunitas yang sama. Lalu, beberapa orang populer: dari kalangan artis; musisi; influencer, yang saya kagumi karya, kiprah, dan penampilannya, yang tidak neko-neko dan no drama.

Siapa saja yang saya UNFOLLOW adalah mereka yang berakhir tidak sesuai harapan saya. (‘Mereka’ refers ke orang populer saja. Saya tidak pernah unfollow teman-teman saya).

Ada alasan mengapa saya mem-follow orang populer, salah satunya adalah saya menganggap mereka sebagai panutan. Namun jika di tengah-tengah, mereka slip atau melakukan hal yang jauh dari karakter dan perilaku sebelumnya, melakukan atau berkata hal yang ‘aneh-aneh’, menghebohkan, dan penuh drama, saya tidak segan untuk klik UNFOLLOW.

Ada satu tokoh influencer, wanita muda luar biasa dan cemerlang yang tulisannya bagus dalam menjunjung harkat martabat wanita, tapi di suatu hari saya kaget ketika membaca reply-nya di kolom komentar, –yang memang sih si komentator tersebut menuliskan hal yang mengesalkan–, Beliau membalas dengan kata (saya lupa tepatnya yang apa diantara berikut): bego/ goblog/ bodoh. Waduhh saya shock seketika, hhhmmmUNFOLLOW.

Ada satu tokoh wanita yang cerdas dan independen, yang juga seorang putri ulama besar Indonesia yang ceramahnya rutin saya dengarkan. Saya kagum dengan kecantikan luar dalam yang dibawa beliau. Seiring berjalannya waktu, saya mengamati lama-lama tindakannya sudah berkurang kemurniannya. Beberapa komentator menyebut acara yang rutin beliau adakan sebagai ‘demi konten’. Pas, sudah mewakili pikiran saya. UNFOLLOW.

Ya elaaah Jeng, kan namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna atuh! Selalu memiliki kekurangan diantara kelebihannya yang overwhelming.

Ealaaah dateng lagi nih orang. Ummm iya sih, tapi saya punya standar pribadi dalam menentukan panutan atau role model yang saya follow. Karya dan perannya adalah yang utama saya perhatikan. Musik, lifestyle, outfits, pola pikir, tanpa drama pribadi. Itulah yang saya cari, yang bisa membuat mata saya terhibur, pengetahuan saya bertambah, wawasan saya meningkat. Ya intinya saya suka dengan yang tidak neko-neko.


The Perks of Being Me

Saya suka amazed dengan teman-teman saya yang rutin membuat story, ingin rasanya ikut-ikutan tapi sering malas dan tidak mood. Begitu juga dengan post, saya juga tidak suka banyak berpose.

Serta, saya type orang yang ingin menyimpan hal-hal indah yang saya lalui di memori otak, bukan di memori HP. Saya hampir tidak pernah berfoto bersama mamah saya ketika kami sedang bertemu, karena saya dan beliau lebih nyaman memakai daster sambil berbaring berdampingan, lalu mamah mengelus-ngelus kepala saya sambil menceritakan ilmu kehidupan. Pertemuan kami berdua membuat saya lupa dengan kamera di HP, sudah sama sekali tidak kepikiran untuk wefie bersama mamah, ehehe.

Pun saat saya sedang bermain dengan keponakan saya yang masih kecil-kecil, keimutan mereka sudah mengalihkan dunia saya untuk tetap fokus pada mereka, rasanya tidak kepingin memotong waktu saya, untuk ngutak-ngatik HP dan mengajak mereka berfoto bersama, ehehe. Saya prefer menyimpan wajah dan kelucuan mereka dalam memori di otak saya saja.

Sedangkan momen di mana saya semangat untuk berpose adalah ketika saya mengikuti suatu event challenge yang mengharuskan saya mengambil foto dan ketika jalan-jalan ke tempat wisata atau menikmati alam bersama mama mertua saya. Mama mertua juga semangat untuk berfoto dan difoto. Ya rasanya semangat tersebut menular ehehe.

Hasil jepret-jepret inilah yang nanti menjadi cikal bakal foto yang saya post di feed. Itu pun juga belum tentu akan saya post karena saya membutuhkan big gut a.k.a keberanian untuk mengeksekusinya. Kadang ada rasa deg-degan membayangkan pikiran teman-teman saya mengenai pose saya, ehehehe. Saya selalu bergelut dengan pikiran saya sendiri, yang ended up dengan meyakinkan diri bahwa selama saya tidak merugikan dan mengecewakan orang lain, lakukan saja.


BEST WISHES

Semoga saya bisa memanfaatkan Instagram dengan optimal, memperoleh kebaikan darinya, dan tidak mendatangkan hal-hal buruk yang tidak diharapkan. Let’s ber-socmed ria dengan properly dan gracefully.


Lalu bagaimana dengan Anda? Apa content di Instagram Anda? Apa batasan-batasan yang Anda berlakukan dalam menggunakannya?

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: