Self Reminder

Saya ingin menuliskan 6 dari banyak perilaku yang harus saya ingat untuk TIDAK saya lakukan. Sebuah self reminder agar bisa menjadi versi yang lebih baik. Insha Allah. Beberapa kisah berikut merupakan hasil pengamatan saya atas kehidupan bermasyarakat. Pastinya pada ilustrasi percakapannya, saya akan menggunakan nama samaran karena pada dasarnya yang melakukan kesalahan ini adalah seorang manusia juga seperti saya, yang tak luput dari kesalahan. Jadi fokus ke perbuatannya, bukan ke personalnya.

(Untuk teman-teman yang belum menonton “Dune” dan “Spiderman – Nowhere Home”, mohon untuk tidak membaca point terakhir. Warning spoiler.)

1. Tujuan Utama Datang ke Pengajian Adalah Mendengarkan Tausiyah dan Menerapkannya dengan Baik dan Benar

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jamaah oh jamaah. Bagaimana kabarnya Ibu-ibu? Ibu-ibu, sebagai manusia muslim, sudah sepatutnya dalam kehidupan bertetangga, kita perlu melakukan hal-hal penting berikut:

  1. Tidak boleh berburuk sangka
  2. Menolong tetangga yang sedang kesulitan. Jika ibu-ibu mampu, maka bantulah dengan tulus dan senang hati
  3. Jangan sekali-kali ghibah, membicarakan keburukan dan aib orang lain. Kalau salah artinya fitnah, kalau betul maka kita memakan daging saudara kita sendiri. Intinya, tidak dibolehkan

Dalam perjalanan pulang, Bu Dodo, Bu Coco, Bu Bobo, Bu Fofo, dan Bu Gogo, yang sama-sama tinggal di Perumahan Bumi Asri dan menamakan diri sebagai Geng Istiqomah Bumi Asri, terlihat bahagia dan sumringah.

Bu Dodo: “Masya Allah, selalu adeeem setiap mendengarkan ceramah Bu Ustazah Rosidah.”

Bu Coco: “Iya, Bu. Saya selalu merasa ayem dan tenang. Semoga kita semua, makin tua makin menjadi pribadi muslim yang lebih baik ya Bu Ibu. Aamiin.”

Semua menjawab bersamaan: “Aamiin ya Rabb. Minggu depan kita datang lagi ya Bu Ibu.”

Keesokan harinya…

Bu Gogo sedang menonton TV saat melihat Bu Titi, tetangga yang rumahnya berjarak 10 meter sebelah kanan, memasuki halaman rumahnya dan menuju pintu depan. Dengan sigap, bu Gogo segera mematikan TV dan tidak bersuara.

Bu Titi: “Assalammualaikum, Bu. Bu Gogo. Bu Gogooo. Assalammualaikum.” sambil mengetuk pintu beberapa kali *knock knock knock

Selang beberapa menit kemudian, Bu Titi balik kanan karena tidak ada yang menyahut.

Bu Gogo merasa lega setelah usahanya tidak bersuara berhasil mengelabui Bu Titi sehingga mengira tidak ada orang di rumah. Bu Gogo segera mengambil ponselnya dan memberitahukan kejadian ini ke WAG Geng Istiqomah Bumi Asri.

WA Bu Gogo: “Bu Ibu, barusan ada peristiwa genting! Bu Titi datang ke rumah, ketuk-ketuk lamaaa pisan. Kayanya mau ngutang tuh. Eh bukan ‘kayanya‘ lagi, tapi PASTI. Bu Ibu tahu kan kalau suaminya lama gak pulang. Anak-anaknya juga masih pada sekolah. Apalagi kalau bukan mau ngutang. Ya gak Bu Ibu??!”

WA Bu Fofo: “Betul Bu! Itu mah sudah pasti ngutang. Waktu itu aye dengar dari keponakannya tetangganya tukang sayur, kalau Bu Titi itu sudah jarang beli sayur. Apa gak mencurigakan tuh??!”

WA Bu Gogo: “Elaaah, berarti bener tuh ya! $&*((bjdniioojhhh…”

WA Bu Bobo, Bu Dodo, Bu Fofo: “#&*Uhiokj0000hhhbjg@$%^&(G0……..”

Puluhan chat kemudian..

WA Bu Coco: “Waduh rame pisaan chat-nya! Pada ngomongin apaan. Baru megang HP lagi nih. Soalnya barusan Bu Titi main ke rumah ngasi oleh-oleh dari Amerika. Suaminya sudah pulang setelah 2 bulan ada bisnis di sana. Dapat hiasan miniatur patung Liberty euy! Pasti mahal nih! Saya fotoin ya Bu Ibu!”

2. Menghargai Selera (Pilihan) Orang yang Berbeda

Sepasang suami istri, Pak Banu dan Bu Banu, baru saja selesai menghadiri acara pernikahan putri dari salah satu pegawainya di kantor. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua bercakap-cakap menceritakan kejadian yang ditemui di kondangan tersebut.

Bu Banu: “Pak, tadi lihat endak, ada satu ibu-ibu, ampuuuun bajunya ngejreng! Kerudungnya pink, kebayanya kuning, roknya ijo, sepatunya silper. Polusi visual, Pak! Puyeng ngelihatnya!”

Pak Banu: “Buk, jangan begitu, orang kan kesukaannya beda-beda. Belum tentu yang Ibuk suka, orang lain suka. Pun sebaliknya. Tadi Bapak dengar obrolan yang mengezutkan lho Buk. Ibuk mau denger gak? Tapi jangan marah. Janji dulu, baru nanti Bapak ceritakan!”

Bu Banu: “Ihh Pak, bikin penasaran aja! Ceritain! Awas lho! Bapak kan tahu kalau Ibuk digituin malah tambah penasaran! Kalau gak cerita, gak akan Ibuk kasih lho!”

Pak Banu: “Tadi pas Bapak makan di bagian soto, ada kumpulan ibu-ibu di belakang Bapak sedang heboh ngobrolin salah satu tamu undangan. Begini katanya, “Ehh lihat dehh tuh yang sedang antri sate kambing! Jilbabnya corak macan, kebayanya merah, roknya garis-garis zebra, sepatunya corak ular. Bujubuneeng, udah kayak taman safari berjalan saja ya. Polusi visual!”

Pak Banu: “Lha bapak ikut penasaran pingin tahu siapa yang jadi buah bibir kumpulan ibu-ibu itu. Kok ternyata dirimu tho, Buk!”

3. Menjaga Mulut Untuk Tidak Asal Komentar Agar Tidak Menyakiti Perasaan Orang Lain

Setelah 13 tahun kelulusan, alumni SMA Bebas Namanya angkatan 2008 mengadakan reuni di suatu gedung yang berada di area Pramuka, Bandung.

Vina: “Aiihhh Panduwinataaa. Akhirnya kita ketemu beneran. Selama ini kita hanya bersua di Instagram saja,” Vina memeluk Panduwinata dengan ceria.

Panduwinata: “Iya ihhh, kangeeen. Seneeng banget kita bisa ketemu di dunia nyata. Mana anakmu? Gak diajak?”

Vina: “Noh lagi sama nanny-nya. Kamu kok kerempeng amat sih. Mikirin apa? Jadi kelihatan tua banget. Kisut.”

Panduwinata: “……….”

Vina: “Hai Heny, beda banget sama yang dulu. Dulu kamu kan primadona sekolahan, Sekarang kok jadi begini??”

Heny: “………..”

Vina: “Dewiiii. Dihh kamu sudah 31 tahun kok belum married sih??! Buruan atuh! Keburu tua, banyak saingan yang lebih muda. Entar malah tambah susah laku!”

Dewi: “Jjiahhh lha elu, baru 31 tahun sudah menjanda!” sambil kibas rambut dan ngeloyor pergi.

Vina: “………..”

Dalam acara reuni tersebut, Vina akhirnya bertemu dengan ‘lawan yang sepadan’ (yang sama-sama tidak segan mengemukakan kondisi lawan bicara, tanpa difilter terlebih dahulu), Dewi.

4. Tidak Men-judge Orang Lain Terutama Ketika Tidak Paham Permasalahannya

Di suatu restoran Jepang, pada jam setengah 3, Dinda dan Denok datang untuk makan siang. Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengamati meja sebelah yang terdiri atas ayah, ibu, 1 anak perempuan balita, dan 1 nanny. Di situ terlihat Mba nanny sedang menjaga si balita yang tampak super aktif. Sedangkan kedua orangtuanya sedang menikmati makannya dengan tenang sambil bercanda santai.

Denok: “Din, elu lihat yang gw lihat gak?” sambil memberi kode melalui mata

Dinda: “Yess. Kasihan amat ya si Mba-nya. Gak dikasi makan, berlarian ngejar anaknya yang pecicilan. Majikan jaman sekarang banyak yang tega.”

Denok: “Mau gw rekam deh, gw ambil videonya..”

Dinda: “Buruan, biar bisa buat pelajaran orang-orang yang nonton, bahwa Mba nanny itu juga manusia, juga butuh makan. Dasar orang kaya songong!”

Empat puluh menit sebelumnya:

Ibu Majikan: “Cindy, kamu makan saja dulu sepuasnya ya, sana pesan sesuka kamu. Makan yang banyak biar gak lemas. Ini si Siti sedang aktif-aktifnya. Jangan buru-buru makannya ya, saya sama Bapak jagain Siti duluan. Nanti gantian pas kamu udah beres. Oke.”

Mba Cindy: “Siap Bu, makasiiy banyak Bu. Cindy makan dulu ya, Bu!”

5. Monkey See, Monkey Do

Bunda: “Tiaaaa, dari tadi di kamar terus. Ini sudah jam segini, kan waktunya buang sampah ke depan dan merapihkan sampah non-organik. Kalau Bunda semua, ya capek atuh!”

Tia: “Entaar Bun. Bentar lagi, nanggung! Lagi bikin status buat Hari Ibu, Bun!” sambil berteriak dari kamarnya.

Bunda: “Ya elaah, Ayah. Tuh denger anak gadismu, gara-gara bikin status Hari Ibu, sampek omongan bundanya malah gak diprioritaskan. Anak jaman sekarang, Yah. Dikitdikit pasang status. Dikitdikit selfie.” Bunda mengelus dada dan tepok jidat.

Ayah: “Bu, ngaca yuk!” sambil menggandeng tangan istri tercinta mau diajak ke kamar yang ada cermin besar.

Bunda: “Yah, ah gak mau, ngaca di HP saja. Nih, pake kamera juga bisa. Sudah, Yah, Bunda lagi ngaca nih!” Bunda melepas tarikan tangan Ayah.

Ayah: “Nah sekarang lihat wajahmu, Bun. Kayak apa?”

Bunda: “Gak berubah, Yah, masih sama seperti 20 tahun yang lalu, saat pertama kali kita berkenalan.”

Ayah: “Bun, itu tadi sarkasme, Bun! Ayah mau ngasih tahu kalau anak gadis kita itu niruin kamu! Lha wong kamu dikit-dikit Tiktok-an. Goyang ‘ohh no’, goyang ‘yamet kudasi’, goyang ‘maumere’ sambil loncat-loncat di kebon belakang, goyang apalagi itu, Ayah lupa namanya. Owalah Bun, itu anakmu niru kamu! Persis!”

6. Tidak Memberikan Spoiler Film ke Orang Lain dengan Seenaknya

Papito: “Mah, lihat status di Facebook-ku, aku menulis begini, wkwkwkwk.”

Sambil menyodorkan ponselnya, tertulis:

Dune nilainya 13 out of 10. Ternyata yang mengkhianati Atreides adalah dokternya sendiri!

Mamita: “Lhoh Pap, ini kamu spoiler namanya! Kan kasian yang belom menonton. Ingat Pap, ada karma!”

Papito: “Ya berarti itu derita mereka, salah sendiri baca statusku. Kan ini akun FB-ku, hak-ku dong mau nulis apapun. Wuahahahahaha

2 Bulan Kemudian:

Papito: “Mam, lihat nih status temanku. Kurang ajar sekali dia!”

Mamita: “Nulis apaan, Pap??”

Sambil memperlihatkan ponselnya:

Ketiga Spiderman datang semua. Ada Tobey, ada Andrew Garfield, dan ada Matt Holland. Keren. Multiverse would blow your mind!

Mamita: “Lhah lhah ini kan spoiler, Pap! Jauhkaaan dari aku!”

Papito: “Iya Mam, temenku nulis spoiler Spiderman. Aku jadi kurang semangat nih nonton besok Minggu. Tapi aku sudah terlanjur beli tiket buat kita bertiga! Dan aku sengaja ngasi taukan ke kamu, agar aku tidak menderita sendirian..hiks..”

Mamita: “……………..” kesal dan tetiba teringat meme yang bersliweran.

Sumber: Website “IDN Times”

Referensi Ilustrasi Gambar:

  • https(linkmati) //www.idntimes.com/hype/entertainment/shafira-arifah-putri/10-respon-kocak-spoiler-spider-man-no-way-home-c1c2/10

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

15 thoughts on “Self Reminder

  1. Paling favorit memang nih blog teh Urill XD berhasil bikin ketawa – ketawa pagi – pagi. Nomor 3 bener banget nih. Aku paling kesel ketemu orang yang baru ketemu langsung komentar fisik. Sayangnya banyak yang begitu malah keluarga sendiri :))

    Like

  2. Uril, seperti biasa sukses membuatku ketawa-ketawa sendiri. Poin 1-5 itu bener banget ya, sebisa mungkin deh kita jangan sampai kaya gitu.
    Untuk spoiler aku ga papa sih, seringnya kalau nonton malah baca spoiler dulu biar ngerti wkwkwk

    Like

  3. ini udah ada bagian 2 nya? Hehehe bacanya malah jadi ketawa-ketawa, tapi agak sedikit kuatir, jangan2 saya jadi salah satu pelakuyang disebutkan di atas tanpa menyadarinya.

    Like

  4. hauhahahhahaha apalagi bagian spoiler πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€ tapi aku suka lho dikasih spoiler, bahkan sering mencari spoiler. aku tipe yang kalu nonton yakin dulu worth to watch atau nggak, dan bakal bikin sakit hati atau nggak. Karena aku ini orangnya melankolis dan suka nggak bisa move on kalau nonton yang sad ending hihihi

    Uril pinter banget sih mem-fiksikan pelajaran2 hidup. kayaknya semua hal di atas aku gak suka kalau ketemu, tapi suka tanpa sadar juga melakukannya. Makasih ya Mah Uril remindernya!

    Like

  5. Wah teh, bacanya sambil ketawa, tapi sebenarnya deep yaa pesannya. Ikut ketawa tapi agak menusuk gitu loh. Hehe.. Makasih loh teh untuk remindernya. Semoga dijauhkan yaaa dari kelakuan macam itu πŸ™‚

    Like

  6. Halo Teh, salam kenal. Seru banget tulisannya Teeeh, jadi reminder buat aku juga masih sering ghibah sama suami πŸ˜‚πŸ˜‚ Seger bacanya!

    Like

  7. Huahahahaha.kocaaaakk..makin ketawa2 karena menyadari diri sendiri melakukan yang ada di poin point ituu..

    Dan baca posting teh Uril tepat setelah nonton spiderman.yes! Bisa baca sampai akhir.hahaha.

    Terima kasih untuk remindernya teh Uril, mengingatkan dengan cara yg sangaaaat menyenangkanπŸ’–

    Like

  8. Teteeh salam kenaal. Keren ih tiap poinnya dikasih ilustrasi yg menghibur jadi kaya nonton sketsa komedi hehe. Makasih remindernya Teh~ relatable banget semuaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: