MATAHARI-MATAHARIAN

Kediri, 17 November 1986

Yudi: “Trims ya, sudah mau kuajak makan malam dan jalan-jalan di Jalan Dhoho.”

Tini: “Sama-sama, Yud. Sini duduk dulu, ngobrol dulu. Jangan langsung pulang,” Tini sengaja mengeluarkan suara manjanya.

Mereka berdua duduk di teras depan rumah Tini. Ajakan Tini membuat wajah Yudi berseri-seri.

Yudi: “Bener gakpapa nih Tini?” sambil melongok ke dalam rumah dengan wajah tegang, khawatir wajah Ayah Tini nongol.

Tini: “Wes, Yud, jangan nengok-nengok ke dalam rumah. Nanti malah Bapak Ibu penasaran sama kita dan ngintip-ngintip. Kita fokus saja dengan kita berdua,” sambil berbisik dan tangannya meraih punggung tangan Yudi.

Yudi terkejut sekaligus kesengsem berat mengetahui Tini ingin memegang tangannya. Kemudian, dibalasnya sentuhan tangan Tini dan menggenggamnya.

Yudi: “Ini sudah ketiga kalinya saya apel wakuncaran sama sampeyan, Tini. Kita sudah hampir 1 bulan jadian ya.”

Tini: “Iya Yud, gak nyangka ya. Dulu aku tuh lihat kamu, kayak yang biasa weh gitu. Eh sekarang, hanya kamu yang bisa bikin aku dag dig dug serr setiap mau ke sekolah, ihihiiiyy..”

Yudi: “Sama, Tin. Dulu menurutku Bunga anak IPS 3 itu yang paling cantik, ternyata sekarang kamu, Tin.”

Tini: “Bunga? Bunga Kembang Kempis? Yang rambutnya dijambul? Yang niatnya biar mirip Farah Fawcett tapi malah kayak kain pel itu ya?” dengan cepat Tini melepaskan tangannya dari genggaman Yudi dan berbicara dengan nada tinggi yang disertai muka masam.

Yudi: “Aku gak inget gaya rambutnya, Tin. Kan kamu sudah mengalihkan duniaku, Tin. Mau rambut dia kayak kain pel, kayak sapu ijuk, ya aku gak peduli. Nyapo yoan tak pikirne??”

Tini: “Beneran nih? Kamu dulu pas kenal Bunga, belum pernah lihat aku?”

Yudi: “Aku gak kenal Bunga, Tin. Cuma tahu aja namanya. Pas pertama kali penerimaan siswa SMADA, pas inaugurasi di aula, aku lihat tuh kayak ada cewek uayuuu eram. Nah dari situ aku jadi tahu namanya, Bunga. Anak-anak juga suka pada ngomongin dia.”

Tini: “Nyapo kok aku malah merasa jawaban kamu barusan, membuatku jadi lebih gak tenang ya. Hhhhh. Padahal aku dulu sekelas sama Bunga pas kelas 1 lho! Brati kamu hanya fokus ke Bunga dong ya. Kamu gak lihat aku sama sekali??!!!”

Yudi: “Lho, lho, piye to?? Kok jadi mbahas Bunga sih, Tin?

Tini: “Kan kamu yang ngeduluin. Bawa-bawa nama dia saat kita sedang gayeng-gayengan.”

Yudi: “Owalaah, maaf, maaf ya Tin. Aku maleh merusak suasana ya. Maaf Tin. Tadi aku gak niat nginget-nginget Bunga. Cuman intinya, setelah aku lihat kamu, Bunga kuwi terlihat hanya seperti remah-remah rengginang yang ada di dalam blek biskuit Khong Guan. Aku gak sadar ada yang lebih sipp dari dia. Bandingannya mirip kayak aku yang pernah gak sadar kalau ada yang lebih cantik dari Madonna, yaitu Demi Moore. Sampeyan seng Demi Moore, Bunga seng Madonna.”

Tini: “Madonna yo luweh ayuuu seksi timbang Demi Moore, Yud!!”

Yudi: “Di mataku Demi Moore tetap yang lebih cantik, Tin,” Yudi tampak gelagapan ketika menjawab perkataan Tini.

Yudi: “Sudah, Tin. Pokoke, saiki, di mataku, kamu yang paling uayuuu sak sekolahan! Titik! Ojo diteruskan eneh. Kita ngobrol yang lain saja yok!”

Tini: “Ohhh yowes lah, yok kita lupakan saja masalah Bunga ini. Eh sudah mau jam 9. Bapak Ibu hanya membolehkan sampeyan sampek jam segini aja, Yud,” ekspresi wajah Tini kembali menjinak dan enak dipandang.

Yudi: “Ampun kok cepat amat waktu berlalu. Ujug-ujug sudah hampir jam 9 ya. Tuh kan, kalau sama kamu, suka gak ngerasa kalau waktunya sudah lama. Ummm.. ummmm.. anuu.. Eh Tini, aku mau minta sesuatu. Boleh gak?” dengan gugup dan terbata-bata Yudi ingin mengutarakan suatu permintaan.

Tini: “Ya Allah dari tadi aku gak nyediain minum ya, Yud. Tunggu, Yud, kuambilin minum dulu ya!” segera beranjak dari kursi.

Yudi: “Eh eh bukan, Tin!” Yudi menyahut dengan cepat dan menahan Tini untuk tidak pergi masuk ke dalam rumah.

Tini: “Lalu apa, Yud?”

Yudi: “Ummm aku mau minta…. ummm minta MATAHARI.”

Tini: “Yudiiii, jangan aneh-aneh lah mintanya. Piye caraku ngasih kamu matahari? NASA saja baru tahu keberadaan UFO sama ET. Dan manusia baru bisa mendarat di bulan. Kalo matahari, piye Yud. Itu kan puanaaass banget sampe ribuan derajat! Ojo aneh-aneh!”

Yudi: “Tunggu, tunggu, Tini, tolong mandheg dulu sebentar! Aku nemuin kamu buat seneng-seneng sama kamu, bukan untuk mau pusing-pusing belajar IPA! Jadi yang aku maksud itu, aku pingin dikasi bahasa Inggrisnya Matahari sama kamu, Tin.”

Tini: “Bahasa Inggrisnya Matahari? Apa to, Yud? Aku tuh paling gak suka sama pelajaran Bahasa Inggris. Meskipun film favoritku itu film enggres, MACGYVER. Tapi aku gak iso bahasanya. Tanya aja Bu Endah, pasti inget aku, soalnya setiap kali ditanya, SELALU gak bisa jawab,” Tini menjelaskannya dengan panjang lebar dan berapi-api.

Yudi: “Aduh, ummm ummm…,” Yudi tepok jidat garuk-garuk pale.

Tini: “Aku jadi penasaran, Yud, sama teka tekimu. Aku tanya Bapak dulu ya! Mungkin Bapak tahu,” secepat kilat Tini lari masuk ke dalam rumah hingga membuat Yudi tak mampu mencegahnya.

Yudi: “Ehh ehh Tin Tin Tiniii…,” wajahnya berkeringat mulai panik.

Beberapa saat kemudian, Tini muncul bersama ayahnya.

Ayah Tini: “Bahasa Inggrisnya Matahari itu SUN. Kenapa ya? Ini sudah jam 9 lebih, Tini sudah waktunya istirahat. Nak Yudi segera pulang saja,” wajah Ayah Tini terlihat tidak bersahabat.

Yudi: “Ii.. ii. Iya, Pak. Baik, Tini, aku pulang dulu,” keringat Yudi mengucur makin deras dan dadanya makin berdegup kencang. Satu kata, TAKUT, sama Ayah Tini.

Tini: “Yudi, aku sudah paham maksudmu!” tiba-tiba Tini, dengan wajah sumringah, menyahut di tengah situasi yang tidak diharapkan ini.

Ayah Tini: “Sudah, sudah! Belum waktunya kalian MATAHARI-MATAHARIAN! Pulang pulang! Tini, sana tidur!”

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

3 thoughts on “MATAHARI-MATAHARIAN

    1. Ini gombalan khas remaja 80an, May wkwkwk. Pakai settingan tahun 1986. Waktu itu Om pernah cerita kalo temennya pernah di situasi minta matahari ke pacarnya, tapi pacarnya kagak paham wkwkwk. Akhirnya kubikin saja cerita pendeknya. Mbayangin para remaja jadul yang segenerasi dengan orangtua kita, lucu juga ya May ehehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: