Design a site like this with WordPress.com
Get started

Balada Penghuni Ladang Benih – Season 2 Episode 4

……..

……..

……..

Arne: “Serius, Mba Nur??!”

Nur: “Gak ada alasan untuk tidak serius. Umm kecuali kalau kamu mau belajar atau ada agenda. Ya brati besok saja.”

Arne: “Endak ada, Mba! Sekarang aja!”

Mereka berdua bergegas membayar ke kasir. Namun melihat hujan yang belum kunjung reda, mereka kembali ke meja.

Arne: “Kita tunggu dulu saja di sini, Mba. Aku mau pesen minuman, Mba mau juga?”

Nur: “Endak usah, sudah kenyang euy. Makasih ya.”

***

Sesaat kemudian, Arne kembali ke tempat duduknya.

Arne: “Mba, emangnya nanti kita tuh mau ngapain sih?” sambil senyum-senyum tidak jelas.

Nur: “Lha iya, saya juga endak tau ehehehe. Kita berdua mau ngapain sih?” berbalik nanya.

Arne: “Ya kalau orang berduaan di kamar itu biasanya ngapain Mba?”

Nur: “Macam-macam lah! Tapi saya gak mau itu ya, Arne. If you know what I mean. Selain dosa, takut salah lubang!”

Arne: “Sebenernya saya sudah tahu letak lubangnya secara tepat, Mba. Umm kalau gak sampai begituan, gak dosa ya Mba?”

Nur: wajahnya pucat, “Sepertinya dosa juga, tapi sedikit. Mungkin ya??? Ahh kamu mah, jangan ngomongin dosa atuh! Bikin ilfil…”

Arne: “Ehh iya, maap Mba. Ummm, Mba, dulu kayak pernah lihat ada yang nemenin Mba pas awal-awal pindah. Itu siapa? Pacar?”

Nur: “Yupp. Kalau kamu…, sudah punya pacar?”

Arne: “Ada Mba, sekarang anaknya kuliah di Way-Ke. Anak SGM.”

Nur: “Owalah kita berdua tuh ternyata lemah dalam ber-LDR-an ya. Aku gak bilang ke pacarku lho kalau sedang jalan sama kamu. Apalagi bilang nanti mau duaan di dalam kamar. Pasti gak boleh… Sepertinya saya memang lemah, lemah sama kamu….”

Arne: “Sama, Mba. Saya akui saya lemah LDR-an. Apalagi setelah kenalan sama Mba Nur,.. makin bertambah lemah pas Mba ngasi pertanyaan menghebohkan itu.”

Nur: “Lagi-lagi topiknya bikin saya sedih dan discouraging. Stop ngomongin pacar kita masing-masing!”

Arne: “Ya deh! Lalu, lalu, … sudah kepikiran nanti mau ngapain kita Mba? Ehehehehe..”

Nur: “Netflix-an aja yok. Sama, umm, kamu punya catur gak? Pokoknya keluarin semua mainan yang kita punya, biar gak mati gaya.”

Arne: “Beres, Mba! Yang penting kita barengan dulu ya! Selanjutnya? Terserah kita… ehehehe. Dan, Mba, …. jangan pake apa-apa ya! :D”

Nur mengangguk pelan dan mesam-mesem.

***

Arne: “Hujannya makin deres. Saya pesan Greb aja ya Mba! Sama,… sudah gak tahan Mba… Pengen cepet-cepet berduaan di kamar..” mengetikkan sesuatu di HP-nya.

Sepuluh menit berlalu, tapi tidak ada satupun Greb yang available.

Arne: “Waduh gimana nih, Mba?”

Nur: “Duh iya nih, bentar lagi Maghrib pula.”

Arne: “Mau sholat, Mba?”

Nur: “Endak, hanya mengingat waktu saja.”

Arne: “Mau nunggu atau gimana? Soalnya bakal lama nih kayanya!”

Nur: “Yok terabas saja!”

Arne: “Beneran, Mba?”

Nur: “Gapapa, Arne. Masa kecil saya kurang bahagia, dulu gak pernah dibolehin ujan-ujanan. Mumpung sekarang ada kesempatan, ehehe. Umm, saya pun sama kayak kamu, Arne, sudah gak tahan…”

Arne: “Nanti Mba kedinginan. Gak pake jaket juga, Mba.”

Nur: “Tak apalah, Arne. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Dingin-dinginan dahulu, saling memberi kehangatan kemudian. Eaaa eaaaa..”

Arne: “Eaaa eaaaa eaaaaa hehehehe.. Ya sudah, yok jalan! “

***

Rupanya medan ke arah pulang lebih sulit daripada ketika berangkat tadi. Hujan yang cukup deras membuat mereka banting tulang lebih keras. Jurus minggir dari mobil dan motor yang melintas, jurus menghindar dari air yang tergenang.

Arne: “Sini, Mba, pegangan tangan. Licin jalannya!”

Nur: “Jalanan begini mau gandengan segala. Udah, kamu di situ aja, tetap di depanku.”

Rute sudah setengah jalan dilalui. Hujan pun tetap deras tanpa ada tanda-tanda mereda dalam waktu dekat. Beberapa kali mereka kena moncratan genangan air dari mobil yang melaju cukup kencang.

***

Akhirnya tinggal beberapa meter lagi mereka sampai ke Ladang Benih Barat 45. Jalanan pun sudah datar dan sepi. Arne menghentikan langkahnya untuk menunggu Nur dan menengok ke belakang.

Tetiba Arne terkaget dengan pemandangan yang dilihatnya. Bisa dibilang tetangga sebelahnya itu sudah ‘tidak berbentuk’. Rambutnya yang awalnya berombak rapih, kini kuyup seperti kucing kecebur got. Atasan putihnya juga sudah belepotan dengan lumpur yang moncrat.

“Kasihan amat Mba Nur…,” batin Arne.

Nur: “Ngapain ngelihatin terus?”

Arne: “Sengaja mau nungguin Mba, sini Mba saya pegangin tangannya..”

Nur: “Tunggu… serius tadi kenapa ngelihatin aku terus kayak begitu? Umm gak ada yang aneh kan, Arne?” Nur mendoa agar tidak ada yang ancur dengan penampilannya.

Arne: “Gak ada, Mba. Normal-normal saja kok!” Arne paham bahwa penampilan bisa membuat perempuan insyekurrr, jadi lebih baik tidak berkata jujur bahwa penampakan Mba Nur saat ini cukup mengerikan.

Nur dengan senang hati menyambut ajakan Arne untuk bergandengan tangan sambil memasuki gerbang kos.

Sesaat, Nur merasakan kenyamanan dan kehangatan dengannya, apalagi setelah mengingat saat Arne protektif ketika tangannya kena panas plate steak tadi.

Ohh Arne, pahlawanku, ohhh…”

***

Baru saja beberapa langkah mereka berjalan kaki beriringan dalam keadaan berpegangan tangan, tiba-tiba Nur melepaskan tangannya dari genggaman Arne begitu saja.

Dan ngaciirr duluan tanpa berkata-kata. Arne pun kebingungan.

Arne: “Mba, Mba…., ada apa Mba?”

Seketika Arne tercekat. Dilihatnya Nur menuju ke kamar, dan di depan pintu, terlihat sosok yang pernah dia lihat sekilas. Dialah Mas Briljen.

***

Nur: “Lho Mas Briljen. Baru sampai, Mas?”

Briljen: “Kamu abis darimana? Saya telponin kok gak diangkat-angkat?”

Nur: “Iya Mas, maaf, tadi saya lupa bawa HP, Mas. Maaf Mas. Ohya, saya kira Mas bakal pulang tanggal 25…”

Briljen: “Aku mau ngasih kejutan ke kamu, Nur! Ya ampun, kasihan amat kamu, sampai basah kuyup begitu.”

Nur dan Mas Briljen berbincang sebentar di depan pintu kamar Nur. Kemudian terdengar suara pintu yang ditutup dengan sangat kencang.

———- DUBRAKKKKKKK!!! ———–

Briljen: sambil berbisik, “Wuidihh kenapa tuh orang sebelah? Marahnya kayak abis di-PHP-in orang aja…”

Nur tidak menanggapi pernyataan tersebut dan mengalihkan pembicaraan.

Nur: “Ehh Mas sudah makan belum?”

Briljen: “Belum, yok temenin makan malam. Kita ke Ciwokwok yok. Abis itu nonton “Pengabdi Setan 2”, sudah ada nih!”

Nur: “Boleh, Mas. Tapi saya mau mandi dan ganti baju dulu ya. Mas nunggu di kamar Mas saja, nanti kalau sudah selesai, saya samperin.”

***

***

***

Advertisement

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: