Design a site like this with WordPress.com
Get started

Balada Penghuni Ladang Benih Season 4 Episode 4

When They Went to a Cinema

WA Arne: “Mba, nanti malam nonton yuk. Aku yang traktir. “

WA Nur: “Wuihh, ayuk. Btw dalam rangka apa mentraktir-traktir diriku?”

WA Arne: “Gaji pertama turun, Mba. Akhirnya bisa merasakan bisa punya dhuwit sendiri hasil jerih payah.”

WA Nur: “Haleluyahh! Sek, sek, emang kamu sudah kerja?? Masih anak semester 6 kan…”

WA Arne: “Waktu itu kan sudah kucritain, Mba. Jadi honorer di perusahaan ketik-ketik terbesar se-Priangan.”

WA Nur: “Apaan tuh?

WA Arne: “Gak berani sebut nama, Mba. Karena gak mengandung sponsor.”

WA Nur: “Ohh.. Wah kalau gitu, syelamat ya! Terima kasih banyak sebelum dan sesudahnya sudah mau traktir. Kalau jajannya?”

WA Arne: “Minuman deh aku traktir juga, kalau popcorn-nya beli sendiri.”

WA Nur: “Pas lah Arne! Ku gak doyan popcorn, ku doyannya minumannya doang. Jadi aku gak keluar uang sama sekali ya nanti malam? Asiiiik. :D”

WA Arne: “Yang di Ciwok ya Mba. Jam 6 udah siap, bisa??”

WA Nur: “Siyap! Bisa dong. Nanti langsung ketemuan di sana ajah Arne. Jalan kaki kan lumayan deket dari sini.”

WA Arne: “Nanti kena asep-asep Mba di jalanan.”

WA Nur: “Awww awww awwww, terima kasih Arne sudah memperhatikan, ahahaha. Tapi tak apa lah. Ku mendoa semoga nanti selama aku jalan kaki, gak ada satupun mobil dan motor yang lewat.”

WA Arne: “Yawes Mba, see u!”

WA Nur: “Eh tunggu, filmnya apaan?”

WA Arne: “Black Adam, Mba!”

WA Nur: “Yasss! Ku gak sabar mau lihat Noah Centineo, mantankuh :D”

WA Arne: “…….. —___—….”

***

Sebagai manusia yang selalu tepat waktu dan disiplin, Nur tidak pernah terlambat. Jam sudah menunjukkan pukul 17.49 saat dia sudah sampai di XXX Ciwok. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, akhirnya Nur melihat Arne yang sedang antri membeli minuman.

Rapih amat tuh anak, pake kemeja putih lengan panjang. Hhmm vibes-nya jadi kayak Mas-mas kantoran. Ihiiiiyyy asiik jadi serasa jalan sama Mas-mas daripada sama anak kecil. Sambil ngomong sendiri berjalan mendekati Arne dan menowelnya.

Nur: “Mas, Mas… Kenalan dong.”

Arne: “Ehhh, hahaha. Mba, minumannya sama kayak pesananku aja ya, antri nih! Nanti kelamaan.”

Nur: “Iya gapapa, aku manut sama yang nraktir. Umm Arne kamu kayak Mas-mas ihihihiiiy.”

Arne: “Ini tadi abis dari kantor yang tak-boleh-disebut-namanya itu Mba, langsung ke sini. Emang harus begini bajunya Mba kalau pas ngantor.”

Nur: “Aiihhh, pakai baju gini terus dong. Biar auranya lebih tua dari diriku, Arne. Ya? Ya? Ya?”

Arne: “Hahaha…”

Nur: “Lho kok ketawa doang?”

Arne: “Aku bingung mau jawab apa Mba. Ummmm..”

Nur: “………”

Arne: “Hmmm kenapa aku merasa akan ada sesuatu ya nanti pas nonton??!”

Nur: “Opo??”

Arne: “Mba, plissss, nanti yang fokus nontonnya ya! Aku sudah menunggu-nunggu film ini. Beneran ya Mba?!”

Nur: “Ihh kenapa suudzon begitu?? Seolah aku akan gangguin kamu.. Gak boleh berprasangka buruk, Arne!”

Arne: “Kan hanya mengingatkan, Mba, biasanya Mba suka begitu kalau nonton. Oh katanya mau lihat Noah Centineo, kan. Fokus ke dia Mba!”

Nur: “Ya elaah, iya iya!”

***

Seperti sudah otomatis, mereka berdua pasti memilih kursi yang ujung. Akhirnya beberapa menit, film pun dimulai.

Dua puluh menit kemudian, tampaknya film itu tidak click di mata dan hati Nur, dan mulailah dia bosan. Bahkan wajah Noah Centineo tidak bisa membuatnya melotot. Tapi tapi tapi…

Sebelah aku kenapa menggoda banget ihh. Bau kringetnya yang samar-sama kenapa jadi kayak feromon begini. Huwaaaa. Eh tapi tadi kan dia pesen agar aku gak gangguin. Idihh mukanya ciyus amat. Yah dia lagi fokus. Jangan godain ah, kesiyan… Bukannya melihat ke layar, Nur malah melirik ke sebelahnya sambil membatin A sampai Z.

Godain.. jangan… godain… jangan. Ummm megang kan bukan godain, dah ah pegang ajah.

Baru mau memegang tangannya, Arne sudah duluan memegang tangan Nur. Kemudian menciumi punggung tangan Nur dan merambat sampai lengan bawah, sambil mata tetap melihat ke arah layar.

Dih dih dih apa-apaan nih anak. Bilang gak boleh gangguin, tapi bikin merinding begini. Rasanya Nur makin tak ku ku

Jiwa dan raganya bergejolak, sungguh susyeeh untuk menahan. Namun karena sudah berjanji untuk tidak gangguin, akhirnya Nur pun nyerah. Dia memilih tidur hingga film selesai…

***

***

***

Advertisement

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: