Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 23

Unexpected Bad Weekend

Hhmmm, ‘bad’ adalah strong word. Sepertinya kurang tepat jika saya menggunakan kata tersebut. Sesungguhnya kalau direnungkan bad day atau bad stuff itu tidak ada ya, karena seringkali eh selalu malah, setiap ketidakenakan selalu diganti dengan keindahan.

***

Seperti yang terjadi kemarin. Harapannya bisa berakhir pekan di Bandung bersenang-senang dengan keluarga tercinta; Papito, Boo, MaMer,… ealaah ternyata MaMer sakit. Hiks.

Begitu sampai rumah MaMer, sudah ada 2 adik ipar di rumah yang menyambut kami di depan sambil bilang, “Mama sakit…”.

Duh pasti serius nih, karena wajah kedua adik ipar cukup menggambarkannya. Dan begitu masuk, MaMer terlihat sangat lemas terkulai di sofa ruang tamu. Suaranya lemah dan merintih menyapa nama saya, “Ril, Ril….”. Aaaaa Mamaaaa. 😦

***

Mama semalaman diare dan badannya bergetar-getar. Ya Allah. Dan saat Mama sedang sangat drop, yakni Jumat malam, Mama sedang sendirian. Adik-adik ipar juga belum menengok. Padahal Mama ingin mengambil air minum di belakang tetapi kata beliau matanya ‘buta’. Mungkin saking dehidrasinya ya, sampai-sampai sekeliling yang beliau lihat hanyalah kegelapan.

***

Segera setelah meletakkan bawaan di kamar, kami berangkat lagi membawa Mama ke IGD Borromeus agar secepatnya bisa diinfus. Kebayang ya Rabb, kalau kami gak datang pagi itu, Mama bisa mencret berkali-kali dan makin drained energinya.

***

Berjam-jam saya mendampingi Mama di kasur RS, karena selain diinfus, Mama juga harus cek darah. Kasihan Mama. 😦

Mama badannya kurus di bawah rata-rata, BBnya hanya 36 kg. Saat diambil darah pun, darahnya sampai 3 kali ditusuk jarum gak netes. Bayangkan! Mama pun menjerit kesakitan.

Syukurlah, tusukan yang ke-4, dapat juga darah yang keluar, yang mana harus full diisi dalam 2 tube. Wadaww.

Ada yang aneh sepertinya dengan darah Mama. 😦

***

Dan, ternyata BENAR, 1 jam kemudian, hasil test sudah ada. Tensi Mama sangat rendah, hemoglobin sangat rendah, hematokrit jauh di bawah normal (encer sekali), dan trombositnya hanya 18 ribu yang jauuuuuh sekali di bawah normal yang 150 ribu. Howalah pantas saja. 😦

Penanganan satu-satunya adalah transfusi darah yang otomatis harus rawat inap.

***

Sekarang, kami sudah sampai di BSD lagi. Sambil membawa MaMer ke sini. Dan besok, saya akan menemani MaMer rawat inap di RS. 😦

Wadaw kebayang capeknya wkwkwk, saya pun harus mengorbankan agenda harian saya sepertinya. Hmmmm

Ah tetapi saya WAJIB menjalankannya dengan tulus ikhlas dan penuh kasih sayang.

Mama (kandung) saya pun kemarin WA untuk mengingatkan saya agar saya HARUS menjaga dan menyayangi MaMer layaknya saya terhadap Mama kandung.

Ini pun salah satu tuntunan dalam agama ISLAM. MaMer juga ibu yang harus diutamakan. Bismillah semoga hamba kuat, sabar, dan dengan senang hati mengerjakannya ya Rabb. Semoga Engkau ridho. πŸ™‚


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 22

Weekend-an di Bandung

Tadi jam 3 pagi, sambil sahur sat set sat set, Papito meminta segera bersiap. Woo woo wooo sabar atuh Pap, mulut masih belepotan sushi kiriman adik ipar tersayang yang cantik sholehah, udah diburu-buru.

***

Jam 3.45 am, kami keluar rumah. Bismillah.

Jalanan masih ijo semua, dilihat dari Google Map. Jadi harus berangkat saat itu juga. Karena ya kebayang kan bagaimana macetnya Bandung di kala akhir pekan? Rrrrr..

***

Terakhir berkunjung ke rumah MaMer adalah sebelum bulan Ramadan, ya jadi inilah saat yang tepat untuk menjenguk beliau. Mengajaknya buka bersama, ngobrol-ngobrol ngalor ngidul terutama karena MaMer orangnya sangat chatty ehehehe, dan bercengkerama bersama.

Tunggu kami ya Mama sayang. Insha Allah 2 jam lagi kami sampai, karena saat ini kami sedang istirahat dulu di rest area KM 72. Sudah tinggal dikiit lagi siy, tetapi Papito ngantuk berat.

WAJIB hukumnya untuk TIDUR, jangan disepelekan rasa kantuk ketika mau mengemudi.

***

Kemarin sore, MaMer pun sempat menelepon dan bilang bahwa beliau kangen saya dan Boo. Alhamdulillah. Selalu merasa ‘di atas awan’ setiap MaMer bilang merindukan saya ahahahaha, makasiiy ya Mama sayang. πŸ™‚

***

Speaking of… berkendara di pagi buta selalu memberi rasa ayem tentrem di hati.

Keadaan langit yang masih gelap, sedikit kilauan bintang, bulan yang mengintip malu-malu, hembusan angin segar yang tidak bercampur asap mobil dan motor, kesunyian dunia, dan jalan raya yang less crowded serasa milik pribadi.

Kesemuanya membuat saya refleks mengucap syukur. Begitu hikmatnya menyelami jam puncaknya oramg tidur, eh kalau di bulan puasa, jam segitu malah sedang banyak yang lagi bangun buat sahur ya ehehehe.

Ya intinya, di malam yang sunyi, meskipun sedang di atas kendaraan yang melaju; adalah momen yang tepat untuk merenung dan mengucap doa-doa serta syukur. Alhamdulillah.

PASTINYA tidak hanya mengucap hamdallah saja ya, terapkan dengan tetap taat dan patuh aturan lalu lintas. Memakai seatbelt, awasi kecepatan agar tidak melebihi maksimal yang diatur, tidak menyetir seenaknya atau ugal-ugalan, dan dalam keadaan SADAR bin SOBER.

Anti dah minum alkohol sebelum menyetir, bahaya euy, merugikan diri sendiri dan orang lain kan.

***

Baiklah, MarKiMatDung, mari kita nikmati Bandung sampai besok Minggu siang. Sampai ketemu besok sore, BSD. πŸ™‚

Selamat berpuasa. πŸ™‚

Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 21

Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Seperti yang telah berlalu, waktu selalu terasa begitu cepat. Sekarang pun kita sudah berada di 10 hari terakhir bulan Ramadan 2022.

Ohya, apakah ada yang sama dengan apa yang saya rasakan? Masa kecil hingga remaja, rasanya berjalan paaaanjang. Tetapi begitu memasuki masa kuliah dan menuju fase dewasa, eeebuseett seolah kayak susah direm ya ‘langkahnya waktu’, cepeeet hiks.

Apa ya yang sudah saya perbuat selama ini? Lebih banyak yang bermanfaat atau yang mendatangkan mudharat? Lebih sering berbuat kebaikan atau malah keburukan? Hayyoo lho hayoo lho! 😦

***

Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk mengoptimalkan ibadah di 10 hari terakhir ini, yang diantaranya ada peringatan Nuzulul Quran dan ada Lailatul Qodar. Banyak sekali keutamaannya, hence jangan disia-siakan kesempatan ini. Pahalanya berlipat dan Gusti Allah banyak banyak memberi ampunan. Ini analog dengan ‘pemutihan pajak’ dan ‘semester pendek’ ya ehehe, di mana kita diberikan kemudahan untuk mengganti, membayar, dan atau memperbaiki. Sayang bangeet kalau dilewatkan ehehe.

Ya Rabb, insha Allah hamba bisa menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya demi memohon limpahan ampunanMu. Begitu banyak dosa yang hamba lakukan ya Rabb. Ampuni hambaMu yang sinner ini. 😦

***

Dulu saat kecil, teman-teman dan sekitar bilang bahwa cara menandai ketika kita mendapat berkah malam Lailatul Qodar yang equal dengan 1000 bulan, yang waktunya rahasia; adalah hawa, cuaca, dan suasana yang adeeem dan sejuk.

Kapanpun itu, meskipun cuaca sedang panas menyengat; saya berencana untuk tetap menjalankan ibadah dengan baik. Tidak ada ruginya mendekat padaNya, banyak untungnya menjlat hanya padaNya. πŸ™‚

Yakaleee ngapain juga menjilat ke sesama manusia. Rugi. Rugi sekali mengharap sesuatu ke manusia.

***

Baiklah, bismillah. Mohon kabulkanlah permohonanku ya Allah. πŸ™‚

Kemarin sempat sedikiit kecewa, karena terlalu banyak mikir dan nimbang, ehh baju inceran buat lebaran sudah out of stock :(.

Ya sudah, mungkin tidak perlu baju baru untuk lebaran nanti ehehe. Namun kalau dirunut, selama lebaran, memang saya gak pernah beli baju baru ya… hhmm. Bagus lah. πŸ™‚


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 20

THR-an

*joget shuffling *joget oppa gangnam style *joget baby shark *dab

THR adalah salah satu yang ditunggu-tunggu saat bulan Ramadhan, ehehehe, uhuuuyyy, alhamdulillah. Terima kasih ya Rabb. Terima kasih suamiku… πŸ™‚

Begitu THR datang, pengennya cepet-cepet beli sana beli sini. Buka website ZALORA buat nyari baju lebaran (dan baju lainnya :p); SEPHORA buat nyari lipstick hi-end yang warnanya merona tapi bahannya tanpa lead; apalagi apalagi, ohh ya pesan kue-kue untuk keluarga terdekat; kirim sesuatu buat Mamah; wadawww list-nya banyak.

Kalau tahun-tahun sebelum-sebelumnya, THR ini sifatnya hanya lewat saja di rekening, hiks hiks hwaaaaa. 😦

Akankah tahun ini akan berakhir sama??? Hhhmmm..

***

Tahun ini harus beda! Ayok Ril, kamu HARUS BISA mengendalikan diri untuk tidak membeli yang belum dibutuhkan. Boo saja bisa mengontrol diri untuk tidak splurge, mosok ibunya endak bisa. *tepok jidat.

Malu atuh sama anak. 😦

***

Apakah yang harus saya lakukan ketika urge untuk spend-spend sangat menggelora di dalam dada?

Jujurly saya lemah. 😦

Sebenarnya, masih banyak sesuatu yang saya masih lemah menghadapinya, banyaaak. 😦 Ampuni hamba ya Rabb. Dunia sangat berat. 😦

***

Saat ini hanya bisa mendoa padaNya agar diberi kekuatan agar tidak kalah oleh nafsu beli-beli yang berlebihan.

Tetapi kenapa ya Rabb? Kenapa susah untuk menghindari membuka-buka website fashion dan beauty? 😦

Alasan utama yang saya kemukakan padaNya adalah karena di usia saya ini, tentu membutuhkan produk-produk yang tidak murah: untuk kekencangan, untuk kekenyalan, untuk kelembutan….

Baju-baju pun rasanya harus terus update mengikuti artis-artis panutan seusia yang selalu stylish….

Kepriben ini, kepriben ini… 😦

***

Cukup sudah berkeluh kesahnya di sini. Bismillah, WAJIB BISA me-manage godaan ini!


HULAHOPAN! Hobi Silly yang Faedahnya Tidak Silly

Melalui Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog April, saya memahami makna hobi yang sesungguhnya. Pengetahuan ini pun membuat saya menuliskan judul di atas dengan lantang. Ehehe.

Dengan membaca tulisan para Mamahs penyetor tercepat, serta mendalami definisi ‘hobi’ yang berdasarkan KBBI adalah kesenangan istimewa pada waktu senggang; saya jadi sadar bahwa selama ini ternyata saya sudah punya hobi! Yeayy!

Hobi seyogianya bersifat soothing, dilakukan dalam rangka melepas penat sejenak dari tugas utama saya sebagai ibu dan istri, dan bertujuan untuk menjaga diri tetap sane dan spiritually alive. Kegiatan personal pleasure yang beneficial untuk mental health.

***

Saya pun makin percaya diri dan lega saat Mamah Shanty di group Telegram meng-quote Austin Kleon, yang bilang bahwa ketika kesukaannya menulis untuk kerjaan, itu jadi bukan hobi lagi, dan menyebabkan writing block.

Segera saya googling nama beliau dan menemukan kutipan teksnya yang lain:

A hobby is something creative that’s just for you. You don’t try to make money or get famous off it, you just do it because it makes you happy. A hobby is something that gives but doesn’t take.

Austin Kleon

Ahhh inilah kata-kata yang saya butuhkan! Terima kasih Teh Shanty sudah ‘mengenalkan’ saya dengan penulis nan artistik ini.

***

Sebelum ini saya terbebani dengan jargon “CARILAH HOBI YANG BISA CUAN“.

Memasak dan baking tidak minat; social skill kurang; suka olahraga tetapi tenaga tidak terlalu kuat untuk menjadi fitness coach atau trainer; …

  • Apakah menyenangkan diri tanpa menghasilkan uang adalah hal yang selfish?
  • Apakah itu sama saja artinya dengan tidak berkontribusi untuk society?
  • Apakah tidak mempunyai hobi yang bisa cuan membuat saya menjadi orang yang gagal?

Pikiran saya berkelana ke arah yang negatif. 😦

***

Namun saya tidak menutup kemungkinan, siapa tahu di masa datang saya punya hobi yang mendatangkan cuan ehehe. Aamiin. Insha Allah.


Tiada Hari Tanpa Hulahopan

Semua elemen yang mendefinisikan HOBI saya temukan pada HULAHOPAN yang setiap hari saya lakukan. Bermain ‘gelang’ berdiameter 60 cm ini bukan sekedar rutinitas atau necessity seperti mandi dan sikat gigi. Levelnya lebih dari itu! Bikin bahagia sih ehehe.

Keseruan yang saya dapatkan dalam hulahopan adalah:

  1. Sebagai cardio workout sehari-hari, sungguh cara yang asik buat berolahraga euy. Mengencangkan otot perut dan pinggul, membakar lemak dan kalori.
  2. Bisa dilakukan di mana saja, di segala situasi dan di berbagai outfit. Tak perlu ganti baju olahraga, memakai daster bolong pun gaskeun.
  3. Disambi netflixing, bisa! Sambil mendengarkan musik swing-sophiti-pop-jazz-nya Tulus atau mau yang nge-beat, bisa banget atuh!
  4. Hemat! Hulahop yang saya miliki sekarang, harganya 50 ribu dan sudah berumur 8 tahun.
  5. Efektif untuk channeling my inner child; membebaskan kejenuhan; mengolah pikiran, dan mencari ilham, termasuk ide menulis Tantangan ehehe.
Dokumen Pribadi

‘Perkenalan’ Pertama Dengan Hulahop

Dulu di lingkungan RT tempat saya tinggal, setiap bulan Agustus dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan, selalu ada banyak lomba, yang salah satunya adalah lomba hulahopan.

Waktu itu bermain hulahop sedang nge-hits abezz. Saya selalu ternganga dengan tetangga depan, Selvi, yang sudah jago.

Uril-kecil yang highly motivated tentu ingin bisa juga. Bela-belain bangun jam 2 malam setiap hari untuk bisa berlatih lebih lama.

Btw ke mana ya motivasi itu sekarang ahahaha. Uril-dewasa sudah tidak sesemangat itu lagi dalam mencapai goal 😦

***

Hari H pun datang, dan bisa ditebak, saya bisa mengalahkan Selvi! Usaha tidak mengkhianati hasil.

Putaran hulahop Selvi hanya bertahan 10 menit, sedangkan saya tetap teruuuus berpusing-pusing. Saya melihat wajah-wajah para tetangga yang bersorak dengan keahlian saya berhulahop ahahaha. Very intoxicating indeed.

Akhirnya saya berhasil menjadi juara 1 lomba hulahop tingkat RT dan mendapat hadiah 10 buku tulis bergambar Desy Ratnasari.

***

Sayangnya begitu masuk SMP, kesibukan bertambah dan membuat saya melupakan hulahop.


‘Bertemu’ Lagi Dengan Hulahop

Kuliah adalah masa di mana saya pertama kali mengelola uang sepenuhnya. Seolah menjadi ajang ‘balas dendam’, saya mengikuti nafsu makan dan craving yang tidak sehat. Serba karbo dan gula. Alhasil berat badan saya bertambah… banyaaaak.

Kebiasaan buruk ini berhenti ketika adik Mamah, Om Henu, berkunjung ke kos. Itulah hari yang tak pernah terlupakan dan menjadi pengingat saya untuk lebih sehat.

Om Henu mentertawakan buku catatan pengeluaran saya yang tergeletak di meja.

Lho, lho, lha kok isinya Tim Tam, Jas Jus, martabak? Pantesan badan mblendhung jerawatan pula!”

Huhh! Komentar body shaming beliau menusuk ke sanubari hingga membuat saya kepikiraaan terus.

***

Tidak berhenti di momen itu saja. ‘Tamparan’ selanjutnya saya dapatkan ketika saya mau donor darah. Berikut percakapan antara pegawainya:

Pegawai A: “Itu ada yang mau daftar donor darah di depan!”

Pegawai B: “Orangnya kecil atau normal?”

Pegawai A: “Normal kayaknya, ehh tunggu… (wajahnya melongok ke arah saya), ehh ternyata besar orangnya…”

Ddoeng namanya juga masih remaja, Mah, tidak kuat dengan kata-kata yang berkaitan dengan bentuk badan. 😦

***

Saya paham bahwa salah satu kuncinya adalah berolahraga. Namun sayangnya, saat itu lari mengelilingi Sabuga bukanlah pilihan karena saya tidak punya sepatu lari yang ergonomis. Sebagai mahasiswi miskin, saya hanya punya satu sepatu buat segala acara, yang kalau buat lari malah sakit kakinya.

Informasi diet dan video workout juga belum mudah diperoleh seperti jaman sekarang. Jadi saya hanya bisa pasrah menerima keadaan dan mendoa memohon solusi.

***

Alhamdulillah, di semester 5 Gusti Allah memberi saya jawaban.

Hari itu saya sedang naik angkot ke arah Setiabudhi, dan melihat ada deretan toko rotan. Ya Allah mata saya langsung terpana, samar-samar terdengar ada iringan musik ‘surga’ yang kayak di kartun-kartun. Saya melihat HULAHOP!

“Kiri depan Bang!” refleks mulut saya bersuara. Makin bersyukur karena harganya terjangkau, 20 ribu saja!

***

Dalam perjalanan menuju pulang, saya penasaran dan bertanya-tanya apakah saya masih bisa memainkannya, apakah cerebellum saya yang menyimpan memori muscle dalam jangka waktu lama bisa diandalkan. Ingin sekali cepat sampai kos dan mempraktekkannya.

Dan, taadaaa, alhamdulillah, masih bisa euy! Akhirnya sejak saat itulah saya rutin hulahopan lagi, sampai detik ini.


Menyenangkan Lahir dan Batin

Efek hulahopan terlihat setelah libur semesteran tingkat 4, teman-teman pada bilang,

Hah Uriil, kurusaan banget!”

Tahukah Mah, itu adalah kata-kata yang bikin saya senang bukan main. Maklum ya Mah, namanya juga masih remaja, masih fisik oriented.

***

Beberapa tahun kemudian, hulahopan juga berhasil menurunkan berat badan saya setelah melahirkan.

***

Tetapi kepuasan utama adalah fakta bahwa saya bisa mencapai target menggunakan hobi silly saya, HULAHOPAN.


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 19

TULUS – Hati-hati di Jalan

Wah terima kasih ya Tulus sudah membuat lagu sederhana yang seindah ini. Baru pertama kali ini saya sukaaa bangeet dengan lagu beliau, sampai-sampai kalau di Youtube, saya memilih untuk mendengarkannya yang 1 jam non-stop ahahaha.

Lagu-lagu beliau yang sebelumnya sekedar ‘lewat’ saja. Tetapi yang ini, mencuri perhatian saya, masya Allah, penuh makna, dan relatable, ehehe.

Saya paling suka dengan rangkaian kata yang menceritakan bagaimana manusia bisa bertemu dengan manusia lainnya dalam menjalani hidupnya. Terutama yang sempat nyantol di hati, eaaaaa.

***

Inilah salah satu indahnya dunia. Kita akan dipertemukan dengan beragam manusia yang melaluinya bisa mendapat pelajaran; yang bersamanya bisa merasakan bagaimana dijunjung ataupun sebaliknya; yang dengannya bisa menerima segala ketidaksempurnaan satu sama lain.

Mengenal banyak karakter dan appearance, membuat saya paham bahwa saya tidak bisa sendirian di dunia ini. Saya tidak bisa seenaknya songong atau sok yes. Menjadi pribadi yang rendah hati adalah jawaban utama dalam menjalani kehidupan ini along dengan semua manusia lainnya.

***

Alhamdulillah, batin ini hanya bisa mengucap kata itu. Segala puji hanya untukMu ya Rabb.

Terima kasih ya Allah sudah melahirkan hamba ke dunia ini, despite begitu banyaknya hambatan, rintangan, dan tantangan yang harus dilewati.

Terima kasih ya Allah sudah memberikan hamba kesempatan untuk menikmati keindahan alam ciptaanMu. Saya tidak pernah berhenti terkagum dibuatnya.

Terima kasih ya Allah sudah mempertemukan saya dengan banyak orang dengan beragam kepribadiannya. Diantaranya ada yang selalu tersimpan di hati sampai kapanpun, ada yang hanya sekilas, ada yang saya ingat karena baik buruknya, ada yang tetap ‘terkait’ atas nama kesamaan sekolah, ada yang meninggalkan luka dalam yang karenanya menjadikan saya lebih kuat, ada juga yang malah saya nakalin. Hiks.

Mohon ampuni hamba ya Rabb atas semua hal buruk yang telah saya perbuat terhadap makhlukMu yang lain. Semoga siapapun yang pernah saya sakiti, baik secara sengaja atau tidak; mendapat limpahan berkah dariNya.

Terima kasih ya Allah atas semua kenikmatan yang Engkau berikan pada hamba dan semua makhlukMu. Yang pasti buanyaaaak dan tidak mungkin cukup saya tuliskan.

***

Baiklah, hati-hati di jalan ya… πŸ™‚

Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 18

Happy 40th Birthday, Papito

Beberapa hari yang lalu, Pak Suami a.k.a Papito resmi berusia 40 tahun. Yeayyy *tiup terompet.

Semoga yang terbaik buat Papito. Hanya bisa mendoakan agar beliau selalu dalam lindunganNya dan selalu sehat walafiat lahir batin. Aamiin aamiin ya Rabb. πŸ™‚

***

Tidak disangka sudah hampir 20 tahun kami saling mengenal. Pertama kali bertemu dengannya adalah saat saya mendaftar unit KoranKampus. Beliau adalah salah satu petingginya di situ.

Saya ingat ketika saya mengira bahwa beliau orang Sunda aseli, ehehe, due to his name. Ealaah ternyata wong Tegal. Ehehe.

Juga, saya ingat ketika beliau pertama kali mengajak saya makan di HokBen seberang BIP, ohh woww, shrimp roll pertama yang saya makan, dan rasanya uwenaak bangeet.

Lalu saya jadi teringat juga masa-masa kelam kala itu. Saya pernah mukul beliau karena cemburu buta, hiks hiks astaghfirullah, maafkan saya ya Papito. Nuakaal deh saya ini. 😦

Selanjutnya, saya pun berbuat hal-hal yang banyak mengecewakan beliau. Hiks hiks, sekali lagi maafkan saya ya Papito.

Tetapi meskipun berkali-kali saya melakukan hal-hal yang membuatnya sakit hati, beliau tetap menerima saya apa adanya. Terima kasih banyak Papito. Alhamdulillah Gusti Allah menurunkan dirimu untuk menjadi pendamping hidupku.

***

Per hari ini, kami sudah menjalani kehidupan berumah tangga selama 12 tahun, dan more years to come, insha Allah. πŸ™‚

Memang, Papito sudah tidak se-sweet dulu, dulu mah buciiin wkwkwk. Sekarang sudah biasa banget ahaha. Namun saya yakin bahwa beliau masih cinta ke istrinya ini, karena beliau sudah merencanakan detail budget dan beragam list untuk kami berkeliling dunia di hari tua nanti, hanya berdua saja, naik yacht, wkwkwkwk. Semoga Gusti Allah mengabulkan permintaanmu Papito. πŸ™‚

Dari gesture ini saja, sudah menunjukkan bahwa beliau berencana untuk kami tetap stick together. Ngapain juga repot-repot bikin rencana hari tua bersama kan ya kalau di awal sudah tidak pingin. Ehehehe.

***

Terima kasih juga Papito sudah menerima kondisi saya yang tocildeng (to**t kecil sedeng) wkwkwk. Pak Suami itu demen sama yang toge toge wkwkwkwk, tetapi tetap cinta sama istrinya. Beliau sempat meminta saya untuk breast implant, wadawwww, tetapi saya menolaknya dengan halus. Alhamdulillah beliau paham untuk tidak memaksakan kehendak.

Terima kasih banyak Papito sudah menjadi seorang suami yang tidak patriarkis dan mysoginistic. Selalu menganggap kedudukan istrinya equal despite gender yang berbeda. Dan inilah yang membuat saya bangga terhadapnya. πŸ™‚

Selain itu, beliau yang science dan technology enthusiast, membuat saya tidak bosan mendengar ‘ceramah’nya setiap hari. Saya jadi makin bertambah juga wawasan dan pengetahuannya. Beliau juga demen banget dengan Genetika dan Bioinformatika, buku-buku dan kindle yang dibeli buanyak, plus ikutan kuliah di Coursera juga. Malu sendiri dah, saya yang jurusan Biologi, kalah jauuuh sama Pak Suami yang lulusan Elektro wkwkwk.

***

Ahh cukup sampai sini saja. Yang pasti saya hanya bisa mengucap MAAF dan TERIMA KASIH untuk beliau. πŸ™‚


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 17

Belajar Dari Elon Musk

Kemarin sambil menunggu jam berbuka, saya, Papito, dan Boo; menonton dokumenter di Netflix yang berjudul “Return to Space”. Film tersebut menceritakan tentang perjalanan Elon Musk sebagai pendiri sekaligus CEO SpaceX. Luar biasa!

Saya jarang bisa menikmati film dokumenter, tetapi yang ini, BEDA! Saya bisa menontonnya sampai habis dan menyelami detik demi detiknya. Ikut deg-degan saat peluncuruan roket, ikut bersyukur saat berhasil menuju ke angkasa, dan lega ketika landing. Alhamdulillah.

Melihat keahlian manusia yang bisa menciptakan barang menakjubkan sedemikian; hanya bisa mengucap Masya Allah sambil terkagum-kagum.

Dengan otak yang dikaruniakan kepada manusia dan segala jenis bahan material yang terdampar di berbagai sudut bumi; manusia mampu mengolahnya menjadi sesuatu yang epic.

***

Dari dokumenter ini saya tahu bahwa Elon Musk memulainya sejak 20 tahun yang lalu, menggunakan uangnya sendiri, yang dia peroleh setelah menjual Paypal.

Kalau saya punya uang segitu banyak, sayang euy mau invest di bidang yang belum jelas berhasilnya ihihihiiiy. Tetapi itulah yang membedakan Elon Musk unggul!

Tiga kali beliau GAGAL membuat roket, yang tentunya jutaan USD-nya just vanish tanpa hasil.

Orang pada umumnya akan menyerah di kali ketiga. Namun Elon Musk tetap jalan teruuuuusss! Beliau adalah epitome seseorang yang meng-embrace kegagalan. Beliau tidak takut gagal! Tidak takut salah! Mau berapa kalipun tidak tercapai goal-nya, akan beliau kejar sampai berhasil!

Elon Musk PERCAYA bahwa KEGAGALAN SANGAT DIPERLUKAN untuk meraih KESUKSESAN.

Failure is an option here. If things are not failing, you are not innovating enough.

Elon Musk

Wow keren! πŸ™‚

***

Sekarang lihatlah! Pencapaiannya amazing. TESLA, SPACE X. Roket yang insha Allah sudah aman dan ‘benar’, dibuat dengan mudahnya. Spacecraft dan segala peralatan untuk jalan-jalan ke bulan, Mars, luar angkasa; lengkap.

Beberapa tahun ke depan, mungkin kita sudah tidak lagi menjadikan Disneyland Tokyo sebagai destinasi wisata dengan keluarga. Kita akan healing di bulan! πŸ™‚

***

Btw sempat terlintas di pikiran, kenapa Elon Musk bikin kendaran menuju luar angkasa begitu masifnya. Akankah ada rencana manusia pindah ke sana? Jumlah manusia yang mencapai 8 milyar, sudahkan membuat bumi sesak? Tak ketinggalan, ulah kita juga telah merusak planet tercinta kita di sana sini. Hhmmm…


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 16

Penderitaan Bisa Menjadi Sebuah Berkah

Ada satu drama Korea yang saat ini selalu saya tunggu episode terbarunya. Jarang banget ada drakor yang bisa membuat saya mengikutinya dengan fokus dan menyelesaikannya sampai akhir. Hanya “Love, Marriage, & Divorce” yang mampu membuat saya terpukau meskipun typical opera sabun ahahaha.

Menurut saya drama tersebut penuh dengan dialog yang mendalam dan bermakna. Serta membuat saya berulang kali mengucap alhamdulillah, subhanallah, masya Allah. πŸ™‚

***

Kasus utama yang paling menjadi spotlight adalah penderitaan Sa Pi Young dan Lee Si Eun. Mereka berdua ditinggal oleh suaminya yang tergila-gila dengan perempuan lain yang lebih muda. Padahal mereka sudah bersama selama puluhan tahun dan membangun keluarga kecil bahagia. Tetapi kok jadi begitu para suami mereka. Waduh waduh… 😦

Mereka berdua pun awalnya memohon suaminya agar kembali ke jalan yang lurus, menerangkan panjang lebar bagaimana anak-anak mereka nantinya, dan membuang begitu saja kehidupan rumah tangga mereka.

Pun mereka juga sampai menangis-nangis cukup lama. Sedih, kecewa, patah hati, menderita…

***

Seiring berjalannya waktu, Sa Pi Young dan Lee Si Eun pun mampu move on. Well, time heals ya. Mereka kembali menjalani kehidupan sehari-harinya dengan semangat dan normal, serta sudah tidak lagi merasakan ketergantungan cinta kepada suaminya. Ketika bertemu pun, sudah bisa ‘biasa’, layaknya teman saja.

Gusti Allah Maha Besar, Dia memberikan ‘hadiah’ kepada dua ibu-ibu ini. Alhamdulillah ya Rabb.

***

Lee Si Eun dicintai oleh seorang lelaki seumuran (50 tahun) yang kaya ganteng dan baik hati bernama Seo Ban.

Sedangkan Sa Pi Young, nasibnya juga sama, dia dicintai oleh Seo Dong Ma, pria berondong, yang usianya lebih muda 6 tahun; yang meskipun lebih muda tetapi kedewasaannya patut diacungi jempol. Selain itu, Seo Dong Ma ini orangnya digambarkan sebagai lelaki yang ganteng maut, wajahnya sempurna, perutnya six-pack, badannya tegap dan hot, baik banget plus kaya raya pula!

Masya Allah. Saya yakin kejadian tersebut tidak hanya ada di film saja, di kehidupan nyata pasti juga banyak terjadi.

***

Seperti yang Seo Dong Ma katakan kepada Shin Yu Sin, mantan suami Sa Pi Young,

“Setiap pria memiliki definisi tersendiri bagaimana wanita yang sempurna”

Ya! Yu Sin menganggap Seo Dong Ma yang seganteng itu kok bisa mau sama janda yang usianya lebih tua dan sudah memiliki anak. Seo Dong Ma pun membalas bahwa dia sudah pernah pacaran dengan banyak wanita, yang semuanya tentu cantik-cantik; namun hati (dan kalau sudah jodoh) tentunya memutuskan untuk bersama dengan wanita yang bersamanya, brings the best out in him.

***

Sungguh pelajaran yang penting! Di balik kesedihan ada kebahagiaan. Segala puji hanya untuk Allah. Tetap berpegang teguh padaNya saat hal-hal yang tidak diharapkan terjadi pada kita, dan selalu percaya padaNya.


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 15

Cebong vs Kadrun

Duh sangat disayangkan, di tanah airku yang penuh dengan limpahan berkah: iklim yang membuat penduduknya optimal dalam beraktivitas, tanah subur yang karenanya ada beragam tanaman yang exist, serta kekayaan alam yang membuat banyak manusia dari berbagai belahan dunia terkagum.

Semua karunia ini seakan kalah pamor dengan terbaginya dua kubu, CEBONG dan KADRUN. Kerjaannya beranteem saja, debat sana sini, saling menjelekkan, ….

***

Ini semua bermula dari event PilPres 2014, ketika orang sudah tidak lagi mengindahkan asas LUBER (langsung, umum, bebas, dan rahasisa) dalam memilih pemimpin negeri.

Semua berlomba-lomba menyuarakan dengan lantang siapa pilihannya. Ya, tentu saja tidak dilarang, apalagi di era socmed seperti sekarang. Pun karena Indonesia adalah negara demokrasi. Semua bebas memberikan opininya.

Yang menyedihkan adalah karena mereka SALING MENJELEKKAN, SALING MENUDING, SALING MENGHINA, …. hhhhh!

Mbok ya disudahi lah. Lihatlah di depan mata! Begitu banyak rahmat dariNya yang perlu kita kelola. Jadikan negara kita negara yang terhormat, anggun, makmur, damai, sejahtera, maju. Tunjukkan bahwa kita semua bergandeng tangan membangun sebagai bentuk syukur kita padaNya.

***

Dengan energi negatif yang dikeluarkan, cukup sulit untuk menjadi produktif dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Hari-harinya hanya memikirkan bagaimana membalas komentar kubu lawan, mengeluarkan kata-kata kotor yang tidak pantas, mengharap kematian yang mengenaskan bagi satu sama lain. Aaaaaarrghhhh..

Kapankah semua ini akan berakhir? Orang yang kamu panggil CEBONG itu saudaramu lho. Orang yang kamu panggil KADRUN itu sama-sama berdarah Indonesia lho.

Sudah saatnya menyudahi gontok-gontokkan ini. Waktunya untuk belajar mengendalikan diri, menghormati pendapat orang lain yang berbeda, tidak memaksakan kehendak.

Kalau ada kata-kata dan perbuatan kubu sebelah yang berbeda, biarin saja, jangan dicemooh nor diejek-ejek. Pun untuk kubu satunya, kalau kubu sebelah tidak mengikuti caramu (dalam beragama terutama), ya biarin toh, masing-masing orang punya cara yang berbeda dalam menyembahNya.

Hanya Dia yang bisa dan boleh menilai apakah kelakuan manusia tersebut dosa atau tidak. Berhentilah meneriakkan ‘kafir’ ke orang lain yang berbeda denganmu. Tidak tahukah kamu, kata-kata buruk itu bisa berbalik ke dirimu sendiri. Kalau di ujung hayat, kamu yang jadi ‘kafir’ bagaimana?? Sedangkan yang selama hidupmu, kamu kata-katain ‘kafir’ ternyata bukan di mataNya. Ngeri lho hukuman dariNya. 😦

***

Bismillah, yok bisa yok, kita menjadi manusia Indonesia yang seutuhnya…


Create your website with WordPress.com
Get started