Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 14

Embrace Your Natural Hair

Bersyukurlah dengan pemberianNya, termasuk jenis dan bentuk rambutmu.

Saat ini sudah bukan hal yang aneh melihat orang yang masih muda tapi rambutnya sudah banyak uban. Tampaknya mereka tidak perlu galau lagi karena sekarang pun banyak wanita yang meskipun rambutnya ‘normal’ ingin dicat warna silver. Ehehe. Sedang nge-trend euy! Dan jujur saya akui, kok baguss ya ahaha.

Disinilah yang saya tekankan untuk menerima apa adanya keadaan diri kita. Kalau olehNya dikaruniai rambut beruban sejak dini, dinikmati saja dengan penuh percaya diri. Chin up, gurl! Raise your head.

Percayalah, self-embracing dan confidence adalah senjata ampuh untuk menghadapi society. PASTI terlihat bersinar.

***

Namun bukan berarti ‘mengubah diri’ untuk menjadi lebih cantik (sesuai standar diri) dan lebih percaya diri dilarang lho. Toh sudah banyak keilmuan dalam masalah penampilan. Sudah banyak ahli rambut yang bisa menangani uban dengan beragam cat rambut yang bahannya ditemukan melalui riset mendalam.

Tetapi sayangnya, ada kemungkinan masalah baru muncul. Well ini berdasarkan pengalaman pribadi sih ehehe. Tidak ada salahnya saya share, insha Allah bermanfaat buat yang membacanya.

***

Tahun 2000-an awal adalah eranya rambut lurus ala Shan Cai “Meteor Garden”. Semua perempuan berbondong-bondong nge-bonding rambutnya di salon. Bonding adalah istilah untuk teknik pelurusan rambut dengan memakai obat khusus kimiawi dan melalui pemanasan dengan alat tertentu.

Pokoknya kala itu saya terpukau dengan hasilnya. Teman-teman jadi pada makin cakep kalau rambutnya lurus ehehehe.

Setelah di berbagai sudut tempat yang saya lewati, yang mana saya melihat begitu banyak wanita yang rambutnya di-bonding dan memang hasilnya keren abis dan mempesona; akhirnya saya nyerah! Saya jadi pingin ikut-ikutan ahahaha.

***

Akhirnya, datanglah saya di sebuah salon kecil dekat rumah Pakde saya di Bogor. Proses pengambilan keputusan terpanjang untuk kemudian memberanikan diri melakukan BONDING. Kebetulan salon tersebut pun menawarkan biaya yang murah. Wuahh makin yakin bahwa inilah ‘jalanku’ ahahaha.

Beberapa jam kemudian, tadaaaa, saya puasss dengan hasilnya! Rambut saya yang berombak menjadi lurus rus seperti banyak wanita hits jaman itu ahahaha.

***

Dalam prosesnya, saya baru diijinkan mencuci rambut 3 hari sesudahnya. Ketika sedang asik-asiknya ngelus-ngelus rambut baru, walaah saya kaget, banyak banget helaian rambut saya yang rontok. Brelll brelll brelll. Ya Allah deg-degan sekali saya waktu itu.

Di masa itulah saya mengalami kerontokan hebat. Gara-gara BONDING! Gara-gara ngubek-ngubek rambut dengan obat kimia, yang murah pula!

***

I learned my lesson the hard way. Saya kapok untuk ngapa-ngapain rambut saya. Dan here I am now, proud dengan rambut berombaknya. Yang penting rajin dirawat saja, apapun dan bagaimanapun jenis rambutmu, PASTIII tetap bagus!


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 13

Random Thought (but Surely Deep)

Sejak kecil saya sering berfantasi yang ‘aneh-aneh’ dan eerie. Bahkan sampai membuat saya menangis meraung-raung. Wkwkwk.

***

Dulu setiap selesai mandi, saya deg-degan mau membuka pintu kamar mandi. Saya takut begitu saya membuka pintu, semua berubah. Kehidupan saya bukan lagi sebagai Uril; keluarga saya bukan lagi yang selalu saya cintai. Eyang Kakong, Eyang Putri, Papah, Mamah, Adek, Aga, Ain, dan Ali; semua berubah seketika menjadi orang lain.

Dan hanya saya saja yang ingat. Aduhhh gimana gak sedih ya. Hiks hiks hiks. Orang-orang tercinta dalam hidup hilang sekejap dan berubah menjadi orang lain.

***

Saya pun pernah memikirkan, “Apakah orang lain melihat wajah saya tuh persis tepat dengan yang saya lihat saat sedang mengaca??”

Jangan-jangan yang orang lain lihat dengan mata masing-masing, berbeda dengan yang saya lihat. Deg-degan membayangkannya, merasa ngeri di level yang berbeda.

***

Pikiran yang bikin merinding lainnya adalah “Apakah indahnya langit biru, cantiknya warna hijau daun, menggemaskannya warna pastel baju saya, menyengatnya bau bawang putih, wanginya bunga melati, dan semua yang ada di sekeliling saya; hanya ilusi belaka? Hanya berupa kode-kode layaknya film “The Matrix”?”

Baru-baru ini saya membaca kindle berjudul “The Brain” karya David Eagleman, dan saya kaget ternyata beliau punya pikiran yang sama. Karena somehow sekitar kita hanyalah berupa matter dan energy. Hanya Gusti Allah yang tahu. Masya Allah.

Namun satu yang PASTI! Mau itu berupa beneran atau ilusi yang direfleksikan oleh otak; either way Gusti Allah Yang Maha Pencipta SUPER HEBAT.

***

Fantasi selanjutnya adalah mungkinkah orang yang saat ini saya kenal dekat, ohh, katakanlah suami saya; mungkinkah jauuuh sebelum kami saling mengenal, kami pernah berpapasan?

Apakah dulu saat TK jalan-jalan ke Taman Mini, ada suami saya sedang di tempat yang sama bersama keluarganya?

Andai ada alatnya yang ala-ala “Black Mirrors” gitu, pingin banget memakainya ahahaha, biar bisa saling melihat memori masa lalu.

Hhmmm guess I must say this to myself, Beware of what you wish! Don’t push it!


***

PS: Curahan isi pikiran ini ditulis sambil menyiapkan menu berbuka puasa ehehe. Kolak kacang hijau pisang dan sayur-sayuran kukus. 🙂 Alhamdulillah.

Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 12

Berpenampilan ‘Sekuler’

Apa itu? Ehehehe. Terdengar kontroversial ya.

Arti kata SEKULER adalah duniawi; kebendaan; tidak bersifat keagamaan.

Ya, saya memilih untuk (saat ini) appearance-nya tidak agamais. Saya sengaja tidak ingin menunjukkan agama saya apa, atau apakah saya orang yang rohaniah. Tentu ada alasan tersendiri saya memutuskan untuk demikian.

Selama tidak merugikan orang lain, dan tidak ada larangan dalam kitab suci agama saya; insha Allah saya maju terus.

***

Sejak dulu, sudah dapat dipastikan, perempuan yang berjilbab adalah ISLAM. Bahkan banyak yang bilang bahwa seorang MUSLIM hukumnya WAJIB untuk memakai jilbab.

Di masa ini saya sangat menyayangkan ada beberapa sekolah negeri di Indonesia yang mewajibkan muridnya memakai jilbab, terlepas dia Islam atau bukan. Kok sampai begitu ya. Sungguh saya sedih mengetahuinya. Pun adanya peer pressure bagi mereka yang tidak berjilbab oleh teman-temannya yang berjilbab.

***

Namun saya mempunyai pandangan yang berbeda. Saya hanya membaca kitab suci AlQuran, jarang sekali saya membaca hadist, karena AlQuran sudah jelas SANGAT CUKUP sebagai pegangan hidup manusia.

Di dalamnya, saya tidak menemukan bahwa jilbab itu WAJIB, dan tidak ada larangan untuk tidak mengenakannya. Pastinya disesuaikan dengan lingkungan wise ya. Tidak mungkin juga memakai baju yang provokatif dan tidak sesuai tempatnya.

Pun itulah yang juga diajarkan oleh Mamah Papah saya, serta guru spiritual saya dulu, juga Bapak Quraish Shihab.

Meskipun Mamah sekarang juga berjilbab, beliau membebaskan saya dalam berbusana. Adik saya juga berjilbab. Sedangkan saya, saya ‘bebas’.

***

Dulu saat masih remaja, saya suka mengeksplor beragam gaya. Saat kuliah awal-awal pun, tidak jarang saya mengenakan kerudung di hari-hari tertentu. Kerudungnya pun bermacam-macam, kadang yang bentuk selendang, sesekali memakai yang bentuk topi, atau yang panjang. Karena suatu hal, saya memilih untuk tidak lagi mengenakannya sama sekali, meskipun di hari Jumat sekalipun.

Keputusan saya tersebut cukup membuat kehebohan. Saya yang pendiam jadi dikenal sebagai seorang mahasiswa yang ‘lepas jilbab’. Waduhh terdengar tidak enak di telinga saya kala itu yang masih remaja labil, terutama bagi mereka yang membicarakan perihal saya ini tanpa tahu background saya seperti apa.

Waktu itu saya pun terbebani. Ekplorasi saya dalam berpenampilan kok bisa menjadi masalah buat beberapa orang. Seolah, sama sekali tidak mengenakan jilbab itu adalah sebuah kesalahan besar.

***

Tetapi Mamah Papah menguatkan saya. Selama saya tidak merugikan orang lain, dan tidak melanggar aturanNya yang ada di AlQuran; tetaplah lakukan saja.

Dan here I am now! Saya santai dan apa adanya dalam berpenampilan. Yang penting santun serta sesuai kondisi, tempat, dan peruntukkan. Saya memilih untuk tampil sekuler. Agamaku biarlah menjadi urusanku sendiri. Keimananku biarlah hanya Gusti Allah yang tahu.


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 11

Blood is Thicker Than Water

Begitulah perumpamaan hubungan antara keluarga, saudara kandung. Ikatannya sangat kuat, melebihi pertemanan dan cinta.

Alhamdulillah saya dikaruniai adik-adik yang menyenangkan hati dan membanggakan. Mamah selalu mengingatkan agar seumur hidup, kami tidak clash akan sesuatu hal, WAJIB untuk rukun dan damai. Mamah sendiri tidak pernah menunjukkan pilih kasih kepada anak-anaknya. Semua SAMA RATA cinta dan kasih sayang yang dicurahkan. Makanya Mamah risih kalau ada yang menanyakan siapa anak favorit diantara kelima anaknya.

Insha Allah hubungan kami terpelihara dengan baik, benar, dan sesuai prosedur.

***

Saya adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Mamah dan Papah masih sangat muda, sekitar 19 tahun, ketika saya hadir. Waktu itu beliau berdua baru saja lulus SMA ahahaha. Ya! Mamah Papah adalah high school sweetheart.

Ceritanya karena Mamah Papah sudah ke mana-mana berdua, kedua orangtua Papah datang melamar Mamah ahahaha. Kocak mendengarkan cerita HOW MY DAD MET MY MOM ini wkwkwk.

Awalnya Mamah gak mau, karena Mamah masih ingin meraih cita-cita. Tetapi ayahnya Papah (Eyang Kakong) meyakinkan bahwa nanti setelah menikah, akan disekolahkan. Yang penting harus nikah dulu dah pokoknya. Ahahaha. Mamahku, Papahku…

***

Layaknya pasangan baru, ya pasti hari-harinya indah ya. Mamah Papah berangkat bareng ke kampus, pulang bareng, nanti di rumah juga bareng-bareng terus ahahahaha. Wkwkwkwk.

Eyang Putri pernah bercerita pada saya bahwa awal-awal Mamah Papah pindah ke rumah Eyang, sering banget mandi bersama sampai lamaa di kamar mandi wkwkwkwk. Apalagi kan kamar mandi hanya 1 saja. Tentu bikin Eyang Kakong dan Eyang Putri geleng-geleng kepala. Wkwkwkw.

***

Long story short, setelah saya hadir, Mamah tidak meneruskan kuliahnya. Ehh ndilalah beberapa bulan kemudian, Mamah hamil lagi, dan tadaaa hadirlah Adek, yang hanya terpaut 1 tahun lebih dikiiit dengan saya.

Mamah berpikir untuk memiliki 2 anak saja cukup. Mamah pun rajin olahraga tenis demi mengembalikan badannya ke bentuk semula. Mamah bilang targetnya tercapai, baju-baju jaman SMA-nya kembali cukup dan pinggangnya mengecil.

Ealaah ternyata Gusti Allah menambah momongan lagi, ahahaha. Aga hadir, kemudian 2 tahun selanjutnya Ain hadir, dan 3 tahun kemudian Ali hadir. Total anak Mamah Papah ada 5! Ahahaha.

Karena jarak usia yang jauh antara ‘kloter 1’ saya dan Adek dengan ‘kloter 2’ Aga Ain Ali, menjadikan dua group diantara kami.

Wajarlah, dunianya sudah berbeda ahaha. Di saat saya dan Adek sudah asik ngomongin cowok, Aga-Ain-Ali masih ribut dengan mainan dan berantem satu sama lain. Ohya, mereka pun punya nama panggilan satu sama lain lho, yang sampai sekarang masih mereka pakai. Wkwkwk. Aga adalah MATSOL; Ain adalah DHUDHOT; dan Ali adalah BENTHES. Awal mula ‘ditemukan’ nama-nama alias ini, adalah saat saya sudah meninggalkan hometown untuk berkuliah. Practically, saya tidak banyak involved di kehidupan mereka bertiga.

Rumah tuh gak pernah sepi, adaaa aja yang nangis. Kalau bukan Aga, Ain, ya Ali. Wkwkwkwkwk.

***

Pada tahun 2007, Adek meninggal dunia. Jadi tinggal kami berempat yang masih hidup: saya, Aga, Ain, dan Ali.

Para member kloter 2: Aga, Ain, Ali; semuanya berkuliah di ITB. Kata Mamah, mereka terinspirasi oleh saya ehehe. Masya Allah.

***

Sekarang mereka bertiga sudah pada dewasa. Tentu sudah tidak pernah berantem lagi seperti ketika mereka masih kecil dulu. Kangen sekali dengan mereka, sudah bertahun-tahun kami tidak bersua di dunia offline. Semoga Gusti Allah selalu menjaga kalian ya adik-adikku.

***

Aga, yang saat ini sudah menjadi Bapak dari 2 putri cantik 🥰
Ain, yang hari-harinya selalu tak pernah lepas dari putri unyunya 😍
Si bungsu, Ali, yang sedang menikmati masa single-nya ehehe.

Luv muchoooo ma sista n brada

Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 10

OUT OF BODY EXPERIENCE

Hhmm istilah yang sungguh sangat sulit dibayangkan ya. Namun di sekeliling, begitu banyak kejadian yang ‘abstrak’, absurd, dan belum bisa dijelaskan secara science. Ya, misteri alam masih banyak yang tidak bisa didefinisikan dan bahkan belum terungkap. Gusti Allah Maha Besar.

Salah satunya peristiwa ini, ‘out of body experience’; di mana seseorang bisa melanglang buana tanpa ‘menggunakan’ raganya.

Hal ini dialami oleh almarhum adik saya, Adek. Mungkin saja karena saat itu Adek sudah mau berpulang ke pangkuanNya, jadi banyak hal-hal ‘aneh’ di luar nalar yang Adek lalui (near-death experience).

***

Saat itu Adek sudah dirawat di RS yang ada di hometown kami, Kediri, RS Gambiran. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah kami, bisa ditempuh hanya dalam 5-10 menit.

Adek sudah sangat lemah dan banyak tidur. Tetapi tiba-tiba saat malam, Adek terbangun, dan mengajak Mamah ngobrol.

Mamah mendampingi Adek setiap detiknya selama di RS, karena somehow Mamah sudah tahu bahwa Adek akan meninggalkan kami semua. Dengan sakit yang separah itu, Mamah nerimo tidak ada obat atau treatment yang bisa menyembuhkan penyakit Adek. Jadi Mamah spent hari-harinya fokus untuk selalu bersama Adek.

***

Malam itu Adek menceritakan bahwa dirinya baru ‘didatangi’ Eyang Kakong, sampai diajak jalan-jalan juga. Padahal Eyang Kakong sudah meninggal 6 tahun sebelumnya. Tanpa menyela, Mamah tetap mendengarkan cerita Adek.

Adek bilang bahwa Eyang Kakong mengajak dirinya keluar dari kamar, kemudian menceritakan arah dan hal-hal maupun orang-orang yang dilaluinya di rumah sakit tersebut. Mamah terkejut karena semua area yang dilihat Adek BENAR ADANYA.

***

Sedangkan dari awal Adek dibawa ke RS, Adek sudah dalam kondisi tidak sadar diri. Pun Adek selama hidupnya, jarang sekali datang ke RS Gambiran. Juga karena sudah bertahun-tahun berdomisili di Bogor untuk berkuliah dan jarang pulang. Maka, tentu saja hal ini sungguh extraordinary.

Bagaimana Adek bisa tahu detail apa yang ada di luar kamarnya. Dari arah belokan sampai keberadaan tempat parkir, penjaja makanan juga bapak-bapak penarik becak di depan RS.

***

Setelah itu Adek mengakhiri ceritanya dengan mengatakan bahwa Eyang Kakong tiba-tiba menghentikan perjalanannya dan menyuruh Adek kembali dulu dengan alasan masih ada beberapa hal yang harus Adek selesaikan dulu.

Di hari-hari terakhir, Adek selalu bilang bahwa dirinya sering ‘dijenguk’ Eyang Kakong, dan ketika Eyang Kakong datang; rasa sakit di kepala Adek yang luar biasa sakit, bisa hilang ketika dielus-elus oleh Eyang Kakong.

Tidak hanya itu saja, Adek pun tahu bahwa Eyang Putri (yang waktu itu sudah tidak tinggal di Kediri; yang karena suatu hal Eyang Putri tinggal bersama Bude di Jakarta) akan segera datang menjenguknya.

Dan benar saja, keesokan paginya, Eyang Putri datang ke RS untuk melihat Adek.

Eyang Putri naik kereta api dari Jakarta dan datang di Kediri di jam Subuh, serta langsung tanpa mampir ke mana-mana menuju ke RS. Keberangkatan Eyang Putri memang mendadak, jadi tidak kepikiran untuk memberi kabar bahwa mau datang. Plus juga karena ketika itu, Mamah tidak punya ponsel, hanya ada 1 ponsel yang dipegang Papah; jadi tidak mudah untuk kabar-kabari.

***

Beberapa hari sesudah dijenguk Eyang Putri, Adek berpulang ke pangkuanNya.

Sepertinya pertemuan dengan Eyang Putri ya yang dimaksud oleh Eyang Kakong bahwa Adek punya agenda yang harus dilalui sebelum ‘ikut’ Eyang Kakong.

***

Begitulah sekelumit hal absurd yang dialami oleh (alm) Adek.

Dan ternyata kasus OUT OF BODY EXPERIENCE ini ada di dalam buku karya Jim Elvidge yang berjudul “The Universe – Solved!”. Beliau bilang bahwa memang begitu banyaaaaak sesuatu yang belum bisa ditemukan “APA dan MENGAPA”-nya di dunia ini.

Dibuat dengan CANVA

Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 9

Fight-or-Flight

Adalah reaksi manusia saat ketakutan dengan adanya ‘sesuatu’. Bisa berupa keberadaan hantu, binatang buas, atau orang jahat, atau apapun yang masing-masing manusia punya ketakutan tersendiri terhadap sesuatu yang dianggap ‘biasa’ oleh orang lain.

Seperti saya dan (alm) adik saya, Adek, ketika kami masih kecil; saya kelas 2 SD, dan Adek kelas 1 SD.

Sebagai anak yang tumbuh tanpa diajarkan mengenai berinteraksi dengan hewan, kami gampang takut dengan ayam yang berkeliaran di warung nasi pecel dekat rumah. Mana kami sering diminta Mamah Papah pula untuk membelikan pecel buat sarapan. Pfiiuhh, selalu deg-degan dah kalau ayam pemilik warung sudah mendekat ke area kami. Pasti kami langsung naik kursi wkwkwk. Alhamdulillah, untungnya para pembeli yang kebanyakan juga tetangga paham dengan ‘keanehan’ kami; jadi mereka membantu dengan mengusir ayam-ayam tersebut pergi. Ehehehe.

Tak hanya itu, kambing yang sedang enak makan rumput pun; kami takuti. Sore itu, kami diminta membeli sesuatu di warung kelontong yang jaraknya sekitar 200 meter. Dulu rasanya segitu itu jauuuh ahahaha. Yah namanya juga anak kecil.

Sayangnya kami harus melalui lapangan rumput yang sedang ada kumpulan kambing makan di situ.

Di arah keberangkatan, kami berhasil melalui mereka, karena mereka berada di ujung, yang jauh dari jalanan yang kami lewati. Sedangkan di arah pulang, kambing-kambing tersebut sudah bergeser di area yang dekat dengan jalanan. Wuaaaa.

Saya dan adik saya panik ketakutan. Dengan refleks saya lari sekencang-kencangnya. Namun beberapa saat kemudian, saya mendengar tangisan Adek, yang ternyata dari tadi dia tidak bergerak sama sekali. Ahahahaha. Duh kasihan, Adek hanya jongkok tepat di depan area lapangan rumput sambil menangis dengan nada tinggi. Ahahahaha.

***

Respons yang saya lakukan adalah FLIGHT alias ngabuuurrrrr. Sampai saat ini pun saya masih stick dengan pilihan ini kalau ada hal yang nyeremin wkwkwk. Tetap berpegang teguh dengan taglineRUN! RUN FOR YOUR LIFE!“.

Meskipun makin dewasa, sudah jarang takut, lebih docile.

Kesemuanya ini merupakan ‘tugas’ otak. Saat kita ketakutan, sinyal takut akan diterima oleh HIPOTHALAMUS, dan langsung dikirimkan ke AMYGDALA, tanpa melalui bagian CORTEX, FRONTAL LOBE yang berpikir, menelaah, dan menganalisis. Selanjutnya denyut jantung kita meningkat dag dig dug, nafas ngos-ngosan, merinding, keringetan; yang membuat tubuh kira merespons secepat kilat, mau FIGHT atau FLIGHT, mau ngabur atau menghadapi.

Mengamati kasus Adek, ternyata tidak hanya FIGHT OR FLIGHT saja untuk manusia bereaksi terhadap rasa takut, melainkan FREEZING, terdiam. Secara evolusi, yang responsnya terdiam saat ada bahaya, jelas akan musnah. Kalau yang dihadapi singa lapar, buaya, atau psikopat seperti Leatherface; ahhh sudah pasti jadi sitting duck kalau diam saja.

***

Kalau Anda, yang mana? FIGHT, FLIGHT, atau FREEZE? Ehehehe.


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 8

Alhamdulillah

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… Segala puji hanya untukMu ya Gusti Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Terima kasih atas semua karuniaMu ya Rabb yang begitu melimpahnya. Jadikan hamba manusia yang mau dan mampu untuk terus mensyukuri nikmatMu.

Setiap detik, tidak ada alasan untuk tidak mengucap syukur padaNya. Adaaaa saja berkah dan rezeki dariNya.

***

Tadi kami bertiga: saya, suami tercinta, dan putra tersayang; ingin menghabiskan hari Sabtu pagi dengan jalan sehat. Alhamdulilah accomplished.

Alhamdulillah kami punya banyak option lokasi untuk dipilih, yang kesemuanya aman dan nyaman. Sekitaran kompleks rumah, The Breeze, Bintaro Loop, Kampus UI Depok, PIK, Alam Sutera, atau Karawaci. Semua sudah disediakanNya untuk kami datangi.

Alhamdulillah kami diberikan kesehatan lahir batin jiwa raga. Mampu berpikir, bergerak, dan bertindak dengan pengetahuan dan akal sehat.

Alhamdulillah kami ‘diarahkan’ untuk mengambil keputusan mendatangi area Karawaci yang pedestrian road-nya lebar, bersih, dan adem karena banyak pohon rindang yang tertata rapih. Pun MaxxBoxx-nya sudah buka, jadi selesai jalan, bisa grocery shopping dan cuci mata buku-buku di Books & Beyond.

Alhamdulillah kami diberikan kendaraan yang bisa membawa kami ke mana-mana.

Alhamdulillah kami bisa berpakaian rapih sesuai gaya kami masing-masing.

Alhamdulillah agenda saya pribadi, selain jalan kaki bersama, pun tercapai.

Alhamdulillah kami diberikan indra perasa untuk dapat menikmati makanan dan minuman dengan sangat nikmat.

Alhamdulillah kami diberikan ilham agar kami selalu mengutamakan safety dimanapun kami berada. Sesederhana memakai seatbelt saat berkendara, tidak gegabah saat menyeberang jalan, mengucap bismillah sebelum melakukan sesuatu, dan still counting

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah… Masih buanyaaaaaak lagi nikmat, karunia, berkah, dan rezeki, yang jumlahnya tak terhitung dariNya.


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 7

Dede dan Ayi

Kedua nama tersebut adalah yang ingiiiin sekali saya temui saat ini.

Ingin sekali menggandeng tangannya, memeluknya, dan mendengarkan semua kisah mereka setelah belasan tahun tak bersua.

Sayang sekali, saya tidak mengetahui keberadaan mereka di mana sekarang. Saya menyesal ‘meninggalkan’ mereka begitu saja.

***

Setelah menikah dan melahirkan seorang bayi yang lucu, saya pindah ke Balikpapan. Sampai saya lupa untuk tidak pamitan dengan mereka berdua.

Akibat ganti HP pun, banyak nomor di kontak yang tak tersimpan. Hiks hiks.

***

Dengan kesibukan baru sebagai seorang istri dan ibu, membuat saya makin lupa dengan kehidupan single saya. Dan otomatis ‘lupa’ juga dengan teman-teman saya.

Baru terasa saat si anak sudah cukup besar dan mandiri. Saya merasa punya plenty of me time, dan mulailah teringat banyak orang-orang baik yang pernah singgah di hidup saya.

Beberapanya sudah berhasil saya temui, alhamdulillah.

***

Namun yang sampai sekarang saya belum temui, dan pingiiiiiin sekali saya temui adalah Dede dan Ayi.

***

Dede, yang nama lengkapnya Deasy Indiani (yang saya tidak yakin ejaannya betul, pakai ‘i’ atau ‘y’ ya dulu ehehe), adalah seseorang yang saya kenal saat saya les bahasa Jepang di BLCI.

Orangnya cantik, wajah dan dandanannya miriip banget dengan orang Jepang. Kawaii istilahnya.

Tidak hanya itu saja, Dede orangnya tulus. Saat saya kena cacar, yang karena sifatnya menular; saya isolasi diri di kamar kost, tetapi Dede mau menengok dan masuk kamar saya pula.

Padahal sudah saya larang, kasihan kalau tertular. Tetapi Dede keukeuh dan bilang bahwa dia sudah pernah kena cacar, sudah ga bisa ditulari lagi.

Walah, mendengarnya, saya seneeng banget. Karena isolasi mandiri begitu membuat saya kesepian.

Hampir setiap hari sepulang les Jepang, Dede maen ke kosan, hiks hiks.

Terima kasih banyak ya Dede, semoga Gusti Allah membalas kebaikanmu dengan kebahagiaan lahir batin dunia akhirat.

Ohya, karena Dede pun, saya jadi suka karaokean ehehehe. Kalau karaoke, kami berdua paling demen menyanyikan lagunya Ratu ehehehe.

Dimanapun kamu berada, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga suatu saat saya bisa dipertemukan olehNya dengan kamu, Dede. 🙂

***

Kemudian ada Ayi. Seseorang yang dekat dengan saya di masa saya menjadi job seeker.

Kala itu Ayi juga baru lulus dari Unpad. Saya lupa apa jurusannya ya, hiks, pokoknya kampusnya yang di Dipati Ukur.

Tempat kost-nya cukup dekat dengan saya, sama-sama berada di kawasan Dago.

Ya Allah, saya pun lupa nama lengkapnya siapa. Yang pasti bukan AYI, karena nama itu adalah panggilan. Saya juga lupa bagaimana awal saya berkenalan dengannya. Hiks hiks.

Yang pasti saya ingat banyak hal indah dan menyenangkan bersamananya.

Pernah saya hampir pingsan saat jalan kaki siang, mungkin kena heat stroke, dan Ayi sigap menggandeng tangan saya untuk segera duduk di bangku yang teduh.

Lalu membelikan saya minuman, dan mengusap punggung saya. Hiks hiks. Ayi tidak tahu betapa saya langsung menjadi segar kembali dengan tindakan ademnya tersebut.

Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah ya Ayi. Bahagia lahir batin dunia akhirat. Kalaupun Gusti Allah tidak mempertemukan kita kembali di bumi, saya berharap ‘di sana’ nanti kita bisa bersua sejenak dalam keadaan yang indah dan menyenangkan juga. 🙂


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 6

Indomie Goreng Telor Ceplok

Beberapa waktu lalu saya membaca satu komentar dari suatu postingan di social media,

“Dari dulu sampai sekarang, saya sahurnya pake indomie telor ceplok muluuu…”

Mas-mas di socmed

Duh sedih saya membacanya. 😦 Kasihan ya Mas tersebut. Sabar ya Mas, tetap semangat, semoga harapan dan cita-citamu dikabulkan olehNya. 🙂

Kondisi Mas tersebut yang sahurnya selalu indomie; memang tidak berada di paling bawah. Yang lebih memprihatinkan, banyak.

Untuk orang-orang golongan ekonomi lemah, malah gak ada sama sekali makanan di meja. Bahkan saat tidak bulan puasa pun, mereka sudah puasa; saking sulitnya mencari sesuap nasi.

Sehingga seringkali orang berkata bahwa puasa itu sangat mudah dilakukan orang miskin, dan sangat sulit dilakukan orang kaya. Ehehehe benul sekali!

***

Saya jadi mengingat masa kuliah saya, ketika uang belum tentu ada.

Waktu itu adalah masa lowest point dalam keluarga kami, (alm) Papah tidak bekerja dan otomatis tidak ada pemasukan sama sekali. Hanya sesekali saya mendapat kiriman uang dari orangtua, itu pun ngepas banget karena harus dibagi-bagi dengan keempat adik saya.

Alhamdulillah saya bisa memperoleh beasiswa dari kampus, namun tentu saja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer. Tidak ada itu acara ngafe-ngafe ke Ohlala (yang dulu hits di jamannya, terletak di Dago Plaza) atau ke Potluck (yang berlokasi di belakang RS Borromeus).

Pokoknya mah setiap saya mendengar teman-teman saya di jurusan ngobrolin mau rame-rame makan di tempat makan upscale, saya cuma bisa ngiler dan membaten betapa bahagianya mereka dapat kiriman uang bulanan rutin yang jumlahnya besar dari ortunya.

Dengan situasi mepet tersebut, sudah biasa bagi saya untuk puasa. Kalau gak ada uang buat beli makan, saya niatkan puasa.

***

Kembali ke Mas tadi…

Saya mendapat pelajaran dari sini, saya jadi makin melek bahwa di luar sana masih banyak orang yang kekurangan dan bergaya hidup sangat minim.

Saya tidak ingin menambah keprihatinan beliau dengan memajang menu makanan dan minuman di akun social media saya. Saya khawatir hal tersebut akan menimbulkan rasa ngenes bagi orang yang kekurangan.

Kalau ditelusuri sih, dari dulu saya memang tidak pernah memajang foto makanan dan minuman, apalagi flexing tentang hal tersebut. Semoga sampai kapanpun, saya gak gatel untuk pamer hal-hal beginian ya. Insha Allah. Bismillah.

***

Tetapi, tentu saja exception pasti ada! Banyak orang yang memfoto makanan karena bidang fotografinya; content creator di ranah kuliner; dan sebagainya. Jelas bukan berniat pamer sih kalau ini ya ehehe.

Pun semuanya balik ke masing-masing. Kalau ada orang lain yang memang berniat pamer makanan dan minuman di socmed-nya, ya monggo, itu kan hak masing-masing orang. Tidak mungkin lah saya lebay sok sok marah atau nge-judge. Emang siapa sayah

Aturan ini hanya saya terapkan buat diri sendiri, bukan buat orang lain. Lagi, emangnya siapa sayah


Un Dia Cien Palabras de Ramadan: Hari 5

“..berpuasalah agar kamu bertaqwa”

Adalah sepenggal dari isi surat Al Baqarah ayat 83.

Itulah tujuan utama umat Muslim menjalankan ibadah puasa. Sejatinya puasa adalah ibadah, kegiatan spiritual, yang sifatnya ‘vertikal’, hanya antara aku dan Dia.

***

Sangat disayangkan ketika ada sekumpulan orang yang razia/sidak melarang warung-warung makan yang buka di siang hari selama bulan Ramadhan.

Bagaimana tujuan utama bisa tercapai kalau perbuatannya saja begini?

***

Lakukan ibadah puasa fokus untuk dirimu sendiri. Gak perlu lah menilai dan mengatur orang lain puasa atau tidak. Terserah masing-masing lah. Who the hell are you, act as if you have absolute right to do that kind of mayhem??

Mereka bilang, itu namanya tidak menghormati orang yang sedang berpuasa. Again, wad de hel, dude?! Kalau lihat makanan aja kagak kuat, ya itu salah Anda, bukan mereka. Anda yang lemah! Nah kalau sadar bahwa Anda gak kuat, ya lebih baik menghindar dari tempat tersebut.

Dan harap diingat juga. Kita yang berpuasa pun HARUS menghormati orang-orang yang tidak berpuasa.

Banyak kondisi yang masing-masing orang tidak kita ketahui. Ada yang memang beragama selain Islam, ada yang sedang sakit, ada yang sedang hamil atau menyusui, ada yang sedang menstruasi, ada yang sedang bekerja keras secara fisik (seperti bapak tukang becak, bapak kuli, dan sebagainya), dan masih banyak lagi lainnya.

Gusti Allah Maha Pengasih dan Penyayang, Dia memberi banyak kemudahan untuk umatNya.

***

Lebih baik konsentrasi ke ibadah masing-masing, banyak-banyak menebar kebaikan terhadap sesama, agar tujuan utama menjadi manusia bertaqwa bisa tercapai. Insha Allah. Aamiiin. 🙂


Create your website with WordPress.com
Get started