From Shopping Addict Young Lady to Proud Mamah Medhit

PEOPLE CAN CHANGE. Betul sekali!

Diawali dengan menyadari bahwa kebodohan telah dilakukan.

“Whoopsie, I made a mistake!” atau malah Ooppss, I did it again!“.

Kemudian berlanjut dengan tekad untuk memperbaiki diri.

Begitulah yang terjadi pada saya dalam perihal… shoppppppeeeenggggg.

***


Saya tumbuh dalam keluarga pas-pasan yang selalu bergaya hidup frugal. Pun menjalani keseharian sebagai mahasiswi miskin; di mana untuk baju, Gedebage to-the-rescue, dan untuk masalah makan, warung jelata dan puasa adalah koentji bertahan hidup.

Maka, begitu lulus dan mendapat pekerjaan di bank swasta di Bandung, senangnya terlalu berlebihan. Euforia dan jor-joran dalam ‘memegang’ uang sendiri.

Ya! Saya sudah melanggar Pancasila sila ke-5 “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”, tepatnya pada dua butir yang berbunyi “Tidak bersifat boros” dan “Tidak bergaya hidup mewah”.

Confessions of Shopaholic

1. Hedon is Lyfe

Warteg, uhh apaan tuh? Cafe hopping, dong!

Ngangkot, gak level ah. Naik taxi atuh!

Acara malam minggu-an bersama Mas Pacar adalah S.E.L.A.L.U nge-mall dan cuci mata yang berakhir impulsive buying barang-barang tak berguna atas nama, “Ihh, lucuuu“.

2. Upgrade Destinasi Belanja

Saatnya say bubye ke Gedebage dan pasar kaget Salman! Dan say hello ke BSM (sekarang TSM), PVJ, dan CiWalk.

3. Mengikuti Polah Idola

Tahun-tahun itu saya tergila-gila dengan film yang female lead-nya adalah karakter wanita yang enjoy life, fashionable, dan menjadikan shopping sebagai cara mereka mengatasi problema kehidupan.

Saya looked up ke Carrie Bradshaw “Sex and The City”, Elle Woods “Legally Blonde”, dan Emily Charlton “The Devil Wears Prada”.

Dibuat dengan CANVA

4. Rutin Membaca Majalah ‘Duniawi’

CO*MOPOLITAN dan FEM*LE selalu saya beli setiap bulannya. Gambaran wanita karier yang sukses dan selalu tampil flawless menjadi tujuan hidup.

Tentu saja ini berpengaruh pada acara ‘beli-beli’. Hard to resist untuk tidak mengikuti gaya berbusana para wanita cantik di majalah tersebut.

5. Berpegang Teguh Pada Quotes Menyesatkan

  • Because when I shop, the world gets better
  • Grab it now! Tomorrow it might be gone forever!
  • Shopping is the best cure for a bad day
  • Happiness is retail therapy
  • Shopping is the best medicine

Sungguh kesembuhan yang semu! Kalau dipikir, bukannya menyelesaikan problema kehidupan, melainkan melarikan diri dari masalah.

6. Memiliki Semboyan yang Membagongkan

INDULGING, GLAMOROUS, LUXURIOUS

Wkwkwkwk, apa ya yang saya pikirkan waktu itu. Shallow euy, terpengaruh dengan lagunya Fergie dan Gwen Stefani.

***

Wuidiiih mengerikan juga list ‘dosa’ saya ini. Jujur saya menyesali behavior tersebut. Tetapi saya memahami bahwa masing-masing manusia memiliki jalannya sendiri untuk menjadi lebih baik.

***


Alhamdulillah puji syukur, saya diberikan suatu turning point, momen di mana saya menyadari bahwa ‘beli-beli’ tidaklah worth it.

It Will Get Worse before It Gets Better

1. Pengalaman Mengecewakan di Restoran/ Cafe

  • Tidak sekali dua kali menyantap makanan minuman yang bahannya kurang fresh.
  • Harga yang overpriced untuk seuprit roti.
  • Menemukan helaian rambut yang agak keriting di dalam sayuran, jadi makin gimana gitu membayangkannya, wkwk.
  • Sekilas melihat ada Den Bagus (baca: tikus) lari-lari di sekitar resto.

Jadi berpikir, buat apa mengeluarkan uang lebih kalau kantin kantor atau dekat kos sudah menyediakan makanan dan minuman bergizi yang cukup sedap.

Apalagi jaman itu belum ada Instagram, tidak ada leverage untuk tetap rutin makan di cafe kekinian yang biasanya interiornya ciamik dan bagus buat poto-poto ehehe.

2. Hari Terburuk di Kantor Adalah Hari Saat Saya Memakai Baju Mihil

Yup sodara-sodara! Looks don’t matter when it comes to a job! Mau dandan supa-sleek dan keren, namun kalau tidak deliver, ya tetap saja akan disemprot Bos.

Blazer mahal yang saya kenakan waktu itu tidak dapat mengkompensasi kesalahan yang saya lakukan.

Berganti sepatu setiap harinya hanya ada satu keuntungan, yakni mendapat pujian doang dari segelintir teman sekantor doang. Selebihnya, tidak mempengaruhi kinerja.

3. Sering Dapat Taxi yang Bau Rokok

Padahal niatnya agar ketika sampai tujuan, badan tetap wangi dan rapih, eh malah jadinya bau asap rokok Bapak sopir lingering ke baju. Tak ada bedanya dengan naik angkot.

Akhirnya kembali menggunakan jasa angkot yang disiasati dengan memakai jaket tebal dan sneakers. Dress-up pas sudah sampai kantor.

4. So Long Pop Culture

Tidak lagi membeli majalah penuh ‘racun’ dan mengubah haluan tontonan ke film ber-genre horor dan action thriller. No more chicklit.

5. Semboyan Baru yang Membanggakan

Sejak itu saya mengganti semboyan lama dengan LIVING LIFE TO THE FULLEST CONSCIOUSLY. Menikmati hidup dengan sense menghargai uang. Mulai mencatat pemasukan dan pengeluaran dengan teliti.

***


Bonjour Mamah Medhit

Saving, saving, saving, and more saving!

Sekarang, sepatu dan tas saya itu itu saja. Kalau belum worn out atau jebol, ya tetap dipakai.

Indeed, saya sudah resmi menjadi Mamah penuh perhitungan, dengan definisi ke spending money wisely and reasonably. Bukan yang super ngirit banget.

1. Kualitas is a Must!

Saya membeli barang yang berkualitas agar awet dan tahan lama. Meskipun seringkali harganya tidak murah, namun bukan juga yang termahal.

Daripada beli yang paling murah, tapi sering rusak, yang ended up beli lagi, kan jatuhnya justru pemborosan.

2. Mengutamakan Manfaat

Sudah jarang saya membeli kebutuhan rumah tangga yang untuk estetika. Pasti saya mendahulukan kegunaan.

Selain itu sebagai tim pecinta rumah dengan minimalist interior yang nyaman dengan space yang luas, saya tidak menyediakan tempat untuk hiasan macam-macam.

Hasil penelitian dari para psikolog menyebutkan bahwa dengan tidak banyak barang bikin jiwa raga rileks dan pikiran plong. πŸ™‚

3. Wajib Membuat List Belanja

Jalan-jalan ke mall tanpa tujuan sudah bukan hal yang mengasyikkan. Mungkin karena faktor U, ehehe.

Ke sana pastilah karena memang ada yang harus dibeli, dan itu semua harus saya catat dulu. Untuk menghindari beli-beli yang tidak penting, karena lapar mata semata.

4. Sadar Diskon

Saya rela meluangkan waktu untuk memilah merek yang diskonnya paling nendang. Emak-emak ogah rugi detected.

5. Sadar Promo

Memanfaatkan promo-promo yang rutin diadakan oleh dompet digital dan bank, melalui kartu debit ataupun kartu kredit. Beli 1 dapat 2, minimal pembelian tertentu dapat cashback, bonus ini itu. Pokoknya sikaaat. Jangan malas ngecek.

6. Mind the Tummy

Sama seperti saran Mamah Sari dan Mamah May. Setiap kali mau belanja, berangkatlah dalam keadaan kenyang. πŸ™‚

***

Sebenarnya online shopping lebih enak ya, Mah. Tinggal click click click, gak perlu repot ganti baju dan cari tempat parkir.

Tapi, kadang pengen melihat keramaian dan orang-orang yang sedang berlalu lalang. Sekaligus menyadari, merenungi, dan mensyukuri bahwa kita belum hidup di era Black Mirror.

***


Artikel ini ditulis untuk ikut berpartisipasi dalam event Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog September 2022 yang bertemakan “Mamah dan Dunia Belanja”.

***

***

***

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

12 thoughts on “From Shopping Addict Young Lady to Proud Mamah Medhit

  1. Keren banget transformasinya Mah Uril~
    Memang yaa majalah duniawi itu bikin kabita ini-itu πŸ˜‚ aku juga dulu baca2 majalah fashion remaja gitu jadi pengen baju macem2

    Like

    1. Ahahaha Mamah Laksita, terima kasih sudah mampir dan memberi feedback. πŸ₯°πŸ™

      Ahahaha lha iya, aduh bikin tergoda sekali majalah-majalah tersebut. Apalagi usia ABG, remaja, dan young adult kan masih sulit untuk tidak terpengaruh ya.

      Sekarang Mah Laksita, kabitanya segala jenis skin care ya ehehe. Tapi bermanfaat niy, karena pengalamannya bisa di-share ke para Mamahs. πŸ˜πŸ‘

      Like

    1. πŸ˜…πŸ€£ ehehe Mba Alfiiii. Terima kasih sudah mampir dan memberi feedback ya Mba. Ahahaha iya Mba, akhirnya membikin aturan seperti itu dulu dalam rangka mengkontrol diri, ehehe. Cari yang tetap seru dan asyik ditonton. Apalagi kalau bukan yang genre horor, action, dan thriller ehehe.

      Abonnya masih ada atau sudah habis, Mba? πŸ˜πŸ˜…

      Like

    1. Halo halo Teteh Sistha ehehe. Awalnya saya gak tau ini siapa “Anak Jadi Mamak Gajah”, eh pas di-klik ternyata nickname-nya Teh Sistha di blog toooo. Ehehe

      Terimakasih sudah mampir dan memberi komentar ya Teh. πŸ₯°πŸ™

      Ehehehe, karena saking euforia-nya ya Teh. Sekarang alhamdulillah, istilahnya sudah puas lah melewati masa lifestyle hedon tanpa aturan begitu. Saatnya hidup lebih terarah ehehe.

      Wah Teteh Sistha, ehehe, insha Allah diberikan rezeki dan kesuksesan ya Teh. πŸ™πŸ₯°

      Like

  2. Ngebayangin teh Uril saat baru lulus ITB hi3 …

    Eh tapi sekarang tetap modis dan tetap tampak muda.

    Aku malah lagi obrolin soal pernik-pernik hiasan dan teman-temannya itu sama anakku. Dia lagi suka beli printilan hi3 … Trus nyimpen barang2 kenangan … baju bayi dan balitanya aja yang menurut dia punya kenangan masih disimpan. Tapi banyak juga barang yang boleh dihibahkan (ini patut disyukuri).
    Kata psikolog pas konsultasiTalent Mapping Teteh ternyata di memang punya minat input, colect, dan save. Ngumpulin barang dan menyimpannya. Bagusnya itu ternyata adalah kekuatan baginya untuk menghafal Al-Qur’an: memasukkan, mengumpulkan, dan menyimpan.

    Like

    1. Mba Dewiiii, terima kasih sudah mampir dan memberi feedback πŸ₯°πŸ™

      Wah masya Allah, Teteh. Telaten dan rajin mengkoleksi yang memberi nilai sejarah dan precious ya. Nah ini yang saya tidak punyai ehehe, mungkin karena faktor keadaan juga, Mba. Rumah saya kecil, jadi kalau mau koleksi barang, mikir ribuan kali ehehe. Mungkin jika rumah saya besar, saya jadi demen Mba beli pernik-pernik yang bagus. Ehehe.

      Salam buat Teteh yang geulis sholehah ya Mba Dewi. πŸ˜πŸ™

      Like

  3. Ada masanya untuk hidup irit karena nggak punya duit, sedikit hedon karena menikmati apa yang sebelumnya tak dimiliki, dan kembali ke kesadaran diri. Irit dan missqueen terus nggak enak, tapi kaya raya dengan β€˜uang tak berseri’ pun tak selalu indah. Makin berumur kita, semoga makin bijak menyikapi urusan belanja ini (salah satunya. Selain hal-hal lainnya dalam hidup tentunya. Tsaaah… berat ya..)

    Like

    1. Ehehe Teh Diaaaah. Terima kasih sudah mampir dan memberi feedback. πŸ₯°πŸ™

      Wah setuju sekali saya, Teh. Memang masa muda itu masa ‘nakal’, jadi makin tua ya harus mampu memperbaiki diri. Termasuk bergaya hidup mewah, ehehe.
      Aamiin aamiin ya Rabb. Semoga makin bijak dalam menyikapi segala bidang. 🀲😍

      Like

  4. Baca tulisan Teh Uril jadi inget suami. Orang yang tadinya “kekurangan” kemudian punya duit, biasanya ada dua kemungkinan: jadi boros banget atau jadi irit banget. Kebetulan suamiku jadi boros banget hehe. Sampai sekarang pun ke anak-anak juga begitu, mungkin supaya anak-anak nggak mengalami apa yang dulu beliau alami. Tapi keren banget sih Teh Uril bisa berubah begitu, apa turning point-nya jadi penisirin hehe.

    Nah kalau aku mah, quote-nya:
    Running is the best cure for a bad day.
    Running is the best medicine.
    Hahaha…

    Like

    1. Ehehe Mba Yustika. Terima kasih sudah mampir dan memberi feedback. πŸ™πŸ₯°

      Wah keren pisan atuh lah Mba quote-nya. Running is lyfe indeed ya Mba Yustika. 😍πŸ’ͺ

      Turning point-nya di bagian yang “It’s Getting Worse Before It Gets Better” dimana saya mengalami ketidaknyamanan dengan gaya hidup hedon itu wkwkwkwk. Sepertinya setahun 2 tahun sudah cukup sangat puas lah.

      Salam buat keluarga ya Mba Yustika. πŸ™

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: