Social Observation · Tantangan MGN

1965

Peristiwa masa lampau yang berhasil menyedot perhatianku adalah seklise topik sejarah negeriku: peristiwa Gerakan 30 September 1965 beserta rentetan kejadian mengerikan yang mengikutinya.

Betapa tidak! Aku yang masih polos, mungil, duduk di bangku SD sudah dijejali disuruh Bapak Ibu Guru untuk menonton film G30SPKI di televisi.

Mana jadwalnya selalu malam pula! Jadilah aku menontonnya sambil takut-takut dengan posisi jari-jariku menutupi mataku, hanya berani mengintip sedikit.

Orang tuaku sendiri tidak banyak berkomentar. Mamah biasanya hanya menemaniku menonton sambil tidur di sampingku. “Mam sudah pernah nonton ini juga pas kecil, sudah hapal (jalan ceritanya)….”

Begitulah. Tapi kan aku belom hapal, Mam!

Deritaku tidak berhenti sampai di situ. Seusai menonton, Bapak Ibu Guru meminta para murid untuk menuliskannya juga.

Ohhh, Bapak Ibu Guruku sayang…. Belom cukupkah membuat anak kecil ini traumatis dengan rentetan adegan sadis, dialog absurd yang jahatnya jahat banget itu, serta latar musiknya yang sinister.

Dalam kepolosanku, aku pernah protes dalam hati, kenapa film-film dewasa berlabel 17 tahun ke atas tampaknya tidak se-gore ini? Harusnya aku yang masih SD sudah boleh dong menonton film dewasa, wong aku sudah kuat menonton film PKI (?).

***

Seperti hampir semua teman-temanku dan orang-orang di sekitarku, setelah menonton film itu, aku BENCI sekali dengan PKI. PKI JAHATTTT! Bahkan simbol palu arit pun menimbulkan kengerian tersendiri bagiku.

Aku yang saat itu belum membaca sejarah dari sumber lain dan hanya mengenal PKI melalui film tersebut mengira bahwa palu dan arit merupakan senjata yang digunakan mereka untuk menyakiti siapapun yang tidak sepemikiran dengan mereka.

Aku sama sekali tidak mengetahui bahwa simbol palu dan arit sebenarnya merepresentasikan buruh dan petani, serta menggambarkan equality sosial. Pun tak tahu bahwa PKI pernah menjadi salah satu partai politik terbesar di Indonesia.

Di Pemilu 1955, misalnya, PKI berhasil menempati urutan ke-4 dengan memperoleh jutaan suara. Dan angka itu belum tentu menggambarkan keseluruhan simpatisan dan organisasi yang berafiliasi dengannya.

Artinya, PKI bukan sekumpulan orang jahat yang bergerombol sambil membawa palu dan arit sebagaimana yang kubayangkan waktu kecil. Partai ini pernah menjadi sebuah kekuatan politik besar yang memiliki dukungan nyata di tengah masyarakat Indonesia.

Aku juga baru mengetahui bahwa PKI memiliki hubungan politik yang cukup dekat dengan Bapak Presiden Soekarno yang mengusung gagasan NASAKOM (nasionalisme, agama, dan komunisme).

Dan tentu saja, ini terjadi saat dunia sedang berada dalam ketegangan Perang Dunia. Amerika dan Uni Soviet saling berebut pengaruh. Negara-negara yang baru merdeka, termasuk Indonesia, menjadi arena persaingan kepentingan geopolitik.

Keberadaan PKI yang begitu besar di Indonesia jelas menjadi perhatian serius Amerika.

***

Dari berbagai bacaan sejarah, aku lalu mengetahui juga bahwa Amerika melalui CIA-nya sudah melakukan berbagai upaya untuk membatasi pengaruh komunisme di Indonesia sejak tahun 1950an. Termasuk menggelontorkan dana pada kekuatan politik antikomunis menjelang Pemilu 1955 sebesar jutaan dollar.

Sungguh, ternyata persoalannya lebih rumit dari yang dulu kutonton di TV. Tidak sesederhana membagi semua orang menjadi kelompok hitam dan putih, baik dan jahat.

Gestapu memang melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap 7 jendral Angkatan Darat. Itu peristiwa nyata yang tidak bisa dihapuskan. Tetapi siapa saja yang merencanakan gerakan tersebut, sejauh mana keterlibatan PKI, serta bagaimana peristiwa itu kemudian dimanfaatkan untuk menghancurkan sebuah kekuatan politik secara luas, merupakan persoalan sejarah yang jauh lebih kompleks.

Dan yang tak kalah penting, kenapa begitu banyak orang yang tidak terlibat langsung dalam Gestapu harus ikut menanggung akibat yang begitu mengerikan?

***

Tentu saja aku tidak menganggap PKI sebagai organisasi yang suci dan flawless. Mereka terlibat dalam berbagai konflik yang keras dengan kelompok-kelompok lain. Sejarah hubungan antar kelompok politik dan ideologi di Indonesia saat itu kerap huru-hara.

Namun menurutku mengakui adanya kesalahan yang dilakukan sebagian pihak bukan berarti kita boleh membenarkan penghukuman terhadap semua orang yang memiliki afiliasi, hubungan keluarga, atau sebatas simpatisan.

Narasi sejarah dapat menjadi “kebenaran” kala disampaikan terus-menerus, ditambah hanya satu versi saja yang mendapatkan ruang untuk bercerita.

***

Ketertarikanku atas peran CIA semakin besar setelah aku membaca beberapa tulisan mengenai polah mereka di negara lain. Metodenya terpampang nyata di serial “HOMELAND” (Netflix) dan “LIONESS” (Amazon Prime).

Dari serial itu, terlihat bagaimana CIA menjalankan misinya. Mereka mampu mempengaruhi kebijakan negara, mendekati tokoh-tokoh penting, mengumpulkan informasi rahasia, dan menggunakan kelemahan seseorang sebagai leverage untuk mencapai goal-nya. Taktik yang linear, diplomatis, dan kelihatannya biasa-biasa saja, sampai jalan yang manipulatif dan keji, bahkan sering ada orang yang tak bersalah ikut menjadi korban.

Manusia-manusia di dunia intelijen ini otaknya terbuat dari apa ya? Dan apakah juga nuraninya tetap dipakai?

***

Di balik cerdas cerdik licik lihai dan plengernya CIA, mereka ternyata punya aturan yang “bener” yakni membuka ke publik segala sepak terjang yang dilakukan 50 tahun sebelumnya.

Salah satunya adalah pembukaan arsip Kedubes AS di Jakarta pada 2017, yang mencakup puluhan ribu halaman dokumen dari periode 1964-1968. Arsip itu menunjukkan bahwa pemerintah Amerika tahu tentang pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan PKI, dan mendukung usaha penghancuran gerakan kiri di Indonesia.

***

Namun file itu hanya bercerita tentang para pejabat dan negara, bukan tentang orang-orang biasa di sekitarku. Ada satu hal yang membuatku semakin penasaran: kenapa keluargaku hampir tak pernah membicarakan 1965?

Aku ingat, waktu kecil kami menonton berita jam 7 malam bersama Eyang Kakong, Eyang Putri, dan Papah. Papah tiba-tiba menggerutu tentang kabinet Presiden Soeharto. Mendadak Eyang Putri mengangkat telunjuk ke bibir.

“Sssstttt…”

Baru setelah besar aku paham bahwa kritik politik pada masa Orba bisa memunculkan rasa takut, bahkan kabarnya ada orang yang hilang karenanya. Aku tak tahu apa yang dipikirkan Eyang malam itu namun isyarat itu terekam dalam ingatanku.

Rasa penasaran itu terus kubawa hingga dewasa. Ketika kuliah di ITB, saat sedang bertelepon dengan Mamah, iseng aku bertanya tentang Kediri pada 1965. Tak kusangka, Mamah punya cerita.

Pasca G30S, sejumlah warga bersatu dalam kelompok antikomunis, termasuk unsur Banser, dan ikut melakukan “pembersihan” terhadap orang-orang yang diduga PKI. Kediri dipenuhi darah. Situasinya mencekam. Ketukan pintu saja bisa membuat orang ketakutan.

“Orang itu PKI.”

“Bapak di ujung jalan itu PKI.”

Bayangkan jika tuduhan semacam itu dipercaya begitu saja, tanpa crosscheck. Apakah orang tersebut benar-benar terlibat? Atau hanya difitnah karena permusuhan pribadi? Dalam suasana yang chaos dan mencekam, siapa yang sempat menyelidiki kebenarannya?

Mamah lalu bercerita tentang seorang tetangga yang ikut dalam operasi itu, di mana sesudahnya orang itu mengalami gangguan jiwa, tangan kanannya keple, lemah tak berfungsi, dan kesehariannya kerap berbicara sendiri.

Aku tidak tahu apakah kondisinya berhubungan dengan pengalamannya dulu. Apa yang dia lihat dan lakukan? Atau ada sebab kesehatan lain? Mamah berhenti sampai di situ, entah karena tak tahu cerita lengkapnya atau tak nyaman melanjutkan. Aku pun tidak bertanya lebih mendalam.

***

Cerita Mamah membuatku ingin memahami lebih dalam tempat peristiwa itu terjadi. Kediri, kota kelahiranku, pernah menjadi salah satu wilayah dengan basis PKI yang besar sekaligus pengaruh organisasi Islam yang kuat. Ketegangan politik sebelum 1965 meninggalkan jejak mendalam ketika kekerasan merebak.

Lalu aku mulai membayangkan seperti apa hari-hari keluargaku saat itu.

Pada 1965, Mamah baru berusia 2 tahun. Aku membayangkan Kakek dan Nenekku menjaga 6 anak yang masih kecil-kecil, dengan Pakde si sulung, mungkin baru 10 tahun.

Apa yang mereka lakukan ketika situasi di luar rumah begitu tak menentu? Apakah anak-anak dilarang bermain? Apakah pintu dikunci lebih awal? Apakah makanan harus disimpan? Apakah tetangga masih bisa mengobrol santai, atau semua memilih diam karena tak tahu siapa yang dapat dipercaya?

Di rumah lain berjarak 3 km dari rumah Mamah kala itu, ada Papah yang masih bayi. Papah adalah si bungsu berusia 1 tahun, tinggal bersama kedua orang tua dan kelima kakaknya. Aku membayangkan Eyang Putri menggendong Papah, sementara Eyang Kakong memikirkan keselamatan keluarga.

Apakah pasar tetap buka? Apakah ada jam malam? Apakah orang harus berhati-hati dalam berpakaian, memilih warna, atau menjaga ekspresi wajah? Jangan-jangan tersenyum dianggap mencurigakan, cemberut pun salah!

Pikiranku juga melayang ke TK PERBA —yang berkat kiprah Mamahku sayangku alhamdulillah masih berdiri hingga kini—

Aku mengepoin nasibnya di tahun itu. PERBA singkatan dari Perumahan Rakyat Barat, berdiri pada 1964. Sekolah ini lahir dari ide para MahMud (Mamah Muda) yang membutuhkan tempat belajar bagi anak-anak balita mereka.

Hanya setahun setelah berdiri, pergolakan politik meledak. Apakah sekolahnya sempat tutup? Berapa lama? Bagaimana nasib guru, murid, dan para Mamah yang dulu begitu bersemangat membangunnya? Apakah kegiatan belajar langsung berjalan kembali setelah suasana lebih aman?

***

Kecuali ada teknologi time traveller, semua pertanyaan itu mungkin tak akan terjawab, tetapi ada satu hal yang bisa kusyukuri. Alhamdulillah, kakek dan nenekku, baik dari keluarga Mamah maupun Papah, berhasil melewati masa-masa itu dengan selamat.

Dalam ingatanku semasa kecil, para eyangku cenderung pendiam, berhati-hati, dan tidak neko-neko.

Mungkin sikap seperti itu membantu mereka menjalani masa penuh ketidakpastian. Wallahu alam bishawab.

***

***

***

Tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober dengan Mamah Host Ilma.

Body, Mind, Soul

Mamah

Hari ini, sepuluh hari pasca berpulangnya Mamah ke rohmatullah.

Ternyata begini ya rasanya ditinggal seorang Ibu, kehilangan sebagian duniaku. Duniaku tak lagi utuh.

***

Aku sangat sedih ketika Eyang Kakongku pergi untuk selamanya dari dunia di tahun 2001.

Aku sangat sedih saat Adek meninggal dunia di tahun 2007.

Aku sangat sedih waktu Eyang Putri diambil olehNya di tahun 2010.

Aku sangat sedih kala Papah wafat di tahun 2015.

Kupikir ku sudah cukup mengenal bagaimana rasanya kehilangan orang-orang yang sangat kucintai. Kupikir ku sudah memahami sedalam apa hati manusia bisa berduka.

Aku tak menyangka ada kesedihan yang melebihi sedih-sedihku itu, yakni kesedihanku saat ini.

***

Mamah…. Mamah…. Mamah…. Luv muchooo Mam.

Maafin aku ya Mam….

Aku masih merinding mengingat Mamah menunggu kepulanganku dari Kazakhstan terlebih dahulu sebelum Mamah “berangkat”….

Mamah… Mamahku… Mamahku sayangku…

***

***

***

Body, Mind, Soul

Selamat Jalan Mamahku Sayangku (2)…

Ada satu orang yang kepadanya aku ingin menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya.

Suami Mamah, Pak Yenz.

Masya Allah, melalui Pak Yenz, aku menyaksikan sendiri bagaimana seorang pria muda bisa mencintai seorang perempuan yang jauh lebih tua dengan begitu tulus, sepenuh hati, dan tanpa pamrih.

Pak Yenz merawat dan menjaga Mamah dengan totalitas yang luar biasa. Bukan hanya menemani ketika sehat dan bahagia, melainkan juga hadir sepenuhnya ketika kondisi fisik Mamah semakin melemah dan membutuhkan bantuan untuk hampir seluruh aktivitasnya.

Mamah sering bercerita dengan mata berbinar tentang bagaimana Pak Yenz setiap hari menyuapinya, memandikannya, hingga nyebokin.

Semua dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.

Suatu ketika aku bertanya kepada Pak Yenz tentang semua yang dilakukannya untuk Mamah.

“Bu Nurilla, Mamah kan istri saya. Itu tanggung jawab saya….”

Masya Allah, Pak Yenz….

Betapa beruntungnya Mamah mendapatkan pendamping yang demikian tulus menyayanginya.

Dan betapa bersyukurnya aku, sebagai anak, mengetahui bahwa Mamah berada dalam perawatan dan kasih sayang seseorang yang benar-benar mencintainya.

Alhamdulillah, alhamdulillah….

***

Enam tahun terakhir, sejak 2020, kehidupan Mamah dipenuhi kebahagiaan bersama Pak Yenz.

Aku menyaksikan perubahan itu. Bagaimana Mamah merasa disayangi, diperhatikan, dihargai, dan dimanjakan dengan cara-cara yang mungkin belum pernah dirasakannya pada masa-masa sebelumnya.

Mamah pernah berkata kepadaku,

“Mam sama Papahmu enggak pernah diginiin, Ril. Dikasih pujian, kata-kata romantis, diajak jalan-jalan…. Seolah Gusti Allah mengganti masa muda Mam, Ril….”

Ya Allah….

Aku bahagia sekali mengingat perkataan Mamah itu.

Setelah bertahun-tahun mencurahkan begitu banyak waktu dan tenaga untuk membesarkan anak-anaknya, mengurus keluarga, dan memikirkan orang lain, pada akhirnya Mamah pun diberi kesempatan untuk menikmati kebahagiaan bagi dirinya sendiri.

Dicintai. Diperhatikan. Dimanjakan.

Seolah Allah menghadiahkan kembali sebagian kebahagiaan yang dulu mungkin terlewatkan dalam perjalanan hidupnya.

Terima kasih, Pak Yenz. Terima kasih telah membuat enam tahun terakhir kehidupan Mamah dipenuhi cinta dan kebahagiaan. Terima kasih sudah merawat dan mencintai Mamah dengan begitu baik, terutama pada saat-saat ketika Mamah paling membutuhkan kehadiran seseorang di sisinya.

Semoga Allah membalas segala kebaikan dan ketulusan Pak Yenz dengan pahala yang berlipat ganda.

***

Ya Allah, Mamahku sayangku….

Rasanya masih sulit sekali menerima kenyataan bahwa sekarang aku tak bisa lagi menelepon Mamah, mendengar cerita-cerita ngalor-ngidulnya, tertawa mendengar humornya, atau sekadar bertanya tentang kesehariannya.

Begitu banyak kenangan yang tersimpan. Begitu banyak hal yang ingin kuceritakan. Begitu banyak ucapan terima kasih serta permintaan maaf yang belum sempat kusampaikan.

Aku tahu, tak ada satu pun anak yang bisa sepenuhnya membalas jasa ibunya. Aku berharap dulu bisa lebih sabar, lebih lembut, lebih sering menyenangkan hati Mamah, dan lebih sedikit mengeluh tentang hal-hal sepele.

Mamahku sayangku….

Maafin aku ya, Mam, untuk setiap perkataan dan sikapku yang pernah membuat Mam kecewa.

Maafin aku kalau selama ini aku belum bisa menjadi anak seperti yang Mamah harapkan.

Terima kasih sudah menjadi Mamahku. Terima kasih untuk seluruh cinta, pengorbanan, doa, dan teladan yang Mamah berikan sepanjang hidupku.

Aku akan selalu bangga menjadi anak Mamah.

Dan selama Allah masih memberiku usia, insha Allah aku akan terus mengirimkan doa untuk Mamah.

Semoga setiap kebaikan yang pernah Mamah lakukan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan Mamah menuju kehidupan yang abadi.

Semoga kini Mamah beristirahat dengan tenang, tanpa rasa sakit, tanpa kelelahan, tanpa kecemasan, dan tanpa perlu lagi memikirkan kebutuhan siapa pun.

Kini saatnya Mamah menerima segala kebaikan yang selama ini begitu murah hati Mamah berikan kepada orang lain.

Selamat jalan, Mamahku sayangku.

Semoga Allah mempertemukan kita kembali dalam keadaan yang jauh lebih indah, di surgaNya.

Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha.

Ya Allah, ampunilah Mamah, sayangilah Mamah, berikanlah keselamatan kepadanya, dan maafkanlah segala kesalahannya.

Luv muchoooo, Mamahku sayangku…. ❤️

Body, Mind, Soul

Selamat Jalan, Mamahku Sayangku…

Hari ini, Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 19.57, ada WA masuk dari adekku.

“Mama sudah wafat, mbak Ril….”

Aku tak sanggup membendung tangis. Air mataku tumpah, tangisku pecah begitu kencang.

Mamahku…. Mamahku sayangku….

Innalillahi wa innailaihi raji’un.

Ya Allah, ampunilah segala dosa, kesalahan, dan kekhilafan Mamah. Terimalah seluruh amal ibadah dan kebaikan yang telah Mamah lakukan sepanjang hidupnya. Lapangkanlah tempat peristirahatannya dan tempatkanlah Mamah di tempat terindah di sisiMu.

Ya Allah, ampuni pula segala keluh kesah yang pernah hamba ucapkan tentang Mamah. Betapa aku menyesal pernah merasa kesal kepadanya, hanya karena perkara-perkara kecil yang sesungguhnya tak berarti apa-apa.

Bisa-bisanya aku mengeluhkan hal-hal demikian, setelah begitu banyak cinta, pengorbanan, dan kebaikan yang Mamah curahkan untukku dan kami semua.

Ya Allah, aku menyesal sekali….

Sepanjang hidupnya, Mamah lebih banyak memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Hampir seluruh uang yang Mamah terima dari kami, anak-anaknya, dipergunakan untuk membantu orang-orang dan berbagai cause di sekitarnya.

Mamah tak pernah benar-benar memanjakan dirinya sendiri. Tak pernah sibuk dengan urusan self-care, membeli makeup yang lengkap, rutin merawat diri ke salon, berdandan denganbaju-baju bagus, berolahraga demi penampilan, atau menikmati berbagai kesenangan yang mungkin lumrah dilakukan perempuan.

Bukan karena Mamah tidak bisa, melainkan karena perhatian, tenaga, waktu, dan apa yang dimilikinya selalu lebih dulu diperuntukkan bagi orang lain.

Pengorbanan Mamah untuk kami, anak-anaknya, demikian besar. Terlalu banyak untuk dihitung, terlalu panjang untuk diceritakan satu persatu.

Aku bangga sekali kepada Mamah.

Mamahku sayangku, insha Allah semua kebaikan yang telah Mamah lakukan di dunia menjadi bekal yang indah untuk kehidupan Mamah selanjutnya, ya, Mam.

Aku ingat impian Mamah untuk memiliki rumah mewah di sana. Semoga Allah menghadiahkan rumah yang jauh lebih indah daripada apapun yang pernah Mamah bayangkan. Rumah terindah di surgaNya, tempat Mamah tak lagi merasakan sakit, lelah, ataupun kesedihan.

Mamahku sayangku….

Maafin aku, ya, Mam. Maafin ketika aku tak bisa berperilaku sesuai harapan dan arahan Mamah. Maafin segala sikap, perkataan, dan perbuatanku yang mungkin pernah membuat hati Mamah kecewa.

Maafin aku ya, Mam….

***

Alhamdulillah, akhir pekan lalu aku masih diberi kesempatan untuk menjenguk Mamah di Kediri. Mator suwon ya Rabb…

Padahal rencana awalku adalah berangkat minggu berikutnya, yakni Sabtu besok, 10 Oktober.

Namun, qadarullah, suamiku mengusulkan agar kami berangkat sesegera mungkin.

“Mam, sekarang saja kita ke Kediri.”

Alhamdulillah, alhamdulillah….

Akhirnya Sabtu malam pekan lalu, aku bersama keluarga kecilku berangkat naik kereta menuju Kediri. Kami tiba pada Minggu subuh, 4 Oktober.

Ketika aku datang, Mamah sudah bangun dan selesai sholat Subuh.

Namun, kondisi Mamah saat itu sangat berbeda dari biasanya. Tubuhnya begitu lemah. Untuk berbicara saja tampak membutuhkan tenaga, apalagi berjalan atau menghadirkan senyum lebarnya yang khas.

Mamahku yang biasanya ceria, begitu gemar mengobrol ngalor-ngidul, selalu punya cerita, dan tak pernah kehabisan humor-humor kocak, hari itu nyaris tak menunjukkan semua keceriaannya.

Mamah berbeda.

Lalu Mamah berkata kepadaku,

“Ril, Mam kok ngantuk ya. Mam bobok dulu ya. Nanti Mam bangun pas adzan Dhuhur, habis itu makan, terus tidur lagi…. Maaf ya, Ril, kamu sudah jauh-jauh ke sini, Mam malah tidur terus.”

Aku tentu saja mengiyakan dengan senang hati.

Dalam pikiranku, kondisi tubuh Mamah yang sedang begitu lemah tentu membutuhkan banyak istirahat. Aku berharap tidurnya bisa membantu tubuhnya memulihkan diri, memberi kesempatan bagi sel-selnya untuk beregenerasi, sehingga ketika bangun nanti Mamah bisa merasa lebih segar.

Aku sama sekali tak keberatan hanya berbaring di sebelahnya, bahkan jika sepanjang kunjunganku Mamah lebih banyak terlelap.

Siang harinya, Mamah bangun untuk Dhuhur, kemudian makan.

Di sela-sela waktu itu, tiba-tiba Mamah nyeletuk,

“Maaf ya, Ril, Mam ngerepotin kamu dan kalian….”

Mata Mamah berkaca-kaca.

Ya Allah….

Melihat Mamah demikian, hatiku rasanya nyessss sekali. Air mataku ikut menetes. Namun, aku berusaha menjawab dengan suara lantang, ku ingin memastikan bahwa setiap kata yang kuucapkan benar-benar didengar dan diyakini Mamah.

“Mamah! Mam, jangan bilang begitu ya, Mam. Kami semua dengan senang hati membantu Mamah. Uang kami, sebesar apa pun yang kami berikan untuk Mamah, enggak akan pernah bisa menandingi semua yang sudah Mamah lakukan untuk kami, Mam. Enggak akan pernah cukup untuk membalas pengorbanan Mamah. Jadi, Mamah jangan bingung ya, Mam. Jangan mikirin itu lagi….”

Aku ingin Mamah tahu bahwa dirinya sama sekali bukan beban bagi kami.

Aku ingin Mamah mengerti bahwa kini giliran kami, anak-anaknya, yang merawat, menjaga, dan membahagiakannya. Bahwa semua yang kami lakukan bukanlah pengorbanan yang perlu Mamah sesali atau khawatirkan, melainkan sesuatu yang kami lakukan dengan penuh cinta.

Hari itu aku hanya bisa berada di sisi Mamah sampai pukul lima sore, sebab aku harus kembali ke Jakarta menggunakan kereta pukul tujuh malam.

Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benakku bahwa Minggu, 4 Oktober 2026, akan menjadi hari terakhir aku bertemu dan berbicara dengan Mamah.

Hari terakhir aku melihat wajahnya. Mendengar suaranya. Menemaninya.

Mamahku sayangku….

Salah satu manusia yang sangaaaaat kucintai di dunia ini.

Perempuan hebat yang sepanjang hidupnya telah melahirkan begitu banyak karya, kiprah, dan kebaikan.

Mamah memang hanya lulusan SMA. Tapi Mamah jauh lebih pintar daripada aku yang lulusan ITB ini.

Kecerdasan Mamah itu berupa kecakapan menjalani kehidupan, kepedulian terhadap sesama, keberanian mengambil peran, dan kemampuannya memberikan manfaat kepada begitu banyak orang.

Begitu banyak hal yang bisa kupelajari dari Mamah.

Dan sekarang, aku harus belajar menjalani hidup tanpa kehadirannya…

***

Hari ini, sejak pagi, ketiga adekku sudah tiba di Kediri.

Masya Allah, ternyata Gusti Allah telah mengatur semuanya dengan begitu sempurna.

Ketiga adikku dipertemukan dan dikumpulkan di sana, pada hari yang ternyata menjadi hari Mamah “berangkat”.

Sayangnya, ketika mereka tiba, Mamah sudah tidak sadarkan diri. Mereka tak lagi memiliki kesempatan untuk berbincang, bercanda, atau berinteraksi dengan Mamah.

Aku tahu betapa sedihnya mereka.

Aku sendiri tak berada di samping Mamah pada saat-saat terakhirnya. Aku tak menyaksikan langsung ketika Mamah menghembuskan napas terakhir.

***

Tetapi di tengah kesedihan dan penyesalan yang begitu besar ini, aku berusaha mensyukuri satu karunia yang Allah berikan kepadaku.

Allah menggerakkan hati suamiku untuk menyegerakan perjalanan kami ke Kediri.

Allah memberiku kesempatan untuk bertemu Mamah sekali lagi.

Allah masih mengizinkanku mendengar suaranya, melihat wajahnya, berbincang dengannya, dan yang terpenting, menyampaikan langsung bahwa Mamah sama sekali tidak merepotkan kami.

Aku bersyukur sekali sudah mengatakan hal itu kepada Mamah.

Aku tak tahu apakah Mamah sempat menyimpan kata-kataku di dalam hatinya. Namun, aku berharap, pada hari-hari terakhir kehidupannya, Mamah mengetahui betapa besar cinta kami kepadanya.

Dan betapa berharganya Mamah bagi kami semua.

***

***

***

Wifey's Life

Oktober O-nya Apa?

O-nya adalah oke gass oke gass oke gasss.

Bismillah semoga bulan ini penuh kemudahan, rezeki, dan senantiasa bahagia. Aamiin aamiin ya Rabb.

***

Akhirnya kerepotan pindahan kami sudah terlewati. Aku dan keluarga kecilku sudah meninggalkan Apartemen Sky House dan sudah menempati rumah baru di sebuah cluster yang dekat dengan ICE.

Sejauh ini, aku pribadi suka dengan neighborhood-nya. Adem banyak pohon, tatanan rumah-rumahnya juga rapih, jalanan bersih dan luas, juga ada jalan setapak yang khusus diperuntukkan pejalan kaki. Jadi kalau mau jalan atau jogging, gak perlu khawatir takut-takut sambil melipir ketika kendaraan lewat.

Tiga tahun lalu kami tinggal di kompleks The Icon. Kenapa gak nyari rumah di situ lagi? Well, kami mencari ke situ lagi kok, tapi qadarullah tidak ada yang sregg. Rumah kami yang dulu itu ukurannya kecil, dan sekarang sudah dikontrakkan.

Alhamdulillah, kesabaran dan tidak grusa-grusu kami membuahkan hasil. Menemukan rumah yang insha Allah menjadi home sweet home bagi kami sekeluarga.

Ohya, di sini unik, gak ada Pak RT dan Pak RW. Adanya itu komunitas dan ada Mba adminnya. Nah jika kita butuh surat-surat ini itu, langsung ke Mba Admin.

Melihat fenomena ini, makes sense sih. Sekarang orang sudah pada sibuk dengan jadwal yang tak menentu. Jika ada yang ditunjuk sebagai Pak RT, kemungkinan besar pastilah susah mencari waktu yang klik untuk bertemu.

Selain itu, kehidupan bertetangga di sini tidak ada pressure untuk saling bertemu secara tatap muka. Meskipun demikian, kami rutin berinteraksi di WAG kompleks, dan semua baik-baik, saling membantu dan berbagi informasi dengan damai. Alhamdulillah.

***

Kegiatanku sekarang pun tidak sesibuk dengan agendaku saat di Kazakhstan. Wuidiiii bener-bener deh gelar PENGACARA (Pengangguran banyak Acara) patut disematkan pada diriku ketika menjadi warga Kazakhstan ehehe.

Sekarang, aku menghabiskan waktuku sebagian besar di dalam rumah. Dan hanya bepergian bersama satu-satunya bestie superku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah…….. jrenggg jrenggggg SUAMIKU. Ehehehe.

Jadwal kantor beliau pun sudah tak sesibuk dan se-stress seperti di Kazakhstan, jam 5 sore sudah pulang. Lalu abis itu, Pak Suami akan mengajak jalan kaki bersama keliling area situ. Kemudian malamnya hunting coffee shop, atau nyari tempat pijat, atau ke tempat makan.

Berduaan saja, karena anakku, Boo, sudah remaja dan sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Jadi aku dan Pak Suami bener-bener bagaikan sahabat karib. Yang dengannya aku bisa melakukan apapun dan menjulid bersama ehehe.

***

Meskipun kami sudah menikah belasan tahun, tapi nampaknya ada satu hal yang Pak Suami belom berubah. Yakni punya rasa cemburu. Memang sih sudah tidak separah dulu, tapi…. seharusnya di usia matang sekarang, rasa cemburu itu sudah terkikis.

Dengan keadaanku yang ibu rumah tangga saja (yang interaksi sosialnya juga tak luas), dan tidak punya teman lawan jenis; aku kira sudah aman, tidak akan memunculkan rasa itu. Ternyata tidackkk, sodara-sodara!

Pak Suami sudah beberapa kali memintaku nge-block akun lawan jenis yang komentar di utas-utas di Threads-ku. I mean.… komentarnya biasa banget padahal, harmless, gak ada sedikitpun mengarah ke flirting. Ketika ada komentar yang nakal dan tidak sopan, ku pastilah tak akan menghiraukan, serta gercep nge-block tanpa Pak Suami harus minta.

Tentu saja aku manut dengan titah Pak Suami. Tanpa babibu, NURUT! Aku berusaha sangat untuk menjadi istri yang sholehah, yang baik dan menyenangkan buatnya. Terutama karena beliau adalah donatur utamaku sekaligus sugar daddy terbaikku. Luv uuu suamiku…. ❤️🥹

***

***

***

Body, Mind, Soul · Memori & Nostalgia · Young Adult

Bersama Adek

Ada lagi keputusan sepeleku yang betul-betul membuatku nyesek saat mengingatnya.

Yakni, ketika aku TAK mau pindah ke Bogor.

***

Waktu itu dekade 2000an, aku masih tinggal di Bandung. Aku sudah lulus kuliah, sudah sempat bekerja di sebuah bank swasta, lalu resign karena calon suamiku saat itu tak mengizinkanku bekerja di sana, dan aku pun nurut. Jadilah aku seorang manusia pengangguran, job seeker yang sehari-harinya masih berkutat dengan hunting iklan lowongan kerja di koran Pikiran Rakyat, datang ke banyak Job Fair, apply-apply lamaran, dan pertanyaan klasik yang sering muncul di kepala orang-orang seusia itu: habis ini aku mau ke mana?

Sementara itu, adekku yang hanya selisih setahun denganku tinggal di Bogor. Adek kuliah di IPB, sambil mencari tambahan uang dengan memberikan les privat ke sana-sini. Hidupnya waktu itu tak bisa dibilang mudah. Adek tak mau menumpang di rumah kerabat dan memilih untuk nge-kost meskipun berat baginya untuk membayarnya.

Dan di tengah semua itu, Adek mulai sakit. Awalnya belum terasa terlalu mengkhawatirkan. Namanya juga anak muda, sakit sedikit masih bisa kuliah, masih bisa bekerja, masih bisa ke sana-sini naik angkot untuk mengajar murid privat.

Lalu Mam keidean, “Ril, kenapa kamu endak pindah ke Bogor aja?”

Logikanya masuk akal sekali. Terutama dengan banyaknya panggilan-panggilan tes dan wawancara kerja dari Jakarta, dan lebih mudah dijangkau dari Bogor, plus tentu saja lebih murah.

Mam bilang daripada aku membayar kost sendiri di Bandung dan nganggur pula, aku bisa pindah dan kost bareng Adek. Uang kostku bisa dipakai untuk mencari tempat tinggal yang lebih nyaman untuk kami berdua. Beban Adek pun otomatis berkurang. Adek tak perlu terlalu pusing memikirkan tempat tinggal, dan…yang paling penting…ada aku di sana untuk menemaninya.

Sebuah solusi yang kalau kupikirkan ketika akhirnya Adek berpulang ke Rahmatullah, sangatlah tepat.

Namun saat itu jawabanku TIDAK.

***

Kala itu, aku punya ribuan alasan (yang beberapa diantaranya bersifat “kupaksakan” dan mengada-ada).

  1. Bandung lebih strategis untuk mencari pekerjaan.
  2. Aku sudah punya lingkungan di sana.
  3. Lebih mudah kalau ada panggilan interview.
  4. Aku punya ini.
  5. Aku punya itu.

Pokoknya terdengar seolah-olah seluruh masa depanku akan berantakan kalau aku meninggalkan Bandung.

Padahal sebenarnya, alasannya tak serumit itu. Aku hanya tak mau meninggalkan Bandung. Aku terlalu sayang dengan kota ini. Dengan jalan-jalannya, teman-temanku, suasananya, kenangan kuliahku, tempat-tempat yang biasa kudatangi. Aku merasa hidupku ada di sana. Bandung adalah kota yang sudah begitu lekat denganku hingga pindah ke Bogor terasa bagaikan pengorbanan besar.

Tak ada kantor yang mengharuskanku berada di Bandung setiap pagi, pun tak ada sesuatu yang sungguh-sungguh mengikatku di sana. Yang mengikatku hanyalah PERASAAN. Romantisme terhadap sebuah kota. (Saat ini dengan lantang aku mampu bilang PRETTT atas rentetan alasanku ini…).

***

Aku dan Adek hanya berbeda satu tahun, sehingga sejak kecil rasanya seperti bestie. Dari TK sampai SMP kami berada di sekolah yang sama.

Agenda sehari-hari kami berdua adalah bermain bersama, pergi ke mana-mana bersama, hingga menjulid dan ngomongin cowok idaman masing-masing.

Aku menyadari aku adalah anak pertama sekaligus seorang kakak yang nyebelin, tak mau kalah, selfish, suka menang sendiri, dan etc etc.

Sedangkan Adek… kebalikannya. Adek sangat manut, nrimo, tidak neko-neko, tidak pernah membuat masalah, dan kalau MamPap bilang sesuatu, Adek tak pernah mendebat.

Mungkin karena bertahun-tahun hidup berada satu langkah di belakang sang kakak, ketika SMA Adek mengambil keputusan untuk memilih SMA yang berbeda denganku.

Begitupun ketika tiba waktunya kuliah, Adek memilih IPB, Bogor, blasss sama sekali tidak melirik Bandung.

Akhirnya kami punya kota masing-masing. Aku punya Bandung. Adek punya Bogor.

***

Beberapa bulan setelah Mam menyuruhku pindah, kondisi Adek semakin serius. Sakit yang semula masih bisa dibawa kuliah, nge-lab, dan mengajar perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi diremehkan.

Menjelang hari wisuda, Adek harus pulang ke Kediri yang tentu saja bukan untuk liburan menikmati kampung halaman melainkan masuk rumah sakit. Setelah itu segalanya terasa bergerak terlalu cepat.

Operasi yang terakhir adalah mengubek-ubek bagian kepala Adek. Ohya, diagnosis penyakit Adek pun belum diketahui pasti, dokter menganalisis itu adalah meningitis dengan keyakinan 50 persen. Intinya, ada jamur hitam yang berada di paru-paru Adek, ini makes sense karena penetlitian tugas akhir Adek waktu itu harus nge-leb dengan aspergillus, dan setiap hari menmabah penghasilan dengan mengembangbiakkan tikus putih di lab. Adek berpesan pada Mam, “Mah, tahu kan Mah, kalau operasiku ini berhasil, ada 2 kemungkinan, Mah. Fisikku baik-baik saja, tapi otakku tidak, dan ini akan end up menjadi (maaf) idiot. Kalau otakku tetep berfungsi dengan baik, fisikku yang tidak baik-baik saja, Mah, aku akan berbaring di kasur selamanya, Mah. Dan Mah, aku gak mau keduanya, Mah.” Mam pasrah mendengarnya, dan paham dengan maksud Adek.

Sampai akhirnya pada bulan November, Adek dipanggil untuk berpulang ke Rahmatullah.

Aku kehilangan Adek, sahabatku, teman bermainku sejak kecil, orang yang bertahun-tahun berada di sampingku.

Hari itu dadaku sesak, dan sejak saat itu, sebuah pertanyaan terus terngiang. “Kenapa waktu itu aku tidak pindah ke Bogor?!!”

***

Aku tahu, pindah ke Bogor tak akan mengubah takdir perjalanan hidup Adek.

Bukan berarti dengan aku tinggal bersamanya, Adek pasti sembuh. Aku bukanlah dokter, dan juga tak punya kuasa atas hidup dan mati seseorang.

Apapun yang kulakukan, November Rain itu tetap akan datang.

Tetapi bukan itu yang kusesali. Yang membuatku nyesek saat mengingatnya adalah hal-hal sederhana.

Aku membayangkan hari-hari Adek ketika sakit tetapi tetap harus menjalani kehidupan seorang mahasiswa yang struggle. Pulang ke kamar kost sendirian, tidak enak badan. Lelah sehabis mengajar privat. Atau mungkin ingin sekedar mengeluh.

Dan aku bisa saja ada di sana, masakkin atau membelikan Adek makanan, lalu membantunya saat badannya sedang lemah. Kemudian menemaninya ke dokter, maupun mendengar ceritanya sepulang kuliah.

Atau mungkin bengong bersama tanpa ngapa-ngapain, dan hanya berada di kamar yang sama. Aku berbaring melintang, Adek leyeh-leyeh sambil membaca novel. Persis seperti saat kami kecil.

Dan kalau malam-malam, Adek sedang merasa kesakitan, aku bisa memeluknya.

Entah kenapa, bagian itulah yang paling sering terlintas. Aku bisa memeluknya 😦

***

Sekarang rasanya aneh sekali mengingat alasan-alasan yang dulu kubuat untuk tidak pindah.

Begitu pentingkah Bandung? Begitu sulitkah meninggalkan kota itu beberapa bulan?

Apa yang sebenarnya kutakutkan hilang?

Toh Bandung ternyata tetap ada. Jalan-jalannya masih ada. Kampusku masih ada. Tempat-tempat yang kusukai tetap berdiri. Aku bahkan masih bisa datang ke Bandung kapan saja.

Bandung tak pergi ke mana-mana. Adek yang pergi.

***

Andai ku bisa kembali kepada diriku yang sedang tinggal di Bandung itu. Ku akan berkata, “Sudahlah. Bandung tidak akan ke mana-mana.” “Pergilah ke Bogor.” “Temani Adek.”

***

Ahh begitulah cerita kehidupan. Selalu banyak “KALAU”.

***

***

***

Body, Mind, Soul

Mam Tak Pamit?

Tema tantangan blogging MGN bulan ini adalah “Keputusan Sepele yang Mengubah Hidup”. Lama aku mempertimbangkan, apakah kisah Mamahku ini layak aku ikutkan, dengan resiko akan dibaca oleh semua Mamahs MGN.

Aku ragu, tapi setidaknya aku tuliskan dulu.

***

***

***

Bude sedang tengkurap di kamar sambil membaca buku ketika Mam pamit.

“Mba, aku pulang dulu, ya.”

Menurut cerita Mam, tak ada jawaban.

Waktu itu Mam sedang berkunjung ke rumah Pakde di Bogor. Keadaan ekonomi mereka jauh lebih baik daripada keluarga kami. Pakde bekerja, Bude juga, sementara Mam masih harus memikirkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku, anak pertamanya, masih kuliah dan belum bisa menjadi tempat Mam minta bantuan.

Satu adekku sedang kuliah dan kala itu tinggal menumpang di rumah Pakde. Untuk pulang hari itu, Mam sudah meminjam sedikit uang untuk ongkos perjalanan dari Bogor ke Kediri.

Mam harus pulang karena di Kediri masih ada ketiga adikku yang kecil.

Pakde sedang tidak di rumah. Jadi, setelah berpamitan kepada Bude dan tak mendapat jawaban, Mam mencoba bertanya lagi.

“Mas endak titip apa-apa buat aku, Mbak?”

“Endak.”

Dialog itu, seperti yang diceritakan Mam padaku, kurang lebih hanya begitu.

Mam akhirnya keluar rumah.

***

Di luar, Mam menelpon Pakde dan menanyakan perihal uang yang mau dipinjamkan itu.

Jawaban Pakde mengagetkan.

“Lhooo, uangnya sudah kutitipkan ke istriku.”

Mam menjelaskan bahwa tadi sudah bertanya, tetapi Bude bilang tak ada titipan apa-apa.

“Tunggu ya. Kutelpon dulu.”

Jika saja kejadian ini berhenti sampai di situ, mungkin sekarang aku tak punya cerita untuk dituliskan. Paling-paling ada salah komunikasi, lalu dibereskan lewat telpon. Mam mendapat kejelasan tentang ongkosnya dan melanjutkan perjalanan.

Namun, ketika Pakde kembali menelpon Mam, pembicaraannya sudah di luar nalar.

“Katanya kamu tadi gak pamit!”

“Lhooo aku pamit, Mas.”

Mam menjelaskan lagi kalau Mam sudah mendatangi Bude. Sudah mengatakan mau pulang, sekaligus bertanya tentang titipan Pakde.

Pakde tidak percaya.

“Aku berani bersumpah demi Allah,” kata Mam.

Tetap tak dipercaya.

Dari cerita Mam, Pakde lebih menerima keterangan Bude. Mam dianggap pulang begitu saja tanpa pamit. Sesuatu yang bagi Pakde merupakan sikap tak tahu berterima kasih kepada keluarga yang sudah menerimanya.

Mam yang awalnya sedang meminta bantuan akhirnya sibuk membela diri.

***

Kejadian itu kemudian menjadi pembicaraan keluarga.

Mam pulang tanpa pamit, tidak sopan, dan kurang ajar.

Satu versi cerita beredar, lalu mendapatkan tanggapan dari orang-orang yang tidak berada di rumah itu ketika Mam mengatakan, “Mbak, aku pulang dulu, ya.”

Mam terus mempertahankan keterangannya.

“Aku jelas-jelas pamit lhoo!”

Sebagai anak, aku sulit mendengar bagian ini tanpa ikut kesal. Mama sudah harus menanggung rasa sungkan karena membutuhkan uang. Setelah itu, masih harus berusaha meyakinkan orang bahwa Mam paham adab berpamitan.

Aku percaya kepada Mam. Cerita ini kutuliskan berdasarkan pengalamannya yang disampaikannya padaku. Namun, ada bagian yang tak pernah bisa kuketahui: apa yang didengar, dipikirkan, dan dirasakan Bude.

Kenapa jawabannya bisa menjadi, “Dia gak pamit”?

***

Aku mencoba membayangkan kejadian itu dari sisi Bude. Tentu saja, ini hanya dugaanku. Aku tak pernah mendapatkan penjelasan dari beliau.

Mungkinkan jawaban itu keluar begitu saja ketika Pakde menelpon. Mungkinkah saat itu Bude hanya ingin mengakhiri pembicaraan yang tak nyaman. Mugnkinkah beliau tak sedang membayangkan bahwa keterangannya akan dibawa ke percakapan keluarga, diulang oleh orang lain, dan meninggalkan ke-awkward-an diantara dua saudara kandung selama bertahun-tahun.

Bisa jadi, pada saat mengucapkannya, akibat yang terbayang hanya sejauh percakapan telepon itu.

Selesai menjawab, selesai pula urusannya.

Tetapi rupanya tidak.

Pakde percaya. Lalu tersebar ke mana-mana dan semua keluarga besar mengetahuinya. Lalu ikut menilai Mam. Setiap kali cerita itu diulang, makin banyak orang merasa sudah tahu apa yang terjadi.

Sementara Mam masih keukeuh pada kalimat yang sama: AKU SUDAH PAMIT!

***

Aku sering membayangkan, andai saja keterangan itu diralat pada hari yang sama, apa yang akan terjadi?

“Iya, tadi sudah pamit. Aku salah ngomong keceplosan waktu bilang ke kamu.”

Mungkin akan ada pertengkaran. Mungkin Pakde akan marah dan menanyakan lebih detail, yang tentu saja tak akan terasa nyaman.

***

Namun setelah kisah itu beredar, mengakuinya mungkin terasa jauuuhhh lebih berat.

Karena yang harus dihadapi bukan lagi satu orang.

Ada suami yang sudah telanjur membela. Ada kerabat yang sudah telanjur ngata-ngatain adik iparnya. Ada orang-orang yang, begitu mendengar klarifikasi itu, mungkin akan bertanya, “Jadi selama ini dia benar? Lalu kenapa dibiarkan?”

Menurutku, di situlah seseorang bisa makin sulit keluar dari jawaban yang telanjur diucapkan.

Hari pertama cukup menjelaskan kejadian hari itu. Bertahun-tahun kemudian, Bude juga harus menjelaskan mengapa selama itu tak bilang apa-apa.

Aku tak tahu apakah Bude mengalami pergulatan seperti ini. Namun kemungkinan tersebut membuatku mengerti bagaimana sesuatu yang awalnya tampak kecil bisa terus dibiarkan, karena akibatnya sudah terlalu besar.

Mengakui terasa memalukan dan diam terasa lebih mudah untuk dijalani.

***

Bude berpendidikan tinggi. Beliau doktor di luar negri dan bekerja sebagai peneliti.

Aku menggarisbawahi karena dalam pikiranku, ada nama baik dan penghormatan yang mungkin ikut dipertaruhkan jika beliau harus mengakui bahwa keterangan Mam selama ini benar. Sekali lagi, aku tak tahu apakah itu sungguh menjadi pertimbangan beliau. Gelar dan pekerjaan tidak bisa memberitahuku isi hati seseorang.

Tetapi aku membayangkan betapa beratnya mengoreksi diri di hadapan orang-orang yang selama ini memandang kita sebagai pihak yang lebih layak dipercaya.

Di sisi lain ada Mam, yang datang dengan keadaan serba kekurangan dan membutuhkan bantuan ongkos pulang.

Aku bertanya-tanya apakah keadaan mereka yang berbeda turut mempengaruhi siapa yang lebih mudah dipercaya. Pertanyaan itu tak pernah ada jawaban yang bisa kupastikan. Yang kutahu, pada kejadian ini, penjelasan Mam tidak cukup. Sumpahnya pun tak mengubah apa-apa.

Aku juga tidak hendak menghapus kenyataan bahwa Pakde dan Bude pernah membantu keluarga kami. Adekku pernah tinggal beberapa bulan bersama Pakde dan Bude saat kuliah. Akan kami ingat selalu kebaikan-kebaikan Pakde dan Bude…

***

Tahun-tahun berlalu.

Hubungan Mam dan Pakde menjadi renggang dan canggung. Perkara PAMIT itu tetap tak mendapatkan closure yang Mam harapkan.

Kemudian Bude sakit.

Mam berharap, sebelum terlambat, ada kesempatan bagi beliau untuk meluruskan kejadian tersebut. Mam ingin namanya dibersihkan dari tuduhan itu. Mam ingin hubungan dengan sang kakak tidak terus dibayangi sesuatu yang tak pernah dilakukannya.

Harapan itu masuk akal bagiku. Ada orang-orang yang sudah mendengar bahwa Mam tak tahu diri. Tentu Mam juga ingin mereka mendengar keterangan langsung dari Bude.

Tetapi sampai Bude meninggal, klarifikasi yang Mam tunggu tak pernah datang.

Aku tak tahu apakah Bude masih mengingat kejadian itu dengan cara yang sama seperti Maa. Aku tak tahu apakah Bude pernah ingin membicarakannya, apakah merasa ada yang perlu diperbaiki, atau apakah perkara itu sudah lama tak terlintas dalam pikirannya.

Yang tinggal pada kami adalah cerita Mam dan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa lagi diajukan.

***

“Ya sudah. Kita tunggu saja nanti di sana…” kata Mam.

DI SANA yang dimaksud Mam adalah AKHIRAT.

Kami percaya ada kehidupan setelah kematian dan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama hidup. Bagiku, ucapan Mam itu terdengar seperti kalimat seseorang yang sudah kehabisan cara untuk menjelaskan dirinya di dunia ini.

***

Aku tak pernah tahu apakah Bude menganggap jawabannya hari itu sebagai keputusan besar, mungkin bahkan tak terasa seperti mengambil keputusan apa-apa.

Itulah yang membuat kisah ini terus mengusikku.

Kita bisa mengucapkan sesuatu dalam hitungan detik, sementara orang lain harus hidup lama dengan akibatnya. Apalagi ketika ucapan itu dipercaya banyak orang dan tak pernah dikoreksi.

***

***

***

Social Observation · Wifey's Life

Juicy Gossip

Wuahhh, rentetan juicy gossip melandaku beberapa hari terakhir ini, ehehe. Beritanya pun, sayangnya, tak elok dan tak santun. Huhu.

Entah kenapa, setelah mendengar semuanya, kepalaku malah terasa pening. Mungkin inilah yang dimaksud para spiritualist atas definisi “vibrasi negatif”. Beneran, rasanya gak enak. Pengen ku-unheard, tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Informasinya telanjur masuk ke telinga dan tersimpan di kepala.

Jadi, daripada aku nyesek sendirian, aku bagikan saja dalam bentuk tulisan. Siapa tahu setelah dikeluarkan begini, raga dan jiwaku jadi sedikit lebih plong. Ehehehe.

Oh iya, berarti aku harus kasih warning dulu, ya!

Kalau tak ingin mengambil resiko terkena paparan negative vibration lebih dalam, jangan diteruskan membaca. Cukup sampai sini. Stop! Skip skip!

Tapi kalau tetap nekat melanjutkan…

Monggo, silakan.

Resiko ditanggung pembaca masing-masing ya!

***

Baiklah.

Inilah beritanya.

YANG PERTAMA adalah tentang kehebohan di salah satu tower apartemen di kawasan tempatku sedang tinggal. Syukurlah, kejadiannya bukan di tower-ku, melainkan di tower lain.

Alhamdulillah, tower tempatku tinggal kebanyakan dihuni oleh keluarga. Lokasinya juga persis sebelahan dengan AEON, sehingga menurutku sangat convenient dan nyaman untuk aktivitas sehari-hari.

Nah, sementara itu, tower yang belakangan heboh letaknya sekitar 500–600 meter dari tempatku. Sebut saja Tower Jervois, Leonie, dan Kensington.

Sudah cukup lama aku mendengar berbagai cerita miring mengenai ketiga tower tersebut, terutama Tower Leonie. Salah satu alasannya mungkin karena unit apartemen di sana rata-rata berukuran kecil, banyak yang tipe studio, sehingga keluarga dengan anak biasanya lebih memilih tower tempatku tinggal.

Penghuni Tower J, K, dan L kabarnya lebih banyak yang masih single, mahasiswa-mahasiswi, karyawan, atau bapack-bapack yang sedang menjalani kehidupan LDM.

Beberapa penghuninya sendiri bahkan sudah lama mengeluhkan kondisi di sana. Katanya, hampir setiap hari ada saja orang-orang bentukan “jamet” keluar masuk, pasangan anak muda yang datang berdua, dan berbagai pemandangan lain yang membuat sebagian penghuni merasa tidak nyaman. Orang-orang ini datang ke apartemen dan menyewa kamar hanya untuk beberapa jam. Tentu saja para penghuni tower tersebut punya prasangka buruk dong. Mereka tak mau juga tower-nya bertransformasi menjadi sebuah brothel.

Btw, aku tak tahu persis apakah arti dari kata JAMET. Istilah itu murni aku dengar dari cerita orang-orang yang tinggal di sana.

Lalu, baru sekitar dua atau tiga hari yang lalu, terjadi sebuah drama di lobby Tower Leonie.

Seorang istri memergoki suaminya keluar dari lift bersama perempuan lain.

Dan…

tentu saja ada yang memvideokan.

Videonya kemudian cukup ramai beredar di Threads. Di sana terlihat sang istri ngamoek, menjambak perempuan yang bersama suaminya, sambil meneriakkan aneka kosakata kebun binatang.

Aku yang melihat videonya cuma bisa terbengong-bengong.

Dulu kalau melihat video beginian di sosmed, rasanya selalu seperti kejadian di dunia lain. Jauh. Tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hariku.

Sekarang…

lha kok lokasinya cuma beberapa ratus meter dari tempatku tinggal.

Plengerrr.

***

Ohya, pernah suatu ketika suamiku penasaran dan ingin membuktikan sendiri isu-isu miring mengenai tower-tower tersebut.

Caranya bagaimana, hayooo?

Plengerrr memang nih suamiku.

Dia men-download aplikasi MiChat.

Sungguh, aku malah baru tahu seperti apa MiChat gara-gara diperlihatkan oleh suamiku. Dasar memang bapack-bapack, tahuuu aja aplikasi beginian, yachhh. Hmmmm.

Di aplikasi itu terlihat daftar panjang profil dengan foto-foto perempuan beserta lokasinya. Semuanya diurutkan berdasarkan jarak yang paling dekat dari posisi kami saat itu.

Dan yappp…

terpampang nyata beberapa profil dengan lokasi sekitar 600 meter dari tempat kami.

Aku langsung mikir,

“Lah, 600 meter?”

Ehehehe.

Ya itu mah kemungkinan besar area Tower J, K, atau L.

Setelah rasa penasaran suamiku terpuaskan, aku pun bertanya dengan sangat santai (atau berusaha terdengar santai)….

“Itu aplikasinya mau di-uninstall, kan?”

Syukurlah jawabannya iya.

Katanya memang murni cuma iseng ingin mengecek apakah cerita yang selama ini beredar tentang tower-tower tersebut ada benarnya atau tidak.

Hmmm.

Baiklah, Bapack.

Aku percaya.

Ahahaha.

Aya-aya wae memang suamiku itu.

***

Lalu datanglah JUICY GOSSIP yang KEDUA.

Dan menurutku, yang ini levelnya lebih…

plengerrrrr.

Ceritanya mengenai dua teman kantor suamiku.

Tahukah, dua-duanya adalah tipe bapack-bapack yang kalau dilihat dari luar sangatlah kebapakan.

Family man.

Pendiam.

Polos.

Isi Instagram pun dipenuhi foto dan video bersama istri serta anak-anaknya.

Pokoknya kalau melihat media sosial mereka, kita akan berpikir,

“Aduhhh, so sweet banget keluarga ini.”

Ternyata oh ternyata….

PLENGERRR juga.

😭😭😭

Bagaikan pepatah, “air tenang menghanyutkan.” Meneng ngglendem ihhh.

Yang membuat ceritanya semakin menggelegar, dua-duanya ternyata sama-sama terpincut oleh perempuan Thailand.

Kebetulan, mereka memang sedang mendapatkan penugasan sebagai ekspat di negara tersebut.

Yang satu, sang istri mulai mencium adanya anomali dan langsung sat-set mengambil tindakan.

Sedangkan pada kasus yang satunya lagi… perempuannya sampai hamil. Ddoeengggg.

Aku sampai bengong.

Plot twist-nya belum selesai.

Yang satu kemudian resign.

Yang satunya lagi dipecat.

Dahlah.

Harusnya dari awal berpegang teguh pada motto klasik:

“Don’t shit where you eat” atuch lah, Bapack-Bapack. 😭

Aku dan suamiku, yang pada dasarnya adalah bestie super ikrib sekaligus partner tetap dalam sesi nggosipin orang, akhirnya cuma saling bertanya:

“Wuahhh… kok dua-duanya Thailand?”

Ada apa dengan perempuan Thailand sampai dua bapack family man nan baik dan polos ini sama-sama terpincut?

Hmmm.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi…

sudahlah.

Sepertinya ini bukan topik yang perlu kami riset lebih mendalam.

Tidak ada manfaat akademisnya pun.

Huhuhuhu.

Mom's Life

Natur E Dulu dan Sekarang

Sebagai pengguna suplemen-suplemen-an sejak dahulu kala, aku selalu berusaha membaca detail benefit dan tentu saja bahan-bahannya.

Saat kecil, aku dikenalkan minum suplemen oleh Eyang Putri-ku. Pokoknya selalu ada saja jenis vitamin yang dikonsumsi Eyang Putri. Aku juga rutin dikasi Eyang Putri setiap hari, yakni Kalzana D, kata Eyang biar tulangku kuat, karena Kalzana D ini kandungannya kalsium dan vitamin D. Waktu itu aku gak membaca tulisan yang tertera di kemasan, aku fully percaya sama Eyang Putri. Di mataku, Eyang Putri paling top dan tahu segalanya mengenai kesehatan.

Aku juga melihat Eyang mengkonsumsi Natur E, tapi waktu itu aku belom pernah merasakannya. Eyang bilang itu untuk perempuan dewasa.

***

Lalu tibalah saat aku sudah kuliah tingkat akhir gitu, pokoknya pas aku sudah mulai sibuk TA. Menginjak semester 7, tampaknya aku lebih memikirkan “dalaman”-ku, jadi aku putuskan untuk memperhatikan asupan yang aku konsumsi. Dan aku teringat dengan Natur-E ini, harganya pun gak mahal.

Seingatku dengan uang bulananku, aku bisa membeli 1 box-nya. Dan aku hanya meminumnya sehari sekali saja.

***

Long story short, aku menjalani kehidupanku, dan bertemu serta berkenalan dengan orang-orang baru.

Ada satu teman baruku yang waktu itu mengajakku makan di Javan Steak, yang waktu itu berlokasi di Jalan Sulanjana. Aku tentu saja mau. Dan ternyata dia bilang dia mau menanyakan sesuatu.

“Uril, kamu minum apa biar jadi cantik gitu?”

Ohya, jangan dikira ini pertanyaan cewek ya, ini cowok yang nanya.

Aku seketika gelagapan dan hampir keselek. Karena pertanyaannya aneh, keluar dari mulut laki-laki. Aku paham kok dia gak feminin dan gak melambai, paham kan maksudku. Bukan yang type gay gitu.

Di sisi lain, aku juga tersanjung…. karena dibilang syantik. Alhamdulillah.

***

Sepertinya dia tahu aku kebingungan, dan dia segera nambahin,

“Kalo gak mau jawab gapapa, Ril.”

Nah disitulah aku mulai mengerti ke mana arah pertanyaannya. Asumsiku, dia punya pacar, dan pengen ngasi info ini.

Dengan kekuatan cahaya yang secepat kilat, aku menjawabnya, “Natur E!“

Aku gak mau gatekeeping ya, dan ternyata kalau di mata orang lain, ikhtiarku minum Natur E ternyata membuahkan hasil, alhamdulillah. Dan aku mau banget lah berbagi info ini karena khasiatnya berarti approved!

Btw apa kabar temanku itu ya? Apakah sekarang dia tetap terus bersama kekasihnya? Ahh yang penting semoga yang terbaik buatnya.

***

Seiring berjalannya waktu, aku tak lagi minum Natur E, nah barusan sekarang aku ingat lagi eksistensi Natur E ini.

Pasca era Kazakhstan, aku hunting suplemen-suplemen yang tepat dan insha Allah bagus buatku. Di Kazakhstan, aku minum yang ada di apotek sana saja.

Karena aku sekarang sudah di Indonesia, aku membaca review-review, cek ricek di marketplace, dan… riset lah intinya.

Akhirnya taadaaa, ditambah berkat memori masa laluku itu, aku menjatuhkan pilihan ke Natur E yang ingredients utamanya adalah vitamin E, buah zaitun, dan glutathione. Uhhh terasa promising untukku.

Regimen suplemenku saat ini adalah:

Pagi setelah sarapan: vitamin D3K2 dan omega 3

Siang setelah makan: Natur E

Malam sebelum tidur: Kinohimitsu collagen

***

Baiklah. Sekian.

Mom's Life · Social Observation

Perbedaan

Di sebuah coffee shop beberapa hari yang lalu:

Aku: “Mas, saya mau ice americano ya, jangan manis ya, Mas, no sugar.”

Mas-mas-nya: “Yang size apa, Kak?”

Aku: “Large ya Mas.” (aku berniat mau belajar jadi harus melek mata ini, perlu banyak asupan kopi)

Mas-mas-nya: “Baik, Kak, atas nama Kak siapa?”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Kakak Nur.”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Teh Nur.”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Umm baik Bu Nur.”

Ingin rasanya ku bilang pada Mas-mas-nya supaya tetap melihat-lihat bagaimana penampakan customer-nya, jangan semua-semua dipanggil “Kakak” atuh. Terutama melihat Mas-mas-nya yang mungkin masih berusia 20an. Jaraknya jauhh beut, bagaikan bude dengan keponakannya.

Itulah yang aku pikirkan ketika aku berinteraksi di Indonesia dengan saudara sebangsa setanah air.

Namun bisa berbeda ceritanya ketika aku berinteraksi dengan teman-temanku di Kazakhstan, pasalnya mereka kebanyakan Gen Z juga, tapi aku tidak keberatan ketika mereka memanggilku dengan namaku langsung “Uril” atau “Nurilla”.

***

Mungkin karena sejak awal konteks budayanya memang berbeda. Cara memandang usia, kedekatan, dan bentuk penghormatan juga tak sama. Sesuatu yang kalau dilakukan di satu budaya terasa terlalu akrab atau kurang sopan, di budaya lain bisa terasa sangat normal.

Begitulah tradisi dan budaya. Kadang bedanya muncul bukan dalam hal-hal besar, tapi dari sesuatu sesederhana satu kata sapaan.

***

***

***

FIN.