Tema tantangan blogging MGN bulan ini adalah “Keputusan Sepele yang Mengubah Hidup”. Lama aku mempertimbangkan, apakah kisah Mamahku ini layak aku ikutkan, dengan resiko akan dibaca oleh semua Mamahs MGN.
Aku ragu, tapi setidaknya aku tuliskan dulu.
***
***
***
Bude sedang tengkurap di kamar sambil membaca buku ketika Mam pamit.
“Mba, aku pulang dulu, ya.”
Menurut cerita Mam, tak ada jawaban.
Waktu itu Mam sedang berkunjung ke rumah Pakde di Bogor. Keadaan ekonomi mereka jauh lebih baik daripada keluarga kami. Pakde bekerja, Bude juga, sementara Mam masih harus memikirkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku, anak pertamanya, masih kuliah dan belum bisa menjadi tempat Mam minta bantuan.
Satu adekku sedang kuliah dan kala itu tinggal menumpang di rumah Pakde. Untuk pulang hari itu, Mam sudah meminjam sedikit uang untuk ongkos perjalanan dari Bogor ke Kediri.
Mam harus pulang karena di Kediri masih ada ketiga adikku yang kecil.
Pakde sedang tidak di rumah. Jadi, setelah berpamitan kepada Bude dan tak mendapat jawaban, Mam mencoba bertanya lagi.
“Mas endak titip apa-apa buat aku, Mbak?”
“Endak.”
Dialog itu, seperti yang diceritakan Mam padaku, kurang lebih hanya begitu.
Mam akhirnya keluar rumah.
***
Di luar, Mam menelpon Pakde dan menanyakan perihal uang yang mau dipinjamkan itu.
Jawaban Pakde mengagetkan.
“Lhooo, uangnya sudah kutitipkan ke istriku.”
Mam menjelaskan bahwa tadi sudah bertanya, tetapi Bude bilang tak ada titipan apa-apa.
“Tunggu ya. Kutelpon dulu.”
Jika saja kejadian ini berhenti sampai di situ, mungkin sekarang aku tak punya cerita untuk dituliskan. Paling-paling ada salah komunikasi, lalu dibereskan lewat telpon. Mam mendapat kejelasan tentang ongkosnya dan melanjutkan perjalanan.
Namun, ketika Pakde kembali menelpon Mam, pembicaraannya sudah di luar nalar.
“Katanya kamu tadi gak pamit!”
“Lhooo aku pamit, Mas.”
Mam menjelaskan lagi kalau Mam sudah mendatangi Bude. Sudah mengatakan mau pulang, sekaligus bertanya tentang titipan Pakde.
Pakde tidak percaya.
“Aku berani bersumpah demi Allah,” kata Mam.
Tetap tak dipercaya.
Dari cerita Mam, Pakde lebih menerima keterangan Bude. Mam dianggap pulang begitu saja tanpa pamit. Sesuatu yang bagi Pakde merupakan sikap tak tahu berterima kasih kepada keluarga yang sudah menerimanya.
Mam yang awalnya sedang meminta bantuan akhirnya sibuk membela diri.
***
Kejadian itu kemudian menjadi pembicaraan keluarga.
Mam pulang tanpa pamit, tidak sopan, dan kurang ajar.
Satu versi cerita beredar, lalu mendapatkan tanggapan dari orang-orang yang tidak berada di rumah itu ketika Mam mengatakan, “Mbak, aku pulang dulu, ya.”
Mam terus mempertahankan keterangannya.
“Aku jelas-jelas pamit lhoo!”
Sebagai anak, aku sulit mendengar bagian ini tanpa ikut kesal. Mama sudah harus menanggung rasa sungkan karena membutuhkan uang. Setelah itu, masih harus berusaha meyakinkan orang bahwa Mam paham adab berpamitan.
Aku percaya kepada Mam. Cerita ini kutuliskan berdasarkan pengalamannya yang disampaikannya padaku. Namun, ada bagian yang tak pernah bisa kuketahui: apa yang didengar, dipikirkan, dan dirasakan Bude.
Kenapa jawabannya bisa menjadi, “Dia gak pamit”?
***
Aku mencoba membayangkan kejadian itu dari sisi Bude. Tentu saja, ini hanya dugaanku. Aku tak pernah mendapatkan penjelasan dari beliau.
Mungkinkan jawaban itu keluar begitu saja ketika Pakde menelpon. Mungkinkah saat itu Bude hanya ingin mengakhiri pembicaraan yang tak nyaman. Mugnkinkah beliau tak sedang membayangkan bahwa keterangannya akan dibawa ke percakapan keluarga, diulang oleh orang lain, dan meninggalkan ke-awkward-an diantara dua saudara kandung selama bertahun-tahun.
Bisa jadi, pada saat mengucapkannya, akibat yang terbayang hanya sejauh percakapan telepon itu.
Selesai menjawab, selesai pula urusannya.
Tetapi rupanya tidak.
Pakde percaya. Lalu tersebar ke mana-mana dan semua keluarga besar mengetahuinya. Lalu ikut menilai Mam. Setiap kali cerita itu diulang, makin banyak orang merasa sudah tahu apa yang terjadi.
Sementara Mam masih keukeuh pada kalimat yang sama: AKU SUDAH PAMIT!
***
Aku sering membayangkan, andai saja keterangan itu diralat pada hari yang sama, apa yang akan terjadi?
“Iya, tadi sudah pamit. Aku salah ngomong keceplosan waktu bilang ke kamu.”
Mungkin akan ada pertengkaran. Mungkin Pakde akan marah dan menanyakan lebih detail, yang tentu saja tak akan terasa nyaman.
***
Namun setelah kisah itu beredar, mengakuinya mungkin terasa jauuuhhh lebih berat.
Karena yang harus dihadapi bukan lagi satu orang.
Ada suami yang sudah telanjur membela. Ada kerabat yang sudah telanjur ngata-ngatain adik iparnya. Ada orang-orang yang, begitu mendengar klarifikasi itu, mungkin akan bertanya, “Jadi selama ini dia benar? Lalu kenapa dibiarkan?”
Menurutku, di situlah seseorang bisa makin sulit keluar dari jawaban yang telanjur diucapkan.
Hari pertama cukup menjelaskan kejadian hari itu. Bertahun-tahun kemudian, Bude juga harus menjelaskan mengapa selama itu tak bilang apa-apa.
Aku tak tahu apakah Bude mengalami pergulatan seperti ini. Namun kemungkinan tersebut membuatku mengerti bagaimana sesuatu yang awalnya tampak kecil bisa terus dibiarkan, karena akibatnya sudah terlalu besar.
Mengakui terasa memalukan dan diam terasa lebih mudah untuk dijalani.
***
Bude berpendidikan tinggi. Beliau doktor di luar negri dan bekerja sebagai peneliti.
Aku menggarisbawahi karena dalam pikiranku, ada nama baik dan penghormatan yang mungkin ikut dipertaruhkan jika beliau harus mengakui bahwa keterangan Mam selama ini benar. Sekali lagi, aku tak tahu apakah itu sungguh menjadi pertimbangan beliau. Gelar dan pekerjaan tidak bisa memberitahuku isi hati seseorang.
Tetapi aku membayangkan betapa beratnya mengoreksi diri di hadapan orang-orang yang selama ini memandang kita sebagai pihak yang lebih layak dipercaya.
Di sisi lain ada Mam, yang datang dengan keadaan serba kekurangan dan membutuhkan bantuan ongkos pulang.
Aku bertanya-tanya apakah keadaan mereka yang berbeda turut mempengaruhi siapa yang lebih mudah dipercaya. Pertanyaan itu tak pernah ada jawaban yang bisa kupastikan. Yang kutahu, pada kejadian ini, penjelasan Mam tidak cukup. Sumpahnya pun tak mengubah apa-apa.
Aku juga tidak hendak menghapus kenyataan bahwa Pakde dan Bude pernah membantu keluarga kami. Adekku pernah tinggal beberapa bulan bersama Pakde dan Bude saat kuliah. Akan kami ingat selalu kebaikan-kebaikan Pakde dan Bude…
***
Tahun-tahun berlalu.
Hubungan Mam dan Pakde menjadi renggang dan canggung. Perkara PAMIT itu tetap tak mendapatkan closure yang Mam harapkan.
Kemudian Bude sakit.
Mam berharap, sebelum terlambat, ada kesempatan bagi beliau untuk meluruskan kejadian tersebut. Mam ingin namanya dibersihkan dari tuduhan itu. Mam ingin hubungan dengan sang kakak tidak terus dibayangi sesuatu yang tak pernah dilakukannya.
Harapan itu masuk akal bagiku. Ada orang-orang yang sudah mendengar bahwa Mam tak tahu diri. Tentu Mam juga ingin mereka mendengar keterangan langsung dari Bude.
Tetapi sampai Bude meninggal, klarifikasi yang Mam tunggu tak pernah datang.
Aku tak tahu apakah Bude masih mengingat kejadian itu dengan cara yang sama seperti Maa. Aku tak tahu apakah Bude pernah ingin membicarakannya, apakah merasa ada yang perlu diperbaiki, atau apakah perkara itu sudah lama tak terlintas dalam pikirannya.
Yang tinggal pada kami adalah cerita Mam dan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa lagi diajukan.
***
“Ya sudah. Kita tunggu saja nanti di sana…” kata Mam.
DI SANA yang dimaksud Mam adalah AKHIRAT.
Kami percaya ada kehidupan setelah kematian dan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama hidup. Bagiku, ucapan Mam itu terdengar seperti kalimat seseorang yang sudah kehabisan cara untuk menjelaskan dirinya di dunia ini.
***
Aku tak pernah tahu apakah Bude menganggap jawabannya hari itu sebagai keputusan besar, mungkin bahkan tak terasa seperti mengambil keputusan apa-apa.
Itulah yang membuat kisah ini terus mengusikku.
Kita bisa mengucapkan sesuatu dalam hitungan detik, sementara orang lain harus hidup lama dengan akibatnya. Apalagi ketika ucapan itu dipercaya banyak orang dan tak pernah dikoreksi.
***
***
***








