Peristiwa masa lampau yang berhasil menyedot perhatianku adalah seklise topik sejarah negeriku: peristiwa Gerakan 30 September 1965 beserta rentetan kejadian mengerikan yang mengikutinya.
Betapa tidak! Aku yang masih polos, mungil, duduk di bangku SD sudah dijejali disuruh Bapak Ibu Guru untuk menonton film G30SPKI di televisi.
Mana jadwalnya selalu malam pula! Jadilah aku menontonnya sambil takut-takut dengan posisi jari-jariku menutupi mataku, hanya berani mengintip sedikit.
Orang tuaku sendiri tidak banyak berkomentar. Mamah biasanya hanya menemaniku menonton sambil tidur di sampingku. “Mam sudah pernah nonton ini juga pas kecil, sudah hapal (jalan ceritanya)….”
Begitulah. Tapi kan aku belom hapal, Mam!
Deritaku tidak berhenti sampai di situ. Seusai menonton, Bapak Ibu Guru meminta para murid untuk menuliskannya juga.
Ohhh, Bapak Ibu Guruku sayang…. Belom cukupkah membuat anak kecil ini traumatis dengan rentetan adegan sadis, dialog absurd yang jahatnya jahat banget itu, serta latar musiknya yang sinister.
Dalam kepolosanku, aku pernah protes dalam hati, kenapa film-film dewasa berlabel 17 tahun ke atas tampaknya tidak se-gore ini? Harusnya aku yang masih SD sudah boleh dong menonton film dewasa, wong aku sudah kuat menonton film PKI (?).
***
Seperti hampir semua teman-temanku dan orang-orang di sekitarku, setelah menonton film itu, aku BENCI sekali dengan PKI. PKI JAHATTTT! Bahkan simbol palu arit pun menimbulkan kengerian tersendiri bagiku.
Aku yang saat itu belum membaca sejarah dari sumber lain dan hanya mengenal PKI melalui film tersebut mengira bahwa palu dan arit merupakan senjata yang digunakan mereka untuk menyakiti siapapun yang tidak sepemikiran dengan mereka.
Aku sama sekali tidak mengetahui bahwa simbol palu dan arit sebenarnya merepresentasikan buruh dan petani, serta menggambarkan equality sosial. Pun tak tahu bahwa PKI pernah menjadi salah satu partai politik terbesar di Indonesia.
Di Pemilu 1955, misalnya, PKI berhasil menempati urutan ke-4 dengan memperoleh jutaan suara. Dan angka itu belum tentu menggambarkan keseluruhan simpatisan dan organisasi yang berafiliasi dengannya.
Artinya, PKI bukan sekumpulan orang jahat yang bergerombol sambil membawa palu dan arit sebagaimana yang kubayangkan waktu kecil. Partai ini pernah menjadi sebuah kekuatan politik besar yang memiliki dukungan nyata di tengah masyarakat Indonesia.
Aku juga baru mengetahui bahwa PKI memiliki hubungan politik yang cukup dekat dengan Bapak Presiden Soekarno yang mengusung gagasan NASAKOM (nasionalisme, agama, dan komunisme).
Dan tentu saja, ini terjadi saat dunia sedang berada dalam ketegangan Perang Dunia. Amerika dan Uni Soviet saling berebut pengaruh. Negara-negara yang baru merdeka, termasuk Indonesia, menjadi arena persaingan kepentingan geopolitik.
Keberadaan PKI yang begitu besar di Indonesia jelas menjadi perhatian serius Amerika.
***
Dari berbagai bacaan sejarah, aku lalu mengetahui juga bahwa Amerika melalui CIA-nya sudah melakukan berbagai upaya untuk membatasi pengaruh komunisme di Indonesia sejak tahun 1950an. Termasuk menggelontorkan dana pada kekuatan politik antikomunis menjelang Pemilu 1955 sebesar jutaan dollar.
Sungguh, ternyata persoalannya lebih rumit dari yang dulu kutonton di TV. Tidak sesederhana membagi semua orang menjadi kelompok hitam dan putih, baik dan jahat.
Gestapu memang melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap 7 jendral Angkatan Darat. Itu peristiwa nyata yang tidak bisa dihapuskan. Tetapi siapa saja yang merencanakan gerakan tersebut, sejauh mana keterlibatan PKI, serta bagaimana peristiwa itu kemudian dimanfaatkan untuk menghancurkan sebuah kekuatan politik secara luas, merupakan persoalan sejarah yang jauh lebih kompleks.
Dan yang tak kalah penting, kenapa begitu banyak orang yang tidak terlibat langsung dalam Gestapu harus ikut menanggung akibat yang begitu mengerikan?
***
Tentu saja aku tidak menganggap PKI sebagai organisasi yang suci dan flawless. Mereka terlibat dalam berbagai konflik yang keras dengan kelompok-kelompok lain. Sejarah hubungan antar kelompok politik dan ideologi di Indonesia saat itu kerap huru-hara.
Namun menurutku mengakui adanya kesalahan yang dilakukan sebagian pihak bukan berarti kita boleh membenarkan penghukuman terhadap semua orang yang memiliki afiliasi, hubungan keluarga, atau sebatas simpatisan.
Narasi sejarah dapat menjadi “kebenaran” kala disampaikan terus-menerus, ditambah hanya satu versi saja yang mendapatkan ruang untuk bercerita.
***
Ketertarikanku atas peran CIA semakin besar setelah aku membaca beberapa tulisan mengenai polah mereka di negara lain. Metodenya terpampang nyata di serial “HOMELAND” (Netflix) dan “LIONESS” (Amazon Prime).
Dari serial itu, terlihat bagaimana CIA menjalankan misinya. Mereka mampu mempengaruhi kebijakan negara, mendekati tokoh-tokoh penting, mengumpulkan informasi rahasia, dan menggunakan kelemahan seseorang sebagai leverage untuk mencapai goal-nya. Taktik yang linear, diplomatis, dan kelihatannya biasa-biasa saja, sampai jalan yang manipulatif dan keji, bahkan sering ada orang yang tak bersalah ikut menjadi korban.
Manusia-manusia di dunia intelijen ini otaknya terbuat dari apa ya? Dan apakah juga nuraninya tetap dipakai?
***
Di balik cerdas cerdik licik lihai dan plengernya CIA, mereka ternyata punya aturan yang “bener” yakni membuka ke publik segala sepak terjang yang dilakukan 50 tahun sebelumnya.
Salah satunya adalah pembukaan arsip Kedubes AS di Jakarta pada 2017, yang mencakup puluhan ribu halaman dokumen dari periode 1964-1968. Arsip itu menunjukkan bahwa pemerintah Amerika tahu tentang pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dituduh berafiliasi dengan PKI, dan mendukung usaha penghancuran gerakan kiri di Indonesia.
***
Namun file itu hanya bercerita tentang para pejabat dan negara, bukan tentang orang-orang biasa di sekitarku. Ada satu hal yang membuatku semakin penasaran: kenapa keluargaku hampir tak pernah membicarakan 1965?
Aku ingat, waktu kecil kami menonton berita jam 7 malam bersama Eyang Kakong, Eyang Putri, dan Papah. Papah tiba-tiba menggerutu tentang kabinet Presiden Soeharto. Mendadak Eyang Putri mengangkat telunjuk ke bibir.
“Sssstttt…”
Baru setelah besar aku paham bahwa kritik politik pada masa Orba bisa memunculkan rasa takut, bahkan kabarnya ada orang yang hilang karenanya. Aku tak tahu apa yang dipikirkan Eyang malam itu namun isyarat itu terekam dalam ingatanku.
Rasa penasaran itu terus kubawa hingga dewasa. Ketika kuliah di ITB, saat sedang bertelepon dengan Mamah, iseng aku bertanya tentang Kediri pada 1965. Tak kusangka, Mamah punya cerita.
Pasca G30S, sejumlah warga bersatu dalam kelompok antikomunis, termasuk unsur Banser, dan ikut melakukan “pembersihan” terhadap orang-orang yang diduga PKI. Kediri dipenuhi darah. Situasinya mencekam. Ketukan pintu saja bisa membuat orang ketakutan.
“Orang itu PKI.”
“Bapak di ujung jalan itu PKI.”
Bayangkan jika tuduhan semacam itu dipercaya begitu saja, tanpa crosscheck. Apakah orang tersebut benar-benar terlibat? Atau hanya difitnah karena permusuhan pribadi? Dalam suasana yang chaos dan mencekam, siapa yang sempat menyelidiki kebenarannya?
Mamah lalu bercerita tentang seorang tetangga yang ikut dalam operasi itu, di mana sesudahnya orang itu mengalami gangguan jiwa, tangan kanannya keple, lemah tak berfungsi, dan kesehariannya kerap berbicara sendiri.
Aku tidak tahu apakah kondisinya berhubungan dengan pengalamannya dulu. Apa yang dia lihat dan lakukan? Atau ada sebab kesehatan lain? Mamah berhenti sampai di situ, entah karena tak tahu cerita lengkapnya atau tak nyaman melanjutkan. Aku pun tidak bertanya lebih mendalam.
***
Cerita Mamah membuatku ingin memahami lebih dalam tempat peristiwa itu terjadi. Kediri, kota kelahiranku, pernah menjadi salah satu wilayah dengan basis PKI yang besar sekaligus pengaruh organisasi Islam yang kuat. Ketegangan politik sebelum 1965 meninggalkan jejak mendalam ketika kekerasan merebak.
Lalu aku mulai membayangkan seperti apa hari-hari keluargaku saat itu.
Pada 1965, Mamah baru berusia 2 tahun. Aku membayangkan Kakek dan Nenekku menjaga 6 anak yang masih kecil-kecil, dengan Pakde si sulung, mungkin baru 10 tahun.
Apa yang mereka lakukan ketika situasi di luar rumah begitu tak menentu? Apakah anak-anak dilarang bermain? Apakah pintu dikunci lebih awal? Apakah makanan harus disimpan? Apakah tetangga masih bisa mengobrol santai, atau semua memilih diam karena tak tahu siapa yang dapat dipercaya?
Di rumah lain berjarak 3 km dari rumah Mamah kala itu, ada Papah yang masih bayi. Papah adalah si bungsu berusia 1 tahun, tinggal bersama kedua orang tua dan kelima kakaknya. Aku membayangkan Eyang Putri menggendong Papah, sementara Eyang Kakong memikirkan keselamatan keluarga.
Apakah pasar tetap buka? Apakah ada jam malam? Apakah orang harus berhati-hati dalam berpakaian, memilih warna, atau menjaga ekspresi wajah? Jangan-jangan tersenyum dianggap mencurigakan, cemberut pun salah!
Pikiranku juga melayang ke TK PERBA —yang berkat kiprah Mamahku sayangku alhamdulillah masih berdiri hingga kini—
Aku mengepoin nasibnya di tahun itu. PERBA singkatan dari Perumahan Rakyat Barat, berdiri pada 1964. Sekolah ini lahir dari ide para MahMud (Mamah Muda) yang membutuhkan tempat belajar bagi anak-anak balita mereka.
Hanya setahun setelah berdiri, pergolakan politik meledak. Apakah sekolahnya sempat tutup? Berapa lama? Bagaimana nasib guru, murid, dan para Mamah yang dulu begitu bersemangat membangunnya? Apakah kegiatan belajar langsung berjalan kembali setelah suasana lebih aman?
***
Kecuali ada teknologi time traveller, semua pertanyaan itu mungkin tak akan terjawab, tetapi ada satu hal yang bisa kusyukuri. Alhamdulillah, kakek dan nenekku, baik dari keluarga Mamah maupun Papah, berhasil melewati masa-masa itu dengan selamat.
Dalam ingatanku semasa kecil, para eyangku cenderung pendiam, berhati-hati, dan tidak neko-neko.
Mungkin sikap seperti itu membantu mereka menjalani masa penuh ketidakpastian. Wallahu alam bishawab.
***
***
***
Tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober dengan Mamah Host Ilma.


