38 (+4) Things About Bu Sri, yang juga Seorang Mamah Gajah

Tetapi, santuyyy, kesampingkan pikiran itu, karena saya cukup yakin banyak yang berpikiran sama dengan saya. Menurut saya ketika ada orang yang menceritakan dirinya sendiri melalui tulisan, BERMANFAAT sekali.

Pengetahuan ini membuat saya makin menyadari bahwa MANUSIA, meskipun sama-sama memiliki dua kelenjar keringat: eccrine dan apocrine, ternyata sangat beragam. Dari segi karakter dan perilaku, keunikan, dan hal-hal mengejutkan lainnya yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bahkan bukan tidak mungkin saya bisa mendapatkan insight, wisdom, dan ilham. All those will lead to the increase in my amazement to The One and Only Our Creator.

Banner baru Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan nuansa vintage dusty rose.

AKU, SAYA, DIRIKU

Saya sempat keder dan sengaja meluangkan moment of silence waktu untuk kontemplasi mengenai bagian apa yang harus saya tuliskan mengenai diri saya sendiri. Tentunya saya harus mengemukakannya dengan seimbang dan hati-hati, tidak terlalu memuji maupun merendahkan diri.

  1. Nama saya Sri Nurilla Fazari. Kata ‘SRI’ ditambahkan oleh Eyang Putri yang diambil dari nama Ibu Bidan yang membantu persalinan Mamah dan berhasil ‘mengantarkan’ baby Uril ke dunia. Terima kasih, Bu Sri, it’s an honor.
  2. Anak pertama dari 5 bersaudara. Adalah suatu mukjizat Papah dan Mamah dikaruniai 5 orang anak mengingat Papah memiliki suatu kondisi yang secara science, kemungkinannya kecil untuk memiliki keturunan. Gusti Allah Maha Berkehendak.
  3. Perempuan berdarah Jawa yang mempunyai warna rambut coklat kehitaman dan bukan hitam (saja). Tidak jarang setiap ke salon, banyak yang menanyakan warna cat rambutnya apa. “Asli Mba, dari Gusti Allah.”
  4. Membosankan. (?)
  5. Pecinta legging.
  6. Sudah 5 tahun ‘setia’ dengan gelas yang sama. ‘My soulmate’ ini tidak pernah saya cuci dengan sabun, hanya saya bilas dengan air panas. Jangan coba-coba mencucinya. Jangan juga coba-coba memakainya, ehehe. Eh tapi di rumah, memang tidak ada yang mau memakainya sih, karena tampilannya gross, wkwkw. I realized I got this from Papah. Saya jadi paham kenapa dulu saat gelasnya saya cuci karena gemas dengan kerak-keraknya yang nempel, beliau malah marah. Well, good deed sometimes is not accepted as a kind gesture. (Gambar 1)
Gambar 1. ‘My love’, we’ll be together for more years to come. (dokumen pribadi)
  1. Sampai detik ini, di hippocampus saya masih tersimpan momen Papah memarahi saya puluhan tahun yang lalu. Unforgettable event. Ceritanya, Mamah saya sangat senang dicabutin bulu ketiaknya, bergantian oleh kelima anaknya. Sampai merem melek gitu lah pokoknya saking enaknya. Dari situ, saya mengira dicabuti bulu ketiak adalah hal yang membuat orang senang. Siang itu saya melihat Papah sedang tidur dengan lengan terbentang ke atas. Saya merasa kasihan sekali karena bulu ketiaknya lebat. Namanya anak kecil dan berniat ingin menyenangkan ayahnya, saya inisiatif mencabut bulunya. Dan ternyata reaksinya tidak sesuai harapan. Yang pasti wajahnya SERAM.
  2. Gak suka hewan peliharaanNeither dog lover nor cat lover.
  3. A ‘routine’ person. Jika ada hit man atau creepy folk yang ngincer, mudah nih ditargetnya. Ehehe.
  4. Memiliki kelainan kulit yang berupa autoimun, yang diperoleh saat stres berat menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri dan super ngebet banget pingin masuk ITB. Waktu itu kepikiraaaan teruuus. Dan, tadaaa, ‘si dia’ muncul di betis deh ehehe.
  5. Kalau ada lomba “DIAM dengan durasi terlama”, dijamin saya bisa MENANG. Perks of being introverted person yang suka kikuk dan gelisah kalau ngobrol.
  6. Dikaruniai seorang anak yang rambutnya kribo curly coily seperti John Legend, Drake, dan banyak cowok ganteng lainnya ehehe.. Alhamdulillah. (Gambar 2)
Gambar 2. His hair has always been a spotlight since he was a baby, attracts (almost) anyone’s attention. (dokumen pribadi)
  1. Hari libur yang paling tidak saya sukai adalah hari raya Idul Fitri. Saya ingiiin sekali menikmati masa-masa sesudah puasa Ramadhan dalam kesendirian dan bukan dalam hingar bingar bertemu dengan banyak orang.
  2. Orang yang retro futuristik. Feel free to define it.
  3. Tiada hari tanpa HULAHOPAN. (Gambar 3)
Gambar 3. My so-called ‘cardio-weapon’. HULAHOOP. (dokumen pribadi)
  1. Safety first. Well, you’ll never be too careful.
  2. Selalu menyempatkan tidur siang selama 30 menit, yang saya sebut sebagai beauty sleep. Selain karena memang ngantuk juga sih. Mungkin karena faktor U, ihihiyy.
  3. Tidak tertarik untuk ikut menonton sinetron yang sedang viral, Layangan Putus.
  4. Sampai detik ini masih memakai pembalut biasa. Maaf ya Bumi, untuk kasus ini, saya belum bisa beralih ke produk green, eco-friendly, sustainable, dan teman-temannya.
  5. Malas memasak. Apalagi ketika semua menu menggoda ada di dalam genggaman.
  6. Paling suka dipijat wajah dan kepalanya.
  7. Plumeria rubra dan Rosa gallica menjadi ‘bagian dari tubuh saya’.
  8. Pernah mengalami masa di mana suka sekali memakai baju warna merah from head to toe. Yaikkk.
  9. Tidak suka Indomie. Adakah yang begini juga? Ehehe.
  10. SELALU membawa kain lebar setiap kali mau tidur di hotel. Bahkan di hotel bintang 5 sekalipun. Saya tidak bisa tidur tenang kalau tidur di kasur hotel yang tidak dialasi kain yang dibawa dari rumah. Pernah mengamati ketika Mas-mas dan Mba-mba forensik di serial CSI dan Criminal Minds? Mereka memakai kacamata goggle, yang melaluinya bisa melihat ‘noda-noda’ warna biru di seantero ruangan. Padahal dengan mata telanjang, tempatnya bersih dan kinclong. Nama alatnya adalah Blue Forensic Light. Nah, ‘noda-noda’ tersebut adalah beragam jenis fluid (cairan tubuh), berbagai germs, maupun zat-zat yang ‘berbau’ organik lainnya. Membayangkannya,… eh tunggu, saya tidak mau bayangin. Ehehehe.
  11. Tidak bisa travel spontan dan travel lighter. Harus ada itinerary dan sulit untuk mengurangi barang bawaan. Perilaku saya yang ini seringkali membuat Pak Suami kesal, wkwk, maaf ya Papito.
  12. Memiliki sisir istimewa Mason Pearson. –Info endak penting– (Gambar 4)
Gambar 4. Sisir Mason Pearson favorit sejak 2014 yang kalah pamor dengan jari (dokumen pribadi)
  1. Tim nyisir rambut pake jari. Despite punya hairbrush spesial.
  2. Tim bubur tidak diaduk. Siapa yang satu tim dengan saya? Ehehehe.
  3. Embrace the unexpected. Sedang ingin makan pisang goreng, tetapi yang jualan tutup, ya sudah gapapa jajan yang lain saja. Ketinggalan pesawat, tenang, marah-marah tidak ada gunanya, yang penting lain kali jangan kelamaan mandinya. Mungkin karena faktor U juga sih, Uril-remaja masih sulit nerimo hal yang tidak sesuai rencana. Apalagi jaman ujian masuk PTN, selalu MINTA HARUS KE ITB, bukannya MINTA YANG TERBAIK, doanya maksa banget ke Gusti Allah. Kebayang jika saya tidak diterima di ITB, ummm.. ahh saya gak mau mbayangin.
  4. Rules are made to be obeyed. Ini juga mungkin karena faktor U, setelah dulu melalui fase rebel dan merasa sok yes membawa tagline “rules are made to be broken“.
  5. Tidak marah dan berprasangka buruk ketika Pak Suami membelikan bra yang salah ukuran. Terutama ketika beliau menganggap TB saya 10 cm lebih tinggi dari aslinya; BB saya 20 kg lebih berat dari aslinya; dan ukuran baju 2 nomer lebih besar dari yang seharusnya. Misalkan orang seperti beliau menjadi saksi pelaku kejahatan, yang harus memberi deskripsi ukuran badan ke Pak Polisi; fix saya kasihan ke Pak Polisi-nya.
  6. Selalu kagum dengan seseorang yang values themselves, yang tidak malu menjadi dirinya sendiri dan tahu apa yang diinginkan. Respect!
  7. Pernah hobby berburu baju thrifted di Gedebage. Dulu bagus-bagus ya koleksinya, sekarang ummm not so
  8. Memiliki default wajah yang merupakan opposite dari Resting B*tch Face. Menurut Pak Suami, wajah saya adalah target mudah untuk dikerjain orang. Beliau kerapkali menyarankan agar saya belajar memasang tampang judes dan sangar, wkwkwk. Yahhh, kagak bisa-bisa euy, susah.
  9. Tougher than how I look. Meskipun wajahnya tampak too-nice, tetapi di situasi tertentu, surely I could be fierce.
  10. Antimainstream. Tidak suka join the crowd dan tidak mengikuti titah peer pressure.
  11. Menilai TEH TALUA sebagai minuman terenak sedunia. Pertama kali mencoba Teh Talua atau teh dicampur telur ini saat tinggal di Duri, Riau. Walaah langsung jatuh cinta, enaak, gak kalah lho dengan minuman kekinian. (Gambar 5)
Gambar 5. Syukurlah di BSD ada yang menyediakan TEH TALUA, di tempat makan khusus masakan Aceh, Lampoh Coffee.
Markiput, mari kita srupuut (dokumen pribadi)
  1. Selalu jaim dan dressed-up kemanapun perginya, even hanya ke Indomaret atau pasar. Because you’ll never know.
  2. Tidak punya sepatu high heels yang lancip. Padahal dulu doyan pisan euy, eh setelah jadi seorang Mamah, malah sukanya sneakers.
  3. Memakai anting-anting yang sama sejak jaman SD, yang merupakan pemberian dari Nenek. Kata Nenek, anting-anting ini dimiliki sejak beliau berusia 17 tahun. Wow, berarti umur anting ini sudah 70 tahun lebih! (Gambar 6)
Gambar 6. My 70ish year-old heirloom earrings (dokumen pribadi)
  1. Tim ibu-ibu yang invest ke skin care. Makeup yang dipunyai hanya lipstick, itu pun rarely used.

Hoahhmmm *nguap. Ngantuk endak baca hal-hal ‘keAKUan” begitu? Ehehe. Akhirnya selesai sudah nge-list 38 (+4) seluk beluk seorang Bu Sri. Btw, adakah yang tahu kenapa saya menuliskan 38 (+4) instead of 42? 😀

Somehow menorehkan ‘kayak apa saya’ ini jogs my memory dan membuat saya makin mengerti bahwa at some points, people could change. Yahh, berharap semoga perubahannya untuk yang terbaik. Puji syukur alhamdulillah menjadi Mamah Gajah dan mengikuti komunitasnya memberi pengaruh yang positif dan penuh manfaat.


Aku dan Mamah Gajah

Mamah Gajah di Mataku

Btw, MAMAH GAJAH? Pertama kali saya mengetahui istilah ini di akhir tahun 2019, saat saya baru mempunyai akun media sosial Instagram. Akun Instagram “Mamah Gajah Berlari” caught my attention. “Owalaah ternyata ada ya sebutan buat ibu-ibu alumni kampus gajah duduk..,” pikir saya. Thumbs up buat para founding fathers-nya yang telah mempersatukan kami yang sudah tersebar di berbagai belahan dunia. 🙂

Adanya komunitas Mamah Gajah di semua bidang ini mengundang takjub dari civitas akademika lain lho: adik ipar saya yang dari IPB, sepupu saya yang dari UI, teman saya yang lulusan Unpad.

Selain itu, para Mamah Gajah yang saya kenal dan saya tahu; orangnya sederhana, rendah hati, dan restless untuk berkarya. Masya Allah. Tentunya saya bangga menjadi bagian dari Mamah Gajah.

Episode Immature dengan ‘ke-ITB-annya’

Speaking of BANGGA, rasa tersebut sudah tertanam sejak saya berhasil memasuki kampus impian ini, Institut Teknologi Bandung. Pastinya bukan BANGGA yang sampai level chauvinist ya ehehe.

Tetapi memang saya pernah melalui beberapa tahap ‘SOK YESS‘, di mana saya (tanpa sadar) show-off dan merasa ‘lebih’. Seperti: rajin menjadi kutu loncat, dengan dalih tempat saya bekerja tidak ada lulusan ITB-nya. Saya merasa tidak belong to those places, sehingga membuat saya rutin job hunting. Begitu saja siklusnya: diterima –> masuk –> merasa bukan tempatnya –> resign.

Astaghfirullah. Ahh, mungkin jika kala itu saya stick di salah satu kantor tersebut, sekarang posisi saya sudah di level middle-to-top management meureun ya, wkwkwk. Sudah dipanggil LadyBoss gitu ihihihiiy. *salah sendiri songong gak jelas, sukuriiin!!

‘Karir’ Terakhir yang Menuai Pro Kontra

Setelah beberapa tahun ‘berkarir’ menjadi kutu loncat, di usia 25 tahun saya insyaf. Saya bertekad untuk tekun dan loyal menjalankan pekerjaan yang akan saya terima selanjutnya. Ealaaah, ternyata di usia tersebut saya dilamar dan menikah, dan saya tidak diizinkan bekerja oleh Pak Suami, wkwkwkwk. Ya sudah, eversince, saya menjadi Ibu Rumah Tangga saja.

Sesuai dugaan, tidak jarang saya mendapat pernyataan dan pertanyaan yang membuat goyah:

  1. Ngapain tinggi-tinggi sekolah ngetop kalo ujung-ujungnya cuma di rumah saja?”
  2. “Sia-sia perjuanganmu, Ril. Sudah capekcapek jadi mahasiswi miskin yang ngirit, lari-lari nyari beasiswa, ngajar privat anak SMP, pernah gak makan seminggu saat kuliah dulu. Ehh tibakno ijazahnya tidak kepakai..”
  3. Gak pingin nyenengin Mamah Papahmu ta? Apalagi adik-adikmu masih butuh banyak biaya dan juga ingin kuliah..”

Semuanya saya terima dengan senyuman dan satu kata ehehehe. Saya sudah punya jawaban atas semuanya (namun sengaja tidak saya kemukakan kepada mereka):

  1. “Walaupun #dirumahsaja bukan berarti saya tidak menerapkan ilmu yang saya peroleh selama saya berkuliah. Pola pikir yang terbentuk; kemampuan menghadapi problema dari pelajaran Metodologi Penelitian; pengetahuan Kalkulus, Fisika, Kimia, yang bisa saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, dan bisa menjadi guru privat untuk anak saya; dan still counting….”
  2. Ohh tentu tidak sia-sia. All those hardships have shaped me into someone stronger who’s able to endure any kinds of difficult time. Alhamdulillah. Di balik kesulitan, ada kebahagiaan. Empat tahun terberat sekaligus terindah…”
  3. “Selain sebagai komitmen saya dengan oath yang sudah saya ucap untuk teguh dalam menjalani apapun pekerjaan yang akan saya terima, which is, ternyata pekerjaan tersebut adalah sebagai istri; Mamah Papah mendorong saya untuk mematuhi permintaan Pak Suami. Alhamdulillah dengan gaji bulanan yang saya terima dari Pak Suami, saya tetap bisa membantu sebagian keperluan orangtua dan adik-adik. Not to mention, saya sudah tahu jalan untuk nyari beasiswa tempat tinggal, kebutuhan hidup, SPP; jadi saya tinggal memberi pengarahan ke adik-adik saya yang meneruskan kuliah di ITB. Gusti Allah Maha Pemberi Rezeki.”

Sepertinya saya tidak sendiri ya menghadapi penilaian semacam ini. Saya yakin pasti ada deh, banyak malah, para Mamah Gajah yang ketemu orang dengan komentar senada ketika memutuskan untuk menjadi Ibu Rumah Tangga. Santuyyy dan tetap semangat!

In Harmonia Progressio

Apapun profesi kita, di mana pun kita berada, sampai kapan pun; titel Mamah Gajah akan selalu melekat di sanubari. Mari, Mah, terus maju dalam kerukunan dan menjaga kebersamaan dalam keberanekaragaman. *proud Mamah Gajah

Salam Ganesha!

Bakti Kami Untukmu Tuhan, Bangsa, dan Almamater

Oath (yang tetap berlaku bagi) Mamah Gajah



MATAHARI-MATAHARIAN

Kediri, 17 November 1986

Yudi: “Trims ya, sudah mau kuajak makan malam dan jalan-jalan di Jalan Dhoho.”

Tini: “Sama-sama, Yud. Sini duduk dulu, ngobrol dulu. Jangan langsung pulang,” Tini sengaja mengeluarkan suara manjanya.

Mereka berdua duduk di teras depan rumah Tini. Ajakan Tini membuat wajah Yudi berseri-seri.

Yudi: “Bener gakpapa nih Tini?” sambil melongok ke dalam rumah dengan wajah tegang, khawatir wajah Ayah Tini nongol.

Tini: “Wes, Yud, jangan nengok-nengok ke dalam rumah. Nanti malah Bapak Ibu penasaran sama kita dan ngintip-ngintip. Kita fokus saja dengan kita berdua,” sambil berbisik dan tangannya meraih punggung tangan Yudi.

Yudi terkejut sekaligus kesengsem berat mengetahui Tini ingin memegang tangannya. Kemudian, dibalasnya sentuhan tangan Tini dan menggenggamnya.

Yudi: “Ini sudah ketiga kalinya saya apel wakuncaran sama sampeyan, Tini. Kita sudah hampir 1 bulan jadian ya.”

Tini: “Iya Yud, gak nyangka ya. Dulu aku tuh lihat kamu, kayak yang biasa weh gitu. Eh sekarang, hanya kamu yang bisa bikin aku dag dig dug serr setiap mau ke sekolah, ihihiiiyy..”

Yudi: “Sama, Tin. Dulu menurutku Bunga anak IPS 3 itu yang paling cantik, ternyata sekarang kamu, Tin.”

Tini: “Bunga? Bunga Kembang Kempis? Yang rambutnya dijambul? Yang niatnya biar mirip Farah Fawcett tapi malah kayak kain pel itu ya?” dengan cepat Tini melepaskan tangannya dari genggaman Yudi dan berbicara dengan nada tinggi yang disertai muka masam.

Yudi: “Aku gak inget gaya rambutnya, Tin. Kan kamu sudah mengalihkan duniaku, Tin. Mau rambut dia kayak kain pel, kayak sapu ijuk, ya aku gak peduli. Nyapo yoan tak pikirne??”

Tini: “Beneran nih? Kamu dulu pas kenal Bunga, belum pernah lihat aku?”

Yudi: “Aku gak kenal Bunga, Tin. Cuma tahu aja namanya. Pas pertama kali penerimaan siswa SMADA, pas inaugurasi di aula, aku lihat tuh kayak ada cewek uayuuu eram. Nah dari situ aku jadi tahu namanya, Bunga. Anak-anak juga suka pada ngomongin dia.”

Tini: “Nyapo kok aku malah merasa jawaban kamu barusan, membuatku jadi lebih gak tenang ya. Hhhhh. Padahal aku dulu sekelas sama Bunga pas kelas 1 lho! Brati kamu hanya fokus ke Bunga dong ya. Kamu gak lihat aku sama sekali??!!!”

Yudi: “Lho, lho, piye to?? Kok jadi mbahas Bunga sih, Tin?

Tini: “Kan kamu yang ngeduluin. Bawa-bawa nama dia saat kita sedang gayeng-gayengan.”

Yudi: “Owalaah, maaf, maaf ya Tin. Aku maleh merusak suasana ya. Maaf Tin. Tadi aku gak niat nginget-nginget Bunga. Cuman intinya, setelah aku lihat kamu, Bunga kuwi terlihat hanya seperti remah-remah rengginang yang ada di dalam blek biskuit Khong Guan. Aku gak sadar ada yang lebih sipp dari dia. Bandingannya mirip kayak aku yang pernah gak sadar kalau ada yang lebih cantik dari Madonna, yaitu Demi Moore. Sampeyan seng Demi Moore, Bunga seng Madonna.”

Tini: “Madonna yo luweh ayuuu seksi timbang Demi Moore, Yud!!”

Yudi: “Di mataku Demi Moore tetap yang lebih cantik, Tin,” Yudi tampak gelagapan ketika menjawab perkataan Tini.

Yudi: “Sudah, Tin. Pokoke, saiki, di mataku, kamu yang paling uayuuu sak sekolahan! Titik! Ojo diteruskan eneh. Kita ngobrol yang lain saja yok!”

Tini: “Ohhh yowes lah, yok kita lupakan saja masalah Bunga ini. Eh sudah mau jam 9. Bapak Ibu hanya membolehkan sampeyan sampek jam segini aja, Yud,” ekspresi wajah Tini kembali menjinak dan enak dipandang.

Yudi: “Ampun kok cepat amat waktu berlalu. Ujug-ujug sudah hampir jam 9 ya. Tuh kan, kalau sama kamu, suka gak ngerasa kalau waktunya sudah lama. Ummm.. ummmm.. anuu.. Eh Tini, aku mau minta sesuatu. Boleh gak?” dengan gugup dan terbata-bata Yudi ingin mengutarakan suatu permintaan.

Tini: “Ya Allah dari tadi aku gak nyediain minum ya, Yud. Tunggu, Yud, kuambilin minum dulu ya!” segera beranjak dari kursi.

Yudi: “Eh eh bukan, Tin!” Yudi menyahut dengan cepat dan menahan Tini untuk tidak pergi masuk ke dalam rumah.

Tini: “Lalu apa, Yud?”

Yudi: “Ummm aku mau minta…. ummm minta MATAHARI.”

Tini: “Yudiiii, jangan aneh-aneh lah mintanya. Piye caraku ngasih kamu matahari? NASA saja baru tahu keberadaan UFO sama ET. Dan manusia baru bisa mendarat di bulan. Kalo matahari, piye Yud. Itu kan puanaaass banget sampe ribuan derajat! Ojo aneh-aneh!”

Yudi: “Tunggu, tunggu, Tini, tolong mandheg dulu sebentar! Aku nemuin kamu buat seneng-seneng sama kamu, bukan untuk mau pusing-pusing belajar IPA! Jadi yang aku maksud itu, aku pingin dikasi bahasa Inggrisnya Matahari sama kamu, Tin.”

Tini: “Bahasa Inggrisnya Matahari? Apa to, Yud? Aku tuh paling gak suka sama pelajaran Bahasa Inggris. Meskipun film favoritku itu film enggres, MACGYVER. Tapi aku gak iso bahasanya. Tanya aja Bu Endah, pasti inget aku, soalnya setiap kali ditanya, SELALU gak bisa jawab,” Tini menjelaskannya dengan panjang lebar dan berapi-api.

Yudi: “Aduh, ummm ummm…,” Yudi tepok jidat garuk-garuk pale.

Tini: “Aku jadi penasaran, Yud, sama teka tekimu. Aku tanya Bapak dulu ya! Mungkin Bapak tahu,” secepat kilat Tini lari masuk ke dalam rumah hingga membuat Yudi tak mampu mencegahnya.

Yudi: “Ehh ehh Tin Tin Tiniii…,” wajahnya berkeringat mulai panik.

Beberapa saat kemudian, Tini muncul bersama ayahnya.

Ayah Tini: “Bahasa Inggrisnya Matahari itu SUN. Kenapa ya? Ini sudah jam 9 lebih, Tini sudah waktunya istirahat. Nak Yudi segera pulang saja,” wajah Ayah Tini terlihat tidak bersahabat.

Yudi: “Ii.. ii. Iya, Pak. Baik, Tini, aku pulang dulu,” keringat Yudi mengucur makin deras dan dadanya makin berdegup kencang. Satu kata, TAKUT, sama Ayah Tini.

Tini: “Yudi, aku sudah paham maksudmu!” tiba-tiba Tini, dengan wajah sumringah, menyahut di tengah situasi yang tidak diharapkan ini.

Ayah Tini: “Sudah, sudah! Belum waktunya kalian MATAHARI-MATAHARIAN! Pulang pulang! Tini, sana tidur!”

Ketika Ibu Mertua Berkunjung

Mau membaca kindle The Craft, sejarah Freemasonry. Terakhir sudah halaman 25. Sudah makin instens nih, ada kisah John Coustos dan teman-temannya yang disekap dan disiksa oleh pihak gereja di Lisbon ibukota Portugis, agar mau spill segala hal yang ada dalam perkumpulan penuh rahasia tersebut. Peralatan siksaan yang disediakan bikin merinding dan tidak berani membayangkan agony yang dirasakan mereka. Hiks. Okay, siapppp pasang timer 40 menit. Teknik pomodoro mode ON.

Suara dari belakang muncul, “Tadi malam, Mama mimpi didatengin Bapak sama Embah. Semalaman kan Mama tawasulan, malam jumat kliwon.” Makin mendekat dan duduk di kursi sebelah.

*tutup Kindle, matiin timer


Waktunya Duolingo-Spanish dulu, como estas, Duo. Ayer yo ya aprendi Past Present Continuous dan ‘going to’ . Pasang timer 30 menit. “Ellos van a rompar la lampara de la sala. Ella estaba triste excepto mi hermana. Juan y Sofia estaban felizes de estar con sus nietos. Bla bla bla bla bla.

Tetiba ada suara yang muncul dan makin mendekat. Sambil mengambil posisi di sebelah, “Genjernya kemaren seger-seger, Ril. Oncomnya juga merah. Gak kayak yang waktu itu kita makan di Lembang itu ya, tempatnya aja lek (–lux–), rasanya bikin Mama perutnya eneg, oncomnya padet-padet, ngrowol, ujhnlkvcsjhojfldhhdjuiojfhodo**&())%%$##Oihh…”

*mematikan Duolingo-Spanish. Gak jadi.


Ohya, mau nyicil nulis dulu ah. TENTANG DIRIMU, MAMAH GAJAH. Ahaa, aku mau nge-list 38 saja, biar sesuai dengan usiaku ihihihiyy. “Tema tantangan bulan ini cukup tricky……. Kuliah penuh perjuangan, songong saat mencari pekerjaan…… bla bla bla.”

Terdengar suara di samping kiri, “Ibu depan masih jualan telur ya, Ril. Barusan Mama lihat dari jendela atas, ada truk dateng. Pinteran ya bisnisnya khjijehuorhgoeoodfij89…… &*($##%%^)))jjjdjj…”

*AUTO STOP menulis


Sudah jam setengah 5 teng. Mumpung sedang M, jogging lebih awal ahh. Sekalian HIIT di depan rumah sesudahnya.

— 45 menit kemudian, masuk rumah. Mendapat ‘kata sambutan’ —

“Pagi-pagi kok sudah lari. Gelap begini. Bagusan jam 10. Kata dokter, jam segitu paling bagus buat dapetin asupan vitamin D. Kalo vitamin A, B, C, mah banyak dan mudah didapat. Kalo vitamin D adanya ya melalui matahari. Gitu kata dokter di Youtube.”

Ehehehehe, iya Ma,” senyumin aja.

*sudah tahu, dan setiap jam 9 atau 10 rutin dede di halaman belakang.


Udah malam, sehabis sholat Isya, biasanya Mama sudah siap-siap tidur. Karena beliau selalu bangun jam 2 untuk tahajudan. Okay, it’s time to netflix and chiiiiill. Yuhuuu “Schitt’s Creek”, waktunya ngakak bersama John Rose, David Rose, Ray Butani, Roland, wkwkwkwkwk. Wkwkwkwkwkwk *ngakak terbahak-bahak saking kocaknya .

Tiba tiba dari belakang, “Alhamdulillah Mama sudah selesai tawasulan. Harus rutin, Ril! Jadi Mama selalu, pastiiii selaluuuu, gak pernah ketinggalan mendoakan almarhum Bapak, Embah, Buyut-buyut yang karena namanya gak tahu, Mama pakein BIN FULAN, habib-habib, syeh-syeh, nenek moyang, kaum muslimat, kaum muslimin, om-om tante-tante uwa yang gak kenal, ……..hguhionfrhuhrknhljoo…. &*^%#@$^&*)(__juhjguguikk..”

*matiin TV, gak jadi netflix-an


“Pah, ada sampah bungkus? Hari ini aku mau ke gazebo, waktunya pengumpulan sampah non-organik nih!” sembari memasuki kamar kerja Papito

Mendadak ada yang menyambar, “Harus ke sana bawain 3 bungkusan besar itu? Repot amat. Kalo Mama di sana tinggal kasi saja ke Mba Emi. Untungnya thikel-thikel itu mereka. Udah dapat duit, disuruh nganterin pula.”

Ada kalanya, harus menerangkan, “Ini untuk kebaikan BUMI, Ma. Jadi tidak apa-apa Ma kalau kami harus repot-repot mengantar ke gazebo. Mereka sudah paham bagaimana cara mengelola sampah-sampah ini, Ma. Jadi secara tidak langsung, kita ikut merawat planet kita tinggal. Kalo saya kenal di sini ada orang yang mau menampung seperti Mba Emi, saya juga pasti mau Ma ngasiin. Tapi di sini tidak ada, Ma.”


Dengerin musik dulu ahh. Ibu-ibu pecinta musik electronic-blending R&B, psychedelic, emotional chord progression, seperti 53 Thieves, kreasi Majestic, FKJ, gak sabar pingin mencapai eargasms. “…we’ve got two seconds to hit the surface of the sun hold onto the moments that make us two instead of onewas I too slow?

Komentar menghampiri, “Itu drone ya,.. lho kok ada yang dipakein cangkul. Kok itu cewek pake celana dalam saja, gak malu. Cowok kok nempelnempel ke sama-sama cowok,…. Itu ada TV yang jadul, kayak punya Mama waktu dulu tinggal di Sumurbatu, ……kkyuebufjdgjhji8897&^%..”

*matiin Youtube Music.


Sedang scrubbing tangan dengan sisa teh celup setelah selesai cuci piring.

Ditambahin lemon, lalu beras yang direndem semalaman, bagus Ril. Mama lihat di Youtube.” Diri ini pun menjawab, “Ehehehehe, iya Ma.”


Riweh menyiapkan sayuran dan buah-buahan untuk dijus. Ada wortel, apel, nanas, dan labu siam.

“Mba Vita tetangga juga rajin ngejus, Ril, suka dimasukkin di WA grup RT. Ada pakcoy, jahe, pear, stroberi, bergizi itu Ril!”

“Iya Ma, saya juga ganti-ganti gitu kok, Ma. Cuma hari ini karena yang ada ini, ya saya ngejus yang ini saja Ma.”


Papito mengajak kami semua makan di luar, dan memilih café atau restoran yang di atas rata-rata

“Harganya kok mahal amat. Untung gede nih tempat. Cuma seuprit gini ratusan ribu. Rasanya kalah sama yang Cibiuk. Mending Pandanwangi ke mana-mana. Sayang gak ada kerupuknya. Sayang kurang pedes. Sayang kuahnya kurang sedhep. Sayang…… sayang……..Teh manisnya habisin, segelas 30 ribu, jangan sampe gak habis. goeonbnioieiowi$**(@$%Y…..”


Mama memasuki rumah, setelah 2 tahun tidak berkunjung karena pandemi

“Beli perabotan lagi??! Rumahnya tambah sempit. Lihat deh tuh rumah Mama, lega kan. Karena Mama gak beli lagi. Secukupnya saja.”

“Itu Mas, Ma yang beli. Saya juga sukanya yang lega dan minimalis gitu Ma. Tapi Mas suka adaa aja barang furniture yang harus dibeli. Saat saya berpendapat, Mas tetep saja beli. Gak didengerin Ma kalo saya,” menjawab panjang lebar diperlukan agar tidak ada kesalahpahaman.


Saat Mama melihat kaos dalam Papito

“Ini kok kaos putih Mas, bawahnya banyak yang lepas benangnya. Dan kriting ngelinting gitu?? Bisa dijahit ini..”

“Mas sudah beli banyak kaos putih baru, Ma. Itu buat daleman kok Ma. Dan yang baru memang sama Mas gak dipake-pake. Katanya gak enak. Suka yang sudah belel begini, Ma,” wajib dijawab agar seorang Ibu perlu tahu habit anaknya.


Sedang dalam proses memasukkan baju kotor ke dalam mesin cuci

“Kalo masukin baju, jangan banyak-banyak. Itu pernah dibilangin sama pegawai mesin cuci Sam*ung saat dateng ke tetangga Mama, agar jangan kepenuhan …. khbheonnloeoi^&*)(^$$….”

Ohh iya Ma. Saya juga begitu Ma. Saya selalu membaca buku petunjuk agar tidak rusak.”


Saat sedang mencuci telur

“Itu bu Arum, nulis di (WA) grup tetangga, katanya telur jangan ducuci, langsung dimasukkin kulkas saja. Biar gak ada bakterinya khuiejiuuu6%^**(*$#%&….”

Kok begitu Ma..sampai saat ini saya masih mencucinya, Ma.”


Ahh mau nulis di kamar saja, lalu membaca, terus sekalian hulahopan dan yoga di kamar *mboyong yoga mat. Mumpung ada Papito dan Boo di bawah, jadi Mama bisa ada teman ngobrol di bawah

Beberapa menit kemudian. “Hhhmmm kok sepi amat di bawah. Pasti 2 cowok itu pada maenan di depan laptop masing-masing. Mama malah gak diajak ngobrol..,” membatin. “Udah ah gapapa, nanggung, belum selesai agenda hari ini,” meneruskan aktivitas.

Beberapa menit kemudian, masih sepi juga di lantai bawah. “Duh kasihan Mama, gak diajak ngobrol blas.. Udah ahh, aku teruskan nanti saja, mau ke bawah nemenin Mama dulu.”

Baru nongol menampakkan diri di tangga tengah, “Ril, ini ada ular gede banget 200 kg. Nih di Youtube.”

Dua menit kemudian…..

“Dulu Mama maen kastinya, bolanya kertas yang dikuwel-kuwel gitu. Susah jaman Mama dulu. Hdnahnnhgbmmjytjj…. Mama pernah makan es alpukat di daerah Bintaro, ada uletnya. &(()(^%%$$HHJikkkhkj… Dulu Embah masakin Mama tempe embos pake cabe ijo yang dibelah, enaaaaak…….&()_hjiolkkjwruqqerr…. “

Satu jam 10 menit jam kemudian……

“Jadi Emak Taronah itu keponakan tiri Uwak yang tetangganya Bapak, terus diangkat anak, dan nikah sama tetangganya Yu Emi, %^&*()hjkujwiehnfklkl8900076cRDFG12)))(….”

Diri ini membatin, “Tolong adzan maghrib, segera berkumandanglah…”


Ppfiuhhhhh, untung cinta. In any case, I always love you, Mama…. 🙂

“Sejak ruangan yang atas ditambahin AC-nya, jadi adem ya. Ademnya pas. Gak sedingin Bandung. Jajanan banyak, tukang sayur deket, sayurnya banyak pilihan dan seger-seger. Segala ada. Ishh Mama betah nih, Mama mau sebulan di sini.”

Anak mantu wedok be like:

Sumber: dariwebsite.pikpng.com/pngvi/JRiiRT_hair-face-pink-facial-expression-nose-anime-human-hair-anime-gif-meme/

Zodiak Januari 2022, Ramalan Bintang Madam Soothsayer

Tahun 2022 menurut astrologi China adalah tahun Macan Air, yang auuummmm rrroooaarrr auumm auummm. Penuh kobaran api, banyak drama, dan semangat yang menggebu-gebu untuk merealisasikan mimpi. Ini berlaku untuk semua hal: cinta; persahabatan; karier; politik; etc.

Yang bakal ada di tahun ini hanya GOING BIG atau GOING HOME, BERUNTUNG/SUKSES atau sama sekali TIDAK. Tidak ada setengah-setengah seperti setengah sukses setengah gagal.

Kira-kira begitu prediksi tahun 2022 ini dari kacamata horoskop China. Tetapi santuyyy, itu tidak mutlak kok, namanya saja PREDIKSI, ramalan, BUKAN kepastian. Tetaplah pilih jalur yang membuat Mamah nyaman dan bahagia, hindari mental breakdown.


PROGRAM BARU DI BLOG

Lalu, apa hubungannya dengan feature baru bulanan blog ini? Umm tidak ada sih. Hanya agar ada intronya saja gitu.

Mulai tahun 2022, saya, pemilik blog rookie amatir yang (sudah merasa) profesional ini (fake it till you make it uhh) akan menampilkan Ramalan Zodiak Bulanan yang terbit setiap hari Senin di minggu pertama setiap bulannya, yang saya dapatkan dari seseorang yang hanya saya saja yang tahu siapa dia. Saya sebut saja sebagai Madam Soothsayer.

Sang soothsayer yang identitasnya rahasia ini mengklaim bahwa dirinya memperoleh vision dan ilhamnya ketika sedang lari shubuh jam 5 pagi. Kegelapan yang sudah sedikit terang; suara kicauan burung yang ramai tetapi indah didengar; bunyi keteplokan dari angkasa yang berupa cipratan warna putih dan bau saat kawanan burung tersebut terbang; serta angin semilir yang cukup menusuk tulang kalau larinya memakai celana pendek, memberinya inspirasi untuk menuliskan ramalannya.

“Terlalu berharga untuk disimpan sendiri,” begitu batinnya.

Adapun tagline dari feature horoskop bulanan ini adalah

PERCAYA, JANGAN.

TAK PERCAYA, TAK APA.

Madam Soothsayer

HOROSKOP JANUARI 2022

(Dibuat dengan CANVA)

AQUARIUS (20 Januari – 18 Februari)

  • Tunggu apa lagi, Mah? Daripada stres kepikiran terus sampai lupa sudah sebulan tidak keramas, sebaiknya segera tanyakan langsung ke Pak Suami siapa yang setiap jam 12 malam missed-call. Namun ingat, tetap positif ya Mah. Hindari curiga yang berlebihan karena bisa memicu keriput dan kerontokan. Gak worth it, Mah!
  • Ohya, ada kabar bahagia nih, Mah! Pada suatu pagi di bulan Januari ini, Mamah akan mendapat rezeki nomplok. Alhamdulillah. Saat mau nyuci celana Pak Suami, Mamah akan menemukan 3 lembar uang warna biru dalam sakunya. Wah 🙂

PISCES (19 Februari – 20 Maret)

  • Ignorance is a bliss, Mah! Ketidaktahuan adalah berkat. Tidak perlu cek history siapa saja yang Pak Suami search di IG-nya, Mah. Terapkan ke Mamah sendiri, kira-kira Mamah mau endak dicek juga. Hhhmm endak mau kan, Mah.
  • Bulan ini Mamah sudah menyiapkan dana 2 juta untuk treatment laser rejuvenation. Kalau tiba-tiba sayang duitnya, teguhkan keraguan Mamah dengan search di Google “Wajah seorang wanita menderita luka bakar saat perawatan laser karena ulah dokter kulit ndlewer yang keasikan nge-game“. Dijamin uang Mamah utuh, selamettt.

ARIES (21 Maret – 19 April)

  • Ihiiiiyyy prikitiewww serrr serrr ehem ehem, someone will get some tonight! Mantabbb pisan euy 🙂 Nanti malam baju Sailormoon-nya dipakai ya Mah! 🙂
  • Sudah saatnya beralih ke celengan digital, Mah. Mulai bulan ini, berhentilah membeli celengan berbentuk babi dan macan. Lalu, segeralah download e-banking dan app Peluang atau Pintuuu. Cusss.

TAURUS (20 April – 20 Mei)

  • Jangan lupa menggosok gigi sebelum menyambut Pak Suami pulang dari kantor ya, Mah. Nafas segar tanpa bau pete dan tanpa cabe nyelip di gigi merupakan pemandangan indah bagi Pak Suami setelah seharian capek dengan urusan pekerjaan. Bener lho Mah, jangan lupa!
  • Menitip Pak Suami untuk membelikan bahan kebutuhan sehari-hari, seperti minyak goreng, sabun cuci baju, sabun cuci piring, dan lain sebagainya adalah jalan ninja Mamah untuk berhemat. Terutama kalau Pak Suami rajin mampir supermarket dalam perjalanan pulang. Uang belanja bulanan dari Pak Suami bisa utuh, Mah. Kalau Pak Suami menagih agar belanjaan Mamah diganti, tidak apa Mah untuk menjawab, “Besok ya Pap!” Dijamin, pasti besok Pak Suami lupa, ihihiiiy. Jelas ini bukan curang bin licik ya Mah, melainkan jeli melihat situasi dan kesempatan.

GEMINI (21 Mei – 21 Juni)

  • Meskipun usia pernikahan sudah 10 tahun lebih, jangan biarkan hubungan Mamah dan Pak Suami garing. Sesekali WA kata-kata “I LOVE YOU” saat Pak Suami sedang ngantor. Uhh dijamin keplek-keplek, Mah. Yang penting jangan sering-sering ya Mah, nanti jadi gak spesial lagi.
  • Yahh, Mah, please jangan lagi, jangan lagi. Tabungan deposito dibobol lagi hanya karena bulan ini Adidas lagi diskon besar. Potongan 50% untuk pembelian 3 produk dari rak sale, dan 40% untuk item dari rak harga reguler. Legging-nya unyu-unyu pula, uhhh. Jadi ingat, mau nambah sepatu lari yang warna abu-abu.

*Madam Soothsayer ambil jeda dulu karena ikut tertarik mau belanja Adidas juga.


CANCER (22 Juni – 22 Juli)

  • Sudah 3 bulan ini Pak Suami hanya berada di rumah selama 2 minggu setiap sebulan? Tenang, tarik nafas, Mah. Tetap berpikir positif ya Mah. Mungkin selama 2 minggu di setiap bulannya, Pak Suami dihadapkan dengan tugas lapangan. Kan banyak tuh Mah yang kerja di tengah laut untuk nyari minyak, itu pekerjaan yang sulit, intens, dan berbahaya, Mah. Tapi kan Mamah juga kecipratan, gajinya gede kan Mah. Mamah mau memilih yang mana? Suami selalu hadir tapi gaji 5 juta sebulan atau Suami jarang di rumah tapi gaji 50 juta? Pesan terpenting, sebaiknya jangan berpikir bahwa Pak Suami punya istri kedua atau mistress ya Mah. Ehh semoga endak ya, Mah! *Madam soothsayer komat-kamit ikut mendokan.
  • Ada promo sabun cuci merek impor di SemutMart, beli 1 harganya 75 ribu, beli 2 harganya 120 ribu. Enaknya beli yang mana ya Mah? Bingung ya Mah? Sama, Mah!

LEO (23 Juli – 22 Agustus)

  • Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba mimpi ketemu mantan? Sudah, Mah, STOP! Jangan diterusin ya Mah! Jangan juga dikepoin! Bahhaayyyaaaa.
  • Hasil penerawangan Madam soothsayer menunjukkan radar yang sangat dahsyat untuk para Mamah LEO dengan kalimat yang dikemukakan oleh Moira Rose dalam serial “Schitt’s Creek” season 2 episode 9. “Saat ini banyak-banyaklah selfie dalam keadaan bugil, dan submit sekalian di Internet! Jadi nanti ketika kamu sudah setua aku yang berusia 67 tahun ini, kamu bisa melihat tubuhmu saat masih semeloheyy dan kencanggg..”. Hhhmm Madam soothsayer bingung dengan apa yang harus dilakukan Mamah Leo dengan saran Moira Rose tersebut. Terserah deh Mah, mau dijalankan atau tidak.

VIRGO (23 Agustus – 22 September)

  • Mempelajari posisi baru will spice up your bed-activity, Mah! Errghhh auuuummmmm sluurrrppp. Kegiatan ‘kasur’ bakal makin ahh uhh ohh uhh mantabb. Jangan lupa siapkan koyok dan Coun**rpain ya Mah, karena pegal-pegal akan sangat terasa keesokan harinya.
  • Sepertinya pepatah yang sering ditemukan di truk-truk besar, “Istri Glowing, Suami Golong Koming”, sedang dihadapi oleh Pak Suami. Sabar dulu ya Mah, untuk bulan ini tidak perlu beli serum anti-aging La Mer yang harganya berjut-jut itu. Sabar ya Mah. Untuk sementara, Mamah bisa ganti dulu dengan kunyit dan madu yang dibejekbejek. Namun, mohon maaf Madam soothsayer tidak begitu yakin dengan khasiatnya karena dulu pernah nyobain dan sempat menjadi ‘manusia berwajah kuning’ selama 2 hari.

LIBRA (23 September – 23 Oktober)

  • Pak Suami bertub-tubi menghujani Mamah dengan berbagai hadiah seminggu ini? Tenang ya Mah. Ingat, tidak perlu berprasangka buruk. Tetap positif, mungkin ada bonus dari pekerjannya yang nge-gol-kan project atau semacamnya. Jangan berpikir Pak Suami menyembunyikan sesuatu yang menggemparkan. Duh semoga endak ya Mah. Salam semangat!
  • Sebaiknya pesan kopi di GoFood-nya dikurangi ya Mah. Lumayan banget Mah kalau setiap hari beli, per-cup 30 ribu, belum tips untuk Bapak Gojek-nya. Kalau sebulan, sudah berapa tuh, Mah?? Coba bikin sendiri dengan membeli kopi bubuk, Mah. Jatuhnya lebiiih murah. Cucoook!

SCORPIO (24 Oktober – 21 November)

  • Buang semua underwear yang sudah bolong, Mah! Takutnya Pak Suami jadi ilfil.
  • Tidak ada salahnya mulai mengikuti jejak sang buah hati Mamah yang sudah kelas 6 SD, yang selalu menulis pengeluarannya. Dengan begitu, Mamah bisa nge-track uang bulanan Mamah. Berkali-kali sudah habis sebelum Pak Suami ngasi uang bulanan kan Mah. Yuk, 2022 lebih bijak mengelola duit.

SAGITARIUS (22 November – 21 Desember)

  • Pak Suami berencana mendaftar member gym? Jangan lupa, ngintil ya Mah! Tentunya bukan bermaksud memata-matai Pak Suami, kalau-kalau di tempat fitness ketemu yang menarik dan ngajak kenalan, lalu bertukar nomer HP, kemudian sering ngopi bareng, terus sesekali mengantar pulang. Bukan, bukan begitu. Melainkan agar Mamah juga sekalian olahraga, jadi Mamah dan Pak Suami bisa men-sexy bersama. Ohh yess!
  • Setiap selesai bersedekah, jangan mengharap uang Mamah akan kembali 10 kali lipatnya ya Mah. Jangan, ummm, just jangan!

CAPRICORN (22 Desember – 19 Januari)

  • Ada pria ganteng tak dikenal minta follow IG Mamah? Diterima saja Mah request-nya. Tidak apa kok. Tetapi, jangan cerita ke Pak Suami ya Mah, takutnya Pak Suami jadi insecure, yang penting Mamah kan gak ngapangapain. Setuju atau setuju?!
  • Ya ampuun Mamah, masya Allah, tabungannya buanyaak amat, nol-nya sampai berderet begitu. Bagi dong, Mah.. 🙂

With Love. Best Regards. Sincerely Yours. Cheers. Cordially.

Madam Soothsayer


Hola 2022!

1 Januari 2022, 05.25

Pagi ini saya bangun pukul 04.32, setengah jam lebih telat dari jadwal default. Pertama, karena ponsel saya mati dan ada di lantai bawah, mengakibatkan alarm tidak berbunyi. Kedua, karena semalam saya baru tidur jam 11-an. Sebagai manusia yang bukan seorang night-owl, tidur di atas jam 10 malam adalah sebuah ‘prestasi’.

Layaknya banyak penduduk bumi yang bersukacita menyambut datangnya tahun baru, atau biasa disebut sebagai NYE (New Year’s Eve), saya bersama keluarga tercinta, Papito dan Boo, ikut memanfaatkan momen ini dengan melakukan sesuatu yang spesial. Yakni, makan bersama di tempat yang spesial (baca: menu fancy yang tampilannya menarik, harganya bombastis, tetapi rasanya gimanaa gituohh ini memang lidah saya saja sih ehehe—). Semalam pilihan jatuh pada Cutt and Grill, rumah makan steak yang wow yang berlokasi di The Breeze BSD.

Ohya, makanan yang kami pesan antara lain: Black Angus Sirloin, Pinacolada, dan Ice Tea (Papito’s); Hanging Fish Kebab dan air mineral (Mama’s); serta Wagyu Burger dan Lotus Crumble (Boo’s). Alhamdulillah.

Sebenarnya selain makan, kami sudah membuat itinerary apa saja yang akan dilakukan di malam penyambutan tahun baru 2022. Melihat keramaian dan menikmati kembang api yang darr derr dorrr bikin bising polusi suara, berfoto di spot instagrammable yang ada di sekitar, atau selfie dengan background keseruan orang-orang sedang celebration, dan diakhiri jalan-jalan di dalam mobil muterin kota sebelum akhirnya pulang ke rumah.

Namun semuanya BUBARRR!

Saya teringat dengan meme yang menggambarkan perbedaan antara EKSPEKTASI dan REALITI. Ehehehe. Ya, ternyata sesudah kami makan, kami bertiga kekenyangan dan ngantuk. Wkwkwkwk. Jadilah kami langsung pulang afterwards. Tidurrrr.

Alhamdulillah, bersyukur pada Gusti Allah yang memberikan saya karunia sehat walfiat dan buanyaaaaak berkah, rahmat, dan rezeki yang tak terhitung jumlahnya, sampai detik ini. Saya sangat berharap mampu menjadi manusia yang seutuhnya; manusia yang makin bisa memperbaiki diri; yang produktif dan positif dalam segala hal termasuk mengurangi tidur (meskipun katanya tidur 7-8 jam adalah normal, tetapi saya ingin sedikit mengurangi durasinya dan menggantinya dengan berbuat dan berkarya), ya intinya, be better version of myself.

From resolutions to bucket lists, I hope I check them all off this year!

  • Maintaining this spankable-ass
  • Keeping my waist slim and shapy
  • Sustaining my petite-sexy-body figure wkwk
  • Focusing on thicker my hair
  • Et cetera….

(Lha itu kok physical apperance semua ya, ehehe. Yang soul-needs juga ada dan banyaaak, tapi for now let me keep them for myself…)

Tentu, saya tidak mau dan tidak akan membandingkan diri saya dengan orang lain. Setiap manusia unik dan berbeda. Ohh, speaking of, kemarin siang saya came across dengan sebuah quote bijak Xu Minghao yang outstanding.

Kenapa kamu tidak percaya diri?

Kamu kan hanya satu di dunia ini!

Masya Allah, ini kalimat yang sangat powerful! Terima kasih ya Xu Minghao, siapapun dirimu, atas reminder-nya. 🙂

Well, just like what most people in the world wished,

Happy New Year 2022,

Cheers to More Adventures to Come

My Printilan Things At The End of Year 2021

Menjelang akhir tahun, orang-orang sibuk merencanakan liburan atau sekedar staycation bersama keluarga tercinta. Mall penuh; supermarket penuh; tempat makan penuh; destinasi wisata penuh. Serasa sudah normal lagi seperti sebelum CoVid19 hadir di tengah masyarakat.

Namun hal tersebut, menurut saya, merupakan hal yang baik. Alhamdulillah saya ikut senang karena berarti indikasi tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi para warga pelan-pelan mulai bangkit. Insha Allah. They said, “Badai pasti berlalu”, “This too shall pass”. Yang penting jangan melupakan habit new normal, seperti: memakai masker, rajin mencuci tangan, tidak pegang-pegang sembarangan, dan tidak dekat-dekat sama orang lain ataupun teman yang kita temui. Pun tidak bersalaman dulu. Pasti paham lah sesama teman jika tidak diajak bersalaman, no hard feelings.

Pak Suami pun tak ketinggalan hebohnya, ehehe, Papito, Papito. Beliau ingiiin sekali mengajak kami staycation di hotel incerannya. Untuk area Jakarta: Alila SCBD dan Langham. Untuk area Bogor dan Puncak: Royal Tulip Gunung Geulis dan Botanica Sanctuary Pesona Alam. Lalu untuk Bandung: Padma, Intercontinental, dan Pullman. Dan, sungguh rruarr biasa, semuanya PENUH! Tak ada satupun yang tersisa.

Dalam hati, saya bersyukur hotel inceran penuh semua, ehehehe, karena saya ingin sekali tenang dan damai di rumah saja. Setiap kali diajak keluar oleh Pak Suami, saya sering merasa reluctant karena bakal terasa lelah melihat begitu banyak orang di luar sana. (Mungkin ada unsur faktor U di sini, wkwkwkwk). Tetapi kalau masih dekat-dekat saja, saya HARUS sigap menerima ajakan Pak Suami. Kasihan juga beliau, stres dengan pekerjaannya, pastinya butuh untuk jalan-jalan dan refreshing.

Meanwhile, saya memiliki agenda sendiri untuk saya lakukan di akhir tahun ini. Ya, setidaknya, hal-hal trivia yang random dan bukan hal besar, ehehehe.

Hal-hal besar, atau yang populer dengan istilah RESOLUSI, uhhh saya tidak mau terlalu muluk-muluk, karena beberapa kali tidak tercapai seluruhnya ehehe. Perlu banyak yang dievaluasi dari diri saya sendiri niy hhhmm.

Satu hal signifikan yang sangat kencang hadir dalam pikiran saya adalah: HARUS membuat konten Youtube pelajaran Bahasa Inggris SETIAP HARI! Bismillah, ya Allah ya Rabb, semoga hamba bisa melaksanakannya. Berikan hamba kemauan dan kemampuan.


Without further ado, hal trivia yang sedang saya lakukan adalah optimalisasi budget di bidang perawatan tubuh. Selama bertahun-tahun saya splurge melulu, seringkali saya membeli produk yang brand luar dan harganya mencapai ratusan ribu. Mulai detik ini saya HARUS berubah lebih bijaksana dalam menggunakan uang yang diberikan Pak Suami oleh saya setiap bulannya.

Saya fokus dengan ingredients dan memilih produk yang affordable, serta jelas brand-nya. Merek yang ‘aneh-aneh’, semurah apapun harganya, semutakhir apapun khasiatnya, tidak mungkin dan tidak akan saya toleh. Kulit, tubuh, dan keseluruhan fisik adalah karuniaNya, pemberianNya, maka cara inilah yang saya lakukan untuk mensyukurinya.

  1. Hunting produk BODY LOTION (pelembab badan) yang mengandung retinol, AHA, dan sun protection. Retinol dan AHA berfungsi penting untuk kekencangan kulit. Wah ini mah pas banget buat saya yang beberapa tahun lagi sudah memasuki usia 40an (tidaaaaak *berteriak histeris lebayy wkwkwkwk).
  2. Menambahkan sebuah BODY OIL dalam regimen body care. Setelah menyadari dan memahami bahwa khasiat minyak sangat bagus untuk menambah kelembaban dan memaintain elastisitas kulit, langsung saya jadikan A MUST. Plus dari review banyak pengguna, bisa membuat makin glowing pula.
  3. Untuk produk BODY WASH, saya memprioritaskan yang tidak mengandung SLS. Sayangnya, kebanyakan sabun free SLS harganya mahal. Namun karena sabun mandi sifatnya ‘lewat doang‘, akhirnya saya mempertimbangkan untuk memilih sabun mandi untuk bayi atau yang ada embel-embel ‘untuk kulit sensitif’. Produsen sabun mandi untuk kulit sensitif sudah melakukan riset presentase SLS yang tepat dan tidak banyak, jadi insha Allah approved.
  4. Body scrub alias LULUR, saya prefer yang produk lokal khas Bali, karena dipakainya terasa uhh mantabb dan murah, serta ingredients-nya banyak memakai bahan alami yang default-nya sudah ada di tanah air tercintaku, Indonesia.
  5. Seminggu sekali saya berencana memberikan perhatian ekstra untuk badan saya, dengan datang ke salon terdekat yang, menurut saya, sesuai sekali dengan gambaran salon idaman di mata saya. Nama salonnya adalah Chamoe-chamoe, para pegawainya santun, dan tidak banyak mengajak ngobrol, suasananya homey, biayanya juga pas di kantong. Alhamdulillah. Ohya, perawatan tersebut adalah pijat wajah, pijat badan, dan pijat rambut (creambath). Pijatan para Mba-nya pun juga pas banget dengan selera saya, tidak terlalu kencang, enaaak. Wah, Mba-mba Chamoe-chamoe, makasiiiy banyak atas jasamu. Semoga Mba-mba selalu dalam lindunganNya.

Melalui observasi dan riset pada diri saya sendiri, hasil dari pemakaian antara produk impor yang mahal dan produk moderate dengan harga average adalah SAMA. Kuncinya adalah RAJIN. Sehabis mandi, langsung oles-oles; saat bengong oles-oles; saat mau tidur oles-oles.

Ehehehe, gak terlalu penting ya wkwkwk, but I do believe that those trivia stuffs akan sangat menopang keseharian saya untuk melakukan hal-hal besar.


Okay then, have a nice holiday! Enjoy your end-year moments with your loved ones!

Self Reminder – Bagian 1

Saya ingin menuliskan 6 dari banyak perilaku yang harus saya ingat untuk TIDAK saya lakukan. Sebuah self reminder agar bisa menjadi versi yang lebih baik. Insha Allah. Beberapa kisah berikut merupakan hasil pengamatan saya atas kehidupan bermasyarakat. Pastinya pada ilustrasi percakapannya, saya akan menggunakan nama samaran karena pada dasarnya yang melakukan kesalahan ini adalah seorang manusia juga seperti saya, yang tak luput dari kesalahan. Jadi fokus ke perbuatannya, bukan ke personalnya.

(Untuk teman-teman yang belum menonton “Dune” dan “Spiderman – Nowhere Home”, mohon untuk tidak membaca point terakhir. Warning spoiler.)

1. Tujuan Utama Datang ke Pengajian Adalah Mendengarkan Tausiyah dan Menerapkannya dengan Baik dan Benar

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Jamaah oh jamaah. Bagaimana kabarnya Ibu-ibu? Ibu-ibu, sebagai manusia muslim, sudah sepatutnya dalam kehidupan bertetangga, kita perlu melakukan hal-hal penting berikut:

  1. Tidak boleh berburuk sangka
  2. Menolong tetangga yang sedang kesulitan. Jika ibu-ibu mampu, maka bantulah dengan tulus dan senang hati
  3. Jangan sekali-kali ghibah, membicarakan keburukan dan aib orang lain. Kalau salah artinya fitnah, kalau betul maka kita memakan daging saudara kita sendiri. Intinya, tidak dibolehkan

Dalam perjalanan pulang, Bu Dodo, Bu Coco, Bu Bobo, Bu Fofo, dan Bu Gogo, yang sama-sama tinggal di Perumahan Bumi Asri dan menamakan diri sebagai Geng Istiqomah Bumi Asri, terlihat bahagia dan sumringah.

Bu Dodo: “Masya Allah, selalu adeeem setiap mendengarkan ceramah Bu Ustazah Rosidah.”

Bu Coco: “Iya, Bu. Saya selalu merasa ayem dan tenang. Semoga kita semua, makin tua makin menjadi pribadi muslim yang lebih baik ya Bu Ibu. Aamiin.”

Semua menjawab bersamaan: “Aamiin ya Rabb. Minggu depan kita datang lagi ya Bu Ibu.”

Keesokan harinya…

Bu Gogo sedang menonton TV saat melihat Bu Titi, tetangga yang rumahnya berjarak 10 meter sebelah kanan, memasuki halaman rumahnya dan menuju pintu depan. Dengan sigap, bu Gogo segera mematikan TV dan tidak bersuara.

Bu Titi: “Assalammualaikum, Bu. Bu Gogo. Bu Gogooo. Assalammualaikum.” sambil mengetuk pintu beberapa kali *knock knock knock

Selang beberapa menit kemudian, Bu Titi balik kanan karena tidak ada yang menyahut.

Bu Gogo merasa lega setelah usahanya tidak bersuara berhasil mengelabui Bu Titi sehingga mengira tidak ada orang di rumah. Bu Gogo segera mengambil ponselnya dan memberitahukan kejadian ini ke WAG Geng Istiqomah Bumi Asri.

WA Bu Gogo: “Bu Ibu, barusan ada peristiwa genting! Bu Titi datang ke rumah, ketuk-ketuk lamaaa pisan. Kayanya mau ngutang tuh. Eh bukan ‘kayanya‘ lagi, tapi PASTI. Bu Ibu tahu kan kalau suaminya lama gak pulang. Anak-anaknya juga masih pada sekolah. Apalagi kalau bukan mau ngutang. Ya gak Bu Ibu??!”

WA Bu Fofo: “Betul Bu! Itu mah sudah pasti ngutang. Waktu itu aye dengar dari keponakannya tetangganya tukang sayur, kalau Bu Titi itu sudah jarang beli sayur. Apa gak mencurigakan tuh??!”

WA Bu Gogo: “Elaaah, berarti bener tuh ya! $&*((bjdniioojhhh…”

WA Bu Bobo, Bu Dodo, Bu Fofo: “#&*Uhiokj0000hhhbjg@$%^&(G0……..”

Puluhan chat kemudian..

WA Bu Coco: “Waduh rame pisaan chat-nya! Pada ngomongin apaan. Baru megang HP lagi nih. Soalnya barusan Bu Titi main ke rumah ngasi oleh-oleh dari Amerika. Suaminya sudah pulang setelah 2 bulan ada bisnis di sana. Dapat hiasan miniatur patung Liberty euy! Pasti mahal nih! Saya fotoin ya Bu Ibu!”

2. Menghargai Selera (Pilihan) Orang yang Berbeda

Sepasang suami istri, Pak Banu dan Bu Banu, baru saja selesai menghadiri acara pernikahan putri dari salah satu pegawainya di kantor. Dalam perjalanan pulang, mereka berdua bercakap-cakap menceritakan kejadian yang ditemui di kondangan tersebut.

Bu Banu: “Pak, tadi lihat endak, ada satu ibu-ibu, ampuuuun bajunya ngejreng! Kerudungnya pink, kebayanya kuning, roknya ijo, sepatunya silper. Polusi visual, Pak! Puyeng ngelihatnya!”

Pak Banu: “Buk, jangan begitu, orang kan kesukaannya beda-beda. Belum tentu yang Ibuk suka, orang lain suka. Pun sebaliknya. Tadi Bapak dengar obrolan yang mengezutkan lho Buk. Ibuk mau denger gak? Tapi jangan marah. Janji dulu, baru nanti Bapak ceritakan!”

Bu Banu: “Ihh Pak, bikin penasaran aja! Ceritain! Awas lho! Bapak kan tahu kalau Ibuk digituin malah tambah penasaran! Kalau gak cerita, gak akan Ibuk kasih lho!”

Pak Banu: “Tadi pas Bapak makan di bagian soto, ada kumpulan ibu-ibu di belakang Bapak sedang heboh ngobrolin salah satu tamu undangan. Begini katanya, “Ehh lihat dehh tuh yang sedang antri sate kambing! Jilbabnya corak macan, kebayanya merah, roknya garis-garis zebra, sepatunya corak ular. Bujubuneeng, udah kayak taman safari berjalan saja ya. Polusi visual!”

Pak Banu: “Lha bapak ikut penasaran pingin tahu siapa yang jadi buah bibir kumpulan ibu-ibu itu. Kok ternyata dirimu tho, Buk!”

3. Menjaga Mulut Untuk Tidak Asal Komentar Agar Tidak Menyakiti Perasaan Orang Lain

Setelah 13 tahun kelulusan, alumni SMA Bebas Namanya angkatan 2008 mengadakan reuni di suatu gedung yang berada di area Pramuka, Bandung.

Vina: “Aiihhh Panduwinataaa. Akhirnya kita ketemu beneran. Selama ini kita hanya bersua di Instagram saja,” Vina memeluk Panduwinata dengan ceria.

Panduwinata: “Iya ihhh, kangeeen. Seneeng banget kita bisa ketemu di dunia nyata. Mana anakmu? Gak diajak?”

Vina: “Noh lagi sama nanny-nya. Kamu kok kerempeng amat sih. Mikirin apa? Jadi kelihatan tua banget. Kisut.”

Panduwinata: “……….”

Vina: “Hai Heny, beda banget sama yang dulu. Dulu kamu kan primadona sekolahan, Sekarang kok jadi begini??”

Heny: “………..”

Vina: “Dewiiii. Dihh kamu sudah 31 tahun kok belum married sih??! Buruan atuh! Keburu tua, banyak saingan yang lebih muda. Entar malah tambah susah laku!”

Dewi: “Jjiahhh lha elu, baru 31 tahun sudah menjanda!” sambil kibas rambut dan ngeloyor pergi.

Vina: “………..”

Dalam acara reuni tersebut, Vina akhirnya bertemu dengan ‘lawan yang sepadan’ (yang sama-sama tidak segan mengemukakan kondisi lawan bicara, tanpa difilter terlebih dahulu), Dewi.

4. Tidak Men-judge Orang Lain Terutama Ketika Tidak Paham Permasalahannya

Di suatu restoran Jepang, pada jam setengah 3, Dinda dan Denok datang untuk makan siang. Sambil menunggu pesanan datang, mereka mengamati meja sebelah yang terdiri atas ayah, ibu, 1 anak perempuan balita, dan 1 nanny. Di situ terlihat Mba nanny sedang menjaga si balita yang tampak super aktif. Sedangkan kedua orangtuanya sedang menikmati makannya dengan tenang sambil bercanda santai.

Denok: “Din, elu lihat yang gw lihat gak?” sambil memberi kode melalui mata

Dinda: “Yess. Kasihan amat ya si Mba-nya. Gak dikasi makan, berlarian ngejar anaknya yang pecicilan. Majikan jaman sekarang banyak yang tega.”

Denok: “Mau gw rekam deh, gw ambil videonya..”

Dinda: “Buruan, biar bisa buat pelajaran orang-orang yang nonton, bahwa Mba nanny itu juga manusia, juga butuh makan. Dasar orang kaya songong!”

Empat puluh menit sebelumnya:

Ibu Majikan: “Cindy, kamu makan saja dulu sepuasnya ya, sana pesan sesuka kamu. Makan yang banyak biar gak lemas. Ini si Siti sedang aktif-aktifnya. Jangan buru-buru makannya ya, saya sama Bapak jagain Siti duluan. Nanti gantian pas kamu udah beres. Oke.”

Mba Cindy: “Siap Bu, makasiiy banyak Bu. Cindy makan dulu ya, Bu!”

5. Monkey See, Monkey Do

Bunda: “Tiaaaa, dari tadi di kamar terus. Ini sudah jam segini, kan waktunya buang sampah ke depan dan merapihkan sampah non-organik. Kalau Bunda semua, ya capek atuh!”

Tia: “Entaar Bun. Bentar lagi, nanggung! Lagi bikin status buat Hari Ibu, Bun!” sambil berteriak dari kamarnya.

Bunda: “Ya elaah, Ayah. Tuh denger anak gadismu, gara-gara bikin status Hari Ibu, sampek omongan bundanya malah gak diprioritaskan. Anak jaman sekarang, Yah. Dikitdikit pasang status. Dikitdikit selfie.” Bunda mengelus dada dan tepok jidat.

Ayah: “Bu, ngaca yuk!” sambil menggandeng tangan istri tercinta mau diajak ke kamar yang ada cermin besar.

Bunda: “Yah, ah gak mau, ngaca di HP saja. Nih, pake kamera juga bisa. Sudah, Yah, Bunda lagi ngaca nih!” Bunda melepas tarikan tangan Ayah.

Ayah: “Nah sekarang lihat wajahmu, Bun. Kayak apa?”

Bunda: “Gak berubah, Yah, masih sama seperti 20 tahun yang lalu, saat pertama kali kita berkenalan.”

Ayah: “Bun, itu tadi sarkasme, Bun! Ayah mau ngasih tahu kalau anak gadis kita itu niruin kamu! Lha wong kamu dikit-dikit Tiktok-an. Goyang ‘ohh no’, goyang ‘yamet kudasi’, goyang ‘maumere’ sambil loncat-loncat di kebon belakang, goyang apalagi itu, Ayah lupa namanya. Owalah Bun, itu anakmu niru kamu! Persis!”

6. Tidak Memberikan Spoiler Film ke Orang Lain dengan Seenaknya

Papito: “Mah, lihat status di Facebook-ku, aku menulis begini, wkwkwkwk.”

Sambil menyodorkan ponselnya, tertulis:

Dune nilainya 13 out of 10. Ternyata yang mengkhianati Atreides adalah dokternya sendiri!

Mamita: “Lhoh Pap, ini kamu spoiler namanya! Kan kasian yang belom menonton. Ingat Pap, ada karma!”

Papito: “Ya berarti itu derita mereka, salah sendiri baca statusku. Kan ini akun FB-ku, hak-ku dong mau nulis apapun. Wuahahahahaha

2 Bulan Kemudian:

Papito: “Mam, lihat nih status temanku. Kurang ajar sekali dia!”

Mamita: “Nulis apaan, Pap??”

Sambil memperlihatkan ponselnya:

Ketiga Spiderman datang semua. Ada Tobey, ada Andrew Garfield, dan ada Matt Holland. Keren. Multiverse would blow your mind!

Mamita: “Lhah lhah ini kan spoiler, Pap! Jauhkaaan dari aku!”

Papito: “Iya Mam, temenku nulis spoiler Spiderman. Aku jadi kurang semangat nih nonton besok Minggu. Tapi aku sudah terlanjur beli tiket buat kita bertiga! Dan aku sengaja ngasi taukan ke kamu, agar aku tidak menderita sendirian..hiks..”

Mamita: “……………..” kesal dan tetiba teringat meme yang bersliweran.

Sumber: Website “IDN Times”

Referensi Ilustrasi Gambar:

  • https(linkmati) //www.idntimes.com/hype/entertainment/shafira-arifah-putri/10-respon-kocak-spoiler-spider-man-no-way-home-c1c2/10

Jadwal Harian Seorang Ibu Rumah Tangga yang Bergelar S.Si (Sok Sibuk yeee)

Saya selalu ingat betapa super sibuknya Mamah saya dulu. Beliau dikaruniai 5 anak yang kesemuanya jarang sekali membantu beliau untuk melakukan house chores. Terbayang bagaimana repotnya kan? Tetapi memang waktu itu Mamah meminta kami agar full belajar saja, tidak perlu memusingkan mencuci baju, mencuci piring, memasak, dan lain sebagainya.

Padahal waktu itu belum ada peralatan rumah tangga yang canggih dan praktis seperti sekarang. Kalaupun kala itu sudah ada, kami tidak bisa afford juga siy, ehehe. Mencuci masih sering pakai tangan, menyetrika dengan setrikaan yang panasnya lama, alat-alat memasak juga ala kadarnya. Hebatnya, Mamah bisa delivered lho! Wah salut dengan Mamah. Luv muchooo, Mamah.

Kemudian, teman-teman saya yang berkarir. Sudah jelas pastilah super sibuk karena harus berhadapan dengan tugas dan proyek kantor serta mengurus kebutuhan rumah tangga untuk suami dan anak-anaknya. Hat off buat para working moms!

Nah, maka itu, saya heran dengan saya sendiri. Sebagian besar aktivitas ada di rumah, anak juga cuma 1 dan sudah 12 tahun pula (cukup mandiri), ternyata juga suibuuuk euy!

Mungkin inilah suatu ‘curse‘ setelah menyandang gelar S.Si di belakang nama. Ehehehe.

WEEKDAYS:

  • 03.00 ish: Bangun tidur
  • 03.00 – 04.00: stretching (a.k.a molet-molet), gather the soul (a.k.a menyadarkan diri setelah molet-molet), toilet needs (no further explanation), cuci muka, menulis sebentar
  • 04.00 – 04.30: praying dan meditate
  • 04.30 – 04.45: quick house cleaning
  • 04.45 – 05.15: jogging keliling kompleks
  • 05.15 – 05.30: after-jogging exercise (buat cooling down)
  • 05.30 – 07.00: doing house chores (cuci piring, cuci baju, memasak dan menyiapkan sarapan, menyapu rumah dan vacuuming)
  • 07.00 – 07.30: Belajar bahasa Spanish via Duolingo
  • 07.30 – 08.00: membaca buku/ kindle
  • 08.00 – 08.30: membuat content English lesson, short book review, atau short movie review
  • 08.30 – 08.50: yogalates (yoga dikombinasi dengan pilates)
  • 08.50 – 09.00: sipping coffee
  • 09.00 – 09.30: menjemur baju yang tadi pagi dicuci dan menyetrika
  • 09.30 – 09.35: menjemur diri di backyard
  • 09.35 – 10.00: free time (bengong, leyehleyeh, sedikit menulis, ngintip Netflix, mijitin Papito, etc)
  • 10.00 – 11.00: another house chores dan menyiapkan lunch
  • 11.00 – 12.00: self grooming (mandi, membersihkan diri, oles-oles lotion dan krim ke wajah dan badan)
  • 12.00 – 12.30: praying dan meditate
  • 12.30 – 13.00: lunch
  • 13.00 -14.00: free time (leyehleyeh dan ngobrol santuyy dengan Papito dan Boo, Netflix sebentar, cek Instagram beberapa menit)
  • 14.00 -14.45: take a nap
  • 14.45 – 15.30: praying dan meditate
  • 15.30 – 16.10: workout sore (cardio hulahopan dan yogalates)
  • 16.10 – 16.30: mandi
  • 16.30 – 18.00: free time (family time)
  • 18.00 – 18.15: praying
  • 18.15 – 19.00: house chores, menyiapkan dinner
  • 19.00 – 20.30: free time (menulis, membaca, etc)
  • 20.30 – 21.00: membersihkan diri, praying, oles-oles krim dan lotion ke wajah dan badan
  • 21.00 – 03.00: tidur

Saturdays:

  • 04.00 Bangun
  • 04.00 – 04.30: stretching, toilet needs, praying
  • 04.30 – 04.45: quick house cleaning
  • 04.45 – 05.15: jogging keliling kompleks
  • 05.15 – 05.30: after-jogging exercise
  • 05.30 – 07.00: doing house chores
  • 07.00 – 07.30: Spanish via Duolingo
  • 07.30 – 08.00: Membaca buku/ kindle
  • 08.00 – 17.00: most likely free time, karena seringnya weekend Papito akan mengajak jalan-jalan keluar. Kalaupun di rumah saja, jadwal mirip dengan weekdays
  • 17.00 – 18.00: membersihkan diri
  • 18.00 – 18.30: praying dan meditate
  • 18.30 – 20.30: free time dan family time
  • 20.30 – 21.00: night routine (oles-oles krim dan lotion di wajah dan tubuh), praying
  • 21.00 – 04.00: tidur

Sundays:

  • 04.00: Bangun
  • 04.00 – 04.30: Stretching, toilet needs, praying
  • 04.30 – 04.45: quick house cleaning
  • 04.45 – 05.15: jogging keliling kompleks
  • 05.15 – 05.30: after-jogging exercise
  • 05.30 – 07.00: doing house chores
  • 07.00 – 08.00: sarapan bersama, weekly family meeting
  • 08.00 – 09.00: mandi-mandi membersihkan diri
  • 09.00 – 17.00: free time (Papito sering mengajak pergi-pergi; kalau tidak pergi, jadwal mirip weekdays)
  • 17.00 – 18.00: membersihkan diri
  • 18.00 – 18.30: praying dan meditate
  • 18.30 – 20.30: free time dan family time
  • 20.30 – 21.00: night routine (oles-oles krim dan lotion di wajah dan tubuh), praying
  • 21.00 – 03.00: tidur

Pffiuhh padat juga ya kegiatan ibu-ibu S.Si ini ehehehe. Tak disangka walaupun hanya berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga yang dikaruniai 1 anak saja, saya bisa SESIBUK itu!

Walaupun dulu tidak pernah diajarin Mamah cara memasak atau melakukan pekerjaan Ibu Rumah Tangga, tetapi setelah menikah, sudah otomatis bisa euy. Sejak menyandang status istri seseorang, hingga sekarang, tidak pernah memakai ART sekalipun, karena alhamdulillah Papito orangnya sigap diajak bekerja sama melakukan house chores bersama, jadi saya tidak merasa capek yang berlebihan. Makasiy ya Papito. 🙂

Ohya, jam-jam tersebut diambil secara umum, kurang atau lebih beberapa menit saja, dan kadang juga jadwalnya bisa switch.

Ohya (lagi), don’t get fooled dengan kata free time, karena di jam-jam tersebut saya optimalkan untuk mengasah skill diri, selain diminta Papito untuk memijat telapak kakinya.


Share juga jadwalmu ya, Mamahs. 🙂

Who runs the house? MOOOMMMS!

Kampanye #KejuAsliCheck Menyelamatkan Pak Dikaprio (Sebentar) dari Interogasi Sang Istri

Bu Ros Winslet Akan Kembali Bertemu dengan Para Moms

WAG Moms 6Z (Bu CM): Assalammualaikum, Moms, jangan lupa hari Kamis datang ke sekolah untuk mengumpulkan bahan portofolio, buku K13 tema 1 sampai 5, jangka, dan stars (yang digunting dari papan zona), melalui drive thru dari jam 10.30 sampai jam 13.00. Oiya Moms, kita ketemuan yuk, di Oddy’s Cafe dekat PasMod yang jalannya setelah Taman Jajan. Kafe baru nih, sering lewat situ, kayaknya menarik, dan tempat parkirnya luas. Setelah nge-drop anak-anak PTM, kita ngumpul yuk sebelum balik ke sekolah lagi buat jemput dan drive thru, gimana?

WAG Moms 6Z (Mba Astri, Mamah Ahnaf): Wa’alaikumsalam, setuju!

WAG Moms 6Z (Mba Dewi, Mamah Angelina): Kuy, gaskeun!

WAG Moms 6Z (You): Ikoooooooooottttt!

Bu Ros Winslet dan hampir semua Moms 6Z semangat menjawab setuju dengan rencana yang diajukan Bu CM. Sejak pandemi melanda hampir 2 tahun yang lalu dan anak-anak sekolah di rumah (PJJ), Bu Ros tidak pernah bertemu dengan para Moms. Temu kangennya hanya melalui fasilitas ponsel, berkabar melalui pesan WA. Sekarang ketika sekolah sudah memberlakukan PTM yang juga telah diijinkan oleh pemerintah, ada waktu sela untuk bisa silaturahmi.

“Akhirnya penantianku telah berakhir, jiwa ekstroverku meronta sekian lama,” Bu Ros senang sekali dengan pertemuan yang akan diadakan 2 hari lagi.

“Semoga Kangmas ngebolehin ya, hhhmmm, hampir setiap hari diceramahi tentang varian baru Omicron,” Bu Ros agak pesimis ketika mengingat betapa parnonya suaminya dengan yang namanya CoVid.

Namun Bu Ros kembali tersenyum dan optimis setelah mengingat beberapa kebiasaan suaminya, Pak Dikaprio, yang bisa dijadikannya sebagai acuan. Berhubung kantor sudah membuka WFO, sesekali Pak Dikaprio hadir di kantor, dan saat di kantor itulah, dia akan melakukan café-hopping. Hari ini di Sawangan, besok di Pokepo, besoknya lagi di Lampoh, kadang di Teraskota, atau AEON.

Errghh enak amat, mosok dia doang yang boleh ngafe bareng teman-teman. Hashtag ibu rumah tangga juga butuh ngafe dan ngerumpi, biar tidak jadi anggota desperate housewives!”

Bisa dibilang, Bu Ros adalah salah satu emak-emak nge-hits, emak-emak kekinian, ya setidaknya itulah yang diklaim oleh dirinya sendiri. Layaknya para emak-emak zaman now, dia rajin membagikan polahnya di Instagram. Seperti mengunggah swafoto saat mau mandi dengan hashtag wajah dan badan sudah kusam dan bau acem, yang tentu saja sebelum berfoto, dia memakai bedak dan lipstick dulu agar terlihat cetar dan mengundang pujian semacam: “Ihh Mba, belum mandi saja sudah cantik seger begitu.”

Atau, merekam diri sedang memasak dengan hashtag emak dasteran mau masakin bocahbocah. Tentu saja daster yang dipakainya bukan daster bolong semriwing yang biasa dipakainya sehari-hari. Beberapa hari sebelumnya, dia sudah membeli baju panjang berenda dari marketplace, baju yang sangat tidak mungkin dikenakannya di rumah karena bahannya tidak adem. Pengorbanannya sungguh tidak sia-sia, komentar bernada pujian berdatangan. “Ya ampun, Mbak ini pake daster aja cakep.”, “Masak aja bening.”, “Sungguh paripurna!”

Hal-hal seperti itulah yang sering membuat harinya makin ceria.

Bu Ros juga menjadikan Instagram sebagai sumber segala berita karena tidak ingin menjadi manusia yang kudet atau FOMO. Segala akun Instagram dengan nama lambe-lambean, nyinyir-nyinyiran, lamis-lamisan, julid-julidan, kemudian nyenyeh, ghibah, dan semacamnya, lengkap dia follow. Tak ketinggalan segala jenis kafe dan kuliner di BSD selalu rutin dipantengin agar bisa memilih tujuan saat berakhir pekan dengan Kangmas dan dua anak laki-lakinya. Pastinya tempat yang instagrammable dan menu yang enak menjadi 2 kriteria utama.


Sebuah Ketidaksengajaan yang Mengejutkan

Dengan gercep Bu Ros mengetikkan nama tempat tujuan dengan para Moms 6Z besok Kamis, “Oddy’s Café”, untuk mengetahui profil dan foto-fotonya, tujuannya tentu saja agar bisa memilih kostum yang bisa sesuai dengan desain interior café-nya.

Wuihh bagus nih tempatnya, ada outdoor-nya, dan mural di dindingnya juga unik. Aiih unyuu, ini pintu masuknya bulet. Aku harus foto di depan juga nanti!”

Setelah menikmati penampakan tempatnya, Bu Ros melihat di bagian menu. “Lengkap ya menunya, ada ayam geprek keju, nachos keju, aww awww ada gelato juga. Hhmm, aku nanti mau difotoin saat sedang menjilat gelato, harganya pun terjangkau. Cukup lah uang bulanan dari Kangmas, ga perlu minta tambahan lagi.”

Bagian Instagram story yang aktif menarik perhatiannya. Ternyata pihak Oddy’s memfoto para pengunjungnya yang ada di semua sudut tempat. Ada keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan 2 anak. Ada 2 remaja putra dan putri, yang mungkin sedang belajar bersama atau apalah (yang pernah muda pasti paham). Juga ada kumpulan emak-emak yang sedang seru-seruan.

Beberapa saat kemudian, Bu Ros merasakan shock yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kondisinya yang sedang dalam berbaring di kasur membuatnya duduk, berdiri, lalu menjatuhkan diri di kasur. Di story yang tertanda 24 menit yang lalu, ada suaminya sedang duduk berduaan dengan wanita muda berambut pirang yang meletakkan kacamata hitamnya di kepalanya, memakai atasan bercorak macan dan rok garis-garis hitam putih zebra, serta sepatu berhak tinggi dengan corak ular.

Di-screenshot-nya story tersebut agar bisa dilihat berkali-kali sambil zoom in untuk memastikan apakah betul itu suaminya, dan bagaimana rupa perempuan tersebut.

“Ini Mba Kapri bukan ya, dulu pernah ketemu. Mungkin saja sekarang ganti penampilan,” Bu Ros berusaha berpikir positif, sambil mengetikkan nama Mba Kapri di Instagram, dan…lagi-lagi dia shock, Mba Kapri tidak mengecat rambutnya dan pindah haluan ke baju ala ‘Taman Safari berjalan’.

“Kangmas, kok kamu tega ya, aku gak menyangka kamu menduakan aku, padahal dulu kamu buciiiiiin setengah mati ke aku. Kenapa sekarang berubah??” dengan terisak, Bu Ros berdiri di depan kaca sambil meneliti bagian tubuh mana yang sudah berubah.


Apakah Mungkin Bisa Terkuak?

Meskipun hatinya sudah sedikit hancur berkeping-keping, Bu Ros berusaha untuk menghilangkan pikiran negatifnya. Cara satu-satunya adalah dengan meneleponnya.

Tiiiririiiit tiriiiitt tiriiiiriiiit.

Pak Dikaprio: “Halo, halo Mam. Ada apa, Mam? Tumben nelpon, Mam?”

Bu Ros: “Tumben?? Gak seneng nih aku nelpon? Mas sedang di mana?”

Pak Dikaprio: “Di kantor, Mam!”

Bu Ros: “Tadi lunch di mana, Mas?”

Pak Dikaprio: “Tadi pesan GoFood, Mam.”

Bu Ros: “Pesan menu apa, Mas?”

Pak Dikaprio: “Umm ummm itu, Mam,..eeee..”

Bu Ros: “Elaah Mas, lama amat jawabnya, mosok lupa sama yang dimakan barusan?”

Pak Dikaprio: “Hokben, Mam!”

Bu Ros: “Kangmas bokis! Tadi aku lihat Mas lho! Sedang di Oddy’s Café. Kamu duduk berduaan sama cewek. Kalau bohong begini, ada yang ditutupin nih!”

Pak Dikaprio: “Eee umm mam, eee a anuu..”

Bu Ros: “Ya sudah, Mas, aku tahu Kangmas sedang sibuk, nanti kita teruskan pembicaraan ini di rumah ya, Mas!”


Kesedihan di Selasa Siang

Sebagai emak-emak sophisticated, Bu Ros tidak ingin tampak jelek luar dalam seperti di video viral yang memperlihatkan seorang istri ngamuk sambil teriak-teriak kesetanan dan menjambak rambut sang pelakor.

Ingin rasanya Bu Ros membanting ponselnya, tapi tidak jadi karena sayang. Vas yang di dekat pintu juga tidak jadi ditendang karena dulu belinya di Hong Kong. Akhirnya dia pasrah dengan rebahan dan menangisi kisah sedih di hari Selasa ini.

Kedua putranya, Dikaprio Junior 1 dan Dikaprio Junior 2, mengetuk pintu kamarnya. “Mah, kita sudah selesai zoom, Mah. Laperrrr, Mah, tapi belum ada makanan di meja makan.”

“Pesan Gofood saja, Nak,” jawab Bu Ros yang diikuti dengan suara kegirangan 2 anaknya yang siang itu bebas memesan makanan di GoFood.

Dalam keadaan sedih, dia tertidur.


Keju Kraft Cheddar Mengalihkan Masalah Besar

Jam sudah menunjukkan pukul 5, sebentar lagi suaminya datang. Bu Ros bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri, memakai baju ala ABG, dan menyemprotkan parfum.

“Akan kubuat Kangmas menyesal telah memilih cewek itu setelah melihatku memakai baju yang kesempitan di segala arah ini. Huhhhh! Lihat saja nanti!”

Begitu keluar dari kamar, dua junior kaget dan berkomentar.

Dua junior: “Mamaaah, kasihan Mamah, bajunya sudah kayak begitu, Mah. Kayaknya Mamah waktunya beli baju baru deh, Mah.”

Bu Ros: “Ahh kalian para cowok mah tidak tahu mode!” (sambil merengut masam)

Tidak dalam waktu yang lama, mobil Pak Dikaprio sudah terparkir di garasi, dan segera masuk ke dalam rumah.

Pak Dikaprio: “Mah, itu baju begitu kok masih dipake, kasihan amat Mam, beli yang baru atuh Mam, itu jadiin gombal saja di dapur!” (ternyata suaminya memiliki pandangan yang sama dengan dua junior)

Bu Ros: “Itu Mas kalimat pertama yang keluar dari mulut setelah masalah kita tadi siang yang belum terselesaikan?? Setidaknya, aku gak pake baju yang menyebabkan polusi visual seperti si pirang itu toh!” (cukup meradang)

Pak Dikaprio: “Ehh ditawarin beli baju, jawabnya malah ke mana-mana sih, Mam?”

Bu Ros: “Ihh jangan pura-pura lupa, Mas, tadi pertanyaanku belum dijawab lho!” (sambil memasang tampang yang menyeramkan)

Pak Dikaprio: “Sabar Mam, kita ke dapur yuk, Kangmas punya kejutan untuk Mamah dan dua junior favoritku!” (sambil membawa 1 tas besar menuju ke arah dapur dan diikuti oleh istrinya)

Sang Kangmas mengeluarkan isi tas belanjaannya yang berupa 20 puluh keju Kraft Cheddar.

Pak Dikaprio: “Ini Mam, Mas beli banyak, biar buat stock, apalagi dua junior demen banget tuh tiap hari makan roti sama keju. Paling juga seminggu habis. Nanti Mas belikan lagi, Mam, kalau sudah habis, tenang saja!”

Bu Ros: “Aiihh Kangmas baik banget, kesambet apa, Mas? Biasanya Mas kan gak pernah beli merek Kraft ini, sukanya yang merek sebelah karena lebih murah..” (senyum Bu Ros merekah)

Pak Dikaprio: “Maaf ya Mam, selama ini Mas tega tidak membelikan keju yang T.O.P. Mulai hari ini, Mas belikan yang terbaik buat keluarga. Karena…. harta yang paling berharga adalah keluarga” (sambil menyanyi)

Pak Dikaprio: “Mamah sudah lihat iklan terbarunya keju Kraft Cheddar? Bintang iklannya saja penyanyi idola kita berdua, Mam, Bunga Citra Lestari! Pasti inget kan, Mam, jaman kita pacaran, kita sering menyanyikan “Sunny” di tempat karaoke, ahh indah sekali masa-masa itu. Pasti Mamah mau kan memakai produk yang juga digunakan oleh sang idola.”

Sumber: Youtube Iklan Kraft Cheddar @kejumooo (dibuat dengan CANVA)

Bu Ros: “Wah iya Mas, Kangmas kok pengertian sekali, Mamah jadi berbunga-bunga. Apalagi Mas kok bisaan masih ingat saat karaokean berdua di area Dago dulu, Mas… Sunny, Sunny, jantungku berdetak tiap ku ingat padamu, mengapa ada yang kurang saat kau tak ada,..” (sekarang gantian menyanyi)

Bu Ros: “Ohya, memangnya, bagaimana Mas, definisi keju yang terbaik hingga Kangmas menyebut Kraft Cheddar ini sebagai keju yang terbaik diantara yang lainnya?”

Pak Dikaprio: “Kandungannya, Mam! Gizinya lebih padat dari keju merek lain. Sini Mam, lihat!” (sambil menunjukkan komposisi yang tertera di bungkus produk)

Dokumentasi Pribadi (dibuat dengan CANVA)

Pak Dikaprio: “Mamah ingat pepatah ‘Posisi menentukan prestasi’? Analog nih, Mam! Peletakan bahan dalam suatu komposisi itu urut. Jadi yang pertama kali ditulis, itu artinya dialah yang takarannya paling banyak. Makin di akhir, makin sedikit ukurannya. Nah lihat apa tuh, Mam, yang ada di awal?”

Bu Ros: “Keju Asli New Zealand…” (membaca tulisan di produk)

Bu Ros: “Bukan air atau tepung seperti keju yang biasa Mas belikan sebelum ini ya?!”

Pak Dikaprio: “Dua junior kan sedang dalam masa pertumbuhan, perlu asupan gizi yang tinggi dan padat, yang juga penting untuk otaknya. Agar mereka bisa menjadi seorang game changer yang bermanfaat. Untuk Tuhan, bangsa, dan almamater. Tsaahh persis seperti slogan kuliahan Mas dulu.”

Bu Ros: “Iya, Mas, aku setuju sekali soal itu!”

Pak Dikaprio: “Kraft kandungannya tepat untuk dua junior, Mam. Selain keju asli New Zealand, keju Cheddar Kraft juga dilengkapi nutrisi Calcimilk, yang kaya akan kalsium, protein, dan vitamin D. Rasanya pun ASLI gurih, tanpa perisa tambahan!”

Pak Dikaprio: “Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh NIH (National Institute of Health) yang sudah berdiri sejak tahun 1800-an dan fokus dalam bidang kesehatan, diketahui bahwa kalsium merupakan mineral pembangun tulang dan gigi, yang juga dibutuhkan tubuh untuk pembekuan darah, transmisi saraf, fungsi otot, dan sekresi hormon. Sangat penting, terutama bagi anak-anak, jangan sampai defisiensi, karena dapat berakibat ke tulang yang lemah, osteoporosis, dan pertumbuhan badan yang kurang optimal.”

Pak Dikaprio: “Selanjutnya, ada protein. Protein ini adalah salah satu komponen makronutrien, Mam, bersama dengan lemak dan karbohidrat. Artinya gini, Mam, ketiga zat tersebut harus dikonsumsi dalam jumlah besar, terutama sebagai sumber energi. Protein membentuk 15 persen dari berat badan seseorang dan esensial untuk membangun massa otot. Nah tentunya, ini juga sangat penting buat anak-anak kita, Mam!”

Bu Ros mendengarkan penjelasan suaminya dengan seksama, karena meskipun suaminya lulusan teknik, namun kecintaannya membaca buku sains membuatnya memahami banyak hal, termasuk mengenai kesehatan tubuh.

Dokumentasi Pribadi (dibuat dengan CAMVA)

Pak Dikaprio: “Itu, Mam, kandungan gizi yang terdapat di keju Kraft ini! Alhamdulillah lengkap Mam!”

Istri Pak Dikaprio mengangguk-angguk dan tersenyum mendengarkan penjelasannya.

Bu Ros: “Yang aku tak habis pikir, Mas, kenapa ini semua baru Mas beritahukan sekarang? Kenapa tidak dari dulu? Kalau dari awal Mas memberikan informasi gizi seperti ini, Mam kan pasti lebih aware untuk membeli keju yang kejunya asli, check! Dan nutrisinya pasti! Seperti keju Kraft Cheddar ini.”

Pak Dikaprio: “Iya Mam, maafin Mas ya. Begitulah Mam, manusia kan tempatnya salah dan lupa, maaf ya Mam…”

Bu Ros: “Hhmm, baiklah, Mas. Maafmu kuterima. Btw, Mas, aku paham maksud Kangmas, aku kan kalau beli body lotion dan semua perawatan kulit juga selalu mengecek komposisinya. Kalau yang di awal berupa bahan yang berkualitas dan terbukti berkhasiat, seperti misalkan argan oil, shea butter, dan semacamnya, itu pasti deh Mam pilih. Dan Mam juga pilih yang kandungan paraben yang berfungsi sebagai pengawet, terletak di paling belakangan, atau malah tidak ada sama sekali. Kalau dia di tengah, aduhh, langsung aku pass. Karena berati tuh produk gak berkualitas!”

Pak Dikaprio: “Tepat, Mam. Ya seperti itu Mam kalau kita memilih produk. Jangan hanya produk kecantikan Mamah saja, tapi makanan juga perlu dicek Mam!”

Pak Dikaprio: “Mulai sekarang Mamah punya tambahan titel nih. Bukan hanya titel emak-emak kekinian, emak-emak ngehits, dan emak-emak sophisticated. Tapi juga emak-emak pintar! Waktu itu Mam sudah pernah membaca buku “The Checklist Manifesto” karya Atul Gawande kan. Mulai sekarang lakukan yang sama sebagai konsumen bahan pangan. Cek kemasan, cek label, cek izin edar, dan cek kadaluarsa! Seperti yang disarankan oleh Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Konsumen Badan POM, ibu Dra.Indriemayatie Asri Gani, Apt.”

Bu Ros: “Kangmas perhatian sekali dengan urusan dapur Mam hari ini. Makasiiiy banyak ya Mas!”

Pak Dikaprio: “Apa sih yang endak buat Mam, kalau Mam mau dibelikan segudang, juga Mas jabanin dah! Begitu besarnya rasa cintaku padamu istriku!” (memajukan badannya untuk mencium pipi sang istri)

Dua junior: “Iiiiuuuuuhhhh, Papah, Mamah, ada kita lho di sini!” (ternyata selama ini mereka berada di dapur dan sedang sibuk nyemilin keju Kraft yang baru dibeli oleh ayah mereka)

Junior 1: “Pah, kejunya lezat! Beda sama yang biasa Papah belikan! Lihat nih Pap, aku sama adek sudah habis 1 bungkus!”

Bu Ros: “Nak, Nak, kalian itu betul-betul mirip slogan rokok yang iklannya ditulis besar di jalan! Lebih memilih minta maaf daripada minta izin! Langsung maen comot saja sih Nak!” (kesal dan menegur kedua anaknya)

Pak Dikaprio: “Mah, santuyyy! Itu kan memang Mas beli buat mereka berdua.” (memberi pembelaan untuk kedua anaknya)

Junior 2: “Ihh Mah kenapa sih gitu saja marah? Tadi aku dan kakak memang sempat mendengar kalau Papah belikan keju untuk kita. Makanya tadi langsung ambil saja. Kita berdua tahu kok Mah, kalau bukan untuk kita, gak akan berani ngambil, Mah!”

Bu Ros: “Baiklah, Nak, Mamah minta maaf ya. Alhamdulillah kalian anak-anak Mamah bageuuur pisaaan. Ambil lagi gih kalau masih lapar. Abis ini Mam mau masakin ayam geprek keju meleleh memakai keju Kraft ini buat kalian!”

Dua junior: “Asiiiik, mauuuu Mah!” (sambil berlari menuju ruang TV)

Pak Dikaprio: “Eh, Mam, tadi kepotong nih urusan kita!” (kembali mendekati istrinya sambil memonyongkan bibirnya)

Bu Ros: “Ciatttt, hush, nanti kalo tiba-tiba dua junior ngeliat lagi gimana? Malu ah, Mas!” (menjauh dan mendorong badan suaminya)

Pak Dikaprio: “Ehehehe, nanti malam ya Mam!”

Bu Ros: “Iya deh Mas, karena Kangmas hari ini membelikan sesuatu yang sangat spesial dan tiba-tiba bisa semanis ini, tentunya akan aku ganti dengan yang spesial juga.” (mengedipkan sebelah matanya, *wink)

Pak Dikaprio: “Wah Mas tak sabar menunggu nanti malam. Ayo Mam, Mas temani memasak ayam geprek keju leleh buat dua junior!”

Bu Ros: “Baiklah, Mas! Ambilin sutil sama wajan di bawah, Mas. Sama sekalian talenan, pisau, dan parutannya. Abis itu, mandi dulu sana Mas, ganti baju juga, baru nanti ke sini lagi, bantuin aku!”

Pak Dikaprio: “Istriku ini memang yang terbaik sedunia. Mas mandi dulu ya, biar seger, dan akan segera kembali menemani istriku tercinta ini!”


Ternyata, Konsekuensi Tetap Harus Diterima

Pak Dikaprio lega mengetahui istrinya tidak mengungkit masalah tadi siang. “Hadehhh, untung deh dia lupa, apes gw kalau ditanyain,” dengan semangat dan kelegaan yang sangat, dia segera menyelesaikan mandinya dan bergegas ke dapur untuk menemani dan membantu sang istri.

Empat puluh tiga menit kemudian…

Pak Dikaprio: “Sudah segar poll nih Mam, sudah siap menjadi ‘budak’ dapurmu, apa lagi yang perlu diambilkan? Ada yang mau dipotongin?”

Bu Ros: “Mas, lihat tuh, semua sudah aku selesaikan dengan kilat, dan sudah aku sajikan di meja, tuh anak-anak sedang lahap menghabiskannya!”

Pak Dikaprio: “Wuaduhh, cepat amat, Mam?!” (terkaget melihat hasil masakan sang istri yang sudah selesai seolah istrinya adalah seorang The Flash)

Bu Ros: “Iya Mas, adrenalin! Dan berkat bantuan nyontek resep di Youtube. Mamah pengen segera membicarakan masalah yang tadi. Itu siapa tuh cewek berbaju macan? Aku tentu saja dengan senang hati menerima ‘suap’-mu yang berupa keju lezat Kraft, tapi jangan anggap aku pelupa, Mas! Eh tadi memang sempat lupa sebentar sih, aku tersilaukan dengan manismu, tapi aku sudah ingat lagi, Mas! Aku butuh jawabanmu. SEKARANG JUGA!”

Pak Dikaprio terkaget melihat wajah sang istri yang terlihat seperti seekor Spinosaurus yang siap menerkam mangsanya.

Rrrghhwwrroooooaaaaaaooooommmmmm Hhhauuurrrmmmm


Referensi:

  1. Gawande, Atul. (2009). The Checklist Manifesto: How To Get Things Right. New York: Picador.
  2. Richtel, Matt. (2019). An Elegant Defense: The Extraordinary New Science of The Immune System. Kindle Edition.
  3. Servan-Schreiber, David. (2007). Anti Cancer Life: A New Way of Life. New York: Penguin Books.
  4. KRAFT KejuAsliCheck Lembar Fakta dari website IIDN. https:(linkmati)//ibuibudoyannulis.com/iidnreborn/lomba-blog-kejuaslicheck/

Thank You, 2021! Next?

Tak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2021. Waktu berlalu begitu cepat. Rasanya baru saja terjadi kemarin, ketika saya sering menemani (alm) Eyang Putri jalan-jalan ke supermarket paling nge-HITS di kota kecil tempat kami tinggal, atau saat duduk di bangku SMP ngobrolin cowok dengan (alm) adik saya yang usianya hanya terpaut 1 tahun.

Sekarang, here I am, sudah di quartal terakhir usia 30an.

Seperti halnya semua insan manusia yang hidup di seluruh penjuru dunia, saya pun dikaruniai banyak hal, baik yang menggembirakan maupun yang tidak sesuai harapan. Seiring berjalannya waktu, makin dewasa usia yang saya lewati, alhamdulillah (dan semoga seterusnya selama saya masih bernafas) saya bisa menerima semuanya dengan lapang dada dan besar hati.

Semua yang terjadi PASTI atas kehendakNya, saya yakin bahwa semua hal ada silver lining-nya. Di balik kesulitan ada kemudahan; di balik penderitaan ada kebahagiaan.

HARD SKILL

Hal indah yang paliiing mencolok yang saya dapatkan di tahun 2021 ini adalah dipertemukannya saya dengan komunitas MGN. Serius!

Menjadi bagian dari MGN memunculkan suatu hal dalam diri saya yang dorman bertahun-tahun. Saya kembali menulis setelah sekian lama. Sekaligus menemukan bahwa aktivitas menulis menjadi terapi buat saya untuk menumpahkan semua yang ada di pikiran, dan masya Allah, surprisingly, se-fun itu!

Tidak hanya itu, berkenalan dengan para anggotanya yang selalu positive vibes pun membuat hari saya makin ceria dan tetap semangat. Melalui pengamatan cara para Mamah berdiskusi, saya mendapat banyak ilmu: teknik dan metode menulis; tips agar tidak stuck dan procrastinating. Melalui blogwalking, saya bisa mengenal seseorang dari: gaya tulisan; cara membawakan; cara narasinya; informasi yang dibagikan, dan tentu memperluas wawasan.

Ilmu Imunologi

Era pandemi juga membawa berkah bagi saya pribadi. Stay at home almost all the time adalah suatu kebahagiaan tersendiri buat saya yang introvert dan gelisah ketemu orang, ehehe. Home is my sanctuary. This is where I bliss, create, and do my best thinking.

Saya jadi belajar kembali tentang Imunologi yang dulu pernah saya dapatkan saat berkuliah. Sudah banyak yang lupa, ehehe.

Dari kindle “Elegant Defense: The Extraordinary New Science of The Immune” karya Matt Richtel dan “How The Immune System Works” karya Lauren Sompayrac, saya baru menyadari betapa kompleksnya sistem imunitas kita, analoginya bukan sekedar setingkat tata sistem kota atau negara, melainkan sebuah universe.

Dibuat dengan CANVA

Poin unik dan memorable datang dari dr. Lemon, yang memberi beberapa tips out of the box untuk menghindari autoimun dan alergi yang banyak diidap oleh penduduk negara wealthy.

“Silakan ngupil! Jika makanan anak ada yang jatuh, sekali-kali suapkan saja! Sistem imunitas itu layaknya pasukan pertahanan. Mereka perlu dilatih dan jangan dianggurin karena begitu kuman dikiit saja ada yang masuk, mereka akan menyerang dengan brutal. Juga ingatlah, untuk tidak terlalu cinta dengan produk yang ada embel-embelantibacterial‘. Moderation in all things adalah kata kuncinya.”

Tagline “Menguatkan Daya Tahan Tubuh” yang sering diteriakkan oleh beragam suplemen imunitas di pasaran seharusnya diubah menjadi “Mencerdaskan dan Mengoptimalkan Daya Tahan Tubuh”. Dalam artian memiliki purpose agar limfosit, makrofag, sel T, sel B, neutrofil, basofil, antibodi, dan semua anggota bisa bekerja dengan baik dan benar sesuai fitrahnya. Tahu mana yang harus di-shack dengan cara halus atau sekuat tenaga; tahu mana yang hanya perlu diurus oleh ‘satpam depan’.

Beberapa hal penting yang tepat untuk diberlakukan di era new normal ini adalah pemakaian masker, istirahat cukup, meditate, olahraga. Insha Allah itu sudah cukup, tidak perlu berlebihan dalam perihal higienisitas dan sanitasi.

Soft Skill

Pasrah dan Ikhlas Makin Terasah

Awal tahun 2021, saya mendapat kabar yang membahagiakan. Saya hamil setelah 11 tahun sejak kelahiran Boo. Kami sekeluarga menerima kabar ini dengan sukacita, terutama Boo, dia terlihat semringah, sueneeng mau punya adik, ehehe.

Pak Suami segera mengagendakan apa-apa yang perlu disiapkan, mempertimbangkan untuk meng-hire asisten, nge-list keperluan bayi, sampai memilih nama bayi, ehehe, ahhh lengkap pokoknya mah.

Namun ternyata this good thing must come to an end, kebahagiaan kami menyambut calon anggota baru hanya bertahan selama kurang dari 1 bulan.

Tampak jelas kesedihan di wajah Boo. Hari di mana berita sedih ini tiba, dia memilih untuk menyendiri di kamarnya. Pak Suami, alhamdulillah, bisa menerima dengan tegar. “Gapapa, Mah, kita lepas Annabelle dengan tenang. Aku ngerasa dengan kita berkeluarga kecil hanya bertiga begini sudah sangat bersyukur, sudah enak banget.”

Sedangkan saya? Well, saya tidak menyangka bahwa saya bisa sesedih itu. Seharian sepulang dari dokter, saya puas-puasin diri menangis.

Kepasrahan dan keikhlasan saya diuji. Alhamdulillah, akhirnya saya mampu merelakannya. Semuanya adalah milikNya, Dia Maha Pemberi sekaligus Maha Berkehendak. Satu-satunya cara hanyalah berserah diri padaNya.

Mamah dan Suaminya

(Note: Cerita berikut sudah mendapat izin dari Mamah. “Selama bisa memberi manfaat buat yang membaca, kenapa tidak, Ril?”)

Mamah yang sedari awal teguh mengharap padaNya untuk CLBK dengan (alm) Papah di surgaNya nanti; di mata kami, anak-anaknya, seakan tidak mampu memegang janji tersebut. Beberapa bulan yang lalu, Mamah resmi menjadi istri dari seorang pria yang usianya terpaut sangat jauh.

Semua berawal dari kasus yang Mamah hadapi. Kasus? Ya, sejak keempat anaknya sudah mentas, mandiri, dan berkeluarga; Mamah mengabdikan dirinya bagi masyarakat sekitar. Bisa dibilang, Mamah adalah seorang ‘pengacara’ bagi kaum tidak mampu. Bahkan Mamah mendapat sebutan sebagai Bunda Gakin (Bunda Warga Miskin).

Mamah orangnya tidak bisa leyeh-leyeh sambil menonton sinetron di rumah, padahal kami berharap Mamah bisa seperti itu. Menurut kami, sudah saatnya Mamah bersantai setelah bertahun-tahun full ngopeni kami. Mamah-lah yang berjuang memberi kami nafkah lahir batin saat (alm) Papah menganggur bertahun-tahun dan sempat dipenjara selama 5 bulan karena berada di tempat dan waktu yang salah.

Berjualan jajanan sosis solo secara door-to-door; mengambil job sampingan menemani tetangga yang sudah tua setiap malam; menjadi asisten seorang penjual kue. Semua pekerjaan tersebut Mamah jalankan dengan senang hati dan profesional. Setiap tugas dijalankannya dengan sebaik mungkin. Jarang sekali kami melihatnya mengeluh atau bersedih.

Mamah yang hanya lulusan SMA ini sering berkata, “Tenaga Mamah kuat lho, ini bisa dijual! Karunia yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin!”

Dengan penghasilan Mamah yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan primer, Mamah mendukung penuh cita-cita saya untuk berkuliah di ITB yang terkenal biayanya besar.

Iyo, Ril, ndang budhal kono, sinau seng tenanan!” —Ya Ril, sana berangkat, belajar yang serius ya!—

Begitu mendengar Mamah sepercaya diri itu, saya yang awalnya maju mundur jadi maju sangat pasti dan kencang. Dorongan spiritual Mamah membuat saya semangat dan tidak malu untuk lari ke sana kemari mencari beasiswa. Hal tersebut juga berlaku buat ketiga adik saya, yang kesemuanya juga melanjutkan kuliah di ITB. Semuanya hanya bermodal ‘dukungan spiritual’ Mamah, tanpa finansial penuh.

Setelah kami menjalani kehidupan dewasa kami, Mamah sibuk dengan beragam ‘profesi’-nya. Mamah mengajar anak-anak miskin di kampung sekitar tanpa membayar; rutin membagikan nasi bungkus gratis; dan membantu meringankan beban warga sekitar yang meminta.

Sebagai ‘pengacara’, Mamah mau dan mampu memberi ide pikiran kepada orang-orang yang kesulitan. Ada seorang Ibu tunggal yang anaknya diancam dikeluarkan karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Atau seorang pegawai pembersih rumah sakit bergaji kurang dari 1 juta per bulan, yang memiliki keinginan bunuh diri karena terlilit hutang puluhan juta.

“Kalau uang, Mamah gak mungkin ngasih penuh, tapi Mamah punya pikiran dan tenaga, dan Mamah akan menolong dengan cara ini,” Mamah tahu ke mana harus melangkah jika dihadapkan di situasi tertentu. Sudah menjadi hal yang biasa bagi Mamah berkunjung dari satu instansi pemerintah ke instansi yang lain.

Kami anak-anaknya ternganga melihat Mamah yang restless, dan tidak jarang merasa khawatir karena ada beberapa kasus yang berhubungan dengan pejabat tertentu.

Gimana Mamah bisa menolak ya? Ini sudah ada di depan mata. Mosok Mamah cuekin. Mamah yakin ini semua didatangkan olehNya. Orang-orang yang datang ke rumah untuk menanyakan solusi mengenai masalah yang dihadapi, gak mungkin datang atas kemauan sendiri, itu didatangkan olehNya. Kalau Mamah menghindar, berarti Mamah menyia-nyiakan point yang ingin Mamah kumpulkan sebanyak-banyaknya untuk bekal Mamah ‘di sana’..”

Kami terdiam, karena yang Mamah ucapkan sejalan dengan kitab suci yang kami semua sama-sama membacanya, AlQur’an.


Pada tahun 2017, Mamah dihadapkan dengan kasus besar yakni pencurian data dan izin kepemilikan sebuah Yayasan TK di area rumah kami, yang notabene merupakan hasil peras keringat dan banting tulang penduduk sekitar di tahun 1964. Perbuatan buruk dan tercela ini dilakukan oleh seorang yang terpandang, terhormat, kaya, berpendidikan, dan seorang ustaz.

“Ini amal jariyah kalau Mamah bisa mengembalikan ini ke pemilik yang benar. Dan ini juga hasil jerih payah founding fathers. Sejarah tidak bisa dilupakan begitu saja. Kurang ajar sekali itu orang!”

Mamah, seorang diri, rela bepergian ke Surabaya dan Jakarta, ke Pengadilan Tata Usaha Negara hingga ke Kantor Kementerian Hukum dan HAM. Kami tidak bisa menemani beliau, hanya bisa memberi support finansial.

Di sinilah kisah romansa Mamah dimulai. Mamah ‘menemukan’ orang yang bisa dan mau membantu Mamah dalam mengetik, nge-print, browsing undang-undang, dan semuanya yang berkaitan dengan masalah hukum. Kapan saja Mamah membutuhkan, beliau selalu available kapanpun. Beliau juga sabar menerima bentakan Mamah ketika salah mengerjakan, karena menurut Mamah, urusan hukum betul-betul memeras otak. Pantas saja gaji pengacara tinggi.

Seiring berjalannya waktu, Mamah makin intens berhubungan dengan pegawai ideal ini. Kami pun sempat berkenalan dengan beliau yang kerjanya exceed the limit tersebut.

Sebagai anak pertama, beberapa orang terdekat Mamah di Kediri menghubungi saya. Mereka melaporkan kedekatan antara Mamah dan Sang Pegawai Ideal yang makin lama dianggap tidak pantas.

“Ke mana-mana barengan. Gimana sih? Mamahmu kan sering dimintai saran, tapi kok kelakuannya seperti itu?”

“Hati-hati uang yang kamu dan adik-adikmu kirim, buat jajanin tuh cowok!”

Hampir semua berita yang disampaikan kepada saya cenderung negatif.

Saya sangat kaget. Di sisi lain, saya YAKIN Mamah tidak seperti itu. Mamah tidak akan berani melakukan hal yang di luar koridor AlQuran.

Sayang sekali saat itu angka penyebaran Covid sedang tinggi-tingginya, jadi saya tidak bisa menemui Mamah secara langsung. Padahal saya ingin sekali membicarakan masalah ini dengan Mamah melalui tatap mata dan memeluknya erat.

Ketika bertelepon, itulah pertama kalinya saya mendengar Mamah menangis terisak. Mamah yang selama ini kuat, pemberani, tangguh, dan tahan banting… Mamahku sayangku…

“Ril, ketika Mamah kalah gugatan, semua pada menjauh dan mengejek. Hanya Yendri ini Ril yang mendukung Mamah secara total dan sepenuhnya.”

“Mamah mendoa, Ril, seperti saat Nabi Musa meminta didatangkan teman dalam menghadapi Firaun yang orangnya kejam dan sangat berkuasa. Ternyata yang diturunkan untuk Mamah, mencintai Mamah. Gusti Allah tidak hanya memberi Mamah seorang teman, tetapi suami sekaligus. Mamah tahu betul bagaimana cara untuk menghilangkan rasa cinta itu, yakni dengan menghindar. Tapi bagaimana bisa menghindar, Ril? Mamah membutuhkannya kapanpun. Ini kasus yang berat, Ril, Mamah tidak bisa sendirian.”

Mamah merinci kisahnya sambil terisak. Ya Allah, kasihan sekali Mamah. Saya saat itu langsung merasa bersalah sudah berburuk sangka dengan pria yang usianya lebih muda 30 tahun dari Mamah. Ya, pria tersebut, Mas Yendri, seusia dengan adik bungsu saya.

Mas Yendri sendiri juga menelepon saya, “Sumpah demi Allah, Bu Nurilla, saya sama Bu Inti tulus karena Allah. Kalau saya niat nyari, saya ga akan nyari yang sudah tua nenek-nenek begitu. Bu Inti pun juga dari awal memang gak mau mencari suami lagi, tapi ternyata siapa yang bisa menolak suatu rasa yang diturunkan oleh Yang Maha Segalanya.”

Sumpah demi Allah. Dengan satu kalimat ini, saya tidak mencounter atau mendebat, karena dengan berani membawa nama Allah berarti urusannya langsung dengan Yang di Atas. Kalau punya hidden agenda yang buruk dan macem-macem, tentu tidak main-main konsekuensinya.

Begitu saya menutup telepon, saya langsung teringat dengan kisah cinta sejati Nabi Muhammad dengan istri pertamanya, Siti Khadijah yang usianya terpaut jauh, yang juga sekaligus employer beliau.

Saya pun kembali dengan mengingatNya. Seringkali banyak hal yang di tatanan masyarakat dipandang aneh, padahal masih sesuai koridor kitab suci. Saya kembali dengan prinsip saya, selama tidak menyakiti dan mengecewakan orang lain, selama ada di koridor Gusti Allah, mau seaneh apapun, keep doing it.

Dari kisah Mamah dan suaminya, saya mendapat banyak pelajaran:

  1. Saya kapok berpikir macam-macam saat melihat sesuatu yang aneh dalam tatanan sosial. Ga mau ngejek, gak mau komentar. Ehehehe. Tutup mulut dan menghargai adalah KEHARUSAN.
  2. Menjalani takdir itu sulit. Seperti halnya Mamah yang melawan arus, tapi bagaimana menjalaninya dan tetap bertahan dengan cibiran dan prasangka banyak orang.
  3. Berbuat kebaikan menghilangkan keburukan. Orang-orang elek yang di sekeliling Mamah adalah orang yang religius, rajin beribadah, sholat di masjid, rutin membaca 1 juz per hari, tetapi kenapa aplikasinya bisa seperti itu. Menghasut orang, menjelekkan orang, ngomongin orang, memfitnah orang, mengambil yang bukan haknya.
  4. Salah satu kata bijak Jalaluddin Rumi, “Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka Jati dirimu akan terungkap tanpa kata-kata..” Beberapa kali Mamah tetap berbuat kebaikan kepada orang yang mendzaliminya. Hal-hal kecil seperti membawakan makanan dan meminjami uang saat butuh. Kami dan Mas Yendri, suami Mamah sering tidak rela dengan hal yang Mamah lakukan. Mamah bilang, “Kalau mau nolong orang kayak gitu, Mamah juga ngoyooo Ril. Tapi ini ada di depan mata, dan Gusti Allah memerintahkan kita untuk menolong sesama, jadi Mamah ya ngarepnya hanya ke Gusti Allah, bukan ngarep ke mereka lah!”
  5. Jangan underestimate orang yang edukasinya tidak setinggi kamu. Suami Mamah adalah lulusan universitas di kota kecil rumah kami. Dulu, saya dan adik-adik saya, suka menjadikan bahan ketawaan para mahasiswa yang berkuliah di universitas ini. Astaghfirullah. Tapi itu dulu, saat kami masiy belum paham. Karena ternyata suami Mamah adalah orang yang tekun dan rajin belajar. Semangatnya luar biasa dalam mempelajari hal hukum. Selain itu, beliau punya wawasan yang luas dan berpikiran mendalam.

Saat ini, kami berbahagia dengan kehadiran Mas Yendri di samping Mamah. Kami menjadi lebih tenang karena Mamah sudah ada yang menjaga dan menemani sepanjang hari. Terutama karena jarak antara domisili kami berada (Jakarta, Bandung, dan BSD) cukup jauh dari Kediri.



Tulisan ini merupakan catatan akhir tahun yang perlu saya abadikan dalam sebuah tulisan, yang juga saya sertakan dalam event Tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan November yang bertemakan Pelajaran Hidup Tahun 2021. Thank you, 2021! What’s next in 2022?

Create your website with WordPress.com
Get started