Yahhh, aku gak ikutan Tantangan Juli huhu. Padahal temanya cucok banget yakni “MOMEN SALAH” dan sebenarnya aku sudah menyiapkan apa yang akan kutulis. Bahkan, hal yang ingin kutuliskan itu terjadi bersamaan dengan momen yang sedang aku alami. Jadi rasanya seperti semesta sudah menyiapkan bahan tulisannya tepat di depan mata. Tinggal duduk, buka laptop, lalu menuliskan semuanya.
Tapi apa daya, di tengah proses pindahan, perjalanan, unpacking, adaptasi, dan segala macam urusan kehidupan nyata, tulisan itu akhirnya hanya tertumpuk di kepala.
Padahal kalau sempat kutulis saat itu juga, mungkin emosinya akan terasa lebih raw, basah dan lebih penuh air mata. Namun ya sudahlah. Meski terlambat, ceritanya tetep ingin kusimpan. Setidaknya agar momen-momen kecil ini tidak menguap begitu saja dan hilang ditelan kesibukan.
***
Hari terakhir aku berada di Atyrau, di sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara, aku sengaja memperlambat pandanganku. Rasanya aku memencet tombol “slow mode” di dalam kepala. Aku ingin merekam semuanya dengan lebih pelan dan lebih lama.
Atyrau-ku sayang. 😦
Di siang yang cerah dan panas itu, aku justru merasa hampa dan dingin. Air mataku tentu saja menetes. Gak nyangka, hampir tiga tahun ternyata terasa begitu cepat. Padahal saat menjalaninya, ada hari-hari yang terasa panjang, dingin, dan melelahkan. Tapi ketika semuanya benar-benar berakhir, waktu yang panjang itu mendadak terasa seperti kilatan cahaya yang lewat begitu saja.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, aku memang bertekad untuk menikmati setiap detiknya. Aku tahu sejak awal bahwa masa tinggal kami di Atyrau tidak akan selamanya. Karena itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyia-nyiakan apa pun yang bisa kulihat, kurasakan, dan kualami.
Aku ingin menikmati musim dinginnya, yang sering menusuk sampai ke tulang. Aku ingin menikmati musim panasnya yang terik dengan langit biru luas tanpa batas. Aku ingin mengingat jalan-jalan yang kami lewati, kafe-kafe yang kami datangi, sungai Ural yang tenang, teman-teman yang datang dari berbagai negara, dan orang-orang lokal yang awalnya terasa asing, tetapi lama-lama begitu ikrib.
Alhamdulillah, pada hari terakhir itu, meskipun sedih berderai air mata dan misek-misek, hatiku terasa penuh dan hangat. Tak ada yang kusesali. Tak ada pikiran, “Oh ya, aku harusnya gini,” atau, “aku harusnya gitu”. Tidak ada hal yang menggantung atau membebaniku.
Aku merasa sudah benar-benar hadir selama tinggal di sana.
Aku sudah menikmati Atyrau dengan caraku. Aku berjalan, berteman, tertawa, menangis, belajar, mencoba hal baru, jatuh cinta pada kota itu, dan membiarkan kota tersebut membentuk sebagian dari diriku.
Terima kasih banyak, Atyrau.
Aku bakal kangeeeen banget sama kota ini. Hiks hiks hiks hiks.
Aku gak tahu apakah suatu saat nanti aku akan ditakdirkan bisa kembali berkunjung ke Atyrau. Entah hanya untuk beberapa hari, entah untuk melihat tempat-tempat lama, entah untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang kusayangi di sana. Aku gak tahu.
Aku manut saja dan menyerahkan semuanya kepada Sang Maha Pembuat Skenario Hidup.
Kalau memang jalanku akan kembali ke sana, semoga Atyrau masih mau menyambutku seperti dulu. Namun kalau ternyata tidak, setidaknya aku sudah pernah diberi kesempatan untuk hidup di sana, mencintainya, dan membawa sebagian kecil Atyrau pulang di dalam hatiku.
***
Sesampainya di bandara, ternyata rameee banget. Hari itu hari Jumat dan sedang summer holiday. Banyak keluarga bepergian untuk berlibur. Koper-koper besar, anak-anak kecil yang berlarian, orang-orang yang berpelukan, dan suara pengumuman penerbangan bercampur jadi satu.
Aku dan keluarga kecilku terbang dari Atyrau menuju Istanbul. Dari Istanbul, barulah kami langsung cusss menuju Jakarta.
Long story short, kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada hari Sabtu sehabis Maghrib.
Ahhh, senangnya.
Aku akhirnya bisa menggunakan parameter waktu ini lagi begitu menginjakkan kaki di tanah air.
“Habis Maghrib.”
“Sebelum Dzuhur.”
“Setelah Isya.”
Ehehehe.
Di Kazakhstan, jelas aku gak bisa menggunakan ancer-ancer seperti itu. Waktu salat berubah-ubah mengikuti musim. Di Indonesia, ritmenya terasa begitu familiar, stabil, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.
Tentu saja aku bersorak gembira melihat Indonesia.
Namun aku juga langsung menyadari bahwa langit Jakarta gak seindah, sejernih, dan sebiru langit Atyrau. Di Jakarta, kemegahan langit seolah tertutup lapisan abu-abu yang merupakan akumulasi asap, debu, polusi, kelembapan, dan entah apa lagi.
Pantas saja, berfoto di Kazakhstan bisa menghasilkan jepretan yang begitu memukau, meskipun hanya memakai kamera HP dan tanpa banyak usaha. Kayaknya salah satu penyebabnya memang ini: perbedaan visual langit, cahaya, dan kualitas udara.
Di Kazakhstan, objek biasa bisa terlihat sinematik. Jalanan biasa, gedung tua, salju tipis, atau sekadar pohon tanpa daun bisa terlihat seperti adegan film. Sementara di Indonesia, mau foto bagus kadang harus mencari pencahayaan yang tepat, angle yang tepat ehehe.
Tapi tak apa.
Heyyy, aku sudah sampai di negaraku sendiri.
Itu artinya aku kembali bisa menikmati makanan-makanan lezat yang selama ini kurindukan. Berbagai makanan yang dulu kuanggep biasa saja, tetapi selama tinggal di Kazakhstan berubah menjadi kemewahan emosional.
Pak Suami pernah bilang, “Di Kazakhstan, kalau stress kerjaan, gak ada obatnya, Mam. Tapi kalau di Indonesia, pas stress aku bisa makan enak, dan itu bisa mengobati stress-ku.”
Begitu kembali ke Indonesia, Pak Suami sueneeeeeng pol bisa bekerja lagi di sini.
Aku gak menafikan bahwa beliau memang gak bisa mencintai Kazakhstan sepenuh hati seperti aku. Situasi kerjanya di sana sangaaat demanding dan high pressure. Pak Suami stress banget selama di sana, sampai area bawah mata kanannya sering mengalami spasm atau kedutan yang gak berhenti-berhenti.
Owalah, kasihannya Suamiku.
Kalau aku bisa menikmati Atyrau dari sisi pertemanan, pemandangan, pengalaman baru, dan kehidupan sebagai ibu ekspat, maka Pak Suami menjalani sisi lain yang jauh lebih berat: tuntutan pekerjaan, tekanan, tanggung jawab besar, dan hari-hari yang menguras energi.
Jadi wajar kalau ketika sampai Indonesia, senyum Pak Suami terlihat lebih lepas. Seolah ada beban yang ikut tertinggal di negeri jauh itu.
***
Nah, setelah pulang ke Indonesia, mulailah terjadi beberapa “momen salah”.
Momen salah pertama yang kualami adalah ketika makan di sebuah kedai. Aku memanggil Mba pegawainya dengan kalimat,
“Извини, девушка.”
Izvini, devushka.
Yang artinya, “Permisi, Mbak.”
Kalimat itu meluncur spontan uhuyyy tanpa melalui proses berpikir. Baru beberapa detik kemudian aku tersadar.
Lhooo aku kan sudah di Indonesia.
*
Momen salah kedua adalah ketika aku naik taksi. Begitu masuk dan menutup pintu, aku dengan mantap berkata kepada Bapak Sopir,
“Здравствуйте.”
Zdravstvuite.
Itu adalah kata sapaan sehari-hari yang digunakan di Kazakhstan. Semacam “halo” atau “selamat siang” dalam bentuk yang sopan.
Lagi-lagi, kata itu keluar otomatis. Bapak Sopir mungkin mengira penumpangnya habis pulang kursus bahasa Rusia atau sedang sok internesyenel wkwkwk.
*
Momen salah ketiga adalah aku berkali-kali mengucapkan,
“Спасибо.”
Spasiba.
Setiap kali berterima kasih kepada orang.
Kepada kasir, kepada petugas, kepada pegawai restoran, kepada sopir, kepada siapa saja.
Aku baru sadar setelah kata itu sudah telanjur keluar. Kadang langsung kusambung dengan, “Eh, makasih.”
Jadi bunyinya malah,
“Spasiba… eh, makasih, Pak.”
*
Momen salah keempat adalah aku terlalu pede saat mau menyeberang jalan ehehehe.
Di Kazakhstan, para pejalan kaki benar-benar dimuliakan. Mobil-mobil akan melambat dan berhenti. Bahkan banyak orang menyeberang tanpa tengok kanan-kiri terlebih dulu karena mereka yakin kendaraan akan memberikan jalan.
Nah, kebiasaan itu rupanya masih melekat saat aku kembali ke Indonesia.
Aku hampir saja menyeberang dengan tingkat kepercayaan diri warga Atyrau.
Untung otakku segera mengingatkan:
“Hei, ini Indonesia!”
Di sini pejalan kaki yang harus mengalah. Bahkan menyeberang saat lampu kendaraan sudah merah pun tetap harus tengok kanan-kiri, karena suka ada motor yang tetap ndableg melaju meskipun lampunya sudah jelas-jelas merah.
*
Semua momen yang berhubungan dengan bahasa itu terjadi selama kurang lebih seminggu pertama sejak aku mendarat di CGK.
Masya Allah, sebegitu ngelotoknya budaya Atyrau di dalam hati, jiwa, pikiran, tubuh, dan refleksku.
Rupanya tiga tahun cukup untuk membuat tubuh memiliki memori sendiri. Mulut, langkah kaki, cara melihat jalan, cara menyapa orang, bahkan cara menentukan waktu, semuanya sempat terbentuk oleh kehidupan di sana.
Oh ya, sekarang pun aku dengan mantabbb mengenalkan diriku dengan nama:
“IBUK NUR.”
Bukan lagi Sri atau Uril.
Selama di Kazakhstan, nama “Nur” terdengar sangat common, familiar, dan indah. Banyak sekali nama orang di sana yang menggunakan unsur “Nur”. Tiba-tiba nama yang sejak dulu kurasa sangat ndeso itu justru terdengar cantik ketika diucapkan oleh orang-orang Kazakhstan.
Jadi sekarang aku ingin embrace nama ndeso-ku itu.
Halo, aku IBUK NUR.
Ehehehe.
***
Saat ini, aku sudah gak terlalu bersedih lagi.
Alhamdulillah, betapa convenient-nya tinggal di Indonesia, tepatnya di BSD. Segala sesuatu yang kami butuhkan tersedia. Mau mencari makanan gampang. Mau memesan sesuatu gampang. Mau ke rumah sakit, sekolah, mal, supermarket, salon, tempat olahraga, semuanya dekat dan pilihannya banyak.
Ada habit-habit yang lebih mudah dijalankan karena waktu terasa stabil. Ada azan yang berkumandang. Ada masjid di mana-mana. Ada suara Bahasa Indonesia yang langsung kupahami tanpa harus menerjemahkan di dalam kepala.
Dan entah kenapa, ada rasa senang tersendiri ketika melihat wajah-wajah Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.
Wajah penjual makanan.
Wajah ibu-ibu yang sedang belanja.
Wajah Bapak ojek.
Wajah anak-anak sekolah.
Wajah orang-orang yang secara budaya terasa begitu familiar.
Suamiku juga makin happy.
Begitu juga anakku.
Masing-masing dari kami punya sesuatu yang dirindukan dari Kazakhstan, tetapi masing-masing juga punya alasan untuk merasa lega dan bahagia setelah kembali ke Indonesia.
Pada akhirnya, pulang bukan berarti menghapus kehidupan yang lama. Pulang bukan berarti aku harus memilih salah satu lalu melupakan yang lain.
Aku cinta Indonesia.
Namun aku juga cinta Kazakhstan.
Aku mencintai Indonesia sebagai tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan selalu bisa merasa pulang.
Aku mencintai Kazakhstan sebagai tempat yang memberiku pengalaman baru, teman-teman baru, keberanian baru, dan versi diriku yang mungkin gak akan lahir kalau aku gak pernah tinggal di sana.
Keduanya memberiku hal yang berbeda.
Keduanya membentukku dengan caranya masing-masing.
Keduanya alhamdulillah.
***
Спасибо, до свидания! Ehh salah…. Makasiy ya dan see you…..