Alasan Kenapa ‘My Name’ Layak Menjadi THE BEST Korean Female Cop Show

Sejak tayang perdana di Netflix pada hari Jumat tanggal 15 Oktober, per hari ini, Senin 18 Oktober, ‘My Name’ sudah menempati posisi nomor 2 di Netflix Indonesia. WOW!

Percayalah, drakor bergenre crime satu ini memang se-B.A.G.U.S-itu. *acung jempol.

‘My Name’ menceritakan sosok wanita seteronggg Song Jiwoo yang mendedikasikan sisa hidupnya untuk membalas dendam kematian sang ayahanda tercinta, yang selanjutnya akan mengganti identitasnya dengan nama baru, Oh Hye Jin. Hhmmm so dark, folks…

Dalam prosesnya menggolkan tujuannya, Jiwoo berkenalan dengan dunia gangster yang penuh kekerasan, kemewahan, dan kekerenan (ya secara mereka memakai baju dan aksesoris desainer kelas atas bok!).

Di dunia hitam inilah, Jiwoo bertemu dengan Choi Mujin, om-om 50 tahun-an yang cool, good looking, dan cowok bangeeeet. Yang sekaligus ketua gang Dongcheon dan sahabat baik almarhum ayahnya. Drug lord kejam dan berkharisma inilah yang membantunya menjalankan misi balas dendamnya.

Segala cara Jiwoo lakukan untuk mencari pembunuh ayahnya termasuk memanfaatkan waktu dan energinya untuk bersekolah di akademi kepolisian dan berhasil menjadi seorang polisi di bagian narkotika. Bisa ditebak, dia menjadi mole (mata-mata) untuk Choi Mujin. Beberapa kali aksi penangkapan gang Dongcheon gagal karena ‘jasa’ Jiwoo.

Menonton seorang wanita yang kehidupannya kelam dan menyedihkan membuat saya dapat memaklumi pilihannya untuk berada di sisi yang buruk. Kadang, begitulah hidup, kita tidak berada di area hitam atau putih, melainkan abu-abu.

Sepanjang adegan, saya berharap dia tidak pernah ketahuan oleh teman-teman polisinya bahwa dialah seorang mole di dalam kepolisian. Saya juga malah kesal dengan para anggota kepolisian yang curiga dan ‘mencecarnya’.

Wkwkwk, lucu ya, padahal kalau ada film pengkhianatan di dalam badan suatu tim polisi, saya pasti tidak sabaran dan gemas sekali ingin mengetahui siapakah sang mata-matanya, dan akan sangat merasa puas ketika melihatnya ketahuan dan dihukum.

Saya menyelesaikan drama ini dalam waktu 2 hari saja! Se-nagih itu! Menurut saya, dari banyak elemen, drakor ‘My Name’ pantas menjadi Drama Polisi Wanita Korea Terbaik. Elemen-elemen tersebut adalah:

  1. Episode yang singkat
  2. Para pemeran yang berakting all out
  3. Unsur cinematic
  4. Koreografinya wow
  5. Makeup artist yang handal
  6. Keberadaan sidekick yang berkarakter kuat
  7. (dan pastinya) Jalan ceritanya

1. Episode yang Tidak Bertele-tele

Berbeda dengan kebanyakan drama Korea yang terdiri atas 16 episode yang berdurasi 1 jam lebih per episodenya. ‘My Name’ hanya berjumlah 8 episode dan berdurasi 40-50 menit-an per episodenya. Singkat, padat, dan tidak bertele-tele, seperti TV shows Amerika dan Eropa pada umumnya. Waktu saya jadi tidak banyak terbuang untuk sebuah hiburan.


2. Para Pemeran ‘Berkelas’

Standing applause buat pemeran utama Han So Hee! Aktingnya luar biasa dan (hampir) flawless. Beliau bisa membawakan peran ini dengan sangat mendetail dan mendalaminya sedemikian rupa sampai-sampai figur Da Kyung (dalam drakor ‘The World of The Married’) dalam dirinya hilang tanpa jejak. Saya juga benar-benar lupa bahwa beliau pernah memerankan seorang wanita yang sangat butuh empowerment seperti Yu Nabi (dalam drakor ‘Nevertheless’). Inilah definisi seorang aktris berbakat.

Gaya berpakaian ala swag-nya sebagai Song Jiwoo dan Oh Hye Jin sangat total, pun terlihat tidak kagok saat mengendarai motor cowok. Ekspresinya sangat mengena, menunjukkan bahwa kehidupannya berat, penuh struggle, ‘dingin’, dan badass. Cara bertarungnya sangat presisi dan ‘artistik’, kelihatan banget bahwa beliau benar-benar berlatih secara total demi menjalankan karakternya.

Dari semua drakor tentang polisi wanita yang pernah saya tonton, mereka semua terlihat fake dan terkesan ‘takut jelek’. Bayangkan! Lipstick, alis, dan blush on mereka tetap paripurna dan tidak belepotan meskipun lari-lari ngos-ngosan mengejar penjahat. Tatanan rambut mereka masih sleek dan tidak berantakan. Pakai sepatu heel pula saat tugas lapangan. Eerrrrr…

Berbeda 180 derajat dengan Han So Hee. Tampak jelas wajahnya tanpa polesan makeup, bibirnya kering yang kadang pecah-pecah, kuku-kukunya tidak manikuran apalagi berkutek, hanya menggunakan sepatu low sneakers yang realistis untuk mengejar penjahat. Benar-benar menunjukkan karakter Jiwoo/ Hye Jin yang sedang fokus bekerja.

Kapten Cha Giho yang terobsesi dengan Choi Mujin; Do Gangjae, mantan anggota gang Dongcheon yang ‘sakit hati’ dan bertransformasi menjadi orang yang mengerikan; Taeju, orang no 2 di Dongcheon, sekaligus loyalist Choi Mujin yang poker face dan waspada; serta Jeon Pildo dan rekan-rekan jajaran kepolisisan yang jujur dan setia dengan kaptennya.

Bukan hanya sang pemeran utama yang aktingnya superb, para pemeran lain pun membawakan karakternya dengan mantabb. Bahkan sekelas Mango penjahat ‘kecil’ yang karakternya sok yess dan kleminthi, mampu menghayati ekspresinya ketika telinganya disulut rokok oleh bos-nya. Ibu-ibu tua penjual kedai langganan para gangster juga terlihat alami, hingga para tukang pukulnya pun berakting dengan profesional.

Tak ketinggalan, kumpulan anak SMA bully di kelas Jiwoo juga tampil mengesankan (dan mengesalkan).


3. Cinematic ‘Kelas Dunia’

Cinematic-nya tidak kalah dengan Hollywood. Pengambilan gambarnya memanjakan mata. Adegan ketika Jiwoo/ Hye Jin dan Jeon Pil Do sedang duduk bersama di dalam apartemen sambil melihat hujan salju yang terlihat dari jendela. Lalu adegan saat Jiwoo sedang berada di kuburan yang disertai turunnya hujan,… ahhh harus melihat sendiri untuk mengaguminya karena saya tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk mewakili ke-awe-annya.


4. Good Fight Scene Choreography

Bukan hanya sang pemeran utamanya yang berantemnya memukau, tapi masih belum bisa mengalahkan koreografinya ‘The Raid’ sih. Ehehe.

Setiap karakter yang sedang berantem, terutama para bapak-bapak dan mas-mas dedengkot gangster, jago banget. Tentu gerakan bertarung mereka yang apik tidak lepas dari jasa koreografer. Salut.


5. Makeup Artist dan Ahli Tata yang Handal

Saya suka tepok jidat dengan darah hasil tusukan dan tembakan yang dipertontonkan di banyak drakor; darahnya tidak sesuai dengan pola cipratan yang seharusnya, warnanya juga kurang tepat, pun dengan luka-lukanya yang hanya ‘ditempel’ begitu saja.

Sedangkan ‘My Name’, saya ternganga dibuatnya. Tingkat ketepatannya sudah selevel Hollywood. Detail banget. Kalau jatuh dari ketinggian sekian, akan berbaring dengan posisi yang demikian. Luka di wajah, goresan dan sayatan di kulit; bisa direpresentasikan sangat mendetail yang tidak terlihat seperti ‘tempelan’ belaka. Super keren.

Pemilihan outfit yang dikenakan para pemain serta gaya dandanan masing-masing karakter juga sejalan dengan rangkaian adegan.

Kerapihan dan elegance gang Dongcheon yang ditunjukkan dengan suit and tie.

Ke-psikotik-an Do Gangjae bersama anak buahnya yang brutal ditunjukkan dengan memakai baju bebas penuh ekspresi dan memakai masker kain yang menutup hidung dan mulutnya untuk tambahan aksesorisnya. Serta, tak lupa, machete di tangan masing-masing.


6. Sidekick yang OKE

Yang Maha Kuasa pasti menurunkan pendamping untuk seseorang yang sedang berjuang. Seperti Moses dengan Aaron-nya; Sherlock Holmes dengan Watson-nya; Batman dengan Robin-nya; Han Solo dengan Chewbacca-nya;….

Sidekick Jiwoo adalah Jeon Pildo, rekan polisinya yang awalnya cuek tapi lama-lama mempunyai rasa yang terus berkembang untuknya. Bisa dibilang Jeon Pildo adalah pria terbaik yang ‘mampir’ dalam perjalanan hidupnya.

Dengan Pildo lah, Jiwoo bisa melepas kelamnya episode kehidupannya. Bukan hanya kesedihan mendalam yang disebabkan oleh kematian ayahnya yang mati dibunuh dengan kejam di depan matanya, tetapi juga kisah di mana teman-teman sekolahnya membulinya; pernah hampir diperkosa oleh para lelaki brengsek; berdarah-darah dalam bertarung.

Pildo lah yang mampu melelehkan dinginnya Jiwoo; meredam kemarahan dahsyatnya; membimbingnya untuk kembali menjadi manusia dan bukan ‘monster’; menenangkannya dengan sentuhan dan pelukan; melindunginya dengan sigap tindakan tanpa banyak omong.

Yang dilakukan pria ‘lurus’ ini terhadap Jiwoo seakan mewakili keinginan saya untuk reach out ke Jiwoo yang sedang rapuh. Tanpa ragu dia menawarkan dirinya untuk menemaninya menghadapi hidupnya yang ‘berat’.

“Don’t struggle alone anymore. You can lean on me anytime.”

“It will be very hard. Don’t worry. Whatever you go through, I’ll be by your side.”

Trenyuh dan terharu mendengar Pildo mengatakannya. Interaksi mereka berdua berlanjut ke hubungan romantis. Jiwoo pun merasa mendapat ‘suntikan sanity‘ dengan keberadaan Pildo.

Banyak hal baik yang dikemukakan Pildo untuk Jiwoo, termasuk dengan mengingatkan bahwa ayahnya rela berkorban bertugas sebagai undercover di komunitas gang selama bertahun-tahun dan mengganti identitasnya, untuk menangkap seorang penjahat besar. Tekad baja untuk membunuh pembunuh ayahnya yang sudah tumbuh bertahun-tahun dalam dirinya, perlahan menghilang dan mengubah haluannya untuk menghukum si pembunuh dengan cara yang benar dan prosedural. Tepat seperti yang sang ayah lakukan dan bukan ala vigilante.


7. Jalan Cerita

Komponen utama suatu film tentu adalah jalan ceritanya. Somehow arah ‘My Name’ sudah dengan mudah saya tebak alur ceritanya. Sangat jelas bakal seperti apa, saya pun sudah bisa mengetahui siapa pembunuh ayahnya.

Namun tidak perlu khawatir karena alur dan detailnya banyak yang twist kok. Banyak hal-hal yang disayangkan untuk dilewatkan. Kisah per kisahnya disajikan dengan menarik, bersiaplah merinding dengan kebrutalan para gangster dan deg-degan ketika ada pengkhianatan dalam suatu gang.

Sambil mengelus dada, membatin, “Nyawa manusia segitu tak ada harganya kah? Bunuh sana bunuh sini, siksa sana siksa sini….”


Baiklah, tunggu apalagi, segera pantengin ‘My Name’ di Netflix untuk meraih moviegasm setelah menontonnya! Happy watching!

How’s Your Instagram Content Look Like

Saya terinspirasi menulis tentang salah satu social media platform terbesar di dunia setelah membaca artikel di blog mamah Andina. Namun saya tidak akan membahas mengenai cara meramaikan akun (seperti yang teman saya tersebut deskripsikan) melainkan menceritakan bagaimana hubungan saya dengan Instagram. Di samping karena Instagram adalah satu-satunya social media yang saya miliki saat ini, juga perannya yang memberi saya hiburan dan manfaat.

Terima kasih ya wahai para founder Instagram.


What’s to Like About Instagram

Saya suka sekali dengan cara penyajiannya. Setiap saya membuka app, saya akan disuguhkan aktivitas terbaru teman-teman saya dan semua akun yang saya follow. Ada yang mengunggah foto saat sedang olahraga; sedang berkumpul dengan teman-temannya; sedang beraktivitas bersama anak dan suaminya; dan foto diri dengan ekspresi wajah dan outfit yang menarik. Juga kegiatan beberapa orang populer yang saya look up karena penampilan dan karyanya.

Lhaaa kan memang begitu toh fungsi dasar sebuah social media, bukan hanya Instagram saja kalee yang begitu.

Iye, iye, ane tahu, tapi menurut saya Instagram menyajikannya dengan cara yang fun. Malah ada fitur story yang bisa membuat kita mengetahui aktivitas teman-teman kita di waktu real time. Saya pun tidak menyangka bisa lucu-lucu dan kreatif, ada yang memakai musik buat latar belakangnya; ada yang wajahnya bisa diganti-ganti dengan tambahan pernak-pernik yang sudah tersedia di app. Pokoknya, saya terhibur ketika mengetahui keberadaan teman-teman yang diolah dengan menarik. Serta, saya juga jadi tahu mengenai kondisi teman-teman, apakah sehat walafiat atau sedang sakit dan semacamnya.

Ihhhh kumaha sih Jeng, Facebook juga ada fitur story kalee, yang sama-sama bertahan 24 jam dan bisa dikemas unik dan menggemaskan.

Oohh begitu ya, uuumm ya pokoknya saya sudah paling klik dengan Instagram, ga mau coba yang lain plus memang karena ga ada waktu dan ogah nambah akun baru lagi. Sudah, stop! Jangan komplain lagi ahh!


Type Pengguna Instagram

Penting untuk diketahui bahwa saya adalah anggota ‘tim login dan logout‘, yang setiap selesai online, saya akan logout segera. Pun saya juga bukan pengguna yang rajin, saya baru login di saat saya sudah selesai melakukan agenda utama sehari-hari; bisa sehari sekali, bisa beberapa hari baru online lagi.

Gak ada yang nanya kalee.

Ampuun, hushh husshh sana, ganggu aja sih!

Menurut pengamatan saya, ada 2 macam pengguna Instagram, yakni:

  1. Pengguna SAVVY, mereka adalah yang aktif, rutin ‘nongol‘, rajin membuat story mengenai apapun yang sedang dilakukannya, dan sering upload foto.
  2. Pengguna SANTUYY, ini adalah yang ‘sealiran’ sama saya, yang tidak aktif, tidak rutin online, dan yang hanya sesekali membuat story maupun posting foto.

What Do You Do When You’re Online

Yang SELALU saya lakukan setiap saya online adalah klik LIKE di semua post terbaru yang muncul di HOME. Serta melihat semua story yang ada.

Klik LIKE merupakan bentuk apresiasi saya terhadap foto yang orang pasang, karena menurut saya pastilah membutuhkan effort untuk membuat foto layak tampil di post.

Saya juga suka sekali dengan bagian EXPLORE, karena di situ saya merasa seolah saya dilayani se-spesial mungkin atas hal yang sangat saya sukai.

Saya excited sekali ketika scrolling fashion ala wanita Jepang, bajunya, kosmetiknya, aksesorisnya, hingga cara mereka senam. Saya sengaja tidak mem-follow akun mereka satupun. Dulu saya pernah mem-follow satu akun orang Jepang yang pandai memadupadankan baju, dan memiliki tinggi badan dan berat badan yang sama dengan saya. Tapi lama-lama akunnya tidak rutin posting, akhirnya saya unfollow. Karena memang saya tidak mengikuti ‘orangnya’ melainkan ‘karyanya’.

Menurut saya, malah lebih nyaman langsung ‘cuci mata’ di explore-nya. Banyak karya dari beragam akun, semua all in one. Saya sangat terbantu dalam mencari inspirasi gaya berdandan ala orang Jepang.

Nah kalau sudah scroll-scroll begini, bisa membuat saya lupa waktu, bisa hampir 1 jam. Akhirnya sejak beberapa bulan yang lalu, saya belajar mengontrol diri saya untuk tidak setiap saat terdisctract, salah satunya dengan cara menjadi anggota ‘tim login dan logout‘. Setiap selesai melihat post dan story teman-teman; klik LIKE di semua postingan yang ada di HOME, cek message, dan scroll explore, yang saya batasi antara 15 menit hingga setengah jam; saya segera logout sesudahnya. Begitu saja setiap hari. Malah saya juga sudah bisa menahan untuk tidak login selama beberapa hari, terutama ketika saya mempunyai banyak agenda, bisa betul-betul lupa kalau punya Instagram.


Apa Kontenmu di Instagram?

Konten di Instagram tentulah completely personal preference. Kita bebas mau mengisi apa saja yang sesuai dengan interest, minat, dan niche kita. Keberagaman content inilah yang membuat menarik dan tidak membosankan untuk terus scrolling. Ada yang fokus dengan isu feminisme, humor, pengetahuan psikologi, agama, keuangan, kesehatan, olahraga, kecantikan, dan… wuahhh list-nya endless.

Sedangkan saya? Sebagian besar post saya adalah foto diri secara fisik. Jarang sekali, bahkan tidak ada malah: foto saya sekeluarga, foto anak, foto suami, foto bersama, none! None at all! Bahkan saya dan suami tidak saling mem-follow. Tentu semua ada alasannya.


Rules on What to Post

Pak Suami adalah orang yang sangat strict dan bisa dikategorikan paranoid dalam mengayomi keluarga kecilnya. Beliau memberi saya the DOs dan the DONTs di segala hal, termasuk dalam berinteraksi di dunia online. Saya, sebagai istri, pastinya berusaha untuk mematuhi protokol Pak Suami, apalagi tidak melanggar prinsip hidup saya, pastilah dengan senang hati saya menjalaninya.

Dalam ber-socmed, berikut aturan yang dikemukakan oleh Pak Suami untuk saya:

  1. DO. Beliau membebaskan apapun interest saya, unlimited. Mau memasang foto buku, pemandangan, mempromosikan tulisan terbaru di blog, selfie, foto sedang berpose di tempat wisata, dan sebagainya.
  2. Untuk DON’T, nah inilah yang banyak sekali. Dilarang memposting data pribadi seperti tanggal lahir dan alamat.
  3. Dilarang memposting foto yang menampakkan rumah dengan sisi yang luas.
  4. Dilarang memposting foto anak
  5. Dilarang memposting nama anak dan sekolah anak
  6. Dilarang memposting foto suami
  7. Dilarang memposting nama lengkap dan profesi serta kantor suami
  8. Dilarang memposting tanggal lahir anak dan suami
  9. Dilarang memposting kegiatan yang sedang dilakukan bersama anak dan suami

Definisi ‘memposting’ di sini adalah upload di feed atau sekedar membuat story.

Tidak hanya aturan dari Pak Suami, saya pun membuat batasan untuk saya pribadi, sebagai berikut:

  1. Saya TIDAK PERNAH dan TIDAK AKAN posting foto maupun tulisan yang berbau SARA atau apapun yang sangat privasi bagi masing-masing orang. Menghargai dan menghormati pilihan orang lain is a MUST.
  2. Saya TIDAK menunjukkan detail seperti apa keseharian saya, agama saya, perasaan saya (sedang sedih atau senang), apalagi curhat masalah pribadi ehehe. NONE.

What’s Fun About Life if You Never Make Mistakes


Ada kalanya manusia khilaf dan tidak menjalankan aturan dengan proper, termasuk saya dalam ber-socmed ria.

Beberapa hal yang pernah saya langgar:

  1. Saya pernah memposting foto saya berdua dengan suami, yang sampai sekarang belum saya hapus. Ehehe. Tapi saya sudah bilang ke beliau agar satuuuu ini saja diloloskan. Argumen saya adalah mosok sih tidak ada satupun foto saya dengan suami. Syukurlah yang ini diizinkan, dengan catatan, TIDAK boleh lagi.
  2. Saya dulu pernah memposting video anak saya sedang story telling, namun sudah saya hapus, karena menurut suami saya, wajahnya terlihat sangat jelas. Beliau tidak ingin wajah anak kami terpampang dengan jelas.
  3. Saya pernah memposting foto berdua dengan anak saya. Yang satu dalam rangka mengikuti event yang menunjukkan bahwa saya seorang Ibu, jadi mau tidak mau, sang anak harus tampil. Fotonya pun dalam jarak jauh, jadi anak tidak terlihat jelas di foto. Yang ini, diloloskan oleh Pak Suami.
  4. Satu foto terbaru juga ada yang saya sedang berdua dengan anak saya, namun anak saya sedang memakai masker dan topi, jadi diloloskan oleh Pak Suami.
  5. Bagaimana dengan story? Karena story hanya bertahan 24 jam, suami sedikiiiit memberi kelonggaran tapi tetap tidak boleh ada informasi pribadi secara lengkap.

Who to Follow and Unfollow

Siapa saja yang saya FOLLOW adalah orang-orang yang saya kenal di dunia nyata: ibu-ibu di sekolahan anak; teman-teman kuliah; teman-teman sekolah. Ada juga orang-orang yang belum saya kenal secara IRL, tapi berada dalam satu komunitas yang sama. Lalu, beberapa orang populer: dari kalangan artis; musisi; influencer, yang saya kagumi karya, kiprah, dan penampilannya, yang tidak neko-neko dan no drama.

Siapa saja yang saya UNFOLLOW adalah mereka yang berakhir tidak sesuai harapan saya. (‘Mereka’ refers ke orang populer saja. Saya tidak pernah unfollow teman-teman saya).

Ada alasan mengapa saya mem-follow orang populer, salah satunya adalah saya menganggap mereka sebagai panutan. Namun jika di tengah-tengah, mereka slip atau melakukan hal yang jauh dari karakter dan perilaku sebelumnya, melakukan atau berkata hal yang ‘aneh-aneh’, menghebohkan, dan penuh drama, saya tidak segan untuk klik UNFOLLOW.

Ada satu tokoh influencer, wanita muda luar biasa dan cemerlang yang tulisannya bagus dalam menjunjung harkat martabat wanita, tapi di suatu hari saya kaget ketika membaca reply-nya di kolom komentar, –yang memang sih si komentator tersebut menuliskan hal yang mengesalkan–, Beliau membalas dengan kata (saya lupa tepatnya yang apa diantara berikut): bego/ goblog/ bodoh. Waduhh saya shock seketika, hhhmmmUNFOLLOW.

Ada satu tokoh wanita yang cerdas dan independen, yang juga seorang putri ulama besar Indonesia yang ceramahnya rutin saya dengarkan. Saya kagum dengan kecantikan luar dalam yang dibawa beliau. Seiring berjalannya waktu, saya mengamati lama-lama tindakannya sudah berkurang kemurniannya. Beberapa komentator menyebut acara yang rutin beliau adakan sebagai ‘demi konten’. Pas, sudah mewakili pikiran saya. UNFOLLOW.

Ya elaaah Jeng, kan namanya juga manusia, tidak ada yang sempurna atuh! Selalu memiliki kekurangan diantara kelebihannya yang overwhelming.

Ealaaah dateng lagi nih orang. Ummm iya sih, tapi saya punya standar pribadi dalam menentukan panutan atau role model yang saya follow. Karya dan perannya adalah yang utama saya perhatikan. Musik, lifestyle, outfits, pola pikir, tanpa drama pribadi. Itulah yang saya cari, yang bisa membuat mata saya terhibur, pengetahuan saya bertambah, wawasan saya meningkat. Ya intinya saya suka dengan yang tidak neko-neko.


The Perks of Being Me

Saya suka amazed dengan teman-teman saya yang rutin membuat story, ingin rasanya ikut-ikutan tapi sering malas dan tidak mood. Begitu juga dengan post, saya juga tidak suka banyak berpose.

Serta, saya type orang yang ingin menyimpan hal-hal indah yang saya lalui di memori otak, bukan di memori HP. Saya hampir tidak pernah berfoto bersama mamah saya ketika kami sedang bertemu, karena saya dan beliau lebih nyaman memakai daster sambil berbaring berdampingan, lalu mamah mengelus-ngelus kepala saya sambil menceritakan ilmu kehidupan. Pertemuan kami berdua membuat saya lupa dengan kamera di HP, sudah sama sekali tidak kepikiran untuk wefie bersama mamah, ehehe.

Pun saat saya sedang bermain dengan keponakan saya yang masih kecil-kecil, keimutan mereka sudah mengalihkan dunia saya untuk tetap fokus pada mereka, rasanya tidak kepingin memotong waktu saya, untuk ngutak-ngatik HP dan mengajak mereka berfoto bersama, ehehe. Saya prefer menyimpan wajah dan kelucuan mereka dalam memori di otak saya saja.

Sedangkan momen di mana saya semangat untuk berpose adalah ketika saya mengikuti suatu event challenge yang mengharuskan saya mengambil foto dan ketika jalan-jalan ke tempat wisata atau menikmati alam bersama mama mertua saya. Mama mertua juga semangat untuk berfoto dan difoto. Ya rasanya semangat tersebut menular ehehe.

Hasil jepret-jepret inilah yang nanti menjadi cikal bakal foto yang saya post di feed. Itu pun juga belum tentu akan saya post karena saya membutuhkan big gut a.k.a keberanian untuk mengeksekusinya. Kadang ada rasa deg-degan membayangkan pikiran teman-teman saya mengenai pose saya, ehehehe. Saya selalu bergelut dengan pikiran saya sendiri, yang ended up dengan meyakinkan diri bahwa selama saya tidak merugikan dan mengecewakan orang lain, lakukan saja.


BEST WISHES

Semoga saya bisa memanfaatkan Instagram dengan optimal, memperoleh kebaikan darinya, dan tidak mendatangkan hal-hal buruk yang tidak diharapkan. Let’s ber-socmed ria dengan properly dan gracefully.


Lalu bagaimana dengan Anda? Apa content di Instagram Anda? Apa batasan-batasan yang Anda berlakukan dalam menggunakannya?

Lagu ‘Nuntun Motor’

Mendengarkan radio adalah hal yang menyenangkan dilakukan saat sedang menyetir. Kebayang bosennya kalau tidak ada radio di mobil, ehehe. Hhmmm sepertinya bisnis radio tidak akan pernah padam selama orang masih berkendara ya. Diantara channel yang ada, saya paling klik dengan 90.4 Cosmopolitan FM, gak pernah nyoba cari channel lain.

Siang itu muncul lagu jadoel yang… ummm sebenarnya tidak terlalu menarik buat saya, tapi cerita di balik lagu itulah yang membuat saya ingin mendengarkan iramanya setiap mikrodetiknya dengan sempurna.


(Made with CANVA)

A Blast from the Past

Ingatan saya kembali ke tahun 2007.

Sore itu saya sedang bersiap-siap untuk acara nanti malam, yang bertempat di Ciumbuleuit. Si dia yang pecinta musik, yang juga seorang keyboardist di band yang dia bentuk dengan teman-teman sejurusannya, tentu sangat bersemangat dengan event beginian.

“Bakal ada banyak musisi, Ril. Ada Club Eighties, ada ini, ada inu, ada itu,….(lupa detailnya)….”

Saya mengangguk-angguk saja dengan mata berbinar. Melihatnya sangat excited membuat saya ikut excited juga. Ya, apapun yang si dia suka, saya PASTI semangat untuk menemaninya meskipun saya clueless ehehe.


Aksi Merepotkan Diri Sendiri

Sejak beberapa hari sebelumnya, —ehh malah sejak si dia ngasih tahu ding ehehe— saya sudah bingung memilih baju yang akan saya kenakan di hari H. Beberapa kombinasi atasan, bawahan, dress, semua saya padu padankan, dan akhirnya… voila, baju pilihan berhasil saya tentukan. Yang kemudian saya setrika dan saya gantung di hanger dengan rapih.

Sayangnya, saat hari H tiba, saya ragu dengan baju yang sudah saya siapkan tersebut, akhirnya mulailah kembali saya ngodal-ngadel isi lemari ahahaha. Anehnya baju yang saya pilih di detik-detik menjelang jam dijemput adalah baju yang pertama kali banget saya pilih. Wkwkwk perk of living pacaran life.

Dress sepanjang betis yang saya kombinasikan dengan kaos lengan pendek warna kuning. Kemudian untuk sepatu, saya memilih menggunakan sneakers karena acaranya outdoor, kalau pakai sepatu ‘centil’, malah jadi repot dan ga bisa bebas loncat-loncat atau apapun yang biasa dilakukan orang-orang saat nonton konser.

Begitulah indahnya masa pacaran ahahaha, ribet sendiri dalam hal memilih baju, pinginnya terlihat ‘wah’ di mata si dia setiap kali ketemu. Dan, ndilalahnya, si dia selalu memuji setiap kita ketemu. Umm let’s say perjuangan saya beriweh-riweh ria memilih baju tidak sia-sia wkwkwk.


Let’s Go, Darling!

Akhirnya jam 5 sore tiba, si dia sudah menunggu di depan kost-an. Kami akan berkendara dengan naik motornya yang si dia bawa dari kampung halamannya sejak pertama kali dia memasuki ITB di tahun 2004, AA plat-nya.

Seperti biasa, begitu saya keluar, dan si dia melihat saya, pujian keluar dari mulutnya. Awww awww awww rasanya berbunga-bunga tentu ehehehe. Dipuji sama lelaki yang dicintai tuh memang bikin melayang ya.

Sore itu langit gelap dan mendung, ada tanda-tanda akan hujan nih. Jadi si dia mengajak saya mampir sebentar ke kost-nya untuk mengambil jas hujan. Ya begitulah kalau naik motor, hujan kehujanan, panas kepanasan ehehe.

Begitu sampai kost-nya yang tidak terlalu jauh dari lokasi kost saya, teman-temannya juga sedang bersiap-siap berangkat ke konser yang sama. Ada 2 mobil yang tersedia karena teman teman kost-nya juga masing-masing membawa pasangan, maka transportasi pun diperhitungkan.

Temannya mengajak kami barengan naik mobil karena masih muat dan cuaca juga sudah menunjukkan hujan akan segera turun.

Saya sudah seneng tuh karena kalau naik motor kan, dengan dress yang saya pakai, jadi bisa bau asep dan basah kena hujan wkwk. Jadi gak seger lagi lah rasanya.

Kagetnya, si dia menolak. Huhhh. Saya sempat sebel waktu itu. Tapi langsung hilang seketika sebelnya saat dia bilang, “Aku pingin berduaan saja sama kamu…”

Awww awww awww wkwkwkwk.

Ya sudahlah akhirnya saya melihat dari angle lain, jika sedang hujan bisa hujan-hujanan bareng di atas motor dan pegangan erat sembari memeluk pinggangnya saat dibonceng. Eaaaa.

Bodo amat dah baju jadi basah, rambut jadi ga rapih, kebayang kan kalo abis helm-an wkwkwk, ditambah basah pula. Ya sudahlah.


Let’s Enjoy This Moment

Untungnya pas kita berangkat, hujannya belum turun. Jadi kami tiba di tempat tujuan dengan lancar, dan masih tampak perfect dandanannya, apalagi di sana para penontonnya juga rata-rata seumuran sama kami, pada berdandan all out semua. Wangi-wangi, fashionable, dan gaul.

Artis demi artis tampil bergantian. Saya lupa siapa saja yang tampil saat itu, ehehe. LAGI, saya memang niat utamanya kan bukan untuk nonton konsernya, melainkan pingin nempel kemanapun dia pergi. Wkwkwk.

Ada yang nge-beat, dan langsung disambut sukacita oleh para penonton dengan dance. Ada yang temponya enak buat loncat-loncat. Seru melihat para penonton bebas mengekspresikan pikirannya ketika mendengar suatu irama. Si dia pun tanpa malu-malu juga ikut dance bersama teman-temannya.

Nah akhirnya tibalah Club 80s naik ke podium, yang si dia klaim bahwa group band berkonsep vintage inilah yang si dia tunggu. Saya sering mendengar beberapa lagunya setiap kali saya berkunjung ke kost-nya. Lagu-lagu mereka selalu masuk di playlist di laptopnya. “Aku ngefans sama Vincent dan Desta, Ril!”, katanya.


‘Hingga Akhir Masa’

Beberapa lagu mereka nyanyikan dan kemudian ditutup dengan lagu yang mellow, judulnya ‘Hingga Akhir Masa’. Saat Club 80s memainkannya, si dia tanpa canggung dan kikuk memeluk saya dari belakang sambil mengajak saya menggerakkan badan dengan pelan mengikuti irama lagunya. “Lagu ini… buatmu..”. Hhmmm awww awww awww.

Padahal di situ banyak orang dan juga teman-temannya. Aduhhh saya awkward banget, tidak bisa membalas sentuhannya. Kalau kata orang jaman sekarang istilahnya ‘kaku kayak kanebo’ wkwkwk.

Lagu inilah yang membuat saya bahagia waktu itu. Lagunya mellow dan terasa nyesss terutama setelah si dia bilang bahwa ‘Hingga Akhir Masa’ merupakan ungkapan isi hatinya untuk saya.


Cherish the Unexpected Moment

Akhirnya acara selesai, jam sudah menunjukkan hampir jam 10 malam. Hujan rintik-rintik saat konser berlangsung pun masih belum reda. Kami lelah dan ingin cepat-cepat pulang, mandi, dan tidur dengan selimut tebal. Ahh nikmatnya.

Aaaaa ternyata harapan kami tidak kesampean, karena motornya mogoooook. Tidaaaak.

Sudah diapa-apain tetap tidak bergeming.

Si dia sempat menawarkan agar saya pulang duluan dengan nebeng temannya yang naik mobil.

Jelas saya menolak, kan memang tujuan awal saya buat si dia. Jadi mau ngapain pun, selama dia di dekat, ya pastinya tetap terasa indah. Bahkan ketika motornya mogok di gerimis malam hari yang dingin di Bandung. Ditambah ngantuuuuk poool.

Setelah berkali-kali mencoba ngapa-ngapain motornya dan tetap tidak ada tanda bisa nyala, akhirnya kami bertekad HARUS pulang. Terpaksa, mau ga mau harus pulang. Akhirnya kami jalan kaki bersama sambil si dia menuntun motornya. Ahahaha kasian banget si dia.

Jalanan Ciumbuleuit yang naik turun lumayan menguras energi. Pun jalanan menuju kost-nya. Ppfiuhh. Meskipun saya ga ikut nuntun dan hanya jalan di sampingnya tapi terasa capek karena tenaga sudah lemas abis loncat-loncat.

Tapi kala itu kami berdua sudah pasrah menerima keadaan. Jadi ya dinikmati saja, apalagi jalan berdua nuntun motor dengan dikelilingi udara Bandung yang malam itu mencapai suhu 18 derajat celsius, merupakan hal yang langka, yang peluangnya sangaaaat keciiil untuk terjadi lagi.  

Saat kami sudah sampai di sekitar Universitas Parahyangan, ada beberapa remaja yang melewati kami dengan mengendarai mobil, yang tampaknya juga baru pulang dari konser, ngetawain kami.

Wuahahahh duh kasiaan deh motornya mogok. Wuahahaha..”.

Mereka niat banget mengejek kami, jendelanya pun mereka buka lebar dan tanpa segan menunjukkan ekspresinya yang puas melihat penderitaan kami. Ampun deh, ga empati blasss dah.

Setelah hampir 45 menit, kami berhasil sampai kost-nya. Setiba kami di sana, kami langsung cepat-cepat mandi, bersih-bersih diri dan teparr ahahaha.


Lagu ‘Nuntun Motor’ Selalu di Hati

Ahhh meskipun malam itu terasa melelahkan dan mengesalkan karena ada insiden ketemu dengan kumpulan pembuli, tapi malam itu terasa sangat indah. Wkwkwk cliche ya.

Sejak saat itu kami berdua menyematkan lagu ‘Hingga Akhir Masa’ sebagai ‘lagu nuntun motor’. Sangat memorable awww awww awww.

Meskipun kisah kami tidak berlanjut hingga akhir masa, tapi somehow kenangan yang manis ketika kami masih bersama ini, awet dalam storage memori otak saya. 🙂

SocMed dalam LDR: A Blessing Or A Curse (Part 1)

CHAPTER 1

Typing…:

(WA) AKU : “Pagi Sayang, aku udah bangun neh. Mau sholat, mandi, sarapan. Hari ini mau langsung ke kantor klien, Sayang. Love you.”

Aku beranjak dari kasurku, dan stretching sedikit sebelum ke kamar mandi. Suara adzan dari masjid sedang berkumandang. Ada cukup waktu neh buat nature call dulu sebelum Shubuh.

Setelah sholat, cek HP sebentar.

(WA) SAYANG: “Aku juga sudah bangun, Ayang. Baik-baik di jalan ya nanti pas berangkat! Jangan ngebut. MYSM!”

——- (MYSM = Miss You So Much) ——-

(WA) AKU: “Miss you too, Sayang, sampai ketemu Sabtu! Aku sudah pesan tiket travel neh!” –emoji LOVE dan WINK

(WA) SAYANG: “Ummm, can’t wait.” –emoji LOVE LOVE LOVE

Typing… : (Duh pikiranku ke mana-mana neh..)

Belum beres typing, suara Ibuk dari lantai bawah bikin buyar pikiran yang ‘lagi jalan-jalan’. “Mas, tolong pasangin galon! Air abis niyh, Ibuk mau bikin kopi susu buat bapakmu.”

“Iya Buk, bentaaarrrr!”

Typing… :

(WA) AKU: “Siap-siap ya Sayang buat Sabtu besok!” – emoji WINK – “Aku mau sarapan dulu ya!“

——- CENTANG BIRU ——-

“Masak apa, Buk? Aku juga mau dibikinin kopi susu ya, Buk….”

Typing… :

(WA) AKU: “Sayang, aku berangkat dulu ya! Love you much!”

(WA) SAYANG: “LYSM too!:

——- (LYSM = Love You So Much) ——-


CHAPTER 2

Aku mengendarai motorku dengan hati-hati. Jaket, check! Helm, check! Gloves, check! Hari ini mau ketemu klien neh, kudu rapih dan wangi. Semoga GOL deh!

Melewati pagi yang macet, suara klakson yang riuh membuat pagi ini terasa mengesalkan. Hhhuhhh!!

Segeralah datang, hai Sabtu! Aku sudah 2 minggu gak ketemu si Sayang, tunggu aku Sayang! Aku akan ke Bandung dan kita akan melepas rindu, sepuasnya. Pikiran ini bikin ademin kekesalanku pagi ini. Semangat!

Sampailah ke area Kuningan, settt sett settt. Meeting beres dalam 2 jam dan GOL sesuai harapan. Yuhuuuiii.

Makan siang dekat sini atau yang dekat kantor saja ya? Atau pesan GoFood saja? Hhhmmm, aku lagi pingin Sate Kambing. Aku makan di ITC saja, mumpung sejalur.

Ohya, WA Sayang dulu.

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah beres meeting sama klien, alhamdulillah lancar. Aku mau nyari makan dulu. Kamu jangan lupa makan siang juga. Love you.”

——- CENTANG BIRU ——- Tapi gatyping‘. Mungkin Sayang sedang sibuk.

Kukendarai motorku menuju Ambassador, yang sampai hanya dalam 10 menit. Naek motor lebih enak kalo ngadepin macetnya ibukota.

Untung belum rame neh area Food Court. Aku datang jam 11.40, sekitar setengah jam sebelum jam peak hour.

“Mang, Sate Kambing 5 tusuk, nambah Sop, pake Lontong. Makasih. Saya duduk di meja itu, Mang. “, sambil nunjuk ke meja yang letaknya tidak jauh dari tenant tersebut, Kedai Sate Mang Didi.

Na na na na….. sambil scroll Instagram.

Sayang bikin story apa neh. Oh lagi mamerin seiris kue coklat dari kakaknya yang sekolah di Singapore, yang kebetulan lagi nengokin Sayang. Reply: klik reaction DROOLING, “Mauuu dong Sayang!”

Weeee si Nicholas, foto sama cewe barunya neh! Klik LIKE dan COMMENT, “Bro, dunia serasa milik berdua, beuuhh!”

Si Yuyu udah mblendung berapa bulan nih. Klik LIKE.

Bangke Rudy udah jadi beli drone. Klik LIKE dan COMMENT, “Mau ikutan test drive dong gw!”

Acara pertemuan dengan kepala Negara Swedia…. postingan Bapak Presiden kudu musti gw LIKE. Klik LIKE.


CHAPTER 3

‘Cuci mata’ di explore ahhhh!

Auuu auuu anak sapa neh, cakep amat! @jelitasandora uuchhh sejelita namanya neh. Klik LIKE. Pengen nge-LIKE berkali-kali rasanya.

Pusing dah! Ada yang bulet tapi bukan melon. @mynameisdina ukurannya berapa neh, 34D kali ye. Klik LIKE. Kagak ada neh fitur LIKE berkali-kali. *garuk garuk pale


Mbak waitress datang, “Silahkan Pak, ini satenya.”

“Makasih Mbak!”

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah selesai makan, aku ke kantor dulu ya. Love you!”

(WA) SAYANG: “Ati-ati Ayang, niy aku baru aja sampe TSM, anak-anak pada lunch di sini. Nanti malam video call ya. Ati-ati di jalan, Ayang!”

(WA) AKU: “Ahhsyiappp!” – emoji LOVE


CHAPTER 4

“Mas Tama, Bapak Bos minta laporan minggu lalu.”, Anggi mengingatkan.

“Oke thanks Nggi!”.

Jam 17.45. Sudah mau Maghrib. Gw sholat dulu deh baru lanjut.

Jam 18.30. Kerjaan belum beres juga. Pffiuh.

(WA) AKU: “Sayang, ya ampun Sayang, sorry aku lupa ngasih tau, belom beres bikin laporan neh sayang. Bakal malam sampe rumah neh kayanya.

(WA) SAYANG: “Oohh gitu, emang laporan apa, Ayang?”

(WA) AKU: “Laporan minggu lalu, Sayang. Auditor bakal ngecek Rabu pagi. Bakalan sibuk neh, Sayang.”

(WA) SAYANG: “Ya sudah, Ayang, fokus dulu saja ya. Moga-moga lancar selalu, Ayang. Nanti kabari kalo sudah pulang ya!”

(WA) AKU: ” Ya, Sayang. Love you. xoxoxoxoxo”

Jam 19.42. Kerjaan hari ini akhirnya selesai. Waktunya pulang ke rumah. Jam segini jalanan sudah mulai lenggang. Beli makan apa ya?? Ahh nanti makan masakan Ibuk saja di rumah. Sapa tau Ibuk masak Sayur Asem. Krucuk-krucuk neh perut.


CHAPTER 5

Jam 20.20. Sampai rumah dengan selamat.

“Baru pulang, Mas?”, Bapak menyapa.

“Iya, Pak, tadi ada kerjaan.”

“Makan dulu, Mas. Ibuk bikin sayur asem tuh.”, paling paham ‘muka laper‘ anaknya banget neh Ibuk.

Asekkkk, pas banget lagi mikirin Sayur Asem, Buk. Mandi dulu deh, Buk, baru makan. Tami mana, Buk?”, sambil melongok ke kanan dan ke kiri kenapa rumah terasa ayem, ternyata karena si sumber petakilan udah tidur.

“Di kamar, udah makan tadi. Bapak dan Ibuk juga udah pada makan. Sana abisin tuh lauk.”

Beressss. Abis mandi, sikaaaatt!”


CHAPTER 6

Beberapa menit kemudian…

Ambil nasi, nyentong Sayur Asem, Sambal Terasi, Ikan Asin, Krupuk. Makanan favorit sepanjang masa, apalagi Emak masaknya maknyuzz. *Ggrrgghhh ‘sendawa’.

Kenyang dan ngantuk. Hoahhmm.

Aku beranjak dari kursi makan, membereskan yang ada di meja, dan meletakkan piring-piring kotor di tempat cuci piring.

Mata udah 5 watt begini. Ehh aku lupa gak charge HP. Aduhhh. Mudah-mudahan Sayang gak marah. *sambil doa komat-kamit.

Secepat The Flash aku ke lantai atas, letak kamarku berada. Lalu segera membuka isi tasku dan colokin HP.

Sepuluh menit kemudian, aku menyalakan HP-ku dan … treng treng treng treng treng… ada beberapa pesan masuk dari WAG Geng Topbalz; Geng Anak Kantor; dan WA dari Sayang.

(WA) SAYANG: “Ayang, udah beres kerjaannya?”

(WA) SAYANG: “Ayang, udah pulang belom?”

(WA) SAYANG: “Ayang, di mana?”

Gawat neh, aku harus membalas segera dan memberitahukan kronologisnya dengan terperinci agar tidak ada salah paham. Jangan marah, jangan marah, jangan marah Sayang.

(WA) AKU: “Sayang, maaf, ini tadi HP mati. Pas sampai rumah, badan bau acem dan kelaperan, jadi langsung mandi dan makan. Sampai aku lupa ngeluarin HP dari tas. Maaf ya Sayang.”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

(WA) AKU: “Sayang, tadi makan malam apa?”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

Lima menit kemudian. Krikk krikk krikk belum juga ada tanda-tanda READ.

(WA) AKU: “Sayang, pasti udah bobo ya. Sleep tight. Love you.”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

Fix udah tidur neh Sayang. Oke aku juga tidur ahhh. Udah jam 10 malam.


CHAPTER 7

Baru mau merem, ehh ada notification Instagram:

@rudy_si_badak replied, “Ayo Bro. Mau kapan?”, Rudy membalas comment-ku tentang nge-tes drone barunya.

Ehh ada 1 follower baru. Nadya Marisca started following you. Oohhh ini teman SMA dulu, anak X-IPS. Klik Follow Back. Scroll foto-foto Nadya. Aku dulu sempet naksir neh. Sekarang udah punya anak.

Klik Search, dan masuk ke Explore.

@tanteZara wowww, ini ada MILF. Mau dong Tante. Klik LIKE .

Ada foto cewe bening pake kemben sambil nyuci baju di penggilesan. Sapa neh. Mau dong jadi penggilesannya. Klik LIKE @eva666. Wow foto-fotonya bagus semua. FOLLOW ahh!

Dooohhh ini ada anak SMA, hot banget. Klik LIKE @mythacarlo. Pake seragam aja bikin pening. FOLLOW ahh! Klik STORY-nya: si anak SMA lagi asyik Tiktok-an bareng gengnya. Goyangannya asyik neh. REPLY STORY : “Haii.”


Hari-hari kulalui dengan berulang. Khas pola hidup yang kesehariannya penuh dengan rutinitas. Kalau ada penjahat yang ngincar gw, gampang banget nemuin gw ada di mana di jam berapa, kayak yang di film-film. Eat Sleep Work Repeat. Bangun, sarapan, mandi, berangkat kerja, pulang, makan, mandi, tidur. WA-an dan VC-an dengan Sayang.


CHAPTER 8

Akhirnya Sabtu datang juga.

“Buk, Pak, Mas mau ke Bandung sampe besok sore. Ada acara sama anak-anak kantor.” Terpaksa harus bohong sama Bapak Ibuk. Kalo bilang mau ketemu pacar, bakal terancam gak jadi berangkat. Untungnya Bapak Ibuk udah paham kalo anaknya udah gede, ga banyak ditanyain.

Bandung, aku datang! Sayang, aku datang!

Sabtu jam 12.00 aku sudah tiba di Hotel Disini Ada Setan.

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah di hotel, di kamar 666.”

(WA) SAYANG: “Aku otw, Ayang!”

Hari Sabtu dan Minggu berlalu begitu cepat. Rasanya nikmat setelah melepas rindu dengan Sayang.


CHAPTER 9

Yahh udah hari Senin lagi. Kembali ke rutinitas, demi sesuap nasi dan segenggam berlian.

(WA) AKU: “Sayang aku berangkat dulu ya. Love you.”

Menjelang jam makan siang, kerjaan udah beres semua, ‘cuci mata’ dulu yang seger-seger ahh.

@ceweindosuperhotboobs fotonya menggoda semua neh! FOLLOW ahh! Sekalian mau FOLLOW-in satu-satu di setiap fotonya, ada tag akunnya. Pilih yang paling sreg di hati, eh di mata.

@ohh.sawnia fotonya sambil melet dan menggoda. FOLLOW.

@bernadetha09 matanya sayu dan body-nya montok. Slurppp. FOLLOW.

@chichamerica hot manis cantik. FOLLOW.

@donaxavier hot manis cantik. FOLLOW.

@nikitamirmie artis Indonesia yang udah emak-emak tapi body kenceng. FOLLOW.

@sherinayayaya penyanyi favorit. FOLLOW.


(WA) SAYANG: “Ayang, aku lagi makan Karedok dan Rujak Mangga. Kamu makan apa, Ayang?”

Nanti aja deh balasnya. Nanggung. Mana lagi yang kudu gw follow. *sambil scroll-scroll

@kuntilanakwekwek cantik dan hot. FOLLOW.

@sundelabolonga manis gemes pengen nyubit. FOLLOW.

Klik STORY @sebutsajabunga lagi makan pisang. Ngiluu bayanginnya. REPLY STORY:  “Haiii.”

Klik STORY @mawarberduri lagi Tiktok-an dance. Seksiii. REPLY STORY: “Haiii.”


CHAPTER 10

Tak terasa sudah jam 14.00, cepat sekali waktu berlalu. Perut krucukan, ya ampun aku belum makan, segera aku ke kantin di basement. Kalo mau pesen GoFood, kelamaan. Yang penting diisi dulu deh. Doohh lupa belom balas WA Sayang.

(WA) AKU: “Sayang, maaf tadi lagi banyak kerjaan. Ini aku baru sempet lunch. Maaf Sayang, baru balas. Love you.”

(WA) SAYANG: “Ohh gapapa Ayang. Duh kasian Ayang. Jangan sakit ya Ayang. Semoga kerjaannya lancar dan beres. IMYA.”

——- (IMYA = I MISS YOU ALREADY) ——-

(WA) SAYANG: “Ohya Ayang, aku boleh upload foto kita kemaren berdua selfie ya.”

(WA) AKU: “Boleh dong!”

(WA) SAYANG: “Ayang juga dong! Upload poto kita berdua ya di IG Ayang. Tapi tunggu, aku pilihin yang bagus dulu ya!”

‘BAGUS’ definisi Sayang adalah yang dia tampak bagus. Bukan gw-nya. Tapi gapapa, cinta sih.

(WA) AKU: “Iya dong, Sayang. Nanti bilangin yang mana ya yang kudu aku upload. Aku makan dulu Sayang.”


CHAPTER 11

Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, berlalu begitu cepat, kerjaan juga cepat beres. Tapi weekend ini aku ga ada rencana ke Bandung, selain Sayang ada agenda sama temen-temen kantornya, juga biar hemat. Cukup dibatesi ketemu sebulan 2 kali saja. Bayangin, naek Travel PP dan transport macem-macem 500 ribu; biaya hotel 800 ribu; belom uang ngajak makan dan jajan, atau kadang nonton di Bioskop kalo ada film yang bagus. Buat yang gajinya gak segede ‘orang minyak dan gas’, ini cukup menguras kantong. Apalagi kudu nabung juga buat nikah sama Sayang.

Jumat siang kulalui dengan sholat Jumat dan makan bareng anak-anak kantor. Hari ini bisa dibilang special, karena tumben-tumbenan neh anak-anak pada gak ada jadwal ke klien, jadi kita rame-rame cari makan di area Setiabudhi.

(WA) AKU: “Sayang, ini aku lagi rame-rame makan di Setiabudhi sama anak-anak kantor, kebetulan lagi pada ngumpul, gak ada yang ke klien. Kamu makan apa, Sayang? Sampai ketemu nanti malam ya, di VC hehehe. Miss you and love you.”

Aku dan teman-teman berangkat rame-rame pake mobil Haris. Jumat siang gini, menjelang weekend, ibukota sangat terik, macet dan orang-orang segitu banyak pada kompakan memenuhi jalanan, ehh itu orang semua bukan ya??

Aku cek HP dulu sebentar, kok masih CENTANG 1 ABU-ABU. Mungkin Sayang sedang sibuk.

Tiba-tiba suara Haris yang lagi nyetir membuyarkan pikiranku tentang kesibukan Sayang. Biasanya hari Jumat dia sudah cukup santai, tapi kok ini WA belum di-read. Ummmm.

Tiba-tiba. CENTANG BIRU. Sudah di-read sama Sayang. Tinggal nunggu balasan.


CHAPTER 12

Percakapan di mobil.

“Bro, elo-elo kudu bikin Tiktok dech! Di situ isinya bening-bening semua, yang nge-dance juga beuhhhh!”

Hahhahahah elo bisa aja, gw mah udah! Biar gak stress mikirin kerjaan, hukumnya WAJIB buat gw follow akun Tiktok yang bikin ngiler. Hahahahahh!”

Heyy coba elo cek akun Tiktok @dindagndruwo31 dinda-g-n-druwo31 nyambung semua, beuhhh dijamin elo kagak bisa tidur!”

Ehh si Tama gercep, langsung search akunnya tuh, hahahahahahh!”

Lalu aku menyahut, “Jelasss doong! Gw cowok normal, Bro! Ini gw mau download aplikasi Tiktok dulu, ketinggalan banget gw sama klean.”

Hahahahahahh ke mana aja elo?!”, anak-anak pada ketawa puas.

Karena gak mau dibilang kudet di dunia ‘percowokan normal’, aku bilang, “Instagram juga banyak tuh yang bening-bening, mereka share saat pada Tiktok-an, gw udah follow juga!”

“Kurang seru! Tiktok lebih seru, Bro!”

Klik klik klik klik, masukkan email, bla bla bla blob blob blob, taadaaa RESMI punya akun Tiktok @jonigabug. Aku sengaja tidak membuat akun dengan nama asli, soalnya buat jaga image juga, plus cuma butuh liatin dancers.


CHAPTER 13

Akhirnya kami sampai juga di tujuan, di area Senopati. Selama hampir 2 jam aku dan teman-teman makan sambil ngobrol ngalor ngidul, sambil sesekali lirik sana lirik sini, banyak yg ‘seger-seger‘, mubazir kalo dicuekin.

Setelah itu, kita balik lagi ke kantor dengan perut kenyang dan hati senang. Sudah lama tidak merasakan kebersamaan dengan anak-anak kantor, ketawa-ketawa bareng. Biasanya pada gak jelas lagi di mana, ada yang lagi ketemu klien, ada yang pulang awal mulu karena kudu bantuin istri ngurusi bayi. Bahagia itu sederhana, makan siang bersama teman-teman pun menyenangkan. Inilah yang dinamakan Jumat Berkah.


CHAPTER 14

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Bapak Bos sudah pulang, kerjaan juga sudah beres. Ahh pulang sekarang ahh, bisa VC-an sama Sayang, dan istirahat lebih awal.

Sayang WA-nya sudah CENTANG BIRU tapi kok Sayang belum membalas ya. Ohh mungkin dia sibuk nyiapin packing buat besok. Waktu itu sempat cerita, katanya mau ada acara bareng teman-teman kantornya di Garut, yang dari Bandung bisa ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Rencananya juga mau berangkat jam 06.00 biar gak macet mengingat Garut juga menjadi tujuan utama turis lokal.

(WA) AKU: “Sayang, pasti lagi sibuk siap-siap buat besok ya? Atau masih di kantor dan banyak kerjaan? Biasanya kalo Jumat sudah santai, Sayang.”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

Beberapa menit kemudian. ——- CENTANG BIRU ——-

…ummm na na na nananananana…

Kok tidak dibalas ya. Ummm.

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah mau pulang dulu nih, see you @VC tonight.”

——- CENTANG BIRU ——- typing:

(WA) SAYANG: “Ya! Nanti malam telpon ya! Kita harus ngomong!!”

Bbblaarrrrr. Kenapa pake tanda seru segala neh Sayang. Mau ngomong?? Tiap hari juga kita ngomong lewat VC, tapi kenapa ini ditulis khusus, ‘KITA HARUS NGOMONG!’. Ehhh, kok jadi merinding gini gw.


CHAPTER 15

Duhh Gusti salah apa aku neh.

Sekitar jam 17.00 aku pulang. Di perjalanan, pikiranku terganggu. Ada apa sih dengan Sayang. Mau ngomong apa. Apa aku bikin salah. Ahh, jangan mikir buruk, mungkin dia lagi mau datang bulan. Ahaa, benar, mungkin lagi mau datang bulan. Aku ingat, saat aku menemuinya di Bandung 2 bulan yang lalu, mukanya ‘ditekuk’ mulu, ternyata dia lagi mau datang bulan, katanya gak mood. Oke deh fix dia lagi gak mood.

Setengah jam kemudian aku sampai rumah dengan selamat, dan seperti biasa, aku langsung mandi dan makan masakan yang sudah disiapkan Ibuk.

Lhoo, pulang cepet, Mas. Sini makan bareng, mumpung pada ngumpul!”

Aku menjawab, “Iya Buk, abis ini turun.”

Di meja makan sudah tersaji nasi anget ngebul, Ayam Goreng, Lalap Sambal, Sop, Tempe Kering, Kerupuk, sikaaaaat. Malam itu aku makan bersama Bapak, Ibuk, dan adekku Tami. Sudah lama aku gak menikmati kebersamaan dengan keluarga. Hari ini memang Jumat yang berkah.

Setelah kenyang dan membantu beres-beres dan sedikit ngobrol sama Bapak, aku beranjak ke atas, menuju kamarku.


CHAPTER 16

Sikat gigi dulu dan nyisir, persiapan mau VC-an sama Sayang.

Thiriririiiit thiriririiiit thiriiiriiit. Video Call SAYANG calling…..

(Video Call) AKU: “Halo Sayang, tambah fresh saja Sayang, udah makan?”

(Video Call) SAYANG: “Lom!”

(Video Call) AKU: “Lho kenapa Sayang? Ini sudah mau jam 9 belum makan? Barusan aku makan Ayam Goreng bikinan Ibuk, dan lagi pada ngumpul neh tadi. Seneng hari ini bisa kumpul-kumpul sama temen dan keluarga. Tadi siang pas lagi ramean sama anak-anak kantor, Dwi abis dari toilet, lupa kagak resletingin tuh celana. Hahahahahahaha, bodor emang tuh anak, hahahahahahahahah!”

Selagi aku tertawa, Sayang tetap diam dan tidak ikutan tertawa. Ada apa? Salah apa aku?

(Video Call) AKU: “Ohya Sayang, tadi katanya mau ngomong. Ada apa, Sayang?”

(Video Call) SAYANG: “Oke, Tama Hildago!”

Kenapa manggil aku pake nama lengkap, dan bukan pake ‘Ayang’. Merinding gw. Gawat ada apa neh.

(Video Call) SAYANG: “Kenapa sih kamu nge-follow cewek-cewek yang pada pake baju kurang bahan begitu??!!”

Sayang berbicara dengan nada tinggi dan wajah ‘ditekuk‘.

(Video Call) SAYANG : “Pake nge-likein segala, ya ampuuun Tamaaaa! Yang tiap kamu telat balas, yang kamu bilang banyak kerjaan, maksud kamu ‘kerjaan’ ini ya!! Follow-in akun-akun genit jablay, nge-like nge-like poto-potonya! Itu tiap orang, hampir semua potonya kamu like! Kenapa sih? Ganjen amat!

Bblaarrr, ya ampun Sayang marah karena ini toooo, dan dia tau kalo aku follow dan like-in akun-akun cewe-cewe itu.

(Video Call) SAYANG : “Apa sih maunya?!! Kalo sudah punya pacar, sudah tidak seharusnya begitu!!! Sana pacaran aja sama mereka! Saking sibuknya scrolling foto mereka, sampe lupa gak upload foto selfie kita kan!! Itu namanya kamu mengutamakan mereka dibandingkan pacar kamu sendiri! Kalau kamu masih jomblo, ya bodo amat lah, tapi kita kan udah pacaran! Aku gak suka kamu gitu! Kalo kamu tetep gitu, lebih baik kamu pacaran saja sama mereka!”

Blaarr..blarr..blarrr. Aku bingung mau jawab dari mana. Ini hanya FOLLOW dan LIKE doang gitu!! Apa yang salah??!! Arrgghhh.

(Video Call) AKU: “Sayang, aku gak kenal mereka di real life. Itu hanya di internet doang, Sayang, aku gak ngapa-ngapain sama mereka. Ketemuan pun enggak. Karena fotonya bagus, aku like, dan follow.”

(Video Call) SAYANG: “Foto bagus??? Maksudnya yang sambil mamerin sembulan dadanya gitu! Sambil nungging-nungging gitu. Itu definisi BAGUS buatmu??! Kan ada banyak akun yang isinya bagus beneran, yang Fotografi Alam, yang tentang Fitness, tentang Astronomi, tentang kata-kata bijak, kenapa malah cari yang kayak begitu??!!! Oke, aku paham cowok suka cewek, itu normal, tapi ya gak harus di-follow dan like sebanyak itu kali! Pathetic amat, kayak yang pengen diperhatiin sama tuh cewek-cewek. Nih nih aku udah like-in semua potomu nih, notice me dong. Gitu ya??! Gitu ya ngarepnya??!!”

(Video Call) AKU: “Enggakk gitu, Sa…”

(Video Call) SAYANG: “Aku kan juga malu kalo tau pacarku bergenit-genit sama cewek-cewek di internet! Seolah, ihh si …. Gak seseksi cewek-cewek itu, wajar lah cowoknya nge-follow akun cewek-cewek hot! Gitu ya??! Ehh tau engga, teman-temanku gak ada tuh yang cowok-cowoknya sok sok follow dan like akun-akun cewek gak jelas di internet kayak gitu! Itu fakta lho! Silahkan tanya satu-satu ke teman-temanku. Kamu doang nih yang bikin gregetan!! Kalo kamu gak pacaran sama aku, silahkan lah kamu kayak gitu! Tapi kita sudah pacaran, dan menuju ke jenjang serius, masak gak dipake siy common sense-nya, masih sok-sok genit sama cewekcewek!!”

(Video Call) AKU: “Ya ampun Sayang, itu cuma di Instagram! Aku gak kenal sama mereka, cuma biar nambah banyak teman.”

Aku bingung gimana jawabnya Gustiiii!

(Video Call) SAYANG: “Nambah temen?? Temen?? Tapi kenapa harus sama cewek-cewek itu!!! Nambah teman tuh gampang! Cari kek yang sama-sama cowok! Cari kek yang content-nya bermanfaat dan positif! Bukannya malah cari yang begituan!!”

(Video Call) AKU: “Maaf Sayang, aku di kerjaan kan stress, aku butuh refreshing, kalo nyarinya yang content-content belajar, aku sudah cukup stress, jadi aku cari yang akun santai dan bikin rileks, aku juga follow akun-akun yang becandaan juga, Sayang.”

(Video Call) SAYANG: “Kalo mau nambah temen di Instagram, cari aja hashtag: followforfollow, pasti buanyak tuh temenmu nambahnya! Alasan aja ini mah!!”

(Video Call) AKU: “Aku juga gak tau mereka itu siapa, rumahnya di mana, kuliah atau kerja, aku CUMA lihat foto, kalo bagus,LIKE. Udah gitu doang, Sayang.”

(Video Call) SAYANG: “Doang?? Bela-bela-in follow gitu lho. Dan bikin kamu sering lama balas WA. Ngakunya aja sibuk banyak kerjaan, trnyata cuma asik-asik ngliatin foto-foto cewek-cewek geje!”

jdr#44gu&)ihhhj!!!!!k8hbjdiooohhoioo###blobblobblobblobbbb1111$%$##

Sayang ngomong A sampai Z yg bikin kuping panas, bingung mau menjelaskan apa lagi. Begini ya rasanya dimarahin.  Ingin rasanya aku banting neh HP dan mengeluarkan kata-kata binatang, tapi gak bisa. Semarah-marahnya Sayang, dia gak pernah mengumpat, bahkan dalam bahasa Inggris sekalipun. Oke aku akan biarkan dia ngomong sepuasnya, mungkin ini cara dia melampiaskan kemarahannya. Apa aku mute saja ya. Ehh jangan.

(Video Call) SAYANG: “#$%$= ghhjjgrrr;;^*(£€€€. Halo, halo, kok diem saja sih??”

(Video Call) AKU: “Oh ehh iya Sayang, aku paham, maafkan aku Sayang. Tapi aku gak selingkuh lho!! Kok marahnya kayak yang aku selingkuh saja sih. Aku akan unfollow cewek-cewek itu sekarang!”

(Video Call) SAYANG: “Iya, tapi jangan sedih kalo udah pisahan sama mereka ya!”

(Video Call) AKU: “Pisah gimana?? Kenal aja kagak. Ketemu juga kagak.”

(Video Call) SAYANG: “Ya kan kamu jadi ga liatin foto-foto mereka lagi. Katanya biar ga stress. Jadi sumringah gitu ya kalo liat foto-foto mereka! Pelipur laramu.”

(Video Call) AKU: “Enggak lah Sayang. “

(Video Call) SAYANG: “Kan bisa gaming, atau olahraga biar gak stress. Unfaedah banget sih liat foto cewek-cewek geje buat ilangin stress!”

Aku lama terdiam, bingung, kesal, capek, lelah…

(Video Call) AKU: “Iya Sayang, abis ini aku unfollow mereka.”

(Video Call) SAYANG: “Oke. Aku gak suka kamu begitu. Aku sakiit dan kecewa tau kamu segenit itu!”

(Video Call) AKU: “Ya sudah….. Ummm besok kamu siap-siap jam berapa? Ngobrol yang enak saja yuk.”

(Video Call) SAYANG: “Oke, aku mau tidur dulu. Bye!”

……thiiiiiiittt…. Dia memutus sambungan telpon begitu saja. Dan aku sudah terlalu lelah dan ngantuk buat buka Instagram dan unfollow cewek-cewek itu. Sudah habis energiku. Hoaahhhmmm besok saja lah. Zzzzzzzzzzzzzzz.


(Bersambung)

Cerita fiksi ini merupakan revisi dari yang telah saya tulis pada bulan Juli 2021 SocMed dalam LDR: A Blessing Or A Curse

Untitled

“Mamah, Mam, jangan ninggalin aku ya…”

Ucap Pak Suami tadi malam (atau setelah tengah malam atau malah sudah pagi ya, uumm, entah pokoknya saat sedang tidur malam) sambil memegang tangan saya erat.

Tentu saya terkaget dan terbangun, ya saya orangnya mudah kebangunan even over a subtle noise, ehehe.

Saya membalas erat genggaman tangannya, dan ketika saya menengok, ternyata Pak Suami dalam keadaan tidur.

Hhhmmm ini tadi ngelindur to, baru mimpi apa, Pap.pikir saya.


Paginya, saat sudah bangun tidur dengan dengan segar bugar, saya menanyakan perihal semalam.

“Papito, mimpi apa? Kok tadi malam merangkulku sambil bilang agar aku gak ninggalin kamu..”

Mosok sih Mam, aku bilang gitu??” jawabnya.

“Iya, Pap! Jelas banget suaranya. Mana pake megang tanganku erat banget pula!”

“Aku tadi malam mimpi buruk, Mam. Kamu pergi ninggalin aku, ngabur sama guru yogamu. Lalu kamu dan orang itu membawa semua barang yang ada di rumah, bahkan PS5-ku diambil juga!! Huhhh, sebel, Mam, dan… sedih…” raut mukanya terlihat serius dan kesedihannya fix asli bukan dibuat-buat.

Saya tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

Bhuahahahaha wkwkwk, owalaah, Papito! Kamu mah kebanyakan menonton film. Yang adegan istri punya affair dengan guru yoga atau fitness coach-nya. Tenang, Pap. Aku gak mungkin lah……”

“Alhamdulillah, beneran ya Mam….” Pak Suami membalas perkataan saya tanpa membiarkan saya menyelesaikannya.

“Tunggu Pap, aku belum selesai ngomong. Gak mungkin lah aku ngabur sama yang se-type guru yoga atau fitness coach; karena type-ku kan yang brain-oriented, yang berwawasan luas, duitnya banyak, charming, uumm seperti Elon Musk gitu lah Pap!” saya sengaja melemparkan candaan ini untuknya.

“Mamaaah. Mam kok gitu…” sambil memasang wajah sedih.

Ya ampuun saya menahan ketawa dibuatnya. So sweet banget Pak Suami pagi ini wkwkwk. Wajah sedihnya pun malah tampak lucu di mata saya, lucu in a good way ya, wkwkwk, kayak anak kecil.


Made with CANVA

BEFORE-MARRIED LYFE VS AFTER-MARRIED LYFE

Sejak kami berdua menjalani hidup berumah tangga, Pak Suami sudah jaraaaang sekali ber-mellow begini atau berbincang mesra. Terakhir saya ingat beliau romantis itu ya pas masih pacaran dulu, abis itu ya bablasss.

Masa-pacaran lyfe:

  1. Beliau dengan senang hati membawakan tas saya ketika sedang jalan-jalan berdua.
  2. Beliau langsung gercep memberi pijatan kalau saya mengeluh capek.
  3. Beliau langsung sigap membelikan makanan begitu saya bilang saya lapar, pun beliau rela pake uangnya sendiri pula, wkwkwk.
  4. Kalau saya marah atas hal yang beliau lakukan, beliau tidak segan minta maaf berkali-kali dan membelikan saya barang untuk menunjukkan bahwa maafnya sungguh-sungguh. Dulu pernah ada kejadian, ketika kami sedang jalan-jalan berdua di PVJ, saya melihatnya sedang tersepona dengan mba-mba SPG rokok, dan saya marah wkwkwk. Well, kasus ‘melirik mba SPG’ ini cost him sebuah speaker merk Altec Lansing yang saat itu harganya lumayan, wkwkwk saya juga sekalian opportunist ceritanya.
  5. Apapun film yang saya suka; beliau PASTI langsung ikutan suka. Saya gemar drakor Full House, ikutan. Saya doyan Gossip Girl, ikutan juga. Padahal sama sekali bukan genre favoritnya.
  6. Beliau memiliki rasa keingintahuan yang super tentang saya. Segala yang saya lakukan; yang saya tulis; yang sedang saya perjuangkan dan hadapi; semuaaa dikepoin. Saya malah beberapa kali harus menyembunyikan beberapa hal, karena takutnya beliau salah paham dan insecure.

Sedangkan, after-we-got-married lyfe (sampai sekarang):

  1. Boro-boro bawain tas, yang ada sekalian minta dibawakan tas-tas belanjaannya.
  2. Keluhan saya capek dijawab dengan singkat , “Oooooo..”, kadang ditambah dengan suara kentutnya.
  3. Lapar euy, Pap. “Ya serah elu. Sana masak sendiri, atau pesan gofood kek,..”
  4. Saya marah atas perkataan dan perbuatannya; beliau lempeng wae, tampak tidak ngerasa kalau saya sedang marah ke dia.
  5. Sekarang, dengan lantang dan berani mengejek film kesukaan saya yang beliau tidak suka. “Film apaan tuh, so lame..”
  6. Sudah gak kepo-an, sama sekali! Malah tulisan-tulisan saya di blog yang saya share link-nya langsung ke beliau; gak pernah di-klik, sekalipun, errrr

HE’S SO DIFFERENT THIS MORNIN’

Namun pagi ini, hari Minggu, tanggal 3 Oktober 2021, berbeda….

“Benar ya Mam. Jangan ninggalin aku ya Mam…”

Ooohh saya trenyuh melihat wajah sedihnya yang oohh so sweet dan mendengar suaranya yang diucapkan dengan gemeteran. Ahahaha Papito, Papito, you truly made my Sunday mornin’.


“Tenang, Papito. Of course I won’t do that. You know me so well….


Pengalaman Berbahasa Seorang Wanita ‘Ndeso’

BAHASA DAN MANUSIA

Ketika sedang merenung, saya selalu awestruck dengan keberadaan dunia dan seisinya. Termasuk diantaranya adalah eksistensi sebuah BAHASA, yang membuat sesama manusia bisa berkomunikasi dan membangun peradaban besar di bumi.

Terhitung sejak manusia hadir ribuan tahun yang lalu hingga saat ini, sudah terdapat ribuan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yang keberagamannya terdengar sangat indah di telinga.

Dari yang awalnya (mungkin) hanya ‘uu aa uu aa’ dan suara grunting; groaning; crying out; sighing, sampai sekarang di mana sudah ada milyaran kata bertebaran, yang bahkan banyak kata yang sulit sekali diucapkan dan dieja sampai harus dimasukkan dalam kompetisi spelling bee, seperti: ‘esquamulose’;appoggiatura’;.. —artinya cari sendiri di google ya ehehe–.

Juga yang menjadi ‘santapan’ sehari-hari ketika saya berkuliah di Departeman Biologi, yakni nama latin hewan dan tumbuhan, seperti: Rattus norvegicus; Staphylococcus aureus; Cnidoscolus aconitifolius; dan masih banyak lagi. *mblenger.

Banyak kata-kata dalam bahasa Indonesia yang berupa hasil peleburan dengan kata-kata dari bahasa lain, yang biasa disebut sebagai KATA SERAPAN. Seperti: ‘buku’ (dari ‘book’); ‘coklat’ (dari ‘chocolate’); ‘traktir’ (dari ‘trakteren’), ….

Saya jadi teringat bahasa Jaksel, yang basically rutin dipakai anak-anak muda gaul nan hits yang tinggal di area Jakarta Selatan. Mereka suka nge-mix bahasa Inggris dengan Indonesian, like, literally. Bukan hal yang impossible, suatu saat kata-kata which mereka buat akan menjadi kata baku di dictionary.

Seperti halnya suatu spesies yang akan punah ketika tidak mampu beradaptasi, begitu pun dengan kata. Banyak kata yang sudah masuk kategori kuno yang tidak pernah dipakai lagi, namun banyak juga kata-kata baru yang muncul dan berusaha untuk survive.Unfriend‘; ‘bitcoin’; ‘twerk’; ‘binge-watch’, ‘buzzworthy’, ‘bling’, ‘mini me’; ‘bromance’; ‘chillax’; ‘vlog’;… saya yakin generasi papah mamah kita tidak paham arti kata-kata tersebut.

Inilah yang dinamakan suatu EVOLUSI BAHASA oleh para linguists.


BAHASA YANG VIRAL DAN MENDUNIA

Era informasi yang advance di masa sekarang sangat memudahkan manusia untuk saling mengenal, mengetahui, dan belajar bahasa yang ada di segala sudut dunia. Melalui social media; film; musik; serta app belajar bahasa, seperti Duolingo dan sejenisnya.

Walaupun sedikit disayangkan, karena berdasarkan pengamatan saya, kata dalam bahasa asing yang mudah diingat dan fasih dilafalkan adalah kata cursing-nya ya. Ehehe.

Seperti: ‘puto‘, ‘puta’, dan ‘puta madre’, di bahasa Spanish.

Lalu ‘baka’ di bahasa Jepang; ‘bollock’ di bahasa Inggris para Londoners; ‘sshi-bal’, yang sering diucapkan oleh para Oppa dan Eonni Korea; atau ‘merde’ di bahasa Perancis.

Artinya? Ya 11-12 lah dengan ‘F-word’; ‘S-word’; ‘B-word‘; ‘MF-word‘ di Bahasa Inggris atau beberapa jenis binatang (jangkrik; anjing; babi; asu;..) yang tidak diucapkan sebagai makna denotasi di Bahasa Indonesia.


PENGALAMAN BERBAHASA SEORANG WANITA KEDIRI

BAHASA JAWA

Tentu saja sebagai manusia yang dilahirkan di Kediri -suatu kota kecil di Jawa Timur- , yang juga merupakan hasil pembuahan pasangan suami istri berdarah Jawa; bahasa Jawa adalah bahasa asli saya. Layaknya hampir semua daerah di Indonesia, orang Kediri memiliki gaya tersendiri dalam menggunakan bahasanya.

Bahasa Jawa yang digunakan oleh orang Kediri (yang selanjutnya akan saya sebut dengan ‘Bahasa Kediri’) mengutamakan unsur berikut: memantabbkan, menegaskan, menekankan, dan me-lebay-kan.

Selalu ada kata awalan yang jika berdiri sendiri tidak ada artinya, seperti ‘uuwaa‘ dan ‘uuwee‘, yang terlihat pada kata: ‘uuwaangel‘ (sangat sulit); ‘uuwaakeh‘ (sangat banyak); ‘uuweenak‘ (sangat enak).

Penggunaan kata yang mengandung huruf ‘d’ juga dimantabbkan menjadi ‘dh’, misalnya: ‘brodhol‘ (rontok); ‘bodhol‘ (rusak). Jadi pemakaian huruf ‘d’ itu tidak bisa biasa saja gitu, harus luar biasa uhh mantabb.

=================================================================

Di usia 18 tahun, saya hijrah ke kota Bandung untuk menjalani hidup sebagai mahasiswa ITB. Disinilah saya memperoleh pengalaman amazing di mana saya bisa bertemu dengan teman-teman dari Sabang sampai Merauke.

Semua kawan baru pasti langsung bisa menebak bahwa saya orang Jawa. Selain karena aksen medhok yang kental, kemungkinan juga karena wajah yang khas Jowo, yang ketika TK memenangkan juara 1 ‘Lomba Mirip Wajah Ibu Kita Kartini’. Raden Adjeng Kartini yang merupakan epitome wanita Jawa.

(Made with CANVA)

Padahal saya sudah berusaha menyembunyikannya dengan sok sok Jakartans, tapi ternyata epic failed! Ya bisa dibayangkan lah bagaimana orang medhok dengan sangat pede memakai kata ‘elu gw’.

Kala itu saya malu dengan logat Jawa saya yang terdengar sangat ndeso, apalagi teman-teman di kampus terdengar ‘sangat kota’. Namun saya sadar kalau saya ngomongnya di-kota-kota-in nanti malah jadi malu maluin. Akhirnya saya embraced keadaan diri saya yang medhok ini. Saya meyakinkan diri agar tidak malu dengan ke-Jawa-an saya dengan menyematkan tagline ‘ACT LOCALLY, THINK GLOBALLY’ . Logat boleh medhok bin ndeso, tapi pola pikir harus mendunia! Dibilang orang Jawa, ya memang wong Jowo! Ehehe.

Tapi malunya saya tidak separah teman saya lho. Setelah beberapa bulan sejak resmi menjadi mahasiswa ITB, saya melihat teman SMA di kantin GKU Lama, yang sebut saja namanya Mela. Saking excited-nya, saya segera berlari menujunya sambil bersuara cukup kencang memanggil namanya,

“Mel, Mel, bhiyoohh wes suwi ora ketok. Kowe arep maem nang kantin to? Yok barengan. Iki mau bar kuliah opo? Bukumu kuwandeel eram”, (“Mel, Mel, ya ampuun lama gak kelihatan. Kamu mau makan di kantin ya? Bareng yuk. Ini tadi baru selesai kuliah apa? Bukumu tebal amat”)

Dengan semangat saya menghujaninya dengan rentetan pertanyaan dan pernyataan dalam bahasa Kediri.

Ternyata kegirangan saya bertepuk sebelah tangan, mata Mela tidak berbinar dan tidak tersenyum seolah tidak mengenal saya. Tapi saya tetap berusaha mendekatinya. Meskipun tidak terdengar suaranya, saya lihat mulutnya komat-kamit. Ngomongnya sangat pelan seperti berbisik.

“Kowe ngomong opo to?? Aku gak krungu blass. Seng bbhuanter ngono lho!” (“Kamu bilang apa sih? Aku gak dengar. Yang kenceng dong!”)

Lalu Mela menjawab dengan suara lebih keras dan memakai bahasa Indonesia.

“Aku sudah selesai makan, Ril! Aku pergi dulu ya, harus ke jurusan!”

Saya terdiam melihatnya meninggalkan saya secepat itu, dan merasakan sakitnya tuch di sini… ouchh

=================================================================


Sampai detik ini, di usia saya yang sudah 30++ (sstt, plus-plus-nya rahasia ya wkwk) saya masih saja medhok. Logat original saya tidak bisa hilang, tapi saya sudah tidak malu kok. Bahkan sejak sudah berkeluarga, dengan bangga saya menggunakan nama depan saya yang Jawa banget dalam bersosialisasi.

“Nama saya Sri, Bu Sri..”

=================================================================



BAHASA INDONESIA

Mamah papah tidak pernah mengajak dan mengajari saya ngomong bahasa lain selain the one and only bahasa Kediri. Bahasa Indonesia saya kenal dari sekolah, dan masih masuk kategori nunak-nunuk.

Ketika saya duduk di kelas 1 atau 2 SD, sepupu-sepupu saya yang dari Jakarta berkunjung ke rumah. Tentu saya harus memakai bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan mereka.

Kala itu kami bermain kejar-kejaran dan di tengah permainan, salah satu sepupu saya, Rani, menanyakan,

“Ril, tadi Citra lari ke mana?”

Citra ada di belakang. Tapi saya tidak tahu (atau lupa) dengan kata ‘belakang’, akhirnya saya menjawabnya dengan,

“Itu, di mburi

Mburi adalah bahasa Jawa dari kata ‘belakang’.

Tentu Rani kebingungan mendengar jawaban saya. Untungnya ada bahasa universal, bahasa tubuh, yang bisa menyelamatkan miskomunikasi kami. Dengan menggunakan gerakan tubuh dan tangan, akhirnya Rani paham bahwa ‘mburi’ itu maksudnya ‘belakang’. Bisa tergambar kan bagaimana kemampuan bahasa Indonesia saya saat masih kecil. Nunak-nunuk.

=================================================================


Ada satu lagi kata dalam Bahasa Indonesia yang membuat saya tidak mendapatkan nilai 100 bulat di pelajaran Fisika. Kalau ingat, aduhh kesalnya!

Waktu SMP kelas 1, saya tidak menyangka bisa excited belajar bidang studi baru, Fisika. Awal pertemuan dengan Bapak Guru pengajar Fisika, saya merasa klik dengan pelajaran ini. Beberapa kali, Bapak Guru melayangkan pertanyaan, di kelas hanya saya yang selalu angkat tangan dan menjawab dengan benar. Selang beberapa minggu, ulangan pertama pun tiba, tentang GERAK. Saya sudah sangat yakin akan mendapat nilai 100, karena saya bisa, saya mampu, dan saya mau belajar!

Sampai semuanya buyar saat saya melihat pertanyaan no 1. Saya tidak paham apa artinya. Begini bunyi pertanyaannya:

1. Apakah definisi dari geraK?

Serius, saat itu saya sama sekali tidak tahu apa artinya DEFINISI. Akhirnya saya selesaikan soal yang lainnya dulu. Sesudah beres, saya memberanikan diri menanyakan ke Bapak Guru,

“Pak Dwi, definisi itu artinya apa?”

Dan, Bapak Dwi menjawab,

“Definisi itu ya definisinya. Artinya ya itu”

Kira-kira begitulah, pokoknya saya ingat jawaban beliau itu sama sekali tidak membantu.

Hhuhhh. Karena waktu yang sudah sangat mepet, saya tulis saja semua yang saya ketahui tentang GERAK. Jawaban paling panjang tapi tidak esensial.

Taa daa, pantas saja nilai saya hanya 97! Andai saja saya tahu arti dari ‘DEFINISI’, saya tidak perlu capek-capek menulis panjang lebar, melainkan hanya cukup 1 baris:

Gerak adalah perubahan kedudukan suatu benda dari posisi awal.

Dan bisa meraih nilai 100!

=================================================================


BAHASA INGGRIS

Pertama kali belajar bahasa Inggris adalah saat saya duduk di kelas 2 SD. Bude yang rumahnya hanya berjarak 10 menit, rutin memisahkan lembar halaman “Belajar Bahasa Inggris Untuk Anak” yang muncul setiap hari Minggu di koran JAWA POS. Saya tidak menyangka betapa semangatnya saya mempelajarinya. Mungkin karena saat itu saya demen dengan Sesame Street. Mirip pengalaman Hicha.

Tinggal di kota kecil, Bahasa Inggris bukanlah hal yang populer bagi para pelajar, terutama anak SD. Dengan bermodalkan bisa berhitung dari angka 1 sampai 20 yang saya pelajari dari koran JAWA POS; saya dibilang jago baHAsa Inggris. Saya merasa ‘di atas’, tak ada lawan!

Di SMP, saya resmi menerima pelajaran Bahasa Inggris di sekolah. Karena saya sudah curi start sejak SD, pertemuan pertama meninggalkan kesan positif buat guru dan teman-teman sekelas. Dengan bermodalkan tahu grammar ‘I am’, ‘you are’, ‘he is’,… lagi, saya dibilang jago baHAsa Inggris. Apalagi ketika banyak teman yang menganggap ‘no what what‘ merupakan terjemahan untuk ‘tidak apa-apa’; dan ‘blekketdet‘ untuk ‘kucing hitam mati’. Fix tak ada lawan!

SMA juga begitu, tapi di sini sudah ada lawan, banyak malah, karena SMA yang saya masuki adalah yang terfavorit di Kediri. Namun saya tetap lumayan unggul, malah saya pernah diminta seorang teman untuk menerjemahkan surat cintanya ke dalam bahasa Inggris dan saya mampu. Menurut saya itu sebuah achievement.

Nah, shock saya dapatkan saat kuliah. Kemampuan english saya tidak ada apa-apanya dibanding teman-teman. Mereka fasih dalam speaking-nya. Setelah membaca text book pun terasa makin mblenger. Ditambah kebingungan saya dengan tes TOEFL, skor pun hanya 400an. Saya baru menyadari bahwa Bahasa Inggris saya masih level beginner.

Pujian memang bisa menyesatkan ya. Membuat saya berpuas diri dan tidak ingin mengeksplor lebih dalam. Gelar JAGO BAHASA INGGRIS yang saya terima saat duduk di SD, SMP, dan SMA, ternyata hanya ‘abal-abal’ semata.

=================================================================


BAHASA JEPANG

Lulus kuliah, sambil menyandang profesi sebagai ‘job seeker‘, saya signed up kursus Bahasa Jepang di BLCI. Tapi saya tidak optimal menjalankannya. Beberapa kali pertemuan harus saya skip karena bentrok dengan jadwal wawancara kerja. Teman baru yang saya temui di tempat kursus sering mengajak saya karaoke setelah selesai les. Bisa habis duit saya, belum juga dapat kerja. Lagian dulu kok saya mau ya diajakin, the-old-me tidak berani bilang TIDAK. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya merasa bahwa (kala itu) saya sedang tidak membutuhkan bahasa Jepang, akhirnya saya memutuskan untuk tidak meneruskannya. Seperti yang Risna tulis, bahwa kalau sedang tidak butuh, ya tidak ada motivasi mempelajarinya.

=================================================================


BAHASA SPANYOL

Dalam rangka membuat otak saya terus ter-occupy, juga karena saya tertarik untuk mempelajarinya setelah saya tergila-gila dengan serial Narcos di Netflix; lately saya rutin belajar bahasa Spanyol melalui app Duolingo. Mendengar orang-orang Amerika Selatan ngomong terdengar lucu dan penuh semangat. ‘Como estas’, ‘mira’, ‘nada’, ‘si’, ‘mi casa es su casa’, ‘esta bien’, …

Lafal pengucapannya pas banget diucapkan oleh wong Jowo medhok seperti saya, yang khas dengan pemakaian kata ‘d’ dengan ‘dh’, pokoknya yang sangat ‘menekan’ agar terdengar mantabb.

Selain itu, antara ejaan dan bunyi, seperti bahasa Indonesia, seperti: ‘inhale’ dibaca ‘in-ha-le’ bukan ‘inhel’; ‘idea’ dibaca ‘i-de-a’, bukan ‘aidie’.

Yang perlu diperhatikan adalah pemisahan kata feminin dan maskulin, aduhh kok sexist wkwk. Tenang, tidak perlu beranggapan sejauh itu, pasti para ancestors mereka punya alasan tersendiri. Untuk kata yang feminin diawali dengan kata ‘la‘, seperti: ‘la mujer‘; ‘la manzana‘; ‘la cuchara‘. Sedangkan kata maskulin diawali dengan kata ‘el‘, seperti: ‘el hombre‘; ‘el libro‘; ‘el cuchillo‘.

Kemudian peletakan antara kata benda dan kata sifat yang berbalikan prinsip dengan bahasa Inggris, seperti: ‘la falda larga‘ (a long skirt); ‘un pelo hermoso y saludable‘ (a beautiful and healthy hair); ……. lalu, lalu, lalu…..

Entonces, uummm, … espera… por que te tengo que ensenar ese languaje? Debo parar ahora!

=================================================================


MENCIPTAKAN BAHASA IBU BAGI ANAK SAYA

Mengetahui fakta bahwa otak bayi seperti ‘sponge’, saya bertekad untuk mengajak anak saya ngobrol langsung dengan 2 bahasa sekaligus, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jadi dengan sudah menguasai 2 bahasa sejak infant, dia bisa menggunakan source-nya untuk belajar bahasa yang lain.

Saya juga menyuguhkan untuknya film-film, musik, buku, yang semuanya berbahasa Inggris. Saya memang sudah niat banget agar anak saya menganggap bahasa Inggris sebagai bahasa ibu. Dan it works!

Kalau mendengarnya speaking, dia terdengar seperti native. Jadi walaupun sang anak belum pernah tinggal di luar negeri; ortunya bukan bule; kita bisa lho ‘shape’ anak. Kalau saya mampu berbahasa Mandarin, saya tidak segan untuk mengajaknya berkomunikasi dengan 3 bahasa sekaligus.

Ohya, speaking of, anak saya juga sudah punya blog berbahasa Inggris, yang berisikan cerita fiksi karangan dia sendiri dan review buku. Mungkin ada teman-teman MGN yang mau menggandeng dan atau membantu menerbitkannya dan,.. dan,.. dan,… walah Bu Sri kok request-nya berlebihan wkwkwk

=================================================================



Membaca pengalaman berbahasa para mamah MGN, yang sudah banyak berkunjung dan bahkan tinggal di berbagai negara; membuat saya termotivasi untuk memaksa Pak Suami agar mau pesan tiket segera. Maaf ralat, …. mengharap padaNya agar suatu saat diberikan kesempatan melanglang buana. 🙂

=================================================================


Artikel ini ditulis untuk ikut berpartisipasi meramaikan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog (MGN) bulan September dengan tema “Pengalaman Berbahasa Seumur Hidup”.

=================================================================

THE VOYEURS, HOT & MENCEKAM

APA ITU THE VOYEURS?

Scrolling Amazon Prime dalam rangka in the mood of menonton film, mata saya ‘terkunci’ dengan thumbnail The Voyeurs yang disertai dengan keterangan singkat:

After moving into a beautiful loft apartment in Downtown Montreal, a young couple, find themselves becoming increasingly interested in the sex life of their eccentric neighbors across the street. What starts out as an innocent curiosity slowly turns into an unhealthy obsession, after they discover that one of these neighbors is cheating on the other”  (Pasangan muda yang baru pindah ke apartemen di Downtown Montreal, makin semangat ngepo-in aktivitas seks tetangga seberang. Yang awalnya hanya sekedar ‘lewat saja’, lama-lama menjadi suatu obsesi yang tidak normal, terutama setelah mereka nge-gap sang tetangga pria doyan selingkuh)

Definisi ‘voyeur berdasarkan kamus Merriam Webster: someone who obtains sexual gratification from observing unsuspecting individuals who are partly undressed, naked, or engaged in sexual acts. (Seseorang yang senang bahkan sampai ketagihan melihat orang lain memakai baju minim, telanjang, atau melakukan hubungan seks)

Sudah jelas bagaimana film ini mengarah kan, ehehe.


Tentu saja saya harus sabar menunggu anak saya tidur untuk menontonnya. Selain karena saya tidak install app Amazon Prime di HP yang membuat saya harus menontonnya di screen TV di ruang keluarga; pastinya juga karena genre film erotic thriller ini sudah pasti masuk kategori 21+ yang padat dengan adegan dewasa.


HELLO SS, MY CRUSH!

Beberapa menit di awal, saya sudah merasa memiliki ikatan chemistry dengan film ini. Dari ambience apartemen dan lokasinya, pemainnya, dan lifestyle kekiniannya.

Pippa, karakter utamanya, diperankan oleh Sydney Sweeney; yang di film ini merupakan kali kedua saya melihatnya. Pertama kali saya mengetahui keberadaan seorang Sydney adalah ketika dia bermain di film horror Nocturne, yang juga ada di Amazon Prime. Dalam sekejap saya langsung jatuh cinta padanya, ehehe. Celebrity crush, they said. Ahhh… menurut saya, dia adalah wanita sexy yang memiliki kekhasan tersendiri. Bentuk tubuhnya petite dengan big boobs, matanya sayu, default wajahnya judes alias resting bitch face; unik menawan deh pokoknya!


JALAN CERITA

CHAPTER 1: THOMAS & PIPPA PINDAH KE MONTREAL

Typical pasangan milenial yang independen, free-spirited, berkecukupan, achievement-oriented, dan a routine fun seeker; Pippa dan Thomas. Hari itu mereka pindah ke apartemen di Montreal untuk melanjutkan karirnya, Pippa sebagai ophthalmologist (ahli mata) dan Thomas sebagai musisi yang vibe-nya sekilas mirip FKJ; yang sekaligus menjadi hari pertama cohabitation (tinggal bersama) mereka.

Malamnya, setelah lelah seharian unpacking, mereka leyeh-leyeh menikmati pemandangan luar melalui jendela kamarnya yang lebar. Pippa ditemani dengan minuman beralkoholnya, sedangkan Thomas memilih untuk hidup sehat dengan minum klorofil. Kok saya jadi teringat minuman sejenis merk KLink yang sempat populer sekitar 1 dekade yang lalu ya. Ohya, kata Thomas, minuman klorofil adalah koentji umur panjang.

Di tengah ngobrol santuy-nya, mereka kaget dengan apa yang sedang mereka saksikan bersama. Tetangga yang ada di seberang apartemen, sedang on fire melakukan hubungan seks!

Made with CANVA

Duhh.. Mba, Mas, malu atuh, mbok ya ditutup pakai tirai gitu lho jendelanya, atau setidaknya dimatikan lampunya. Kalau ada yang melihat kalian sedang begituan, bukan salah yang lihat lho. Atau, mungkin, Mba dan Mas ini adalah para exhibitionists, yang memang sengaja ingin mempertontonkan diri dalam kondisi tidak proper?? Hhmm..


Thomas dan Pippa tertawa tak percaya dengan kejadian tersebut, namun sambil tetap fokus mantengin tetangganya. Mereka merasa menjadi audience VVIP untuk film porno level atas, karena pasangan yang mereka lihat memiliki bentuk badan yang indah dan sempurna layaknya para pemain film porno. Cara bermainnya pun lihai dan berdurasi lama. Hayyoo, Thomas dan Pippa, tidak baik lho menjadi seorang voyeur. Sebaiknya segera alihkan pandangan dan pasang tirai penutup di jendela kalian. Atau kalian bisa menemui mereka secara langsung dan memberitahukan bahwa kalian bisa sangat jelas melihat semua aktivitas mereka dari apartemen kalian. Unless mereka exhibitionists, pasti mereka berterimakasih dan segera menindaklanjutinya.


CHAPTER 2: MULAI NEKAT

Thomas yang awalnya semangat, sudah mulai kembali normal, ogah mantengin lagi. Sedangkan Pippa yang awalnya malu-malu kucing melihat aksi mereka, tak disangka malah jadi ketagihan.

Sampai-sampai Pippa nekat menyusup di pesta kostum yang diadakan tetangga seberang untuk memasang semacam penyadap; yang saya tidak paham bagaimana cara kerjanya, ada laser yang bisa nyambung dengan alat musik Thomas, lalu ada pantulan suara yang mengakibatkan terdengarnya obrolan tetangga, lalu.. ahh serius saya tidak paham.

Level kekepoan Pippa sudah melebihi ambang batas. Bahkan nasehat sang kekasih pun dia cuekinDuhh, Pippa, kamu harus segera menemui psikiater deh! Ini behavior yang tidak sehat lho.


CHAPTER 3: SEBASTIAN OH SEBASTIAN

Long story short, obsesi dan determinasinya berhasil membawanya masuk dalam ‘wilayah pribadi’ tetangga seberang. Pippa bisa mengenal dan berteman dengan ‘sang pemeran wanita film porno’, yang diketahui bernama Julia. Dari kedekatannya dengan Julia, Pippa jadi tahu bahwa suaminya adalah seorang fotografer nudity, yang bernama Sebastian.

Pantas saja, hampir setiap hari selalu ada model cantik yang datang untuk photoshoot dalam kondisi bugil. Dan yang membuat Pippa sangat terganggu adalah fakta bahwa dia selalu menyaksikan aksi perselingkuhan Seb. Ya, setiap selesai pemotretan, fotografer ganteng ini selalu ended up berhubungan seks dengan para modelnya. Weleh…

Dia ingin sekali menceritakan kelakuan Seb kepada Julia. Tapi,…..

Btw karena ini juga, Pippa jadi kesengsem sama Seb, dan memfantasikan dirinya sebagai salah satu model yang ‘dipakai’ Seb. Weleh…

Padahal dia sudah sangat cinta Thomas lho. Kalau di film ini sih, secara implisit ditunjukkan bahwa Thomas tidak ‘setahan lama’ Seb. Hhmmm...

Made with CANVA

Well, kalau saya jelas tidak ngiler dengan laki-laki type Seb yang ganteng maut, body bak Eros (dewa seks dalam mitologi Yunani), dan prodigy in bed, karena gaya hidupnya yang berganti-ganti pasangan. Penyakit kelamin adalah hal serius! Enak-enak-nya yang cuma sesaat tidak worth it dengan long lasting high-risk impact-nya.


CHAPTER 4: LAPOR, SUAMIMU NAKAL!

Tanpa banyak pertimbangan, Pippa memutuskan untuk memberitahukan Julia mengenai kelakuan sang suami. Tentu saja dia tidak memberitahukannya secara frontal, nanti malah banyak menimbulkan tanda tanya besar dan kecurigaan. Jika Julia tahu bagaimana Pippa tahu, walaah bakal bubar pertemanan mereka. Ogah lah berteman dengan orang se-creepy Pippa.

Nah, lalu bagaimana cara Pippa ngasi taunya? Lagi-lagi, dia memakai teknologi yang saya tidak paham cara kerjanya. Dia menggunakan printer layaknya sebuah facsimile, yang bisa mengirimkan surat melaluinya.

Apapun cara yang digunakan, saya pribadi tidak setuju dengan tindakan Pippa karena tidak sepatutnya melibatkan diri dengan urusan rumah tangga orang lain. Jika suatu saat saya melihat suami/ istri teman saya berpelukan mesra dengan wanita/ pria lain di restoran, saya memilih untuk mengalihkan pandangan dan tidak ingin kepo lebih jauh, apalagi sampai mengadukannya ke teman saya. Cepat atau lambat akan ketahuan kok, asal jangan dari mulut kita saja. (Feel free to think otherwise. Let’s just agree to disagree!)


CHAPTER 5: BUBYE THOMAS..

Ternyata, tindakan Pippa membocorkan kelakuan immoral Seb membuat Julia bunuh diri, yang disaksikannya bersama Thomas secara langsung dari apartemennya.

Seb sangat sedih dan terpuruk dengan kejadian ini. Sangat terlihat betapa besar dia mencintai istrinya, despite hobinya ‘bertualang di berbagai tubuh wanita’.

Pippa pun merasa sangat bersalah dengan kejadian ini. Thomas juga tidak kalah reaktif, saat itu juga Thomas memutuskan relationship-nya dengan Pippa. Menurutnya, aktivitas ‘ekskul’ Pippa sudah melampaui batas, mengesalkan, dan mengerikan. “I don’t know who you are anymore,” begitu katanya sembari packing dan meninggalkan Pippa sendirian di apartemennya.


CHAPTER 6: R.I.P THOMAS

Di tengah kesedihannya, Pippa tidak sengaja berada di café yang sama dengan Seb yang terlihat sedang minum-minum untuk mengatasi keterpurukannya. Somehow, mereka berdua yang sedang sama-sama galau, berkenalan dan berbincang. Hal yang terjadi selanjutnya adalah fantasi Pippa kesampaian. Pippa diajak ke apartemen Seb, difoto dalam keadaan bugil, dan ditutup dengan ‘titik-titik’.

Saat sedang asyik bermain ‘kuda-kudaan’ dengan Seb, tak tahunya Thomas datang sambil membawa bunga untuknya. Dari gesture-nya, Thomas bermaksud untuk meminta maaf dan ngajakin balikan. Begitu memasuki apartemen yang dia buka dengan kunci spare miliknya, Thomas langsung menuju kulkas untuk minum klorofil favoritnya. Begitu menyadari Pippa sedang tidak ada, dia duduk santuy sambil melihat ke luar melalui jendela luasnya itu. Kagetlah dia, saat melihat Pippa lah yang sedang ‘ditunggangi’ Seb. Ouchh..

Keesokan paginya, Pippa pulang, dan seketika shock begitu masuk ke apartemennya melihat Thomas gantung diri. Ya Thomas sudah mati.


Di sisi lain, dia merasa punya andil dengan kematian Thomas. Tapi di sisi lain, dia meyakinkan diri, bahwa ketika dia berhubungan seks dengan Seb, dia sudah berstatus single dan tidak ada yang salah dengan itu. Toh Thomas juga yang mutusin duluan kan. Teman baiknya, Ari, pun mendukungnya agar tidak merasa bersalah.


CHAPTER 7: SHOCKING EVENT

Dalam menjalani masa dukanya, Pippa merindukan Seb, yang tidak dia lihat sejak kematian Thomas.

Tak tahan membendung rasa kangennya, Pippa mengajak Ari untuk datang ke event yang waktu itu Seb sempat kabarkan. Betapa senangnya dia melihat wajah Seb di sana. Namun rasa senangnya berbalik 180 derajat ketika Pippa melihat Julia hadir di event tersebut. JULIA MASIH HIDUP!

Di acara inilah, semua terkuak. Ternyata Seb dan Julia SENGAJA membuat rangkaian kejadian ini; dari kegiatan ‘kasur’, mau menjadi teman Pippa, sampai adegan bunuh diri. Semua adalah SKENARIO!


CHAPTER 8: UGLY TRUTH

Selama ini, Mereka ‘melihat’ Pippa dan Thomas saat sedang melihat mereka. Jadi apartemen Pippa ini adalah apartemen milik mereka yang disewakan, jadi mereka tahu letak blind spot serta posisi yang tepat untuk mereka mengambil foto. Wkwkwk. Lucu juga ya. 

Semua foto aktivitas Pippa dan Thomas ketika menjadi voyeur dengan all out; saat memasang penyadap; saat menggunakan binocular; bahkan foto Thomas dalam keadaan gantung diri, dipertontonkan di event ini. Pecinta seni fotografi memuji karya mereka sebagai masterpiece.

Menghadapi ‘kejutan’ ini, Pippa marah besar dan sangat devastated. Terbayang bagaimana rasa malunya, kekalutannya, kesedihannya, dan kepanikannya. Sesegera mungkin, dia memutuskan untuk pindah. Ketika sedang packing, dia menemukan bukti bahwa kematian Thomas bukan karena bunuh diri, melainkan dibunuh.

Btw, agak ironis ya, Thomas sangat confident bilang bahwa dengan rutin minum klorofil seperti dirinya bisa berumur panjang, tapi….


CHAPTER 9: PIPPA THE FEMME FATALE

Penemuan bukti tersebut memotivasinya untuk keukeuh membalas tindakan Seb dan Julia, yang sedang bersenang-senang meraup fortune di atas penderitaannya.

Pada malam itu, sebelum memasuki apartemennya, Seb dan Julia mendapati sebotol anggur mahal yang ditujukan untuk mereka berdua. Tanpa babibu, mereka segera membuka botol dan menuangkannya ke dalam gelas. Saat mereka berdua sedang menikmati anggurnya, printer Julia berbunyi, dan muncul selembar kertas yang bertuliskan: “Aku tahu kamu membunuh Thomas. Aku punya bukti

Jelas, mereka tahu bahwa Pippa lah sang pengirim surat tersebut.

Made with CANVA

Seketika, mereka melihat Pippa sedang mengamati mereka dari atap gedung, dan langsung keluar berlari mengejarnya. Dalam pengejarannya, Pippa lead them ke tempat kerjanya, tepat di ruang prakteknya. Dan di situlah, Seb dan Julia pingsan akibat sedative yang sengaja di-induce Pippa di anggur mahal yang baru mereka konsumsi. 

Tahukah apa yang kemudian dilakukan Pippa?? Dia membutakan mata Seb dan Julia dengan menggunakan mesin laser mata yang sehari-hari dia gunakan sebagai ophthalmologist. Ohh wow, savage!

Sejak saat itu, Seb dan Julia menjadi pasangan suami istri yang buta.


Happy ending atau dark ending ya kalau begini??


A LEVEL OF ABSURDITY

1. Tidak ada ambulans yang datang atau keramaian di malam Julia bunuh diri. Bagaimana mereka yakin aksinya tersebut bisa meyakinkan Thomas dan Pippa? —- Ooo mungkin memang Pippa dan Thomas bukanlah orang yang detail oriented alias ndlewer.—-

2. Sebagai eksekutor Thomas, bagaimana Julia tahu bahwa Thomas akan datang tepat di waktu yang bersamaan ketika Pippa dan Seb sedang bercinta? Padahal Thomas dan Pippa sejak putus, tidak berkabar. —- Oohh, sepertinya Julia memang seorang yang visioner. —-

3. Pun bagaimana Julia yakin kalau Thomas akan meminum klorofil yang sudah dia campur dengan racun? Kan bisa saja sebelum datang, dia sudah minum dulu. —- Ya itu tadi, Julia mampu memprediksi apa yang akan dilakukan seseorang. Luar biasa!—-

4. Bagaimana bisa Julia yang badannya lebih kecil dari Thomas kuat mengangkat badan Thomas yang pingsan dan bisa memasang tali di atas? —- Selain visioner, kemungkinan besar dia juga Wonder Woman.—-

5. Para tamu yang hadir di undangan event fotografi, kok lempeng-lempeng saja ya melihat hasil jepretan Sebastian yang bisa dikategorikan melanggar hukum karena diambil tanpa consent. Juga ada foto disturbing Thomas dalam keadaan sedang menggantung diri, tapi, anehnya, ga ada satupun hadirat yang menganggap itu tidak pantas. —- Lha iya dasar orang-orang aneh! —-

6. Masih mengenai foto-foto Pippa dan Thomas yang diambil tanpa consent. Hal ini bisa dituntut lho, ada hukumnya. Tapi mereka malah jadi kaya raya dan terkenal karenanya, serta mendapat banyak pujian dari dunia fotografi. —- Seriously?? Ummm, mungkin mereka tinggal di dimensi lain—-

7. Saat Pippa mengirimkan surat tentang bahwa dirinya tahu kalau Thomas dibunuh Seb dan Julia. Kok Pippa bisa memperkirakan mereka akan mengejarnya ya. Bisa saja mereka tidak menggubris isi surat Pippa, dan ended up pingsan di apartemen, dan tidak jadi buta. —– Eeerrrr… apa ya?? —-

8. Dalam kejar-kejarannya pun, kok bisa pas gitu ya, racunnya bereaksi saat Seb dan Julia sudah sampai ke ruang praktek mata Pippa. Bisa saja, mereka berdua pingsan saat sedang di tengah jalan, tapi tidak. —- Uummm… mungkin Pippa berdoa agar rencananya tepat waktu dan sesuai harapan. Betul, doa adalah keajaiban. —-

9. Setelah Seb dan Julia pingsan, kok bisa ya orang sekecil Pippa mengangkat mereka untuk duduk di kursi pemeriksaan. —- Hhmmm mungkin adrenalin kali ya. —-

10. Kalau sudah punya bukti, kenapa repot-repot begitu ya. Lebih baik lapor ke polisi saja. — Uumm mungkin memang Pippa ingin menanganinya sendiri kali ya. Yowes lah kalo gitu.


SKIP IT OR STREAM IT?

Film The Voyeurs ini memang sebaiknya ditonton tanpa berpikir logis, no wonder skor di IMDB hanya 5.9. Meskipun menghibur, tapi banyak kejanggalan yang membuat melongo, tak bisa berkata-kata, geleng-geleng, mengernyitkan dahi, tepok jidat, ….


Jadi, worth it atau tidak nih? Tergantung. Kalau ingin melihat beragam boobs: yang kecil, sedang, besar; pantat kencang; dada berotot; perut six-packs; adegan seks, ya worth it banget lah!

Kalau ngefans sama Sydney Sweeney dan Natasha Liu Bordizzo, worth it lah!

Kalau TIDAK suka dengan film semi apalagi porno, ya langsung skip saja karena hanya akan membuang waktu.

Kalau TIDAK suka dengan tontonan yang penuh stupidity, jelas jangan sekali-kali menengoknya! Takut bikin engeppp.


Berarti selera penulis ini………….. emboh lah!


September-17-2021 (a Not Too Solemn) VOW

Berawal dari obrolan super ringan antara saya, Pak Suami, mama mertua, dan Boo anak saya yang berambut kribo afro di rest area yang berlokasi di Pengalengan yang kami kunjungi setelah puas ‘cuci mata’ di Rumah Pengabdi Setan.

Source: Personal Archives (Made with CANVA)

Menurut kami, di Pengalengan yang udaranya sejuk dan pemandangannya mesmerizing ini, relatif sulit menemukan tempat makan yang bersih, memiliki menu menarik, dan tersedia tempat parkir yang proper. Tapi puji syukur, di tengah kami otw pulang, kami melihat suatu ‘fatamorgana’. Naa naa naa naa naaaaa… *majestic music.

Suatu rest area dengan tempat makan yang dari jauh terlihat menjanjikan (sesuai harapan standar kami), dan dengan parkir yang luas; tidak ketinggalan juga ada mushola dan toilet, ya layaknya tempat istirahat yang mudah ditemukan di sepanjang jalan tol.

Kaget juga, harga makanannya murah. Seporsi bakso yang mangkoknya berukuran besar, bisa didapat dengan IDR 15.000 saja. Dan surprisingly rasanya enak. Malam itu, kami berempat merasa content, ehehe. Sesudah melalui perjalanan yang melelahkan, dipertemukan dengan tempat makan yang bersih, dan makanannya pun murah dan enak.

Made with CANVA

Long story short, Pak Suami menuju ke kasir untuk membayar pesanan kami. Beberapa menit kemudian, Pak Suami datang lagi ke meja untuk menunggu kami bertiga menghabiskan makanan kami. Pak Suami mah sudah pasti selalu juara 1 kalau masalah makan, ehehe. Sudah habis duluan.


Pak Suami: “Murah ya, semuanya cuma habis 80 ribu. Eh aslinya sih 200 ribu, tapi Mba kasirnya, papah giniin…” *sambil mengedipkan sebelah mata, lalu melirik ke Boo, anak curly kami yang memang Pak Suami niatin untuk menggodanya

Jadi, Pak Suami ini senang menggoda anaknya dengan menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang Papah Genit. *ampuuun tepok jidat. Ehehe, tapi percayalah, saya tahu deklarasi dan behavior-nya yang begitu hanya di mulut saja, sekedar buat bahan becandaan di dalam keluarga kecil kami. *fingers crossed semoga memang beneran seperti itu.

Boo: “Hhhmmm apa, Papah??” *sambil mendekat ke arah papahnya seolah menunjukkan bahwa his eyes on him

Mama mertua: “Hehehe sudah bisa jadi penjaga mamahnya nih! sadar bahwa cucunya bisa diandalkan untuk menjadi ‘polisi’ bagi papahnya yang genit

Saya: “Ahhh aku tenang, aku gak perlu turun tangan, ada Boo yang selalu mengawasi ahahaha. Sukurin kau, Pap!” Sambil tertawa puasss.

Pak Suami: “Ya aku sabar menunggu sampai kamu kuliah, Boo. Pas kamu kuliah, aku bakal bebassss. Ihiiiyyy… Nanti kamu kan kuliahnya jauh, di Princeton atau Harvard, Boston. Lalu kamu akan sibuk dengan Quantum Mechanic; berkunjung ke CERN dan Fermilab; pokoknya kamu bakal sibuk dan tidak kepikiran buat ngawasin Papah, ahahaha *masih dalam rangka nggodain anak curly dengan meng-emphasize gesture-nya bahwa papahnya seorang ladies man.

Boo: “Saat aku sudah kuliah nanti, you’ll be in your forties, Pap, ahahaha!!” *surely dia bisa membalikkan keadaan dengan menyadarkan bahwa di usia 40an, Sang Papah sudah tidak seprima hari ini yang most likely sudah tidak menarik buat para wanita muda.

Pak Suami: “Weeee papah mah nanti kalau sudah tua, tetap kuat dan dalam kondisi prima! Cowok mah pasti tetap macho dan muda, Boo! Nah kalau wanita, baruuu beda, menua dan melemah wkwkwkwk *paham dengan maksud Boo

Saya: “Ehhh enak aja, lemah nunak nunuk gak bakal bisa terjadi pada seorang perempuan yang rajin olahraga dan menjaga wellness-nya. Aku nanti 10 tahun lagi juga bakal tetap kuat dan prima wkwkwk..” *langsung menyahut

Mama mertua hanya tertawa-tawa mendengar obrolan kami.

Pak Suami: “Halaahhh, jangan terlalu yakin, Mah. Itu Boo, nanti lihat ya mamah di usia 40an bakal tetap seperti sekarang atau jadi melemah dan eiirkkk eirkkkk eeirkkk..” *imitating wanita tua yang sudah renta

Saya: “Wohhh, let’s see! Mari kita lihat 10 tahun lagi bagaimana keadaan kita masing-masing. Apakah aku bakal seperti yang Papah bilang? Apakah Papah bakal seperti yang Papah klaim? Ehehe. Berani gak?!”

Pak Suami: “Ayokkk siapa takut?! Kita buktikan bersama!”

Boo si anak curly tersenyum melihat papah mamahnya memperdebatkan hal yang tidak signifikan ini, dalam pikirannya (mungkin) being old kan inevitable tapi kok malah mereka berdua dengan lantangnya mengklaim diri mereka tetap young and attractive di belasan atau puluhan tahun ke depan. Rrrr ma old man and mi mama are foolish and absurd.

Saya: “OK, hari ini tanggal 17 September 10 tahun lagi kita lihat ya, Pah! What we’ll look like in 10 years?! Wkwkwkwk…”

Pak Suami: “YASS, kita cek bersama 10 tahun lagi! Hahahaha


Begitulah candaan singkat, spontan, dan unexpected, yang menghasilkan suatu janji antara saya dan Pak Suami untuk saling melihat keadaan diri masing-masing pada tanggal 17 September 2031. Wkwkwk. Sungguh suatu vow yang konyol dan tak penting tapi bold dan seru juga sih ehehehe.

Melalui tulisan ini, saya now pronounce this vow as a LEGIT commitment, hence needs to be followed up di tanggal yang sudah ditentukan bersama.

Okay, let’s honour our vow in 10 years, Pah!


CATFISH ke Kolam Aja!

Agus Antidandruff, Jember

Made with CANVA

“Biyohhh mimpi opo aku mau mbengi?? Iki enek wong wedok huayuu, sueksi, nge-add akun MB-ku. Jenenge Diana.”

(Waduh waduh mimpi apa saya semalam?? Ini ada cewek cantik, seksi, nge-add akun MB saya. Namanya Diana.)

Sambil mengucek-ngucek matanya, Agus yang baru bangun tidur berusaha menyadarkan diri. Plak plak, Agus menampar pipinya sendiri.

“Adwohhh, loro temen. Iki uduk mimpi! Tenanan ki!

(Ouchh, sakit sekali. Ini bukan mimpi! Ini sungguhan!)

Ngene iki jenenge REZEKI wong tangi isuk!

(Inilah yang dinamakan REZEKI orang yang bangun pagi!)

Setelah berhasil melek dan ‘mengumpulkan nyawa’, Agus mengirim pesan ke Diana.

Haiii, thx for add.

Tidak disangka balasan dari Diana datang 1 menit kemudian.

Ketoke aku pancen nggantheng tenan yo. Enek seng kepincut karo fotoku.” Agus tersenyum bahagia.

(Tampaknya aku memang tampan ya. Ada yang tertarik dengan fotoku.)

Haii Agus, salam kenal.

Wohhh, dijawab ewg. Delok’en ya Widya bariki aku nggandeng cewek huayuu sueksii. Nangiso kono karo bocah rambut abang kae!” Widya adalah mantan Agus yang sekarang pacaran dengan Guntur, cowok yang rambutnya dicat warna pirang.

(Wow, tidak menyangka, dia menjawab pesanku. Lihat saja nanti ya Widya, aku akan menggandeng cewek cantik seksi. Sana menangislah dengan cowok rambut pirang itu!)

Anak mana Diana?

Aku anak Bandung.

Wuohh Bandung kae kan gudange cewek-cewek huayuu”

(Woww, Bandung kan gudangnya wanita cantik)

Wah pantesan cantik.

Hehe bisa sajaa Agus.

Lho lho lho serius ki wong wedok menyambut. Mugo2 iso dadi pacarku ya Allah”

(Lho ini serius wanita ini menyambut. Semoga dia bisa jadi pacarku ya Allah)

Kuliah atau kerja?

Aku kuliah di UnPar jurusan Astrologi.

Udah cantik, seksi, pinter pula.

Ahh bisa sajaa. Hehe. Makasih. Agus kerja atau kuliah?

Aku kerja bantuin bisnis bapak di rumah.

Ohya, aduhh anak teladan ya. Biasanya cowok yang aku kenal tuh sudah cuek sama ortunya. Aku gak suka. Cowok apaan kayak gitu. Gak tau trimakasih ke bapak ibunya.

Yang kayak saya begini, Diana suka?

Iya jelas! Aku paling suka sama cowok yang selalu sayang dan hormat ke ortunya. Itu cowok bertanggung jawab namanya. Semua cewek pasti suka yang kayak begitu.

Iki tenanan to? Tapi lek koyok aku ngene iki akeh seng seneng, nyapo kae Widya ninggalne aku? Aku pengen kenalan karo Anggi, bocahe nglirik aku ae ora gelem. Encen iki jenenge rezeki wong sabar, cah wedok-wedok Jember podho gak gelem, tapi iki cewek Bandung seng ngguemesne koyok ngene moro dhewe. Alhamdulillah.”

(Ini sungguhan terjadi ya? Tapi misalkan orang yang seperti aku ini banyak yang suka, kenapa Widya meninggalkanku? Aku ingin kenalan sama Anggi, orangnya ngelirik pun gak mau. Memang inilah yang namanya rezeki orang yang sabar, para wanita Jember pada gak mau sama saya, tapi wanita cantik dari Bandung malah datang mendekat. Alhamdulillah.)

Halo halo Agus. Kok gak ada balasan.

Eh ehh ii iya Diana. Maaf ini tadi aku sedang terpatung. Kok ada cewek secantik kamu, baru kenal sudah memuji-mujiku begitu. Soalnya aku juga baru ditinggal pacarku. Lalu tiba-tiba aku kedapatan rezeki nomplok bisa kenalan sama cewek secantik kamu.

Ya ampuuun. Itu cewek rugi besarr ninggalin kamu. Baru kenal beberapa menit saja, aku sudah tahu kalo kamu itu orangnya baik dan bertanggung jawab. Kalau aku ada di Jember atau kota yang dekat dengan Agus, aku pasti langsung mau antri, urutan paling depan!

Weleh weleh weleh aku meh semaput. Jan rezeki nomplok tenan iki Plak plak plak, Agus menampar pipinya lagi.

(Waduhh aku hampir pingsan rasanya. Sungguh rezeki nomplok)

Diana, aku boleh minta no HPmu gak? Aku pengen nelpon, boleh? Pengen bisa denger suaramu langsung.

Boleh doong! Aku juga pingin bisa ngobrol terus sama Agus. Entah kenapa aku langsung bisa klik sama kamu. Pernah dengar kan kalau di dalam lubuk hati kita, kita bisa tahu bahwa seaeorang itu adalah jodohmu? Nah itu yang aku rasakan saat ini. Aku gak tau kenapa. Aku sendiri merasa aneh dengan perasaan ini.

“Ya Gusti Allah. Aku pingsan dhisek ae piye yo. Ya Allah mator suwon atas rezeki ini. Widya, Anggi, deloken!! Aku bariki nggandeng wong wedok seng uayu notok jedhug. Kalah kowen. Ben podho nyesel kae cewek-cewek emoh karo aku!

(Ya Gusti Allah. Aku mau pingsan beneran saja dulu ahh. Ya Allah terima kasih atas rezeki ini. Widya, Anggi, lihat saja nanti! Sebentar lagi aku akan menggandeng seorang wanita yang sangat cantik. Kalian semua kalah cantik. Pasti pada menyesal tuh para cewek yang tidak mau sama aku!)

“Diana, Diana pacar gw. Ohh Diana…” Agus bernyanyi dengan sangat gembira.

Aku telpon sekarang ya Diana. Minta nomernya ya.

Agus, ini nomerku 08129997578. Tapi HP aku aneh, Agus. Kalau nerima telpon gak bisa. Bisanya aku yang nelpon duluan.

Hahh kok bisa begitu?

Ya, Agus, begitulah dunia. Pasti ada anomalinya kan. Pasti adaa saja yang tidak sejalan dengan hukum fisika. Salah satunya ini. HP ku yang tidak bisa nerima telpon. Padahal sudah kuservis ke BEC juga gak bisa.

Ohh iya iya. Betul juga ya. Ya sudah Diana saja yang nelpon aku ya. Ini nomerku 087644568. Aku siap kapanpun ngobrol kalo kamu yang nelpon.

Agus, aku juga pingiiin banget nelpon kamu sekaramg. Suaramu pasti sejantan John Cena ya. Tapi.. tapi.. aku belum isi pulsa.

“Aduhh aku wes gak sabar ki. Tak tukokne ae nang counter jualan pulsa sebelah.”

(Aduhh aku sudah tidak sabar. Aku belikan saja segera di counter pulsa sebelah)

Aku isiin dulu ya. Ada yang di dekat rumah kok. Tunggu aku ya. Tungguu. Bisa sabar kan, Diana?

Agus, isinya yang 200 ribu saja ya. Soalnya aku pingin lama ngobrolnya. Biar gak putus putus.

“200 ribu?? Kok akeh eram yo jalukane pulsane. Eh tapi iki peristiwa langka ewg, seumur hidup baru pertama kali aku ngrasakne entok duren runtuh koyok ngene.. Yowes lah, rongatusewu ngge wong wedok koyok Diana ngene iki ora enek artine..”

(200 ribu?? Kok banyak amat ya minta pulsanya. Ehh tapi ini kan peristiwa langka, seumur hidup saya baru pertama kali merasakan mendapat durian runtuh seperti sekarang.. Ya sudah lah, dua ratus ribu untuk wanita seperti Diana tidak ada artinya..)

Siappp. Tunggu aku Diana. Sabar ya!

Dengan penuh antusias, Agus menyambar jaketnya dan berjalan menuju counter pulsa yang hanya berjarak 300 meter-an dari rumahnya. Agus sangat senang dengan kejadian hari ini. Sepanjang jalan, dia menyanyikan banyak lagu yang membahagiakan. Hanya kamu yang bisa membuat aku jadi tergila-gila, membuat aku jatuh cintaaa karna tak ada yang lain sepertimu…

Sek.. sek.., John Cena kuwi sopo yo. Mesti wonge ngguantheng ketoke. Agus bertanya pada dirinya sendiri.

(Tunggu.. tunggu.., JOHN CENA itu siapa ya? Pastilah orangnya ganteng.)


Mas, tumbas pulsa 200 ribu ngge nomer iki ya Mas. Piro Mas?” Agus bertanya ke Mas penjual pulsa sambil mengeja nomor HP Diana.

(“Mas, beli pulsa 200 ribu buat nomer ini ya. Berapa Mas harganya?”)

“202 ribu Mas”, jawab penjaga counter.

“Iki Mas, dhuwite. Wes masuk ya Mas pulsane?” Agus memberikan uang pas.

(Ini Mas uangnya. Sudah masuk ya Mas pulsanya?)

“Wes mas! Mator suwon Mas!”

(Sudah Mas! Terima kasih Mas!)

“Yokk sama-sama, Mas!” Agus singkat membalas ucapan terima kasih Mas penjaga counter.

Dengan sedikit berlari, Agus ingin segera sampai ke rumah, dan menghadap kembali ke laptop-nya untuk ngasi tau ke Diana kalo sudah isi pulsa.

Agus membuka laman MB-nya tapi profil Diana sudah tidak bisa di-klik. Kemudian ke bagian pesan,…. pesan juga sudah tidak bisa mengirim.

Lho error pok o internete??” Agus bertanya-tanya sambil me-logout profilnya, lalu me-login lagi.

(Lho error kah internetnya?)

“Ora popo ki. Lancar ae. Njajal tak ngetes kirim message nang liyane.”

(Tidak apa-apa kok ini. Lancar. Coba aku mengirim pesan ke temanku)

Heii lur.

Agus mengetik pesan ke akun MB salah satu temannya, Dion. Ada tanda titik menyala yang menandakan pesan terkirim.

“Ohh ora popo kok iki”

(Ohh ini tidak ada masalah kok ini)

Agus mencoba lagi mengirim pesan ke Diana tapi tidak ada tanda titik menyala yang menandakan pesan tidak bisa dikirim. Lho Diana kok pancet gak iso dikirimi pesan??”

(Lho Diana kok tetap tidak bisa dikirimu pesan??)

Agus sudah mulai gelisah dan bertanya-tanya, “Mosok aku diblok? Mosok to?”

(Masak sih saya diblok? Masak iya sih?)

“Njajal tak telpone bocahe..” Agus segera menekan nomer HP Diana.

(Aku coba menelpon saja ahh..)

Tulalit…. Tulalit…. Tulalit…. Tulaliiit…

“Kok uduk nada sambung ya? Malah tulalit. Opo nomere salah?? HP-ku seng error piye??” Agus masih denial, “Aku njajal tak nelpon adek…”

(Kok tidak ada nada sambungnya ya? Malah tulaliit. Apa nomernya salah? Atau HP-ku yang error??”, “Aku mau mencoba telpon adek…)

Tiitt… tiit… tiiitt…. (ada bunyi nada sambung)

“Halo po’o, Mas? Nyilih dhuwit maning? suara adiknya menjawab telponnya.

(Halo ada apa Mas? Mau pinjam duit lagi?)

Dengan segera, Agus menutup telponnya, dan menyadari bahwa HP-nya tidak error, akun MB-nya pun juga tidak error, tapi….

“Brati HPku, Mukabuku-ku, kabeh DI-BLOK Diana!! Owalaah iki mau brati aku kapusan lak an!!”

(Berarti HP-ku, akun Mukabuku-ku, semuanya DIBLOK Diana!! Owalaah ini tadi berarti saya kena tipu dong!!)

“As* $%^& an**iing beyo**h $%^ fu*k b*tc* jangk*iik!”

(…*Beragam kata umpatan dalam berbagai bahasa..)

—————————————————————————————————-


Kejadian di atas adalah hal yang dinamakan catfishing. ‘Diana Alexandria’ adalah pelaku catfish, kemungkinan besar nama itu tidak ada di dunia nyata. Orang asli yang menggunakan foto wanita cantik tersebut bisa saja seorang mas-mas yang sedang bosan nungguin pacarnya dandan; atau anak SMP yang butuh uang buat maen game PUBG; atau… bisa siapapun you can ever think of.


Apa itu CATFISHING?

Made with CANVA

Secara definisi, catfishing adalah aktivitas berpura-pura menjadi orang lain di social media atau dunia online, dalam rangka iseng ngerjain atau menarik perhatian orang lain. Pelaku catfishing atau yang biasa disebut sebagai catfish, menggunakan foto orang lain atau mengedit foto aslinya dengan app agar terlihat beda dan lebih cakep, lebih…, lebih….

MENGAGETKAN, ternyata banyak yang menjadi korban catfishing, yang menderita kerugian material maupun spiritual. Seperti halnya Agus Antidandruff, banyak yang mudah tertipu ketika di-lure dengan foto seorang wanita cantik. Foto wanita memang bisa menghipnotis dan membuat banyak kaum adam tidak bisa berpikir jernih.

Sementara di sisi lain, bisa dibayangkan bagaimana para pelaku catfishing ini sedang tertawa melihat para mangsanya masuk jebakan betmen yang mereka pasang. It’s all on their fingertips, dengan hanya modal search foto wanita hot, bikin akun social media baru, dan klik klik klik…baammm. Benar-benar semudah itu!


Atau ada kasus yang lebih mengerikan, seperti yang dikisahkan di miniseri Clickbait. Ada pelatih volley ganteng (jelas ganteng pol-polan lah, wong yang maen Adrian Gernier), nah fotonya dipakai orang lain untuk luring cewek-cewek di dating apps. Tentu banyak cewek yang swipe right dan match, siapa yang endak klepek-klepek dengan wajah Adrian coba…

Made with CANVA

Si catfish yang memakai foto Adrian ini berlaku sangat manis dan mau mendengarkan keluh kesah para cewek; melalui message, email, dan telpon. Tak lupa para wanita yang tertipu tersebut ‘dibombardir’ dengan kata love… love… love… Bahkan dia menjanjikan untuk segera mengadakan pertemuan di dunia nyata.

Rayuan dan love bomb merupakan ‘senjata’ paling jitu untuk memangsa para wanita, karena kata-kata manis mudah membuat kaum hawa terklepek-klepek di atas angin, sehingga ter-distract dan lupa untuk menelusuri identitas aslinya. Mereka juga tidak sempat curiga ketika pelaku menolak untuk video call. Long story short, salah satu cewek tersebut ada yang meninggal bunuh diri karena dia. Sangat menyedihkan.

Saat si catfish diinterogasi, ternyata motif dia melakukan catfishing terhadap para wanita di aplikasi kencan dengan menggunakan foto ganteng Adrian adalah ingin ISENG doang buat mengisi waktu. Astaga!

Dia tidak menyadari betapa besar impact yang dia lakukan atas nama iseng saja. Tidak hanya itu, aktivitas catfishing juga membuat citra seseorang dirugikan karena fitnah yang diciptakan seorang catfish. Bisa dibayangkan bagaimana seseorang yang kesehariannya baik, lurus, tidak neko-neko; tiba-tiba namanya tercoreng karena fotonya disalahgunakan orang lain untuk berbuat keburukan di dunia online.


Apa Motif Para Pelaku Catfishing?

  • BALAS DENDAM, yang dipicu dari sakit hati akibat memiliki masalah dengan yang bersangkutan atau karena putus cinta. Si catfish sudah mengenal sangat baik orang yang fotonya akan dia gunakan untuk melakukan hal yang tidak patut di dunia online, dengan harapan bisa menjatuhkan namanya. Hal yang cukup sering adalah sang mantan yang sakit hati membuat akun social media yang dipenuhi dengan foto tidak senonohnya. Kasus lain adalah memakai foto sang target untuk menyebarkan kebencian, cyberbullying, melakukan penipuan, dan semacamnya. Para pelaku catfishing dengan alasan dendam tidak akan peduli dengan ajaran moral yang menekankan bahwa tindakannya adalah fitnah, yang jelas DOSA dan tingkatannya lebih kejam dari pembunuhan. Niat utama mereka dari awal memang untuk menghancurkan nama baik sang target.
  • LOW SELF ESTEEM atau tidak percaya diri dengan penampilannya. Para catfish dengan alasan ini akan mencuri foto orang lain yang atraktif untuk dijadikan sebagai foto dirinya di akun social media-nya, dengan harapan akan punya banyak teman online atau bahkan pacar online. Hhmm, saya tidak bisa berkata-kata. Rendah diri jelas bukanlah hal yang baik dan perlu ‘diobati’. Self love adalah salah satu penyembuhnya.
  • ISENG SAJA untuk mengusir kesepian dan mengisi waktu kosong. Waduhh semoga para catfish cepat sadar bahwa keisengan seperti ini tidak bisa dianggap remeh. Tingkat damage yang ditimbulkan tidak main-main! Jika sedang kesepian, lakukan aktivitas yang bermanfaat. Olahraga, menekuni hobby baru, meng-upgrade kualitas diri dengan belajar hal baru melalui coursera atau udemy, hang out dengan teman di dunia nyata, membantu mamah memasak, menemani papah ‘bermain’ dengan perkakas rumah, ……….., banyak sekali hal-hal menguntungkan yang bisa dikerjakan untuk mengisi waktu luang.
  • MENIPU, yang dia niatkan sejak awal untuk UANG. Para catfish dengan motif scamming akan menggunakan foto orang yang terlihat sleek dan sophisticated untuk meyakinkan para korbannya. Dengan kemampuan persuasifnya, mereka akan menjual produk yang bahkan belum pernah dilihat secara langsung oleh para korbannya. Begitu korban sudah transfer uang dengan jumlah tertentu, dia bisa ‘melarikan diri’ dan mencari mangsa baru. Ada juga yang ‘hanya’ minta dikirimi pulsa, seperti kasus Agus Antidandruff di atas. 

Berinteraksi di Dunia Online dengan Aman

Mengetahui fakta yang shocking ini membuat kita harus HATI-HATI dalam bergaul melalui social media. Kita WAJIB mengenali ciri-ciri seorang catfish dengan jeli. Ingatlah untuk selalu tetap aware dan clear-headed.

Pahami Definisi ‘TOO GOOD TO BE TRUE’!

Jika ada orang asing yang fotonya sangat mempesona menyapamu, jangan buru-buru seneng duluan! Tetaplah berpikir dengan jernih! Cek profilnya dengan detail.

  • Apakah isi fotonya hanya sedikit atau malah hanya 1 (menampilkan foto profil saja)? Kalau YA, kemungkinan besar akunnya palsu; maka segera tinggalkan!
  • Bagaimana interaksinya dengan teman-temannya yang ada di kolom following dan follower? Kita bisa cek di kolom komentar. Kalau TIDAK ADA interaksi atau obrolan bermakna, jelas akun palsu; tanpa ba bi bu langsung cuekin!
  • Berapa jumlah following dan follower-nya? Kalau cuma segelintir, segera block! Kemungkinan besar akun palsu.
  • Apakah di bagian ‘tagged’ ada fotonya bersama teman-temannya? Kalau tidak ada, jelas palsu. Akun asli biasanya terdapat foto dirinya saat sedang bersama teman-temannya.
  • Gunakan search reverse image untuk mengetahui apakah foto tersebut bertebaran dan dipakai di akun lain dengan nama yang berbeda. Jika YA, jelas akun palsu. Tinggalkan! Block! Cuekin!
  • Bersediakah dia diajak video call? Ada kalanya, mungkin kamu sudah terlanjur chatting dan merasa cocok. Tapi kamu HARUS CURIGA ketika dia MENOLAK untuk diajak VC-an, dengan alasan apapun yang sibuk lah… internet lemot lah… sedang di jalan lah…; STOP saat itu juga komunikasi kalian! Dia jelas seorang catfish!

Last but not least, jangan lupa MENDOA memohon perlindunganNya sebelum melakukan aktivitas apapun, termasuk sebelum online.


THE DON’T

Selain berhasil mengenal ciri-ciri seorang catfish, kita juga HARUS berpegang teguh untuk tidak melakukan beberapa larangan berikut:

  • JANGAN mau dimintain uang oleh orang asing yang kita kenal di dunia online meskipun alasannya meyakinkan. Kenal, endak; bertemu pun juga kagak. Jika memang ingin bersedekah, sebaiknya langsung saja diberikan kepada orang-orang yang diketahui di dunia nyata atau transfer ke lembaga donasi terpercaya.
  • JANGAN membagikan data pribadi, seperti: nama lengkap; tempat dan tanggal lahir; alamat rumah; tempat kerja; kondisi keluarga; nama anggota keluarga; nomor HP; nomor rekening bank; dan sebagainya.
  • JANGAN mengirimkan foto terbuka atau bugil. Semaut apapun rayuan sang teman online, kuatkan diri dan jangan terpengaruh. Be smart! Bisa dibayangkan apa yang bisa seseorang lakukan dengan memiliki foto bugilmu. Ancaman, pemerasan, penghancuran image, dipermalukan, dan beragam hal buruk yang berujung pada segala kesulitan material spiritual serta membahayakan mental health.


Well, all in all, stay safe!

Review L’urv ‘On Target Pants’

I L’URV YOU, L’URV

L’urv adalah brand Australia yang spesialisasinya berupa baju-baju activewear (baju untuk olahraga) dan athleisure (baju santai bergaya sporty). Beragam koleksinya bisa dilihat lengkap secara langsung di website-nya www.lurv.com.au atau di laman instagram-nya https://www.instagram.com/lurvactivewear/

Saya langsung jatuh cinta dengan baju-baju L’urv ketika pertama kali melihatnya di marketplace ZALORA. Modelnya cantik-cantik dan badannya tinggi semampai, ya iya lah namanya juga model, ehehe. Bukan kok, bukan karena modelnya, tapi karena produk keluaran L’urv itu: unyu-unyu; unique; attractive; dan playful. Coraknya, gaya fashion-nya, dan ‘garnish’-nya, one of a kind, beda dengan yang lainnya. Yang terakhir adalah hal penting yang perlu saya perhatikan dalam membeli outfit, karena saya tidak mau ketemu ‘kembaran’ di tengah jalan, ehehe. Makanya saya jarang sekali membeli baju yang diproduksi secara massal.

Leggings dan celana koleksi L’urv pun tampak flattering dan tingkat ngepas-nya sangat presisi.


ZALORA, TRUSTED ONLINE SHOP TO BUY L’URV

Dalam konteks membeli baju secara online, saya termasuk orang yang percaya dengan prinsip ‘what you see is what you get’. Asalkan diusung oleh brand original ya.

Kalau yang nama tokonya tidak sesuai dengan yang dijual atau bukan nama brand, pastilah tidak pernah saya toleh, karena banyak kasus di mana pembeli kecewa berat dengan yang dibelinya. Salah satu kenakalan online shop yang paling merugikan nih, tidak memakai foto asli untuk produk yang dijualnya. Nakal sekali deh!

Nah kalau yang di Zalora, jelas terpercaya, dan pasti para pemilik brand yang jualan di sini menampilkan foto produk aslinya. Bukan comot sana comot sini.

Fyi, di Zalora, 1 model bisa membawakan lebih dari 1 brand sekaligus. Dari sinilah ‘terkuak kebenarannya’. Saya bisa melihat jelas perbedaan legging L’urv dengan merek lain yang dikenakan oleh model yang sama.

Legging L’urv dipakainya bisa mengikuti lekuk tubuh dengan sempurna, tidak ada yang nylempit atau mencong. Yang hi-rise betul-betul memang di atas perut, bukan hanya sekedar penamaan.

Saat saya membandingkan Sang Model yang berfoto dengan L’urv tadi, tampil juga di legging brand lain; tampak jelas bedanya. Tidak appealing dan seperti ada yang kendor di bagian bawah celananya.

Maka, saya berani menarik kesimpulan bahwa L’urv itu fix keren bangeeet!


FURTHER RESEARCH ON SHOPPING

Kemudian, dalam rangka memantapkan pilihan, saya juga mencari informasi lengkapnya di website resminya. Di sana terdapat banyak foto produk dari segala sudut, ada yang dari depan; belakang; kanan; kiri; sambil kaki agak naik ke samping; dan sebagainya. Juga diberi contoh cara mix and match-nya, apakah dengan cropped hoodie; sweater; cardigan; atau kaos biasa. Serta tidak ketinggalan detail ukuran dan bahannya. Lengkap pokoknya mah! Sudah no worries lagi kalau mau belanja online.

Saya merasa waktu yang saya keluarkan untuk research mendalam sebelum menentukan pilihan baju mana yang akan saya beli, tidaklah sia-sia. Meskipun di Zalora ada fitur pengembalian, tapi malasnya itu lho.

Dari segi harga, menurut saya termasuk tinggi. Tapi prinsip saya dalam berbelanja adalah “spend more to spend less”. Ahaha bingung ya. Jadi saya mau merogoh kantong lebih dalam untuk membeli baju yang berkualitas dan one of a kind alias ada jaminan tidak ada ‘kembaran’ atau tidak dipakai ramai-ramai ehehe. Kalau berkualitas, biasanya awet, dan saya tidak perlu membeli baju lagi dalam waktu dekat. Jadi jatuhnya hemat kan.


L’URV LEGGINGS

Adapun produk L’urv yang sudah saya miliki adalah 4 leggings dan 1 celana jogger pants.

Untuk leggings, pastinya saya puasss. Setiap saya memakainya, saya merasa keseksian saya ter-boost-up ahaha. Legging kan memang dipakai untuk memperlihatkan bentuk lower body, selain nyaman juga tentunya ya. Dipakai untuk jalan sehat, lari, yoga, pilates,… oke. Dipakai untuk nge-mall atau sekedar hang out di tempat makan dan tempat wisata,… juga oke, apalagi saya aliran athleisure-wearer garis keras, yang demen memakai baju olahraga untuk beragam occasions.

Pesan saya agar pede ber-legging ria adalah rutin squat! Ehehe. Ohh yang HARUS diingat, JANGAN memakai  underpant (celana dalam) yang biasa ya, karena nanti sangat ngeplak jelas ‘garis segitiganya’, yang ouchhh kurang santun dilihat di mata. Malah jatuhnya malu-maluin soalnya di sepanjang jalan orang bakal melihat ke arah area ‘bawah’ kita. Pilihlah underpant yang seamless, yang tidak ada jahitan pinggir. Lalu, gunakan panty liners atau pembalut meskipun sedang tidak menstruasi, agar tidak terbentuk camel toe (ngeplak bagian belahan area privat), yang… lagi…, bikin maluuu dan pingin ngabur.

Sudah ah segini saja ya yang perkara legging L’urv. Saya kan mau fokus me-review jogger pants-nya.


L’URV ‘ON TARGET PANTS’

Jenis jogger pants yang saya beli di L’urv adalah seri On Target Pants. Warnanya hitam yang diberi tambahan aksen garis merah putih di samping kanan kiri yang memberi kesan simple tapi sedikit complicated. Saya membelinya di awal tahun 2020 dengan harga IDR 500 ribu-ish, setelah ada diskon dari harga aslinya yang IDR 1 juta-ish. Zalora memang great deal banget kalau ngasih diskon. Mantabbb!

Made with CANVA

Beberapa tahun terakhir, saya amati banyak bersliweran para wanita memakai celana jenis jogger. Baik di website para fashionistas maupun di beberapa film yang saya tonton. Padahal jaman saya kecil dulu, jenis celana sweatpant ini rata-rata dipakai di dalam rumah, tapi jaman sekarang ‘naik kelas’ euy! Pun versatile, bisa di-up atau down untuk berbagai jenis aktivitas. Tapi tetap tidak pantas sih dipakai ke nikahan teman. Terlalu santuyy.

Para pemakainya terlihat enak dan nyaman mengenakannya. Tanpa harus merasa tersiksa dengan ketatnya legging ehehe. Santai, lucu, dan effortless.

Biasanya saya memadukannya dengan sneakers putih favorit. Saya belum pernah memakainya dengan high heel seperti yang disarankan oleh para fashion stylist. Selain karena saya sudah tidak punya dan tidak pernah lagi membeli high heel (adakah ibu-ibu selain saya yang begini?? Ehehe), juga karena saya tidak suka dengan look itu. Walaupun Kim Kardashian dan semua sisters-nya pernah berdandan seperti itu, dan mereka pun sangat pantas mix and match-nya. Tetap tampak aneh buat saya pribadi.

Sedangkan untuk atasan, saya tetap stick dengan segala yang cropped. Maklum lah badan petite begini, atasan panjang dan oversized membuat saya ‘tenggelam’. Ehehehe.

Saya yang berukuran TB/BB 153 cm/43 kg, LP 61 cm, dan hip 89 cm, memilih size yang paling kecil, yakni ukuran US 6.


THE REVIEW

Setelah produk yang saya pesan datang, sesegera mungkin saya ingin memegangnya dan mencobanya. Bahannya tebal, lebih tebal dari yang saya bayangkan. Memang kurang nyaman dipakai di Indonesia, agak sedikit ceklit-ceklit gimanaaa gitu. Panjang celananya juga tidak di atas mata kaki seperti saat dipakai Sang Model. Ya iyalaah, bandingannya tinggi badan Sang Model 175 cm, sedangkan saya 20 cm lebih pendek, wkwkwk ya jelas beda atuh. Di badan saya, celananya jatuh di bawah mata kaki, untungnya di bagian paling bawah ada karetnya yang sangat rapat, jadi bisa saya naikkan sedikit atau bisa digulung sedikit, agar bisa pas di atas mata kaki. Well saya tidak mau memaksakan, jadi saya memakainya begitu saja. Yang penting tidak kleweran sampai ke lantai, it’s fine.

Made with CANVA

Di bagian belakang ada saku kecil yang fungsinya hanya buat hiasan, karena kalau naro uang di situ, sudah dipastikan akan jatuh atau gampang diambil orang. Di depan ada 2 saku kanan kiri yang muat untuk ngantongi HP dan kunci mobil, yang dilengkapi resleting. Jadi kalau buat jalan kaki keliling kota, relatif aman. Apalagi suami saya selalu melarang saya membawa HP di tangan atau memakai tas saat kami jalan sehat, katanya mencolok dan bisa menarik perhatian begal atau copet.

Namun, meskipun bahannya tidak adem, tapi ya karena terlanjur sudah dibeli, dan dipakainya bagus, ya tetap saya pakai ehehe. They said, “No pain no gain”, saya setuju untuk konteks L’urv On Target Pants ini. Gapapa deh sedikit sumuk dan gerah dipakai, yang penting bagus dipakainya dan enak dipandang.


Create your website with WordPress.com
Get started