Helper’s High

How can I help?‘ adalah kalimat yang sering keluar dari mulut seorang Max Goodwin. Kepada stafnya, kepada atasannya, kepada koleganya, dan bahkan kepada orang asing. Beliau menawarkan suatu pertolongan kepada siapapun tanpa memandang bulu, apakah orang tersebut terlihat ‘penting’, rapih, jorok, kaya, miskin, …

Ada apa ya? Kok sebegitunya?

Dari film dokumenter yang berjudul Coronavirus, Explained episode “How to Cope” yang ditayangkan di Netflix, saya mengetahui istilah Helper’s High. Di acara yang berdurasi 20 menit itu dijelaskan tentang studi para scientists terhadap kelompok orang tua yang berusia 55 tahun ke atas mengenai ‘Mortality Reduction‘ (berkurangnya tingkat kematian). Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa Kelompok B (kelompok yang ikut partisipasi dalam kegiatan sukarelawan) usianya lebih panjang dan lebih sehat. Presentasenya sedikit di atas Kelompok A (kelompok yang rajin olahraga 4 kali dalam seminggu) dan ‘beda tipis’ dengan Kelompok C yang tidak merokok.

_______________________________________________________________________________

Siapa Max Goodwin?

Sekedar informasi, Max Goodwin adalah seorang dokter sekaligus direktur Rumah Sakit Umum New Amsterdam di Manhattan, New York. Saya kagum dengan dedikasi dan ketulusannya menjalankan perannya. Tidak banyak dokter yang mau peduli dengan kondisi pasiennya secara pribadi.

(Made with CANVA. Photo Source: https://parade.com/859326/debrawallace/new-amsterdams-ryan-eggold-on-playing-a-heart-felt-doctor-beating-the-odds-and-helping-everyone-heal/)

Ada pasien yang homeless dan jobless yang duitless, dengan semangat beliau mengerahkan kemampuannya agar sang pasien tetap dapat menjalankan operasinya tanpa pusing dengan biaya.

Ada pasien yang penyakitnya tidak bisa diklaim oleh asuransi, beliau rela bercapek-capek datang ke perusahaan asuransi untuk me-lobby agar pengobatan pasiennya bisa di-cover dengan sedikit bend the system here and there.

Ada pasien yang ingin keluarganya datang menjenguk padahal sudah lama anggota keluarganya tersebut meninggalkan yang bersangkutan, dengan meminta bantuan network yang dikenalnya beliau mau mengusahakan agar family reuniting terjadi.

Ada pasien remaja yang mempunyai keinginan untuk bunuh diri karena merasa penampilannya tidak menarik, dengan sabar beliau mau mendengarkan keluh kesahnya dan mengajaknya bertemu dengan seorang Psikiater yang handal.

Serahkan semua ke Dokter Goodwin! Beliau mau repot-repot untuk membantu.

Sangat terlihat bahwa UANG bukanlah tujuan utama Dokter Goodwin, melainkan kepuasan memberi terhadap orang lain. Perasaan menyenangkan melihat orang lain tersenyum karena bantuannya. Dan perasaan bahwa being self-less membuat hidupnya lebih bermakna.

Ya, inilah yang dinamakan Helper’s High. ‘High’ atau ‘fly’ yang BUKAN diperoleh dari nge-drugs atau nyimeng.

Hhmm… ternyata ada ya high yang ‘aneh’ begini. Saya juga takjub ehehe. Dulu ketika mendengar kata ‘high‘, saya langsung menghubungkannya dengan hal yang kurang patut, seperti: kecanduan seks; kecanduan alkohol; dan kecanduan judi.

Ohhya, walaupun Dokter Max Goodwin hanyalah tokoh fiktif di serial New Amsterdam, saya yakin di dunia nyata; di Indonesia; di tempat yang berada dekat dengan kita, PASTI ada, banyak malah, yang seperti beliau.

Ahh sudah ahh, cukup dengan dokter-dokter-an ini.

————————————————–

Pernahkah Kita Merasakannya?

Nah, high ini tentu bisa kita raih! Pantas saja saya merasa ayem ketika akhirnya saya mau dan mampu untuk mengeluarkan uang atau bantuan untuk yang membutuhkan. Melihat wajah sumringah orang-orang yang kita tolong bisa benar-benar membuat hari makin menyenangkan, membuat hidup makin losta masta.

Kita juga melihat banyak orang yang berbondong-bondong berbagi sarapan kepada kaum dhuafa; bersedekah di hari Jumat; memberikan donasi kepada para korban bencana alam; dan masih panjang list-nya.

Dan layaknya suatu FLY atau HIGH, mereka bisa sangat intoxicating, membuat kita ingin mengulangi lagi, lagi, dan lagi. Ketagihan, kecanduan, ohh woww.

Menurut saya pribadi, semua hal yang berlebihan, meskipun hal tersebut adalah hal yang baik dan mulia, bukanlah hal yang bagus. Secukupnya dan sesuai dengan kemampuan kita saja. Jangan sampai niat kita menolong orang lain malah merugikan diri sendiri; membuat kita jadi tidak punya resource lagi; tidak mengindahkan kepentingan kita sendiri dan orang-orang terdekat. Walaah, yang ada malah hidup jadi berantakan. Ehehe.

_______________________________________________________________________________

Inovasi Fenomena Helper’s High oleh Para Ilmuwan

Istilah Helper’s High, yang awalnya dianggap sebagai ilusi belaka, mulai terngiang di tahun 1980an. Namun akhirnya menjadi ‘resmi’ keberadaannya setelah Bapak Allan Luks dan para ahli neurologists melakukan riset yang hasil studinya terbukti scientifically.

(Made with CANVA)

SEHAT, yang sebagian orang menganggap itu MAHAL harganya, dapat dicapai ‘hanya’ dengan menyisihkan uang; waktu; tenaga; dan atau source yang kita punya, untuk kita berikan kepada yang membutuhkan. Sensasi feeling good (yang dimunculkan oleh hormon endorfin) yang kita peroleh setelah melakukan kebaikan dapat mengurangi (bahkan menghilangkan) stress, yang otomatis membuat badan juga lebih sehat, karena less/no stress berkontribusi optimal dalam menguatkan sistem imunitas.

Ya! Betul sekali! Stress itu culprit utama segala penyakit lho!

Neuroscientist National Institutes of Health, Jorga Moll, menerangkan bahwa ketika kita volunteering atau donating, sistem mesolimbik di otak kita akan teraktivasi dan menghasilkan neurotransmitter oksitosin dan vasopresin. Sama halnya dengan setelah kita berlari (Runner’s High) atau ketika ada rangsangan makanan dan seks. Ummm…

Yang lebih mengejutkan lagi, hasil penelitian Biokimia mengungkapkan bahwa hanya dengan NIAT saja (belum terlaksana lho padahal), otak kita sudah bisa menghasilkan hormon senang. Pun saat mengingat kebaikan yang kita lakukan beberapa waktu lalu. Jadi, hanya dengan ‘modal’ NIAT dan MENGINGAT, kita tetap bisa memperoleh sensasi euforianya. Wuihhh.

Kalo berlari kan kita dapat high-nya pas sudah selesai doang dan hanya di waktu itu saja. Kita tidak akan bisa high kalo larinya masiy dalam fase NIAT semata atau sekedar MENGINGAT pengalaman jogging muterin The Breeze yang dilakukan minggu lalu.

Segitu WAHnya ya tindakan ini. 🙂

_______________________________________________________________________________

Faux Generosity

Suatu hal akan SELALU diikuti oleh beragam pandangan; pro dan kontra; pujian dan hinaan. Santuyyy, dinikmati saja, ehehe. Perbedaan adalah suatu keindahan.

Termasuk dengan perihal ‘kehebohan’ ini. Para Ahli Psikologi dan Peneliti Sosial ikut ‘tergelitik’ untuk menyampaikan opininya. Menurut mereka, orang-orang akan beramai-ramai berbuat baik demi mendapatkan reward high, BUKAN karena dasarnya ingin menolong. Berbagi karena berharap memperoleh sesuatu in return. Sebuah faux generosity, mereka menyebutnya.

_______________________________________________________________________________

PAMRIH

Mengharap sesuatu in return dan pamrih, ummmto be honest, saya jelas YA! Ehehe.

Saya pribadi melihatnya dari segi agama yang saya anut, yang sangat dianjurkan (at some point diwajibkan) untuk berbagi. Dengan senang hati saya mau melakukannya sebagai bentuk kepatuhan padaNya. Saya ingin sekali perbuatan baik saya dilihat olehNya. Saya sangat berharap mendapat rahmat dariNya dan poin (pahala) besar dariNya.

Jika ada orang lain yang berkomentar, “Itu namanya gak ikhlas tuh.. bla bla bla..masih ngarep pahala.”. Santuyyy sajalah ehehe, jangan diambil personal, karena komentar mah gratis dan gampang. Selama tidak merugikan orang lain, tetap lakukan saja yang kita inginkan.

Moreover, slentingan, nyinyiran, dan sanjungan, merupakan salah satu dinamika kehidupan bermasyarakat. Markibong, ehh salah, Markinik, Mari Kita Nikmati, ehehe.

————————————————–

  • Ada sebagian orang yang mengharap akan memperoleh berlipat-lipat dari jumlah uang yang disedekahkan.

Perspektif si penyinyir: “Walaah dapetnya cuma di dunia aja tuh, nanti di akhirat gak akan dapet.”

————————————————–

  • Ada yang kegiatan beramalnya di-share di social media-nya.

Perspektif si penyinyir: “Ini mah tangan kanan memberi, tangan kiri memegang kamera.”

————————————————–

  • Ada seorang selebgram kaya raya yang membagikan uang sebesar 1 juta rupiah untuk masing-masing followers-nya yang dipilih secara acak.

Perspektif si penyinyir: “Dasar riya’, norak!”

————————————————–

  • Ada seorang pengusaha besar terkenal sejagad raya, yang uangnya turah-turah, yang juga seorang philanthropist, (Bill Gates.. –detected-) rajin berkunjung ke negara-negara di Afrika untuk membuat saluran air bersih; membangun toilet yang higienis; memberikan obat-obatan; serta menyediakan vaksinasi bagi para warga yang hidupnya masih di bawah banget.

Para pengkritik ‘berdatangan’ dengan ‘bersenjatakan’ quote bijak Frank A. Clark, seorang politikus handal dan pengacara berbudi Amerika Serikat yang hidup di Progressive Era (awal tahun 1900an), yang berbunyi “Kebaikan yang sesungguhnya adalah saat orang yang kamu tolong tidak tahu bahwa kamu menolongnya”.

————————————————–

Duh, aya-aya wae ya komentarnya. Ehehehe.

Semoga kita tidak termasuk salah satu orang yang berpandangan negatif akan suatu hal ya. Pikiran negatif bisa mengakibatkan stress lho, yang bisa lead ke gawatnya sistem imunitas tubuh. Jadi mudah menyerang tuh nanti si virus CoVid19 dan atau segala mikroorganisme nakal lainnya, yang membuat tubuh terkena penyakit.

(Please, keep in mind, bahwa ini tidak bisa ‘dipukul rata’ ya. Bukan berarti semua orang yang terkena virus CoVid19 (atau menderita suatu penyakit) adalah orang yang suka negative thinking. Ada yang karena memiliki kormobid, ada yang sudah melemah sistem imunitasnya karena usia, dan berbagai penyebab lainnya. Tubuh tiap manusia memiliki keunikan masing-masing yang kompleks. Dari buku ‘An Elegant Defense: The Extraordinary New Science of the Immune System: A Tale in Four Lives’ yang ditulis oleh Matt Richtel, saya mengetahui bahwa ada orang yang sejak lahir sudah mengidap penyakit ‘Bubble Boy‘, yang sangat fragile walaupun hanya terekspos oleh sedikit mikroorganisme yang harmless sekalipun.)

Apapun motif seseorang dalam melakukan kebaikan; pamrih atau tidak; ikhlas atau tidak, absolutely bukan ‘wilayah’ kita. MURNI ranah urusan masing-masing dan Sang Pencipta.

Yang PASTI dan PENTING, melihat keadaan buruk menjadi baik; melihat orang bahagia setelah menerima pemberian orang lain; melihat dunia menjadi tempat yang lebih nyaman; melihat seseorang berkontribusi untuk perubahan yang lebih indah, sudah membuat kita ikut senang, terharu, terinspirasi, dan bersyukur,

_______________________________________________________________________________

Referensi:

  • Richtel, Matt. (2019). An Elegant Defense: The Extraordinary New Science of the Immune System: A Tale in Four Lives. New York: William Morrow.

SocMed dalam LDR: A Blessing Or A Curse

Typing…:

(WA) AKU : “Pagi Sayang, aku udah bangun neh. Mau sholat, mandi, sarapan. Hari ini mau langsung ke kantor klien, Sayang. Love you.”

Aku beranjak dari kasurku, dan stretching sedikit sebelum ke kamar mandi. Suara adzan dari masjid sedang berkumandang. Ada cukup waktu neh buat nature call dulu sebelum Shubuh.

Setelah sholat, cek HP sebentar.

(WA) SAYANG: “Aku juga sudah bangun, Ayang. Baik-baik di jalan ya nanti pas berangkat! Jangan ngebut. MYSM!”

——- (MYSM = Miss You So Much) ——-

(WA) AKU: “Miss you too, Sayang, sampai ketemu Sabtu! Aku sudah pesan tiket travel neh!” –emoji LOVE dan WINK

(WA) SAYANG: “Ummm, can’t wait.” –emoji LOVE LOVE LOVE

Typing… : (Duh pikiranku ke mana-mana neh..)

Belum beres typing, suara Ibuk dari lantai bawah bikin buyar pikiran yang ‘lagi jalan-jalan’. “Mas, tolong pasangin galon! Air abis niyh, Ibuk mau bikin kopi susu buat bapakmu.”

“Iya Buk, bentaaarrrr!”

Typing… :

(WA) AKU: “Siap-siap ya Sayang buat Sabtu besok!” – emoji WINK – “Aku mau sarapan dulu ya!“

——- CENTANG BIRU ——-

“Masak apa, Buk? Aku juga mau dibikinin kopi susu ya, Buk….”

Typing… :

(WA) AKU: “Sayang, aku berangkat dulu ya! Love you much!”

(WA) SAYANG: “LYSM too!:

——- (LYSM = Love You So Much) ——-

Aku mengendarai motorku dengan hati-hati. Jaket, check! Helm, check! Gloves, check! Hari ini mau ketemu klien neh, kudu rapih dan wangi. Semoga GOL deh!

Melewati pagi yang macet, suara klakson yang riuh membuat pagi ini terasa mengesalkan. Hhhuhhh!!

Segeralah datang, hai Sabtu! Aku sudah 2 minggu gak ketemu si Sayang, tunggu aku Sayang! Aku akan ke Bandung dan kita akan melepas rindu, sepuasnya. Pikiran ini bikin ademin kekesalanku pagi ini. Semangat!

Sampailah ke area Kuningan, settt sett settt. Meeting beres dalam 2 jam dan GOL sesuai harapan. Yuhuuuiii.

Makan siang dekat sini atau yang dekat kantor saja ya? Atau pesan GoFood saja? Hhhmmm, aku lagi pingin Sate Kambing. Aku makan di ITC saja, mumpung sejalur.

Ohya, WA Sayang dulu.

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah beres meeting sama klien, alhamdulillah lancar. Aku mau nyari makan dulu. Kamu jangan lupa makan siang juga. Love you.”

——- CENTANG BIRU ——- Tapi gatyping‘. Mungkin Sayang sedang sibuk.

Kukendarai motorku menuju Ambassador, yang sampai hanya dalam 10 menit. Naek motor lebih enak kalo ngadepin macetnya ibukota.

Untung belum rame neh area Food Court. Aku datang jam 11.40, sekitar setengah jam sebelum jam peak hour.

“Mang, Sate Kambing 5 tusuk, nambah Sop, pake Lontong. Makasih. Saya duduk di meja itu, Mang. “, sambil nunjuk ke meja yang letaknya tidak jauh dari tenant tersebut, Kedai Sate Mang Didi.

Na na na na….. sambil scroll Instagram.

Sayang bikin story apa neh. Oh lagi mamerin seiris kue coklat dari kakaknya yang sekolah di Singapore, yang kebetulan lagi nengokin Sayang. Reply: klik reaction DROOLING, “Mauuu dong Sayang!”

Weeee si Nicholas, foto sama cewe barunya neh! Klik LIKE dan COMMENT, “Bro, dunia serasa milik berdua, beuuhh!”

Si Yuyu udah mblendung berapa bulan nih. Klik LIKE.

Bangke Rudy udah jadi beli drone. Klik LIKE dan COMMENT, “Mau ikutan test drive dong gw!”

Acara pertemuan dengan kepala Negara Swedia…. postingan Bapak Presiden kudu musti gw LIKE. Klik LIKE.

‘Cuci mata’ di explore ahhhh!

Auuu auuu anak sapa neh, cakep amat! @jelitasandora uuchhh sejelita namanya neh. Klik LIKE. Pengen nge-LIKE berkali-kali rasanya.

Pusing dah! Ada yang bulet tapi bukan melon. @mynameisdina ukurannya berapa neh, 34D kali ye. Klik LIKE. Kagak ada neh fitur LIKE berkali-kali. *garuk garuk pale

Mbak waitress datang, “Silahkan Pak, ini satenya.”

“Makasih Mbak!”

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah selesai makan, aku ke kantor dulu ya. Love you!”

(WA) SAYANG: “Ati-ati Ayang, niy aku baru aja sampe TSM, anak-anak pada lunch di sini. Nanti malam video call ya. Ati-ati di jalan, Ayang!”

(WA) AKU: “Ahhsyiappp!” – emoji LOVE


“Mas Tama, Bapak Bos minta laporan minggu lalu.”, Anggi mengingatkan.

“Oke thanks Nggi!”.

Jam 17.45. Sudah mau Maghrib. Gw sholat dulu deh baru lanjut.

Jam 18.30. Kerjaan belum beres juga. Pffiuh.

(WA) AKU: “Sayang, ya ampun Sayang, sorry aku lupa ngasih tau, belom beres bikin laporan neh sayang. Bakal malam sampe rumah neh kayanya.

(WA) SAYANG: “Oohh gitu, emang laporan apa, Ayang?”

(WA) AKU: “Laporan minggu lalu, Sayang. Auditor bakal ngecek Rabu pagi. Bakalan sibuk neh, Sayang.”

(WA) SAYANG: “Ya sudah, Ayang, fokus dulu saja ya. Moga-moga lancar selalu, Ayang. Nanti kabari kalo sudah pulang ya!”

(WA) AKU: ” Ya, Sayang. Love you. xoxoxoxoxo”

Jam 19.42. Kerjaan hari ini akhirnya selesai. Waktunya pulang ke rumah. Jam segini jalanan sudah mulai lenggang. Beli makan apa ya?? Ahh nanti makan masakan Ibuk saja di rumah. Sapa tau Ibuk masak Sayur Asem. Krucuk-krucuk neh perut.

Jam 20.20. Sampai rumah dengan selamat.

“Baru pulang, Mas?”, Bapak menyapa.

“Iya, Pak, tadi ada kerjaan.”

“Makan dulu, Mas. Ibuk bikin sayur asem tuh.”, paling paham ‘muka laper‘ anaknya banget neh Ibuk.

Asekkkk, pas banget lagi mikirin Sayur Asem, Buk. Mandi dulu deh, Buk, baru makan. Tami mana, Buk?”, sambil melongok ke kanan dan ke kiri kenapa rumah terasa ayem, ternyata karena si sumber petakilan udah tidur.

“Di kamar, udah makan tadi. Bapak dan Ibuk juga udah pada makan. Sana abisin tuh lauk.”

Beressss. Abis mandi, sikaaaatt!”

Beberapa menit kemudian…

Ambil nasi, nyentong Sayur Asem, Sambal Terasi, Ikan Asin, Krupuk. Makanan favorit sepanjang masa, apalagi Emak masaknya maknyuzz. *Ggrrgghhh ‘sendawa’.

Kenyang dan ngantuk. Hoahhmm.

Aku beranjak dari kursi makan, membereskan yang ada di meja, dan meletakkan piring-piring kotor di tempat cuci piring.

Mata udah 5 watt begini. Ehh aku lupa gak charge HP. Aduhhh. Mudah-mudahan Sayang gak marah. *sambil doa komat-kamit.

Secepat The Flash aku ke lantai atas, letak kamarku berada. Lalu segera membuka isi tasku dan colokin HP.

Sepuluh menit kemudian, aku menyalakan HP-ku dan … treng treng treng treng treng… ada beberapa pesan masuk dari WAG Geng Topbalz; Geng Anak Kantor; dan WA dari Sayang.

(WA) SAYANG: “Ayang, udah beres kerjaannya?”

(WA) SAYANG: “Ayang, udah pulang belom?”

(WA) SAYANG: “Ayang, di mana?”

Gawat neh, aku harus membalas segera dan memberitahukan kronologisnya dengan terperinci agar tidak ada salah paham. Jangan marah, jangan marah, jangan marah Sayang.

(WA) AKU: “Sayang, maaf, ini tadi HP mati. Pas sampai rumah, badan bau acem dan kelaperan, jadi langsung mandi dan makan. Sampai aku lupa ngeluarin HP dari tas. Maaf ya Sayang.”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

(WA) AKU: “Sayang, tadi makan malam apa?”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

Lima menit kemudian. Krikk krikk krikk belum juga ada tanda-tanda READ.

(WA) AKU: “Sayang, pasti udah bobo ya. Sleep tight. Love you.”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

Fix udah tidur neh Sayang. Oke aku juga tidur ahhh. Udah jam 10 malam.

Baru mau merem, ehh ada notification Instagram:

@rudy_si_badak replied, “Ayo Bro. Mau kapan?”, Rudy membalas comment-ku tentang nge-tes drone barunya.

Ehh ada 1 follower baru. Nadya Marisca started following you. Oohhh ini teman SMA dulu, anak X-IPS. Klik Follow Back. Scroll foto-foto Nadya. Aku dulu sempet naksir neh. Sekarang udah punya anak.

Klik Search, dan masuk ke Explore.

@tanteZara wowww, ini ada MILF. Mau dong Tante. Klik LIKE .

Ada foto cewe bening pake kemben sambil nyuci baju di penggilesan. Sapa neh. Mau dong jadi penggilesannya. Klik LIKE @eva666. Wow foto-fotonya bagus semua. FOLLOW ahh!

Dooohhh ini ada anak SMA, hot banget. Klik LIKE @mythacarlo. Pake seragam aja bikin pening. FOLLOW ahh! Klik STORY-nya: si anak SMA lagi asyik Tiktok-an bareng gengnya. Goyangannya asyik neh. REPLY STORY : “Haii.”


Hari-hari kulalui dengan berulang. Khas pola hidup yang kesehariannya penuh dengan rutinitas. Kalau ada penjahat yang ngincar gw, gampang banget nemuin gw ada di mana di jam berapa, kayak yang di film-film. Eat Sleep Work Repeat. Bangun, sarapan, mandi, berangkat kerja, pulang, makan, mandi, tidur. WA-an dan VC-an dengan Sayang.

Akhirnya Sabtu datang juga.

“Buk, Pak, Mas mau ke Bandung sampe besok sore. Ada acara sama anak-anak kantor.” Terpaksa harus bohong sama Bapak Ibuk. Kalo bilang mau ketemu pacar, bakal terancam gak jadi berangkat. Untungnya Bapak Ibuk udah paham kalo anaknya udah gede, ga banyak ditanyain.

Bandung, aku datang! Sayang, aku datang!

Sabtu jam 12.00 aku sudah tiba di Hotel Disini Ada Setan.

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah di hotel, di kamar 666.”

(WA) SAYANG: “Aku otw, Ayang!”

Hari Sabtu dan Minggu berlalu begitu cepat. Rasanya nikmat setelah melepas rindu dengan Sayang.

——————-

Yahh udah hari Senin lagi. Kembali ke rutinitas, demi sesuap nasi dan segenggam berlian.

(WA) AKU: “Sayang aku berangkat dulu ya. Love you.”

Menjelang jam makan siang, kerjaan udah beres semua, ‘cuci mata’ dulu yang seger-seger ahh.

@ceweindosuperhotboobs fotonya menggoda semua neh! FOLLOW ahh! Sekalian mau FOLLOW-in satu-satu di setiap fotonya, ada tag akunnya. Pilih yang paling sreg di hati, eh di mata.

@ohh.sawnia fotonya sambil melet dan menggoda. FOLLOW.

@bernadetha09 matanya sayu dan body-nya montok. Slurppp. FOLLOW.

@chichamerica hot manis cantik. FOLLOW.

@donaxavier hot manis cantik. FOLLOW.

@nikitamirmie artis Indonesia yang udah emak-emak tapi body kenceng. FOLLOW.

@sherinayayaya penyanyi favorit. FOLLOW.

………………..

(WA) SAYANG: “Ayang, aku lagi makan Karedok dan Rujak Mangga. Kamu makan apa, Ayang?”

Nanti aja deh balasnya. Nanggung. Mana lagi yang kudu gw follow. *sambil scroll-scroll

@kuntilanakwekwek cantik dan hot. FOLLOW.

@sundelabolonga manis gemes pengen nyubit. FOLLOW.

Klik STORY @sebutsajabunga lagi makan pisang. Ngiluu bayanginnya. REPLY STORY:  “Haiii.”

Klik STORY @mawarberduri lagi Tiktok-an dance. Seksiii. REPLY STORY: “Haiii.”

………………..

Tak terasa sudah jam 14.00, cepat sekali waktu berlalu. Perut krucukan, ya ampun aku belum makan, segera aku ke kantin di basement. Kalo mau pesen GoFood, kelamaan. Yang penting diisi dulu deh. Doohh lupa belom balas WA Sayang.

(WA) AKU: “Sayang, maaf tadi lagi banyak kerjaan. Ini aku baru sempet lunch. Maaf Sayang, baru balas. Love you.”

(WA) SAYANG: “Ohh gapapa Ayang. Duh kasian Ayang. Jangan sakit ya Ayang. Semoga kerjaannya lancar dan beres. IMYA.”

——- (IMYA = I MISS YOU ALREADY) ——-

(WA) SAYANG: “Ohya Ayang, aku boleh upload foto kita kemaren berdua selfie ya.”

(WA) AKU: “Boleh dong!”

(WA) SAYANG: “Ayang juga dong! Upload poto kita berdua ya di IG Ayang. Tapi tunggu, aku pilihin yang bagus dulu ya!”

‘BAGUS’ definisi Sayang adalah yang dia tampak bagus. Bukan gw-nya. Tapi gapapa, cinta sih.

(WA) AKU: “Iya dong, Sayang. Nanti bilangin yang mana ya yang kudu aku upload. Aku makan dulu Sayang.”

Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, berlalu begitu cepat, kerjaan juga cepat beres. Tapi weekend ini aku ga ada rencana ke Bandung, selain Sayang ada agenda sama temen-temen kantornya, juga biar hemat. Cukup dibatesi ketemu sebulan 2 kali saja. Bayangin, naek Travel PP dan transport macem-macem 500 ribu; biaya hotel 800 ribu; belom uang ngajak makan dan jajan, atau kadang nonton di Bioskop kalo ada film yang bagus. Buat yang gajinya gak segede ‘orang minyak dan gas’, ini cukup menguras kantong. Apalagi kudu nabung juga buat nikah sama Sayang.

Jumat siang kulalui dengan sholat Jumat dan makan bareng anak-anak kantor. Hari ini bisa dibilang special, karena tumben-tumbenan neh anak-anak pada gak ada jadwal ke klien, jadi kita rame-rame cari makan di area Setiabudhi.

(WA) AKU: “Sayang, ini aku lagi rame-rame makan di Setiabudhi sama anak-anak kantor, kebetulan lagi pada ngumpul, gak ada yang ke klien. Kamu makan apa, Sayang? Sampai ketemu nanti malam ya, di VC hehehe. Miss you and love you.”

Aku dan teman-teman berangkat rame-rame pake mobil Haris. Jumat siang gini, menjelang weekend, ibukota sangat terik, macet dan orang-orang segitu banyak pada kompakan memenuhi jalanan, ehh itu orang semua bukan ya??

Aku cek HP dulu sebentar, kok masih CENTANG 1 ABU-ABU. Mungkin Sayang sedang sibuk.

Tiba-tiba suara Haris yang lagi nyetir membuyarkan pikiranku tentang kesibukan Sayang. Biasanya hari Jumat dia sudah cukup santai, tapi kok ini WA belum di-read. Ummmm.

Tiba-tiba. CENTANG BIRU. Sudah di-read sama Sayang. Tinggal nunggu balasan.

………………..

Percakapan di mobil.

“Bro, elo-elo kudu bikin Tiktok dech! Di situ isinya bening-bening semua, yang nge-dance juga beuhhhh!”

Hahhahahah elo bisa aja, gw mah udah! Biar gak stress mikirin kerjaan, hukumnya WAJIB buat gw follow akun Tiktok yang bikin ngiler. Hahahahahh!”

Heyy coba elo cek akun Tiktok @dindagndruwo31 dinda-g-n-druwo31 nyambung semua, beuhhh dijamin elo kagak bisa tidur!”

Ehh si Tama gercep, langsung search akunnya tuh, hahahahahahh!”

Lalu aku menyahut, “Jelasss doong! Gw cowok normal, Bro! Ini gw mau download aplikasi Tiktok dulu, ketinggalan banget gw sama klean.”

Hahahahahahh ke mana aja elo?!”, anak-anak pada ketawa puas.

Karena gak mau dibilang kudet di dunia ‘percowokan normal’, aku bilang, “Instagram juga banyak tuh yang bening-bening, mereka share saat pada Tiktok-an, gw udah follow juga!”

“Kurang seru! Tiktok lebih seru, Bro!”

Klik klik klik klik, masukkan email, bla bla bla blob blob blob, taadaaa RESMI punya akun Tiktok @jonigabug. Aku sengaja tidak membuat akun dengan nama asli, soalnya buat jaga image juga, plus cuma butuh liatin dancers.

Akhirnya kami sampai juga di tujuan, di area Senopati. Selama hampir 2 jam aku dan teman-teman makan sambil ngobrol ngalor ngidul, sambil sesekali lirik sana lirik sini, banyak yg ‘seger-seger‘, mubazir kalo dicuekin.

Setelah itu, kita balik lagi ke kantor dengan perut kenyang dan hati senang. Sudah lama tidak merasakan kebersamaan dengan anak-anak kantor, ketawa-ketawa bareng. Biasanya pada gak jelas lagi di mana, ada yang lagi ketemu klien, ada yang pulang awal mulu karena kudu bantuin istri ngurusi bayi. Bahagia itu sederhana, makan siang bersama teman-teman pun menyenangkan. Inilah yang dinamakan Jumat Berkah.

Jam sudah menunjukkan pukul 16.30. Bapak Bos sudah pulang, kerjaan juga sudah beres. Ahh pulang sekarang ahh, bisa VC-an sama Sayang, dan istirahat lebih awal.

Sayang WA-nya sudah CENTANG BIRU tapi kok Sayang belum membalas ya. Ohh mungkin dia sibuk nyiapin packing buat besok. Waktu itu sempat cerita, katanya mau ada acara bareng teman-teman kantornya di Garut, yang dari Bandung bisa ditempuh dalam waktu 2 jam saja. Rencananya juga mau berangkat jam 06.00 biar gak macet mengingat Garut juga menjadi tujuan utama turis lokal.

(WA) AKU: “Sayang, pasti lagi sibuk siap-siap buat besok ya? Atau masih di kantor dan banyak kerjaan? Biasanya kalo Jumat sudah santai, Sayang.”

——- CENTANG 1 ABU-ABU ——-

Beberapa menit kemudian. ——- CENTANG BIRU ——-

…ummm na na na nananananana…

Kok tidak dibalas ya. Ummm.

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah mau pulang dulu nih, see you @VC tonight.”

——- CENTANG BIRU ——- typing:

(WA) SAYANG: “Ya! Nanti malam telpon ya! Kita harus ngomong!!”

Bbblaarrrrr. Kenapa pake tanda seru segala neh Sayang. Mau ngomong?? Tiap hari juga kita ngomong lewat VC, tapi kenapa ini ditulis khusus, ‘KITA HARUS NGOMONG!’. Ehhh, kok jadi merinding gini gw.

Duhh Gusti salah apa aku neh.

Sekitar jam 17.00 aku pulang. Di perjalanan, pikiranku terganggu. Ada apa sih dengan Sayang. Mau ngomong apa. Apa aku bikin salah. Ahh, jangan mikir buruk, mungkin dia lagi mau datang bulan. Ahaa, benar, mungkin lagi mau datang bulan. Aku ingat, saat aku menemuinya di Bandung 2 bulan yang lalu, mukanya ‘ditekuk’ mulu, ternyata dia lagi mau datang bulan, katanya gak mood. Oke deh fix dia lagi gak mood.

Setengah jam kemudian aku sampai rumah dengan selamat, dan seperti biasa, aku langsung mandi dan makan masakan yang sudah disiapkan Ibuk.

Lhoo, pulang cepet, Mas. Sini makan bareng, mumpung pada ngumpul!”

Aku menjawab, “Iya Buk, abis ini turun.”

Di meja makan sudah tersaji nasi anget ngebul, Ayam Goreng, Lalap Sambal, Sop, Tempe Kering, Kerupuk, sikaaaaat. Malam itu aku makan bersama Bapak, Ibuk, dan adekku Tami. Sudah lama aku gak menikmati kebersamaan dengan keluarga. Hari ini memang Jumat yang berkah.

Setelah kenyang dan membantu beres-beres dan sedikit ngobrol sama Bapak, aku beranjak ke atas, menuju kamarku.

Sikat gigi dulu dan nyisir, persiapan mau VC-an sama Sayang.

Thiriririiiit thiriririiiit thiriiiriiit. Video Call SAYANG calling…..

(Video Call) AKU: “Halo Sayang, tambah cantik saja Sayang, udah makan?”

(Video Call) SAYANG: “Lom!”

(Video Call) AKU: “Lho kenapa Sayang? Ini sudah mau jam 9 belum makan? Barusan aku makan Ayam Goreng bikinan Ibuk, dan lagi pada ngumpul neh tadi. Seneng hari ini bisa kumpul-kumpul sama temen dan keluarga. Tadi siang pas lagi ramean sama anak-anak kantor, Dwi abis dari toilet, lupa kagak resletingin tuh celana. Hahahahahahaha, bodor emang tuh anak, hahahahahahahahah!”

Selagi aku tertawa, Sayang tetap diam dan tidak ikutan tertawa. Ada apa? Salah apa aku?

(Video Call) AKU: “Ohya Sayang, tadi katanya mau ngomong. Ada apa, Sayang?”

(Video Call) SAYANG: “Oke, Tama Hildago!”

Kenapa manggil aku pake nama lengkap, dan bukan pake ‘Ayang’. Merinding gw. Gawat ada apa neh.

(Video Call) SAYANG: “Kenapa sih kamu nge-follow cewek-cewek yang pada pake baju kurang bahan begitu??!!”

Sayang berbicara dengan nada tinggi dan wajah ‘ditekuk‘.

(Video Call) SAYANG : “Pake nge-likein segala, ya ampuuun Tamaaaa! Yang tiap kamu telat balas, yang kamu bilang banyak kerjaan, maksud kamu ‘kerjaan’ ini ya!! Follow-in akun-akun genit jablay, nge-like nge-like poto-potonya! Itu tiap orang, hampir semua potonya kamu like! Kenapa sih? Ganjen amat!

Bblaarrr, ya ampun Sayang marah karena ini toooo, dan dia tau kalo aku follow dan like-in akun-akun cewe-cewe itu.

(Video Call) SAYANG : “Apa sih maunya?!! Kalo sudah punya pacar, sudah tidak seharusnya begitu!!! Sana pacaran aja sama mereka! Saking sibuknya scrolling foto mereka, sampe lupa gak upload foto selfie kita kan!! Itu namanya kamu mengutamakan mereka dibandingkan pacar kamu sendiri! Kalau kamu masih jomblo, ya bodo amat lah, tapi kita kan udah pacaran! Aku gak suka kamu gitu! Kalo kamu tetep gitu, lebih baik kamu pacaran saja sama mereka!”

Blaarr..blarr..blarrr. Aku bingung mau jawab dari mana. Ini hanya FOLLOW dan LIKE doang gitu!! Apa yang salah??!! Arrgghhh.

(Video Call) AKU: “Sayang, aku gak kenal mereka di real life. Itu hanya di internet doang, Sayang, aku gak ngapa-ngapain sama mereka. Ketemuan pun enggak. Karena fotonya bagus, aku like, dan follow.”

(Video Call) SAYANG: “Foto bagus??? Maksudnya yang sambil mamerin sembulan dadanya gitu! Sambil nunggingin pantatnya gitu. Itu definisi BAGUS buatmu??! Kan ada banyak akun yang isinya bagus beneran, yang Fotografi Alam, yang tentang Fitness, tentang Astronomi, tentang kata-kata bijak, kenapa malah cari yang kayak begitu??!!! Oke, aku paham cowok suka cewek, itu normal, tapi ya gak harus di-follow dan like sebanyak itu kali! Pathetic amat, kayak yang pengen diperhatiin sama tuh cewek-cewek. Nih nih aku udah like-in semua potomu nih, notice me dong. Gitu ya??! Gitu ya ngarepnya??!!”

(Video Call) AKU: “Enggakk gitu, Sa…”

(Video Call) SAYANG: “Aku kan juga malu kalo tau pacarku bergenit-genit sama cewek-cewek di internet! Seolah, ihh si …. Gak seseksi cewek-cewek itu, wajar lah cowoknya nge-follow akun cewek-cewek hot! Gitu ya??! Ehh tau engga, teman-temanku gak ada tuh yang cowok-cowoknya sok sok follow dan like akun-akun cewek gak jelas di internet kayak gitu! Itu fakta lho! Silahkan tanya satu-satu ke teman-temanku. Kamu doang nih yang bikin gregetan!! Kalo kamu gak pacaran sama aku, silahkan lah kamu kayak gitu! Tapi kita sudah pacaran, dan menuju ke jenjang serius, masak gak dipake siy common sense-nya, masih sok-sok genit sama cewekcewek!!”

(Video Call) AKU: “Ya ampun Sayang, itu cuma di Instagram! Aku gak kenal sama mereka, cuma biar nambah banyak teman.”

Aku bingung gimana jawabnya Gustiiii!

(Video Call) SAYANG: “Nambah temen?? Temen?? Tapi kenapa harus sama cewek-cewek itu!!! Nambah teman tuh gampang! Cari kek yang sama-sama cowok! Cari kek yang content-nya bermanfaat dan positif! Bukannya malah cari yang begituan!!”

(Video Call) AKU: “Maaf Sayang, aku di kerjaan kan stress, aku butuh refreshing, kalo nyarinya yang content-content belajar, aku sudah cukup stress, jadi aku cari yang akun santai dan bikin rileks, aku juga follow akun-akun yang becandaan juga, Sayang.”

(Video Call) SAYANG: “Kalo mau nambah temen di Instagram, cari aja hashtag: followforfollow, pasti buanyak tuh temenmu nambahnya! Alasan aja ini mah!!”

(Video Call) AKU: “Aku juga gak tau mereka itu siapa, rumahnya di mana, kuliah atau kerja, aku CUMA lihat foto, kalo bagus,LIKE. Udah gitu doang, Sayang.”

(Video Call) SAYANG: “Doang?? Bela-bela-in follow gitu lho. Dan bikin kamu sering lama balas WA. Ngakunya aja sibuk banyak kerjaan, trnyata cuma asik-asik ngliatin foto-foto cewek-cewek geje!”

jdr#44gu&)ihhhj!!!!!k8hbjdiooohhoioo###blobblobblobblobbbb1111$%$##

Sayang ngomong A sampai Z yg bikin kuping panas, bingung mau menjelaskan apa lagi. Begini ya rasanya dimarahin.  Ingin rasanya aku banting neh HP dan mengeluarkan kata-kata binatang, tapi gak bisa. Semarah-marahnya Sayang, dia gak pernah mengumpat, bahkan dalam bahasa Inggris sekalipun. Oke aku akan biarkan dia ngomong sepuasnya, mungkin ini cara dia melampiaskan kemarahannya. Apa aku mute saja ya. Ehh jangan.

(Video Call) SAYANG: “#$%$= ghhjjgrrr;;^*(£€€€. Halo, halo, kok diem saja sih??”

(Video Call) AKU: “Oh ehh iya Sayang, aku paham, maafkan aku Sayang. Tapi aku gak selingkuh lho!! Kok marahnya kayak yang aku selingkuh saja sih. Aku akan unfollow cewek-cewek itu sekarang!”

(Video Call) SAYANG: “Iya, tapi jangan sedih kalo udah pisahan sama mereka ya!”

(Video Call) AKU: “Pisah gimana?? Kenal aja kagak. Ketemu juga kagak.”

(Video Call) SAYANG: “Ya kan kamu jadi ga liatin foto-foto mereka lagi. Katanya biar ga stress. Jadi sumringah gitu ya kalo liat foto-foto mereka! Pelipur laramu.”

(Video Call) AKU: “Enggak lah Sayang. “

(Video Call) SAYANG: “Kan bisa gaming, atau olahraga biar gak stress. Unfaedah banget sih liat foto cewek-cewek geje buat ilangin stress!”

Aku lama terdiam, bingung, kesal, capek, lelah…

(Video Call) AKU: “Iya Sayang, abis ini aku unfollow mereka.”

(Video Call) SAYANG: “Oke. Aku gak suka kamu begitu. Aku sakiit dan kecewa tau kamu segenit itu!”

(Video Call) AKU: “Ya sudah….. Ummm besok kamu siap-siap jam berapa? Ngobrol yang enak saja yuk.”

(Video Call) SAYANG: “Oke, aku mau tidur dulu. Bye!”

……thiiiiiiittt…. Dia memutus sambungan telpon begitu saja. Dan aku sudah terlalu lelah dan ngantuk buat buka Instagram dan unfollow cewek-cewek itu. Sudah habis energiku. Hoaahhhmmm besok saja lah. Zzzzzzzzzzzzzzz.

………………..

Ahh silau amat ini. Ya ampun udah jam 07.30. Kesiangan bangun dan gak sholat Shubuh.

“Mas, sarapan Mas!”, Ibuk sudah menanggil dari lantai bawah.

“Iya Buk.”

………………..

Hari ini aku di rumah saja, kebetulan keluarga Pakde mau datang berkunjung.

Ohya, lupa belum ‘bersih-bersih’ Instagram. Mana nih HP gw, kok ilang.

Ya ampun HP mati belom kucolok. Sambil ku-charge, kunyalakan HPku. Ding ding ding, banyak WA masuk, notifikasi Gojek, OVO, IG, … Dan WA dari Sayang yang bejibun, mati gw!

(WA) SAYANG: “Btw, aku cek kok IG mereka masiy di-follow. Katanya mau di-unfollow.”

(WA) SAYANG : “Halo halo..”

(WA) SAYANG : “Iiihh kok HP dimatiin begitu siy!”

(WA) SAYANG : “Halo halo!”

(WA) SAYANG : “Boong sama janjinya semalam ya!”

(WA) SAYANG : “Fix mereka lebih penting daripada aku ya!!”

#%^^&&&&%4&*****^^%TTYY&^&

Seketika aku meneleponnya…thiririiit thiririiit.. Halo

(Telpon) AKU: “Sayang maaf aku tadi bangun kesiangan, terus langsung ke bawah buat sarapan dan bantu Ayah benerin rak lemari. Dan aku lupa gak nge-charge HP-ku, ini baru aja nyala. Maaf Sayang.”

(Telpon) SAYANG: “Aku boleh minta password IG-mu gak? Aku saja deh yang hapusin!

Bbblarrrrr. Baru pertama kalinya, kata-kata penuh privasi ini keluar dari mulut Sayangku. Kami berdua memang di awal pacaran pernah membahas masalah ini dan kami tidak ingin saling menginvasi privasi masing-masing. Tapi,karena masalah sepele ini, jadi meleber ke mana-mana kayak gini.

(Telpon) SAYANG: “Halo, boleh gak? Cuma buat hapusin orang-orang itu dari IG-mu!”

(Telpon) AKU: “Eengggg..”

(Telpon) SAYANG: “Sepenting itu ya mereka??”

(Telpon) AKU: “Bukan Sayang, bukan begitu, tapi kan kita pernah ngomongin tentang PRIVASI.”

(Telpon) SAYANG: “Ini pengecualian. Cuma buat nge-unfollow-in doang kok. Masak gitu aja kebingungan sih. Atau jangan-jangan, ada lagi yang disembunyiin??”

(Telpon) AKU: “Enggak kok, Sayang. Password-nya secure123.”

Karena sudah lelah ngeladenin, aku kasikan saja password-ku. Toh gak ada apa-apa. Aman. Yang terburuk yang kulakuin sudah diketahui sama Sayang…..Ealaahhh Gustiii, aku banyak me-reply story-story. GAWAAAT!

Thiririit thiririiitt.. SAYANG calling, halo.

(Telpon) SAYANG: “Ya ampun, aku kira kamu cuma nge-like dan nge-follow doang. Ternyata ada yang lebih parah!! Kamu flirting ke cewek-cewek itu. Nyapa-nyapa ‘HAI’; ‘Anak mana’; ‘Mau dong diemut juga’; ‘PL?’. Tunggu!! PL itu apa??? Price List???.”

Aku pasrah. Bingung mau jawab dan ngomong apalagi….

(Telpon) SAYANG: “Aku udah capek, Tama! You completely ruined my weekend!.”

Seketika Sayang menutup telponnya, tanpa aku belum sempat berkata-kata.

………………..

Aku harus gimana. Aku mencoba menghubunginya berkali-kali tapi WA gak ada balasan, telpon gak diangkat. Hari Minggu kulalui dengan kegalauan. Gak ada kabar dari Sayang.

Sudah Senin lagi saja. Aku berangkat ke kantor dengan loyo dan banyak pikiran. Stamina kurang, gak fokus buat ngapa-ngapain.

Selasa..

Rabu..

Kamis. Aku mau ke Bandung saja besok Sabtu. Otw pesan tiket.

(WA) AKU: “Sayang, aku barusan pesan travel. Aku Sabtu ke Bandung. Tunggu aku Sayang. Sekali lagi maafin aku Sayang. Aku khilaf. Maaf Sayang. Aku kangen. Love you so much. Please balas.”

Jumat..

Sabtu. Walaupun tidak ada balasan dari Sayang, pagi ini aku tetap berangkat sesuai jadwal travel, jam 08.00. Jam 12.30 aku sudah sampai di hotel tujuan, sampai detik itu, Sayang belum membalas sama sekali

Ya sudah kalo Sayang gak datang, aku anggap aja retreat sambil ngadem di Bandung.

(WA) AKU: “Sayang, aku sudah di Bandung. Aku nginep di Hotel Penuh Hantu Tapi Boong kamar nomer 1313, di lantai 4. Aku tunggu ya Sayang. Aku minta maaf, aku khilaf. Semoga kamu bisa memaafkan aku, Sayang.”

Sudah jam 17.00 tapi tidak ada balasan, hanya CENTANG BIRU. Ya sudah aku pasrah sendiri saja di Bandung kali ini. Aku lapar, mau cari makan dulu, saking galaunya sampai lupa makan siang, padahal ini sudah mau Maghrib. Saat aku membuka pintu kamar, aku melihat Sayang mau mengetuk pintu kamarku. Rasa senang dan lega yang bercampur menghilangkan super galauku. Aku memeluknya dan kita berdua di kamar.

——————–

Masalahku dengan Sayang sudah solved. Kita kembali damai, dan rutinitas kami berdua kembali normal. Sayang juga sudah memanggilku dengan panggilan ‘Ayang’ lagi. Nahh kalo gini kan semangat.

Selasa.. Rabu.. Kamis.. Jumat..

Sabtu aku di rumah saja. Nge-game dan maen futsal sama sepupu.

Scroll Instagram dulu ahh, wah Sayang post selfie nih. Klik LIKE dan COMMENT: LYSM. *emoji love.

Search explore. Wawww panas dingin nih lihat foto-foto yang banyak tonjolannya begini. Klik LIKE. Ehh klik lagi, unlike. Bahayyaa nih, bisa ketahuan Sayang neh. Capek dan ogah ribut.

Gimana kalo aku bikin second account aja ya. Kenapa gak kepikiran dari dulu. Haisshh. Kalo dari dulu begini, hubunganku sama Sayang aman damai penuh cinta, dan aku tetap bisa ‘cuci mata’ dan FOLLOW yang ‘gersang’. Rrrrrrhgy.

Klik klik klik klik. Instagram akun baru @jonigabug

@jonigabug started following @dedemita @cendolsusu44 @sigemazzhotmontok @kirana_belekan @keteka.hot @………  dan ratusan akun lainnya.

@jonigabug commented, “Kudu siapin banyak tisu neh.”

@jonigabug commented, “Duh Tante baru aja dari kamar mandi, masak kudu balik lagi.”

@jonigabug commented, “Enak nih duduk di tengah-tengahnya.”

Hehehehehehe.

Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, Senin lagi, Selasa lagi, .. kulalui dengan lancar, aman, sentosa, penuh cinta dengan Sayang, dan stress ilang dengan mantengin akun-akun yang syegerr-syegerr melalui akun baruku @jonigabug.

Hari Rabu, seperti biasa, aku bersiap berangkat ke kantor dan WA ke Sayang.

(WA) AKU: “Sayang, aku berangkat dulu. Jangan lupa sarapan ya Sayang. Love you.”

——- CENTANG BIRU ——- dan typing

(WA) SAYANG: “Oke JoniGabug!”

Jjjlederrrrrrrr..kok.. kok.. kok bisa. Kok.. kok bisa Sayang memanggil aku dengan nama itu. Suatu kebetulan? Tapi nama Joni Gabug hanya aku yang tahu, itu bukan nama karakter fiktif populer. Berarti, Sayang tauuu ..??? Aku langsung klik CALLING SAYANG.

Thhiiriiriittth thiirriiittthh. Halo.

(Telpon) AKU: “Siapa tuh, Sayang??? Joni Gabug??”

(Telpon) SAYANG: “Hhmmmhh, sudah, gak usah pura-pura! Sok-sok gak tahu nama itu. Kamu lupa ya, kalau aku punya keahlian investigasi sekelas Nancy Drew. Gak usah mendebat, gak usah ngeles, dan gak usah menjawab. Hari ini, Rabu, 18 Desember 2019, kita resmi UDAHAN! Bye!”

Bblaarrrrr jledarrrrr jledderrrrr

Daily Journal of Some GenZ’s Thought in Quantity Era

Kita hidup di zaman di mana kuantitas sangat penting dalam menentukan posisi ‘kehormatan’ sebagai manusia.

Views, likes, dan followers yang banyak adalah segalanya. Bahkan tidak sedikit yang literally do whatever it takes untuk menciptakan konten yang membuat banyak mata tertuju padanya. Viral, istilahnya. Fame, self satisfaction, money, ….., surely they look tempting.

“AMPUN, KELAKUAN ANAK MUDA JAMAN SEKARANG!”

Sampai bosan saya mendengar kalimat itu, ehehehe.

Kalimat yang (hampir) selalu terngiang sepanjang masa. Sejak Eyang kita masiy kinyis-kinyis hingga detik ini, yang naga-naganya pun akan terus berlanjut selama Bumi masiy intact.

Ucapan yang kerapkali dilayangkan generasi senior kepada generasi yang lebih muda.

Ohh c’mon, kita pun pernah muda, pernah being wild and free. Mosok siy mau melarang generasi selanjutnya menikmati masanya.

Nikmati masa mudamu, wahai adik-adik Generasi Z!

======================================================================

A Gen-Z Named Dashita Denamewa

Saat bangun tidur, hal pertama yang aku lakukan adalah turn off Airplane Mode. Lalu, buka app Instagram.

Yuhuuu ada 8 notifications! Aku sumringah melihat screen HP-ku! Aku merasa ini adalah sesuatu yang will make my day!

@daste.ran, @kopiah_an, and @sarungan recently added their story

Whaaaattt. Daaaammmnn. Aku kira ada follower baru atau nge-like foto yang kemarin siang aku upload.

Aku udah berdandan cakep kayak gitu. Rela jauh-jauh dan berangkat pagi-pagi, demi mencapai mall kekinian yang lagi super nge-HITS pada jam yang tidak crowded, agar dapat sepuasnya foto-foto di beragam spot dan angle.

Tiga foto terbaik dari puluhan yang diambil oleh Oppa Ayang, aku post di jam 12.30.

Berdasarkan artikel yang aku baca mengenai hasil analisis Sprout Social, tentang waktu terbaik dalam meng-upload foto agar mendapat banyak likes adalah antara jam 09.00 sampai jam 13.00.

Aku sengaja memilih tepat jam 12.30 karena biasanya orang-orang sudah pada selesai sholat Dhuhur dan sedang bersantai sejenak sambil scroll-scroll social media-nya. Scientifically, aku membuat hipotesis bahwa aku dapat memperoleh setidaknya 500 likes. Tapi, tapi… mengapa cuma dapet 207 likes??!! Dan, tidak ada tanda-tanda still counting…. Huhhh, so sad!

———————————————————————————————————————————

Melirik bagian kiri atas screen. Ah masih jam 05.02. Scroll dulu bentar ahh, 10 menit-an, baru sholat Shubuh.

———————————————————————————————————————————

@eneng-geulis-difollow-atuh

Ya elaaahhh si Eneng post jam 10 malam udah dapet 656 likes!! Padahal cuma foto sedang nyeruput kopi doang. Di depan rumah doang padahal. Rumahnya juga biasa aja dekorasinya dan tidak estetik. Rrrrrrrr…

————————————————–

@jennaandherthings

Wuihhh selalu cantik niyh influencer favorit panutanku. Jenna Sensatia. Woww likes-nya 28,773! Gils. Ah ninggalin like dulu ah.

Hhhmm, Jenna cantik banget kalo rambutnya di-wave dan dicat warna bayalage gitu. Ihhh lucuuu.

Terus pake atasan sabrina yang memperlihatkan leher dan bahunya. Gemesssss. Bawahannya berupa rok selutut warna ungu. Lilac! Lalu dipermanis dengan sandal open toe yang menampakkan kuku kakinya yang bersih terawat dan dihiasi dengan kutek coklat. Aiiihhhhh, ucuuuul.

Gimana siy posisi pose Jenna. Aku sambil zoom-in dan menggerakkan leher ke kanan dan ke kiri. Uhuuuy sip, bingo! Besok pose gini ahh. Rambut kudu paripurna dan AHHA, aku mau pake pewarna kuku juga ahh.

Uuncchh, aku juga harus membeli rok warna lilac niy! Coba aku cek di Shoppii, semoga ada yang unyu dan diskon gedayyy! Ahhh semangat sekali aku hari ini. Retail therapy is healthy.

Thank you Jenna for the outfit inspiration. Mmmuahhh..

—————————————————

Scroll lagi: @salsabillakesosolsosol

Ihhh si Salsa lagi makan-makan bareng. Makan apa siy tuh. Aku zoom-in. Ini kayak roti bun yang ada lelehan kejunya. Ohh kayak gini ya yang namanya Garlic Cheese Cake. Empat puluh enam likes. Kesian baru dikit, aku like ah biar dia seneng. Menyenangkan orang, besar pahalanya. Amiin.

————————————————–

Scroll berikutnya: @dakwahteladanremajamuslimcianjur

“Doa saat malam datang. Bismillah Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan malam ini dan kebaikan yang terdapat padanya dan aku berlindung dengan-Mu dari kejahatannya …… ”

Wajib aku like niyh.

———————————————————————————————————————————

Dan, .. doeng sudah jam 05.40! Aduh mepet niy aku subuh-nya. Aku harus buru-buru wudhu dan sholat.

“Ya Allah, berikanlah hamba 10,000 followers dan juga likes yang banyak di setiap foto hamba. Serta, hamba memulai hari ini dengan Bismillah. Mohon kabulkanlah permohonan hamba ya Allah. Ini sudah hampir 2 tahun ya Allah. Hanya Engkau yang berkuasa untuk menggerakkan makhlukMu untuk mem-follow IG hamba. Mohon ya Allah. Aamiin ya Rabb.”.

———————————————————————————————————————————

Flashback ke 1.5 Tahun yang Lalu

Yeayyy akhirnya aku bikin akun Instagram! Aku follow teman-teman dan beberapa influencers yang kece, kebanyakan pada follow back. Lalu aku follow adikku dan para sepupuku, mereka pada follow back.

Beberapa hari kemudian, ada yang follow aku tanpa aku follow duluan. Ihiiy pasti kesengsem sama fotoku karena aku sedang pake tas baru yang dibelikan tante di Singapore.

Ahh senangnya, langsung ada 2 followers baru pagi ini ! Optimis bisa tercapai 10,000 followers dalam 1 tahun! Siapa niyh ya?

@rumahorphan started following you.

@pelangsingpemutihbukanabalabal started following you.

Yahh aku kira teman atau teman lama atau yang pernah kenal sebentar, dan search namaku, Dashita Denamewa @ddenamewa_. Udah kutulis lengkap biar yang pernah kenal, gampang searchnya, dan dengan harapan follow duong.

Dua followers baru yang …. ummm.… aku tak bisa berkata-kata, tapi thanks ya anyway for following. Pelajaran penting dalam hidup yang sering Tanteku bilang, “Don’t ever take anything for granted, even when it’s as silly or as small or as unimportant or as unnecessary as you think!“.

Tiba-tiba ada 1 message datang, siapa niyh?

“Assalammualaikum, kakak, kami dari Rumah Orphan cabang Bekasi. Kiranya mau menyisihkan uang untuk ikut berbagi dengan adik adik yatim/piatu/yatim piatu ………”

———————————————————————————————————————————

Go Back to The Present Day

Jumlah followers-ku sekarang adalah 1,331, dan following 901. Ahh endak keren amat! Perbandingan followers dengan following hanya 1.4772. Jangan follow-follow dulu dech, nungguin nambah followers biar ga malu-maluin perbandingannya. Pffttt.

Tapi kok tak kunjung nambah-nambah ya?? Di suggestions, banyak temen lama yang ada banyak mutual, kenapa siy mereka ga mau follow aku duluan?! Ahh ogah ahh, aku ga mau follow duluan!

———————————————————————————————————————————

Sortir following ahh!

Okay, kayanya online shop @tokobajukembangkempistapisemangat45 sudah lama koleksinya tidak menarik buatku. Unfollow!

————————————————–

Penyanyi hot dan seksi dari Amerika Serikat @dejadog.guggug, lagu-lagunya lama-lama membosankan. Unfollow!

————————————————–

@remajalabil_pedia unfollow! Isinya gitu-gitu doang. Kurang kreatif.

————————————————–

@bonitamussolina uummm ini teman SD-ku kan. Lhoo ternyata dia tidak follow back ya. Atau awalnya sudah follow back, lalu aku di-unfollow. Uhhh how dare you, Bonita Mussolina!

Aku unfollow aja dech! Ehh, jangan ding. Gimanapun itu temen SD. Biarin dah gw tetep follow, anggap aja beramal.

Followers 2,399 ; following 800. Ohh aku tahu niy trick-mu. Jadi kamu lagi sortir ya, nge-unfollow-ing banyak orang, agar membesar perbandingan antara follower dan following kamu. Dan aku termasuk salah satu yang kamu pilih untuk unfollow?? Ohh sungguh teganya dirimu!

Umm mungkin dia lupa sama aku. Mungkin dia ingetnya jaman aku SD yang sering keluar ingusnya, kalau dia lihat fotoku yang sekarang (yang pastinya beda bangeet dong dengan bocah beringus itu) mungkin dia ngiranya aku bukanlah orang yang dia kenal, akhirnya dia putuskan untuk unfollow dech.

Okay, make sense. Gapapa deh kalo demikian kronologinya. Gw tetep follow elo, in case suatu saat kamu inget lagi.

—————————————————-

@indahsooobeautifulindeed wowwww, gila niy si Indah, followers-nya membludak!

Seingatku, terakhir lihat akun Indah, cuma 107, sekarang sudah 6000-an aja. Aneh juga ya, dia udah lamaaa banget ga nge-post atau bikin story.

Hhmmm. Kok bisa dapat tambahan followers secepat itu? Foto-fotonya pun rata-rata jumlah likes-nya hanya belasan.

Padahal, berdasarkan artikel yang pernah aku baca, rata-rata post foto minimal mendapat 10% dari jumlah followers total.

Unless….hahhhh dia pake BOT?! Sekarang sudah banyak bersliweran akun Instagram yang jualan followers, gilee canggih amat ya!

Tapi aku sama sekali tidak punya keinginan untuk memakai jasa itu, walaupun semenggoda itu, dan semudah itu prosesnya, tinggal klik klik klik dengan jariku.

Aku harus jujur dengan diriku sendiri, dan mencapai kekerenan dengan hasil jerih payahku sendiri! Ogahh ah pake yang shortcut begitu. Takut jadi kebiasaan. <— Btw, ini juga pelajaran hidup dari Tanteku.

Ehh ehh kok aku suudzon ya sama Bonita, toh pencilan atau anomali pasti ada kan. Mungkin followers dia memang asli dan organik, murni kumpulan orang-orang yang suka dengan foto-foto Indah. Okay, case closed!

———————————————————————————————————————————

Hatiku cukup tenang setelah aku membaca artikel ‘Mengapa Tuhan tidak mengabulkan doamu’. Ada banyak jawaban: teruslah berdoa; jangan menyerah; sudah saatnya menerima bahwa keinginanmu bukanlah hal terbaik di mataNya; …….dan seterusnya.

Terus, aku kudu piye.

———————————————————————————————————————————

Ultah Oppa Ayang

Yeayy, akhirnya aku dan Oppa Ayang sampai juga di sebuah mall besar di Jakarta, Plaza Senayan a.k.a PS. Tujuan utamaku adalah Paul Pattiserie. Ini cafe high class yang kekinian dan instagrammable!

Aku mau pesan Mango Chocolate Dome dan Hot Tea no sugar. Biar seimbang dan ga eneg.

Pas banget ini adalah hari ulang tahun Oppa Ayang yang ke-23. Dia minta aku untuk memilih tempat makan untuk merayakannya. Dan toko roti premium dari Perancis ini sudah menjadi inceranku sejak lama. Pernah lihat beberapa Instagram temenku yang horang kayah, influencer, dan artis, mengunggah foto sedang berada di sini.

Ahh bikin story ahhh! Oppa, lihat kamera, sini! Buat story niy. Senyum, duck face, senyum lagi, kita saling bertatapan, dadah-dadah, senyuuuum, …. jangan kelihatan giginya dong Oppa, senyum tipis aja….nahhh gitu!

Oppa, aku difotoin, dong! Hari ini kan special occasion, jadi WAJIB hukumnya buat foto-foto!

Cekrek cekrek. Cekrak cekrek. Cekrek cekrek. Mana, mana, Oppa, aku mau lihat hasilnya. Duh kok aku merem. Ini kok mulutku agak melongo ya.

Ulang, ulang. Lagi, cekrek, cekrek, cekrek. Cek dulu hasilnya. Ahh lengenku terlihat gede sebelah.

Mau ulang lagi ya Oppa Ayang. Cekrek cekrek cekrek. Wuihhh aku puas banget, Oppa, ini baru pas angle-nya! Aku suka aku suka! Aku tampak cool sekaligus hot, auranya seperti Carla di serial Spanyol, Elite. Unnchhh.

Oppa, yuk kita foto berdua. Sini, sini, deketan. Cekrek cekrek cekrek. Ihh kok kamu ga senyum. Kurang lebar dikit senyumnya. Cekrek cekrek cekrek. Yahh Oppa, kenapa itu rambutnya ada yang jendil sedikit di atas, aku rapihkan dulu ya. Nah, perfecto! Cekrek cekrek cekrek……

— Mas waiter datang mengantar pesanan

“Akhirnya datang juga, makasih Mas! Laperrrr!”, Oppa Ayang berkata dengan lega dan gembira.

Tunggu, Oppaaaa!! JANGAN DIMAKAN DULU! Mau aku foto dulu, Oppa. Sebentaarr aja. Cekrek cekrek. Tuh kan cuma bentar.

Yahh tangan kamu nongol niyh! Satu kali lagi deh! Cekrek.

Tadaaa Iced Latte dan Avocado Cake, yummyyy.

Sekarang mau foto cake-ku dulu. Cekrek. Semua foto kuenya bagus-bagus, look so delish. Ini bagusnya diunggah di feed atau dimasukin story aja ya? Ummmmm.

“Bae, makan dulu. Nanti aja upload foto-fotonya, pas kita udah pulang. Fokus dulu ke aku, just like you said, ini kan a very special day. Taro HP-nya dong.”.

Ohhiya maaf Oppa. Itadakimasu.

Nyamnyamnyamnyam.

— 30 menit kemudian —

Happy birthday, Oppa! Kamsahamnida Oppa Ayang for the treat. Enak, kenyang, delicioso. Muy bueno. Mmuuaachh.

Oppa, sambil nungguin bill, potoin aku dong! Cekrek cekrek cekrek cekrek.. 20 times later.

Thank you Oppa, hasil foto kita malam ini bagus-bagus! Gak sabar pingin cepetan post!

— Pulang dengan happy tummy dan puluhan foto bagus —

———————————————————————————————————————————

Di Rumah Bagian Kasur Nyamanku Jam 23.30

Bakal ga bisa tidur kalau belum milih-milih foto tadi. Supaya ga dull, edit dulu pake aplikasi Lightroom. Lightroom adalah editing app yang sering digunakan para influencers super idola. Filter klik klik klik. Brightness klik. Contrast klik. Klik klik klik. Done!

Yess, pasti bakal banyak dapat likes niyh! Besok akan aku post jam 10.00 teng!

———————————————————————————————————————————

Jam 10.00 Pagi Keesokan Harinya

Caption: .. and suddenly, u’re all I need. The reason why I smile. Feliz cumpleanos, Oppa Ayang! #paulpatisserie #selflove #iwearpotento #happycouple #couplegoals #myboyfriendismyhappiness #birthdaydinner #loveforever #meandmylove

Nulis caption kudu pake bahasa Inggris dong! Hashtag tempat dan merek baju juga adalah A MUST!

Posted

Mandi dulu ahh. Byarrrr byuurrrr byarrrr byurrrrr byarrrr byurrrrr.

———————————————————————————————————————————

Setengah Jam Kemudian

Kira-kira sudah berapa likes ya. Ummm.

Woww, ditinggal mandi setengah jam sudah berhasil mendapat 91 likes! Yes damn gurl!

@bungacitrakonsisten commented, “Cantik amat bebz!”

@sekarlet.johansen commented, “Anak SMA mana niyh?😍”

@tokopalugada commented, “Pretty. Follow back ya sis cantik.”

@noahcentineokw99 commented, “Hai!”

@diantapibukandiansastro commented, “Mba, makin cantik aja. Bajunya lucu.”

Na nanana nananana it’s a beautiful day. Nananana…

———————————————————————————————————————————

Saat Malam Menjelang

Bobo dulu ahhh, tapi sebelumnya, aku harus turn on Airplane Mode. Eitts jangan dulu, boleh ahh ngintip IG, dikiiiit aja. Ga akan lama. Total jumlah likes postingan foto hari ini adalah 700-an likes. Wow, melebihi setengah dari jumlah followers! This is the achievement of the day, yes, yes!

Bahkan Kendalla yang tidak pernah sekalipun ngasi like postinganku saja, ikutan nge-like. Foto hari ini sedahsyat itu! Yes, yes, damn gurl!

Ummm, tapi ga ada notification nambah followers. Ummm. Kenapa ya. Kenapa ya.

Klik klik klik. Lihat page-ku, 1,328 followers.

Whaaatttttt! Foto dahsyatku membuat 3 orang unfollowed aku. Kenapaaaaaaaaaa!!!

It’s OK to Laugh at Your Silly Embarrassing Situations

Setiap manusia dilimpahkan banyak karunia olehNya, yang salah satunya berupa PERJALANAN HIDUP.

Kita semua pasti pernah mengalami beragam state-of-being dan state-of-mind: bahagia; menderita; bingung; khawatir; takut; harap-harap cemas; lucu; sehat; sakit; cinta; kagum; sedih; ……..

Tentu saja kita juga pernah melewati masa-masa yang memalukan yang membuat kita merasa ingin tenggelam atau hilang ditelan bumi. Btw, harapan ini kok dark ya. Diganti saja dengan: “…merasa ingin me-rewind waktu agar awkward moment yang dialami tidak terjadi..”. 🙂

But heyy, di sinilah letak keindahannya. We need those kinds of moments so that we can laugh at ourselves someday, which based on research run by American Psychological Association, sangat bagus untuk kesehatan kita, mental dan fisik.

————————————————————————–

Seperti halnya orang lain, saya punya banyak kisah konyol, namun saya akan menuliskannya sedikit saja. Selain agar tidak kepanjangan, juga karena banyak diantaranya yang sulit saya tumpahkan dalam tulisan. Saya bingung mencari pilihan kata dan merangkai kalimat yang tepat untuk mendeskripsikannya.

—————————————————————————-

Prince William, Would You Marry Me, or even just look at me for a second?

Saat berusia 8 tahun, saya sooo crazy in love dengan Pangeran William. Ya, betul, Pangeran William yang itu! Yang seorang putra mahkota kerajaan Inggris.

Ketika itu, keluarga Buckingham sering sekali masuk TV dan koran, sang ayah yang berwibawa (Pangeran Charles); ibunya yang cantik jelita (Lady Diana); dan dua anaknya, yang bikin klepek-klepek cewek-cewek kelas 3 SD. Tidak hanya saya, ternyata teman sekelas juga banyak yang demen ke mas William dan Harry *kedip-kedip mata.

Ya ampun! Anak masiy sering keluar-ingus-yang-bersihin-ingusnya-sendiri-saja-belum-sempurna….., sudah mikirin naksir cowok. *tepok jidat ngelus dada.

Diantara kedua British handsome bloke tersebut, saya memilih William! Selain karena menurut mata saya, beliau lebih ganteng, juga karena usianya lebih tua. Pangeran William kelahiran tahun 1982, saya kelahiran tahun 1983, dan Pangeran Harry kelahiran tahun 1984. Tentu saya memilih yang lebih nge-MAS-i dong! Inilah mengapa sampai sekarang saya ingat betul berapa usia saya ketika sedang naksir berat ke beliau, karena saya sangat memperhitungkan selisih umur antara saya dengan kedua pangeran tersebut.

Tidak ketinggalan, saya rajin menggunting foto-foto sang Pangeran yang ada di koran untuk saya kumpulkan di laci meja belajar saya, agar kapanpun saya belajar, saya bisa melihat wajahnya sambil berangan-angan bahwa suatu saat kami akan dipertemukan sebagai jodoh. Blebbbeblehhh blehbleeeh.

Mamah; Papah; om saya yang bernama Pak Thole; dan bude saya yang bernama Mba Yun, seringkali mentertawakan hal ini sehingga membuat saya kesal, namun saya tidak menyerah begitu saja. Saya tetap YAKIN dan OPTIMIS!

Sekarang saat mengingatnya, saya sadar bahwa kala itu, saya merupakan contoh nyata dari definisi sebuah peribahasa: “BAGAI PUNGGUK MERINDUKAN BULAN”.

———————————————————————————————

Is That A Fart-or-Is That A Fart? YES, It Is!

TIDAK ADA CERITA YANG LEBIH MENGGEMASKAN DARIPADA CERITA BERSAMA MANTAN….eeeaaaaaa. 😀

Sebagai seorang mahasiswi yang mempunyai bad habit tidak bisa mengatur keuangan dengan baik dan benar, sudah menjadi suatu rutinitas bagi saya mengalami ke-mefet-an ekonomi di hari-hari menjelang akhir bulan.

Hari itu, sekitar tanggal 20-an, saya harus merevisi draft laporan TA untuk segera dicek oleh Bapak Dosen Pembimbing. Saya kelimpungan karena kok ya ndilalah komputer saya hang. Mau pinjem komputer unit yang saya ikuti, Koran Kampus, tidak bisa karena sedang dipakai editor menjalankan tugasnya dan tidak dapat diganggu gugat.

Tidak hanya itu saja, saya tidak punya cukup uang untuk ke WarNet. Untuk beli makan saja sudah ngepas. Kalau habis untuk ngetik berjam-jam di WarNet dan nge-print, bisa endak makan dong. (Sepertinya ini peringatan dari Semesta agar saya lebih bijaksana mengelola uang.)

Long story short, akhirnya Dek Pacar (tentu saja saya tidak memanggilnya ‘mas‘, karena beliau adalah berondong, wkwkwk, saat saya sudah tingkat 4, beliau baru TPB -sungguh ironis untuk seorang yang masa kecilnya terobsesi punya pasangan yang lebih tua-) menawarkan kunci kamarnya untuk saya dapat sepuasnya menggunakan komputernya saat beliau sedang berkuliah.

Seketika saya langsung menerimanya, karena saya akan berada sendirian di kamarnya. Kalau Dek Pacar juga ada di situ, saya malah tidak mau karena Mamah selalu mengingatkan agar tidak berdua-duaan dengan yang bukan muhrim. Inga’-inga’!

Wah bantuanmu sungguh godsend, tidak akan pernah kulupakan kebaikanmu, wahai Dek Pacar, yang sekarang saya tidak tahu di mana dirimu berada (plus karena memang saya tidak ingin tahu dan tidak mau mencari tahu). Hushh hushhh, sudah..sudah! *kembali ke topik.

Keesokan harinya, Dek Pacar sudah SMS pagi-pagi, memberitahukan bahwa kunci kamarnya sudah diletakkan di rak sepatu di depan kamarnya, dan saya dibolehkan datang kapan saja. Langsung secepat kilat saya berangkat ke kost-nya, karena bayangan wajah Bapak Dosen Pembimbing terus menghantui.

Wah betapa lega dan senangnya saya kala itu! Lega karena masalah ngetik-ngetik terpecahkan, dan senang karena komputer keluaran terbaru milik Dek Pacar penuh hiburan. Beliau mempunyai banyak koleksi file lagu dan film, lengkap dari yang jadoel sampai yang sedang nge-hits, dari yang Indonesia; Barat; dan Asia, you name it, semua ada! Yang katanya didapat dari website kampus, rileks atau kuda-kuda atau apa ya namanya, lupa.

Ohh, not to mention, tersedia juga headphone miliknya, yang kalau mendengarkan musik dengan menggunakananya, suaranya bisa jedhag-jedhug mantabbb beut pokonya!

Saya punya cukup waktu sampai jam 5 sore untuk menyelesaikan revisi sambil mendengarkan musik di Winamp dan men-download beberapa film. Karena sendirian, saya benar-benar merasa sedang di kamar saya sendiri, saya bebas tanpa jaim-jaiman berulah, segala posisi duduk saya jabanin, bahkan kentut pun saya lepasin tanpa beban. Kebetulan saat kentut, saya sedang asik mengetik sambil mendengarkan musik yang bervolume cukup tinggi.

Sampai…. tiba-tiba terdengar suara cukup keras karena mengalahkan suara musik yang sedang saya dengar dari headphone, “Uriillll, Uriill!! Kentutnya kenceng amat!”.

Dhheeegggg! Nafas saya sempat tertahan beberapa saat sebelum akhirnya melepas headphone dan menengok ke belakang. Ya ampuun, ternyata Dek Pacar sudah datang, dan saat melirik ke jam dinding, ternyata sudah hampir jam setengah enam!

Lho kok tidak mengetuk pintu?? Ohya, pasti beliau sudah ngetuk, tapi saking mantabbnya suara musik di headphone, suaranya jadi tidak terdengar.

Saat beliau berkomentar mengenai besarnya suara kentut saya, saya diam terpatung, tidak mau membalas apapun, dan segera mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain. Sungguh luar biasa, malu yang saya rasakan saat itu. Semua jerih payah untuk mencitrakan diri sebagai wanita kalem; (sok) imut; dan feminin, sepertinya sia-sia. 😦

Lesson learned:

  1. Selalu kunci pintu dimanapun kamu berada! You’ll never know.
  2. Selalu tengok belakang; kanan; dan kiri kalau mau kentut! You’ll never know.

———————————————————————–

Tulisan ini sekaligus merupakan partisipasi saya dalam memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juli https://mamahgajahngeblog.com/tema-tantangan-mgn-juli-cerita-lucu/ Yeayyyy! Dan ini sudah kali kedua saya ikut lho. Semoga istiqomah. *fingers crossed.

Mempersiapkan Kehamilan (TTC) di Usia (Menjelang/ Saat/ di Atas) 40 Tahun dengan Senang, Serius, dan Santuyyy

Saya tahu bahwa mencoba hamil -atau yang dikenal dengan TTC (Trying To Conceive)- di usia saya yang beberapa tahun lagi akan genap 40 tahun, peluangnya KECIL, karena kuantitas dan kualitas sel telur akan menurun ketika wanita sudah mencapai usia 35 tahun ke atas.

Tapi TENTU bukan hal yang tidak mungkin, karena saya mengenal beberapa teman dan mengetahui banyak selebritis, seperti: J.Lo; Alyssa Milano; Gwen Stefani; aktris Korea pemeran Jang Geum di serial Jewel In The Palace, Ayu Hamasaki; dan masiy banyak lagi, yang dikaruniai bayi yang sehat bugar di usia 40 tahun lebih. Berita baik tersebut memberi saya angin segar, optimisme, dan motivasi untuk tetap semangat mencoba.

Sebelum ini, saya dan suami sudah merasa cukup dengan hadirnya putra kami satu-satunya yang sudah berusia 11 tahun. Kami sudah nyaman menjalani kehidupan sehari-hari sebagai keluarga kecil, dengan cukup 1 anak saja. Jadi kami tidak ada rencana, bahkan berharap atau ngoyo untuk menambah momongan. Dikasi lagi, Alhamdulillah; tidak dikasi lagi juga Alhamdulillah. ‘Lempeng wae‘ istilah bahasa Sunda-nya, ehehe.

Tidak jarang kami mendapat pertanyaan dan komentar, seperti: “Arif kapan punya adek?”; “Ayo dong nambah 1 lagi!”; “Gak pingin nambah momongan niy?”; dan semacamnya. Saya bingung mau menjawab apa ya, ehehe, karena saya yakin, anak itu adalah anugrah, pemberian dariNya, jadi ya saya hanya mengikuti saja kehendakNya.

Nah, di awal tahun 2021, saya tidak menyangka saya mendapat hadiah ‘garis dua’ dariNya. Orang sekitar menyebutnya sebagai ‘gara-gara pandemi’, ehehe.

Kala itu kondisi saya drop, badan tidak enak, sakitnya pun tidak biasa. Saya kedinginan, perut saya sakit, dan sempat diare. Lalu, meskipun diare saya sudah terobati dan sembuh, perut saya tetap terasa ‘aneh’, badan masiy kedinginan, pusing, eneg, sampai tiba-tiba terpikirkan untuk beli test pack.

Jreng jreng, ternyata positif! Saya sengaja beli 2 testpack dengan merk yang berbeda, dan keduanya menunjukkan positif. Serta makin yakin setelah datang ke ob-gyn yang hasil pemeriksaan USG menunjukkan bahwa saya hamil 4 minggu. Betapa bahagianya kami semua mendengarnya. 🙂

Suami saya seketika sibuk membuat skema dan rencana dalam rangka menyambut anggota baru keluarga kecil kami: bagaimana nanti mengelola ruangan untuk bayi; barang apa saja yang perlu dibeli; apakah harus meng-hire ART; kapan memanggil mamah dan mamah mertua untuk hadir menjaga saya; bahkan hingga browsing nama bayi, yang dilakukan berdua dengan anak kami, https://www.ibupedia.com/artikel/kehamilan/inspirasi-nama-nama-keren-untuk-anak-dari-a-z-paling-lengkap ; dan sebagainya.

Sayangnya, kebahagiaan kami cepat berlalu. 😦

Saya mengalami pendarahan dan kram perut setelah jalan (cepat) pagi di hari Minggu. Saya deg-deg-an, sedih, dan panik bukan main. Saya berandai-andai saya bisa me-rewind pagi saya: jika saja saya tidak jalan pagi; jika saja saya jalannya tidak cepat; jika saja saya tadi di rumah saja;…..

Somehow saya sudah merasa bahwa saya harus melepasnya. Namun saya tidak mau pasrah begitu saja, sambil menunggu besok (kala itu hari Minggu dan dokter tutup) saya tidak berhenti mendoa dan berdzikir. Saya juga membaca banyak artikel dari beragam website (termasuk https://www.ibupedia.com/ yang lengkap mengupas segala masalah Ibu-ibu) dan forum tentang pengalaman pendarahan saat hamil, hampir semua menunjukkan bahwa itu adalah gejala keguguran. Ya ampuun sedihnya :(. Bagaimanapun, saya tetap berharap bahwa ada keajaiban terjadi, terutama saat membaca pengalaman satu ibu yang pendarahan hebat tapi ketika di-cek, embrio masiy aman dan sehat walafiat di rahim. “Semoga ini yang terjadi dengan saya..”, saya mengharap.

Keesokan harinya, sepagi mungkin dengan semangat 45 saya berangkat agar dapat antrian nomer 1 dengan harapan segera bisa ditangani. Alhamdulillah puji syukur kondisi embrio sehat , hanya heartbeat-nya yang cukup lemah. Dokter memberi saya penguat kandungan dan diwajibkan untuk total bedrest, serta berkunjung lagi 2 minggu kemudian.

Aduuh, ampuun, TOTAL BEDREST itu tidak enak! Saya literally harus ada di kasur terus, guling-guling dan leyeh-leyeh. Saya juga dilarang untuk mandi, melainkan cukup dengan cuci muka, sikat gigi, dan cebok-cebok. Tidak ada itu ritual gosok-gosok, scrubbing, pijit-pijit badan… Saya yang biasa mengatur rumah, melakukan house chores, mempersiapkan kebutuhan ini itu-nya anak dan suami, …completely tidak saya penuhi. Jadwal olahraga harian saya yang berupa: cardio, hulahooping, strength/ weight training dan pilates,….lewaaatt (ehh ini mah memang tidak boleh dilakukan saat hamil, ehehe). Tidak hanya itu, perut saya jadi buncit, ehehehe, bagaimana tidak, kerjaannya hanya makan tidur makan tidur. Ob-gyn juga tidak membolehkan saya melakukan yoga yang posisinya bisa dilakukan sambil berbaring, pokoknya TIDURAN saja bolehnya!

Hari ke-7 bedrest, saya mengalami pendarahan lagi, dan ini lebih hebat dari sebelumnya. Long story short, saya officially keguguran. Tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya, bahwa saya termasuk 1 diantara 20% wanita-hamil-yang-mengalami-keguguran. Sedih sekali rasanya. Anak saya pun seketika banyak berdiam diri karena dia yang paling semangat saat mau punya adik, namun harapan itu pupus. Kebahagiaan kami dalam menunggu kehadiran bayi mungil nan lucu hanya bertahan selama 2 minggu. 😦

Puji syukur kami bisa melalui itu semua. Time heals, serta tidak pernah berhenti memohon kekuatan dan kesabaran olehNya karena bagaimanapun itu kehendakNya.

Analisis dokter mengenai keguguran yang saya alami adalah adanya kelainan kromosom ketika embrio sedang membelah dan tumbuh, yang kemungkinan besar diakibatkan oleh faktor USIA saya yang sudah 35 tahun ke atas. Namun, berita baiknya adalah fakta bahwa saya hamil di usia ini (walaupun berakhir dengan keguguran), menunjukkan bahwa saya mampu untuk hamil dan berpeluang cukup besar untuk berhasil.

(Kami mengetahui keberadaan metode IVF (In Vitro Fertilization) di mana sel telur dan sperma di-combine di laboratorium dan akan ‘ditanam’ di rahim sang Ibu, namun kami tidak ingin option tersebut.).

Segera setelah deal with dan berdamai dengan keguguran ini secara physically, mentally, emotionally, dan spiritually, kami bertekad untuk lebih serius berikhtiar dengan cara alami.

  • Berpikir positif dan optimis. Walaupun usia saya sudah bukan usia yang prima untuk hamil dan beresiko terjadi kehamilan ektopik (embrio yang berada di luar rahim); bermasalah dengan tekanan darah; hingga kemungkinan bayi lahir dengan kondisi Down Syndrome, saya berusaha untuk fokus ke hal-hal yang baik. Saya tidak ingin tenggelam dalam ‘kolam kegagalan’ yang malah bisa menimbulkan stress, yang well, banyak jurnal penelitian menunjukkan bahwa STRESS adalah ‘tersangka’ utama munculnya beragam penyakit. Bismillah, saya positif bahwa tingkat kesuburan saya masiy optimal, dan secara frekuentif mengingat fakta keberhasilan banyaknya para Ibu yang hamil dan melahirkan di usia 40 tahun ke atas. Saya mengarahkan otak saya untuk berpikir hal-hal yang membuat saya termotivasi. Mereka menyebutnya sebagai ‘The Power of Mind‘.
  • Tubuhku adalah istanaku. Saya bukan Doctor Strange yang dapat meraih keingingan dengan hanya bermodalkan kekuatan pikiran. Saya harus melakukan sesuatu untuk tubuh saya setelah mengumpulkan positifitas di otak saya. Melalui mengonsumi makanan minuman yang sehat dan bergizi; menambah suplemen kehamilan (YA, tidak salah baca, kok, ob-gyn saya membolehkan bahkan menyarankan untuk meminum suplemen ibu hamil saat TTC, meskipun belum hamil) yang mengandung asam folat dan vitamin D3 seperti BLACKMORES PREGNANCY GOLD; meningkatkan konsumsi sayur dan buah-buahan; dan istirahat yang cukup dengan tidur minimal 7 jam per hari. Selain itu, saya membatasi/ menghentikan mengonsumsi kopi, snack, ‘makanan diproses’, dan wine. Hasil jurnal penelitian menunjukkan bahwa meminum 3 gelas anggur merah per minggu, bisa memperbesar peluang gagalnya kehamilan. Saya memang bukan penikmat wine, hanya ‘berhenti’ di level penyicip (1 gelas per bulan), tetapi saya total berhenti meminumnya demi meraih tujuan ini. Ohya, sebagai tambahan informasi (untuk para Ibu perokok yang sedang struggle untuk hamil) MEROKOK juga harus STOP karena tidak hanya buruk buat kesuburan namun juga dapat mempercepat usia menopause.
  • Utamakan keharmonian (selaras, serasi, dan seimbang). Saya rutin dan konsisten menjaga kondisi tubuh agar tetap prima yang otomatis dapat mem-boost kuantitas dan kualitas sel telur. Menjaga tekanan darah tetap berada di range normal; memperhatikan berat badan tetap berada di BMI yang tepat, jangan sampai berlebih; dan mengoptimalkan masa ovulasi yang terjadi sekitar di hari ke-14 setelah hari pertama menstruasi. Serta tes darah jika diperlukan (bisa dikonsultasikan dulu ke ob-gyn).
  • Belajar dari pengalaman. Saya akan selalu mengingat aktivitas yang men-trigger pendarahan pertama yang saya alami, yaitu jalan cepat. Saya cukup rutin jogging dan saat hamil kemarin, saya merasa ada yang ‘kurang’ jika tidak melakukannya, akhirnya saya ganti dengan jalan kaki dengan ritme cepat. Ternyata, beresiko buat saya. Untuk selanjutnya, jalan cepat akan menjadi BIG NO ketika nanti diberikan hadiah ‘garis dua’ olehNya. Saya akan melakukan olahraga yang ringan saja. Tak lupa saya akan mengingatkan diri sendiri, “Kamu bisa kembali berolahraga lebih intens ketika sudah melahirkan, sabar dulu ya, kamu! Hanya 9 bulan saja kok! Percayalah wahai diriku sendiri, penantianmu akan sangat worth it!”.
  • Tetap menjalani aktivitas sehari-hari dengan senang hati dan semangat. Mereka menyebutnya sebagai live life to the fullest. Yes, I am dan I will! Sampai detik ini, sambil berikhtiar, saya masiy melakukan kegiatan saya sebagai: Ibu; istri; anak; tetangga; kakak; bude; dan apapun posisi saya, dengan total dan tidak setengah-setengah. Saya berusaha untuk fokus dengan apa yang di depan mata, yakni suami dan anak saya. Mereka berdua membutuhkan peran saya, jadi saya tidak mau menyia-nyiakan itu dan tidak ingin melewati hari hanya dengan berangan-angan: ‘kalau hamil’; ‘aku harus bagaimana agar positif hamil’; ‘kalau tidak berhasil gimana‘; ‘pak suami kok makan Indomie mulu, nanti spermanya tidak bermutu’; dan bla bla bla.
  • Bersiap menghadapi yang terburuk dan tidak terobsesi. Ya inilah kita, seorang manusia yang HARUS mau dan mampu menjalani takdirNya, yang tidak bisa berbuat apa-apa melainkan menerima kehendakNya. Serta yakin bahwa semua hal yang terjadi –despite segala efforts yang dilakukan- adalah hal yang terbaik. Saya akan tetap ikhtiar dan berusaha untuk tidak terlalu berlebihan dalam meminta, agar saya bisa legowo dan menerima hasil yang tidak sesuai dengan harapan. Jika tidak dikaruniai momongan lagi, saya akan tetap melihat sisi positifnya. Hidup nyaman dan enak, mempunyai banyak waktu luang untuk beraktivitas sesuka hati, dan yang paling penting, body tetap sexy dan stay in shape, ehehe. At the end, serahkan semua padaNya.

Untuk para Ibu yang usianya (menjelang/ tepat/ di atas) 40 tahun, yang sedang menjadi ‘PEJUANG GARIS DUA’, tetap semangat dan berpikir positif ya! Teman saya sempat berpesan pada saya, “Jangan merasa terbebani KUDU HAMIL, malah nikmati ‘rekreasimu’ tiap malam! Asiiik lhoo!”. 😀

TOPSHOP Jamie Jeans, Andalan Buat yang (badannya) Pendek

Saya terpikir untuk menulis review sebuah celana jeans yang sangat amazing buat saya, Topshop Jamie Jeans , merely karena hal yang bagus sangat sayang jika disimpan sendiri, ehehe. Setuju kan? 😀

Menurut saya, penemuan jeans adalah peristiwa luar biasa yang patut disyukuri, karena merupakan salah satu ‘benda berharga’ sepanjang masa.

Sifatnya yang versatile (bisa dipadukan dengan atasan dan sepatu apapun); effortless (memberi kesan yang terlihat tidak terlalu ngoyo untuk tampil); dan bisa dipakai kapan saja, membuatnya menjadi barang essential bagi banyak orang, wanita maupun pria, tua ataupun muda.

Saat warnanya tambah pudar pun tetap bagus-bagus saja, malah tampak makin keren. Plus, tidak perlu dicuci cukup dijemur saja ketika memakainya sebentar. Kalau memilihnya tepat, jeans bisa menempati lemari baju kita selama bertahun-tahun lho, bisa menghemat banget di pos pengeluaran sandang.

Memilih jeans bisa dibilang cocok-cocokan, dan cukup sulit buat saya yang badannya pendek petite. Sudah sering saya harus datang ke bapak penjahit untuk alter celana jeans yang baru saya beli karena kepanjangan, ehehe.

Selain masalah panjang, saya juga berhadapan dengan: bahan; elastisitas; kenyamanan; dan bagaimana ‘jatuhnya’ di badan.

Selama ini, saya selalu membeli celana jeans via online (bahkan sebelum era pandemi) berdasarkan informasi dan review. Bisa ditebak, kadang dapat yang sesuai harapan, kadang tidak. Kalau hanya sedikit saja yang tidak sesuai harapan siy, saya tetap memakainya. Namun kalau banyak hal yang tidak sesuai, ya saya kembalikan dan minta refund.

Sebelum membeli lewat online, saya mencari banyak informasi dan review di internet, dan dalam waktu yang cukup lama (perlu pertimbangan yang matang). Karena menurut saya membeli baju bukanlah hal urgent, dan saya sangat strict untuk tidak membuang uang saya demi baju. Jadi benar-benar harus saya pikirkan apakah worth it atau tidak. Harganya pun saya pilih yang sesuai dengan kantong saya (keberadaan diskon dan promo sangat diharapkan :D).

Dari hasil surfing yang saya dapatkan, saya mengetahui bahwa TOPSHOP, brand high-street asal Inggris, punya line khusus PETITE, yang dipersembahkan untuk yang berbadan pendek, yang tinggi badannya kurang dari 160 cm.

Wah saya banget tuh, ‘tinggi semampai’ alias ‘tinggi seratus enam puluh tidak sampai’ 😀

TOPSHOP menyediakan beberapa jenis jeans: Joni; Jamie; Mom; Editor; Bootcut; Boyfriend; Leigh; Straight; Dad; dan Flared, yang hampir kesemua desain tersebut mendapat banyak review yang bagus dari para pembelinya.

Diantara mereka, Jamie adalah model yang paling bisa mengambil hati saya. Eaaa. Ehehehe. Dia berupa skinny jeans (model kaki ngepas); high waist (bagian pinggang celananya tinggi atau jatuh di sekitar udel -menuju- ke atas); dan berbahan denim yang cukup tebal tapi sedikit elastis (92% katun, 5% elastomultiester, 3% elastane). Cara merawatnya pun tidak ribet, bisa dicuci dengan mesin cuci biasa.

Ohya, speaking of skinny jeans, akhir-akhir ini banyak para gen Z yang ‘mengejek’ bahwa:

Skinny jeans is soooo lameee..

Skinny jeans are over!

Skinny jeans are OUT!

Skinny jeans itu BARANG ANTIK!”

Menurut adik-adik gen Z, tahun 2021 adalah eranya jeans baggy (longgar) yoooo.

Well, wahai adik-adik gen Z, saya kan bukan Gen Z, saya generasi milenial senior, yang pastinya punya banyak perbedaan selera dengan kamu. Let us be our own generation. We let you guys to be your own generation. Just let’s agree to disagree. Jangan saling mengejek atuh.

— kembali ke topik —

Bermodalkan review di beragam websites yang menjual produk Topshop serta fitur panduan ukuran yang disediakan Zalora, saya berhasil menemukan ukuran tepat yang harus saya pilih. Dengan TB/BB 153 cm/42 kg dan lingkar pinggang 61 cm, size yang sesuai dengan saya adalah 25S (‘S’ dalam Topshop adalah penanda untuk line PETITE).

VERDICT:

Saya sukaaa pake bangeeet! Topshop Jamie jeans sama persis dengan review WOW yang ditulis banyak customers. Tidak sia-sia waktu yang saya kerahkan untuk searching info.

Comfy wise: Sangat nyaman dipakai, bahannya cukup tebal tapi tidak kaku buat bergerak, bahkan buat angkat kaki tinggi-tinggi, ehehe. Dulu saya pernah punya celana jeans yang elastis, enak banget dipakai dan adem, sayangnya terlalu tipis dan cepat melar, jadinya kalau sudah dicuci beberapa kali, mletat-mletot, kurang flattering lah, dan karenanya HARUS pakai atasan yang nutup bokong. Sedangkan si Jamie ini, karena bahannya ‘terstruktur dan menopang’, jatuhnya rapih dan enak dipandang. Jadi saya tetap confident memakai atasan yang pendek atau ‘dimasukkan’. Ohya, atasan favorit saya buat di mix match-in dengan si Jamie ini adalah si Hollister ‘bertali’ yang memperlihatkan sedikit kulit, ehehe, tentunya dipakai di tempat dan waktu yang tepat lho ya.

High waist wise: Bagian pinggang jeans jatuh sedikiiit di atas udel saya. Dan posisi tersebut paling saya suka, karena membuat saya tampak lebih tinggi. Beberapa jenis high rise yang saya pakai sebelumnya tidak bisa se-flattering ini dipakainya. Terlalu tinggi lah (beberapa cm di atas udel, yang menurut saya agak aneh), atau bagian crotch-nya longgar ke bawah lah, ga bisa ngepas. Pokonya aneh lah :(.

Cerita sebentar, dulu saat kuliah, jeans yang paling trendy adalah jenis low rise, yang potongan pinggangnya rendah, jadi saat buat duduk tuh suka kelihatan ‘garis’ yang dulu dibilang sebagai ‘celengan’ ehehe. Kala itu saat sedang sangat nge-trend pun saya tidak suka, simply karena menurut saya terlalu vulgar, malu makainya ehehehe. Selain itu, low rise membuat yang pendek seperti saya malah jadi terlihat lebih pendek.

Color wise: Nyaris tidak ada cela! Warnanya biru yang dibuat pudar dan ada dekorasi sobek-sobeknya di saku belakang (tampak pada foto). Ahhh badass abezzz.

Length wise: Panjang celana jatuh tepat di bawah mata kaki saya, which is inilah yang saya idamkan. Bukan jenis crop yang kependekan (biasanya di atas mata kaki) dan juga bukan yang kepanjangan sehingga tidak perlu dilipat atau dibawa ke penjahit buat dipendekkin. It just fits!

Overall, saya suka sekali! 9.0 out of 10.0. Saya tidak menyangka ada jeans yang seenak ini. Beberapa celana jeans yang saya punyai, yang merk-nya: BLANK NYC; Mango; dan beberapa yang saya beli random, rata-rata cukup memuaskan. Nah setelah ketemu dengan si Topshop Jamie Jeans, saya jadi paham bahwa ada YANG LEBIH MEMUASKAN DARIPADA CUKUP MEMUASKAN. Ehehehe. Di badan saya pun, jatuhnya sangat passss dan memuaskan, selalu menjadi pilihan TO GO saat bingung milih baju atau sedang malas buat berdandan. Kalau mau super santai, saya pakai atasan kaos oblong. Kalau mau ‘tampak dandan’, saya pakai atasan yang feminin. Beres dah. 😀

Ohya, saya membelinya di marketplace Zalora. Harga asli si Jamie adalah sekitar 800 ribu rupiah (harga yang terpampang di foto – IDR 758.900,00 -sudah merupakan harga diskon), dan dengan ditambah promo yang ada, saat itu saya memperoleh good deal, yakni sekitar 500 ribu rupiah. Produk TOPSHOP yang dijual di Zalora asli kok, itu official, jadi no worry lah. Selain banyak diskon dan promo, Zalora juga memberi pelayanan yang terbaik untuk para customers-nya, seperti: barang datang cukup cepat; produk dibungkus dengan sangat rapih; dan ada layanan pengembalian maupun refund jika pesanan yang datang tidak sesuai harapan. Wahh, pokonya mantabb sekali!

Sekian review saya tentang TOPSHOP Jamie Jeans. Semoga bisa membantu para wanita berbadan petite yang sedang struggle mencari celana jeans andalannya. Ehehe. Langsung ceki-ceki saja di Zalora!

A Quiet Place, YES! Popcorn, NO!

Mengetahui tantangan Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni adalah membuat review film keluarga, https://mamahgajahngeblog.com/tema-tantangan-mgn-juni-film-keluarga/ , saya langsung gercep brainstorming untuk menentukan film apa yang akan saya tulis. Saya termasuk Film Enthusiast, yang setiap hari saya luangkan waktu 1 jam untuk menonton, terlebih karena saya berlangganan Netflix dan VIU, jadi makin mudah memfasilitasi diri saya untuk resmi memiliki nama tengah, FILM.

FILM IS MY MIDDLE NAME, yooo ….

Sebelum memulai, saya ingin memberitahukan bahwa ‘pertemuan’ saya dengan Instagram Mamah Gajah Ngeblog memotivasi saya untuk blogging lagi setelah lebih dari satu dekade yang lalu. Cerita lengkapnya sudah saya tulis lho sebagai post pertama, https://fsrinurillacom.wordpress.com/2021/04/18/the-prelude/ . Ehehehe.

—————————————————————————————————-

DEFINISI FILM KELUARGA

Ada beberapa yang saya pikirkan:

  1. Film yang bisa ditonton bersama dengan semua anggota keluarga. Contoh: film-film Disney yang bertemakan: kebaikan vs kejahatan (The Lion King); kisah kerajaan (Frozen, Aladdin, Mulan); persahabatan (Toy Story); fantasi (Shrek, Ariel); dan masiy banyak lagi.
  2. Film yang khusus mengangkat tema drama keluarga. Contoh: Cheaper By The Dozen; The Family; Step Mom; Big Daddy; Parenthood;…etc.
  3. Film yang genre-nya TIDAK khusus tentang keluarga, namun dalam beberapa adegannya mempertontonkan hubungan antara anggota keluarga. Seperti, antara ibu dan anak (Bates Motel, The Butterfly Effect); ayah dan anak (The Pursuit of Happyness); paman dan keponakan (Gifted); eyang dan cucu (Little Miss Sunshine); dan seterusnya yang berkontribusi pada pengembangan karakter sang tokoh utama.

FILM KELUARGA TERBAIK VERSI SAYA

Sudah tentu daftarnya sangat panjang. Forest Gump, Gifted, Yes Day, Home Alone, Family Reunion series, Hidden Figure, My Girl, Freaky Friday, Coco, Something New, dan…bla bla bla bla bla…

Saya akan ‘melegalkan’ suatu karya film adalah sebuah masterpiece, ketika:

1. saya merasa memiliki ikatan chemistry yang kuat di menit-menit pertamanya (jatuh cinta pada pandangan pertama, sangat berlaku di sini). Jika di awal durasi sudah tidak klik, biasanya secara keseluruhan isi filmnya tidak sesuai ekspektasi

2. temanya menarik dan unik,

3. alur ceritanya jelas dan tidak bertele-tele,

4. aktor-aktornya mampu berakting sempurna dalam membawakan karakter yang diperankan,

5. (bersifat optional) soundtrack-nya mengena di telinga dan hati.

———————————————————————————————-

Maka:

Mengingat daftar film keluarga favorit saya yang sangat banyak.

Menimbang hanya diperlukan menulis satu review.

Memutuskan memilih film keluarga favorit yang terakhir saya tonton yaitu A Quiet Place.

————————————————————————————————-

A Quiet Place

Judul: A Quiet Place (2018) dan A Quiet Place Part 2 (2020)

Disutradarai oleh: John Krasinski

Ditulis oleh: Bryan Woods, John Krasinski, Scott Beck

Durasi: 1 jam 30 menit

Distributor: Paramount Pictures

Skor IMDB: A Quiet Place 7.5; A Quiet Place Part 2 7.8

Skor fsrinurillacom: 8.7

Saya harus mengingatkan agar siapapun-yang-mau-menonton film ini, menahan napas dan tidak mengunyah popcorn! Brace yourself to experience a silence!

A Quiet Place dibintangi oleh dua aktor favorit saya, John Kransinski (mas-mas kantoran yang ganteng dan baik di serial The Office) dan Emily Blunt (sosoknya sebagai Emily di film The Devil Wears Prada menginspirasi saya untuk menjadi orang yang total dalam bekerja). Mereka berdua berperan sebagai suami istri, Bapak dan Ibu Abbot. Ohya, fun fact, di kehidupan nyata, beliau berdua juga pasangan suami istri lho, dan mengetahui fakta ini, saya kok ikut senang ya. Ehehehe.

Genre film ini adalah horror, thriller, sci-fi, yang banyak mempertontonkan hal-hal yang menakutkan, tidak lazim, dan tidak ada di kehidupan nyata. *knock on wood semoga tidak akan ada di kehidupan nyata.

Saya menontonnya bersama suami dan anak saya yang duduk di kelas 5 SD. Saya dan suami sudah berdiskusi dengan matang saat memutuskan untuk mengajak anak kami ikut. Pertama, karena anak kami pecinta film ber-genre SciFi dan bertema post apocalyptic yang banyak memberi wawasan dan pengetahuan mengenai survival. Kedua, kami literally ada di sampingnya, jadi jika ada adegan yang bizarre atau kurang appropriate untuk usianya, kami bisa langsung menjelaskan.

Untuk informasi, kami menontonnya di Cinema XXI di The Breeze yang sudah buka kembali. Sepengamatan saya, Insha Allah, XXI strict dengan protokol kesehatan. Kapasitas maksimal studio adalah 50%; masing-masing kursi diberi jarak; pengunjung dan pegawai WAJIB memakai masker; pengecekan suhu sebelum masuk; dan DILARANG makan minum di dalam studio. Serta, pintunya selalu dibuka.

Review A Quiet Place

Sesuai judulnya, A Quiet Place, bumi sudah menjadi tempat yang sepi. Sudah tidak ada lagi suara berisik kemacetan di jalan, hingar bingar konser musik, tawar menawar antara penjual dan pembeli di pasar, keceriaan anak-anak di sekolah …. karena hampir semua manusia dan hewan sudah mati dibunuh oleh alien aneh yang berukuran besar, kulitnya sekeras armor, dan gerakannya sangat cepat. Makhluk buas ini buta namun memiliki kemampuan pendengaran yang sangat sensitif, jadi jika ada yang menginjak dedaunan kering sekalipun, ujug-ujug dia sudah berada di dekat sambil berlari sangat cepat menuju ke sumber suara dan mencabik-cabiknya sampai mati. Bumi sudah rusak, tidak terawat dan tidak ada lagi aktivitas normal.

Terbayang sulitnya memusnahkan alien gila ini, ditembak tidak tembus, ditusuk tidak bisa, …yang bisa dilakukan adalah SEMBUNYI.

Gambar 1: Beberapa screenshot adegan film A Quiet Place

Keluarga Abbot yang terdiri atas: sang ayah (Lee Abbot); ibu (Evelyn Abbot); anak pertama (Marcus Abbot, laki-laki); anak kedua (Regan Abbot, perempuan dan bisu tuli); dan anak ketiga ( Beau Abbot, laki-laki), merupakan salah satu survivor yang hingga hari itu bisa beradaptasi menghadapi kehidupan yang penuh hambatan.

Menjalani peran sebagai orangtua bagi ketiga anaknya di situasi seperti ini, membuat Lee dan Evelyn untuk lebih tangguh. Who are we, if we can’t protect them?”. Mereka berdua berjanji untuk melindungi dan menjaga anak-anak mereka whatever it takes dan at all cost.

Lee yang handy dan kreatif berhasil membuat rumah mereka menjadi rumah yang no sound dengan menggunakan alat-alat dan bahan yang terbatas. Lantainya ditutupi pasir, agar langkah kaki menjadi tidak bersuara; pintu rumah dibuka lebar dan ditahan dengan sumpelan kain, serta tidak ada proses membuka menutup, agar tidak terdengar suara saat kena angin atau ketika anak-anak tidak sengaja menutupnya karena lupa atau keasikan bermain. Lee juga menyediakan banyak bantal agar mereka bisa batuk dan kentut tanpa bersuara. Secara rutin, dia mengajak anaknya untuk ke sungai mencari ikan sekalian puas-puasin ngobrol dan berteriak karena suara aliran deras sungai membungkam suara mereka.

Bisa bersuara merupakan ‘barang luxury‘ di kondisi ini.

Sedangkan Evelyn tentu saja tetap antusias berperan ibu bagi ketiga anaknya, memasak, membimbing, mendidik dan mengajar. Pengetahuannya sebagai dokter juga dia bagikan agar anak-anak mampu menjaga dirinya dan sigap dalam pemberian pertolongan pertama saat terluka. Dari waktu ke waktu, dia tidak lelah untuk mengajak anak-anak belajar mengenai keadaan alam, bercocok tanam dan cara-cara bertahan hidup. Kondisi mepet seperti ini membuat otaknya mengoptimalisasi kreativitas. Dia bisa memasak di lantai dengan menggunakan kotak kayu dan panas dari batu.

Lee dan Evelyn saling bersinergi untuk membagi tugas dan memberikan anak-anak mereka semangat, bimbingan (material dan spiritual) dan pengetahuan. Bahkan di sela-sela era kengerian ini, mereka menyempatkan diri untuk memberi pelajaran Matematika dan bermain board games.

Flashback ke hari pertama bencana ini terjadi. Alien tersebut datang saat Marcus sedang bertanding baseball. Di tengah permainan, terlihat ada suara dan ledakan aneh di langit. Orang-orang segera menghentikan permainan dan berlarian untuk menyelamatkan diri. Dalam hitungan sekejap, keributan dan kepanikan terjadi di mana-mana, dan tiba-tiba ada ‘binatang besar’ yang lari kencang ‘menyapu’ penduduk. Teriakan; suara mobil; bunyi berisik warga saat sedang mencari tempat persembunyian, membuat makhluk aneh itu datang secepat kilat. Bahkan suara lirih salah satu penduduk yang sedang berbisik dan berdoa juga ‘mengundang’ mereka. Benar-benar pemandangan horror.

Dengan sigap, Evelyn dan Lee mengajak anak-anak mereka ke mobil dan menyetir secepatnya untuk segera sampai ke rumah. Sayangnya, Regan sedang asik ‘cuci mata’ di sebuah toko dan kondisinya yang tuli membuatnya tidak menyadari kekacauan yang sedang terjadi. Syukur keadaan cepat berbalik, Lee berhasil menemukan Regan. Setelah melaui kengerian dan berjuang mati-matian; menyetir ngebut dengan menghindari beragam guncangan di jalanan; melewati chaos yang tak terbayangkan, akhirnya mereka semua sampai dengan selamat di rumah mereka.

Gambar 2: Beberapa screenshot adegan yang menunjukkan wajah alien di A Quiet Place

Dari hari ke hari keluarga Abbot makin mampu beradaptasi untuk menjalani kesehariannya tanpa suara sedikitpun. Keberadaan salah satu anggota keluarga yang bisu tuli, memudahkan mereka berkomunikasi dengan bahasa isyarat, karena mereka semua sudah terbiasa menggunakannya.

Selain berperan sebagai kepala keluarga, Lee tidak lupa selalu menyempatkan diri untuk connect dengan anak-anaknya, mengingat mereka sedang masa pertumbuhan. Mengajarkan mereka untuk tenang; kuat dan observant; serta menggunakan dan mengoptimalkan bahan yang ada di sekitar mereka untuk bisa bertahan hidup. Selain itu, dia sibuk membuat alat bantu dengar untuk Regan serta terus berkutat untuk mengenali makhluk aneh tersebut dan mencari kelemahannya.

Pada hari itu, -sekitar 3 bulan setelah datangnya alien- mereka berlima sedang dalam perjalanan menuju kota untuk mencari supply makanan dan obat-obatan. Terbayang bagaimana isi-isi toko masiy banyak tersedia, mengingat sebagian besar warga sekitar sudah mati, jadi practically, seluruh isi toko adalah milik mereka. Cukup untuk membuat mereka bertahan beberapa waktu.

Kedukaan melanda keluarga Abbot di perjalanan pulang karena sang putra bungsu, Beau, ‘disambar’ oleh para alien yang secepat kilat datang setelah mendengar bunyi mainan pesawat. Terlihat sulitnya Lee, Evelyn, Marcus dan Regan untuk menahan tangisan sambil terus berjalan pulang. Mereka kehilangan satu orang yang mereka cintai. Regan merasa sangat bersalah karena tidak mengetahui saat Beau mengambil baterai agar mainannya bisa berbunyi. Lee dan Evelyn ‘merangkul’ Regan dan menanamkan agar menghilangkan rasa bersalah tersebut karena kejadian tersebut bukanlah salah siapa-siapa. Mereka juga menunjukkan kasih sayang yang luar biasa kepada Regan agar pulih dari self loathe-nya, dan tetap terus menjalani hidup dengan semangat dan pantang menyerah.

Waktu terus berlalu, beragam hambatan sudah mereka lalui, berbagai pengalaman yang ‘nyaris mengundang alien’ telah mereka lewati. Practice makes perfect -lah, ehehehe.

Sepertinya ‘semesta ingin membuat mereka lebih pintar lagi’, karena ketika mereka sudah settle, mereka dihadapkan dengan kondisi baru yang tidak terduga. Evelyn hamil!

Tentu saja event ini membuat mereka harus berpikir lebih keras. Bagaimana menjaga kondisi kesehatan jasmani rohani sang Ibu; bagaimana nanti proses melahirkannya; bagaimana mencegah alien tersebut ‘melalap’ sang bayi yang tangisannya inevitable; dan masiy banyak lagi ‘bagaimana’ lainnya.

Somehow, mereka bisa me-manage-nya. Lee berencana akan menyamarkan suara rintihan kesakitan Evelyn di saat melahirkan dan tangisan sang bayi dengan menyalakan kembang api di tempat yang jauh dari rumah, sehingga para alien akan ‘sibuk’ mendatangi sumber ledakan.

Sedihnya, kedukaan kembali melanda keluarga Abbot tepat di hari kelahiran sang bayi. Rencana yang mereka persiapkan dengan matang tidak berjalan lancar karena sambil menahan kontraksinya yang menyakitkan, telapak kaki Evelyn tertancap paku saat dia sedang berjalan di tangga, sehingga refleks teriak sangat kencang. Padahal Lee belum menyalakan kembang apinya. Selang beberapa saat, suara gemuruh para alien terdengar. Tanpa berpikir panjang, Lee berteriak sambil berlari ke luar rumah agar sekumpulan alien terdistraksi dari suara sang istri. Bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Lee mengorbankan dirinya dan pergi untuk selamanya demi keselamatan sang istri dan anak-anaknya.

Di hari yang sama pula, mereka menemukan kelemahan alien, yakni suara feedback dari alat bantu dengar Regan. Suara dengan frekuensi tinggi yang bunyinya ngiingiingg eeckkkk euuckkkkk (bahkan saya tidak tahu cara menulisnya bagaimana :D) membuat alien pontang-panting kesakitan, bahkan bisa membuatnya pingsan. Dan di saat sakit inilah, alien akan membuka mulutnya (atau kepalanya ya, saya kurang paham anatominya) yang lembek, yang dengan sangat mudah ditaklukkan dengan senjata. Dan, BERHASIL membuatnya MATI.

Life must go on…

Dengan masiy diselimuti duka dan dalam kondisi yang tertatih, Evelyn mengajak anak-anaknya untuk bangkit lagi dan semangat mencari tempat tinggal yang baru. Perjalanan mereka membawa mereka ke sebuah pabrik kosong yang terlihat aman, yang ternyata merupakan ‘rumah’ Emmet, seorang kawan lama.

Namun jangan dikira pertemuan dengan Emmet membuat mereka lega.

Emmet adalah orang yang sangat paranoid dan defensif. Apocalypse mengubahnya menjadi orang yang self centered dan tidak mau menolong orang lain.

Keesokan harinya, Emmet berubah pikiran setelah semalaman berbincang dengan Regan. Regan, yang dengan tempaan sang ayah, memiliki keberanian dan empati yang luar biasa, bertekad untuk menolong dirinya sendiri, keluarganya dan orang lain, membuat Emmet ingin berjajar bersama mereka.

Dengan determinasinya untuk menjalankan visi misinya, Regan pergi tanpa sepengetahuan mamahnya dan Emmet, dengan membawa ‘senjata’ andalannya dalam melawan alien, yaitu alat bantu dengarnya dan radio, yang bisa menciptakan feedback dan frekuensi tinggi, serta senjata sungguhan, shotgun.

Di akhir film, hal yang dilakukan Regan, memberi semangat para survivors untuk mengambil alih bumi.

Untuk informasi, ada gejala akan ada sekuel lanjutan niy.

—————————————————————————————-

Menurut saya, A Quiet Place merupakan ‘paket lengkap’ yang luar biasa. Takut; tegang; takjub; sedih; lega; terharu, …… semua perasaan menjadi satu setelah menontonnya.

Worth it untuk mengeluarkan uang tiket bioskop sebesar IDR 40.000 per orang; untuk meluangkan waktu beberapa jam; dan untuk keluar dari rumah di era pandemi.

Saya memperoleh hiburan; kepuasan; pelajaran berharga mengenai ilmu parenting; dan yang sangat penting, makin membuat saya mensyukuri hal-hal sekecil apapun.

Suami saya juga menunjukkan happy face saat keluar dari studio, karena beliau mendapatkan tambahan tips untuk persiapan survival. Ya, suami saya bahkan kepingin bikin bunker bawah tanah agar aman jika suatu saat ada serangan alien ganas. 😀

Sedangkan anak saya yang suka menulis bilang bahwa dia mendapat banyak inspirasi mengenai keberadaan alien yang memiliki kemampuan baru, dan menambah banyak insight mengenai tipe-tipe para survivors.

Durasi 2 jam tidak terasa lama dan membosankan. Kami bahkan sama sekali tidak ingin bersuara karena terbawa suasana sunyinya, apalagi kepikiran untuk makan popcorn. (Ehh namun juga karena di bioskop tidak membolehkan pengunjung makan juga siy ehehe.)

————————————————————————————————-

PESAN MORAL/ HIKMAH/ PELAJARAN FILM A QUIET PLACE (VERSI ‘KACAMATA’ SAYA)

  1. Rasa syukur atas rahmatNya. Terharu dan menahan air mata memikirkan kondisi di mana hal-hal yang kita lakukan sehari-hari tidak bisa kita lakukan. Berbincang-bincang; berlari-lari; makan bersama; menggunakan kamar mandi dengan bebas byarr byurr; buang gas dengan bebas; berpakaian rapih; berdandan; tidur nyenyak; dan tidak terhitung lagi lainnya, yang kadang kita take those activities for granted. Dengan melihat film ini, saya menyadari bahwa semua hal sekecil apapun yang bisa kita lakukan adalah karuniaNya yang HARUS kita syukuri dan kita nikmati setiap detiknya. Alhamdulillah.
  2. Suatu kekurangan bisa menjadi kelebihan. Regan yang dilahirkan bisu tuli, tidak menyangka bahwa suatu saat kekurangannya itu bisa menjadi kelebihan yang sangat bermanfaat. Tetap semangat dengan pemberianNya dan untuk kita yang lengkap, TIDAK BOLEH seenaknya mengejek. Subhanallah.
  3. Survival tips: hal pertama yang harus dilakukan saat ada kejadian luar biasa yang tidak terduga. Stay at home sampai memahami situasi dan merencanakan itinerary selanjutnya dengan jelas dan terarah.
  4. Survival tips: keahlian apa saja yang HARUS dikuasai. Barang-barang apa saja yang HARUS tersedia di rumah.
  5. Hikmah KEUANGAN: Saya jadi ingin lebih sering memasak sendiri dan membatasi pesan makanan lewat GoFood, karena melihat Evelyn yang bisa memasak dalam kondisi minim saja bisa, apalagi dalam kondisi kita yang nyaman. Ehehe. Bisa HEMAT banyak uang niy 🙂
  6. Parenting lesson. Ini banyaaak sekali karena isi filmnya berkutat dengan kegiatan Abbot sekeluarga. Sang ayah dan ibu kompak berikhtiar untuk melindungi, mengayomi, membimbing, mendidik dan mengajari anak-anaknya. Juga menanamkan pentingnya ikatan antara saudara, harus rukun, damai, saling menyayangi, saling menolong, dan teguh bersatu di kondisi apapun. BERSATU KITA TEGUH, BERCERAI KITA RUNTUH. Yess!

——————————————————————————————————

Selamat menonton! Ingat, jangan sambil ngunyah popcorn ya! 🙂

HP, Social Media & Privacy

Beberapa waktu lalu, saya melihat post di Instagram Ibupedia, yang membuat saya tergelitik. Tergelitik untuk tertawa, tersenyum, dan mengingat ‘sejarah’ perjalanan hidup saya sekitar 15 tahun yang lalu. Ehehehe.

Berikut saya lampirkan screenshot post tersebut:

Di dalam post tersebut ditampilkan mengenai pro kontra mengecek medsos sang suami beserta pilihan reaksi/ perilaku sang istri. Adapun pilihan yang tertera adalah sebagai berikut:

  1. Bebasin aja, yang penting nggak jalan-jalan ke akun mantan
  2. Rutin saling cek akun medsos pasangan sebelum bobok
  3. Ya sudah tinggal cek aja, nggak ada rahasia di antara kita
  4. Merasa nggak perlu cek karena udah percaya 100%
  5. HP dan medsos itu ruang privasi, kalau mau cek harus dengan izin pasangan

Seru sekali ya kuesionernya, ehehehe, dan makin seru saat membaca kolom komentarnya. Kebanyakan ibu-ibu komentator memilih poin nomor 3, di mana tidak ada batas dan rasa sungkan untuk kepoin HP dan akun sang suami, kapan saja. Alasannya pun beragam, ada yang karena sudah saling mengetahui ‘isi sempak’ yang (mungkin) artinya hal paling rahasia saja sudah tahu, maka yang sifatnya ‘kurang rahasia’ sudah otomatis merupakan hak atau privilege yang perlu diketahui. Ada juga yang mengemukakan bahwa jika tidak ada yang salah, maka tidak ada yang perlu disembunyikan.

Ahahaha, sangat menghibur membacanya. Tentunya semua pilihan, menurut saya tidak ada yang benar ataupun salah, asalkan sudah merupakan kesepakatan dengan pasangan masing-masing.

Saat ini, saya ada di poin 5, di mana saya menganggap bahwa suami memiliki privasi yang tidak boleh saya abuse. Definisi ‘privasi’ dalam kamus suami saya adalah:

  1. Tidak melihat atau bahkan ikut masuk saat beliau sedang menggunakan kamar mandi
  2. Akun dan password social media yang beliau miliki
  3. Isi HP beliau

Saya tidak tahu bagaimana kami bisa sampai di titik sepakat ini karena kami tidak pernah memperbincangkan boundary ini secara resmi layaknya sebuah Konferensi Meja Bundar.

(It feels like) It happened just like that. Namun bukan juga terjadi dengan serta merta.

Kami telah melalui banyak proses pendewasaan, kebersamaan yang terjalin bertahun-tahun, dan faktor dari luar yang secara tidak langsung memasuki alam bawah sadar kami. Serta melalui seorang ‘guru terbaik’ yang bernama PENGALAMAN.

——————————————————————————–

Apakah faktor luar tersebut?

Sejak kami menikah 12 tahun yang lalu, banyak sekali hal-hal yang kita lihat, dengar, amati dan lalui bersama. Mendengar cerita teman mengenai hubungan cintanya, melihat kisah terlarang dalam suatu rumah tangga teman, dan bahkan ‘sesederhana’ mengamati banyak adegan di film-film yang kami tonton bersama. Yang kesemuanya ini, tanpa ada pembicaraan empat mata maupun hitam di atas putih, berkontribusi menghasilkan keputusan ‘batas lingkup privasi’ yang kami laksanakan.

For the sake of our marriage. (Demi keberlangsungan rumah tangga kami)

For the greater good. (Demi kebaikan bersama yang awet)

To avoid a huge storm in our love relationship. (Untuk menghindari badai dalam hubungan kami)

Dan, ya, alhamdulillah Puji Tuhan, sampai detik ini, berhasil. Kami bisa dikategorikan sebagai pasangan menikah yang bahagia. Saling menghormati, saling menghargai, dan less drama.

——————————————————————————–

Istri yang percaya 100% ke sang suami, ya?

Oh, TENTU TIDAK. Saya tidak bisa dan tidak mau percaya 100% ke MANUSIA. Saya hanya percaya 100% kepada Yang Maha Pencipta.

Kepada suami, saya cukup percaya 70%-80%, dan sisanya saya serahkan padaNya.

Sejak menikah dan punya anak 11 tahun yang lalu, kesibukan saya mengurus bayi tanpa ART membuat saya ‘melupakan’ kegiatan lain, termasuk memiliki social media. Kala itu, socmed yang ada (dan saya miliki) adalah FACEBOOK, dan demi kefokusan saya menjadi seorang Ibu yang total untuk bayi saya, saya tutup akun saya. Karena sekali membuka akun FB saya kala itu, saya bisa berlama-lama ‘jalan-jalan’ ingin mengetahui kabar terbaru teman-teman, ‘cuci mata’ berbagai online shop dan sebagainya, yang membuat saya terdistraksi dari tugas utama saya sebagai Ibu dan istri. Saya merasa tidak adil ke bayi saya, dan saya menganggap menutup akun FB saya adalah keputusan yang tepat.

Sedangkan suami saya, tetap aktif di FACEBOOK-nya, dan beberapa tahun kemudian, kehadiran Instagram, juga membuatnya tertarik untuk menambah akun social media-nya. Saya bisa tahu karena beliau yang memberitahukan langsung pada saya. “Mah, aku sekarang punya Instagram lho..”, kata pak suami di pertengahan tahun 2014.

Untuk sekedar info, sampai detik ini, pak suami rajin memberitahukan ke saya mengenai hal yang beliau tulis atau share di social media-nya. Di FACEBOOK, selain mengelola akun pribadinya untuk berbagi beragam opininya, beliau juga menjadi salah satu Founding Fathers akun group KOSMOLOGI INDONESIA yang berisikan sains dan ilmu pengetahuan populer. Saat ini saya tidak memiliki akun FB, jadi saya tidak bisa mengecek postingan beliau secara langsung, namun beliau seringkali men-screenshot opini dan postingan beliau kepada saya.

Di Instagram, pak suami lebih banyak upload hasil fotografinya. Beragam foto yang di-capture menggunakan HP-nya, kamera GoPro-nya dan dronenya. Saya bisa melihatnya secara langsung karena sejak tahun 2019 saya sudah punya akun Instagram juga dan kami saling mem-follow.

Walaupun saling follow, tidak pernah sekalipun saya secara sengaja mengecek satu persatu siapa saja yang di-follow ehehe. Namun, pernah ada kejadian lucu. Hari itu saya sedang bersantai dan scroll-scroll di kolom search, nah di salah satu akun yang sedang saya scroll ada satu foto yang di-LIKE oleh pak suami. Foto tersebut bukan foto sains dan fotografi, melainkan foto seorang wanita yang berpose sexy dengan sedikit memperlihatkan big boobs-nya. Waduh. Ehehehe.

Saya tahu bahwa suami saya ini penggemar wanita toge (toket gede), yang diperlihatkannya melalui obrolan dan gambar-gambar di internet yang kadang dia buka. Dan, ya, saya tidak masalah dengan ‘kesukaan’-nya itu. Toh pak suami hanya melihat, dan tidak diam-diam saja, beliau sering melontarkan candaan mengenai perihal toge kepada saya. Bahkan, karena sekarang, kadang beliau mengisi waktu santainya melihat TikTok, beliau dengan candaan santai memberitahukan ke saya, “Mah, ini Tiktok-nya sekarang isinya ceramah Israel-Palestina semua, yang bohay-bohay suka joget kok jadi gak ada,”, tertawa terbahak saya mendengar cuitan beliau.

Kembali pada masa saya nge-gap LIKE-an pak suami ke foto wanita toge. Dengan terbuka dan santai, saya menanyakan kepada beliau, “Pap, ini siapa niy pap, yang di-LIKE? Toge euy, dan papi ternyata nge-follow dia juga ya.”. Jawaban beliau sungguh tak masuk akal, wkwkwkwkwk, “Waduh siapa tuh mah, gak tau mah, kok bisa tiba-tiba di-follow Instagram-ku ya..”.. Dasar om-om nakal, wkwkwk. Dikiranya saya clueless apa ya. Ya tidak mungkin lah itu akun ujug-ujug masuk ke kolom yang kamu follow tanpa kamu (SENGAJA) klik tombol follow. Saya tidak meneruskan percakapan tersebut, karena saya menganggap itu bukan hal yang signifikan.

Selanjutnya, beberapa hari kemudian, iseng saya melihat akun Instagram sang suami, dan ternyata beliau sudah tidak follow lagi sang wanita toge tersebut. Ehehehe. Walaupun saya tidak mempermasalahkan siapapun yang beliau ingin follow, namun mengetahui respon pertanyaan saya dengan meng-unfollow akun wanita toge itu, somehow saya merasa lebih lega dan bertrimakasih. Ehehehe.

‘Kekuatan’nya ada pada DOA dan BELAJAR DARI MASA LALU.

Betul, saya tidak mempermasalahkan siapapun yang di-follow pak suami di akun social media-nya. Betul, saya tidak ingin tahu isi HP beliau. Betul, saya TIDAK percaya 100% kepada beliau.

Namun, saya WAJIB untuk selalu menDOA padaNya, agar sang suami diberi kesadaran untuk tidak melakukan hal-hal yang menyimpang. Agar sang suami diberi peringatan ketika berniat melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan. Agar saya diberikan ketenangan, kelapangan , dan kemampuan menata hati (tidak mudah sakit hati maupun cemburu buta) dalam menghadapi masalah rumah tangga. Agar saya (juga) diingatkan ketika berniat melakukan sesuatu yang tidak semestinya seorang istri lakukan.

YA, intinya MINTA padaNya. Hanya menyandarkan 100% padaNya. Hanya percaya 100% padaNya.

Nah, selanjutnya, kalau sudah demikian, saya bisa tenang. Ehehe.

Prinsipnya, selama pak suami lancar memberi nafkah, konsisten tulus mencintai istri dan anaknya, tidak melupakan posisinya sebagai peran yang dijalaninya selama di dunia (anak dari Ibunya, kakak dari adik-adiknya, menantu dari Ibu saya, pakde dari keponakan-keponakannya, keponakan dari pakde bude om tante-nya, dan seterusnya), maka saya tidak mau tahu dan tidak peduli apa isi social media dan HP-nya.

——————————————————————————

Lalu, apa PENGALAMAN dan BELAJAR DARI MASA LALU yang dimaksud?

Flashback ke 15 tahun yang lalu, saya ada di poin no 3 VERSI BURUK dalam memperlakukan pasangan saya. (Kenapa saya tambahkan ‘VERSI BURUK’? Karena saya membuka HP-nya TANPA sepengetahuan dan konsent pasangan). Sekedar info, pasangan saya kala itu BUKAN suami saya sekarang, alias mantan ehehe. (yang sebut saja Dodo, ehehe).

Pengalaman saya inilah yang membuat saya menjadi seperti sekarang ini (lebih dewasa dan lebih bijaksana, selain tentunya karena usia juga makin bertambah siy :D). Semoga pengalaman saya ini bisa menjadi pelajaran pembaca tanpa harus mengalaminya sendiri.

Kecurigaan yang berlebihan, insecurity, prasangka buruk, pikiran negatif, benar-benar bring out the worst (menciptakan sisi buruk) dalam diri saya dan pasangan saya.

Tanpa izinnya, saya sering membuka HP-nya (HP jaman dulu tidak ada fitur password dan semacamnya) untuk mengetahui isi SMS-nya (jaman sekarang, mirip WA, tapi hanya berupa teks saja; tidak bisa berkirim foto, video, dan suara).

Dan ternyata, isi SMS-nya membuat saya emosi dan terbakar cemburu:

  • Beberapa hari yang lalu, dia mengantar pulang teman wanitanya saat harus mengerjakan tugas kuliah sampai malam. Reaksi saya kala itu: hhhhh, aarrgghh geram, kok gak bilang siy!! Sambil membayangkan si teman wanitanya dibonceng motornya dan pegangan pinggang si Dodo.
  • Ketahuan! Selama hampir 2 minggu saya sakit cacar, yang mana saya harus dikarantina di kamar dan tidak boleh keluar, ternyata Dodo mengajak teman wanitanya yang dari Jakarta yang saat itu sedang berkunjung ke Bandung, jalan-jalan ke Gramedia. Reaksi saya kala itu: Whaatttt!! Sungguh tak tahu diri, aku sedang menderita begini, dan Dodo enak-enakan jalan berdua dengan cewek lain. Huhhhh!
  • BUSTED! Ternyata, selama dia pulang ke kota asalnya saat liburan kuliah selama seminggu, hampir tiap hari dia jalan berdua dengan teman wanitanya yang dulu bersekolah di SMA yang sama. Reaksi saya kala itu: Ya ampuun, tega amat kamu Dodo! Kirain kamu kangen sama ayah ibu dan adikmu, ternyata kamu kangen sama teman SMA-mu!. Tega amat kamu! Hhhhhhh!!
  • Lagi-lagi ketahuan lagi! Hari ini Dodo makan siang sama teman wanitanya yang dari jurusan lain di kantin kampus. Reaksi saya kala itu: Ya elaaaah, kenapa Dodo gak makan siang saja sama si Budi, Nono, atau Joko saja siy!! Kenapa harus sama ceweeeeekkk!! Mendidih!

Dan masiy ada beberapa lagi kegiatan dia dengan teman-teman wanitanya yang lain, yang dia tidak pernah cerita, yang saya ketahui setelah ‘ngoprek-ngoprek‘ isi HP-nya.

‘Ketidakstabilan’ emosi saya makin meningkat saat teman se-kost-an Dodo (sebut saja Bono) cerita bahwa Dodo sempat berpelukan dengan mantan pacar Bono (sebut saja Lily), yang saat itu berkunjung ke kost-an mereka, dan menjadi ‘sopir’ pribadi Lily selama beberapa hari. Yang setelah diselidiki lebih lanjut, Lily sedang brokehearted karena baru saja putus dengan Bono. Reaksi saya kala itu: Ahhh nyesek! Makin terbakar cemburu. Tidak bisa fokus dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Rasanya pingin nyubit-nyubit Dodo dan Lily! Uhhhhh!

Fakta tentang Dodo. Dodo adalah orang yang baik, cerdas (terbukti bisa masuk ke jurusan yang grade-nya paling tinggi di Perguruan Tinggi terbaik se-Indonesia), luwes, menyenangkan, mudah bergaul, lucu, pintar bermain musik, dan ummm list-nya masiy panjang. (Gimana saya tidak insecure ya).

Ditambah, tiap hari dia bertemu dengan banyak teman wanitanya, yang sejurusan, yang se-group dalam bermain musik, yang se-unit ekstrakurikuler. Yang semuanya cantik-cantik pula. Waduhh gimana (makin) tidak insecure. Dengan charm Dodo yang sedemikian rupa, saya yakin banyak cewek yang bisa tunduk padanya. Uhhh! Reaksi saya kala itu: Makin emosi gak jelas yang tidak masuk akal.

Pikiran negatif, prasangka buruk, emosi yang tidak stabil, membuat saya dipenuhi amarah yang tidak terarah. Hari-hari yang saya lalui serasa lewat begitu saja, saya tidak menggunakan waktu yang seharusnya berharga, dengan sebaik-baiknya. Saya tidak optimal dalam mengerjakan proyek salah satu dosen di kampus dan membuat saya gagal untuk di-hire di laboratorium beliau. Saya juga tidak optimal dalam mencari pekerjaan karena seringkali saat ada panggilan test atau wawancara, saya tidak mood dan membuat saya tidak ingin berangkat. Sungguh kacau hari-hari saya kala itu. Saya menjadi manusia yang buruk, pemarah, tidak bertanggung jawab, tidak teguh dalam meraih goals, tidak deliver saat mengerjakan tugas, bla bla bla.

Saat tidak bertemu, saya selalu merindukan Dodo. Namun saat akhirnya dia datang, saya menyia-nyiakan kehadirannya dengan berkata-kata yang tidak patut, mengungkit hal-hal yang telah berlalu, menjelek-jelekkan dirinya dan teman-teman wanitanya. (Sekedar info, semarah apapun, saya TIDAK PERNAH berkata-kata kotor atau cursing dan semacamnya).

Dan ini berulang berkali-kali, sampai akhirnya suatu saat Dodo tampak sangat marah dan hampir memukul saya. Hubungan kami dari hari ke hari makin toksik. Baik saya maupun dia, sama-sama sering emosi dan bad mood jika bertemu. Saling kangen, tapi saat ketemu, ambyarrr buyaarrr. Sangat tidak menyenangkan lah pokoknya! Begitu saja terus berulang-ulang.

Ya begitulah, bisa ditebak bagaimana kelanjutannya. Kelanjutannya JELAS TIDAK ADA. Yang ada hanya ENDING. Kami memutuskan untuk tidak berhubungan lagi for the sake of our sanity. Karena pacaran yang sehat itu seharusnya bisa bring out the best in pasangan yang menjalaninya. Kalau hanya untuk saling merusak, ya buat apa, toksik, tidak sehat.

So ya, I guess, we just weren’t meant to be together.

————————————————————————————–

Selang bertahun-tahun kemudian, saya menyadari bahwa hubungan toksik saya dengan Dodo kala itu, SAYA-lah yang porsi salah-nya lebih BESAR.

Andai saja saya mau dengan tenang dan jernih mendengar penjelasan Dodo kala itu.

Andai saja saya memahami bahwa dunia ini bukan hanya berisikan satu jenis kelamin saja.

Andai saja saya menyadari bahwa manusia itu adalah makhluk sosial yang harus saling berhubungan, tidak melihat apakah harus dengan laki-laki, perempuan, tua, muda, kecil, dewasa.

Andai saja saya mau membuka mata bahwa hal-hal yang Dodo lakukan dengan teman-teman wanitanya kala itu: mengantar temannya yang pulang malam, makan bersama, membeli buku bersama, cheer up teman yang baru putus, BUKANLAH hal buruk yang perlu dipermasalahkan. Malah justru sebaliknya, perilaku Dodo tersebut menunjukkan bahwa dia adalah manusia yang peduli sesama.

Andai saja saya memahami bahwa yang dilakukannya dengan teman-teman wanitanya adalah benar-benar layaknya TEMAN, Dodo hanya ingin menjadi teman yang baik buat sekitarnya.

Andai saja saya mau melihat, Dodo tidak berbuat baik hanya kepada teman-teman wanitanya, melainkan ke semuanya tanpa pandang bulu. (Berarti kala itu, saya sexist sekali ya, diskriminatif terhadap jenis kelamin tertentu wkwkwk).

Andai saja saya menyadari posisi saya kala itu, bahwa saya bukan siapa-siapa-nya Dodo, bahwa saya bersifat expendable karena hanya ‘menjabat’ sebatas girlfriend-nya yang tidak punya hak mengatur dan membatasi keinginannya. Siapa saya melarang ini itu ke orang lain.

Andai saja saya tidak kepoin HP-nya.

Andai saja saya memahami bahwa beberapa rahasia tidak perlu untuk dibuka dan diketahui, bahwa ‘ada kotak yang tidak perlu untuk diperiksa’.

Mungkin hubungan saya dan Dodo yang awalnya baik, sehat, dan ‘panas berapi-api’ kala itu, bisa bertahan lebih lama. Saya akan treasure setiap detik pertemuan saya dengan Dodo sebaik mungkin.

———————————————————————————————-

Begitulah pengalaman pribadi saya, yang saya dapat mengambil pelajaran berharga untuk lebih bijaksana dalam melangkah. Suatu pesan moral agar saya dapat menjaga dan merawat hubungan rumah tangga saya sekarang dengan baik.

Saya tidak mau kepo-kepo yang pak suami tidak ingin share karena saya tidak mau pikiran saya diracuni oleh nafsu yang buruk yang akan menyebabkan kesalahpahaman yang tidak terarah. Walaupun sempat ngiler saat membaca artikel di http://www.ibupedia.com yang berjudul ‘Cara Sadap Whatsapp Suami Jika Ibu Mencurigai Sesuatu’ (https://www.ibupedia.com/artikel/keluarga/cara-sadap-whatsapp-suami-jika-ibu-mencurigai-sesuatu) , namun saya tetap keukeuh, BIG NO. Ehehehe.

Saya juga memberi kebebasan kepada pak suami untuk berteman dengan siapa saja tanpa pandang bulu, yang tentunya saya anggap beliau pasti sudah tahu mana yang benar dan mana yang salah.

Ya, pada akhirnya setiap pasangan suami istri mempunya metode masing-masing dalam membentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrohmah.

(Impulsive) Quote of The Day #1

“When you’re craving for coffee latte, boba drink or Thai tea, choose Rejuve!”

__________________________________________________________________________________________

Meaning/ Arti

Ada kalanya kita pingiiin banget minum yang manis, enak dan spesial, buat seger-segeran, buat menemani aktivitas, buat ‘melengkapi’ hari, etc. Puji syukur it’s all on your fingertips, lads!

Semuanya sudah dengan mudah bisa kita raih dengan jari-jari kita. Tinggal klik GoFood dan scrolling berbagai pilihan.

Option pertama yang saya lakukan adalah klik Near Me, karena biaya kirim (bisa) lebih murah, cepat sampai, dan bapak Gojek juga tidak terlalu capek. Lokasi rumah saya yang berada di area strategis di kawasan BSD City, membuat saya harus deal with dengan pilihan yang bejibun.

Untuk kopi, ada Sip & Sit, Cupten, Janji Jiwa, Sahabat Senja, Kopi Dari Pada, Foresthree, Kopi Rakyat, Kickass, KULO, KopiSoe, ….. Ini belum termasuk coffee stall yang berada di AEON dan The Breeze. Wuahhh bingung milihnya. Ehehe. Makin bingung ketika dihadapkan fakta bahwa hampir semua kopi yang dijual oleh coffee shop itu, rasanya enaaakkk, sedheeepp, dan mantabbbb.

Untuk jenis minuman BOBA, ada Chatime, OneZO, Xin Fu Tang, dan ada beberapa coffee shop yang juga sedia BOBA. Lalu, untuk jenis minuman kategori ‘lain-lain’, seperti Thai Tea, jenis teh-teh an, jenis susu-susu an, jenis coklat-coklat an, banyak disediakan oleh hampir seluruh coffee shop dan gerai minuman franchise.

Lagi, saya tegaskan, semuanya ENAAAKKK, SEDHEEEP dan MANTAAABBB.

——- Trimakasih untuk pencetus franchise minuman, untuk pembuat resep, untuk mas dan mba yang membuatnya langsung, untuk semua pihak yang terkait. Trimakasih semuanya. Trimakasih semesta. Trimakasih Tuhan. ——-

Jadi makin galau lah mau pilih apa ehehe.

________________________________________________________________________________________

Setelah beberapa lama berpikir dan menimbang plus minus-nya, saya memutuskan untuk memilih REJUVE ! Ehehehe, cukup twist ya. Diantara kandidat yang ada, pilihan malah jatuh ke yang tidak masuk nominasi.

REJUVE adalah gerai minuman franchise yang menjual cold-pressed green juice. Apaan siy itu? Itu adalah beragam sayur dan buah yang dijus dengan alat juicer tertentu yang bertekanan tinggi. Jadi hasil juice yang didapatkan sangat padat nutrisi tanpa campuran air sedikitpun.

——- FYI, saat ada bahan sayur dan buah yang lengkap, dan tidak malas, saya bikin sendiri di rumah dengan juicer bermerk HUROM. Rasanya pun sama persis dengan yang REJUVE jual. Lhah, lalu kenapa ngabisin uang buat beli REJUVE?? Ehehehe, lagi, karena kadang sedang tidak ada stok buah dan sayuran, plus kadang malas melanda. Soalnya repot juga siy ngejus dengan slow juicer: sayur dan buah harus dicuci dengan sangat thoroughly, lalu dipotong kecil-kecil, dan dimasukkan bertahap, kemudian saat sudah selesai, si juicer HARUS langsung dicuci bersih. Repot lahh! Ehehehe . ——-

Back to topic! Jadi setelah dipikir-pikir, beragam pilihan minuman enak yang pop up di otak saya itu adalah karena lapar mata dan craving gula. Dan keinginan itu tidak boleh selalu diikuti, HARUS dikendalikan! Tentu saja boleh lah sekali-kali pamper ourselves dengan minuman guilty pleasure yang manis dan enak. Tapi, lagi, hanya sekali-kali saja lho!

Di banyak kali, saya HARUS kembali ke jalan yang lurus dengan memilih minuman yang enak, bergizi dan memberikan benefits buat tubuh kita. Dan, semua point tersebut ada di REJUVE! Yeayyyy.

_______________________________________________________________________________________

Bagaimana dengan PRICE WISE?

Ini yang kadang membuat maju mundur karena harga REJUVE termasuk steep. Untuk ukuran 250 ml, harganya berkisar antara 40 ribu- 50 ribu an. (lihat GAMBAR 1)

Yang ukuran 435 ml, harganya bisa mencapai 50 ribu – 70 ribu an. (lihat GAMBAR 1)

Sedangkan yang signature, harganya lebih tinggi lagi.

Nah, untungnya ada GoFood, karena sering banget ada promo. Setiap pembelian 200 ribu, ada potongan 60 ribu. Ini lumayan banget lho!

Dengan visi misi ‘ogah rugi’, saya pilih yang paling optimal memberikan kombinasi yang murah. Saya pilih juice yang berukuran paling besar, 1350 ml, dengan harga sekitar 160 ribu. Lalu untuk ‘menggenapkan’ ke 200 ribu, saya pilih minuman sehat selain green juice. Ada beberapa pilihan yang menggoda, seperti susu Almond, minuman coklat dengan protein, jamu herbal, dan ada kopi juga lhoo. Nah, biasanya saya pesan Almond Milk ukuran 250 ml yang harganya sekitar 50 ribu. Kadang saya pesan yang Avocacao High smoothies yang berupa campuran alpukat, coklat bubuk, whey protein dan susu rendah lemak, yang rasanya ampuuun enaknya.

Setelah dihitung totalnya, termasuk biaya kirim dan biaya bungkus, saya ‘hanya’ membayar sekitar 150 ribu an. Saya tulis ‘hanya’, bukan karena menurut saya murah ya, melainkan terasa UNTUNG karena harganya terpotong jauh di bawah harga aslinya. Trimakasih GoFood atas promonya.

Secara kasat mata, masih tetap terlihat mahal ya, tapi setelah saya hitung detail, hanya beda sedikit kok dengan saat kita beli minuman lain. Total ml yang saya peroleh dengan uang 150 ribu an tersebut adalah 1600 ml, dan bisa saya habiskan sampai maksimal 3 hari. Bandingkan dengan minuman lain (kopi, Thai Tea, atau BOBA) yang ukuran regular, sekitar 300 ml dengan kisaran harga 20 ribu an, atau ukuran large, sekitar 400-500 ml dengan kisaran harga 30 ribu an. Dengan 150 ribu (sudah termasuk biaya ongkir Gojek), kita bisa mendapat 7 cups regular atau 4 cups large. Selisihnya hanya sekitar 400 ml. (lihat GAMBAR 2 untuk penggambaran kisaran harga minuman BOBA yang diwakili oleh CHATIME, dan GAMBAR 3 untuk penggambaran kisaran harga kopi dengan level harga menengah yang diwakili oleh KOPI SAHABAT SENJA)

GAMBAR 2. Daftar Harga CHATIME di GoFood (Tidak semua menu ada di gambar)

GAMBAR 3. Daftar Harga KOPI SAHABAT SENJA di GoFood (Tidak semua menu ada di gambar)

-Kecuali untuk franchise STARBUCKS dan yang setara, jatuhnya malah lebih mahal dari si REJUVE. –

Menurut saya, worth it lah untuk merelakan lebih sedikit 400 ml dari minuman jenis lain, demi pesan REJUVE. Ehehehe.

_________________________________________________________________________________________

TASTE WISE CHECK

BENEFIT WISE CHECK

NUTRITION WISE CHECK

PRICE WISE (HALF) CHECK

________________________________________________________________________________________

Okay, that’s all folks. Latar belakang, visi, misi serta tujuan munculnya QUOTE OF THE DAY #1 yang datang di otak secara impulsif (tiba-tiba dan mendadak), yang berbunyi:

“When you’re craving for coffee latte, boba drink or Thai tea, choose Rejuve!”

__________________________________________________________________________________________

The Art of Pleasing Your Mom-in-Law

Stigma hubungan antara mertua dan menantu yang sulit untuk get along sudah saya dengar sejak saya kecil. Sampai ada film yang judulnya Monster-In-Law, saking keberadaan mom-in-law yang galak dan demanding itu sebegitunya. Ehehe. Ohya, bukan bermaksud sexist, namun kebanyakan terjadi di gender wanita ya ehehe, jarang sekali ada kisah mertua laki-laki dan menantu laki-laki yang saling clash. (Tanya kenapa? Ehehehe.)

Sebelumnya, saya ingin menegaskan bahwa saya bukan certified Psikolog, certified Marriage Consultant nor expert in people’s relationships. Saya berbagi atas dasar pengalaman pribadi serta mengamati pengalaman orang lain. Saya juga very much alert bahwa ‘seni’ yang akan saya tulis di sini tidak mudah diaplikasikan ke semua orang, mengingat latar belakang juga berbeda. I would kindly suggest you to read mine with a grain of salt.

______________________________________________________________________

First of all, WHY BOTHER?/ Mengapa Harus Repot-repot?

Why must I concern on how to please my mom-in-law? Mengapa saya harus repot-repot memikirkan cara bagaimana membuat mama mertua saya senang? Mungkin beberapa ada yang beranggapan, “Mama Mertua kan bukan mamaku.”

Hhmm, whatever your reasons, sorry to say that… it’s a MUST. Tentu saja HARUS!

Pertama: Mama Mertua adalah seorang MANUSIA; yang mana kita paham, bahwa kita harus menghormati dan menghargai sesama manusia.

Kedua: The fact bahwa beliau adalah Ibu dari suami, yang mana ‘bentukan’ Pak Suami sekarang yang membuat kita tertarik dan jatuh cinta, tak lepas dari kontribusi peran ibunya. Pengorbanan, penderitaan serta pengabdian beliau untuk melahirkan dan membesarkan Pak Suami, sudah pasti patut kita aware, pahami dan apresiasi. Jadi, mengetahui fakta ini saja, level penghormatannya pun seharusnya lebih tinggi, beliau bukan hanya sekedar ‘sesama manusia’.

Ketiga: The fact bahwa suami bisa ada di dunia ini, bukan keluar dari batu begitu saja seperti halnya Sun Go Kong, ehehe, namun melalui manusia yang bernama Ibu Mertua.

______________________________________________________________________

Embrace The Difference / Merangkul Perbedaan

Ini adalah prinsip dasar favorit yang saya pegang teguh, yang bisa diaplikasikan di segala aspek kehidupan, termasuk dalam menjalin hubungan dengan Mama Mertua.

Pasti kita menemukan perbedaan dengan keluarga suami, yang bisa berupa: tradisi, kebiasaan, bahkan keyakinan. Tidak jarang juga, kita temui perbedaan dalam hal-hal kecil, seperti: cara menata rumah, pilihan printilan dapur, cara menyajikan makanan di piring, sampai cara melipat baju, dan masih banyak lagi.

Dan hampir pasti, jika kita punya metode yang berbeda, Mama Mertua suka komentar. Pokoknya adaaa saja yang dikomentari.

Alih-alih menganggap perbedaan tersebut sebagai kompetisi, akan menjadi lebih asik kalau kita ubah mindset dengan menjadikan list panjang keberagaman itu sebagai cara alternatif, atau bisa juga menjadi suatu pengetahuan baru yang berharga.

Misalkan, saat kita memasak kolak dengan menggunakan gula putih biasa, Mama Mertua tiba-tiba komentar, “Kok pakai gula itu, lebih sedap pakai gula merah.”. Ya kita terima saja sebagai masukan, untuk lain kali mencoba resep kolak Mama Mertua yang dengan gula merah.

As simple as that! Sayang kalau perbedaan ini kita jadikan sumber masalah utama, bisa menjadi beban pikiran dan stress yang bisa berakibat makin jelasnya kerutan di wajah, wkwk.

______________________________________________________________________

The Subtle Art of Not Giving a F*ck/ Ilmu Cuek Tingkat Tinggi

Perlu saya garisbawahi, CUEK di sini bukan berarti TIDAK PEDULI ya, melainkan tetap nyaman dengan apa adanya dirimu. Walaupun berbeda ataupun tampak ‘aneh’ di mata keluarga Pak Suami, selama hal-hal yang kamu lakukan bukan hal buruk yang merugikan orang lain, ya just keep doing it dong pastinya! Ehehe. Apapun komentarnya, tetap chill saja. Ehehe. Toh ‘suka komentar’ sudah menjadi kebiasaan manusia kebanyakan, ehehe. Anggap saja angin lalu.

  • Case KOPI: Menjamurnya banyak coffee shops beberapa tahun terakhir, ikut andil dalam mengembangkan rasa cinta saya kepada KOPI. Ditambah, benefits-nya yang bejibun, seperti: meningkatkan mood, membakar lemak, mengandung beberapa vitamin dan antioksidan, dan (insha Allah) membuat makin sehat. Serta kebetulan saya juga tidak ada masalah dengan kopi. Untuk informasi, suami saya adalah salah satu orang yang tidak bisa minum kopi, bisa langsung pusing dan jantung berdebar cepat. Duh kok serem ya 😦

Nah, karena saya fine-fine saja, ya saya tetap enjoy sipping it.

Waktu itu, kami berkunjung ke rumah Mama Mertua selama 1 minggu. Hampir setiap hari saya pesan GoFood buat splurge kopi enak atau kadang menyeduh sendiri dalam rangka menghemat. Pada hari kesekian, Mama Mertua tiba-tiba nyeletuk, “Jangan kebanyakan kopi, ga bagus itu!”. Saya menjawab dengan satu kata saja, “Ehehehehehehe..”, tidak lupa sambil tersenyum. Dan keesokan harinya?? Ya tetep minum kopi juga atuh. Ehehe. Yang penting saya tidak berlebihan dalam mengkonsumsinya, masih dalam kadar in moderation.

Saya tahu Mama Mertua saya wataknya keras, beliau (dan, surprisingly, banyak para elders lain) tidak suka jika dibantah atau dijawab. Dan, itu menjadi ‘senjata’ saya dalam ‘berperang’, ehehe. Ketika Mama Mertua bilang sesuatu yang saya tidak setuju, saya tidak menjawab ataupun membantahnya, cukup dengan senyum dan ‘ehehehehehe’. Karena saya tahu berargumentasi dengan beliau hanya membuang waktu dan energi saja, dan akan menjadi perdebatan yang endless.

________________________________________________________

  • Case LARI: Ini terjadi juga saat kami sedang berkunjung ke rumah beliau. Setiap pagi saya rutin lari mengelilingi kompleks. Dan, di hari kesekian, Mama Mertua (lagi-lagi) nyeletuk, “Capekk ahh, sudah. Jangan sering lari-lari, nanti ototnya kendor lho!”. Reaksi saya, “Ehehehehehehehehe..”, dengan senyum manis. Keesokan harinya?? Ya tetap lari pagi dong! Ehehe.

Yang penting, saya tahu kadar batas tubuh saya dalam berolahraga, dan saya fokus ke manfaat lari yang bagus untuk menjaga kesehatan dan bentuk badan. Serta saya juga rutin pilates, angkat beban, dan body weight exercise untuk mengimbangi cardio saya, agar otot juga kencang. Hal-hal ini tidak saya kemukakan ke beliau, karena seperti yang saya bilang tadi, bahwa beliau tidak suka dijawab.

Hasil dari not giving a damn dengan sambil tersenyum ini efeknya luar biasa lho. Walaupun beliau tahu saya masih melakukan hal-hal yang beliau komentari, beliau tidak masalah dan asik-asik saja, tidak ada hard feeling. Bayangkan jika saya frontal tidak terima komentar beliau dan menjawab dengan rentetan panjang pengetahuan kesehatan bla bla bla, beliau bisa kecewa, stress, menganggap saya sebagai si smartass, dan menyiapkan ‘serangan’ balik yang jitu. Inilah yang harus kita hindari. Jangan sampai hal tersebut terjadi. For the sake of blissful life!

______________________________________________________________________

Silence Is Gold/ Diam Itu Emas

Isu metode pengasuhan anak sering menjadi momok clash antara mertua dan menantu. Ilmu parenting yang terbentang luas di era informasi sekarang serta mudahnya akses para Ibu-ibu milennial ke DSA, membuat para mamah muda terbantu menjalani dunia motherhood. Namun sayang, cukup banyak pula ilmu parenting kekinian yang completely berlawanan dengan pengalaman para elders, dan ini bisa menimbulkan friksi.

Menurut para (majority) orang tua jaman doeloe:

  1. Bayi harus dikelonin bareng, tidak boleh pisah kamar, selain bisa menguatkan bonding juga karena takut ada makhluk halus yang mengganggu
  2. Bayi harus dibedong, agar kakinya tidak nekuk dan nanti jalannya tidak ‘O’
  3. Usia 6 bulan, bayi diberi makan buah pisang yang dihaluskan, agar perutnya adem dan kenyang
  4. …… and still counting…..

Wah puyeng juga ya ehehehe, apalagi nanti sering ada embel-embel, “Dulu suamimu, Mamah suapin pepaya pas 6 bulan juga gapapa, malah jadi gemuk sehat. Dokter jaman sekarang aneh-aneh saja aturannya!”. Well, my fellow moms, we all face the same problems. Let’s deal with it gracefully.

Prinsip yang saya pegang adalah saya percaya bahwa seorang eyang tidak akan sengaja menyakiti cucunya sendiri. Moreover, the fact bahwa beliau sudah tua, logically mereka akan berpulang (dalam waktu yang relatif tidak lama) ke Rahmatullah lebih dulu, jadi let’s fill hari-hari senja mereka with happiness, yang salah satunya adalah maen sama cucu. Selama masih dalam kewajaran yang aman, just let them be, dan tidak lupa untuk selalu mendoa.

  • Case TEH: Keluarga besar suami adalah pecinta nge-teh sepanjang masa. Dari dulu, sejak pertama kali berkenalan dengan mama mertua di masa pacaran, sampai detik ini, saya selalu disuguhi minuman teh poci yang legit dan nikmat. Pokonya enak sekali deh teh buatan Mama Mertua!

Konflik dimulai saat anak saya masih berusia kurang lebih 1 tahun. Saya melihat anak saya digendong dan diajak ngobrol kakek neneknya di depan rumah, dan saya kaget saat Mama Mertua menggendong anak saya sambil memegangi gelas yang berisi… TEH! Ddoengg!Waduhh, kok bayi dikasi teh siy!”, pikir saya. Suami saya pun terlihat tidak bingung dengan pemandangan ini, mungkin karena sudah menjadi tradisi sejak lama, jadi mereka beranggapan teh untuk bayi pun tidak masalah. Beberapa orang juga ada yang menganggap ‘teh untuk bayi dan balita’ boleh.

Sepengetahuan saya, teh mengandung caffeine dan menghambat penyerapan zat besi dan kalsium, dan sebaiknya tidak diberikan ke anak-anak yang masih dalam tahap pertumbuhan.

Saya kelimpungan mencari tahu cara mengutarakan keberatan ini kepada beliau. Ingin sekali saya storm out dan bilang ke Mama Mertua, “Mah, jangan dikasi teh dong!”.

Tampaknya, beliau bisa membaca ekspresi saya, seketika beliau menerangkan, “Dulu anak-anak Mamah, juga Mamah kasih teh kok sejak bayi..”. Hening, .. dan tentu saja saya tidak puas dengan pernyataan beliau.

Saya ingin sekali mengadu ke Pak Suami, tapi saya juga tidak ingin ada hal-hal yang tidak diharapkan terjadi. Karena saya tahu, Pak Suami akan marahin mamanya. Saya lemas membayangkan perasaan Mama Mertua nantinya, merasa tidak digubris dan merasa anaknya lebih memilih istrinya dibandingkan ibunya. Kasihan.

Jika sudah begini, merenung dan mendoa adalah solusinya.

Akhirnya, saya mencoba melihat ke sisi yang lain, yang bisa memberikan saya peace of mind:

  1. Mama Mertua hanya nyelupin teh-nya sebentar, sekedar cukup memberi warna dan sedikit aroma
  2. Tidak setiap saat Mama Mertua bertemu cucunya. Saat itu, kami hanya berkunjung setiap 1 atau 2 minggu sekali, di kala weekend, jadi practically, Mama Mertua hanya memberikan sedikiiit saja
  3. Kembali pada prinsip bahwa seorang eyang tidak mungkin melakukan sesuatu yang bisa menyakiti cucunya

Alhamdulillah Puji Tuhan, this issue had solved.

Sekarang, anak saya sudah cukup besar untuk saya beritahukan pengetahuan tentang teh, jadi sekarang, setiap berkunjung ke rumah eyangnya, dari segelas teh yang dibuatkan, hanya diminum sedikit, dan sisanya saya minum. Tanpa sepengetahuan eyangnya tentunya.

________________________________________________________

  • Case MENCUCI BAJU BAYI: Kasus ini juga terjadi saat anak saya masih bayi dan kami sedang berkunjung ke rumah mertua.

Baju anak saya yang terkena noda direndam dengan ember yang sama untuk merendam kain gombal! (gombal = kain pel)

Lagi, saya tepok jidat! Gimana niy kalau nanti kulit bayi saya gatal-gatal, bla bla bla.

Lagi, saya bingung mengutarakan keberatan saya!

Lagi, saya tidak ingin mengadu ke suami saya!

Hal tersebut sudah mereka lakukan bertahun-tahun, dan jika saya ‘mengobrak-abrik’ sistem mereka, bisa pecah ‘perang dingin’ nih. Ddoeng!!

Akhirnya, lagi, saya memilih diam, merenung, dan mendoa. Dan, ..act!

Setelah baju anak saya dijemur, saya angkat dan saya lap seluruh permukaan bajunya dengan tisu beralkohol. Setelah itu saya setrika beberapa kali dengan harapan kuman-kuman sudah totally mati dan harmless buat kulit anak saya.

Langkah preventif selanjutnya adalah setiap kali kami berkunjung ke rumah mertua, saya akan membawa spare baju anak lebih banyak, jadi mertua tidak perlu repot-repot mencuci baju anak saya.

“Sudah, Ma. Tidak usah dicuci, kasihan nanti Mama kecapean, saya bawa baju banyak kok, Ma. Sini, Ma, leyeh-leyeh Ma.”. Alhamdulillah, solved!

The power of silence (dan act!) adalah salah satu cara yang tepat dan efektif untuk kebaikan bersama.

______________________________________________________________________

Yes, maam!/ Ya, siap, ma!

Mama Mertua memiliki beberapa keyakinan yang tidak saya jalani, seperti melakukan doa tawasul di setiap malam Jumat (Kamis malam) untuk (alm) Papa Mertua. Nyekar setiap menjelang bulan Ramadhan. Dan, ketika nyekar, wajib menggunakan jilbab.

Insha Allah, tidak ada yang aneh dengan keyakinan mama mertua. Saya mengambil segi positifnya. Despite pemilihan hari tertentu untuk mendoakan almarhum Papa Mertua dan nyekar di waktu tertentu, saya melihat manfaatnya. Saya jadi berdoa dan membaca ayat-ayat Allah lebih panjang dari hari biasanya. Saya jadi lebih mengingat kematian sebelum Ramadhan, sehingga memotivasi saya untuk lebih fokus beribadah.

Nah, yang saya tidak lakukan adalah menggunakan JILBAB saat nyekar, simply karena saya tidak biasa. Ehehe.

Sebelum berangkat nyekar bersama pak suami, Mama Mertua meminjamkan saya kerudungnya. “Pakai ini nanti saat di kuburan!”. Saya menjawab, “Iya, Ma! Nanti saya pakai di sana saja ya, Ma!”. Mama Mertua menambahkan, “Iya, yang penting dipake!”.

Daripada mendebat panjang lebar mengenai alasan penolakan saya, dan preference saya untuk memakai baju panjang, bersih, dan rapih tanpa jilbab; saya IYA-kan, walaupun ended up tidak saya pakai di kuburan.

Clearly, ‘Yes maam!’ adalah jawaban solutif. Ehehehe.

______________________________________________________________________

Little Things She Needs/ Berikan (dan Belikan) Hal-hal Kecil

Alhamdulillah Puji Tuhan kita hidup di era teknologi yang memberi banyak kemudahan di berbagai hal. Jarak sudah bukan lagi halangan dalam berhubungan.

Sesekali memberi dan menanyakan kabar Mama Mertua via WA. Meminta Mama Mertua untuk mengirim selfie-nya ke kita. Menyatakan betapa rindunya kami padanya. Membelikan teh jenis baru, madu berkualitas, ataupun sesederhana kue Nastar kesukaan beliau.

Sungguh hal-hal kecil yang memberikan efek luar biasa. Mama Mertua tentu merasa diperhatikan dan dicintai. Dan, ini PENTING!

______________________________________________________________________

Ally With Your Mom-In-Law/ Bersekutu Dengan Mama Mertua

Seringkali Pak Suami berbeda pendapat dengan Mama Mertua, seperti: pemilihan tempat makan saat sedang jalan-jalan bersama, jenis kado yang diberikan saat saudara ada acara, cara mengatasi masalah yang sedang dihadapi oleh anggota keluarga, dan masih banyak lagi. Untuk hal-hal kecil (yang bukan masalah keluarga besar beliau), mostly saya akan memilih di sisi Mama Mertua, saya akan menyetujui opini yang beliau kemukakan yang berbeda dengan Pak Suami, ehehehe.

Pak Suami: “Nanti kita makan steak, yuk! Aku sudah ngiler niy membayangkan Mr.Roastman!”

Mama Mertua: “Gigi Mama sudah tidak kuat untuk mengunyah daging. Suka nyelip-nyelip. Mama yang menu Sunda saja.”

Saya: “Iya, Pap, yang menu Sunda saja. Sedhepp. Kalau Papito craving steak, ayok kita tungguin, kita ikut minum saja di situ. Abis itu, baru kita cari makanan Sunda.”

Saya melihat wajah Mama Mertua yang tampak sumringah karena beliau ‘ada temannya’ ehehe.

Sedangkan, untuk masalah keluarga, saya memilih untuk diam dan tidak ikut memberikan pendapat, karena bukan area saya.

______________________________________________________________________

Interviewer Role Mode ON/ Perankan Seorang Pewawancara

Menjadi pendengar daripada pembicara.

Kebetulan Mama Mertua adalah orang yang sangat talkative, suka ngobrol. Menghadapi hal ini, saya terapkan jurus jitu antara pewawancara dan narasumber, di mana pewawancara tidak boleh memotong pembicaraan saat sang narasumber ngomong; pewawancara melakukan kontak mata yang akrab agar sang narasumber nyaman; serta pewawancara tidak boleh judgmental dan mengkritisi apapun yang dikatakan sang narasumber yang berbeda opini/ sudut pandang.

Ya… Ya… Ya… Smileeeeee…

______________________________________________________________________

Memorize Their Good Deeds/ Mengingat Kebaikan-kebaikannya Saja

Kita memahami eksistensi manusia yang tidak sempurna. Masing-masing dari kita memiliki kekuatan dan kelemahan. Kita semua sinners. Nobody’s perfect. Begitu pun seorang mertua.

Selalu ada hal-hal, baik perkataan maupun perbuatan Mama Mertua, yang mengecewakan maupun tidak diharapkan oleh kita. Selain kita pun harus ngaca, bahwa di mata Mama Mertua, kita juga seperti itu, ehehehe, ada yang sesuai dan yang tidak sesuai di mata beliau.

Namun, fokuslah ke hal-hal baik, indah, dan positif yang beliau lakukan untuk kita. Saya selalu mengingat saat mertua rutin datang di kala saya sedang hamil, sambil membawa candil favorit saya, serta Mama Mertua juga sering memberikan saya pijatan badan yang luar biasa enak. Saya juga selalu mengingat, saat saya lemah setelah melahirkan dan ‘berjuang’ beraktivitas dengan jahitan di vagina, Mama Mertua rutin berkunjung untuk melihat kondisi saya (dan cucunya, tentunya) dan mengolesi salep khusus untuk jahitan saya yang harus dioles di vagina saya. Masya Allah. Saya terharu dengan kebaikan dan ketulusan beliau. Dan, masih sangat panjang list-nya.

______________________________________________________________________

Has Your Mom-In-Law Gotten Mad Over Thing/s You Did?/ Pernah Dimarahin Mama Mertua?

Me… me… me… *raising hand.

Ya, I’ve been there. Ahahaha.

Saya pernah mendengar, “Emang siapa dia?? Bukan mama gue, tapi kok marah-marah seenaknya ke gue! Mama gue aja ga pernah marahin gue kayak gitu!!”.

Saya ikut sedih mendengar kabar tersebut. Tapi, coba kita telaah lebih dalam. Coba kita menerima sesuatu yang ada di depan mata.

Selama kita memang salah; selama tindakan kita banyak mendatangkan hal-hal buruk; selama yang kita lakukan adalah hal yang merugikan; I encourage you untuk bersikap seperti layaknya gentlelady (bukan gentleman, karena kita perempuan, ya pake lady, :D).

Kita harus menerima konsekuensi dengan lapang dada. Saat Mama Mertua memarahi kita, dan kita jelas salah, tundukkan kepala dan dengarkan semua luapan kemarahan beliau.

Saya tahu rasanya, seberapa besar saya merasa ‘mendidih’ kala itu, namun dengan berpikir panjang, saya yakin bahwa hal ini akan segera berlalu. Tidak mungkin beliau bertahan lama dengan ocehannya, pasang waktu 1 jam lah. Serta fakta bahwa saya memang salah, saya memang pantas mendapatkannya.

Setelah beliau selesai melampiaskan kekecewaan beliau, saya meninta maaf dengan kata yang pelan.

Beberapa jam sesudahnya, Mama Mertua kembali ‘normal’, seolah tidak ada konflik diantara kami berdua.

“Mama baru selesai masak, nih. Sini makan dulu!”, Mama menyapaku sambil tersenyum.

Bayangkan jika kita menuruti ego kita, menuruti emosi kita, dan menjawab dengan nada tinggi serta mengelak, padahal kita jelas-jelas salah, hanya karena kita merasa tidak terima dimarah-marahin oleh Mama Mertua.

Perkataan dan perbuatan kita tersebut akan diingat sampai akhir hayat Mama Mertua kita. Akan meninggalkan bekas luka yang mendalam. “Kok mantu saya berani amat ya, tega amat teriak-teriak ke mertuanya!”. Serta bisa menimbulkan masalah yang baru lagi. Dan, ke depannya, hubungan kita dengan Mama Mertua sudah tidak bisa seindah dulu. Pffiuhh.

——————————————————————————————–

GOLDEN RULE #1

Please, tolong sangat untuk tidak memposisikan suami untuk memilih ‘aku atau ibumu’. Tidak boleh, tidak elok, tidak etis, dan sungguh perkataan yang lancang!

Bayangkan betapa nyeseknya seorang suami saat harus dihadapkan dengan masalah ini.

Beberapa kali saya mengetahui fenomena di mana saat sang istri ada masalah dengan sang mama mertua, sang suami menjadi ‘bulan-bulanan’. Dengan mengajukan pilihan yang sangat sulit dan absurd ini.

Sang suami sangat mencintai sang istri. Partner di berbagai hal. Teman berbagi di kesusahan dan kesenangan.

Sang suami sangat menyayangi sang Ibu. Ibunya yang tulus memberinya unconditionally love sepanjang masa. Pengorbanan dan penderitaan yang dilakukan demi melahirkan dan membesarkannya.

Kita datang di kehidupan seorang manusia yang sudah ter-nurture dengan bagus, dan tiba-tiba kita mengklaim bahwa dia adalah milik kita sepenuhnya. Tanpa menyadari orang-orang di belakang dia yang berperan besar ‘membentuk’ dia.

Serta, bayangkan jika suatu saat anak laki-lakimu disomasi istrinya untuk memilih. Jelas kita tidak terima, kan!

So, ya! Treat others like you want to be treated!

Apapun masalahnya, seberat apapun hal yang dihadapi, jangan pernah memberikan statement ‘aku atau Ibumu’ pada suamimu. Please be considerate…

GOLDEN RULE #2

Adalah WAJIB untuk kita menghormati orangtua (dan mertua), tapi TIDAK HARUS untuk kita mengikuti kemauan mereka (terutama hal yang bagimu PRINSIP dan hal buruk yang merugikan).

Those words above tell all, I don’t need to give an explanation, you may define them by yourself.

——————————————————————————————————

Dunia membutuhkan proses untuk membentuk manusia-nya menjadi lebih baik dan civilized. Dulu banyak sekali manusia yang barbar, berbuat seenaknya sendiri dengan menyakiti orang lain, tidak paham aturan, and so forth. Lihatlah sekarang, di mana jauh lebih banyak manusia yang beradab, beragama dan patuh aturan.

Begitu halnya kita, seorang istri dari seseorang, yang merupakan anak Ibunya. Mencintai suami, mencintai Ibunya juga.

——————————————————————————————————-

P.S.

Pengetahuan mengenai bagaimana karakter Mama Mertua saya, saya peroleh berdasarkan pengamatan dan praktek yang saya jalani sejak pertama kali bertemu dengan beliau, di kala saya belum menjadi istri. Ya, saya pernah menjawab, membantah, dan menolak titah beliau. Seiring berjalannya waktu, (sampai detik ini pun) saya (masih) belajar banyak hal dan melihat sejarah untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang perlu saya perbaiki untuk menjadi manusia yang lebih baik, menjadi istri yang baik dan benar sesuai aturan, serta menjadi seorang menantu yang baik dan berbakti.

Tentu saja, tulisan saya ini tidak ada niat untuk menyudutkan orang lain yang berbeda pendekatan dengan saya. Apalagi jika masalah yang dihadapi berat dan ‘extraordinary’, tentu saja solusinya bisa berbeda dengan metode yang saya share. Saya sangat paham bahwa manusia adalah individu yang kompleks, memiliki cara dan pandangan yang beragam akan suatu hal.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara menjadi menantu yang disayang mertua.

Create your website with WordPress.com
Get started