Hari ini, Jumat, 9 Oktober 2026, pukul 19.57, ada WA masuk dari adekku.
“Mama sudah wafat, mbak Ril….”
Aku tak sanggup membendung tangis. Air mataku tumpah, tangisku pecah begitu kencang.
Mamahku…. Mamahku sayangku….
Innalillahi wa innailaihi raji’un.
Ya Allah, ampunilah segala dosa, kesalahan, dan kekhilafan Mamah. Terimalah seluruh amal ibadah dan kebaikan yang telah Mamah lakukan sepanjang hidupnya. Lapangkanlah tempat peristirahatannya dan tempatkanlah Mamah di tempat terindah di sisiMu.
Ya Allah, ampuni pula segala keluh kesah yang pernah hamba ucapkan tentang Mamah. Betapa aku menyesal pernah merasa kesal kepadanya, hanya karena perkara-perkara kecil yang sesungguhnya tak berarti apa-apa.
Bisa-bisanya aku mengeluhkan hal-hal demikian, setelah begitu banyak cinta, pengorbanan, dan kebaikan yang Mamah curahkan untukku dan kami semua.
Ya Allah, aku menyesal sekali….
Sepanjang hidupnya, Mamah lebih banyak memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Hampir seluruh uang yang Mamah terima dari kami, anak-anaknya, dipergunakan untuk membantu orang-orang dan berbagai cause di sekitarnya.
Mamah tak pernah benar-benar memanjakan dirinya sendiri. Tak pernah sibuk dengan urusan self-care, membeli makeup yang lengkap, rutin merawat diri ke salon, berdandan denganbaju-baju bagus, berolahraga demi penampilan, atau menikmati berbagai kesenangan yang mungkin lumrah dilakukan perempuan.
Bukan karena Mamah tidak bisa, melainkan karena perhatian, tenaga, waktu, dan apa yang dimilikinya selalu lebih dulu diperuntukkan bagi orang lain.
Pengorbanan Mamah untuk kami, anak-anaknya, demikian besar. Terlalu banyak untuk dihitung, terlalu panjang untuk diceritakan satu persatu.
Aku bangga sekali kepada Mamah.
Mamahku sayangku, insha Allah semua kebaikan yang telah Mamah lakukan di dunia menjadi bekal yang indah untuk kehidupan Mamah selanjutnya, ya, Mam.
Aku ingat impian Mamah untuk memiliki rumah mewah di sana. Semoga Allah menghadiahkan rumah yang jauh lebih indah daripada apapun yang pernah Mamah bayangkan. Rumah terindah di surgaNya, tempat Mamah tak lagi merasakan sakit, lelah, ataupun kesedihan.
Mamahku sayangku….
Maafin aku, ya, Mam. Maafin ketika aku tak bisa berperilaku sesuai harapan dan arahan Mamah. Maafin segala sikap, perkataan, dan perbuatanku yang mungkin pernah membuat hati Mamah kecewa.
Maafin aku ya, Mam….
***
Alhamdulillah, akhir pekan lalu aku masih diberi kesempatan untuk menjenguk Mamah di Kediri. Mator suwon ya Rabb…
Padahal rencana awalku adalah berangkat minggu berikutnya, yakni Sabtu besok, 10 Oktober.
Namun, qadarullah, suamiku mengusulkan agar kami berangkat sesegera mungkin.
“Mam, sekarang saja kita ke Kediri.”
Alhamdulillah, alhamdulillah….
Akhirnya Sabtu malam pekan lalu, aku bersama keluarga kecilku berangkat naik kereta menuju Kediri. Kami tiba pada Minggu subuh, 4 Oktober.
Ketika aku datang, Mamah sudah bangun dan selesai sholat Subuh.
Namun, kondisi Mamah saat itu sangat berbeda dari biasanya. Tubuhnya begitu lemah. Untuk berbicara saja tampak membutuhkan tenaga, apalagi berjalan atau menghadirkan senyum lebarnya yang khas.
Mamahku yang biasanya ceria, begitu gemar mengobrol ngalor-ngidul, selalu punya cerita, dan tak pernah kehabisan humor-humor kocak, hari itu nyaris tak menunjukkan semua keceriaannya.
Mamah berbeda.
Lalu Mamah berkata kepadaku,
“Ril, Mam kok ngantuk ya. Mam bobok dulu ya. Nanti Mam bangun pas adzan Dhuhur, habis itu makan, terus tidur lagi…. Maaf ya, Ril, kamu sudah jauh-jauh ke sini, Mam malah tidur terus.”
Aku tentu saja mengiyakan dengan senang hati.
Dalam pikiranku, kondisi tubuh Mamah yang sedang begitu lemah tentu membutuhkan banyak istirahat. Aku berharap tidurnya bisa membantu tubuhnya memulihkan diri, memberi kesempatan bagi sel-selnya untuk beregenerasi, sehingga ketika bangun nanti Mamah bisa merasa lebih segar.
Aku sama sekali tak keberatan hanya berbaring di sebelahnya, bahkan jika sepanjang kunjunganku Mamah lebih banyak terlelap.
Siang harinya, Mamah bangun untuk Dhuhur, kemudian makan.
Di sela-sela waktu itu, tiba-tiba Mamah nyeletuk,
“Maaf ya, Ril, Mam ngerepotin kamu dan kalian….”
Mata Mamah berkaca-kaca.
Ya Allah….
Melihat Mamah demikian, hatiku rasanya nyessss sekali. Air mataku ikut menetes. Namun, aku berusaha menjawab dengan suara lantang, ku ingin memastikan bahwa setiap kata yang kuucapkan benar-benar didengar dan diyakini Mamah.
“Mamah! Mam, jangan bilang begitu ya, Mam. Kami semua dengan senang hati membantu Mamah. Uang kami, sebesar apa pun yang kami berikan untuk Mamah, enggak akan pernah bisa menandingi semua yang sudah Mamah lakukan untuk kami, Mam. Enggak akan pernah cukup untuk membalas pengorbanan Mamah. Jadi, Mamah jangan bingung ya, Mam. Jangan mikirin itu lagi….”
Aku ingin Mamah tahu bahwa dirinya sama sekali bukan beban bagi kami.
Aku ingin Mamah mengerti bahwa kini giliran kami, anak-anaknya, yang merawat, menjaga, dan membahagiakannya. Bahwa semua yang kami lakukan bukanlah pengorbanan yang perlu Mamah sesali atau khawatirkan, melainkan sesuatu yang kami lakukan dengan penuh cinta.
Hari itu aku hanya bisa berada di sisi Mamah sampai pukul lima sore, sebab aku harus kembali ke Jakarta menggunakan kereta pukul tujuh malam.
Tak pernah terlintas sedikit pun dalam benakku bahwa Minggu, 4 Oktober 2026, akan menjadi hari terakhir aku bertemu dan berbicara dengan Mamah.
Hari terakhir aku melihat wajahnya. Mendengar suaranya. Menemaninya.
Mamahku sayangku….
Salah satu manusia yang sangaaaaat kucintai di dunia ini.
Perempuan hebat yang sepanjang hidupnya telah melahirkan begitu banyak karya, kiprah, dan kebaikan.
Mamah memang hanya lulusan SMA. Tapi Mamah jauh lebih pintar daripada aku yang lulusan ITB ini.
Kecerdasan Mamah itu berupa kecakapan menjalani kehidupan, kepedulian terhadap sesama, keberanian mengambil peran, dan kemampuannya memberikan manfaat kepada begitu banyak orang.
Begitu banyak hal yang bisa kupelajari dari Mamah.
Dan sekarang, aku harus belajar menjalani hidup tanpa kehadirannya…
***
Hari ini, sejak pagi, ketiga adekku sudah tiba di Kediri.
Masya Allah, ternyata Gusti Allah telah mengatur semuanya dengan begitu sempurna.
Ketiga adikku dipertemukan dan dikumpulkan di sana, pada hari yang ternyata menjadi hari Mamah “berangkat”.
Sayangnya, ketika mereka tiba, Mamah sudah tidak sadarkan diri. Mereka tak lagi memiliki kesempatan untuk berbincang, bercanda, atau berinteraksi dengan Mamah.
Aku tahu betapa sedihnya mereka.
Aku sendiri tak berada di samping Mamah pada saat-saat terakhirnya. Aku tak menyaksikan langsung ketika Mamah menghembuskan napas terakhir.
***
Tetapi di tengah kesedihan dan penyesalan yang begitu besar ini, aku berusaha mensyukuri satu karunia yang Allah berikan kepadaku.
Allah menggerakkan hati suamiku untuk menyegerakan perjalanan kami ke Kediri.
Allah memberiku kesempatan untuk bertemu Mamah sekali lagi.
Allah masih mengizinkanku mendengar suaranya, melihat wajahnya, berbincang dengannya, dan yang terpenting, menyampaikan langsung bahwa Mamah sama sekali tidak merepotkan kami.
Aku bersyukur sekali sudah mengatakan hal itu kepada Mamah.
Aku tak tahu apakah Mamah sempat menyimpan kata-kataku di dalam hatinya. Namun, aku berharap, pada hari-hari terakhir kehidupannya, Mamah mengetahui betapa besar cinta kami kepadanya.
Dan betapa berharganya Mamah bagi kami semua.
***
***
***