Hari itu Daniela kangeeen banget sama almarhum Papahnya.
Papahnya meninggal saat dia masih remaja, dan dia deket banget sama Papahnya. Saking dekatnya, kepingan-kepingan memori bersama sang Papah masih tersimpan rapi dalam ingatannya. Semuanya terasa begitu nyata, begitu hidup, serasa Papahnya masih berada dalam jangkauan. Serasa kapanpun Daniela bisa menghampirinya, ngobrol-ngobrol, lalu memeluknya erat-erat.
Rasa rindu yang sangat itu akhirnya tak tertahankan. Sambil menangis misek-misek, spontan Daniela packing untuk pergi ke pondokan Papahnya yang ada di pinggir sungai jauh di tengah hutan yang sunyi dan ayem tentrem.
Semasa hidupnya, Papahnya sering menghabiskan waktu di sana untuk menyepi, menjauh sejenak dari hiruk pikuk kota dan gemerlapnya duniawi, juga untuk melepaskan lelah hayati dari stress kerjaan.
Di sanalah Papahnya menemukan ketenangannya. Dengan melukis di atas kanvas, Papahnya menuangkan berbagai perasaan yang tak bisa diungkapkan melalui kata-kata
No wonder di situ banyak sekali lukisan hasil karya sang Papah. Ada yang tergantung rapi di dinding, ada yang tergeletak begitu saja di atas meja, ada juga yang bersandar di lantai. Temanya pun beragam. Ada yang abstrak, pemandangan alam, hingga potret Daniela sendiri.
***
Menempuh 2 jam perjalanan mengendarai mobil EV terbarunya, akhirnya Daniela sampai di pondokan itu.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam, Daniela terdiam. Ternganga menikmati setiap sudut ruangan, setiap jengkal tempat yang pernah menjadi bagian penting dari kehidupan Papahnya.
Dia berjalan pelan, menyusuri benda demi benda yang ada di sana. Sesekali jari-jarinya menyentuh permukaan meja, kursi, atau bingkai lukisan. Hatinya nyesss menyadari bahwa dulu tangan Papahnya pernah menyentuh benda-benda yang sama.
Daniela pun membayangkan Papahnya sedang duduk di tepi sungai, ditemani suara gemericik air dan semilir angin, sembari melukis pemandangan di hadapannya dengan begitu apiknya bak maestro Van Gogh.
Ahhh Papah…
Air matanya mbrebes mili tanpa henti. Sesekali Daniela menyekanya, tetapi tak lama kemudian menetes lagi. Di sela-sela tangis itu, senyum juga terus bersemayam di wajahnya. Karena setiap sudut pondokan menghadirkan kembali kenangan-kenangan indah bersama sang Papah.
Apalagi sepanjang hidupnya, Daniela tak memiliki kenangan buruk sedikitpun dengan sang Papah.
Baginya, Papah adalah sosok ayah yang 90 persen mendekati sempurna. Kenapa bukan 100 persen? Ya karena Daniela sadar, 100 persen kesempurnaan hanyalah milik Allah.
***
Sedang asik-asiknya tenggelam dalam nostalgia senyum-senyum sendiri sambil membayangkan Papahnya, tiba-tiba…
Sek… kresek… kresek… seksek…
Terdengar suara langkah kaki dari belakang.
Nunak nunuk namun jelas semakin mendekat.
Daniela langsung tercekat, terdiam senyumnya lenyap. Tubuhnya tegang dan jantungnya mulai dag dig dug tak karuan.
Pikirannya berkelana ke mana-mana ke beragam worst scary case, siapa itu? Dia sedang sendirian di pondokan terpencil, di tengah hutan yang sepi pula?
Apakah perampok, orang gila, anggota kartel yang sedang bersembunyi di tengah hutan? Biasanya gerombolan penjahat menjadikan tempat terpencil sebagai markas persembunyian, seperti terlihat banyak di film-film.
Saking takutnya, Daniela justru tak mampu melakukan apa-apa. Pasrah berdiam. Sistem fight or flight-nya rupanya memilih opsi ketiga yakni freeze. Diam membeku.
***
Air matanya menetes lagi. Kali ini karena ketakutan.
Tapi… tunggu dulu… Langkah kaki itu tiba-tiba berhenti. Tidak semakin mendekat dan tidak pula menjauh.
Hening.
Setelah beberapa saat, Daniela akhirnya memberanikan diri untuk membalikkan badan.
Dia sebenarnya tidak takut hantu. Jadi kalau ternyata itu kuntilanak atau wewe gombel penghuni pohon pinus di sekitar pondokan, malah gapapa banget. Yang penting jangan manusia jahat
Daniela pun perlahan menoleh.
Daaaaan…
JRENG! JRENG! JRENGGG!
Sosok yang berdiri di hadapannya ternyata adalah…
PAPAHNYA! Iya, Papahnya! PAPAHNYA SENDIRI!
Lho, lho, lhooooo?! Bukannya Papahnya sudah meninggal dunia bertahun-tahun lalu? Ini arwah Papahnya yang gentayangan atau apa???
Tapi tidak. Sosok itu begitu nyata! Wajahnya, sorot matanya, postur tubuhnya, semuanya persis seperti Papah yang selama ini dirindukannya. Tidak ada merinding bulu kuduk, tidak ada hawa dingin kosong yang mencekam; fix Daniela makin yakin ini bukan hantu. Ini real Papahnya!
Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata Papahnya menunjukkan ekspresi yang sama. KAGET.
Bibirnya bergetar, berusaha mengucapkan kata yang sudah bertahun-tahun begitu ingin dia ucapkan langsung kepada pemiliknya.
“Paaa… Pap… Papaaah?”
Papahnya memandang Daniela dengan wajah penuh keheranan, lalu berkata,
“Kue dadar gulungkuuu! Kok… kok kamu ada di sini? Kamu ngerasa ya kalau Papah kangeeeen banget sama kamu? Nembus ya, kayak saling telepati kita!”
Mendengar suara itu, Daniela tak lagi mempedulikan segala keanehan yang sedang terjadi. Tanpa babibu, dia langsung berlari ke Papahnya, dan memeluknya erat-erat.
Seolah dia sedang berusaha mengganti seluruh pelukan yang hilang selama bertahun-tahun hanya dengan satu pelukan.
Tangisnya petjahhh, tapi kali ini tangisan bahagia.
Papahnya, yang masih belum memahami reaksi putrinya, tertawa kecil sambil membalas pelukan itu.
“Kamu tumben banget datang ke sini tanpa telpon dulu? Kan Papah jadi gak sempet nyiapin indomie goreng telor kornet makanan kesukaanmu. Kamu sendirian ke sini? Mana suami dan Bowo cucuku tersayang? Suamimu masih mokondo? Atau sudah dapat kerjaan?….”
Daniela tak menjawab, tak mendengarkan apa yang dikatakan Papahnya. Saking fokusnya dengan keberadaan Papahnya, dan saking bahagianya hatinya.
***
Daniela tak peduli bagaimana semua ini bisa terjadi. Tak peduli apakah ini mimpi, keajaiban, atau sesuatu yang sama sekali tak mampu dijelaskan oleh akal sehat.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia bisa kembali merasakan hangatnya pelukan Papah.
***
***
***

