Ada sebuah keluarga yang terdiri atas Jim sang papah, Tabitha sang mamah, serta dua anak mereka, Julie, si sulung cewek, dan Ethan adek cowoknya yang masih kecil.
Mereka sedang melakukan road trip menggunakan sebuah RV alias mobil rumah yang berukuran besar.
Enak banget ya bepergian menggunakan kendaraan seperti ini. Luas, bisa selonjoran, bisa membawa banyak barang, tersedia berbagai fasilitas layaknya rumah sendiri. Ibaratnya, mau berhenti di tempat random manapun, kita tetap bisa merasakan kenyamanan rumah. Praktis sekaligus menyenangkan!
Nah, keluarga ini terus melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan raya yang kanan-kirinya dipenuhi pepohonan.
Sampai pada suatu titik, mereka terpaksa menghentikan kendaraannya.
Pasalnya, ada sebatang pohon besar yang tumbang melintang di tengah jalan, menghalangi seluruh badan jalan sehingga kendaraan tidak bisa melintas.
Jim pun turun untuk memeriksa keadaan.
Aneh juga ya, kok ada pohon sebesar ini roboh menutupi jalan raya, tetapi tak ada seorang pun yang berusaha mindahin?
Setelah melihat situasi, Jim akhirnya memutuskan untuk menyingkirkannya dan lanjut menyetir.
Nah lhooo, menurutku ini sudah red flag!
Ini lesson learned penting dalam hidup. Kalau sebuah jalan sudah tertutup oleh sesuatu yang mencurigakan, plisss lah, jangan malah berusaha menerobos atau mencari cara untuk tetap masuk!
PASTI ada alasan mengapa jalan tersebut tidak bisa dilalui.
Don’t push it!
***
Perjalanan pun berlanjut.
Jim kembali fokus menyetir, sementara kedua anaknya asik ngobrol di belakang. Sesekali Julie menggoda Ethan sampai adiknya menangis, membuat Tabitha harus turun tangan melerai pertengkaran kecil mereka.
Begitulah dinamika keluarga yang sedang melakukan perjalanan jauh. Ngobrol, bercanda, berantem, anak rewel…
Semuanya masih terasa normal. Sampai mereka menyadari satu hal yang cukup mengganggu yakni gak ada sinyal HP!
Namun Jim tetap melanjutkan menyetir tanpa was-was dan berpikir santuyy, mungkin karena sedang melewati area terpencil yang belum terjangkau jaringan seluler.
Setelah cukup lama menyetir menyusuri jalanan yang terbantang, mereka melihat pemukiman.
Ada rumah-rumah dan terlihat para warga sedang berkumpul.
Legalah keluarga ini. Akhirnya bertemu juga dengan peradaban, serta memutuskan untuk memanfaatkan fitur GPS Gunakan Pendukuk Setempat.
Jim turun dari mobilnya dan mode waspada, dengan mewanti-wanti istrinya untuk nge-lock RV-nya.
Begitu berjalan mendekat, Jim baru ngehh kalau mereka sedang di sebuah acara funeral. Yang membuatnya shick shack shock adalah orang-orang yang melewatinya, tidak ada satupun yang menjawab sapaannya, bahkan untuk sekedar senyum basa-basi.
“Lhoo kenapa ini? Pada cuek-cuek semua nih orang, gak ada adab! Memang anomali ada di mana-mana.” batin Jim.
***
Selang beberapa saat, datanglah seorang bapak yang dari gesture dan pembawaannya memiliki posisi penting di lingkungan tersebut.
Gerak-geriknya tenang dan berwibawa. Auranya seperti seseorang yang terbiasa memimpin dan mengambil keputusan.
“Perkenalkan, saya Pak Sheriff Stevens.”
Ohhh, pantesan! Kelihatan banget memang aura leader-nya.
Jim pun menjelaskan situasinya.
“Begini, Pak. Saya dan keluarga sedang berusaha kembali ke highway. Tetapi sejak tadi kami tidak menemukan petunjuk arah yang jelas. Kira-kira kami harus menyetir ke arah mana ya?”
Pak Sheriff terdiam dan menatap Jim dengan ekspresi wajah yang sulit dijelaskan. Campuran antara kasihan, khawatir, takut, dan mungkin sedikit kesal. Pokoknya, ada sesuatu yang tidak beres dari tatapannya.
Setelah beberapa saat, akhirnya dia menjawab singkat.
“Terus saja menyetir.”
Hahhh? Begitu saja? Tak ada penjelasan tentang belokan, persimpangan, atau berapa kilometer lagi mereka akan menemukan jalan besar.
Meskipun begitu, Jim tidak terlalu memikirkannya.
“Ohhh, begitu. Baiklah, terima kasih, Pak!”
Dia pun kembali ke RV, kemudian melanjutkan perjalanan bersama Tabitha, Julie, dan Ethan.
***
Mereka kembali menyusuri jalanan beraspal yang membentang.
Jim terus menyetir mengikuti arahan sang sheriff. Mereka berharap sebentar lagi akan menemukan persimpangan yang menghubungkan kawasan tersebut dengan jalan raya utama.
Anehnya, setelah menempuh perjalanan cukup jauh, tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang terasa familiar.
Rumah-rumah yang tadi mereka lewati, bangunan-bangunan yang sama. Dan….
Lhooo? Lhoo lhooo…. Kok balik lagi ke tempat tadi ya? Jim mulai kebingungan.
Mungkin tadi ada persimpangan yang tidak kelihatan atau jangan-jangan salah mengambil arah? Jim mencoba tetap tenang dan meyakinkan keluarganya bahwa mereka hanya salah belok.
Baiklah. MarKiCob! Mari kita coba lagi.
Kali ini Jim menyetir lebih pelan, memperhatikan setiap belokan dan persimpangan dengan teliti. Jangan sampai ada jalan keluar yang terlewat sambil mereka terus melaju.
Satu kilometer, dua kilometer, entah sudah berapa jauh.
Sampai akhirnya…. JRENGGG! JRENGGG! JRENGGG!
Mereka balik lagi ke tempat yang sama! Rumah-rumah itu lagi. Jalanan itu lagi. Dan permukiman yang tadi mereka datangi itu lagi!
Jadi kayak muter-muter aja dan ended up ke situ lagi ke situ lagi.
***
Saat itu, bukan Jim saja yang kebingungan. Tabitha mulai gelisah, Julie dan Ethan juga merasakan bahwa ada sesuatu yang sungguh tidak beres.
Suasana di dalam RV yang tadinya dipenuhi obrolan dan pertengkaran kecil berubah menjadi tegang. Jim masih berusaha berpikir rasional.
Mungkin jalanan di area ini memang membentuk lingkaran. Mungkin ada percabangan yang tidak terlihat. Atau mungkin simply dia yang siwer.
Sekali lagi, Jim mencoba, dengan harapan bahwa percobaan ketiga akan membawa mereka keluar dari tempat aneh tersebut.
Daaaaan…. HOPELESS SUDAH! Mereka lagi-lagi balik ke tempat yang sama!
Sejauh apapun Jim menyetir, arah mana pun yang berusaha ditempuhnya, perjalanan mereka selalu berakhir di situ. Seolah-olah jalanan itu nge-loop.
Kini, mereka sekeluarga hanya bisa pasrah…
***
***
***
PS: Ini film/series apa hayooo? Yang tahu, silahkan jawab di kolom komentar ya.
***


