Wifey's Life

Oktober O-nya Apa?

O-nya adalah oke gass oke gass oke gasss.

Bismillah semoga bulan ini penuh kemudahan, rezeki, dan senantiasa bahagia. Aamiin aamiin ya Rabb.

***

Akhirnya kerepotan pindahan kami sudah terlewati. Aku dan keluarga kecilku sudah meninggalkan Apartemen Sky House dan sudah menempati rumah baru di sebuah cluster yang dekat dengan ICE.

Sejauh ini, aku pribadi suka dengan neighborhood-nya. Adem banyak pohon, tatanan rumah-rumahnya juga rapih, jalanan bersih dan luas, juga ada jalan setapak yang khusus diperuntukkan pejalan kaki. Jadi kalau mau jalan atau jogging, gak perlu khawatir takut-takut sambil melipir ketika kendaraan lewat.

Tiga tahun lalu kami tinggal di kompleks The Icon. Kenapa gak nyari rumah di situ lagi? Well, kami mencari ke situ lagi kok, tapi qadarullah tidak ada yang sregg. Rumah kami yang dulu itu ukurannya kecil, dan sekarang sudah dikontrakkan.

Alhamdulillah, kesabaran dan tidak grusa-grusu kami membuahkan hasil. Menemukan rumah yang insha Allah menjadi home sweet home bagi kami sekeluarga.

Ohya, di sini unik, gak ada Pak RT dan Pak RW. Adanya itu komunitas dan ada Mba adminnya. Nah jika kita butuh surat-surat ini itu, langsung ke Mba Admin.

Melihat fenomena ini, makes sense sih. Sekarang orang sudah pada sibuk dengan jadwal yang tak menentu. Jika ada yang ditunjuk sebagai Pak RT, kemungkinan besar pastilah susah mencari waktu yang klik untuk bertemu.

Selain itu, kehidupan bertetangga di sini tidak ada pressure untuk saling bertemu secara tatap muka. Meskipun demikian, kami rutin berinteraksi di WAG kompleks, dan semua baik-baik, saling membantu dan berbagi informasi dengan damai. Alhamdulillah.

***

Kegiatanku sekarang pun tidak sesibuk dengan agendaku saat di Kazakhstan. Wuidiiii bener-bener deh gelar PENGACARA (Pengangguran banyak Acara) patut disematkan pada diriku ketika menjadi warga Kazakhstan ehehe.

Sekarang, aku menghabiskan waktuku sebagian besar di dalam rumah. Dan hanya bepergian bersama satu-satunya bestie superku, yang tidak lain dan tidak bukan adalah…….. jrenggg jrenggggg SUAMIKU. Ehehehe.

Jadwal kantor beliau pun sudah tak sesibuk dan se-stress seperti di Kazakhstan, jam 5 sore sudah pulang. Lalu abis itu, Pak Suami akan mengajak jalan kaki bersama keliling area situ. Kemudian malamnya hunting coffee shop, atau nyari tempat pijat, atau ke tempat makan.

Berduaan saja, karena anakku, Boo, sudah remaja dan sudah sibuk dengan kegiatannya sendiri. Jadi aku dan Pak Suami bener-bener bagaikan sahabat karib. Yang dengannya aku bisa melakukan apapun dan menjulid bersama ehehe.

***

Meskipun kami sudah menikah belasan tahun, tapi nampaknya ada satu hal yang Pak Suami belom berubah. Yakni punya rasa cemburu. Memang sih sudah tidak separah dulu, tapi…. seharusnya di usia matang sekarang, rasa cemburu itu sudah terkikis.

Dengan keadaanku yang ibu rumah tangga saja (yang interaksi sosialnya juga tak luas), dan tidak punya teman lawan jenis; aku kira sudah aman, tidak akan memunculkan rasa itu. Ternyata tidackkk, sodara-sodara!

Pak Suami sudah beberapa kali memintaku nge-block akun lawan jenis yang komentar di utas-utas di Threads-ku. I mean.… komentarnya biasa banget padahal, harmless, gak ada sedikitpun mengarah ke flirting. Ketika ada komentar yang nakal dan tidak sopan, ku pastilah tak akan menghiraukan, serta gercep nge-block tanpa Pak Suami harus minta.

Tentu saja aku manut dengan titah Pak Suami. Tanpa babibu, NURUT! Aku berusaha sangat untuk menjadi istri yang sholehah, yang baik dan menyenangkan buatnya. Terutama karena beliau adalah donatur utamaku sekaligus sugar daddy terbaikku. Luv uuu suamiku…. ❀️πŸ₯Ή

***

***

***

Body, Mind, Soul · Memori & Nostalgia · Young Adult

Bersama Adek

Ada lagi keputusan sepeleku yang betul-betul membuatku nyesek saat mengingatnya.

Yakni, ketika aku TAK mau pindah ke Bogor.

***

Waktu itu dekade 2000an, aku masih tinggal di Bandung. Aku sudah lulus kuliah, sudah sempat bekerja di sebuah bank swasta, lalu resign karena calon suamiku saat itu tak mengizinkanku bekerja di sana, dan aku pun nurut. Jadilah aku seorang manusia pengangguran, job seeker yang sehari-harinya masih berkutat dengan hunting iklan lowongan kerja di koran Pikiran Rakyat, datang ke banyak Job Fair, apply-apply lamaran, dan pertanyaan klasik yang sering muncul di kepala orang-orang seusia itu: habis ini aku mau ke mana?

Sementara itu, adekku yang hanya selisih setahun denganku tinggal di Bogor. Adek kuliah di IPB, sambil mencari tambahan uang dengan memberikan les privat ke sana-sini. Hidupnya waktu itu tak bisa dibilang mudah. Adek tak mau menumpang di rumah kerabat dan memilih untuk nge-kost meskipun berat baginya untuk membayarnya.

Dan di tengah semua itu, Adek mulai sakit. Awalnya belum terasa terlalu mengkhawatirkan. Namanya juga anak muda, sakit sedikit masih bisa kuliah, masih bisa bekerja, masih bisa ke sana-sini naik angkot untuk mengajar murid privat.

Lalu Mam keidean, β€œRil, kenapa kamu endak pindah ke Bogor aja?”

Logikanya masuk akal sekali. Terutama dengan banyaknya panggilan-panggilan tes dan wawancara kerja dari Jakarta, dan lebih mudah dijangkau dari Bogor, plus tentu saja lebih murah.

Mam bilang daripada aku membayar kost sendiri di Bandung dan nganggur pula, aku bisa pindah dan kost bareng Adek. Uang kostku bisa dipakai untuk mencari tempat tinggal yang lebih nyaman untuk kami berdua. Beban Adek pun otomatis berkurang. Adek tak perlu terlalu pusing memikirkan tempat tinggal, dan…yang paling penting…ada aku di sana untuk menemaninya.

Sebuah solusi yang kalau kupikirkan ketika akhirnya Adek berpulang ke Rahmatullah, sangatlah tepat.

Namun saat itu jawabanku TIDAK.

***

Kala itu, aku punya ribuan alasan (yang beberapa diantaranya bersifat “kupaksakan” dan mengada-ada).

  1. Bandung lebih strategis untuk mencari pekerjaan.
  2. Aku sudah punya lingkungan di sana.
  3. Lebih mudah kalau ada panggilan interview.
  4. Aku punya ini.
  5. Aku punya itu.

Pokoknya terdengar seolah-olah seluruh masa depanku akan berantakan kalau aku meninggalkan Bandung.

Padahal sebenarnya, alasannya tak serumit itu. Aku hanya tak mau meninggalkan Bandung. Aku terlalu sayang dengan kota ini. Dengan jalan-jalannya, teman-temanku, suasananya, kenangan kuliahku, tempat-tempat yang biasa kudatangi. Aku merasa hidupku ada di sana. Bandung adalah kota yang sudah begitu lekat denganku hingga pindah ke Bogor terasa bagaikan pengorbanan besar.

Tak ada kantor yang mengharuskanku berada di Bandung setiap pagi, pun tak ada sesuatu yang sungguh-sungguh mengikatku di sana. Yang mengikatku hanyalah PERASAAN. Romantisme terhadap sebuah kota. (Saat ini dengan lantang aku mampu bilang PRETTT atas rentetan alasanku ini…).

***

Aku dan Adek hanya berbeda satu tahun, sehingga sejak kecil rasanya seperti bestie. Dari TK sampai SMP kami berada di sekolah yang sama.

Agenda sehari-hari kami berdua adalah bermain bersama, pergi ke mana-mana bersama, hingga menjulid dan ngomongin cowok idaman masing-masing.

Aku menyadari aku adalah anak pertama sekaligus seorang kakak yang nyebelin, tak mau kalah, selfish, suka menang sendiri, dan etc etc.

Sedangkan Adek… kebalikannya. Adek sangat manut, nrimo, tidak neko-neko, tidak pernah membuat masalah, dan kalau MamPap bilang sesuatu, Adek tak pernah mendebat.

Mungkin karena bertahun-tahun hidup berada satu langkah di belakang sang kakak, ketika SMA Adek mengambil keputusan untuk memilih SMA yang berbeda denganku.

Begitupun ketika tiba waktunya kuliah, Adek memilih IPB, Bogor, blasss sama sekali tidak melirik Bandung.

Akhirnya kami punya kota masing-masing. Aku punya Bandung. Adek punya Bogor.

***

Beberapa bulan setelah Mam menyuruhku pindah, kondisi Adek semakin serius. Sakit yang semula masih bisa dibawa kuliah, nge-lab, dan mengajar perlahan menjadi sesuatu yang tak bisa lagi diremehkan.

Menjelang hari wisuda, Adek harus pulang ke Kediri yang tentu saja bukan untuk liburan menikmati kampung halaman melainkan masuk rumah sakit. Setelah itu segalanya terasa bergerak terlalu cepat.

Operasi yang terakhir adalah mengubek-ubek bagian kepala Adek. Ohya, diagnosis penyakit Adek pun belum diketahui pasti, dokter menganalisis itu adalah meningitis dengan keyakinan 50 persen. Intinya, ada jamur hitam yang berada di paru-paru Adek, ini makes sense karena penetlitian tugas akhir Adek waktu itu harus nge-leb dengan aspergillus, dan setiap hari menmabah penghasilan dengan mengembangbiakkan tikus putih di lab. Adek berpesan pada Mam, “Mah, tahu kan Mah, kalau operasiku ini berhasil, ada 2 kemungkinan, Mah. Fisikku baik-baik saja, tapi otakku tidak, dan ini akan end up menjadi (maaf) idiot. Kalau otakku tetep berfungsi dengan baik, fisikku yang tidak baik-baik saja, Mah, aku akan berbaring di kasur selamanya, Mah. Dan Mah, aku gak mau keduanya, Mah.” Mam pasrah mendengarnya, dan paham dengan maksud Adek.

Sampai akhirnya pada bulan November, Adek dipanggil untuk berpulang ke Rahmatullah.

Aku kehilangan Adek, sahabatku, teman bermainku sejak kecil, orang yang bertahun-tahun berada di sampingku.

Hari itu dadaku sesak, dan sejak saat itu, sebuah pertanyaan terus terngiang. “Kenapa waktu itu aku tidak pindah ke Bogor?!!”

***

Aku tahu, pindah ke Bogor tak akan mengubah takdir perjalanan hidup Adek.

Bukan berarti dengan aku tinggal bersamanya, Adek pasti sembuh. Aku bukanlah dokter, dan juga tak punya kuasa atas hidup dan mati seseorang.

Apapun yang kulakukan, November Rain itu tetap akan datang.

Tetapi bukan itu yang kusesali. Yang membuatku nyesek saat mengingatnya adalah hal-hal sederhana.

Aku membayangkan hari-hari Adek ketika sakit tetapi tetap harus menjalani kehidupan seorang mahasiswa yang struggle. Pulang ke kamar kost sendirian, tidak enak badan. Lelah sehabis mengajar privat. Atau mungkin ingin sekedar mengeluh.

Dan aku bisa saja ada di sana, masakkin atau membelikan Adek makanan, lalu membantunya saat badannya sedang lemah. Kemudian menemaninya ke dokter, maupun mendengar ceritanya sepulang kuliah.

Atau mungkin bengong bersama tanpa ngapa-ngapain, dan hanya berada di kamar yang sama. Aku berbaring melintang, Adek leyeh-leyeh sambil membaca novel. Persis seperti saat kami kecil.

Dan kalau malam-malam, Adek sedang merasa kesakitan, aku bisa memeluknya.

Entah kenapa, bagian itulah yang paling sering terlintas. Aku bisa memeluknya 😦

***

Sekarang rasanya aneh sekali mengingat alasan-alasan yang dulu kubuat untuk tidak pindah.

Begitu pentingkah Bandung? Begitu sulitkah meninggalkan kota itu beberapa bulan?

Apa yang sebenarnya kutakutkan hilang?

Toh Bandung ternyata tetap ada. Jalan-jalannya masih ada. Kampusku masih ada. Tempat-tempat yang kusukai tetap berdiri. Aku bahkan masih bisa datang ke Bandung kapan saja.

Bandung tak pergi ke mana-mana. Adek yang pergi.

***

Andai ku bisa kembali kepada diriku yang sedang tinggal di Bandung itu. Ku akan berkata, β€œSudahlah. Bandung tidak akan ke mana-mana.” β€œPergilah ke Bogor.” β€œTemani Adek.”

***

Ahh begitulah cerita kehidupan. Selalu banyak “KALAU”.

***

***

***

Body, Mind, Soul

Mam Tak Pamit?

Tema tantangan blogging MGN bulan ini adalah “Keputusan Sepele yang Mengubah Hidup”. Lama aku mempertimbangkan, apakah kisah Mamahku ini layak aku ikutkan, dengan resiko akan dibaca oleh semua Mamahs MGN.

Aku ragu, tapi setidaknya aku tuliskan dulu.

***

***

***

Bude sedang tengkurap di kamar sambil membaca buku ketika Mam pamit.

β€œMba, aku pulang dulu, ya.”

Menurut cerita Mam, tak ada jawaban.

Waktu itu Mam sedang berkunjung ke rumah Pakde di Bogor. Keadaan ekonomi mereka jauh lebih baik daripada keluarga kami. Pakde bekerja, Bude juga, sementara Mam masih harus memikirkan uang untuk kebutuhan sehari-hari. Aku, anak pertamanya, masih kuliah dan belum bisa menjadi tempat Mam minta bantuan.

Satu adekku sedang kuliah dan kala itu tinggal menumpang di rumah Pakde. Untuk pulang hari itu, Mam sudah meminjam sedikit uang untuk ongkos perjalanan dari Bogor ke Kediri.

Mam harus pulang karena di Kediri masih ada ketiga adikku yang kecil.

Pakde sedang tidak di rumah. Jadi, setelah berpamitan kepada Bude dan tak mendapat jawaban, Mam mencoba bertanya lagi.

β€œMas endak titip apa-apa buat aku, Mbak?”

β€œEndak.”

Dialog itu, seperti yang diceritakan Mam padaku, kurang lebih hanya begitu.

Mam akhirnya keluar rumah.

***

Di luar, Mam menelpon Pakde dan menanyakan perihal uang yang mau dipinjamkan itu.

Jawaban Pakde mengagetkan.

β€œLhooo, uangnya sudah kutitipkan ke istriku.”

Mam menjelaskan bahwa tadi sudah bertanya, tetapi Bude bilang tak ada titipan apa-apa.

β€œTunggu ya. Kutelpon dulu.”

Jika saja kejadian ini berhenti sampai di situ, mungkin sekarang aku tak punya cerita untuk dituliskan. Paling-paling ada salah komunikasi, lalu dibereskan lewat telpon. Mam mendapat kejelasan tentang ongkosnya dan melanjutkan perjalanan.

Namun, ketika Pakde kembali menelpon Mam, pembicaraannya sudah di luar nalar.

β€œKatanya kamu tadi gak pamit!”

β€œLhooo aku pamit, Mas.”

Mam menjelaskan lagi kalau Mam sudah mendatangi Bude. Sudah mengatakan mau pulang, sekaligus bertanya tentang titipan Pakde.

Pakde tidak percaya.

β€œAku berani bersumpah demi Allah,” kata Mam.

Tetap tak dipercaya.

Dari cerita Mam, Pakde lebih menerima keterangan Bude. Mam dianggap pulang begitu saja tanpa pamit. Sesuatu yang bagi Pakde merupakan sikap tak tahu berterima kasih kepada keluarga yang sudah menerimanya.

Mam yang awalnya sedang meminta bantuan akhirnya sibuk membela diri.

***

Kejadian itu kemudian menjadi pembicaraan keluarga.

Mam pulang tanpa pamit, tidak sopan, dan kurang ajar.

Satu versi cerita beredar, lalu mendapatkan tanggapan dari orang-orang yang tidak berada di rumah itu ketika Mam mengatakan, β€œMbak, aku pulang dulu, ya.”

Mam terus mempertahankan keterangannya.

β€œAku jelas-jelas pamit lhoo!”

Sebagai anak, aku sulit mendengar bagian ini tanpa ikut kesal. Mama sudah harus menanggung rasa sungkan karena membutuhkan uang. Setelah itu, masih harus berusaha meyakinkan orang bahwa Mam paham adab berpamitan.

Aku percaya kepada Mam. Cerita ini kutuliskan berdasarkan pengalamannya yang disampaikannya padaku. Namun, ada bagian yang tak pernah bisa kuketahui: apa yang didengar, dipikirkan, dan dirasakan Bude.

Kenapa jawabannya bisa menjadi, β€œDia gak pamit”?

***

Aku mencoba membayangkan kejadian itu dari sisi Bude. Tentu saja, ini hanya dugaanku. Aku tak pernah mendapatkan penjelasan dari beliau.

Mungkinkan jawaban itu keluar begitu saja ketika Pakde menelpon. Mungkinkah saat itu Bude hanya ingin mengakhiri pembicaraan yang tak nyaman. Mugnkinkah beliau tak sedang membayangkan bahwa keterangannya akan dibawa ke percakapan keluarga, diulang oleh orang lain, dan meninggalkan ke-awkward-an diantara dua saudara kandung selama bertahun-tahun.

Bisa jadi, pada saat mengucapkannya, akibat yang terbayang hanya sejauh percakapan telepon itu.

Selesai menjawab, selesai pula urusannya.

Tetapi rupanya tidak.

Pakde percaya. Lalu tersebar ke mana-mana dan semua keluarga besar mengetahuinya. Lalu ikut menilai Mam. Setiap kali cerita itu diulang, makin banyak orang merasa sudah tahu apa yang terjadi.

Sementara Mam masih keukeuh pada kalimat yang sama: AKU SUDAH PAMIT!

***

Aku sering membayangkan, andai saja keterangan itu diralat pada hari yang sama, apa yang akan terjadi?

β€œIya, tadi sudah pamit. Aku salah ngomong keceplosan waktu bilang ke kamu.”

Mungkin akan ada pertengkaran. Mungkin Pakde akan marah dan menanyakan lebih detail, yang tentu saja tak akan terasa nyaman.

***

Namun setelah kisah itu beredar, mengakuinya mungkin terasa jauuuhhh lebih berat.

Karena yang harus dihadapi bukan lagi satu orang.

Ada suami yang sudah telanjur membela. Ada kerabat yang sudah telanjur ngata-ngatain adik iparnya. Ada orang-orang yang, begitu mendengar klarifikasi itu, mungkin akan bertanya, β€œJadi selama ini dia benar? Lalu kenapa dibiarkan?”

Menurutku, di situlah seseorang bisa makin sulit keluar dari jawaban yang telanjur diucapkan.

Hari pertama cukup menjelaskan kejadian hari itu. Bertahun-tahun kemudian, Bude juga harus menjelaskan mengapa selama itu tak bilang apa-apa.

Aku tak tahu apakah Bude mengalami pergulatan seperti ini. Namun kemungkinan tersebut membuatku mengerti bagaimana sesuatu yang awalnya tampak kecil bisa terus dibiarkan, karena akibatnya sudah terlalu besar.

Mengakui terasa memalukan dan diam terasa lebih mudah untuk dijalani.

***

Bude berpendidikan tinggi. Beliau doktor di luar negri dan bekerja sebagai peneliti.

Aku menggarisbawahi karena dalam pikiranku, ada nama baik dan penghormatan yang mungkin ikut dipertaruhkan jika beliau harus mengakui bahwa keterangan Mam selama ini benar. Sekali lagi, aku tak tahu apakah itu sungguh menjadi pertimbangan beliau. Gelar dan pekerjaan tidak bisa memberitahuku isi hati seseorang.

Tetapi aku membayangkan betapa beratnya mengoreksi diri di hadapan orang-orang yang selama ini memandang kita sebagai pihak yang lebih layak dipercaya.

Di sisi lain ada Mam, yang datang dengan keadaan serba kekurangan dan membutuhkan bantuan ongkos pulang.

Aku bertanya-tanya apakah keadaan mereka yang berbeda turut mempengaruhi siapa yang lebih mudah dipercaya. Pertanyaan itu tak pernah ada jawaban yang bisa kupastikan. Yang kutahu, pada kejadian ini, penjelasan Mam tidak cukup. Sumpahnya pun tak mengubah apa-apa.

Aku juga tidak hendak menghapus kenyataan bahwa Pakde dan Bude pernah membantu keluarga kami. Adekku pernah tinggal beberapa bulan bersama Pakde dan Bude saat kuliah. Akan kami ingat selalu kebaikan-kebaikan Pakde dan Bude…

***

Tahun-tahun berlalu.

Hubungan Mam dan Pakde menjadi renggang dan canggung. Perkara PAMIT itu tetap tak mendapatkan closure yang Mam harapkan.

Kemudian Bude sakit.

Mam berharap, sebelum terlambat, ada kesempatan bagi beliau untuk meluruskan kejadian tersebut. Mam ingin namanya dibersihkan dari tuduhan itu. Mam ingin hubungan dengan sang kakak tidak terus dibayangi sesuatu yang tak pernah dilakukannya.

Harapan itu masuk akal bagiku. Ada orang-orang yang sudah mendengar bahwa Mam tak tahu diri. Tentu Mam juga ingin mereka mendengar keterangan langsung dari Bude.

Tetapi sampai Bude meninggal, klarifikasi yang Mam tunggu tak pernah datang.

Aku tak tahu apakah Bude masih mengingat kejadian itu dengan cara yang sama seperti Maa. Aku tak tahu apakah Bude pernah ingin membicarakannya, apakah merasa ada yang perlu diperbaiki, atau apakah perkara itu sudah lama tak terlintas dalam pikirannya.

Yang tinggal pada kami adalah cerita Mam dan pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa lagi diajukan.

***

β€œYa sudah. Kita tunggu saja nanti di sana…” kata Mam.

DI SANA yang dimaksud Mam adalah AKHIRAT.

Kami percaya ada kehidupan setelah kematian dan pertanggungjawaban atas apa yang dilakukan selama hidup. Bagiku, ucapan Mam itu terdengar seperti kalimat seseorang yang sudah kehabisan cara untuk menjelaskan dirinya di dunia ini.

***

Aku tak pernah tahu apakah Bude menganggap jawabannya hari itu sebagai keputusan besar, mungkin bahkan tak terasa seperti mengambil keputusan apa-apa.

Itulah yang membuat kisah ini terus mengusikku.

Kita bisa mengucapkan sesuatu dalam hitungan detik, sementara orang lain harus hidup lama dengan akibatnya. Apalagi ketika ucapan itu dipercaya banyak orang dan tak pernah dikoreksi.

***

***

***

Social Observation · Wifey's Life

Juicy Gossip

Wuahhh, rentetan juicy gossip melandaku beberapa hari terakhir ini, ehehe. Beritanya pun, sayangnya, tak elok dan tak santun. Huhu.

Entah kenapa, setelah mendengar semuanya, kepalaku malah terasa pening. Mungkin inilah yang dimaksud para spiritualist atas definisi β€œvibrasi negatif”. Beneran, rasanya gak enak. Pengen ku-unheard, tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Informasinya telanjur masuk ke telinga dan tersimpan di kepala.

Jadi, daripada aku nyesek sendirian, aku bagikan saja dalam bentuk tulisan. Siapa tahu setelah dikeluarkan begini, raga dan jiwaku jadi sedikit lebih plong. Ehehehe.

Oh iya, berarti aku harus kasih warning dulu, ya!

Kalau tak ingin mengambil resiko terkena paparan negative vibration lebih dalam, jangan diteruskan membaca. Cukup sampai sini. Stop! Skip skip!

Tapi kalau tetap nekat melanjutkan…

Monggo, silakan.

Resiko ditanggung pembaca masing-masing ya!

***

Baiklah.

Inilah beritanya.

YANG PERTAMA adalah tentang kehebohan di salah satu tower apartemen di kawasan tempatku sedang tinggal. Syukurlah, kejadiannya bukan di tower-ku, melainkan di tower lain.

Alhamdulillah, tower tempatku tinggal kebanyakan dihuni oleh keluarga. Lokasinya juga persis sebelahan dengan AEON, sehingga menurutku sangat convenient dan nyaman untuk aktivitas sehari-hari.

Nah, sementara itu, tower yang belakangan heboh letaknya sekitar 500–600 meter dari tempatku. Sebut saja Tower Jervois, Leonie, dan Kensington.

Sudah cukup lama aku mendengar berbagai cerita miring mengenai ketiga tower tersebut, terutama Tower Leonie. Salah satu alasannya mungkin karena unit apartemen di sana rata-rata berukuran kecil, banyak yang tipe studio, sehingga keluarga dengan anak biasanya lebih memilih tower tempatku tinggal.

Penghuni Tower J, K, dan L kabarnya lebih banyak yang masih single, mahasiswa-mahasiswi, karyawan, atau bapack-bapack yang sedang menjalani kehidupan LDM.

Beberapa penghuninya sendiri bahkan sudah lama mengeluhkan kondisi di sana. Katanya, hampir setiap hari ada saja orang-orang bentukan “jamet” keluar masuk, pasangan anak muda yang datang berdua, dan berbagai pemandangan lain yang membuat sebagian penghuni merasa tidak nyaman. Orang-orang ini datang ke apartemen dan menyewa kamar hanya untuk beberapa jam. Tentu saja para penghuni tower tersebut punya prasangka buruk dong. Mereka tak mau juga tower-nya bertransformasi menjadi sebuah brothel.

Btw, aku tak tahu persis apakah arti dari kata JAMET. Istilah itu murni aku dengar dari cerita orang-orang yang tinggal di sana.

Lalu, baru sekitar dua atau tiga hari yang lalu, terjadi sebuah drama di lobby Tower Leonie.

Seorang istri memergoki suaminya keluar dari lift bersama perempuan lain.

Dan…

tentu saja ada yang memvideokan.

Videonya kemudian cukup ramai beredar di Threads. Di sana terlihat sang istri ngamoek, menjambak perempuan yang bersama suaminya, sambil meneriakkan aneka kosakata kebun binatang.

Aku yang melihat videonya cuma bisa terbengong-bengong.

Dulu kalau melihat video beginian di sosmed, rasanya selalu seperti kejadian di dunia lain. Jauh. Tidak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hariku.

Sekarang…

lha kok lokasinya cuma beberapa ratus meter dari tempatku tinggal.

Plengerrr.

***

Ohya, pernah suatu ketika suamiku penasaran dan ingin membuktikan sendiri isu-isu miring mengenai tower-tower tersebut.

Caranya bagaimana, hayooo?

Plengerrr memang nih suamiku.

Dia men-download aplikasi MiChat.

Sungguh, aku malah baru tahu seperti apa MiChat gara-gara diperlihatkan oleh suamiku. Dasar memang bapack-bapack, tahuuu aja aplikasi beginian, yachhh. Hmmmm.

Di aplikasi itu terlihat daftar panjang profil dengan foto-foto perempuan beserta lokasinya. Semuanya diurutkan berdasarkan jarak yang paling dekat dari posisi kami saat itu.

Dan yappp…

terpampang nyata beberapa profil dengan lokasi sekitar 600 meter dari tempat kami.

Aku langsung mikir,

β€œLah, 600 meter?”

Ehehehe.

Ya itu mah kemungkinan besar area Tower J, K, atau L.

Setelah rasa penasaran suamiku terpuaskan, aku pun bertanya dengan sangat santai (atau berusaha terdengar santai)….

β€œItu aplikasinya mau di-uninstall, kan?”

Syukurlah jawabannya iya.

Katanya memang murni cuma iseng ingin mengecek apakah cerita yang selama ini beredar tentang tower-tower tersebut ada benarnya atau tidak.

Hmmm.

Baiklah, Bapack.

Aku percaya.

Ahahaha.

Aya-aya wae memang suamiku itu.

***

Lalu datanglah JUICY GOSSIP yang KEDUA.

Dan menurutku, yang ini levelnya lebih…

plengerrrrr.

Ceritanya mengenai dua teman kantor suamiku.

Tahukah, dua-duanya adalah tipe bapack-bapack yang kalau dilihat dari luar sangatlah kebapakan.

Family man.

Pendiam.

Polos.

Isi Instagram pun dipenuhi foto dan video bersama istri serta anak-anaknya.

Pokoknya kalau melihat media sosial mereka, kita akan berpikir,

β€œAduhhh, so sweet banget keluarga ini.”

Ternyata oh ternyata….

PLENGERRR juga.

😭😭😭

Bagaikan pepatah, β€œair tenang menghanyutkan.” Meneng ngglendem ihhh.

Yang membuat ceritanya semakin menggelegar, dua-duanya ternyata sama-sama terpincut oleh perempuan Thailand.

Kebetulan, mereka memang sedang mendapatkan penugasan sebagai ekspat di negara tersebut.

Yang satu, sang istri mulai mencium adanya anomali dan langsung sat-set mengambil tindakan.

Sedangkan pada kasus yang satunya lagi… perempuannya sampai hamil. Ddoeengggg.

Aku sampai bengong.

Plot twist-nya belum selesai.

Yang satu kemudian resign.

Yang satunya lagi dipecat.

Dahlah.

Harusnya dari awal berpegang teguh pada motto klasik:

“Don’t shit where you eat” atuch lah, Bapack-Bapack. 😭

Aku dan suamiku, yang pada dasarnya adalah bestie super ikrib sekaligus partner tetap dalam sesi nggosipin orang, akhirnya cuma saling bertanya:

β€œWuahhh… kok dua-duanya Thailand?”

Ada apa dengan perempuan Thailand sampai dua bapack family man nan baik dan polos ini sama-sama terpincut?

Hmmm.

Tapi setelah dipikir-pikir lagi…

sudahlah.

Sepertinya ini bukan topik yang perlu kami riset lebih mendalam.

Tidak ada manfaat akademisnya pun.

Huhuhuhu.

Mom's Life

Natur E Dulu dan Sekarang

Sebagai pengguna suplemen-suplemen-an sejak dahulu kala, aku selalu berusaha membaca detail benefit dan tentu saja bahan-bahannya.

Saat kecil, aku dikenalkan minum suplemen oleh Eyang Putri-ku. Pokoknya selalu ada saja jenis vitamin yang dikonsumsi Eyang Putri. Aku juga rutin dikasi Eyang Putri setiap hari, yakni Kalzana D, kata Eyang biar tulangku kuat, karena Kalzana D ini kandungannya kalsium dan vitamin D. Waktu itu aku gak membaca tulisan yang tertera di kemasan, aku fully percaya sama Eyang Putri. Di mataku, Eyang Putri paling top dan tahu segalanya mengenai kesehatan.

Aku juga melihat Eyang mengkonsumsi Natur E, tapi waktu itu aku belom pernah merasakannya. Eyang bilang itu untuk perempuan dewasa.

***

Lalu tibalah saat aku sudah kuliah tingkat akhir gitu, pokoknya pas aku sudah mulai sibuk TA. Menginjak semester 7, tampaknya aku lebih memikirkan “dalaman”-ku, jadi aku putuskan untuk memperhatikan asupan yang aku konsumsi. Dan aku teringat dengan Natur-E ini, harganya pun gak mahal.

Seingatku dengan uang bulananku, aku bisa membeli 1 box-nya. Dan aku hanya meminumnya sehari sekali saja.

***

Long story short, aku menjalani kehidupanku, dan bertemu serta berkenalan dengan orang-orang baru.

Ada satu teman baruku yang waktu itu mengajakku makan di Javan Steak, yang waktu itu berlokasi di Jalan Sulanjana. Aku tentu saja mau. Dan ternyata dia bilang dia mau menanyakan sesuatu.

“Uril, kamu minum apa biar jadi cantik gitu?”

Ohya, jangan dikira ini pertanyaan cewek ya, ini cowok yang nanya.

Aku seketika gelagapan dan hampir keselek. Karena pertanyaannya aneh, keluar dari mulut laki-laki. Aku paham kok dia gak feminin dan gak melambai, paham kan maksudku. Bukan yang type gay gitu.

Di sisi lain, aku juga tersanjung…. karena dibilang syantik. Alhamdulillah.

***

Sepertinya dia tahu aku kebingungan, dan dia segera nambahin,

“Kalo gak mau jawab gapapa, Ril.”

Nah disitulah aku mulai mengerti ke mana arah pertanyaannya. Asumsiku, dia punya pacar, dan pengen ngasi info ini.

Dengan kekuatan cahaya yang secepat kilat, aku menjawabnya, “Natur E!“

Aku gak mau gatekeeping ya, dan ternyata kalau di mata orang lain, ikhtiarku minum Natur E ternyata membuahkan hasil, alhamdulillah. Dan aku mau banget lah berbagi info ini karena khasiatnya berarti approved!

Btw apa kabar temanku itu ya? Apakah sekarang dia tetap terus bersama kekasihnya? Ahh yang penting semoga yang terbaik buatnya.

***

Seiring berjalannya waktu, aku tak lagi minum Natur E, nah barusan sekarang aku ingat lagi eksistensi Natur E ini.

Pasca era Kazakhstan, aku hunting suplemen-suplemen yang tepat dan insha Allah bagus buatku. Di Kazakhstan, aku minum yang ada di apotek sana saja.

Karena aku sekarang sudah di Indonesia, aku membaca review-review, cek ricek di marketplace, dan… riset lah intinya.

Akhirnya taadaaa, ditambah berkat memori masa laluku itu, aku menjatuhkan pilihan ke Natur E yang ingredients utamanya adalah vitamin E, buah zaitun, dan glutathione. Uhhh terasa promising untukku.

Regimen suplemenku saat ini adalah:

Pagi setelah sarapan: vitamin D3K2 dan omega 3

Siang setelah makan: Natur E

Malam sebelum tidur: Kinohimitsu collagen

***

Baiklah. Sekian.

Mom's Life · Social Observation

Perbedaan

Di sebuah coffee shop beberapa hari yang lalu:

Aku: “Mas, saya mau ice americano ya, jangan manis ya, Mas, no sugar.”

Mas-mas-nya: “Yang size apa, Kak?”

Aku: “Large ya Mas.” (aku berniat mau belajar jadi harus melek mata ini, perlu banyak asupan kopi)

Mas-mas-nya: “Baik, Kak, atas nama Kak siapa?”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Kakak Nur.”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Teh Nur.”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Umm baik Bu Nur.”

Ingin rasanya ku bilang pada Mas-mas-nya supaya tetap melihat-lihat bagaimana penampakan customer-nya, jangan semua-semua dipanggil “Kakak” atuh. Terutama melihat Mas-mas-nya yang mungkin masih berusia 20an. Jaraknya jauhh beut, bagaikan bude dengan keponakannya.

Itulah yang aku pikirkan ketika aku berinteraksi di Indonesia dengan saudara sebangsa setanah air.

Namun bisa berbeda ceritanya ketika aku berinteraksi dengan teman-temanku di Kazakhstan, pasalnya mereka kebanyakan Gen Z juga, tapi aku tidak keberatan ketika mereka memanggilku dengan namaku langsung “Uril” atau “Nurilla”.

***

Mungkin karena sejak awal konteks budayanya memang berbeda. Cara memandang usia, kedekatan, dan bentuk penghormatan juga tak sama. Sesuatu yang kalau dilakukan di satu budaya terasa terlalu akrab atau kurang sopan, di budaya lain bisa terasa sangat normal.

Begitulah tradisi dan budaya. Kadang bedanya muncul bukan dalam hal-hal besar, tapi dari sesuatu sesederhana satu kata sapaan.

***

***

***

FIN.

Mom's Life · Social Observation · Tantangan MGN

Fake It ‘Till You Make It Bersama Youtube

Tinggal di sebuah kota kecil terpencil di Kazakhstan ternyata tidak sepenuhnya selowwww.

Salah satu hal yang paliiing challenging bagiku adalah nge-blend dengan komunitas Mamahs ekspat. Pasalnya, ini bukan sesuatu yang bisa sepenuhnya kuhindari. Andaikan aku memilih tak ikut gabung pun, kami tetap akan bertemu di berbagai acara.

Para Mamahs ekspat di kota kecil ini ditakdirkan untuk berjumpa di mana-mana. Sekolah internasional cuma ada satu, kompleks tempat tinggal pun hanya itu-itu saja. Jadi, fenomena β€œlo lagi, lo lagi” adalah sebuah keniscayaan.

Murid di sekolah anakku memang tidak banyak. Sepertinya karena itulah tingkat keterlibatan ortunya luar biasa. Level para school moms di sini lebih serius dari sebuah WAG. Organisasinya resmi, lengkap dengan struktur kepengurusan, program kerja, fundraising, dan iuran yang legit.

Jika ada Mamah yang punya skill, seperti merajut atau fabric painting misalnya, beliau dipersilahkan membuka kelas dan menjadi pembimbing ekskul. Mamah yang memiliki background science atau engineering bisa diminta menjadi guru pengganti ketika ada guru yang tidak masuk. Ada pula momen ketika Mamah diminta menjadi storyteller di kelas anak masing-masing.

Setiap kali datang ke sekolah untuk bertemu guru atau kepala sekolah, aku selalu melihat adaaa saja beberapa Mamahs yang sedang ngumpul. Bisa dibilang, sekolah adalah rumah kedua bagi para Mamahs ekspat.

***

Meskipun tanggal merah di Kazakhstan tidak sebanyak di Indonesia karena negara tak terlalu ikut mengurusi perayaan keagamaan semua agama; tapi jangan dikira acaranya jadi sedikit. Tetap saja banyak sekali.

Ada Halloween, Easter Egg Hunt, International Day, acara serba buku, masak bersama, dan berbagai versi Family Day yang dikemas dengan judul yang beragam. Belum lagi acara tradisi budaya berbagai negara: Nauryz, festival Irlandia, hingga Bollywood Party.

Social lyfe ini pun tak berhenti di sekolah. Hampir semua ekspat tinggal di kompleks yang sama. Ketika tak ada acara sekolah, para Mamahs membuat acara sendiri: olahraga bareng, coffee shop hopping, barbeque-an, atau cangkrukan sambil ngobrol ngalor-ngidul dan haha-hihi di gazebo yang ada di tengah kompleks.

Para bapack-bapack yang sibuk bekerja hampir 24/7 pun meng-iri, nyeletuk,

β€œKerjaan emak-emak enak bener yach, nongkrooooong terus.”

Terbayang, kan, seberapa dekatnya para Mamahs ekspat di sini?

***

Menghindari komunitas ini artinya bukan cuma melewatkan ngopi-ngopi. Bisa-bisa aku tak update segala informasi, kehilangan konteks pergaulan anak, atau berkelanjutan jadi stranger yang hanya muncul saat PTC. Tatapan dengan ekspresi, β€œWho the h3ll is she?!” akan terlihat di banyak wajah Mamahs.

Jika aku hanya berdiri bengong, hahh-hehh-hohh, lalu berharap ada yang nyamperin, mungkin sampai lebaran kuda pun tak akan terjadi.

Jadi, dekat dengan Mamahs ekspat itu somehow a MUST!

***

Nah, di sinilah manusia pendiam, socially awkward, dan introvert sepertiku ditantang habis-habisan.

***

Tunjukkan Pada Dunia!

Seiring berjalannya waktu, melalui observasi singkat nan padat; aku menyadari bahwa setidaknya kita perlu punya sesuatu untuk β€œditawarkan” agar bisa nyemplung ke dalam percakapan yang gayeng dan awet.

Tentu saja, bukan berarti harus menjadi orang paling hebat. Kita hanya perlu memperlihatkan bahwa kita punya “kehidupan”, minat, pengetahuan, skill.

Jika suka memasak, datanglah ke acara barbeque sambil membawa masakan andalan!

Jika antusias gerak, ikutlah sesi olahraga bareng dan lakukan dengan energi totalitas, yang pokoknya bisa bikin Mamahs ter-wow-wow!

Jika suka membaca, tunjukkan ke-book-worm-an itu! Sering nongol di WAG merekomendasikan bacaan yang relatable dengan kehidupan Mamahs, tak lupa sempilin “ini buku ke-23 yang kubaca di tahun ini, target buku tahun ini adalah 50 buku”.

Pokoknya, punya apa, bisa apa; tunjukkan ke dunia! —- ehh ke Mamahs!

***

Sejak itu, aku tak mau diam saja di rumah. Mamahs harus tahu kalau aku juga bisa dan tahu ini itu, bersemangat mencoba hal baru dan berani. Jadi begitu ada info tentang kelas painting, trip ke alam; aku auto mendaftar.

***

Sebenarnya, sebelum dekat dengan komunitas Mamahs ekspat, aku sudah lebih dulu berkawan dengan beberapa warlok. Pertemanan dengan mereka terasa lebih organik. Kami dekat karena cocok naturally.

Sementara itu, kedekatan dengan Mamahs ekspat awalnya terasa seperti bagian dari SISTEM. Mau tidak mau, kami akan terus bertemu.

Dan pertemanan dengan warlok inilah –dipadu dengan kebiasaan nyecroll Youtube– yang nantinya menjadi β€œmodal sosial”-ku untuk masuk ke lingkungan Mamahs ekspat.

***

Tiada Hari Tanpa YouTube

Jiwa ambis yang meronta-ronta membuatku β€œlapar”. Aku ingin jadi yang T.O.P di kelas painting! Setiap hari aku mencari tutorial di YouTube dan aku berhasil membuat beberapa lukisan yang dengan bangga ku-flexing-kan di sosmed dan kupajang di buffet rumah. Guru painting-ku pun memujiku.

Aku yang seumur-umur jarang menggambar, apalagi melukis di atas kanvas, sampai ikut terheran-heran. Kok bisa?

Hhmmm you have no idea what you’re capable of until you try memang betul adanya.

YouTube memang paling cocok dengan caraku belajar. Aku suka mempelajari sesuatu dalam durasi yang panjang, tidak sepotong-sepotong seperti Reels. Aku ingin bisa mengikuti penjelasan dari awal, mengulang bagian yang belum kupahami, lalu praktek sampai ngelotok.

***

Jadi inilah jawabanku untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Agustus bertema β€œAplikasi Favorit”, bersama Mamah Host Laksita: YouTube!

***

Tidak hanya melukis. YouTube juga menjadi tempatku mencari tutorial makeup, OOTD, ide kostum anak untuk acara sekolah, referensi dekorasi, home workout, masak memasak, latihan dance, dan masih banyak lagi.

Pernah aku datang ke sebuah acara dengan riasan Arabic yang cetar hasil meniru dari YouTube, Mamahs ekspat melihatku dengan ter-wow-wow. Dampaknya dahsyat. Begitu pula ketika aku dandanin anakku berkostum gangster Birmingham era 1920an.

***

Cukup Cas Cis Cus

Kemudian ada Duolingo si burung hantu hijau linguist yang superrr bawel mengingatkanku untuk belajar senantiasa.

Nyaris tanpa skip, setiap hari aku memantabbkan bahasa Rusia-ku. Dengan bantuan buku dan YouTube, aku cukup cas cis cus untuk level beginner dan daily conversation.

Kemampuan ini jugalah yang memperluas circle pertemananku dengan warlok. Dari POV orang lain, interaksi kami mungkin lucuuu banget. Teman-temanku itu ingin bisa berbahasa Inggris, jadi kami saling mengajari. Kalau ada kata atau kalimat bahasa Rusia yang lupa atau tak kupahami, mereka akan menjelaskannya. Begitu juga sebaliknya.

Lalu apa fungsinya di mata Mamahs ekspat?

Nah, ini dia!

Ketika kami grocery shopping atau ke kafe, lalu mereka melihatku berbicara luwes dengan pegawainya, wajah mereka tampak sangat amazed.

β€œWow, Uril, kamu les, ya? Aku endak ngerti, lhooo, tadi kamu sama mereka ngobrol apa saja selama itu.”

Kemampuan ini menjadi nilai plus plus di mata Mamahs ekspat.

***

Party Mom

Ohya kawan-kawan warlokku sering mengajakku ke club malam. Di sini, tempat clubbing-nya cukup banyak dan meriah euy. Aku pun diajari nge-dance oleh mereka. Dari yang awalnya kaku, lama-lama aku bisa lemesin shayyy.

Meskipun goyangan pinggulku belum selihai Shakira… hips don’t lie ehhhh, aku jelas ambis dan anti terlihat payah. Dan Youtube to the rescue! As always.

Akhirnya aku menemukan channel yang klik banget. Judul videonya β€œLatihan Dance di Club buat Perempuan 40-an”. Kok ya pas banget buatku ya. Gerakannya dijelaskan step by step dengan sangat mudah.

Kisah petualanganku ini kemudian menyebar sampai ke telinga Mamahs ekspat dengan branding “party mom“.

Setiap kali Mamahs ngumpul dan bingung mau pergi ke mana, mereka keidean, β€œYokk, ladies’ night out! Uril, enaknya kita ke mana?”

Berkat pengalamanku menyambangi club-club, aku punya informasi tentang kisaran harga, do’s and don’ts, karakter bar-nya, jenis pengunjungnya, hingga genre yang biasa dibawakan DJ. Uwahhhh, sungguh senang sekali bisa menjadi β€œpusat pengetahuan berjalan”.

Kalau ada Mamah yang ingin sekedar nge-dance santai, mereka akan WA dan mengajakku.

***

Survival Kit

Dari seluruh pengalaman ini, aplikasi Youtube adalah salah satu “survival kit” utamaku. Terima kasih Youtube (beserta para content creator dan seluruh elemennya).

Fake it ’till you make it!

Alhamdulillah segala struggle itu tak sia-sia. Aku memperoleh ketrampilan dan pengetahuan baru, juga mendapat banyak teman. Setelah mengenal Mamahs ekspat lebih dekat, banyak di antaranya menjadi teman akrab yang tulus.

Dan ternyata, punya banyak teman itu menyenangkan.

Pengalaman ini juga membuatku tak se-pemalu dan se-introvert dulu. Aku menjadi lebih terbuka dan tidak nunak-nunuk ataupun awkward lagi.

***

***

***

Body, Mind, Soul · Random

Rindu yang Kubawa Pulang

Sudah sebulan berlalu sejak kutinggalkan Kazakhstan. Tak kusangka, ternyata aku bisa segembira ini kembali ke Indonesia.

Pasalnya, saat meninggalkan Kazakhstan, aku sangaaat meng-sedih. Hiks. Rasanya seperti kehilangan banyak hal baik dan indah yang selama ini menjadi bagian dari keseharianku.

Begitu landing di Indonesia, hawa Kazakhstan masih tertinggal di dalam hati. Hanya di dalam hati, tentu saja. Sebab, melalui kelima indra, jelas sekali aku sudah berada di Indonesia. Polusi, keramaian, isi obrolan orang-orang di sekitar, semrawutnya lalu lintas, langit yang tidak biru, pengalaman menyeberang jalan yang tidak santai, dan lain sebagainya.

Aku juga merindukan teman-temanku di sana. Kangen ngopi bersama, belanja ke pasar bareng, clubbing bareng, ikut kelas melukis, dan banyaaak lagi. Hari-hariku di Kazakhstan akan selalu menjadi bagian hidup yang sangat memorable bagiku.

Hiks. Hiks.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, aku mulai menjalani aktivitas baru di BSD. Pada minggu-minggu pertama, aku sempat mengalami reverse culture shock. Aku banyak membandingkan ini dan itu, dan dalam beberapa perkara, jelas Kazakhstan lebih unggul. Ehehe.

Plis, ini ugly truth, ya. Jangan denial. Justru harus diterima dengan lapang dada dan besar hati supaya kita bisa memahami bagian mana yang memang perlu diperbaiki.

Namun, alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan ritme baru. Perlahan-lahan, hal-hal yang awalnya terasa asing kembali terasa ikrib. Dan sekarang, hanya rasa syukur yang ingin kupanjatkan padaNya.

Aku senang dengan rutinitasku yang tak lagi amburadul. Bangun pukul empat pagi, sholat, sarapan, jalan pagi, mandi, berolahraga, lalu menjalani berbagai kegiatan sampai akhirnya tidur sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam.

Di Kazakhstan, aku kesulitan bangun dan tidur pada jam yang sama setiap hari. Pergantian musim dan durasi siang-malam yang terus berubah sering membuat ritme tubuhku ikut berantakan. Ketika kupaksakan untuk tidur dan bangun pada jam yang sama, tubuhku tidak selalu bisa memprosesnya dengan mudah.

Exhausted.

Di Indonesia, aku juga senang sekali bisa mendengarkan adzan secara langsung. Waktu sholat terasa lebih familiar dan perubahannya tidak sedrastis di Kazakhstan. Dulu, aku harus rutin mengecek aplikasi di HP untuk mengetahui jadwal sholat setiap hari. Sekarang, suara adzan dari masjid sudah menjadi pengingat alami, sekaligus suara yang ternyata begitu kurindukan.

Urusan makanan tentu saja ikut membuatku bersukacita. Uhuyyy.

Setiap hari aku diberi karunia untuk memilih dan menikmati berbagai jenis masakan enaaak melalui GoFood. Atau kalo ingin jalan sedikit, ada AEON yang hanya berjarak dua menit dari tempat tinggalku sekarang. Benar-benar sebelahan persis, soalnya. Ehehe.

Belum lagi deretan tempat menarik untuk cafΓ© hopping di seantero BSD dan Gading Serpong. Pilihannya banyak, tempatnya lucu-lucu, makanannya menggoda, dan semuanya seperti manggil-manggil.

Aku juga memulai rutinitas nyalon: creambath, spa, luluran, dan pijat secara berkala. Aku juga sudah sign up ke dokter estetika di sebuah klinik kecantikan.

Kemewahan-kemewahan kecil semacam ini tidak bisa kulakukan dengan leluasa di Kazakhstan. Selain karena muahaal, lumayan susah juga menemukan yang cucokk

Lalu, tentu saja, aku ikut FOMO main padel. Ehehe. Di BSD, tempat padel berjajar di mana-mana. Bagus-bagus pula. Sayangnya, aku masih belum luwes. Masih nunak-nunuk mengejar bola, salah posisi, telat mengayunkan raket, dan belum bisa mengembalikan bola dengan baik.

Hal ini sukses membuat suamiku kesyall dan syeball.

Baginya, sudah bayar lapangan mahal untuk satu jam, eh, lawan mainnya tak bisa menangkap arah bola. Namun, namanya juga belajar. Siapa tahu setelah beberapa kali bermain, aku bisa terlihat sedikit lebih atletis dan tidak hanya sibuk menghindari tampek’an bola dari suami.

Selain semua kesenangan kecil itu, suami dan anakku juga terlihat semakin sumringah sejak kembali ke tanah air. Melihat mereka berdua menjalani hari dengan bahagia membuat kebahagiaanku ikut bertambah.

Ternyata, pulang tidak serta-merta menghapus kerinduanku pada Kazakhstan. Aku masih merindukan teman-temanku, langit birunya, keteraturan kotanya, dan my good lyfe di sana.

Namun, perlahan-lahan aku memahami bahwa merindukan kehidupan lama tidak membuatku kurang bersyukur atas kehidupan yang sekarang. Dua perasaan itu bisa tinggal bersama-sama.

Begitulah update kehidupanku saat ini.

Byeeeee….

Body, Mind, Soul · Memori & Nostalgia

Momen Salah

Yahhh, aku gak ikutan Tantangan Juli huhu. Padahal temanya cucok banget yakni “MOMEN SALAH” dan sebenarnya aku sudah menyiapkan apa yang akan kutulis. Bahkan, hal yang ingin kutuliskan itu terjadi bersamaan dengan momen yang sedang aku alami. Jadi rasanya seperti semesta sudah menyiapkan bahan tulisannya tepat di depan mata. Tinggal duduk, buka laptop, lalu menuliskan semuanya.

Tapi apa daya, di tengah proses pindahan, perjalanan, unpacking, adaptasi, dan segala macam urusan kehidupan nyata, tulisan itu akhirnya hanya tertumpuk di kepala.

Padahal kalau sempat kutulis saat itu juga, mungkin emosinya akan terasa lebih raw, basah dan lebih penuh air mata. Namun ya sudahlah. Meski terlambat, ceritanya tetep ingin kusimpan. Setidaknya agar momen-momen kecil ini tidak menguap begitu saja dan hilang ditelan kesibukan.

***

Hari terakhir aku berada di Atyrau, di sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara, aku sengaja memperlambat pandanganku. Rasanya aku memencet tombol β€œslow mode” di dalam kepala. Aku ingin merekam semuanya dengan lebih pelan dan lebih lama.

Atyrau-ku sayang. 😦

Di siang yang cerah dan panas itu, aku justru merasa hampa dan dingin. Air mataku tentu saja menetes. Gak nyangka, hampir tiga tahun ternyata terasa begitu cepat. Padahal saat menjalaninya, ada hari-hari yang terasa panjang, dingin, dan melelahkan. Tapi ketika semuanya benar-benar berakhir, waktu yang panjang itu mendadak terasa seperti kilatan cahaya yang lewat begitu saja.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, aku memang bertekad untuk menikmati setiap detiknya. Aku tahu sejak awal bahwa masa tinggal kami di Atyrau tidak akan selamanya. Karena itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyia-nyiakan apa pun yang bisa kulihat, kurasakan, dan kualami.

Aku ingin menikmati musim dinginnya, yang sering menusuk sampai ke tulang. Aku ingin menikmati musim panasnya yang terik dengan langit biru luas tanpa batas. Aku ingin mengingat jalan-jalan yang kami lewati, kafe-kafe yang kami datangi, sungai Ural yang tenang, teman-teman yang datang dari berbagai negara, dan orang-orang lokal yang awalnya terasa asing, tetapi lama-lama begitu ikrib.

Alhamdulillah, pada hari terakhir itu, meskipun sedih berderai air mata dan misek-misek, hatiku terasa penuh dan hangat. Tak ada yang kusesali. Tak ada pikiran, β€œOh ya, aku harusnya gini,” atau, β€œaku harusnya gitu”. Tidak ada hal yang menggantung atau membebaniku.

Aku merasa sudah benar-benar hadir selama tinggal di sana.

Aku sudah menikmati Atyrau dengan caraku. Aku berjalan, berteman, tertawa, menangis, belajar, mencoba hal baru, jatuh cinta pada kota itu, dan membiarkan kota tersebut membentuk sebagian dari diriku.

Terima kasih banyak, Atyrau.

Aku bakal kangeeeen banget sama kota ini. Hiks hiks hiks hiks.

Aku gak tahu apakah suatu saat nanti aku akan ditakdirkan bisa kembali berkunjung ke Atyrau. Entah hanya untuk beberapa hari, entah untuk melihat tempat-tempat lama, entah untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang kusayangi di sana. Aku gak tahu.

Aku manut saja dan menyerahkan semuanya kepada Sang Maha Pembuat Skenario Hidup.

Kalau memang jalanku akan kembali ke sana, semoga Atyrau masih mau menyambutku seperti dulu. Namun kalau ternyata tidak, setidaknya aku sudah pernah diberi kesempatan untuk hidup di sana, mencintainya, dan membawa sebagian kecil Atyrau pulang di dalam hatiku.

***

Sesampainya di bandara, ternyata rameee banget. Hari itu hari Jumat dan sedang summer holiday. Banyak keluarga bepergian untuk berlibur. Koper-koper besar, anak-anak kecil yang berlarian, orang-orang yang berpelukan, dan suara pengumuman penerbangan bercampur jadi satu.

Aku dan keluarga kecilku terbang dari Atyrau menuju Istanbul. Dari Istanbul, barulah kami langsung cusss menuju Jakarta.

Long story short, kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada hari Sabtu sehabis Maghrib.

Ahhh, senangnya.

Aku akhirnya bisa menggunakan parameter waktu ini lagi begitu menginjakkan kaki di tanah air.

β€œHabis Maghrib.”

β€œSebelum Dzuhur.”

β€œSetelah Isya.”

Ehehehe.

Di Kazakhstan, jelas aku gak bisa menggunakan ancer-ancer seperti itu. Waktu salat berubah-ubah mengikuti musim. Di Indonesia, ritmenya terasa begitu familiar, stabil, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Tentu saja aku bersorak gembira melihat Indonesia.

Namun aku juga langsung menyadari bahwa langit Jakarta gak seindah, sejernih, dan sebiru langit Atyrau. Di Jakarta, kemegahan langit seolah tertutup lapisan abu-abu yang merupakan akumulasi asap, debu, polusi, kelembapan, dan entah apa lagi.

Pantas saja, berfoto di Kazakhstan bisa menghasilkan jepretan yang begitu memukau, meskipun hanya memakai kamera HP dan tanpa banyak usaha. Kayaknya salah satu penyebabnya memang ini: perbedaan visual langit, cahaya, dan kualitas udara.

Di Kazakhstan, objek biasa bisa terlihat sinematik. Jalanan biasa, gedung tua, salju tipis, atau sekadar pohon tanpa daun bisa terlihat seperti adegan film. Sementara di Indonesia, mau foto bagus kadang harus mencari pencahayaan yang tepat, angle yang tepat ehehe.

Tapi tak apa.

Heyyy, aku sudah sampai di negaraku sendiri.

Itu artinya aku kembali bisa menikmati makanan-makanan lezat yang selama ini kurindukan. Berbagai makanan yang dulu kuanggep biasa saja, tetapi selama tinggal di Kazakhstan berubah menjadi kemewahan emosional.

Pak Suami pernah bilang, β€œDi Kazakhstan, kalau stress kerjaan, gak ada obatnya, Mam. Tapi kalau di Indonesia, pas stress aku bisa makan enak, dan itu bisa mengobati stress-ku.”

Begitu kembali ke Indonesia, Pak Suami sueneeeeeng pol bisa bekerja lagi di sini.

Aku gak menafikan bahwa beliau memang gak bisa mencintai Kazakhstan sepenuh hati seperti aku. Situasi kerjanya di sana sangaaat demanding dan high pressure. Pak Suami stress banget selama di sana, sampai area bawah mata kanannya sering mengalami spasm atau kedutan yang gak berhenti-berhenti.

Owalah, kasihannya Suamiku.

Kalau aku bisa menikmati Atyrau dari sisi pertemanan, pemandangan, pengalaman baru, dan kehidupan sebagai ibu ekspat, maka Pak Suami menjalani sisi lain yang jauh lebih berat: tuntutan pekerjaan, tekanan, tanggung jawab besar, dan hari-hari yang menguras energi.

Jadi wajar kalau ketika sampai Indonesia, senyum Pak Suami terlihat lebih lepas. Seolah ada beban yang ikut tertinggal di negeri jauh itu.

***

Nah, setelah pulang ke Indonesia, mulailah terjadi beberapa β€œmomen salah”.

Momen salah pertama yang kualami adalah ketika makan di sebuah kedai. Aku memanggil Mba pegawainya dengan kalimat,

β€œΠ˜Π·Π²ΠΈΠ½ΠΈ, Π΄Π΅Π²ΡƒΡˆΠΊΠ°.”

Izvini, devushka.

Yang artinya, β€œPermisi, Mbak.”

Kalimat itu meluncur spontan uhuyyy tanpa melalui proses berpikir. Baru beberapa detik kemudian aku tersadar.

Lhooo aku kan sudah di Indonesia.

*

Momen salah kedua adalah ketika aku naik taksi. Begitu masuk dan menutup pintu, aku dengan mantap berkata kepada Bapak Sopir,

β€œΠ—Π΄Ρ€Π°Π²ΡΡ‚Π²ΡƒΠΉΡ‚Π΅.”

Zdravstvuite.

Itu adalah kata sapaan sehari-hari yang digunakan di Kazakhstan. Semacam β€œhalo” atau β€œselamat siang” dalam bentuk yang sopan.

Lagi-lagi, kata itu keluar otomatis. Bapak Sopir mungkin mengira penumpangnya habis pulang kursus bahasa Rusia atau sedang sok internesyenel wkwkwk.

*

Momen salah ketiga adalah aku berkali-kali mengucapkan,

β€œΠ‘ΠΏΠ°ΡΠΈΠ±ΠΎ.”

Spasiba.

Setiap kali berterima kasih kepada orang.

Kepada kasir, kepada petugas, kepada pegawai restoran, kepada sopir, kepada siapa saja.

Aku baru sadar setelah kata itu sudah telanjur keluar. Kadang langsung kusambung dengan, β€œEh, makasih.”

Jadi bunyinya malah,

β€œSpasiba… eh, makasih, Pak.”

*

Momen salah keempat adalah aku terlalu pede saat mau menyeberang jalan ehehehe.

Di Kazakhstan, para pejalan kaki benar-benar dimuliakan. Mobil-mobil akan melambat dan berhenti. Bahkan banyak orang menyeberang tanpa tengok kanan-kiri terlebih dulu karena mereka yakin kendaraan akan memberikan jalan.

Nah, kebiasaan itu rupanya masih melekat saat aku kembali ke Indonesia.

Aku hampir saja menyeberang dengan tingkat kepercayaan diri warga Atyrau.

Untung otakku segera mengingatkan:

β€œHei, ini Indonesia!”

Di sini pejalan kaki yang harus mengalah. Bahkan menyeberang saat lampu kendaraan sudah merah pun tetap harus tengok kanan-kiri, karena suka ada motor yang tetap ndableg melaju meskipun lampunya sudah jelas-jelas merah.

*

Semua momen yang berhubungan dengan bahasa itu terjadi selama kurang lebih seminggu pertama sejak aku mendarat di CGK.

Masya Allah, sebegitu ngelotoknya budaya Atyrau di dalam hati, jiwa, pikiran, tubuh, dan refleksku.

Rupanya tiga tahun cukup untuk membuat tubuh memiliki memori sendiri. Mulut, langkah kaki, cara melihat jalan, cara menyapa orang, bahkan cara menentukan waktu, semuanya sempat terbentuk oleh kehidupan di sana.

Oh ya, sekarang pun aku dengan mantabbb mengenalkan diriku dengan nama:

β€œIBUK NUR.”

Bukan lagi Sri atau Uril.

Selama di Kazakhstan, nama β€œNur” terdengar sangat common, familiar, dan indah. Banyak sekali nama orang di sana yang menggunakan unsur β€œNur”. Tiba-tiba nama yang sejak dulu kurasa sangat ndeso itu justru terdengar cantik ketika diucapkan oleh orang-orang Kazakhstan.

Jadi sekarang aku ingin embrace nama ndeso-ku itu.

Halo, aku IBUK NUR.

Ehehehe.

***

Saat ini, aku sudah gak terlalu bersedih lagi.

Alhamdulillah, betapa convenient-nya tinggal di Indonesia, tepatnya di BSD. Segala sesuatu yang kami butuhkan tersedia. Mau mencari makanan gampang. Mau memesan sesuatu gampang. Mau ke rumah sakit, sekolah, mal, supermarket, salon, tempat olahraga, semuanya dekat dan pilihannya banyak.

Ada habit-habit yang lebih mudah dijalankan karena waktu terasa stabil. Ada azan yang berkumandang. Ada masjid di mana-mana. Ada suara Bahasa Indonesia yang langsung kupahami tanpa harus menerjemahkan di dalam kepala.

Dan entah kenapa, ada rasa senang tersendiri ketika melihat wajah-wajah Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Wajah penjual makanan.

Wajah ibu-ibu yang sedang belanja.

Wajah Bapak ojek.

Wajah anak-anak sekolah.

Wajah orang-orang yang secara budaya terasa begitu familiar.

Suamiku juga makin happy.

Begitu juga anakku.

Masing-masing dari kami punya sesuatu yang dirindukan dari Kazakhstan, tetapi masing-masing juga punya alasan untuk merasa lega dan bahagia setelah kembali ke Indonesia.

Pada akhirnya, pulang bukan berarti menghapus kehidupan yang lama. Pulang bukan berarti aku harus memilih salah satu lalu melupakan yang lain.

Aku cinta Indonesia.

Namun aku juga cinta Kazakhstan.

Aku mencintai Indonesia sebagai tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan selalu bisa merasa pulang.

Aku mencintai Kazakhstan sebagai tempat yang memberiku pengalaman baru, teman-teman baru, keberanian baru, dan versi diriku yang mungkin gak akan lahir kalau aku gak pernah tinggal di sana.

Keduanya memberiku hal yang berbeda.

Keduanya membentukku dengan caranya masing-masing.

Keduanya alhamdulillah.

***

Бпасибо, Π΄ΠΎ свидания! Ehh salah…. Makasiy ya dan see you…..

Body, Mind, Soul · Mom's Life · Social Observation · Tantangan MGN

Farewell, Atyrau

Pagi ini aku memandangi buket bunga di vas yang kini sudah layu, kisut, dan tak lagi harum mewangi. Tapi aku belom ingin membuangnya. Red roses, pink rose, white rose, chrysanthemum, peach roses. Bunga-bunga itu hadiah farewell dari teman-teman ibu expat perantauan yang tinggal di Atyrau, sepuluh hari lalu.

Memandanginya membuatku terharu karena bunga-bunga itu melambangkan cinta, gratitude, pertemanan, memori, dan awal yang baru. Persis merangkum apa yang ada di hati dan pikiranku saat ini.

Hampir 3 tahun aku di sini. Merajut pertemanan, saling tolong-menolong, belajar bahwa senyum dan kindness itu benar-benar bahasa universal. Kami saling menyayangi dan menghargai meski datang dari background yang sangat beragam. Dan setelah hampir tiga tahun itu, semuanya akan menjadi memori indah yang ikut membentuk siapa aku sekarang.

Walaupun sekarang bunganya sudah tidak segar lagi, namun yang membuatku tenang adalah aku masih bisa melihatnya seperti semula lewat foto di gallery HP. Manusia modern bahkan tidak perlu mengingat kenangannya sendiri. Terima kasih, technologia.

***

Waktu pertama kali tahu bahwa kami akan pindah ke Kazakhstan, yang terbayang adalah tantangan. Iklim ekstrem, musim dingin yang bisa tembus minus 20 derajat, musim panas yang menyengat sampai 40 derajat lebih. Makanan yang asing di lidah. Bahasa yang sama sekali tak kumengerti, bahkan aksaranya pun berbeda. Budaya yang belum tentu ramah terhadap pendatang. Aku membayangkan akan struggling beradaptasi, mencari bahan makanan yang cucok dengan lidah Indonesia, terisolasi karena keterbatasan bahasa, merasa asing di negeri orang. Aku sudah siap mental untuk berjuang.

Ternyata aku salah besar.

Yang kutemukan di Atyrau malah adalah komunitas. Warlok Kazakhstan yang kutemui selama tinggal di sini sangat welcoming. Percayalah, apa yang tergambar dalam film “BORAT” sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang kulihat sehari-hari. Banyak dari mereka merasa film itu merendahkan dan tidak merepresentasikan negara mereka. Dan yang tak kuduga sama sekali adalah keberadaan teman-teman sesama perantauan dari berbagai penjuru dunia yang akhirnya menjadi keluarga keduaku selama hampir tiga tahun ini.

***

Saat ini, jelang sebulan menuju kepindahanku meninggalkan Atyrau dan pulang ke tanah air, aku merasakan fifty-fifty, bahagia dan sedih sekaligus.

Aku menghabiskan sisa waktu dengan lebih lekat, lebih lambat. Sampai-sampai di lampu merah pun aku berharap merahnya lebih lama dari biasanya. Aku juga menikmati setiap sudut sekolahan anakku di hari Kamis kemarin yang merupakan hari terakhir para murid masuk sebelum liburan summer.

Hari itu aku menemaninya. Karena memang begitulah hidupku di Atyrau, tak pernah lepas dari kehidupan sekolahan anakku. Teman-teman perantauanku juga adalah sesama ibu-ibu di sekolahan yang sama, anak-anak mereka juga di sana, bahkan sebagian besar dari mereka adalah tetanggaku satu kompleks. Jadi bisa dibayangkan betapa kehidupanku di sini sangat erat terhubung dengan mereka semua.

Di hari terakhir itu, aku menyalami dan memeluk guru-guru serta para staf satu persatu. Sungguh, aku akan sangat merindukan mereka.

Ingat adegan di menit terakhir film “Titanic”, di mana ada realita lain yang para penumpangnya masih hidup semua, tersenyum lebar menikmati cruising, diiringi alunan instrumental flute soundtrack-nya Titanic yang tersohor itu? Mungkin kira-kira seperti itulah aku ketika pulang meninggalkan sekolahan, kepalaku menoleh ke belakang terus, sampai gedung sekolah itu benar-benar menghilang dari penglihatanku.

Aku melirik ke anakku. Ternyata dia melakukan hal yang persis sama. Remaja cowok 16 tahun itu matanya berkaca-kaca. Aku pegang tangannya erat, dan bilang, “Gapapa Boo nangis saja, jangan dipendem perasaanmu…”

Lima belas menit di dalam taxi Yandex menuju rumah, kami deep talk. Aku ingat waktu pertama kali pindah dulu, anakku sangat sedih harus meninggalkan Indonesia dan berpisah dengan teman-temannya. Tapi begitu masuk ke sekolah ini, dia bertemu banyak teman dari berbagai usia. Karena ini kota kecil dengan komunitas expat yang elu lagi elu lagi, murid sekolahan ini pun hanya sekitar 60-an orang, dari TK sampai high school. Yang seumuran anakku di high school cuma 5 orang, itu pun yang 2 sudah pindah duluan sebelum anakku, jadi tinggal 3. Tapi seiring waktu, anakku beradaptasi, menikmati kondisi itu, sampai akhirnya di hari H farewell pun dia yang paling berat melepasnya.

***

Tinggal bersama mereka juga membuka mataku soal banyak hal yang sering dinarasikan berbeda di sosmed Indonesia.

Aku sengaja memakai kacamata hitam karena saat memberi speech, ku menangis, dan aku tak ingin teman-temanku melihat mataku yang mbendul itu.

Apa itu individualisme? Apa itu bule yang katanya muka tua dan bau badan? Apa itu orang India yang dikata-katain rude?

Yang kutemui tidak seperti itu. Tiap hari di kompleks perumahan Chagala, ada saja yang saling sharing kala kehabisan baput, butuh lemon, pinjam ini itu. Kami rutin ngumpul di yard sambil bawa masakan khas negara masing-masing. Sementara anak-anak kami, yang pagi sampai sore sekolah bareng, begitu pulang langsung kumpul lagi di playground kompleks.

Kami juga rutin barbeque-an bareng di yard, fitness bareng, ikut Step Class dan body pump yang dipimpin temenku seorang ibu-ibu dari Polandia yang sudah certified trainer.

Soal bule yang konon rambutnya menipis di usia 40an, ohh tidak, ternyata malah cakep-cakep dan rambutnya tebal kayak Barbie. Soal BB di musim panas? Jujur, tidak ada juga. Soal orang India yang diejek Prindavan? Alhamdulillah tidak. Semuanya respectful dan menyenangkan, dan gara-gara mereka, aku jadi suka makanan India. Panipuri, papdi chaat, chickpea, curry… slurrpp lezat.

Yang memang nyata dan bikin aku sedikit kaget adalah beberapa ibu-ibu yang punya kebiasaan masuk rumah tanpa lepas sandal. Real banget, persis seperti di pelem-pelem. Tapi tinggal bersama mereka mengajarkanku satu hal penting, bilang frontal itu perlu, dan mereka takkan tersinggung. Bilang saja “tolong dilepas sandalnya”, beres, no drama drama club.

Ada juga momen temanku dari India yang mungkin terbiasa mencium anak kecil di negaranya, mencium anak 1 tahun dari Amerika. Ibunya langsung menarik tangan anaknya dan bilang tegas ke temanku untuk tak seenaknya nyiumin bayinya. Tapi ya sudah sampai di situ saja, tidak sampai menjadi masalah besar. Sesaat kemudian mereka sudah ahaha ihihi lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Kemudian, ada lagi momen di mana (yang lagi-lagi) temanku dari India sering cerita tentang “Shiva”. Shiva ini dimasakkan setiap pagi jam 6, Shiva ini perlu ini itu. Di rumahnya ada tempat sembahyang dengan shrine yang lengkap, jadi aku pikir Shiva itu nama Tuhan yang selalu diberi sesajen masakan. Ternyata bukan, dan Shiva itu adalah nama suaminya.

Yes, soal panggilan memang beda, kalau kita bilang “suamiku” atau “papahnya anak-anak”, mereka tuh langsung menyebut nama.

Begitu juga soal gaya hidup lainnya. Minum alkohol adalah hal biasa bagi mereka. Ibu-ibu merokok, ya biasa. Pergi ke club malam pun tidak membuat seseorang langsung dicap “nakal” atau bukan Mamah baik-baik. Itu hanya bagian dari pilihan hidup dan cara mereka bersosialisasi, sesuatu yang di lingkungan kita mungkin masih sangat mudah memantik judgement.

Dari sini aku belajar untuk tak buru-buru mengecap seseorang berdasar satu kebiasaan yang berbeda dari norma yang kukenal. Karena background kami memang beda, dan itu bukan sesuatu yang perlu dimasalahkan.

***

Di hari farewell, aku mendapat sebuah buku, isinya foto-foto kami bersama, dan di setiap lembarnya mereka menulis pesan-pesan untukku. Buku itu sangat precious. Aku akan menyimpannya seumur hidup. Bacanya senang, tapi juga trenyuh.

Tinggal di sini juga membuatku pede untuk public speaking karena orang-orang Kazakh di setiap undangan selalu meminta tamunya untuk speech.

Dan yang paling utama, aku jadi lebih mudah memahami perbedaan, tidak gampang berprasangka, tidak menyia-nyiakan momen dan tempat yang aku pijak. Tidak take everything for granted.

Ku pun jadi ingat Santiago di The Alchemist-nya Paulo Coelho, yang bilang bahwa pertemanan singkat dengan orang-orang yang ditemui saat perjalanan justru bisa lebih gayeng. Karena perkenalan yang singkat tidak sempat membuat orang merasa berhak ikut campur dalam hidup kita.

Mungkin begitu juga dengan kehidupan para perantau. Kami memaksimalkan kebersamaan karena tahu peluang untuk ketemu lagi itu sangat kecil. Berbeda dengan di Indonesia, di mana kita merasa dekat dan berpikir kapanpun bisa reach out dan jadi malah sering tidak dilakukan.

Saat ini aku sedang menikmati hari-hari terakhirku di sini. Tentu ada pro dan kontranya, tapi aku memilih fokus ke yang baik dan indahnya. Dan sungguh, banyak sekali yang indah.

***

***

***

Mungkin beberapa hari lagi bunga-bunga di vas itu akhirnya kan kubuang. Tapi aku tahu yg akan pergi HANYA bunganya. BUKAN orang-orang dan ceritanya.

Terima kasih untuk semua teman-temanku di Atyrau.

Terima kasih sudah membuat sebuah kota yang awalnya terasa asing menjadi feels like home. Terima kasih untuk setiap tawa, bantuan kecil yang mungkin kalian sendiri sudah lupa, makanan yang dibagi, undangan yang tak pernah putus, dan kebersamaan yang membuat (hampir) 3 tahun ini berlalu jauh lebih indah daripada yang pernah kubayangkan.

Aku datang ke sini sebagai stranger yang tak tahu menahu tentang Kazakhstan. Aku pulang dengan membawa banyak cerita, pelajaran, dan nama-nama yang akan selalu punya tempat khusus dalam ingatanku.

Entah kapan kita bertemu lagi. Mungkin tahun depan, mungkin 7 tahun lagi, mungkin hanya lewat foto-foto yang sesekali muncul di IG.

Tapi kalau suatu hari nanti kudengar nama Atyrau disebut dimanapun aku berada, yang pertama kali terlintas di pikiranku bukanlah kota, jalan, bangunan, atau cuacanya. Melainkan KALIAN. 😦

***

Tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni dengan tema “Gap/Perbedaan” dengan Mamah Host Jade.