Mom's Life · Social Observation

Perbedaan

Di sebuah coffee shop beberapa hari yang lalu:

Aku: “Mas, saya mau ice americano ya, jangan manis ya, Mas, no sugar.”

Mas-mas-nya: “Yang size apa, Kak?”

Aku: “Large ya Mas.” (aku berniat mau belajar jadi harus melek mata ini, perlu banyak asupan kopi)

Mas-mas-nya: “Baik, Kak, atas nama Kak siapa?”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Kakak Nur.”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Teh Nur.”

Aku: “Ibuk Nur.”

Mas-mas-nya: “Umm baik Bu Nur.”

Ingin rasanya ku bilang pada Mas-mas-nya supaya tetap melihat-lihat bagaimana penampakan customer-nya, jangan semua-semua dipanggil “Kakak” atuh. Terutama melihat Mas-mas-nya yang mungkin masih berusia 20an. Jaraknya jauhh beut, bagaikan bude dengan keponakannya.

Itulah yang aku pikirkan ketika aku berinteraksi di Indonesia dengan saudara sebangsa setanah air.

Namun bisa berbeda ceritanya ketika aku berinteraksi dengan teman-temanku di Kazakhstan, pasalnya mereka kebanyakan Gen Z juga, tapi aku tidak keberatan ketika mereka memanggilku dengan namaku langsung “Uril” atau “Nurilla”.

***

Mungkin karena sejak awal konteks budayanya memang berbeda. Cara memandang usia, kedekatan, dan bentuk penghormatan juga tak sama. Sesuatu yang kalau dilakukan di satu budaya terasa terlalu akrab atau kurang sopan, di budaya lain bisa terasa sangat normal.

Begitulah tradisi dan budaya. Kadang bedanya muncul bukan dalam hal-hal besar, tapi dari sesuatu sesederhana satu kata sapaan.

***

***

***

FIN.

Mom's Life · Social Observation · Tantangan MGN

Fake It ‘Till You Make It Bersama Youtube

Tinggal di sebuah kota kecil terpencil di Kazakhstan ternyata tidak sepenuhnya selowwww.

Salah satu hal yang paliiing challenging bagiku adalah nge-blend dengan komunitas Mamahs ekspat. Pasalnya, ini bukan sesuatu yang bisa sepenuhnya kuhindari. Andaikan aku memilih tak ikut gabung pun, kami tetap akan bertemu di berbagai acara.

Para Mamahs ekspat di kota kecil ini ditakdirkan untuk berjumpa di mana-mana. Sekolah internasional cuma ada satu, kompleks tempat tinggal pun hanya itu-itu saja. Jadi, fenomena “lo lagi, lo lagi” adalah sebuah keniscayaan.

Murid di sekolah anakku memang tidak banyak. Sepertinya karena itulah tingkat keterlibatan ortunya luar biasa. Level para school moms di sini lebih serius dari sebuah WAG. Organisasinya resmi, lengkap dengan struktur kepengurusan, program kerja, fundraising, dan iuran yang legit.

Jika ada Mamah yang punya skill, seperti merajut atau fabric painting misalnya, beliau dipersilahkan membuka kelas dan menjadi pembimbing ekskul. Mamah yang memiliki background science atau engineering bisa diminta menjadi guru pengganti ketika ada guru yang tidak masuk. Ada pula momen ketika Mamah diminta menjadi storyteller di kelas anak masing-masing.

Setiap kali datang ke sekolah untuk bertemu guru atau kepala sekolah, aku selalu melihat adaaa saja beberapa Mamahs yang sedang ngumpul. Bisa dibilang, sekolah adalah rumah kedua bagi para Mamahs ekspat.

***

Meskipun tanggal merah di Kazakhstan tidak sebanyak di Indonesia karena negara tak terlalu ikut mengurusi perayaan keagamaan semua agama; tapi jangan dikira acaranya jadi sedikit. Tetap saja banyak sekali.

Ada Halloween, Easter Egg Hunt, International Day, acara serba buku, masak bersama, dan berbagai versi Family Day yang dikemas dengan judul yang beragam. Belum lagi acara tradisi budaya berbagai negara: Nauryz, festival Irlandia, hingga Bollywood Party.

Social lyfe ini pun tak berhenti di sekolah. Hampir semua ekspat tinggal di kompleks yang sama. Ketika tak ada acara sekolah, para Mamahs membuat acara sendiri: olahraga bareng, coffee shop hopping, barbeque-an, atau cangkrukan sambil ngobrol ngalor-ngidul dan haha-hihi di gazebo yang ada di tengah kompleks.

Para bapack-bapack yang sibuk bekerja hampir 24/7 pun meng-iri, nyeletuk,

“Kerjaan emak-emak enak bener yach, nongkrooooong terus.”

Terbayang, kan, seberapa dekatnya para Mamahs ekspat di sini?

***

Menghindari komunitas ini artinya bukan cuma melewatkan ngopi-ngopi. Bisa-bisa aku tak update segala informasi, kehilangan konteks pergaulan anak, atau berkelanjutan jadi stranger yang hanya muncul saat PTC. Tatapan dengan ekspresi, “Who the h3ll is she?!” akan terlihat di banyak wajah Mamahs.

Jika aku hanya berdiri bengong, hahh-hehh-hohh, lalu berharap ada yang nyamperin, mungkin sampai lebaran kuda pun tak akan terjadi.

Jadi, dekat dengan Mamahs ekspat itu somehow a MUST!

***

Nah, di sinilah manusia pendiam, socially awkward, dan introvert sepertiku ditantang habis-habisan.

***

Tunjukkan Pada Dunia!

Seiring berjalannya waktu, melalui observasi singkat nan padat; aku menyadari bahwa setidaknya kita perlu punya sesuatu untuk “ditawarkan” agar bisa nyemplung ke dalam percakapan yang gayeng dan awet.

Tentu saja, bukan berarti harus menjadi orang paling hebat. Kita hanya perlu memperlihatkan bahwa kita punya “kehidupan”, minat, pengetahuan, skill.

Jika suka memasak, datanglah ke acara barbeque sambil membawa masakan andalan!

Jika antusias gerak, ikutlah sesi olahraga bareng dan lakukan dengan energi totalitas, yang pokoknya bisa bikin Mamahs ter-wow-wow!

Jika suka membaca, tunjukkan ke-book-worm-an itu! Sering nongol di WAG merekomendasikan bacaan yang relatable dengan kehidupan Mamahs, tak lupa sempilin “ini buku ke-23 yang kubaca di tahun ini, target buku tahun ini adalah 50 buku”.

Pokoknya, punya apa, bisa apa; tunjukkan ke dunia! —- ehh ke Mamahs!

***

Sejak itu, aku tak mau diam saja di rumah. Mamahs harus tahu kalau aku juga bisa dan tahu ini itu, bersemangat mencoba hal baru dan berani. Jadi begitu ada info tentang kelas painting, trip ke alam; aku auto mendaftar.

***

Sebenarnya, sebelum dekat dengan komunitas Mamahs ekspat, aku sudah lebih dulu berkawan dengan beberapa warlok. Pertemanan dengan mereka terasa lebih organik. Kami dekat karena cocok naturally.

Sementara itu, kedekatan dengan Mamahs ekspat awalnya terasa seperti bagian dari SISTEM. Mau tidak mau, kami akan terus bertemu.

Dan pertemanan dengan warlok inilah –dipadu dengan kebiasaan nyecroll Youtube– yang nantinya menjadi “modal sosial”-ku untuk masuk ke lingkungan Mamahs ekspat.

***

Tiada Hari Tanpa YouTube

Jiwa ambis yang meronta-ronta membuatku “lapar”. Aku ingin jadi yang T.O.P di kelas painting! Setiap hari aku mencari tutorial di YouTube dan aku berhasil membuat beberapa lukisan yang dengan bangga ku-flexing-kan di sosmed dan kupajang di buffet rumah. Guru painting-ku pun memujiku.

Aku yang seumur-umur jarang menggambar, apalagi melukis di atas kanvas, sampai ikut terheran-heran. Kok bisa?

Hhmmm you have no idea what you’re capable of until you try memang betul adanya.

YouTube memang paling cocok dengan caraku belajar. Aku suka mempelajari sesuatu dalam durasi yang panjang, tidak sepotong-sepotong seperti Reels. Aku ingin bisa mengikuti penjelasan dari awal, mengulang bagian yang belum kupahami, lalu praktek sampai ngelotok.

***

Jadi inilah jawabanku untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Agustus bertema “Aplikasi Favorit”, bersama Mamah Host Laksita: YouTube!

***

Tidak hanya melukis. YouTube juga menjadi tempatku mencari tutorial makeup, OOTD, ide kostum anak untuk acara sekolah, referensi dekorasi, home workout, masak memasak, latihan dance, dan masih banyak lagi.

Pernah aku datang ke sebuah acara dengan riasan Arabic yang cetar hasil meniru dari YouTube, Mamahs ekspat melihatku dengan ter-wow-wow. Dampaknya dahsyat. Begitu pula ketika aku dandanin anakku berkostum gangster Birmingham era 1920an.

***

Cukup Cas Cis Cus

Kemudian ada Duolingo si burung hantu hijau linguist yang superrr bawel mengingatkanku untuk belajar senantiasa.

Nyaris tanpa skip, setiap hari aku memantabbkan bahasa Rusia-ku. Dengan bantuan buku dan YouTube, aku cukup cas cis cus untuk level beginner dan daily conversation.

Kemampuan ini jugalah yang memperluas circle pertemananku dengan warlok. Dari POV orang lain, interaksi kami mungkin lucuuu banget. Teman-temanku itu ingin bisa berbahasa Inggris, jadi kami saling mengajari. Kalau ada kata atau kalimat bahasa Rusia yang lupa atau tak kupahami, mereka akan menjelaskannya. Begitu juga sebaliknya.

Lalu apa fungsinya di mata Mamahs ekspat?

Nah, ini dia!

Ketika kami grocery shopping atau ke kafe, lalu mereka melihatku berbicara luwes dengan pegawainya, wajah mereka tampak sangat amazed.

“Wow, Uril, kamu les, ya? Aku endak ngerti, lhooo, tadi kamu sama mereka ngobrol apa saja selama itu.”

Kemampuan ini menjadi nilai plus plus di mata Mamahs ekspat.

***

Party Mom

Ohya kawan-kawan warlokku sering mengajakku ke club malam. Di sini, tempat clubbing-nya cukup banyak dan meriah euy. Aku pun diajari nge-dance oleh mereka. Dari yang awalnya kaku, lama-lama aku bisa lemesin shayyy.

Meskipun goyangan pinggulku belum selihai Shakira… hips don’t lie ehhhh, aku jelas ambis dan anti terlihat payah. Dan Youtube to the rescue! As always.

Akhirnya aku menemukan channel yang klik banget. Judul videonya “Latihan Dance di Club buat Perempuan 40-an”. Kok ya pas banget buatku ya. Gerakannya dijelaskan step by step dengan sangat mudah.

Kisah petualanganku ini kemudian menyebar sampai ke telinga Mamahs ekspat dengan brandingparty mom“.

Setiap kali Mamahs ngumpul dan bingung mau pergi ke mana, mereka keidean, “Yokk, ladies’ night out! Uril, enaknya kita ke mana?”

Berkat pengalamanku menyambangi club-club, aku punya informasi tentang kisaran harga, do’s and don’ts, karakter bar-nya, jenis pengunjungnya, hingga genre yang biasa dibawakan DJ. Uwahhhh, sungguh senang sekali bisa menjadi “pusat pengetahuan berjalan”.

Kalau ada Mamah yang ingin sekedar nge-dance santai, mereka akan WA dan mengajakku.

***

Survival Kit

Dari seluruh pengalaman ini, aplikasi Youtube adalah salah satu “survival kit” utamaku. Terima kasih Youtube (beserta para content creator dan seluruh elemennya).

Fake it ’till you make it!

Alhamdulillah segala struggle itu tak sia-sia. Aku memperoleh ketrampilan dan pengetahuan baru, juga mendapat banyak teman. Setelah mengenal Mamahs ekspat lebih dekat, banyak di antaranya menjadi teman akrab yang tulus.

Dan ternyata, punya banyak teman itu menyenangkan.

Pengalaman ini juga membuatku tak se-pemalu dan se-introvert dulu. Aku menjadi lebih terbuka dan tidak nunak-nunuk ataupun awkward lagi.

***

***

***

Body, Mind, Soul · Random

Rindu yang Kubawa Pulang

Sudah sebulan berlalu sejak kutinggalkan Kazakhstan. Tak kusangka, ternyata aku bisa segembira ini kembali ke Indonesia.

Pasalnya, saat meninggalkan Kazakhstan, aku sangaaat meng-sedih. Hiks. Rasanya seperti kehilangan banyak hal baik dan indah yang selama ini menjadi bagian dari keseharianku.

Begitu landing di Indonesia, hawa Kazakhstan masih tertinggal di dalam hati. Hanya di dalam hati, tentu saja. Sebab, melalui kelima indra, jelas sekali aku sudah berada di Indonesia. Polusi, keramaian, isi obrolan orang-orang di sekitar, semrawutnya lalu lintas, langit yang tidak biru, pengalaman menyeberang jalan yang tidak santai, dan lain sebagainya.

Aku juga merindukan teman-temanku di sana. Kangen ngopi bersama, belanja ke pasar bareng, clubbing bareng, ikut kelas melukis, dan banyaaak lagi. Hari-hariku di Kazakhstan akan selalu menjadi bagian hidup yang sangat memorable bagiku.

Hiks. Hiks.

Seminggu, dua minggu, tiga minggu, aku mulai menjalani aktivitas baru di BSD. Pada minggu-minggu pertama, aku sempat mengalami reverse culture shock. Aku banyak membandingkan ini dan itu, dan dalam beberapa perkara, jelas Kazakhstan lebih unggul. Ehehe.

Plis, ini ugly truth, ya. Jangan denial. Justru harus diterima dengan lapang dada dan besar hati supaya kita bisa memahami bagian mana yang memang perlu diperbaiki.

Namun, alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, aku mulai menemukan ritme baru. Perlahan-lahan, hal-hal yang awalnya terasa asing kembali terasa ikrib. Dan sekarang, hanya rasa syukur yang ingin kupanjatkan padaNya.

Aku senang dengan rutinitasku yang tak lagi amburadul. Bangun pukul empat pagi, sholat, sarapan, jalan pagi, mandi, berolahraga, lalu menjalani berbagai kegiatan sampai akhirnya tidur sekitar pukul sembilan atau sepuluh malam.

Di Kazakhstan, aku kesulitan bangun dan tidur pada jam yang sama setiap hari. Pergantian musim dan durasi siang-malam yang terus berubah sering membuat ritme tubuhku ikut berantakan. Ketika kupaksakan untuk tidur dan bangun pada jam yang sama, tubuhku tidak selalu bisa memprosesnya dengan mudah.

Exhausted.

Di Indonesia, aku juga senang sekali bisa mendengarkan adzan secara langsung. Waktu sholat terasa lebih familiar dan perubahannya tidak sedrastis di Kazakhstan. Dulu, aku harus rutin mengecek aplikasi di HP untuk mengetahui jadwal sholat setiap hari. Sekarang, suara adzan dari masjid sudah menjadi pengingat alami, sekaligus suara yang ternyata begitu kurindukan.

Urusan makanan tentu saja ikut membuatku bersukacita. Uhuyyy.

Setiap hari aku diberi karunia untuk memilih dan menikmati berbagai jenis masakan enaaak melalui GoFood. Atau kalo ingin jalan sedikit, ada AEON yang hanya berjarak dua menit dari tempat tinggalku sekarang. Benar-benar sebelahan persis, soalnya. Ehehe.

Belum lagi deretan tempat menarik untuk café hopping di seantero BSD dan Gading Serpong. Pilihannya banyak, tempatnya lucu-lucu, makanannya menggoda, dan semuanya seperti manggil-manggil.

Aku juga memulai rutinitas nyalon: creambath, spa, luluran, dan pijat secara berkala. Aku juga sudah sign up ke dokter estetika di sebuah klinik kecantikan.

Kemewahan-kemewahan kecil semacam ini tidak bisa kulakukan dengan leluasa di Kazakhstan. Selain karena muahaal, lumayan susah juga menemukan yang cucokk

Lalu, tentu saja, aku ikut FOMO main padel. Ehehe. Di BSD, tempat padel berjajar di mana-mana. Bagus-bagus pula. Sayangnya, aku masih belum luwes. Masih nunak-nunuk mengejar bola, salah posisi, telat mengayunkan raket, dan belum bisa mengembalikan bola dengan baik.

Hal ini sukses membuat suamiku kesyall dan syeball.

Baginya, sudah bayar lapangan mahal untuk satu jam, eh, lawan mainnya tak bisa menangkap arah bola. Namun, namanya juga belajar. Siapa tahu setelah beberapa kali bermain, aku bisa terlihat sedikit lebih atletis dan tidak hanya sibuk menghindari tampek’an bola dari suami.

Selain semua kesenangan kecil itu, suami dan anakku juga terlihat semakin sumringah sejak kembali ke tanah air. Melihat mereka berdua menjalani hari dengan bahagia membuat kebahagiaanku ikut bertambah.

Ternyata, pulang tidak serta-merta menghapus kerinduanku pada Kazakhstan. Aku masih merindukan teman-temanku, langit birunya, keteraturan kotanya, dan my good lyfe di sana.

Namun, perlahan-lahan aku memahami bahwa merindukan kehidupan lama tidak membuatku kurang bersyukur atas kehidupan yang sekarang. Dua perasaan itu bisa tinggal bersama-sama.

Begitulah update kehidupanku saat ini.

Byeeeee….

Body, Mind, Soul · Memori & Nostalgia

Momen Salah

Yahhh, aku gak ikutan Tantangan Juli huhu. Padahal temanya cucok banget yakni “MOMEN SALAH” dan sebenarnya aku sudah menyiapkan apa yang akan kutulis. Bahkan, hal yang ingin kutuliskan itu terjadi bersamaan dengan momen yang sedang aku alami. Jadi rasanya seperti semesta sudah menyiapkan bahan tulisannya tepat di depan mata. Tinggal duduk, buka laptop, lalu menuliskan semuanya.

Tapi apa daya, di tengah proses pindahan, perjalanan, unpacking, adaptasi, dan segala macam urusan kehidupan nyata, tulisan itu akhirnya hanya tertumpuk di kepala.

Padahal kalau sempat kutulis saat itu juga, mungkin emosinya akan terasa lebih raw, basah dan lebih penuh air mata. Namun ya sudahlah. Meski terlambat, ceritanya tetep ingin kusimpan. Setidaknya agar momen-momen kecil ini tidak menguap begitu saja dan hilang ditelan kesibukan.

***

Hari terakhir aku berada di Atyrau, di sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara, aku sengaja memperlambat pandanganku. Rasanya aku memencet tombol “slow mode” di dalam kepala. Aku ingin merekam semuanya dengan lebih pelan dan lebih lama.

Atyrau-ku sayang. 😦

Di siang yang cerah dan panas itu, aku justru merasa hampa dan dingin. Air mataku tentu saja menetes. Gak nyangka, hampir tiga tahun ternyata terasa begitu cepat. Padahal saat menjalaninya, ada hari-hari yang terasa panjang, dingin, dan melelahkan. Tapi ketika semuanya benar-benar berakhir, waktu yang panjang itu mendadak terasa seperti kilatan cahaya yang lewat begitu saja.

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, aku memang bertekad untuk menikmati setiap detiknya. Aku tahu sejak awal bahwa masa tinggal kami di Atyrau tidak akan selamanya. Karena itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menyia-nyiakan apa pun yang bisa kulihat, kurasakan, dan kualami.

Aku ingin menikmati musim dinginnya, yang sering menusuk sampai ke tulang. Aku ingin menikmati musim panasnya yang terik dengan langit biru luas tanpa batas. Aku ingin mengingat jalan-jalan yang kami lewati, kafe-kafe yang kami datangi, sungai Ural yang tenang, teman-teman yang datang dari berbagai negara, dan orang-orang lokal yang awalnya terasa asing, tetapi lama-lama begitu ikrib.

Alhamdulillah, pada hari terakhir itu, meskipun sedih berderai air mata dan misek-misek, hatiku terasa penuh dan hangat. Tak ada yang kusesali. Tak ada pikiran, “Oh ya, aku harusnya gini,” atau, “aku harusnya gitu”. Tidak ada hal yang menggantung atau membebaniku.

Aku merasa sudah benar-benar hadir selama tinggal di sana.

Aku sudah menikmati Atyrau dengan caraku. Aku berjalan, berteman, tertawa, menangis, belajar, mencoba hal baru, jatuh cinta pada kota itu, dan membiarkan kota tersebut membentuk sebagian dari diriku.

Terima kasih banyak, Atyrau.

Aku bakal kangeeeen banget sama kota ini. Hiks hiks hiks hiks.

Aku gak tahu apakah suatu saat nanti aku akan ditakdirkan bisa kembali berkunjung ke Atyrau. Entah hanya untuk beberapa hari, entah untuk melihat tempat-tempat lama, entah untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang kusayangi di sana. Aku gak tahu.

Aku manut saja dan menyerahkan semuanya kepada Sang Maha Pembuat Skenario Hidup.

Kalau memang jalanku akan kembali ke sana, semoga Atyrau masih mau menyambutku seperti dulu. Namun kalau ternyata tidak, setidaknya aku sudah pernah diberi kesempatan untuk hidup di sana, mencintainya, dan membawa sebagian kecil Atyrau pulang di dalam hatiku.

***

Sesampainya di bandara, ternyata rameee banget. Hari itu hari Jumat dan sedang summer holiday. Banyak keluarga bepergian untuk berlibur. Koper-koper besar, anak-anak kecil yang berlarian, orang-orang yang berpelukan, dan suara pengumuman penerbangan bercampur jadi satu.

Aku dan keluarga kecilku terbang dari Atyrau menuju Istanbul. Dari Istanbul, barulah kami langsung cusss menuju Jakarta.

Long story short, kami sampai di Bandara Soekarno-Hatta pada hari Sabtu sehabis Maghrib.

Ahhh, senangnya.

Aku akhirnya bisa menggunakan parameter waktu ini lagi begitu menginjakkan kaki di tanah air.

“Habis Maghrib.”

“Sebelum Dzuhur.”

“Setelah Isya.”

Ehehehe.

Di Kazakhstan, jelas aku gak bisa menggunakan ancer-ancer seperti itu. Waktu salat berubah-ubah mengikuti musim. Di Indonesia, ritmenya terasa begitu familiar, stabil, dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Tentu saja aku bersorak gembira melihat Indonesia.

Namun aku juga langsung menyadari bahwa langit Jakarta gak seindah, sejernih, dan sebiru langit Atyrau. Di Jakarta, kemegahan langit seolah tertutup lapisan abu-abu yang merupakan akumulasi asap, debu, polusi, kelembapan, dan entah apa lagi.

Pantas saja, berfoto di Kazakhstan bisa menghasilkan jepretan yang begitu memukau, meskipun hanya memakai kamera HP dan tanpa banyak usaha. Kayaknya salah satu penyebabnya memang ini: perbedaan visual langit, cahaya, dan kualitas udara.

Di Kazakhstan, objek biasa bisa terlihat sinematik. Jalanan biasa, gedung tua, salju tipis, atau sekadar pohon tanpa daun bisa terlihat seperti adegan film. Sementara di Indonesia, mau foto bagus kadang harus mencari pencahayaan yang tepat, angle yang tepat ehehe.

Tapi tak apa.

Heyyy, aku sudah sampai di negaraku sendiri.

Itu artinya aku kembali bisa menikmati makanan-makanan lezat yang selama ini kurindukan. Berbagai makanan yang dulu kuanggep biasa saja, tetapi selama tinggal di Kazakhstan berubah menjadi kemewahan emosional.

Pak Suami pernah bilang, “Di Kazakhstan, kalau stress kerjaan, gak ada obatnya, Mam. Tapi kalau di Indonesia, pas stress aku bisa makan enak, dan itu bisa mengobati stress-ku.”

Begitu kembali ke Indonesia, Pak Suami sueneeeeeng pol bisa bekerja lagi di sini.

Aku gak menafikan bahwa beliau memang gak bisa mencintai Kazakhstan sepenuh hati seperti aku. Situasi kerjanya di sana sangaaat demanding dan high pressure. Pak Suami stress banget selama di sana, sampai area bawah mata kanannya sering mengalami spasm atau kedutan yang gak berhenti-berhenti.

Owalah, kasihannya Suamiku.

Kalau aku bisa menikmati Atyrau dari sisi pertemanan, pemandangan, pengalaman baru, dan kehidupan sebagai ibu ekspat, maka Pak Suami menjalani sisi lain yang jauh lebih berat: tuntutan pekerjaan, tekanan, tanggung jawab besar, dan hari-hari yang menguras energi.

Jadi wajar kalau ketika sampai Indonesia, senyum Pak Suami terlihat lebih lepas. Seolah ada beban yang ikut tertinggal di negeri jauh itu.

***

Nah, setelah pulang ke Indonesia, mulailah terjadi beberapa “momen salah”.

Momen salah pertama yang kualami adalah ketika makan di sebuah kedai. Aku memanggil Mba pegawainya dengan kalimat,

“Извини, девушка.”

Izvini, devushka.

Yang artinya, “Permisi, Mbak.”

Kalimat itu meluncur spontan uhuyyy tanpa melalui proses berpikir. Baru beberapa detik kemudian aku tersadar.

Lhooo aku kan sudah di Indonesia.

*

Momen salah kedua adalah ketika aku naik taksi. Begitu masuk dan menutup pintu, aku dengan mantap berkata kepada Bapak Sopir,

Здравствуйте.”

Zdravstvuite.

Itu adalah kata sapaan sehari-hari yang digunakan di Kazakhstan. Semacam “halo” atau “selamat siang” dalam bentuk yang sopan.

Lagi-lagi, kata itu keluar otomatis. Bapak Sopir mungkin mengira penumpangnya habis pulang kursus bahasa Rusia atau sedang sok internesyenel wkwkwk.

*

Momen salah ketiga adalah aku berkali-kali mengucapkan,

Спасибо.”

Spasiba.

Setiap kali berterima kasih kepada orang.

Kepada kasir, kepada petugas, kepada pegawai restoran, kepada sopir, kepada siapa saja.

Aku baru sadar setelah kata itu sudah telanjur keluar. Kadang langsung kusambung dengan, “Eh, makasih.”

Jadi bunyinya malah,

“Spasiba… eh, makasih, Pak.”

*

Momen salah keempat adalah aku terlalu pede saat mau menyeberang jalan ehehehe.

Di Kazakhstan, para pejalan kaki benar-benar dimuliakan. Mobil-mobil akan melambat dan berhenti. Bahkan banyak orang menyeberang tanpa tengok kanan-kiri terlebih dulu karena mereka yakin kendaraan akan memberikan jalan.

Nah, kebiasaan itu rupanya masih melekat saat aku kembali ke Indonesia.

Aku hampir saja menyeberang dengan tingkat kepercayaan diri warga Atyrau.

Untung otakku segera mengingatkan:

“Hei, ini Indonesia!”

Di sini pejalan kaki yang harus mengalah. Bahkan menyeberang saat lampu kendaraan sudah merah pun tetap harus tengok kanan-kiri, karena suka ada motor yang tetap ndableg melaju meskipun lampunya sudah jelas-jelas merah.

*

Semua momen yang berhubungan dengan bahasa itu terjadi selama kurang lebih seminggu pertama sejak aku mendarat di CGK.

Masya Allah, sebegitu ngelotoknya budaya Atyrau di dalam hati, jiwa, pikiran, tubuh, dan refleksku.

Rupanya tiga tahun cukup untuk membuat tubuh memiliki memori sendiri. Mulut, langkah kaki, cara melihat jalan, cara menyapa orang, bahkan cara menentukan waktu, semuanya sempat terbentuk oleh kehidupan di sana.

Oh ya, sekarang pun aku dengan mantabbb mengenalkan diriku dengan nama:

“IBUK NUR.”

Bukan lagi Sri atau Uril.

Selama di Kazakhstan, nama “Nur” terdengar sangat common, familiar, dan indah. Banyak sekali nama orang di sana yang menggunakan unsur “Nur”. Tiba-tiba nama yang sejak dulu kurasa sangat ndeso itu justru terdengar cantik ketika diucapkan oleh orang-orang Kazakhstan.

Jadi sekarang aku ingin embrace nama ndeso-ku itu.

Halo, aku IBUK NUR.

Ehehehe.

***

Saat ini, aku sudah gak terlalu bersedih lagi.

Alhamdulillah, betapa convenient-nya tinggal di Indonesia, tepatnya di BSD. Segala sesuatu yang kami butuhkan tersedia. Mau mencari makanan gampang. Mau memesan sesuatu gampang. Mau ke rumah sakit, sekolah, mal, supermarket, salon, tempat olahraga, semuanya dekat dan pilihannya banyak.

Ada habit-habit yang lebih mudah dijalankan karena waktu terasa stabil. Ada azan yang berkumandang. Ada masjid di mana-mana. Ada suara Bahasa Indonesia yang langsung kupahami tanpa harus menerjemahkan di dalam kepala.

Dan entah kenapa, ada rasa senang tersendiri ketika melihat wajah-wajah Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Wajah penjual makanan.

Wajah ibu-ibu yang sedang belanja.

Wajah Bapak ojek.

Wajah anak-anak sekolah.

Wajah orang-orang yang secara budaya terasa begitu familiar.

Suamiku juga makin happy.

Begitu juga anakku.

Masing-masing dari kami punya sesuatu yang dirindukan dari Kazakhstan, tetapi masing-masing juga punya alasan untuk merasa lega dan bahagia setelah kembali ke Indonesia.

Pada akhirnya, pulang bukan berarti menghapus kehidupan yang lama. Pulang bukan berarti aku harus memilih salah satu lalu melupakan yang lain.

Aku cinta Indonesia.

Namun aku juga cinta Kazakhstan.

Aku mencintai Indonesia sebagai tempat aku dilahirkan, dibesarkan, dan selalu bisa merasa pulang.

Aku mencintai Kazakhstan sebagai tempat yang memberiku pengalaman baru, teman-teman baru, keberanian baru, dan versi diriku yang mungkin gak akan lahir kalau aku gak pernah tinggal di sana.

Keduanya memberiku hal yang berbeda.

Keduanya membentukku dengan caranya masing-masing.

Keduanya alhamdulillah.

***

Спасибо, до свидания! Ehh salah…. Makasiy ya dan see you…..

Body, Mind, Soul · Mom's Life · Social Observation · Tantangan MGN

Farewell, Atyrau

Pagi ini aku memandangi buket bunga di vas yang kini sudah layu, kisut, dan tak lagi harum mewangi. Tapi aku belom ingin membuangnya. Red roses, pink rose, white rose, chrysanthemum, peach roses. Bunga-bunga itu hadiah farewell dari teman-teman ibu expat perantauan yang tinggal di Atyrau, sepuluh hari lalu.

Memandanginya membuatku terharu karena bunga-bunga itu melambangkan cinta, gratitude, pertemanan, memori, dan awal yang baru. Persis merangkum apa yang ada di hati dan pikiranku saat ini.

Hampir 3 tahun aku di sini. Merajut pertemanan, saling tolong-menolong, belajar bahwa senyum dan kindness itu benar-benar bahasa universal. Kami saling menyayangi dan menghargai meski datang dari background yang sangat beragam. Dan setelah hampir tiga tahun itu, semuanya akan menjadi memori indah yang ikut membentuk siapa aku sekarang.

Walaupun sekarang bunganya sudah tidak segar lagi, namun yang membuatku tenang adalah aku masih bisa melihatnya seperti semula lewat foto di gallery HP. Manusia modern bahkan tidak perlu mengingat kenangannya sendiri. Terima kasih, technologia.

***

Waktu pertama kali tahu bahwa kami akan pindah ke Kazakhstan, yang terbayang adalah tantangan. Iklim ekstrem, musim dingin yang bisa tembus minus 20 derajat, musim panas yang menyengat sampai 40 derajat lebih. Makanan yang asing di lidah. Bahasa yang sama sekali tak kumengerti, bahkan aksaranya pun berbeda. Budaya yang belum tentu ramah terhadap pendatang. Aku membayangkan akan struggling beradaptasi, mencari bahan makanan yang cucok dengan lidah Indonesia, terisolasi karena keterbatasan bahasa, merasa asing di negeri orang. Aku sudah siap mental untuk berjuang.

Ternyata aku salah besar.

Yang kutemukan di Atyrau malah adalah komunitas. Warlok Kazakhstan yang kutemui selama tinggal di sini sangat welcoming. Percayalah, apa yang tergambar dalam film “BORAT” sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang kulihat sehari-hari. Banyak dari mereka merasa film itu merendahkan dan tidak merepresentasikan negara mereka. Dan yang tak kuduga sama sekali adalah keberadaan teman-teman sesama perantauan dari berbagai penjuru dunia yang akhirnya menjadi keluarga keduaku selama hampir tiga tahun ini.

***

Saat ini, jelang sebulan menuju kepindahanku meninggalkan Atyrau dan pulang ke tanah air, aku merasakan fifty-fifty, bahagia dan sedih sekaligus.

Aku menghabiskan sisa waktu dengan lebih lekat, lebih lambat. Sampai-sampai di lampu merah pun aku berharap merahnya lebih lama dari biasanya. Aku juga menikmati setiap sudut sekolahan anakku di hari Kamis kemarin yang merupakan hari terakhir para murid masuk sebelum liburan summer.

Hari itu aku menemaninya. Karena memang begitulah hidupku di Atyrau, tak pernah lepas dari kehidupan sekolahan anakku. Teman-teman perantauanku juga adalah sesama ibu-ibu di sekolahan yang sama, anak-anak mereka juga di sana, bahkan sebagian besar dari mereka adalah tetanggaku satu kompleks. Jadi bisa dibayangkan betapa kehidupanku di sini sangat erat terhubung dengan mereka semua.

Di hari terakhir itu, aku menyalami dan memeluk guru-guru serta para staf satu persatu. Sungguh, aku akan sangat merindukan mereka.

Ingat adegan di menit terakhir film “Titanic”, di mana ada realita lain yang para penumpangnya masih hidup semua, tersenyum lebar menikmati cruising, diiringi alunan instrumental flute soundtrack-nya Titanic yang tersohor itu? Mungkin kira-kira seperti itulah aku ketika pulang meninggalkan sekolahan, kepalaku menoleh ke belakang terus, sampai gedung sekolah itu benar-benar menghilang dari penglihatanku.

Aku melirik ke anakku. Ternyata dia melakukan hal yang persis sama. Remaja cowok 16 tahun itu matanya berkaca-kaca. Aku pegang tangannya erat, dan bilang, “Gapapa Boo nangis saja, jangan dipendem perasaanmu…”

Lima belas menit di dalam taxi Yandex menuju rumah, kami deep talk. Aku ingat waktu pertama kali pindah dulu, anakku sangat sedih harus meninggalkan Indonesia dan berpisah dengan teman-temannya. Tapi begitu masuk ke sekolah ini, dia bertemu banyak teman dari berbagai usia. Karena ini kota kecil dengan komunitas expat yang elu lagi elu lagi, murid sekolahan ini pun hanya sekitar 60-an orang, dari TK sampai high school. Yang seumuran anakku di high school cuma 5 orang, itu pun yang 2 sudah pindah duluan sebelum anakku, jadi tinggal 3. Tapi seiring waktu, anakku beradaptasi, menikmati kondisi itu, sampai akhirnya di hari H farewell pun dia yang paling berat melepasnya.

***

Tinggal bersama mereka juga membuka mataku soal banyak hal yang sering dinarasikan berbeda di sosmed Indonesia.

Aku sengaja memakai kacamata hitam karena saat memberi speech, ku menangis, dan aku tak ingin teman-temanku melihat mataku yang mbendul itu.

Apa itu individualisme? Apa itu bule yang katanya muka tua dan bau badan? Apa itu orang India yang dikata-katain rude?

Yang kutemui tidak seperti itu. Tiap hari di kompleks perumahan Chagala, ada saja yang saling sharing kala kehabisan baput, butuh lemon, pinjam ini itu. Kami rutin ngumpul di yard sambil bawa masakan khas negara masing-masing. Sementara anak-anak kami, yang pagi sampai sore sekolah bareng, begitu pulang langsung kumpul lagi di playground kompleks.

Kami juga rutin barbeque-an bareng di yard, fitness bareng, ikut Step Class dan body pump yang dipimpin temenku seorang ibu-ibu dari Polandia yang sudah certified trainer.

Soal bule yang konon rambutnya menipis di usia 40an, ohh tidak, ternyata malah cakep-cakep dan rambutnya tebal kayak Barbie. Soal BB di musim panas? Jujur, tidak ada juga. Soal orang India yang diejek Prindavan? Alhamdulillah tidak. Semuanya respectful dan menyenangkan, dan gara-gara mereka, aku jadi suka makanan India. Panipuri, papdi chaat, chickpea, curry… slurrpp lezat.

Yang memang nyata dan bikin aku sedikit kaget adalah beberapa ibu-ibu yang punya kebiasaan masuk rumah tanpa lepas sandal. Real banget, persis seperti di pelem-pelem. Tapi tinggal bersama mereka mengajarkanku satu hal penting, bilang frontal itu perlu, dan mereka takkan tersinggung. Bilang saja “tolong dilepas sandalnya”, beres, no drama drama club.

Ada juga momen temanku dari India yang mungkin terbiasa mencium anak kecil di negaranya, mencium anak 1 tahun dari Amerika. Ibunya langsung menarik tangan anaknya dan bilang tegas ke temanku untuk tak seenaknya nyiumin bayinya. Tapi ya sudah sampai di situ saja, tidak sampai menjadi masalah besar. Sesaat kemudian mereka sudah ahaha ihihi lagi seolah tidak terjadi apa-apa.

Kemudian, ada lagi momen di mana (yang lagi-lagi) temanku dari India sering cerita tentang “Shiva”. Shiva ini dimasakkan setiap pagi jam 6, Shiva ini perlu ini itu. Di rumahnya ada tempat sembahyang dengan shrine yang lengkap, jadi aku pikir Shiva itu nama Tuhan yang selalu diberi sesajen masakan. Ternyata bukan, dan Shiva itu adalah nama suaminya.

Yes, soal panggilan memang beda, kalau kita bilang “suamiku” atau “papahnya anak-anak”, mereka tuh langsung menyebut nama.

Begitu juga soal gaya hidup lainnya. Minum alkohol adalah hal biasa bagi mereka. Ibu-ibu merokok, ya biasa. Pergi ke club malam pun tidak membuat seseorang langsung dicap “nakal” atau bukan Mamah baik-baik. Itu hanya bagian dari pilihan hidup dan cara mereka bersosialisasi, sesuatu yang di lingkungan kita mungkin masih sangat mudah memantik judgement.

Dari sini aku belajar untuk tak buru-buru mengecap seseorang berdasar satu kebiasaan yang berbeda dari norma yang kukenal. Karena background kami memang beda, dan itu bukan sesuatu yang perlu dimasalahkan.

***

Di hari farewell, aku mendapat sebuah buku, isinya foto-foto kami bersama, dan di setiap lembarnya mereka menulis pesan-pesan untukku. Buku itu sangat precious. Aku akan menyimpannya seumur hidup. Bacanya senang, tapi juga trenyuh.

Tinggal di sini juga membuatku pede untuk public speaking karena orang-orang Kazakh di setiap undangan selalu meminta tamunya untuk speech.

Dan yang paling utama, aku jadi lebih mudah memahami perbedaan, tidak gampang berprasangka, tidak menyia-nyiakan momen dan tempat yang aku pijak. Tidak take everything for granted.

Ku pun jadi ingat Santiago di The Alchemist-nya Paulo Coelho, yang bilang bahwa pertemanan singkat dengan orang-orang yang ditemui saat perjalanan justru bisa lebih gayeng. Karena perkenalan yang singkat tidak sempat membuat orang merasa berhak ikut campur dalam hidup kita.

Mungkin begitu juga dengan kehidupan para perantau. Kami memaksimalkan kebersamaan karena tahu peluang untuk ketemu lagi itu sangat kecil. Berbeda dengan di Indonesia, di mana kita merasa dekat dan berpikir kapanpun bisa reach out dan jadi malah sering tidak dilakukan.

Saat ini aku sedang menikmati hari-hari terakhirku di sini. Tentu ada pro dan kontranya, tapi aku memilih fokus ke yang baik dan indahnya. Dan sungguh, banyak sekali yang indah.

***

***

***

Mungkin beberapa hari lagi bunga-bunga di vas itu akhirnya kan kubuang. Tapi aku tahu yg akan pergi HANYA bunganya. BUKAN orang-orang dan ceritanya.

Terima kasih untuk semua teman-temanku di Atyrau.

Terima kasih sudah membuat sebuah kota yang awalnya terasa asing menjadi feels like home. Terima kasih untuk setiap tawa, bantuan kecil yang mungkin kalian sendiri sudah lupa, makanan yang dibagi, undangan yang tak pernah putus, dan kebersamaan yang membuat (hampir) 3 tahun ini berlalu jauh lebih indah daripada yang pernah kubayangkan.

Aku datang ke sini sebagai stranger yang tak tahu menahu tentang Kazakhstan. Aku pulang dengan membawa banyak cerita, pelajaran, dan nama-nama yang akan selalu punya tempat khusus dalam ingatanku.

Entah kapan kita bertemu lagi. Mungkin tahun depan, mungkin 7 tahun lagi, mungkin hanya lewat foto-foto yang sesekali muncul di IG.

Tapi kalau suatu hari nanti kudengar nama Atyrau disebut dimanapun aku berada, yang pertama kali terlintas di pikiranku bukanlah kota, jalan, bangunan, atau cuacanya. Melainkan KALIAN. 😦

***

Tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni dengan tema “Gap/Perbedaan” dengan Mamah Host Jade.

Random · Screen Time

“Long Vacation”

Milih-milih tontonan di Netflix bisa memakan waktu yang lama ya. Setengah jam scroll, seringkali tetep aja gak dapet-dapet yang klik. Dulu pilihan nonton cuma sedikit, sangat terbatas, dan penuh effort nyarinya; bingungggg. Sekarang, ada ribuan judul di depan mata, sama aja bingungnya.

Fenomena ini bahkan ada istilahnya lho: choice overload. Katanya, semakin banyak pilihan yang tersedia, justru semakin sulit kita mengambil keputusan. Jadinya bukannya menikmati tontonan, malah habis energi buat milih tontonan. Nasib manusia modern memang unik.

Kemarin alhamdulillah, setelah bermenit-menit mantengin Netflix, mataku tertuju pada satu judul jadul yakni “Long Vacation”. Sebuah serial Jepang yang dulu hadir menemani masa kecilku di pertengahan 90-an. Dekade itu, di Indosiar, banyak banget dorama Jepang yang bagus-bagus dan nyantol di hati. Selain “Long Vacation”, ada juga “Love Generation”, “Beach Boys”, “Beautiful Life”, dan lain-lain. Saat itu Jepang seperti punya kemampuan ajaib untuk membuat kisah yang sederhana menjadi terasa sangat relate.

Tahukah, serial Jepang beberapa tahun terakhir yang bersliweran di Netflix maupun Prime, gak ada yang seseru dulu. Kayak yang kaku gitu aktingnya tuh, heran deh. Kembalikan dorama Jepang era 90-an–2000-an plizzzz!

Hari ini, aku sudah sampai ke episode 10 dari sebelas episode. Ngebut yahh ehehe.

Jadi, dulu itu aku nonton, cuma nonton doang, tapi kagak paham dengan jalan ceritanya. Maklumlah, masih bocil. Sekarang, ketika aku rewatch, barulah aku memahami konfliknya dan mendalami karakter Sena, Minami, Shinji, Momo, dan lain-lainnya.

Lucunya, serial yang sama bisa terasa seperti serial yang berbeda ketika ditonton di umur yang berbeda. Waktu kecil, aku memperhatikan siapa yang jadian. Sekarang aku mulai memperhatikan ketakutan, kesepian, kegagalan, dan pilihan-pilihan hidup para tokohnya.

Saat aku memulai episode pertama, mendengar soundtrack opening-nya, aku gak bisa menahan tangisku. Aihh lebay kali diriku ini ehehe. Noh aku menyadari ke-lebay-an-ku.

Karena secara simbolik, serial itu mengingatkanku apa saja yang terjadi dalam perjalanan hidupku di tahun-tahun itu. Rumah yang dulu kutinggali. Teman-teman sekolah. Orang-orang yang sekarang entah berada di mana. Bahkan versi diriku yang waktu itu belum tahu akan dibawa ke mana oleh kehidupan.

Dan betapa waktu itu sangat berharga. Betapa banyak hal yang saat itu terasa biasa saja, ternyata sekarang menjadi kenangan yang mahal nilainya.

Selanjutnya, semakin aku menyelami dialognya, semakin aku senyam-senyum sendiri. Singkat cerita, Minami adalah seorang perempuan berusia 30 tahun yang tinggal bareng dengan pemuda yang lebih muda enam tahun darinya. Awalnya mereka biasa saja, layaknya teman, tapi… hhmmmm… emangnya cewek dan cowok bisa temenan gitu? (ini aku mengutip dari si Momo ya).

Mereka masing-masing juga punya gebetan lho. Terus, mereka kadang saling sharing juga tentang kisah cintanya, sering pula saling membantu ngasih saran.

Pokoknya begitu aja terus. Setiap malam, ketika mereka pulang dari pekerjaan dan aktivitasnya, mereka ngobrol-ngobrol sambil minum bareng. Eitss, soundtrack-nya pun unyu-unyu, alunan instrumen pianonya juga manis, suka banget.

Ngomong-ngomong soal piano, ternyata musik dalam “Long Vacation” digarap oleh Satoshi Takebe, sementara lagu tema yang ikonik itu dibawakan oleh Cagnet. Ini aku search di Google ehehe.

Seiring berjalannya waktu, konflik datang dengan masing-masing pacarnya, dan lama-lama mereka saling kepikiran deh. Ada momen ketika Sena down karena cintanya ternyata bertepuk sebelah tangan dengan seorang gadis cantik, Minami nge-puk-puk dan mengajaknya duduk di rooftop apartemen sampai menjelang Subuh.

Dan di saat itulah, tanpa sadar mereka udah ciuman saja ahaha.

Yang menarik, semakin dewasa aku, semakin aku merasa bahwa serial ini sebenarnya bukan serial tentang percintaan. Tapi lebih banyak bercerita tentang orang-orang yang sedang tersesat di usia dewasa. Tentang karier yang mandek, hubungan yang gak berjalan sesuai rencana, mimpi yang terasa menjauh, dan bagaimana seseorang bisa bertahan karena kehadiran orang lain yang kebetulan ada di sampingnya.

Tinggal satu episode lagi nih, entah ending-nya bahagia atau endak ya. Apakah cinta mereka sesaat saja karena selalu bareng dan setiap saat ketemu, atau beneran cinta sejati?

***

***

***

Ilustasi ini dibuat oleh ChatGPT
Body, Mind, Soul · Memori & Nostalgia · Tantangan MGN

Hari Minggu yang Tak Biasa

Ialah gadis kecil blasteran Kelurahan Sukorame Kediri dan Kelurahan Balowerti Kediri, anak pertama dari lima bersaudara. Namanya Fasrinu Rillazari, biasa dipanggil Ril.

Bagi Ril, hari-harinya terlihat normal. Sebagai anak pertama, ya memang demikian sepatutnya. Ril paham kok kalau orangtuanya tidak pilih kasih, semua mendapat asupan kasih sayang yang sama rata. Love language sang Mama tercintanya adalah memasakkan setiap saat dengan rasa yang luar biasa enak, mendandani dirinya dan keempat adiknya, mendengar cerita-cerita mereka sepulang sekolah.

Tidak ada love language berupa pelukan dan ciuman. Gadis kecil penggemar NKOTB itu menyaksikan bagaimana Papa dan Mamanya kerap menghujani ciuman untuk adik-adiknya saat masih bayi, namun begitu mereka menginjak usia 2 tahun, rasa-rasanya pelukan dan ciuman sangat jarang dilakukan.

***

Ril pun paham, sebagai anak pertama, sudah sepatutnya dia lebih mandiri daripada keempat adiknya. Dia paling besar dan sudah hidup lebih lama, tentunya sudah lebih paham dengan dunia dong.

Mandi sendiri, makan sendiri, membantu Eyang Kakung dan Eyang Putri, disuruh beli rokok Surya Gudang Garam oleh Papa ke warung, diminta membelikan telur oleh Mama, diminta nemenin adik-adiknya main sepeda, juga ngajarin Matematika.

Melihat kerepotan Mamanya yang rasanya bahkan 24 jam sehari pun masih tidak cukup, seolah sehari seharusnya punya 26 jam; Ril tidak mau dikit-dikit minta tolong. Selama dia bisa, dia akan melakukannya sendiri.

Mama sudah sangat repot dengan segala keperluan adik-adiknya yang energinya bagaikan di-charge pakai baterai Energizer yang tahan lama. Tangis mereka datang bergantian karena hal-hal yang tidak signifikan, pada berebut ingin disentuh Mama, bahkan saat tidur pun berlomba ingin berada paling dekat dengan Mama.

Dia menyadari, berlomba-lomba mencari perhatian Mama bukan lagi untuknya. Ril auto mundur teratur.

***

Jadi, momen ketika Mama minta dipijitin atau dicabutin bulu keteknya menjadi sesuatu yang sangat berarti buat Ril. Mamanya memang punya skill yang mumpuni, yakni kuat dicabutin bulu keteknya tanpa kesakitan. Malah kata Mama, rasanya enak sampai bikin ngantuk.

Bagi Ril, itu jadi salah satu kesempatan langka untuk bisa menyentuh Mama. Dan itu menambah rasa gembira di hatinya. Secapek apa pun dirinya, tiap Mama bilang, “Cabutin bulu ketek Mama dong, Ril,” dia auto sigap.

***

***

***

Hari Minggu itu menjadi sesuatu yang tidak biasa bagi Ril.

Ketika sedang menonton Sailormoon, Mama memanggilnya dari dapur, “Ril, nanti sore potong rambut ya. Dibikin bob. Ke salonnya Bu Sutopo aja, kita coba di situ ya, Ril.”

Model rambut bob memang hits-hits-nya. Ditambah lagi, kata Mama, rambutnya sudah terlihat awut-awutan. Pasti akan terlihat fresh kalau diganti dengan model baru.

Akhirnya tepat jam 16.54, Ril dan Mamanya berangkat ke salon Bu Sutopo yang jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki kurang dari 3 menit. Super dekat.

Bu Sutopo adalah tetangga mereka yang berusia sekitar 40an tahun dan baru saja membuka salonnya. Entah kenapa, firasat Ril tidak enak. Di matanya, Bu Sutopo orangnya tidak trendy, rambut pendeknya tidak ada bentuknya, memakai pensil alis yang tebal sebelah dan tidak simetris antara yang kanan dan kiri.

Tapi karena Mama yang menyarankan dan menemani, rasa percaya diri dan optimisnya meroket.

***

Di tengah proses memotong, Ril puas melihat dirinya di cermin. Ahh, cantiknya aku.

Tapi dia kaget, ternyata belum selesai. Yang dia kira sudah cukup, oleh Bu Sutopo masih dipotong lagi. Ril sudah deg-deg-an, dan betul saja… dia bahkan tidak berani menatap dirinya berlama-lama di cermin. Rambutnya sekarang jadi pendek banget. Bukan tepat di bawah telinga, melainkan di atas telinga.

Dia merengut dan menahan air mata, dan bisa menangkap lirikan Mama pada dirinya dari pantulan kaca. Tapi Mama terdiam.

Ril berusaha tidak terang-terangan menangis di situ. Dia tidak enak kalau Bu Sutopo tahu dia tidak suka dengan hasil potongannya, dan dia juga tidak ingin Mama jadi menyesal telah mengajaknya ke sini.

Setelah selesai di-blow dan membayar, pertahanan menangisnya ambyar.

Sambil berjalan menuju rumah, Ril menangis terisak-isak. Ril sadar dirinya jadi jelek banget. Apalagi dia punya crush di kelasnya, yang sudah jelas bertepuk sebelah tangan karena cowok itu pernah marah-marah di depan kelas saat Ril bilang kalau dirinya suka padanya. Tapi tetap saja, jauh di dalam hati, Ril masih berharap suatu hari Ardian akan jatuh hati kepadanya.

Apa kata Ardian nanti? Pastilah dia makin gak mau melirikku?! Inilah kekhawatiran terbesar gadis kecil yang jago main bola bekel itu.

***

Namun sesuatu yang tidak terbayangkan terjadi.

Mama memeluknya erat, mengelus-elus kepalanya yang saat itu tingginya masih sepundak Mama. Mama mendekapnya dan mencium ubun-ubun kepalanya, sambil menenangkannya, “Udah gapapa ya Ril, seminggu lagi juga akan tumbuh kok. Tunggu sebulan deh, nanti akan panjang lagi.”

Dia masih dalam segala kekalutannya, mengajukan berbagai ide absurd ke Mama. “Mam, tadi rambutku yang sudah kepotong bisa disambung lagi gak? Pake isolasi Mam? Beli wig Mam?”

Coba kejadian ini terjadi beberapa tahun kemudian, sudah ada teknologi yang namanya hair extension. Tapi nasibnya lebih cepat dari munculnya teknologi itu.

Mama tak memberi solusi. Hanya meneruskan dekapannya sambil mencium kepalanya berulang-ulang.

Dan sungguh, gadis kecil yang saat TK mendapat juara 1 lomba mirip Ibu Kartini itu justru makin menangis kejerrrr. Bukan karena sedih, tapi karena senang banget dipeluk dan dicium Mama di situasi sulit begitu.

***

Tak hanya berhenti di situ, kalimat Mama berikutnya membuat hatinya semakin gembira.

“Habis ini beli nasi goreng Pak No ya, Ril. Kita makan di sana. Berdua saja.”

Nasi Goreng Pak No adalah warung terpopuler di daerah Ril tinggal. Hanya buka malam saja, rasanya enaaak banget, khas nasi goreng abang-abang yang banyak micin dan saos merahnya.

Meskipun Mama memasak setiap saat dan rasanya selalu sedap, beli makanan di luar tetap terasa istimewa. Dan ini ke Pak No pula. Dobel istimewa.

Ajakan Mama itu terucap tepat saat mereka tiba di depan rumah. Namun alih-alih masuk ke dalam, mereka justru kembali melanjutkan perjalanan menuju warung Pak No yang letaknya memang tidak jauh dari rumah.

Hati dan pikiran Ril terasa senang luar biasa. Untuk sesaat, dia merasa Mama hanya miliknya seorang. Uang Mama yang biasanya harus dibagi-bagi untuk banyak kebutuhan adik-adiknya, kali ini terasa lebih banyak dipakai untuk dirinya. Apalagi makan di luar adalah sesuatu yang mahal dan sangat jarang terjadi di keluarga mereka.

Sepanjang perjalanan menuju Nasi Goreng Pak No, berjalan sambil didekap Mama, di-cup-cup, dielus-elus, bahkan dicium Mama… semua itu adalah sesuatu yang sangat membahagiakan. Ril tahu dia akan mengingatnya sampai kapanpun.

Ini adalah salah satu momen blessing in disguise dalam hidupnya. Potong rambut kependekan, malah jadi membahagiakan hatinya karena mendapat kasih sayang maksimal dari Mama.

Luv mucho, Mama…

***

***

***

Ilustrasi dibuat oleh ChatGPT

Tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog Mei dengan Mamah Host Sari.

Body, Mind, Soul · Social Observation · Tantangan MGN

Sore di VINIL

Hari itu, aku sengaja datang duluan ke coffee shop favoritku, yang kebetulan juga favorit temanku yang akan kutemui sore itu.

Coffee shop itu bernama VINIL, berjarak 600 meter dari rumahku. Hampir setiap hari aku jalan kaki ke sana, aku sukaaa banget, rasanya kayak ada yang kurang kalau aku gak nyambangin ehehe. Sempat terlintas prasangka buruk, jangan-jangan VINIL miara tuyul atau makhluk asthral penglaris ahaha.

Soalnya, tempatnya kecil sak-uprit. Hanya ada 6 meja bundar kecil dengan segelintir kursi yang tak kalah kecilnya. Menunya pun sangat minimalis. Kopi, matcha, dan beberapa dessert yaitu cinnabon, bomboloni, canele, cookies. Buat nongkrong rame-rame lama-lama juga kurang nyaman.

Tapi, sangatlah tidak mungkin; di Kazakhstan gak ada cerita-cerita mistik, hantu-hantuan, maupun rasa begidik di tempat gelap nan sepi. Jelas lah bukan karena bantuan tuyul.

Namun, M.E.M.A.N.G karena kopinya enak, matcha-nya creamy dan premium (gak bau rumput), dan yang paling penting: baristanya adalah para Mba-mba rasa BESTIE ahaha. Namanya Laura, Kamila, dan Qazyna; yang dua diantaranya adalah mahasiswi yang nyambi kerja part time.

Ini juga coffee shop pertama di kota ini yang baristanya perempuan semua. Biasanya kan barista itu Mas-mas. Dan menurutku ini P.E.N.T.I.N.G! Aku merasa jauh lebih nyaman. Mas-mas di sini kan guantengnya pol-pol-an yahh dan kerapkali bikin aku deg-deg-an. Jadi demi menjaga kewarasan dan memahami batasku, lebih baik aku menghindar saja.

Mind you, Mba-mba-nya juga cantik pol-pol-an tapi terhadap sesama perempuan, aku gak deg-deg-an.

Satu hal lagi yang bikin betah: VINIL terletak di pinggir jalan raya. Orang-orang lalu lalang, bus umum lewat, mobil-mobil bersliweran. Duduk di sini sipping minumanku, memandang keluar sambil menikmati warlok vibes kota Atyrau rasanya oh sungguh menyenangkan.

***

Lho kok jadi menceritakan coffee shop-nya. Mari kembali ke kisah utama.

***

Dua Jam ~ 40 Menit

Nah, sistem pembayaran di sini tuh langsung bayar saat pesan. Dan karena hari itu aku berniat mentraktir temanku, aku datang lebih awal supaya bisa pesan duluan untuknya.

Aku pesan hot americano dan bomboloni untukku, sedangkan untuknya ice latte no sugar dan jajan yang sama denganku, bomboloni nutella. Mba Kamila meletakannya di meja yang sudah kupilih.

Selang beberapa menit, temanku datang. Tentu saja dia berterima kasih dan segera menyeruput es kopinya. Sepertinya dia sudah kehausan.

———— Blablabla wesss ewesss-ewezzzz wezzzz-wessss-ewesssssssss…..—————

Dua jam telah berlalu, dari yang awalnya kami berencana meet up selama sejam saja.

Temanku satu ini kalau sudah ngobrol, bakalan ngomoooong terus kayak gak ada remnya ahaha. As usual, aku menyukai keceriwisannya. Di dunia ini, ada jenis orang seperti temanku ini, yang kalau bicara membuatku merasa dunia menyempit jadi hanya meja kecil itu, hanya 2 gelas itu, hanya sore itu.

Akhirnya kami berpisah. Dia pulang, aku pulang.

Aku jalan kaki menuju rumah dengan pace kencang sebagai kompensasi atas bomboloni berkalori besar dan bergula.

***

Kopi Sianida dan Nama yang Tak Pernah Terlupakan

Di tengah perjalanan pulang itulah, tiba-tiba pikiranku melayang ke hal yang menyeramkan.

Aku teringat “KOPI SIANIDA”, kasus beberapa tahun lalu yang menghebohkan; tentang seseorang yang meninggal setelah meminum kopi yang sudah dipesankan sebelumnya oleh temannya. Kasus “MIRNA-JESSICA” yang penuh spekulasi, tuduhan, dan opini publik yang terpecah.

Aku merinding, aku baru saja melakukan hal yang dalam konteks tertentu, bisa disalah-artikan. “Memesan minuman untuk orang lain sebelum dia datang”.

Hanya ada kata “alhamdulillah” yang kubatin dengan sungguh-sungguh.

Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, alhamdulillah temanku baik-baik saja, sehat walafiat, dan tetap ceria setelah minum ice latte yang kupesan.

***

Syukurlah Ada …., ….., ……

Somehow, pikiran buruk dan perasaan merinding itu masih stuck.

Aku mencoba me-reka ulang adegan dan mengingat detail tadi di VINIL. Tempatnya kecil, ada CCTV. Posisi dudukku pun jelas terlihat. Setelah minuman diletakkan oleh Mba Kamila, aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali sampai temanku datang.

Tas pun tidak aku taruh di meja, jadi tidak ada yang menghalangi pandangan kamera.

Kemudian, ada saksi hidup. Kamila, Qazyna, Laura, yang melihat apa yang terjadi, yang bisa dimintai keterangan kalau (amit-amit naudzubillah astaghfirullah) ada yang salah.

Hal-hal seperti ini, yang tadinya tak pernah terpikirkan, tiba-tiba menjadi hal yang sangat signifikan untuk melindungi diri dari kemungkinan disalah-pahami.

***

Alhamdulillah

Aku memetik hikmah dari sore itu. Dalam dunia yang penuh prasangka, hal kecil bisa dipelintir jadi sesuatu yang besar. Dalam dunia yang kadang kejam dan mudah berburuk sangka, tindakan sesimpel “memesan kopi untuk teman” bisa jadi bahan fitnah yang menghancurkan hidup seseorang.

Niat baik perlu dibarengi kehati-hatian extra. Bukan berarti kita harus jadi curigaan atau berhenti berbuat baik. Tapi mungkin ada cara yang lebih aman dan transparan agar semuanya jelas dan tak ada celah untuk prasangka.

Ya! Dunia ini bukan hanya tentang APA yang kita lakukan, tapi juga BAGAIMANA itu bisa dilihat oleh orang lain.

***

Sampai juga aku di rumah. Ku melepas sepatuku dan duduk sebentar. Pffiuhh.

Dua jam ngobrol, enam ratus meter jalan kaki, satu momen begidik di tengah jalan, dan satu pelajaran yang tidak aku rencanakan untuk dipelajari hari itu.

Alhamdulillah aku pulang safe and sound, dengan sedikit lebih WASPADA dari sebelumnya.

***

***

***

Tulisan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April dengan Mamah Host Lenny, yang bertemakan “Cerita Random”

Mom's Life · Random · Social Observation

Muka Kristen

Sering banget kita dengar istilah “muka Kristen” bersliweran di Indonesia sejak dulu.

Entah siapa yang pertama kali mencetuskan label “muka Kristen”, dan sebenarnya apa definisi maupun indikatornya. Dari wajah, gaya berpakaian, atau apanya, entahlah…

Apalagi agama kan bukan sesuatu yang bisa “terlihat” secara fisik. Tapi ya begitulah, kreativitas dan ke-asbun-an orang Indonesia tuuu ada ada ajah ehehe.

***

Dan somehow ku mengalaminya di sini. Gak presisi tapi dalam versi yang agak berbeda, lebih ke… dikira bukan Muslim.

Begini ceritanya.

Setiap kali momen Natal tiba, aku rutin menerima pesan Wassap berisi ucapan selamat Natal dari beberapa teman-teman circle ibuk-ibuk ekspat di sini.

Sementara itu, teman-teman Kazakh banyak yang sudah tahu dan paham kalau aku Muslim. Mungkin karena kami sama-sama berasal dari latar belakang mayoritas Muslim, dan di Kazakhstan sendiri cukup umum melihat perempuan Muslim yang gak pakai jilbab. Jadi buat mereka, itu bukan sesuatu yang membingungkan.

Sedikit konteks juga, Kazakhstan memang negara dengan mayoritas Muslim (sekitar 70%), tapi praktek keagamaannya cenderung lebih kultural dan tidak selalu terlihat dari simbol seperti pakaian. Jadi standar visual “Muslim = berjilbab” memang tidak sekuat di beberapa komunitas lain.

***

Nah setiap kali menerima ucapan Natal itu, aku biasanya membalas dengan ucapan terima kasih. Karena mereka selalu menyelipkan doa-doa indah dalam ucapannya. Tentu saja aku menghargai niat baiknya.

Aku juga gak merasa perlu menjelaskan bahwa aku tidak merayakan Natal, karena rasanya konteksnya bukan untuk “klarifikasi identitas”, namun lebih ke saling menghargai gesture baik.

***

Daaaan, plot twist-nya muncul di bulan Ramadan kemarin.

Setiap ada kegiatan pagi atau siang, seperti olahraga bareng ibuk-ibuk expat, aku selalu absen dengan alasan sedang berpuasa.

Sementara itu, ada temanku dari Indonesia –sebut saja M– yang juga Muslim dan berjilbab, tetap datang olahraga pagi. Katanya sih justru lebih enak olahraga habis sahur, masih ada energi.

Dan di sinilah semuanya mulai “terbuka” wkwk.

Suatu hari mereka bertanya ke M,
“Uril puasa ya? Oh… ternyata dia Muslim ya. Aku kira dia Christian.”

M cerita sambil ketawa waktu nyampein ini ke aku. Terus dia nanya balik ke mereka,
“Loh iya dong, Uril Muslim. Kenapa kamu kira dia bukan Muslim?”

Jawaban mereka jujur banget, polos, dan… masuk akal dari sudut pandang mereka,
“Uril gak pakai jilbab kayak kamu. Aku kira semua perempuan Muslim dari Indonesia itu pakai kerudung.”

M kemudian menjelaskan bahwa di Indonesia, yang bahkan merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, praktek beragama itu sangat beragam. Ada perempuan yang memilih berjilbab, ada juga yang tidak, dan itu adalah pilihan personal masing-masing.

Mereka pun manggut-manggut…

***

Gara-gara perihal ini, aku jadi keingat lagi, betapa seringnya kita di mana pun berada, membuat asumsi berdasarkan apa yang terlihat di permukaan. Padahal identitas, keyakinan, dan latar belakang seseorang itu jauh lebih kompleks dari penampilan semata.

Dan ya, ternyata bukan cuma di Indonesia aja yang punya versi “asumsi visual” soal agama. Di tempat lain pun, logika yang sama bisa muncul, hanya dengan versi yang beda.

Terima kasih ya M sudah bantu memberi enlightenment ke mereka ehehe.

Body, Mind, Soul

Idul Fitri 2026

Lebaran 2026 ini adalah lebaran ketigaku di Kazakhstan.

Tidak ada nastar, kastengel, putri salju, dan teman-temannya di sini.

Tapi gapapa lah, aku gak merasa ada yang kurang dengan tidak adanya itu. Aku juga gak mau meromantisasi ketiadaan ini itu yang biasa ada di Indonesia. Aku memang bertekad untuk menikmati momen yang ada di depan mata, jadi aku gak mau berandai-andai atas hal yang gak mungkin ada.

Ya intinya, mensyukuri semua nikmat dan karuniaNya. Aku yakin dengan aku melakukannya, aku akan diberkahi peace of mind dan ketentraman hati. Pun, insha Allah Gusti Allah akan menambah nikmat. Masya Allah alhamdulillah…

***

Aku dan keluargaku merayakannya dengan keluarga Indonesia yang juga muslim dan sekaligus tetangga kami juga ahaha. Kami tinggal di kompleks perumahan yang sama, hanya berjarak 50 meter-an.

Kami sama-sama gak masak spesial, hari lebaran itu kami berama-ramai resto-hopping aja. Sarapan dan lunch di restoran yang berbeda. Ternyata begini enak lho, gak capek ahahaha.

***

Salaman dengan Non Muhrim

Jadi kami berangkat bersama-sama naik minibus khusus milik kompleks. Minibus-nya besar, dan muat untuk belasan orang. Total jumlah kami adalah bertujuh. Aku, suamiku, anakku, dan keluarga temanku dengan 2 anak.

Tetanggaku yang juga dari Indonesia ini sudah lebih lama tinggal di Kazakhstan daripada aku. Aku cukup dekat dengannya. Suaminya pun dekat dengan suamiku, karena juga sama-sama satu kantor, plus juga sama-sama alumni ITB. Bedanya Mas ini, sebut saja Mas K alumni Geologi angkatan di bawahku. Lebih muda sekian tahun lah pokoknya.

Kami selalu wudhu dari rumah setiap mau sholat Ied. Apalagi hari Jumat itu, cuaca masih dingin, bakal repot kalo mau nyari tempat wudhu di masjid yang juga bakal membludak dengan lautan manusia muslim yang mau melaksanakan sholat Ied. Ohya, di sini, masjidnya cuman satu pula. Kebayang kan seramai apa.

Jam 8 minibus sudah datang, aku dan keluargaku segera masuk ke dalamnya. Berlama-lama berdiri di luar, bikin kederr.

Temanku WA, “Kak, 10 menit lagi ya…”

Aku pun tenang menunggu di dalam kendaraan. Toh sholatnya masih jam 8.30, dan perjalanan kami ke sana paling memakan waktu 10 menit saja.

Jam 8.10 tepat, mereka masuk ke minibus. Aku, suamiku, dan anakku sudah duduk manis dengan seatbelt ON.

Lha.. lhaa.. lha… Mas K sekonyong-konyong masuk dan menyalamiku. “Maaf lahir batin ya Kak Uril.”

Aku menyambutnya dengan hangat, “Sama-sama Mas K, selamat lebaran ya.”

Setelah itu Mas K duduk dan memasang seatbelt-nya.

Kemudian Bapak Driver pun segera membawa kami ke masjid Imangali yang ada di Jalan Makhambet.

Aku baru nyadarnya setelah selang beberapa menit kemudian, “Lhaaaa, aku batal dong ini wudhunya. Nanti gimana ini aku sholatnya???” pikiranku sudah cukup berisik.

Aku gak tahu Mas K menyadari ini juga endak ya ahahaha.

Ternyata setelah kami sampai di masjid, membludaknya tak kira-kira. Kami juga gak memperkirakan macetnya jalanan, yesss kami TELAT!

Secepat mungkin kami turun dari minibus dan segera mencari tempat. Aduh sayangnya, deretan jamaah perempuan ternyata jauh letaknya. Bapak-bapak dan anak anak cowok sudah tenang dapat tempat, sedangkan kami ibuk-ibuk dan putri temanku gelagapan muter-muter nyari lokasi. Suara Al Fatehah rakaat pertama pun sudah terdengar.

Syukur alhamdulillah ada ruang kosong dan kami meutuskan untuk sholat di area kosong situ saja. Tiga perempuan Indonesia ngendon di spot yang tersendiri ehehe.

Saat aku sudah memulai sholat, aku baru nyadar pula kalo aku belum wudhu lagi. Ya Allah…. gimana ini??? Aku tetap meneruskan sholatnya sampai selesai.

Tapi.. tapi.. kayaknya gak sah ya…

***

Lebaran yang Hangat dan Penuh

Selesai sholat Ied, kami bertujuh asik berfoto di depan masjid diantara keramaian orang-orang lalu lalang yang baru selesai sholat Ied.

Lho lho lho… gak nyangka hal sesederhana ini membuat hatiku trenyuh. Gapapa banget aku gak berkumpul dengan keluargaku di tanah air, di sini aku berkumpul dengan keluargaku juga kok. Gayeng, rukun, damai, ayem, tentrem….

Lelah berfoto, kami pun berjalan di sekitaran masjid yang kebetulan berada di pusat kota, untuk mencari cafe buat sarapan dan ngopi. Di area tersebut, banyak cafe bertebaran.

Temanku bilang, “Kak Uril, aku gak ngopi selama puasa, ayok kita cari kopi!!!”

Tentu saja aku semangat, ehh kita semua semangat… “AYOKKKK!”

Dua cafe berturut-turut yang kami masuki, penuh dan berjubel. Bisa ditebak, semua yang habis sholat Ied juga memiliki keinginan yang sama dengan kami, pengen kopi dan sarapan ehehehe.

Alhamdulillah cafe ketiga yang kami masuki ada meja kosong untuk kami bertujuh… uhuyyyy!

Lamaaa, kami ngendon di cafe itu, ohya namanya cafe Le Chocolat, ada kali 2 jam. Ngobrol ngalor ngidul.

Selanjutnya kami pulang ke rumah masing-masing untuk menelepon keluarga kami masing-masing yang ada di tanah air. Sejam kemudian, kami pun keluar lagi untuk makan siang bersama di cafe yang berbeda. Puas-puasin pokoknya mah.

***

***

***

Selalu di Hati

Idul Fitri 2026…. termasuk salah satu momen indah yang akan aku ingat seumur hidupku. Terima kasih ya temanku tersayang. Mella, Mas K, Nak Mail, dan Nak Anun.

Semoga silaturahmi kita tetap terjaga sampai kapanpun.

***