Design a site like this with WordPress.com
Get started

Balada Penghuni Ladang Benih Season 4 – Episode 8

When They Had a not-that-Deep Talk

Jumat adalah impian bagi hampir semua pegawai kantoran, termasuk Nur.

Enaknya besok ngapain ya. Pengen ketemu sama yang sepesiyal, tapi… kok gak enak mau ngajakin duluan.

Seharian Nur hanya memikirkan apa yang akan dia lakukan Sabtu besok. Apakah mau ngantor setengah hari buat nyari bonus, atau ngglundhang-ngglundhung di kasur sahaja.

Kegalauan ini ternyata terjadi juga pada teman-teman kantornya di Shitibank (Cici, Ratih, Asha, dan Sorey) yang setiap hari gonta-ganti sepatu dan memiliki rambut badai ala bintang iklan sampo. Mereka menamai geng-nya dengan nama “Kardashit”, kependekan dari Kardashian-nya Shitibank.

***

Di tengah kebisingan mendengarkan diskusi geng Kardashit, bunyi ponselnya menjadi penyelamatnya.

Ahh saved by the bell. Cumpleng dengerin mereka ngobrol. Sambil berkata dalam hati.

WA Arne: “Nanti malem nginep tempatku yuk Mba. Kangen.”

Yass, nembus ya Arne, aku mau ngeduluin nanya, gak enak. Apalagi sering marah kalau abis nemenin Mas Briljen.

WA Nur: “Kamu gapapa?”

WA Arne: “Kenapa papa? Sudah pulang kan dia?”

WA Nur: “Sudah.”

Dijawabnya super singkat karena bingung mau nambahin nulis apa, takut salah ngomong.

WA Arne: “Nanti aku jemput di kantor ya!”

WA Nur: “Endak usah, Arne. Aku mau diajakin geng Kardashit nyari seblak. Nanti jemput aku di LB saja ya. Jam 9an gitu?”

WA Arne: “Nanti si Bapak Tua lihat, Mba?”

WA Nur: “Aku nunggunya di depan warung sebelah. Aman itu, bukan jangkauan teritori Bapak Tua.”

***

Sesampainya di kamar Arne di Rangkusiang, Nur meletakkan tasnya dan menuju ke kamar mandi untuk cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, dan sekalian mandi, mengingat virus Covid19 is in the air.

Namun malam itu, ambience-nya berbeda. Setidaknya begitulah yang dirasakannya setiap selesai menemani Mas Briljen.

Nur: “Aku gak pernah ngapa-ngapain lho sama Mas Briljen. Paling pol cuma pegangan tangan, gak kayak aku sama kamu.”

Arne: “Bo’ong, aku dulu pernah denger pas kamu di kamar sama dia, pintunya ditutup, terus ada suara-suara moaning.”

Nur: “Wkwkwkwkwk. Mosok sih. Serius itu suara moaning?? Wkwkwk. Padahal waktu itu aku juga udah bilang lho, gak ada apa-apa. Susah amat percaya.”

Arne: “Percaya dengan perempuan seperti kamu?”

Nur: “Oh wow… that was harsh 😦. Aku sudah kehabisan kata-kata.”

Arne: “………..”

Nur: “Lagian cewek itu beda sama cowok, Arne. Kalau cowok mah bisa sekaligus dengan lebih dari 2 cewek di waktu yang sama. Kalau cewek, ya kagak lah. Hanya bisa dengan 1 cowok begituannya.”

Arne: “Dahlah jangan dibahas!”

Nur: “………”

Arne: “Ngomong tentang yang laen saja. Oya, diajakin jalan rame-rame sama temen-temenku, kamu juga gak mau.”

Nur: “Lho. Ada alasan khususnya, Arne. Aku kan pemalu. Terus, aku maunya kita rahasiaan saja. Orang lain biar ngiranya kita cuman temen doang yang gak ngapa-ngapain.”

Arne: “………..”

Nur: “Cukup kita berdua saja yang tau kalau kita saling seneng. Orang lain mah gak perlu tau.”

Arne: “…… Aku pengennya ngenalin kamu ke temen-temen sebagai pacarku.”

Nur: “Waduh, ya jangan lah Arne. Waktu itu kamu sudah pernah ketemu sama Mbah Dukun Slebew itu kan. Aku setuju dengan nasehatnya. Relationship kita itu complicated. Banyak sekali hambatannya. Ilusi belaka kalau bisa bersama terus. Kamu juga nyadar akan itu kan.”

Arne: “…….”

Nur: “Memang kita itu bukan jodoh, Arne, tapi I do surely know kalau kita itu meant for each other untuk masa sekarang, momentarily saja. Jadi, enjoy us while it lasts. “

Arne: “……..”

Nur: “Malah enak kan ehehe. Gak ada drama-dramaan, capek kali lah. Kalau istilah anak jaman now itu FWB ihihiiiy.”

Arne: “………”

Nur: “Ya? Ya? Ya? Masa kebersamaan kita juga sudah tinggal dikit lagi kan. Jangan diisi dengan marah-marahan mulu atuh. Cheer up cheer up. Ya? Ya? Ya? Mumpung kita sama-sama belum menikah. Puas-puasin cusss.”

Arne: “……”

Nur: “Senyuuummm… eemmuah emmuaah.”

Memeluk dan menciumi Arne yang sedang cemberut.

Nur: “Eh tadi aku bungkusin seblak buat kamu. Dimakan dulu gih. Keburu mleyot maksimal.”

Arne: “Tapi aku mau meluk-meluk dulu.”

Nur: “Mari kita berpelukaaaaan. Seperti Teletubbies..”

Arne: “Berpelukan, terus berciuman, terus….. eemmuah emmuaah emmuaahh.”

Nur: “Eitss, pintunya! Dikunci dulu dong! Siapin ‘come together’-nya juga ya!”

***

***

***

Advertisement

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: