Design a site like this with WordPress.com
Get started

Balada Penghuni Ladang Benih Season 4 -Episode 9 (Finale/Tamat)

When They’re Finally Apart

Suatu malam di sebuah kedai di Dago Atas yang menang suasana doang tapi rasa makanannya tidak sesuai harapan.

Nur: “I guess, this is it. Hari terakhir kita bersama. Sampai ketemu lagi di dunia lain. Tapi ini berlaku kalau kamu percaya akhirat ya ehehe, siapa tau kita simpangan di sana. Nanti aku dadah-dadah.”

Arne: “Datang juga pertemuan terakhir kita, Mba…”

Nur: “Iya.”

Sejenak suasana jadi hening. Arne sibuk menyeruput bandrek panasnya. Sedangkan Nur sibuk menahan isaknya karena tidak ingin terlihat rapuh.

Arne: “Maret ya Mba?”

Nur: “…..”

Arne: “Aku bakal kangen kita, Mba.”

Nur: “Ahaha sama atuh,” pura-pura ketawa untuk menutupi nyeseknya.

Arne: “Gak bisa ya Mba kalau ketemuan lagi?”

Nur: “Gak bisa Arne. Tie the knot, janur kuning sudah melengkung, ku gak berani macam-macam.”

Arne: “Ya Mba. Aku paham.”

Sambil menghirup udara dingin Dago dan memandangi langit malam yang cerah, membuat bintang-bintang berkelip jelas. Setidaknya malam ini menghibur kesedihanku. Pikir Nur.

Nur: “Enjoy your next adventure, ahaha… with many girls.”

Arne: “Ahahaha, I will, Mba.”

Nur: “Hmmm, terima kasih Arne.”

Arne: “Karena.. aku yang bayar? Sama-sama Mba.”

Nur: “Ehehe itu juga. Tapi yang utama, terima kasih for all those wonderful years. Brati kita barengan 3 tahun lebih dikit ya.”

Arne: “Lama juga ya Mba. Tapi kerasa sebentar…”

Nur: “Padahal aku juga sering nakalin kamu ya. Aku pernah ngomong kata-kata buruk ke kamu. Maaf ya Arne. Banyak bikin kecewa juga. Maafin ya.”

Arne: “Ohya? Aku sudah lupa Mba. Ahaha.”

Nur: “Iyakah?? Ya Allah syukurlah kalau kamu sudah lupa dengan hal-hal nyebelin tentang diriku. Biar ingetnya yang baik-baiknya saja ya ehehe.”

Padahal aku masih ingat waktu kamu bikin aku nyungsep. Kesal sampai bikin aku ngerokok. Tapi sudahlah aku gak mau merusak malam terakhir kita ini. Arne berkata dalam hati.

Nur: “Oh, aku inget tuh pertama kali aku pindah ke LB. Setiap aku keluar kamar dan siap-siap pergi ke kampus. Pasti aku denger suara kasurmu gerak-gerak wkwkwkwk. Kayak yang kamu geser-geser badan gitu. Aku mbaten, ini apakah tetangga sebelah mau ngintip aku lewat jendelanya ya wkwkwk.”

Arne: “Ahahahaha.”

Nur: “Terus inget yang pas nuntun motor itu lho Arne. Ahahaha. Kaciaan deh.”

Arne: “Ahahaha.”

Nur: “Itu masuk salah satu peristiwa terunik dan unforgettable versi aku tuh ahaha. Kalau bisa kembali ke waktu itu, I dont mind at all ahahaha.”

Arne: “Ahahahaha.”

Nur: “Perasaan dari tadi kamu ketawa-tawa mulu sih??”

Arne: “Ahahaha iya Mba. Kalau inget, emang bikin ketawa sih Mba.”

Sesaat mereka berdua terdiam beberapa saat dan makin saling mengeratkan genggaman tangannya. Nur dan Arne berpelukan dan berciuman selama beberapa menit.

Untuk pertama kalinya (dan terakhir kalinya), mereka PDA. Tidak mempedulikan sekitar yang sedang makan di kedai itu. Tidak peduli kalau ada yang ngata-ngatain bahwa tindakan mereka tidak menjunjung tinggi adat ketimuran. Juga tidak peduli kalau ada razia polisi syariah atau digerebek oleh Pak RT kampung sebelah.

Arne: “Ke Rangkusiang, Mba? Untuk terakhir kalinya?” sedikit berbisik.

Nur: “Jangan, Arne. Kalau kita begituan, akan bakal lebih syulit buatku untuk pelan-pelan move on.”

Arne: “Iya Mba, aku juga akan ngerasain itu. Kamarku penuh kenangan dengan Mba Nur tuh. Aku akan pindah sepertinya, Mba. Ke perumahan dosen UnPad. Terlalu banyak kenangan di Rangkusiang.”

Nur: “Ah sayang banget, padahal Rangkusiang kan enak, Arne. Eh aku jadi inget sama cewek itu, Arne, yang aku jeles banget sama dia tuh. Pacarnya temen kosanmu.”

Arne: “Jangan diinget-inget, Mba. Nanti bad mood!”

Nur: “Ahahaha. Nakal banget deh aku. Padahal kamu cuman pengen nambah teman aja, aku cemburu buta segitunya wkwkwk. Malunya diriku.”

Arne: “Sudah Mba. Jangan diinget-inget. Itu masa-masa gak enak tuh waktu itu.”

Mereka terdiam lagi dan Nur menyandarkan kepalanya ke bahu Arne, menyadari bahwa fase pertemuannya dengan lelaki yang membuat dunia yang sudah indah ini makin artistik adalah sebuah randevouz sesaat. Tidak berani dia meminta padaNya untuk memaksakan hal yang tidak natural.

Nur: “…. Sudah malam, pulang yuk.”

Arne: “Nih Mba pakai jaketku. Kamu kelihatan menggigil. Bajuku kan sudah lengan panjang.”

Nur: “Aaaa mau banget. Tadi pas berangkat gak sedingin ini.”

***

Setelah membayar bill di kasir, mereka berjalan menuju tempat parkir motor.

Arne: “Gimana? Mau jalan kaki? Nuntun motor? Ahahaha.”

Oh God, I’d love to. Tapi aku sudah gak kuat mau nangiiiis. Nanti kalau dia lihat, ahhh malu maluiin pol. Nur membatin.

Nur: “Hari ini adalah hari terlemas sedunia buatku, Arne. Dan ternyata kakiku juga lemas buat jalan kaki lama.”

Arne: “Ahahaha ya sudah. Yok, hop-on!

Suhu 17 derajat celcius malam itu membuat Nur makin mendekapkan pelukannya ke pria di depannya.

Arne, I will miss your scent. Sambil sniffing bau badan Arne yang gak pernah bau keringet kecut seperti teman-teman laki-lakinya kebanyakan.

Arne sengaja mengendarai motornya tidak lebih dari kecepatan 40 km per jam.

Arne: “Kita muter Setiabudhi dulu Mba. Mau?”

Nur: “Yasss. Mau.”

Kalau duduk di belakang gini kan, ku bisa nangis sepuasnya tanpa dia lihat ihihiiy.

Arne: “Abis ini muter Ciumbeuleuit dulu Mba. Mau?”

Nur: “Yasss. Mau.”

Gak berani menanyakan, tapi Nur merasa bahwa Arne juga ingin ngelama-lamain malam terakhir mereka berdua.

Arne: “Nglewatin PVJ dulu Mba. Mau?”

Nur: “Bensinmu masih cukup kah?”

Arne: “Masiiih!” bersuara kencang karena ada mobil modifikasi tanpa knalpot, lewat.

Nur: “Sudah Arne, pulang saja ke LB. Kalau jam 12 sudah dikunci gerbangnya.”

Arne: “Oke Mba, syiapp!”

Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di LB dan saling berciuman sebentar. One last kiss. Dan melepaskan jaket Arne yang membuat Nur terlihat super tenggelam.

Nur: “Arne, ini jaketmu. Aaaa bauku jadi kayak bau badanmu, aku gak mau mandi ah abis ini. Biar lingering terus ihihihiiy.”

***

***

***

Advertisement

Published by srinurillaf

Penduduk planet Bumi, -yang selama masih dikaruniai nafas dan kehidupan-, selalu berusaha untuk menjadi manusia seutuhnya; dapat menjalankan posisinya dengan baik dan benar; mau dan mampu untuk terus berkarya dan berkiprah; serta bertekad untuk 'live life to the fullest'.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: